Awan pekat menggelayut jarang di atas langit, menghalangi teriknya sinar mentari pagi. Angin sepoi-sepoi terasa begitu dingin dan menusuk tulang, membawa aroma harum tanah karena hujan yang mengguyur tadi malam.
Citra menutupi dirinya dengan jaket tebal berwarna toska, yang merupakah hadiah dari kakaknya. Sudah satu minggu ia selalu mengigil namun anehnya hal itu hanya terjadi saat ia menginjakkan kaki disekolah. Ia merasakan semua keganjilan setelah satu minggu lalu dia tak sengaja menemukan buku kuno yang tergeletak di bawah kolong rak buku perpustakaan. Buku kuno tersebut tertulis dengan bahasa yang tak ia mengerti. Ia pun segera meletakkannya ke sembarang ruang rak yang kosong, dan berlalu meninggalkan perpustakaann begitu saja.
"Huh... kenapa hari ini jauh lebih dingin?" Citra menggosok kedua telapak tangannya dan menghangatkannya ke kedua telinganya yang terasa seperti ditiup angin.
"Citra, apa kau masih kedinginan?" tanya Ayu pada Citra, teman sebangkunya yang merupakan siswa pindahan satu tahun lalu saat mereka kelas 11.
"Ya, begitulah Ay. Sejak aku menemukan buku aneh itu aku selalu bermimpi buruk dan merasakan kedinginan seperti ini. Apakah mungkin itu buku terkutuk?" tanya Citra sambil menarik kursinya.
"Mungkin aja sih Cit, soalnya di buku itu ditulis dengan menggunakan bahasa jawa kuno. Biasanya bahasa jawa kuno banyak digunakan sebagai untaian mantra oleh para dukun. Apalagi kamu sempet baca beberapa tulisan di buku itu kan. Kalau misal itu mantra jahat gimana? Hiii..." Ayu bergidik ngeri.
"Ayu, udah dong. Udah tau aku penakut banget, masih aja nakut-nakutin." Kening Citra mengkerut menampakkan wajah kesalnya. Ia sedang ketakutan setengah mati.
"Kalau kamu makin takut, nanti mereka yang makin berani. Nih minum dulu biar gak tegang." Ayu memberikan sebotol minuman yang dibelinya dari kantin sekolah.
Kring.....
"Eh udah bel, buruan yuk cit kita ke lapangan. Hari ini kan upacara!" seru Ayu sembari merogoh topi yang ada dalam tasnya.
"Iya iya, ayo." Citra segera melepas jaketnya dan meletakkan di rak meja. Ia mengambil topinya dan berlari keluar kelas untuk menyusul Ayu.
Kelas Citra berjarak tak jauh dari perpustakaan. Setiap kali melewatinya, tubuh Citra bergidik ngeri dan semakin dingin. Ia memang gadis penakut. Berbeda dengan Ayu yang sangat antusias jika mendengar hal-hal yang berhubungan dengan dunia mistis, apalagi dia adalah seorang indigo. Jadi tak jarang Citra selalu mendengar Ayu menceritakan penglihatan-penglihatannya di sekolah mereka. Hal itu membuat nyali Citra semakin ciut dan mudah gelisah jika berjalan sendiri.
"Ay, kita jangan baris di belakang ya. Kita di deretan tengah aja. Aku masih takut soalnya," ucap Citra sambil menarik tangan Ayu menuju letak barisan di deret tengah kelas mereka. Ia menundukkan pandangannya untuk menghalau cahaya matahari yang menyorot tepat di wajahnya.
"Oke oke." Ayu pun menyetujui permintaan temannya itu. Mereka berdua akhirnya menempati barisan di deret tengah.
Beberapa saat kemudian, Citra merasakan keanehan. Tiba-tiba seisi lapangan menjadi sunyi. Namun ia tetap pada posisinya yang sedang menundukkan kepala.
"Ayu... Ay..." Citra berusaha memanggil Ayu yang berdiri di sampingnya namun ia tak mendapatkan suara Ayu menjawab panggilannya.
Citra dengan setengah hati mengangkat wajahnya dan melihat Ayu yang berdiri menunduk dengan tubuh layu. Ia meringis dan seketika bergidik melihat rambut pendek Ayu yang menutup bagian wajahnya.
"Ayu... Ayu, kamu kenapa, kamu sakit?" Citra berusaha meraih tangan Ayu, ia khawatir temannya sedang sakit. Namun Ayu tetap bungkam bahkan tak bergerak sedikitpun.
Citra mulai bingung. Ia berniat segera memanggil siswa petugas PMR yang saat itu sedang berjaga di belakang barisan untuk berjaga-jaga jika ada siswa yang sakit atau pingsan ketika upacara berlangsung. Saat ia mengedarkan pandangan ke seluruh siswa dalam lapangan tersebut, ia kembali bergidik. Semua Siswa, Guru, bahkan para Petugas Upacara terlihat aneh. Mereka semua tampak berdiri dengan layu, hampir sama dengan Ayu.
Dag... dig... dug...
Dag... dig... dug..
