Cerita ini tentang seorang sahabat dari seorang gadis kecil yang bernasib kurang beruntung. Namanya adalah Bunga. Sesuai dengan namanya, dia adalah seorang gadis maniak tanaman. Sangat menyendiri dan hanya fokus dengan tanaman bunganya. Mungkin itu sebabnya tidak ada yang mau berteman dengannya.
Dia seorang yatim piatu tanpa orang tua dan tanpa seorang teman. Hingga suatu hari, akhirnya ada yang ingin berteman dengannya. Memang secara tiba-tiba, tapi dia sangat senang karena akhirnya dapat memiliki seorang teman.
Temannya bernama Elvan, dia adalah pria terpopuler disekolah. Memiliki paras wajah yang tampan dan juga ramah, mungkin karena itu dia menjadi populer.
Namun, seperti yang dipikirkan oleh bunga, ternyata ia hanya ... berpura-pura ... Dan hanya mengasihaninya. Hingga akhir9nya Bunga harus menghembuskan napas terakhir....
Satu minggu sebelumnya...
Bunga sedang mengambil air untuk menyiram bunga-bunga kesayangannya yang berada di taman sekolah. Namun, setibanya di taman dia terkejut karena bunga-bunga yang selama ini ia rawat sudah hancur di rusak oleh murid-murid yang tidak menyukainya.
“Uggh, Tanamanku??” lirih Bunga sambil memungut bunganya yang telah dirusak oleh beberapa murid.
Itu memang sudah biasa, tapi kenapa harus tanamannya? Dia sudah merawatnya sejak lama, tapi malah dirusak hingga tak tersisa.
"Kalau kalian membenciku, kalian tidak perlu merusak bunga-bunga yang sudah lama aku rawat." batin Bunga menangis dalam diam. Dia berjongkok dan langsung merapikan bunga-bunga yang berserakan.
Saat merapikan bunga yang berserakan napasnya tiba-tiba terasa sesak, Bunga pun langsung mengeluarkan Inhaler dari saku bajunya.
"Huuft, leganya." gumamnya setelah menyemprotkan Inhaler kedalam mulutnya. Ya, Bunga memang memiliki riwayat penyakit Asma yang diturunkan dari ibunya.
“Hei, kau tak apa?” tanya seorang siswa yang paling populer disekolah. Dia adalah Elvan, siswa yang memiliki paras tampan dengan kecerdasan diatas rata-rata.
Dengan cepat Bunga langsung memasukan Inhalernya kedalam saku.
“Mmm tanaman ku ...” lirih Bunga memperlihatkan tanamannya yang sudah mati.
“A-ahk ... Sudah mati ya. Tak apa, tanamlah lagi, aku akan membantumu,” ujar Elvan berjongkok disebelah Bunga.
“Eh, tidak apa-apa biar aku saja.” ucap Bunga tanpa menatap Elvan.
Namun, Elvan tidak peduli. Dia langsung menggerakkan tangannya merapikan bunga yang berserakan lalu menanamnya kembali.
Bunga yang melihat tingkah Elvan pun hanya terdiam sambil memperhatikan Elvan yang sibuk dengan tanah. Itu sungguh keajaiban yang langka kalau Sang idola sekolah datang menghampirinya dan bahkan membantunya.
"Mari berteman!" ucap Elvan tiba-tiba membuat Bunga terkejut.
"Ha-hah apa?" tanya Bunga terperangah.
"Mari kita berteman!" ucap Elvan lagi sambil mengangkat jari kelingkingnya yang kotor karena tanah.
Bunga tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bengong sambil menatap jari kelingking Elvan yang masih ia tunjukan kepadanya. Tersirat keraguan dalam pikiran Bunga. Selama ini tidak ada yang mau berteman dengannya karena dia terlalu tergila-gila pada tanaman. Dan sekarang? Tiba-tiba ada yang ingin berteman dengannya, dan ... dan dia adalah seorang murid terpopuler di sekolah!
