Kebebasan adalah hal mutlak yang dimiliki manusia sejak lahir. Sejatinya manusia sama seperti mahluk lainnya bebas menjelajahi seluruh dunia. Tetapi karena demi kepentingan dan kekuasaan seseorang, semuanya dirampas dengan mudah seperti kami ini seonggok sampah.
Musik dilarang, bait-bait puisi dilarang, keceriaan dilarang, hanya memperbolehkan menaati aturan dan menjalankan kewajiban yang dimiliki setiap orang dari lahir. Negara kami dikuasai oleh kekuatan militer sehingga semunya diatur oleh hukum militer. Apabila ada yang melakukan kesalahan baik tua maupun muda, pria maupun wanita semuanya diperlakukan sama.
Aku sedari kecil tumbuh dikeluarga yang memiliki tugas untuk bertani. Aku tidak boleh menuntut ilmu, hanya boleh bekerja sebagai petani. Apakah ini bisa dikatakan sebagai hidup. Aku yang sejak kecil memiliki keingintahuan selalu merasa haus. Haus akan pengetahuan dan kedudukan. Aku tidak ingin selalu dipandang rendah.
***
Suatu hari ketika aku berumur 14 tahun, datanglah sekelompok pasukan militer datang untuk meminta jatah hasil panen kami, sedangkan baru beberapa hari kemarin kami baru saja menyerahkannya kepada pihak militer. Aku tahu saat ini mereka adalah preman yang berseragam, memeras kami warga yang tak berdaya demi kepentingan mereka sendiri.
Ayahku menentang dengan keras karena jatah panen yang disimpan, hanya mencukupi kami bertiga melewati musim dingin. Melihat hal itu ayahku kemudian dihajar habis-habisan dan ibuku disekap dibawa kesuatu tempat. Aku yang saat itu sedang bersembunyi diatas atap tak tahan melihat pemandangan itu.
Aku melompat dan menusuk salah seorang tentara yang memukul ayahku dengan potongan kayu. Seketika darah mengucur dari urat nadi lehernya begitu deras. Saat yang lainnya sedang terpaku melihat keadaan temannya aku segera mengambil senapan milik tentara itu yang terjatuh. Karena aku anak yang cerdas aku paham cara menggunakan senapan tanpa berlatih terlebih dahulu.
Mendengar suara gaduh, semua tentara yang menyekap ibuku lalu mulai keluar satu persatu. Mereka lengah karena sebagian dari mereka meninggalkan senjata mereka. Dengan mudahnya aku menghabisi mereka semua.
Setelah aku membunuh hampir setengah pleton pasukan, aku menatap wajah kedua orang tuaku yang kaget melihat tindakanku. Ayahku kemudian memelukku dan menyuruhku lari sejauh mungkin, sedangkan ayah dan ibuku akan menahan para tentara yang akan datang nantinya menggunakan senapan yang ada.
Suasana haru megantar kepergianku meninggalkan kedua orangtuaku. Air yang mengucur dari mataku tak bisa berhenti hingga menutupi pandanganku.
***
Aku tumbuh dengan menggunakan nama lain. Nama yang akan mengubah era dinegara ini. Saat ini aku bekerja sebagai kepala staff angkatan darat. Dulu ketika aku berhasil kabur, aku diterima oleh sebuah panti asuhan yang berada 158 KM dari tempatku berasal. Dari situ aku mulai menyusun rencanaku. Aku mendaftarkan diri disekolah Akademi Militer yang seharusnya hanya bisa dimasuki oleh anak para pejabat saja.
Dendam lama yang telah kupendam mengantarkanku melalui semua siksaan. Nilaiku dan fisikku yang cemerlang tidak membuat kehidupanku di akademi menjadi mudah, justru karena aku berasal dari kalangan bawah, aku menjadi sasaran tinju semua orang yang ada disana.
Dari siksaan yang selalu ku alami membuatku semakin kuat dan kuat. Keteguhan hatiku memadat hingga kematian sekalipun tidak dapat melunakkannya. Setelah lulus, aku segera menunjukkan kehebatanku dalam memimpin pasukan dan memenangkan banyak pertempuran. Tetapi kebencian dan iri selalu menemani jiwa-jiwa seorang yang dari lahir hidup dengan kemewahan. Mereka tidak ingin tersaingi tetapi tak ingin berusaha keras mengembangkan diri.
Seharusnya aku saat ini berpangkat Letnan Jenderal hanya mendapatkan pangkat Mayor Jenderal. Selain itu jabatanku juga diubah yang seharusnya aku maju dimedan perang hanya bertugas mengatur dokumen-dokumen penting saja. Meski aku tidak bisa menghimpun kekuatan aku masih bisa mempermainkan data dinegara ini.
--------
Waktu mulai berlalu, Negara mulai kehilangan cahayanya setelah mengalami kekalahan yang bertubi-tubi dari pihak sekutu. Meski aku sangat membenci negara ini, aku tidak mau bersekutu dengan pihak musuh untuk menjatuhkan negara ini, karena aku tidak ingin rakyat lebih menderita lagi.
