Malam itu, aku dan para peserta ujian karate sudah berkumpul di Aula Sekolah untuk mengikuti breafing terkait konun-konun ujian. Kami berjumlah 15 orang yang terdiri dari 8 laki-laki dan 7 perempuan. Dan juga 6 orang senior (biasa dipanggil sensei) sebagai penguji. Para karateka tidak hanya dituntut untuk tangguh dalam segi fisik, tapi juga keberanian mental. Maka, ujian kali ini para penguji mengadakan uji nyali sebagai puncak dari ujian kenaikan sabuk. Sensei Amar membacakan konun-konun yang harus kami perhatikan dengan saksama dan pantang dilanggar selama ujian berlangsung.
"Baik para peserta ujian semua. Dari konun-konun yang sudah saya bacakan. Tolong perhatikan baik-baik untuk konun-konun ujian terakhir, yaitu uji nyali. Rute dan ketentuan akan dijelaskan oleh Sensei Maya," Sensei Amar menunjuk Sensei Maya dan mempersilahkannya untuk bicara.
"Baik semua, dengar baik-baik. Untuk puncak acara, kami sudah menyebar sabuk di berbagai tempat sesuai dengan tingkat masing-masing. Untuk peserta tingkat sabuk putih, karena jumlah kalian lebih banyak, maka kalian akan di tempatkan di gedung lantai satu dan sekitarnya untuk mencari sabuk berwarna kuning. Kemudian peserta tingkat sabuk kuning dan orange kami tempatkan di gendung lantai dua untuk mencari sabuk orange dan hijau. Masing-masing peserta akan mendapat lokasi berbeda sesuai dengan undian yang sudah kami siapkan dan akan kami bekali hanya dengan satu buah lilin dan korek api. Setelah breafing selesai kalian bisa maju ke depan satu persatu untuk mengambil kertas undian. Dan yang perlu diingat, kami sudah memberi batasan-batasan pada setiap tempat yang boleh kalian lewati, dan jangan sampai melewati garis portal yang sudah kami buat, demi keselamatan kalian. Mengerti!" jelas Sensei Maya dengan tegas.
"Hai', mengerti Sensei!" jawab kami serentak.
Kami pun beranjak satu persatu untuk mengambil kertas undian.
"Ra, semoga aja kita nggak dapet tempat di kamar mandi cewek atau di dekat sumur tua belakang ya," bisik Rena tiba-tiba, salah satu teman dekatku yang sama-sama tingkat sabuk putih.
"Lah, emang kenapa?" tanyaku penasaran.
"Loe belum pernah denger ya. Usut punya usut, dari rumor yang beredar, katanya tempat paling angker di sekolah kita ini tuh di kamar mandi cewek paling pojok yang sampe sekarang pintunya digembok. Katanya, dulu ada siswi yang diperkosa terus dibunuh di situ. Parahnya lagi, mayatnya dibuang di sumur tua belakang sekolah. Makanya dua tempat itu terkenal angkernya, karena si siswi itu suka nongol malem-malem di situ buat bales dendam," jelas Rena dengan mantapnya.
"Loe tau cerita begituan darimana?" tanyaku tidak yakin.
"Gue dapet info dari penjaga sekolah dan beberapa kakak kelas yang katanya pernah liat penampakan si Siswi itu. Ih, ngeri kan," jawab Rena sambil bergidik.
Aku yang antara percaya dan tidak percaya dengan hal-hal berbau mistis hanya mengiyakan rumor yang diceritakan Rena. Yang aku tahu bahwa setiap tempat pasti memiliki penunggu astral, tapi asalkan kita tidak mengusik mereka, mereka juga tidak akan mengusik kita.
Kini giliranku untuk mengambil kertas undian. Tanpa terduga, aku mendapatkan lokasi yang Rena takutkan. Aku hanya menghela nafas panjang dan mengatur hati serta pikiranku untuk mengeluarkan energi positif.
"Loe dapet lokasi dimana?" tanya Rena penasaran.
"Gue dapet lokasi di kamar mandi cewek, Ren," jawabku dengan santainya.
"Hah, yang bener?" Rena terkejut.
Aku hanya mengangguk.
"Hmm.. Kalo gitu, Loe ati-ati aja deh ya, jangan bengong dan banyakin berdoa," pesan Rena dengan mimik khawatir.
"Loe tenang aja. Gue pasti bakal baik-baik aja. Lagian kalo tempat itu berbahaya, pasti udah ada portalnya biar nggak ada yang ke situ kan," ucapku meyakinkan Rena supaya tidak khawatir.
Setelah para peserta mendapatkan undiannya masing-masing. Kami pun segera berkumpul di lapangan utama untuk melaksanakan ujian pertama.
**
Angin malam semakin berhembus kencang. Menyapu peluh kami yang telah mengucur deras. Ujian pertama pun usai. Kami diberi waktu istirahat sampai tengah malam untuk melanjutkan ujian terakhir. Para penguji kembali mengingatkan kami untuk tidak melanggar peraturan dan menyuruh kami agar cepat kembali ke lapangan setelah mendapatkan sabuknya. Kami pun mengiyakannya dengan tegas.
Tepat pukul 00.00 WIB, uji nyali pun dimulai. Para peserta berhamburan menuju lokasi masing-masing. Aku pun segera menuju kamar mandi perempuan.