Bukankah itu aneh? Tentu saja, pikir Bunga.
“Mengapa kau tampak sedih? Apa tidak mau berteman denganku?” tanya Elvan menatap Bunga heran. Dia masih dalam keadaan mengangkat jari kelingkingnya.
“A aa tidak, Aku tak apa. Ayo tanam lagi,” ucap Bunga memberikan senyum polosnya.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Elvan sambil menggoyangkan jari kelingkingnya.
Bungan pun mencoba untuk mempercayai Elvan. Dia langsung mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Elvan.
"Nah, gitu dong! Jadi mulai sekarang kita berteman, ya?" ujar Elvan dan Bunga hanya mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berdua pun menanam tanaman yang masih bisa diselamatkan dan mengganti tanaman yang sudah mati dengan tanaman baru.
"Bunga apa ini?" tanya Elvan sambil memungut tangkai bunga yang hampir mati.
"Itu bunga matahari." jawab Bunga.
"Wah, kalau begitu aku akan menanamnya disini. Aku titip ya tolong rawatkan bunga yang aku tanam ini." ujar Elvan sambil menanam bunga tersebut. Lagi-lagi Bunga hanya mengangguk sambil memperhatikan Elvan.
"Kenapa kamu mau berteman denganku, padahal murid lain sangat membenciku?" tanya Bunga dengan suara lirih.
"Karena kamu baik," jawab Elvan dengan senyuman yang lebar.
Bunga langsung tercengang melihat senyuman Elvan. Dia merasa yakin bahwa Elvan tulus ingin berteman dengannya.
Mulai saat itu hari demi hari mereka lewati bersama. Bunga mulai merasa nyaman saat bersama Elvan. Kemana-mana mereka selalu bersama layaknya sebuah sahabat. Murid-murid perempuan banyak yang merasa iri karena kedekatan mereka yang semakin hari semakin lengket seperti perangko.
Setiap hari mereka selalu bertemu di taman bunga sekolah untuk merawat bunga-bunga yang mereka tanam. Sejak Bunga berteman dengan Elvan tidak ada satupun murid yang berani merusak taman bunga itu.
“El, terimakasih sudah mau berteman dengan Bunga. Aku sangat senang.” ujar Bunga tersenyum lebar sembari memasang sebuah mahkota bunga dikepala Elvan. "Hihihi itu cocok untukmu. Jaga baik-baik ya," pinta Bunga dengan polosnya.
“A-ahaha, tentu. Terimakasih” balas Elvan dengan nada agak gugup.
"Mmm kau tak apa, El?" tanya Bunga heran.
"I-iya, aku tak apa" jawab Elvan sambil mengusap rambut Bunga.
.
.
Hari ini adalah hari yang paling spesial. Tentu saja, ini adalah hari kasih sayang atau yang dikenal dengan Valentine. Dimana seseorang menghabiskan waktu bersama orang yang disayanginya seperti keluarga, sahabat ataupun kekasih. Hari ini tepat hari ke 7 persahabatan mereka berdua.
Di sekolah, suasana sangat riuh. Bunga, Coklat dan boneka adalah benda yang paling khas di hari valentine. Beberapa murid menyatakan cintanya pada seseorang menggunakan benda-benda tersebut.
Di koridor, terlihat Bunga membawa sebuah pot yang berisi sebuah bunga matahari yang sudah mekar. Senyum manis mengembang tak kala melihat orang yang dicari-carinya sejak tadi.
Dari kejauhan ia melihat Elvan sedang bersama teman-temannya. Dia terlihat sedang membicarakan sesuatu. Langkahnya ia percepat berniat menghampiri sang sahabat. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan salah satu teman Elvan.
"Sampai kapan kau akan berpura-pura? Itu memuakkan!" ketus salah satu teman Elvan dengan nada jengkel.
"Ntahlah, aku juga tak yakin, aku jadi tak tega..." lirih Elvan sambil mengacak rambutnya.