Karena kekalahan yang berturut-turut akhirnya aku mendapat kesempatan memimimpin pasukan lagi. Sebagai pemimpin aku terkenal tegas, bijaksana, dan kharismatik. Semua anggotaku sangat mempercayai hidup mereka ditanganku, karena mereka percaya, dibawah kepemimpinanku akan menghasilkan kemenangan.
Setelah kemenangan yang gemilang, sekarang saatnya aku mulai membalas dendam lamaku. Aku sudah memiliki pasukan yang sangat mempercayaiku. Ku tanamkan kepada semua pasukanku arti kebebasan dan sebuah kepercayaan. Dengan semua data-data yang kudapat selama menjadi kepala Staff Angkatan Darat, aku mengetahui bisnis-bisnis kotor dari para pejabat.
Satu persatu bisnis mereka kuhancurkan dan yang tertangkap tangan menjalin bisnis dengan sekutu aku bunuh dengan kejam. Aku dalam membunuh tidak pernah menyisakan seseorangpun, semua keluarganya pasti ku musnahkan. Aku tidak ingin nantinya mereka yang masih hidup justru menjadi batu sandunganku, akibat dendam mereka terhadapku.
Para petinggi Militer masih tidak mengetahui maksud sebenarnya tindakaknku itu. Selain aku menuntut balas dendam, aku juga ingin mengambil alih kekuasaan dengan cara menunjukkan bahwa, AKU ADALAH SANG PENYELAMAT DAN PEMBAWA KEADILAN.
Semua musuh politikku, yang membenciku mulai bergerak supaya aku terjatuh. Mulai dari meracuni, menipuku dengan wanita dan masih banyak lagi. Tetapi semua itu sia-sia selama aku dilindungi oleh pasukanku yang setia.
Kemenangan demi kemenangan tercapai hingga musuh-musuh kami enggan berseteru dengan kami lagi. Mereka menyerah dan membiarkan sebagian daerah mereka, kami kuasai. Tapi disitulah awal kehancuran dimulai.
***
Disuatu kawasan kota musuh yang telah terduduki, masih tertinggal ratusan warga kota yang tidak sempat mengungsi. Dengan kebijakanku mempersilahkan warga sipil untuk pergi kecuali militer yang tersisa untuk dihabisi.
Suatu ketika saat aku sedang membakar cerutuku, aku mendengar suara wanita yang sedang berusaha meminta pertolongan. Langkah kakiku yang tegas membawaku menemui asal suara itu. Melihat pemandangan yang menyulut emosiku seketika aku menembak ketiga prajurit, yang dibawahi komando jenderal lain.
"Ampun Jenderal, ampuni..... saya" dengan posisi bersujud dia memohon ampun padaku.
"Beginilah didikan jenderal yang kurang berkompeten. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa memaafkan seorang prajurit yang hina" Terlihat amarah yang membara terberkas dimataku.
(Doorrr) Suara peluru yang menembus tulang di kepala
----- Suara itu memancing semua pasukan termasuk jenderal yang pasukannya telah aku bunuh.----
"Apa yang telah kau lakukan? Berani sekali kau membunuh 4 prajurit dibawah komandoku" tatapan yang marah dengan jari menunjuk padaku.
Dengan santai sambil menghembuskan asap cerutuku, aku menjawab.
"Bukankah sudah kewajiban pimpinan mentertibkan pasukannya. Aku paling tidak bisa mentolelir tindakan merendahkan wanita seperti itu" Aku menatap balik matanya dengan tajam seolah menantangnya untuk duel senjata.
"Jika kau tidak terima, silahkan laporkan tindakanku kepada pengadilan militer. Mereka tidak akan berani menangkapku karena aku adalah sang penentu kemenangan." Jawabanku sambil melangkah pergi meninggalkan dia yang sedang marah menatap kearahku.
Tiba-tiba jenderal itu mencabut senjatanya dan ingin menembak kearah wanita itu. Sontak aku meneriaki jenderal itu dengan suara lantang.
"Jika kau menembak warga sipil yang tak berdaya maka kau akan kuburu"
Mendengar hal itu membuat jenderal itu makin marah dan menembakku. Tembakan itu hanya membuatku lebam karena diredam oleh baju anti peluru yang kupakai. Aku berdiri kembali dan berlari menghajarnya. Terlihat jelas perbedaan kekuatan yang mencolok. Dia kubuat babak belur tidak karuan oleh karena itu aku diungsikan di kamp selama seminggu.
Selama seminggu itu aku juga mengobrol ringan dengan wanita yang telah membuat keributan itu.
"Terimakasih tuan karena telah menyelamatkanku" dia berkata dengan memalingkan wajahnya yang malu.
