"Bagaimana Mbah?" mata Norman melotot, memandangi tungku tanah yang mengeluarkan asap aroma kemenyan, dia masih menunggu Dukun langganannya menyelesaikan tugas dari si penyuruh. bau kemenyan itu makin lama makin menyengat dan nyaris membuatnya muntah, mulut Pak Sastro masih komat-kamit merapal mantra, beliau tampak menghayati kata demi kata yang di keluarkan dari mulutnya, dan memasuk-masukkan benda berwarna kuning ke dalam tungku.
"Mbah... " Norman tak sabar.
Mbah Sastro meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya, memberi isarat kepada Norman untuk tidak bertanya lagi, Normanpun memgerti dan menyimpan semua pertanyaanya di dalam hati, untuk saat ini dia hanya melihat apa yang dilkukan Mbah Sastro, Si Dukun itu mengambil sebuah boneka jerami dari atas meja, di letakan boneka itu di atas tungku berasap, sambil terus merapal mantra, kemudin menusuk-nusuknya berulang kali, setelah puas, Mbah Sastro kemudian meletakkan boneka itu kembali ke atas meja dengan jarum masih menancap di dada boneka.
"Piye-piye mau? arep ngomong opo?" (Sebentar-sebentar tadi? mau bilang apa?) Mbah Sastro mengambil seputung rokok dari dalam saku beskap hitamnya kemudian menyalakan korek api membakar ujungnya.
"Anu... Mbah?" Norman ragu-ragu.
"Kok anu? sebenarnya niat dan tujuanmu kemari apa? ada nasabah yang mogok bayar lagi??" Mbah Sastro menghisap putung rokoknya, bau kemenyan masih memenuhi ruangan bercampur dengan asap rokok.
"hueeek..." Norman tidak bisa menyembunyikan rasa mualnya.
"Ayo kita bicara di luar saja." ajak Mbah Sastro penuh pengertian.
Norman cengengesan, " Nggak usah mbah di sini saja." tolak Norman.
"Ya sudah cerita saja maksud dan tujuanmu kemari" Mbah Sastro membetulkan blangkonnya.
"Mbah, saya lagi jatuh cinta" ucap Norman tersipu malu.
"Eeee lha dalah pasti ini critanya cinta di tolak dukun bertindak?" Mbah Sastro terkekeh.
"Iya Mbah." kini Norman mulai menunjukkan raut muka serius.
" Ya kalau bisa soal cinta itu jangan pakai Dukun, cinta itu biar datang dengan sendirinya, masak nanti setiap pagut kamu ngeces ke saya?"
"Maksudnya ngecas apa Mbah?" Norman menggaruk-garuk kepala tanda tak mengerti.
"Ya kalau cinta itu di dasari sikap nggak lombo, setiap sepagut kamu harus isi ulang lagi."
"Isi ulang? kok kaya token listrik saja Mbah?"
"Kalau lewat dukun itu ya gitu Le... kalau sepagut nggak di sarati nanti cintanya berkurang?"
"Tolong dong Mbah... saya ini naksir berat sama si Naya?" Norman berlutut memohon kepada Pak Sastro.
"Memangnya Bapak si Naya mau punya mantu kamu? si Tyo itukan orangnya matre nggak ketulungan"
Norman menunduk lesu, " benar Mbah, kalau Pak.Tyo merestui mana mungkin saya kesini."
"Benar juga, Naya itu setahuku memang nurut sama Bapaknya, kalau bapaknya nggak merestui kalian ya, kamu patah hati." Mbah Sastro kembali menghisap batang rokok.
"Iya Mbah, kemarin saja waktu saya melamar si Naya, saya di hina habis-habisan sama Pak Tyo, katanya saya ini anak Satpam nggak selevel sama Beliau yang notabenenya Kepala HRD."
"Trus si Naya?"
"Naya sebenarnya suka sama saya, wong kami selama ini pacaran sembunyi-sembunyi di kebun sawit."
"Woo jadi kamu to yang goyang-goyangin rumput kolonjono di kebun mertuaku itu?"
"Loh... kok Mbah tau?" mata Norman terbelalak.
" ya iya dong...itu bukan rahasia umum lagi, nggak cuma saya saja yang tahu soal rumput yang bergoyang, semua pekerja kebun juga tahu"
Wajah Norman memerah. "Aduuh gawat."
"hahaha... yang kamu fikirkan apa? andaikan waktu itu kami tahu, kalau itu kalian... pasti kalian digrebek sama warga, dan saat itu juga kalian langsung dinikahkan, dan kamu nggak perlu repot-repot kesini." Mbah Sastro menghela nafas.
"Dan soal warga, sejak kejadian rumput bergoyang itu mereka pada takut metik sawit di kebun sebelah situ, karena area itu dikira angker." terang Mbah Sastro.
Norman masih diam membisu.
"Trus kalau kamu sudah dapetin hati si Naya, gapain juga kamu kesini? kamu PDKT saja sama si Tyo, agar dia merestui kalian?"
Norman menggelengkan kepala." Nggak Mbah, saya terlanjur sakit hati sama Pak Tyo"
Mbah Sastro menyipitkan kedua matanya."Trus kamu pinginnya apa?"
"Tolong beri saya cara agar di kejar-kejar wanita."
"Trus si Naya?"