“Ck dari awal kau hanya berpura-pura, kenapa kau malah terbawa suasana, bodoh!” decak yang lainnya.
"Eh iya juga ya, tapi aku merasa..." Elvan menggantung kata-katanya.
.
.
“ ... Sudah ku duga ...” Bunga yang mendengar percakapan Elvan dan teman-temannya itu sangat terkejut.
"... ternyata memang benar, tak ada yang mau berteman denganku.” lirih Bunga menggenggam erat pot yang berisi bunga matahari yang akan ia berikan kepada Elvan. Air mata mengalir membasahi pipi chubbynya. Ia berniat memberikan bunga itu kepada Bunga karena mau berteman dengannya namun ia malah mendengar kenyataan pahit.
“Seharusnya dari awal aku tidak percaya siapapun ...” lirih Bunga mengusap kasar air matanya dan pergi dari sana.
"Tapi aku merasa... Sepertinya aku mulai menyukai Bunga." lanjut Elvan setelah Bunga pergi. "Mulai sekarang aku akan serius dengannya." sambungnya lagi sambil memikirkan senyuman Bunga.
Setibanya didalam kelas, Bunga langsung menghampiri Raisa salah satu murid dikelasnya.
“Mmm, Raisa...” panggil Bunga.
“Eh, ada apa?” tanya Raisa sedikit cuek.
“Mmm, aku boleh minta tolong tidak?” tanya Bunga agak ragu.
Raisa yang tidak kenal dekat dengan Bunga ragu untuk mengiyakan permintaannya. Namun, ketika melihat mata sembab Bunga dengan rambut kusut merasa sedikit kasian.
“Tentu..” jawab Raisa setelah beberapa detik berpikir.
“Bi-bisa kau memberikan ini pada Elvan?” ujar Bunga sambil memberikan bunga matahari dan sepucuk surat.
“Eh, te-tentu. Tapi kenapa bukan kau yang memberikannya langsung?” tanya Raisa penasaran.
“I-itu, aku mau pulang. Kepala ku tiba-tiba pusing tapi aku belum melihat Elvan. Jadi tolong, ya!” jawab Bunga berbohong.
“Baiklah,” Raisa yang sebenarnya ragu dengan alasan Bunga pun akhirnya memilih untuk menolongnya.
.
.
Keesokan harinya Sepulang sekolah, Elvan langsung menuju ke rumah Bunga karena dari kemarin ia mencemaskan sahabatnya itu. Ia mendapat kabar bahwa Bunga tidak masuk hari ini karena sakit.
Ia juga berencana untuk mengatakan yang sebenarnya dan menerima Bunga apa adanya tanpa berpura-pura.
"Bunga? Kau di dalam?" tanya Elvan sembari mengetuk pintu rumah Bunga.
1 menit
5 menit
10 menit
Sama sekali tidak ada sahutan dari dalam rumah Bunga, Dengan perasaan campur aduk Elvan terus menggedor-gedor pintu rumah Bunga hingga seseorang menghampirinya.
“Eh hei, Elvan!!” mendengar namanya disebut, Elvan menolehkan kepalanya dan mendapati salah satu teman kelas Bunga membawa sebuah pot berisi bunga matahari.
"Raisa?? Ada apa?” tanya Elvan sambil melirik barang yang Raisa bawa.
“Ini, kemarin Bunga minta tolong padaku. Pas aku ke kelas mu kemarin kau tak ada.” jelas Raisa memberikan pot bunga matahari itu. “Satu lagi, ini” lanjutnya memberikan sepucuk surat yang Bunga berikan kemarin.
"Aku kesini tadinya ingin mengembalikan ini kepada Bunga, tapi karena kebetulan bertemu kamu jadi aku kasih kamu aja sekalian. " jelas Raisa lagi.
Setelah memenuhi permintaan Bunga, Raisa pamit pulang meninggalkan Elvan yang sedang dilanda perasaan campur aduk.
