Tanggung jawab adalah suatu keharusan.
Tetapi, terkadang logika berkata lain.
***
Amira melangkahkan kakinya pelan. Gadis yang sudah berusia enam belas tahun itu sekarang sudah tiba dihadapan Rendy, lelaki tampan nan pintar di sekolah. Tatapan lekatnya untuk lelaki tersebut begitu dalam. Hingga matanya mulai beralih pada bibir tipis berwarna merah muda alami milik Rendy.
"Hei Ren, lo pernah ciuman?" tanya Amira dengan blak-blakan, yang sontak membuat lelaki sepolos Rendy langsung membulatkan matanya.
"Ke-ke-kenapa?" Rendy mencoba menjaga jarak dari Amira.
"Hmm... kalau lo nggak mau kerjain PR gue... diri ini tidak akan segan-segan mencium bibir lo," ancam Amira sembari menyilangkan tangan di dada.
"O-o-oke... gue akan kerjain PR lo!" Rendy langsung menyetujui, tanpa harus berpikir lama. Entah kenapa dirinya selalu merasa ciut kala berhadapan dengan Amira. Gadis pembuat onar dan pembully di sekolah.
"Ayo! kita ke kelas!" Amira melingkarkan tangannya ke leher Rendy, kemudian menyeret lelaki tersebut untuk ikut bersamanya.
Rendy dan Amira saat itu sedang berjalan menyusuri sisi sepi sekolah. Hingga saat mereka berjalan melewati gudang, penciuman keduanya terganggu dengan bau anyir yang begitu menguar.
"Ren!... ini bau darah kan?" Amira melepaskan tangannya dari bahu Rendy, lalu berjalan mendekati gudang.
"Iya, kayaknya begitu..." sahut Rendy seraya menutup indera penciumannya.
Ceklek!
Amira membuka pintu gudang. Pupil matanya langsung membesar, tatkala melihat seorang siswi tergeletak tidak bernyawa. Tubuhnya bersimbah dengan darah dan tampak begitu mengerikan.
Meskipun tidak berteriak, tubuh Amira mematung di tempat. Gadis itu segera melangkah mundur. Dia juga telah menelan salivanya beberapakali.
"A-a-amira, gue akan ke kantor guru!" ujar Rendy. Amira pun mengangguk pelan sembari menatap Rendy dengan nanar.
"Lo ikut?" Rendy menyodorkan tangannya pada Amira. Alhasil gadis itu langsung menggenggam erat tangan Rendy. Sifat tangguhnya hilang seketika, setelah melihat hal yang begitu mengerikan di depan matanya.
***
"Cepat katakan dengan jujur, apa yang kalian lakukan berduaan di sana?" tanya Pak Surya, yang merupakan guru bimbingan konseling.
"Ka-ka-kami..." mata Rendy meliar kemana-mana, dia tidak berhenti meremas jari-jemarinya.
"Kami sedang pacaran Pak!... saat itu kami tidak sengaja menemukan Firda di dalam gudang!" Amira menyahut dengan lantang.
"Kalian tidak melihat hal yang mencurigakan saat itu?" tanya Pak Surya, dia menatap tajam Rendy dan Amira secara begantian.
"Tidak!" Rendy dan Amira tidak sengaja menjawab secara bersamaan.
"Baiklah... meskipun begitu, kalian berdua tidak diperbolehkan pulang lebih dahulu sampai polisi selesai melakukan penyelidikan!" Pak Surya berdiri dari tempat duduknya. Kemudian dia berbalik lagi dan berkata, "Kalian mendapatkan 50 poin, karena berpacaran di saat jam pelajaran!"
Amira segera mendengus lega, tubuhnya langsung bersender dengan nyaman di kursi.
"Mir, kira-kira siapa yang tega melakukan pembunuhan di sekolah?" Rendy menatap Amira dengan sudut matanya.
"Entahlah... yang jelas kita sudah terjebak dengan keadaan ini sekarang," jawab Amira sambil memejamkan kedua matanya. Dia berusaha menenangkan dirinya.