Irama jantung Citra berdetak tak karuan melihat pemandangan aneh disekitarnya. Bahkan yang membuatnya sangat ketakutan adalah, ia berada di antara mereka. Citra menelan liurnya. Tubuhnya gemetar dan kedua telapak tangannya menjadi sangat dingin.
"Ayu, Ayu. Ada apa in...ni?" Citra terkejut dan seketika jatuh terduduk melihat wajah Ayu berubah menyeramkan.
Kedua mata Ayu membulat sempurna dengan mulut menganga yang mengeluarkan darah. Ia menundukkan badannya dan segera meraih tubuh Citra dengan jari-jarinya yang berkuku runcing.
"Aaaaaa..." Sontak Citra pun menjerit dan meringsut mundur hingga tubuhnya membentur kaki siswa di sebelahnya. Siswa tersebut mengalihkan pandangannya pada Citra yang masih terduduk di lantai lapangan. Wajahnya tak kalah menyeramkan dengan sebelah mata yang bolong dan lidah yang menjulur panjang.
"Aaaaaa..." Citra berteriak semakin kencang.
Tubuhnya meringsut tak karuan. Punggungnya membentur kesemua kaki siswa yang mendadak berubah menjadi hantu menyeramkan. Dengan segenap usahanya, akhirnya Citra berhasil keluar dari dalam barisannya. Ia kini berada tepat di tengah lapangan dengan posisi berdiri menghadap barisan siswa. Ia melihat semua Siswa berubah menjadi menakutkan. Citra tak bisa menahan rasa takut yang telah mencapai titik puncak. Ia menangis antara takut dan bingung. Tak lama Ayu yang kini berwajah menyeramkan, memisahkan diri dari barisannya dan berusaha mendekati Citra yang berada di tengah lapangan. Melihat tubuh layu itu berjalan dengan pincang, Citra segera membalikkan badan dan berusaha kabur.
Belum sampai ia berlari jauh, tampak 3 orang guru dengan wajah menyeramkan berusaha ikut mendekatinya.
"Aaaa... sana pergi! pergi!" teriak Citra sambil berlari tergopoh-gopoh meninggalkan lapangan.
Citra mengerahkan seluruh tenanganya untuk menjauh dari lapangan. Ia mencoba membuka pintu kelas dengan sembarang sebagai tempat berlindung, namun semuanya terkunci. Citra menoleh kebelakang, ia terkesiap saat melihan gerombolan siswa dan guru berwajah menyeramkan sedang mengejarnya dari belakang.
Citra kembali mengerahkan tenaganya, nafasnya memburu seirama dengan suara derap langkahnya yang mulai melemah. Dia berhenti sejenak dan sekarang gadis itu telah dikepung oleh segerombolan makhluk menyeramkan dari dua sisi koridor kelas. Seketika tubuh Citra beranjak dan dengan cepat ia memilih menaiki anak tangga di sebelahnya. Sampai di lantai dua, Citra kembali mendobrak pintu kelas secara sembarang. Namun semua pintu terkunci rapat. Ia kembali berlari ke arah anak tangga menuju lantai 3 sekaligus lantai teratas di sekolah mewah ini. Ia kembali mendobrak pintu kelas dengan sembarang, namun hasilnya tetap nihil, semua kelas terkunci rapat. Tangisnya pecah dalam rasa takut yang menyelimuti hatinya. Tubuh Citra oleng dan tersungkur ke lantai membentur tembok pembatas lantai 3. Asmanya kambuh disaat yang tidak tepat. Dalam kondisi yang lemah dan tidak memungkinkan, ia melihat segerombolan makhluk menyeramkan itu berjalan di koridor lantai 3. Air mata yang menggenang kini jatuh membasahi pipinya. Pandangannya yang mengabur itu masih dapat melihat bahwa semakin lama, mereka semakin mendekat, dan terus mendekat.
Citra memaksa bangkit tubuhnya dan berdiri dengan kedua tangan berpegang pada besi pagar lantai 3.
"Ja-jangan mendekat, ja-jangan mendek-kat!" Kata-kata citra tersenggal karena nafasnya yang semakin sulit dikendalikan.
"Citra... Citra... kemarilah Citra, jangan takut." Suara lirih makhluk menyeramkan itu menggema dan menyakiti gendang telinganya. Mereka semakin mendekat hingga jarak diantara keduanya tak lebih dari satu meter.
Citra semakin merapatkan tubuhnya ke dinding pagar dan ia kehilangan keseimbangan.
"Aaaaaaaa..."
Brukk !
Tubuh Citra terjungkal dari lantai 3 dan menghantam lapangan. Cairan merah segar mengalir dari tubuhnya yang seketika tewas di tempat.
~~
Kejadian Sebenarnya saat dilapangan, semua siswa termasuk ayu menundukkan pandanganganynya karena saat itu mereka dengan khidmat mendengarkan lagu Mengheningkan Cipta oleh Petugas Paduan Suara. Namun tiba-tiba Citra berteriak dan jatuh. Gerakannya membabi buta hingga keluar menuju barisan dan berdiri tepat di tengah lapangan. Sontak hal tersebut membuat ayu memberanikan diri keluar dari barisannya, dan menghampiri Citra dengan wajahnya yang penuh ketakutan.