Dengan tangan bergetar, Elvan membuka surat dari Bunga. Matanya terbelalak sebelum air matanya mengalir.
“Bu-bunga...” lirih Elvan langsung menggebrak pintu rumah Bunga. Ia tak peduli dengan pintu yang rusak. Yang ada di pikirannya saat ini adalah keadaan Bunga. Bagaimana ia bisa mengetahuinya??
Bergegas ia menerobos kedalam kamar Bunga berharap semua baik-baik saja. Namun, harapan itu pupus begitu saja ketika melihat seorang gadis terbaring di lantai dengan suhu tubuh yang sangat dingin. Diatas tangan kanan Bunga terdapat Inhaler yang ketika diperiksa ternyata isinya sudah habis.
Elvan tak kuasa menahan tangis. Kali ini tangisannya meledak melihat sahabatnya sudah tidak bernapas lagi.
"Bunga hiks ... Bunga maaf, maafkan aku ... Hiks Bunga bangun ...” isak Elvan memeluk tubuh Bunga yang sudah tak bernyawa.
Ia sangat menyesali perbuatannya. Seandainya ia tak berpura-pura, itu pasti tidak akan menimpa Bunga.
“Aku ... Kau berjanji akan merawat bunga itu. Dia sangat cantik sama sepertimu ... Hiks, terimakasih dan ... Maaf maaf karena sudah membohongimu ..”
Keesokan harinya adalah hari minggu. Semua murid tidak ada yang pergi ke sekolah kecuali Elvan. Elvan datang menggunakan seragam putih abu-abu seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Hari ini langit menurunkan air seperti ikut bersedih atas kepergian Bunga. Elvan memegang sebuah payung berjalan menuju taman sekolah.
Elvan berjongkok didepan bunga matahari yang saat itu ia tanam bersama Bunga. Hari ini bunga itu sudah mekar dengan sangat cantik. Perlahan Elvan memayungi bunga matahari itu dan membiarkan tubuhnya kehujanan.
"Bunga ini sangat cantik sama seperti kamu." lirih Elvan. Dia membayangkan bahwa ada wajah Bunga didalam bunga matahari itu.
Elvan mengusap helai daun yang basah terkena air hujan seolah-olah sedang mengusap air mata yang membasahi pipi Bunga.
"Jangan... Jangan menangis! Aku mohon jangan menangis!" isak Elvan hingga tersedu-sedu sambil mengusap helai daun yang basah.
"Saat itu pasti kamu menangis ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku," lirih Elvan terus meracau.
"Arghhh, ini semua memang salahku!" teriak Elvan menangis sejadi-jadinya.
"Kau yang terbaik, aku ingin memilikimu seutuhnya, hiks." isak Elvan sambil melempar payung dan memeluk bunga matahari didepannya.
Hingga berjam-jam Elvan terus memeluk bunga matahari dibawah derasnya hujan. Tidak peduli dengan rasa dingin yang ia rasakan, dia berharap bahwa waktu bisa diputar kembali untuk menghidupkan bunga matahari dihatinya.
TAMAT
*ISI SURAT BUNGA*
Elvan, terimakasih sudah menemani Bunga selama 7 hari ini. Terimakasih karena sudah mau berteman dengan Bunga. Meskipun itu hanya pura-pura, tapi Bunga sangat senang karena bisa merasakan kasih sayang seorang sahabat. Bunganya sudah mekar, rawat baik-baik ya. Aku sudah tak kuat lagi. Maafkan aku, El, aku pergi tanpa memberitahu mu.
Aku menyayangimu Sunshine, meskipun kau hanya berpura-pura. Tetapi, aku tidak pernah berpura-pura untuk menyayangimu. Kepergianku bukan salah siapa-siapa. Jadi, jangan pernah salahkan diri sendiri atau berpikir kalau ini semua salahmu.
Miss You Elvan.
A Cerpen by Bunga. Thnks.