"Saya mengharapkan Naya sama halnya punguk merindukan rembulan Mbah, lagian Pak Tyo sudah berniat menjodohkan Naya dengan dr.Ryan." Norman meneteskn air mata.
"Tapi saratnya susah lo le?"
"Apapun sarat yang Mbah berikan akan saya lakukan." Norman menyodorkan segepok uang kepada Mbah Sastro.
Mbah Sastro mengambil setumpuk kertas warna merah di hadapannya kemudian memasukkan uang itu ke dalam saku celana komprang hitam yang dia pakainya, "Ya sudah... nanti kamu ke pekarangan belakang rumah Bapak saya saja, saratnya ada di situ."
"Tapi di situ angker Mbah?"
"Kok ngeyel, dukunnya kamu apa saya? nanti sesampainya di pekarangan kamu cari pohon yang daunnya sama persis dengan daun ini." Mbah sastro menunjukkan sepucuk daun berwarna hijau kepada Norman.
Norman mengamati daun itu dengan seksama."Baik Mbah, tapi caranya?"
"Kamu cabut pohon itu beserta akar-akarnya, na setelah itu baru kamu sabetkan ke orang yang kamu tuju, tak jamin kamu nanti bakal di kejar-kejar sama mereka."
"Pak Tyo juga bisa ngejar-ngejar saya Mbah?"
"Siapapun itu, yang terkena sabetannya bakal ngejar-ngejar kamu." ucap Mbah Sastro meyakinkan.
"Baik Mbah saya akan berangkat sekarang." Norman berpamitan dan mencium tangan menantu Pak Bramantyo itu untuk meminta restu.
Sesampainya di rumah Pak Bramantyo, Norman mengendap-ngendap memasuki pagar besi yang tak terkunci, kepalanya celingak-celinguk melihat kanan dan kiri, dia tak mau jika nanti perbuatanya di ketahui oleh ayahnya.
"Ehemm....".
Normal tercekat dan menoleh kearah sumber suara itu." Eeh Bapak?"
"Ngapain kamu kesini?" sapa Pak Pardi.
Norman menyerahkan rantang setainlis susun tiga kepada Pak Pardi, untung saja tadi dia membawa makanan untuk berjaga-jaga seandainya kepergok sang ayah.
"Dengaren, kamu bawa makanan buat Bapak?"
"Iya Pak, mumpung ada sedikit rezeki dari kantor." bohong Norman.
Pak Pardi membuka rantang yang telah dia letakkan di atas meja Satpam. "Hueeh.... opor tahu ini, makanan kesukaanku."
"Oh ya Pak, saya boleh bantuin Bapak bersih-bersih di kebun belakang..." ucap Norman.
Pak Pardi mengernyitkan dahi. "ya sudah, kamu ambil cangkul sama aritnya di gudang."
Dengan sigap Norman menuju gudang mengambil peralatan itu dan langsung pergi ke halaman belakang.
"Mana ya pohon yang dikatakan Mbah Sastro?" satu demi satu rumput dan pepohonan di lihat oleh Norman.
"Na, itu... " Norman mencabut pohon itu, kemudian pergi.
"Loh sudah selesai?" Pak Pardi menghentikan langkah anaknya.
"Gak jadi Pak..." Norman berlari tergesa-gesa.
"Wo.. cah ngawur!" umpat Pak Pardi.
Normanpun tak sabar ingin mempergunakan tumbuhan itu, dia melihat ada beberapa gadis tengah duduk-duduk diteras rumah.
"Na... ini tak coba dulu ah..." laki-laki tiga puluh tahun itu menghampiri gadis-gadis itu dan menyabetkan barang bawaannya ke arah mereka, benar seperti apa yang di katakan Mbah Sastro mereka langsung mengejar-ngejar Norman, sampai bujangan itu kehabisan nafas karena kualahan berlari.
"Edan... Mbah Sastro." nafas Norman terengah-engah.
"Katanya ini daun pemikat biar di kejar-kejar, tapi kok raut muka mereka bukannya jatuh cinta, malah seperti orang lagi kesurupn gitu, sek ini harus minta konfirmasi Mbah Sastro."
Norman berjalan mengendap menghindari kejaran masa untung saja mereka tidak menemukan dirinya saat perjalanan kerumah Mbah Sastro.
"Mbah... " Norman menggedor pintu dukun itu.
"Gimana sudah berhasil?" Mbah sastro dengan santainya menyeruput kopi hitam dari cangkir di ruang tamu.
"Mbah... Mbah... itu daun apa sih? kok saya jadi di kejar-kejar sama penduduk.
kampung!" amarah Norman meledak.
"Loh katanya kamu pingin di kejar-kejar, kan sudah terkabul"
"Saya itu pingin dikejar-kejarnya nggak gitu keles, di kejar-kejar dalam arti di cintai, bukan di amuk gitu."
"Ngomong dong kalau pingin di taksir cewek-cewek?" Mbah Sastro terbahak-bahak.
"Lha itu daun apa Mbah?"
Mbah Sastro masih tertawa."Itu namanya Lateng, daun yang bikin gatel, ya jelas kalau kamu di amuk warga, pasti mereka orang yang kamu sabet marah, lawong itu daun memang bikin gatel... "
#Tamat#
NB:Maaf banyak.typo