***
Waktu tidak terasa berlalu, jingga di ufuk barat perlahan berganti dengan hitamnya malam. Rendy dan Amira tampak tertidur di ruang BK karena terlalu lama menunggu.
Perlahan Amira membuka matanya, lalu mengerjap beberapa kali. Dia langsung melihat keadaan Rendy yang sudah tertidur dengan mulut menganga.
"Idih! gue jadi enggak bernafsu lagi nyium dia!" Amira meringiskan wajahnya.
Tak! Tak! Tak!
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan. Awalnya Amira menganggap itu adalah hal yang biasa. Namun setelah suara tersebut terdengar puluhan kali, barulah bulu kuduknya mulai merinding.
"Ren! Ren!" Amira memukul-mukul pipi Rendy sekuat tenaga, tentu saja dengan tujuan untuk membangunkannya.
Rendy pun terbangun dengan tersentak kaget. Dia langsung mengusap saliva yang tidak sengaja mengalir dari mulutnya.
"Lo ngerasa ada yang aneh nggak?" Amira mendekatkan wajahnya pada Rendy.
"Ti-ti-tidak ada yang aneh!" lagi-lagi Rendy diserang rasa gugup dengan perlakuan berani Amira. 'Yang paling aneh itu justru elo Mir!' keluh Rendy dalam benaknya.
"Kalau begitu lo nggak rasain gimana sepi-nya nih tempat sekarang?" Amira mengerutkan dahi.
Rendy sembat terdiam sejenak, dan berkata, "Lo bener..."
Amira pun berdiri dari tempat duduknya, yang di ikuti Rendy dari belakang. Keduanya membuka pintu untuk melihat keadaan diluar ruangan.
"Sepi banget! kemana semua orang? katanya polisi belum selesai menyelidiki..." Rendy bertanya-tanya.
"Ayo kita cari mereka, atau kita pulang saja!" usul Amira yang mencoba berjalan lebih dulu menyusuri koridor. Sontak Rendy pun berjalan mengekori Amira, karena tidak punya opsi lain.
***
"Gila parah, serem juga sekolah kita!" Amira menggidikkan bahunya.
"Pffft... lo takut ya?!" ejek Rendy dengan kekehnya, yang sontak membuat Amira menoleh ke belakang untuk sekedar menegur lelaki itu. Namun matanya langsung membola ketika melihat sosok begitu mengerikan tepat di belakang Rendy.
Makhluk tersebut tingginya hampir menyentuh pelafon, tubuhnya hitam dan berbadan besar. Perlahan sosok itu menampakkan gigi taring dan kuku runcingnya.
"RENDY!!!" teriak Amira sembari menunjuk makhluk yang sudah siap menerkam Rendy.
"Kenapa Mir?!" Rendy yang masih belum paham, malah melontarkan sebuah pertanyaan.
Tanpa pikir panjang, Amira pun segera menarik paksa Rendy untuk ikut berlari bersamanya.
"Kenapa Mir?" tanya Rendy lagi.
"Dasar bodoh! lihat di belakangmu, kampret!" balas Amira, yang seketika membuat Rendy menoleh ke belakang. Benar saja, dirinya melihat makhluk hitam yang berusaha terus mengejar.
Rendy dan Amira tidak henti berlari di koridor yang lama-kelamaan terasa tidak ada ujungnya sama sekali. Keduanya seakan sedang berlari mengitari sebuah lingkaran.
Akhirnya Rendy pun memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan, yang tidak lain adalah gudang. Tidak lupa dia menyeret Amira untuk masuk bersamanya.
"Sialan! kenapa lo milih ruangan ini jadi tempat sembunyi?!" Amira menggertakkan giginya, dan melotot ke arah Rendy.
"Mana gue tau!!!" geram Rendy yang merasa sudah terdesak.
BRAK! BRAK!
Pintu tiba-tiba didobrak dari luar. Alhasil Rendy dan Amira pun segera menjauh dari pintu. Tanpa sadar kedua tangan mereka berpegangan dengan erat.