Kamar mandi perempuan berada di paling pojok bangunan. Untuk menuju kesana aku harus melewati koridor-koridor sekolah yang panjang yang lampunya sengaja dimatikan para penguji.
Hawa dingin merasuki tubuhku, membangkitkan bulu kudukku. Aku sedikit bergidik, namun segera aku hempaskan dengan berfikir positif dan fokus pada jalan dan lilin yang aku pegang agar apinya tetap menyala.
Entah mengapa ketika melewati ruang laboratorium biologi jantungku berdegup begitu cepat. Keringat dingin mengalir deras di dahi ku. Aku tiba-tiba teringat dengan cerita Rena kemarin yang menceritakan bahwa barang-barang di ruang laboratorium biologi sering bergerak sendiri. Aku kembali menghempaskan ingatan itu. Tapi, bagaimana pun aku perempuan yang masih memiliki rasa takut. Aku sedikit berlari kecil ketika melewati ruang laboratorium biologi.
Prrraang!!!
Langkahku terhenti tepat di depan pintu laboratorium. Suara benda logam jatuh terdengar dari dalam ruang laboratorium biologi. Nafasku tersenggal-senggal dan jantungku semakin berdegup cepat. Aku memberanikan diri untuk melihat ke dalam ruangan melalui jendela yang sepertinya lupa di tutup oleh penjaga sekolah. Aku melangkah menuju jendela dengan hati-hati.
Tiba-tiba sesuatu berwarna hitam legam meloncat dari dalam ruangan yang membuat tubuhku spontan terjatuh karena terkejut. Lilin yang ku pegang juga terjatuh dan padam. Jantungku berdegup tidak beraturan. Dengan gugup segera ku nyalakan lilinnya kembali dan ku arahkan ke depan untuk memastikan apa yang baru saja meloncat tadi.
Aku berhasil menyorot sesuatu itu dan..
Meow...
Ternyata hanya seekor kucing hitam. Aku benafas lega. Aku pun segera bangun dan bergegas melanjutkan perjalanan. Anehnya, aku merasa ada yang mengawasiku dari jendela laboratorium yang terbuka itu. Aku memutuskan untuk mengabaikannya dan berjalan lebih cepat.
Tidak lama, akhirnya aku sampai di kamar mandi perempuan. Aku mengatur nafasku kemudian segera masuk untuk mencari sabuk itu. Aku membuka satu persatu pintu kamar mandi dan memeriksanya, namun nihil.
Hingga aku sampai di depan kamar mandi paling pojok. Aku mengernyitkan dahi melihat pintunya tidak di gembok dan sedikit terbuka. Aku penasaran dan membuka pintu itu dengan hati-hati. 'Mungkin saja penguji sengaja meletakkan sabuknya di dalam karena rumor itu supaya peserta takut', fikirku.
Aaaaaaa ...
Aku terkejut bukan main. Aku terpaku melihat makhluk yang berada di atas WC duduk yang usang itu.
"Huh, dasar tikus, pergi sana, bikin kaget aja," dengusku kesal dan berusaha mengusir makhluk kecil itu.
Aku pun masuk dan memeriksa kamar mandi itu. Keadaan kamar mandi itu sangat kotor dan berbau tidak sedap. Pantas saja jika ada tikus dan hewan-hewan menjijikkan lainnya yang menghuni kamar mandi itu. Aku menutup hidung sambil menerangi setiap sudutnya dengan cahaya lilin untuk mencari sabuk itu.
Dan benar saja, aku menemukan sabuk itu digantungkan pada sebuah paku di balik pintu. Aku bernafas lega dan beranjak keluar. Tapi, tiba-tiba pintu tidak bisa dibuka. Aku berusaha sekuat tenaga memutar engselnya tapi tetap tidak terbuka.
Seketika buluk kudukku berdiri. Auranya terasa sangat berbeda. Sekilas tercium bau anyir dari belakangku. Aku merasa tidak sendirian di dalam kamar mandi. Lilinku padam, korek apiku hilang entah kemana. Dengan perasaan yang tidak karuan, aku memberanikan diri untuk membalik badan.
Mataku seketika terbelalak. Nafasku seolah berhenti. Bibirku kelu untuk berteriak. Kini aku melihat sosok perempuan dengan menggunakan seragam sekolah duduk di atas WC duduk. Matanya merah melotot. Darah segar dan belatung keluar dari kepalanya yang terluka menganga. Dari mulutnya juga mengalir deras darah yang baunya sangat anyir. Sosok itu berdiri, lalu berjalan mendekat dengan tertatih dan menggapai tubuhku. Kini wajahnya yang hancur tepat berada di depan wajahku. Aku hanya bisa terpaku dan pada akhirnya tidak sadarkan diri.
"Nara .. Nara .. Bangun Nara .."
Aku pun tersadar mendengar suara Rena yang terus memanggilku. Aku telah berada di ruang UKS. Aku terbangun dan spontan memeluk Rena yang berada di sampingku dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. Rena menepuk pundakku, berusaha menenangkanku.
Setelah aku cukup tenang. Aku menceritakan semuanya. Dan Rena sangat terkejut sekaligus semakin khawatir padaku. Rena juga menceritakan padaku bahwa aku di temukan pingsan di samping sumur tua di belakang sekolah oleh peserta lain. Aku heran kenapa aku bisa berada di sana. Dan yang lebih mengherankan lagi, kenyataan bahwa penguji tidak pernah membuat undian yang berlokasi di kamar mandi perempuan.