"Ah... tidak apa-apa. Walaupun kau musuh kami tetap saja kau juga manusia yang bebas" aku menjawab santai sambil membakar cerutu terakhirku sambil duduk diluar tendaku.
"Ah... kenapa kau bisa masuk dikamp ini? ini kan kamp militer. Tidak seharusnya kau berada disini"
"Anak buah anda meminta aku untuk hutang budi kepada anda dengan menjadi penyicip makanan anda" jawabnya dengan mata yang memandang kebawah.
"Kau akan tidur ditenda mana, pilihlah" Jawabku dengan santai menikmati sore hari
"Aku ingin tidur setenda dengan anda, karena saya merasa aman bersama anda" jawabnya dengan wajah malu.
"Aku tidak mengijinkan wanita memasuki tendaku" Aku menjawabnya dengan nada yang tegas.
"Prajurit tolonglah kemari. Buatkan tenda yang nyaman untuk nona ini disamping tendaku"
" Siap pak" Segera prajurit itu berlari untuk segera membuat tenda.
Berhari-hari dikamp aku ditemani olehnya hingga tak terasa waktu terus berjalan hingga dia bersamaku selama setahun sebagai juru uji makanan.
***
Perang telah reda dengan kemenangan ditangan kami, tetapi kami masih harus waspada dengan serangan tiba-tiba. Dalam keadaan gembira kami merayakan kemenangan itu dengan pesta di ibukota negara kami. Dalam suatu kesempatan perjamuan makan aku mengajak Mei keluar untuk mengobrol.
"Apakah kau tidak rindu orang tuamu? Kau terus saja mengikutiku, aku sudah menyuruhmu berulang kali untuk pulang tapi kenapa kau terus memaksa untuk tinggal?" Tanyaku kepadanya dengan nada canda.
"Dengan bekerja bersama anda, saya bisa membiayai hidup kedua orangtua saya dan adik saya. Terlebih lagi setelah negara saya kalah dalam peperangan." Jawabnya dengan wajah murung
"Kau seorang wanita yang menawan. Murung tidaklah terlihat cocok untukmu." Aku menarik tangannya untuk mengajaknya berdansa.
Tiba-tiba pesta kemenangan berubah menjadi meriah dengan suara rentetan peluru dari luar gedung. Ternyata pasukan pemerintah menyerbu kantor ku, dan aku merasa ada seseorang yang membocorkan niatku untuk mengubah bentuk negara ini.
Aku membawa Mei melewati jalan rahasia bersama Jenderal lain yang mempercayakan hidupnya padaku. Aku dan semua orang yang mencoba kabur sontak kaget karena sudah dihadang beberapa orang yang ingin menangkapku. Adu peluru sudah tak bisa dielakkan lagi. Suara peluru berdengung silih berganti tak henti-henti, hingga waktu yang memberikan hasil dari pertikaian di dalam ruangan kecil yang memiliki jalan langsung menuju pintu keluar.
Tersisa 3 orang dari kubuku, yakni Aku, Mei, dan Seorang Jenderal Muda yang mengagumiku. Sedangkan mereka dengan perlengkapan lengkap masih tersisa 6 orang. Dengan tipu muslihat kulempar tubuh salah seorang dari mereka menggunakan bom tangan yang selalu ku bawa dengan cepat kami ber 3 bisa mengatasi mereka.
Dalam suasana yang begitu mendebarkan tiba-tiba Mei menodongkan pistolnya ke jantungku. Tanpa ragu-ragu aku menembakkan isi peluruku yang tersisa.
(Dorr... Dorr....Dorr...) Terdengar 3 suara tembakan didalam ruangan yang terus menggema meskipun sudah tidak ada lagi tembakan.
"Kenapa kau tidak membunuhku Jenderal" Mei menangis sambil memeluk tubuhku dengan erat.
"Aku hanya menembak musuhku dan kau bukanlah musuhku, aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri dan Jenderal muda yang lengan kanannya tertembak" Aku yang mulai kesulitan bernafas karena darah yang tiada hentinya mengalir di dada kiriku.
Melihat hal itu Jenderal muda menghampiriku dan menendang Mei.
"Apa yang kau lakukan... Dia sudah berjuang selama ini agar keadilan bisa dirasakan semua orang. Kau tidak tahu dia hanya ingin mengubah negara ini agar menjadi tempat yang layak" Jenderal muda menangis melihat tubuhku yang mulai memucat.
"Maafkan aku, aku harus bertindak seperti ini demi negaraku" Mei sambil tertunduk lesu terus meneteskan air dari matanya.
"Kalian janganlah bertengkar, tolong lanjutkan perjuanganku agar setiap anak yang lahir, bisa memilih jalan hidup yang mereka inginkan dan terus berjuang untuk bisa menggapainya" Aku sambil tersenyum memegang kedua tangan mereka.
Karena tubuh yang sudah membeku, mereka meninggalkanku untuk bisa mewujudkan mimpiku yang telah kutitipkan kepada mereka.