BRAK! BRAK! BRAK!
Dobrakan pintu semakin menjadi-jadi. Nafas Rendy dan Amira mulai naik turun dengan tempo yang cepat.
Kretak!
Rendy tidak sengaja menginjak serpihan kayu lapuk di lantai, ia pun segera mengalihkan pandangannya ke bawah. Dirinya dikejutkan dengan menghilangnya bekas darah seorang siswi yang dia lihat tadi siang.
"Mir, kok lantainya bersih?" tanya Rendy seraya menilik ke seluruh sudut lantai di gudang.
"Lo benar! kok hilang?" Amira ikut merasa bingung.
BRAK!!!
Tanpa diduga pintu terbuka dengan tiba-tiba. Rendy dan Amira langsung berteriak histeris, saking takutnya keduanya menjadi saling berpelukan satu sama lain. Mata mereka bahkan terpejam, seakan telah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Tak! Tak! Tak!
Bukannya mendengar suara makhluk mengerikan, Rendy dan Amira malah mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Keduanya pun segera membuka mata, mereka begitu dibuat kaget dengan kedatangan seorang siswi yang tidak lain adalah Firda. Siswi yang tadinya ditemukan tidak bernyawa di gudang.
"AAARRKKKHH!!!" Firda memekik keras tatkala sesosok makhluk hitam dan besar, berjalan mendekatinya.
Sedangkan Rendy dan Amira hanya bisa mematung di tempat. Keringat dingin bahkan mulai bercucuran di tubuh mereka masing-masing. Keduanya masih belum memahami apa yang terjadi di depan mereka. Bahkan Firda pun bertingkah seakan-akan tidak melihat keberadaan Rendy dan Amira.
Makhluk hitam itu mengangkat tubuh Firda dan menjilati dengan lidah panjangnya. Dia sesekali melirik ke arah Rendy dan Amira yang sedang mematung dan gemetaran. Keduanya bahkan tidak bisa lari, karena besarnya tubuh makhluk itu menutupi jalan keluar.
Prat! Prat!
Darah Firda menciprat, ketika makhluk hitam tersebut menggigit dan mengoyak tubuh Firda dengan taring dan kukunya.
Tidak lama kemudian, makhluk hitam itu menghempaskan tubuh Firda yang sudah tidak bernyawa ke lantai. Sekarang dia berjalan mendekati Rendy dan Amira dan berucap dengan suara seraknya, "Kalian beruntung tidak sendirian..."
***
Amira terbangun dari tidurnya dengan tarikan nafas yang panjang. Matanya langsung membelalak saat melihat dirinya berada di dalam gudang. Dia juga melihat keberadaan Rendy yang masih tertidur di sampingnya.
Amira segera bergegas membangunkan Rendy. Namun polisi tiba-tiba muncul dari balik pintu. Sontak keduanya pun dituduh menjadi tersangka pembunuhan Firda. Sebab mereka berdua tertidur di samping mayat Firda yang sudah bersimbah darah.
Rendy dan Amira berjalan dengan tangan yang diborgol. Mereka melangkahkan kaki melewati teman-temannya yang sudah berdatangan. Keduanya tentu menjadi pusat perhatian semua orang sekarang.
"Ren, apa lo percaya kalau makhluk hitam besar yang membunuh Firda?... gue harap itu bukan mimpi!" ucap Amira dengan tatapan datar ke depan. Dirinya dan Rendy sudah duduk di dalam mobil polisi.
"Gue percaya Mir, karena kita berdua melihatnya tadi malam..." sahut Rendy yang di ikuti dengan dengusan nafasnya.
Amira perlahan memalingkan wajahnya untuk menatap Rendy dan berkata, "Sekarang... waktu yang tepat kan buat nyium lo?... "
"Iya, lakukanlah... karena kita sudah gila, lebih baik lakukan saja hal yang gila..." jawab Rendy santai.
~TAMAT~