Namun Citra segera membalikkan badan dan berusaha lari. Para guru yang melihat tingkah Aneh Citra merusak suasana Upacara, segera berjalan menghampirinya dan berniat menenangkannya. Namun lagi-lagi Citra berusaha lari meninggalkan lapangan. Upacara tetap berlanjut, namun ayu beserta sebagian guru, dan seluruh siswa petugas PMR yang berjaga ikut berlari mengejar Citra. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Citra. Gadis itu berlari seraya mendobrak setiap pintu kelas, dan membuat semua yang mengejarnya semakin khawatir dan bingung. Mereka yang mengejar Citra membagi 2 kelompok dan menghadang Citra di kedua sisi koridor kelas di lantai pertama. Tapi dengan cekatan Citra berlari menyurusi tangga menuju lantai atas. Mereka semua berpencar mencari citra di lantai 2 namun gadis itu tak ditemukan disana. Semua yang mencarinya menjadi panik. Lalu mereka melanjutnya mencari Citra di lantai 3. Ternyata Citra telah tergeletak setengah sadar di sudut koridor kelas lantai 3. Tubuhnya bersandar pada tembok pagar dengan nafas yang tak teratur. Mereka yang menemukan Citra dengan kondisi raga memprihatinkan segera berlari menghampirinya. Namun gadis itu segera berdiri dengan sisa-sisa energi yang hampir Habis.
"Citra, Citra, kemarilah Citra. Jangan takut." Ayu yang merupakan teman sebangkunya berusaha memanggil dan menenangkan Citra.
Namun dengan tiba-tiba badan Citra yang berdiri tak seimbang menjadi terjungkal dan akhirnya tewas setelah terjun dari lantai 3.
"Astaga, Citra..." Para guru dan semua murid yang ikut mengejarnya pun berteriak hampir bersamaan. Mereka semua saling menatap tak percaya ketika cairan merah itu keluar dari tubuh citra dan membanjiri lapangan.
Mereka semua pun segera berlari tergopoh-gopoh turun dari lantai 3 menuju lapangan tempat Citra tewas. Kecuali satu orang yang tetap tinggal dan memperhatikan kejadian naas itu dari tempatnya berdiri sekarang. Ia menyeka air mata palsunya segera setelah semua guru dan para siswa petugas PMR berlari meninggalkan lantai 3.
"Ternyata dosis cairan halusinogen yang kuberi hari ini terlalu banyak." Ia mengeluarkan botol kecil bening yang terisi cairan berwarna biru koktail yang hampir tersisa setengah botol. "Aku tak menyangka akan seperti ini. Tadinya aku hanya ingin membuatmu gila setelah satu minggu penuh menyerap zat ini. Tapi hari ini efeknya tak hanya membuatmu gila, tapi juga membuatmu mati. Hahahaha.. Ops, maaf Citra aku hanya tidak sengaja." Ayu berlengang dengan santainya meninggalkan koridor lantai 3. Ia seakan tak peduli dengan kejadian di lapangan, ketika semua orang dengan sibuk dan panik membopong jasad Citra yang bermandikan darah akibat jatuh dari lantai 3. Citra mengalami halusinasi tinggi akibat zat Halusinogen yang Ayu tuangkan pada minuman yang diberikannya tadi pagi dengan dosis lebih banyak.
Epilog :
Satu tahun lalu, Citra datang ke sekolah ini sebagai murid pindahan. Karena kepintarannya ia dapat menggeser posisi Ayu yang selalu berada diurutan pertama, kini berubah menjadi urutan kedua siswa terpintar di kelasnya. Hati Ayu menjadi dengki dan perlahan kebenciannya mengakar dan membuahkan dendam mendalam kepada Citra. Ia pun berusaha mendekati Citra untuk mencari kelemahannya.
Satu minggu lalu, Citra dan Ayu pergi ke perpustakaan dan mereka tak sengaja menemukan buku kuno yang bertuliskan dengan bahasa jawa kuno. Citra yang tak mengerti isinya, lalu segera meletakkan buku tersebut. Tapi Ayu yang merupakan perantau asal Jawa dia mengetahui isi buku tersebut yang hanya mengisahkan tentang Tanah Jawa. Pikiran buruk Ayu muncul ketika melihat Citra bergidik dan mengira itu adalah buku yang aneh. Sejak saat itulah, Ayu selalu menceritakan kisah-kisah menyeramkan seraya menuangkan zat halusinogen pada minuman yang selalu diberinya kepada Citra sejak satu minggu terakhir. Zat yang ia dapatkan dengan susah payah, akhirnya memberikannya hasil diluar ekspektasi yang ia harapkan. Ayu kembali tenang tanpa sedikit pun rasa bersalah terhadap ketiadaan Citra, dan ia bisa menempati kembali posisi pertama di kelasnya.
Pesan :
Jangan menghukum orang lain karena kekalahan kita, biarkan kemenangan mereka menjadi pelajaran yang patut dicontoh. Tetap Optimis dan bersainglah dengan cara yang sehat dan jujur !
-TAMAT-