Nindy : Panji. Kita balikan yuk!
Panji : Serius kamu, Nindy?
Nindy : Ya iya lah. Aku serius Panji sayang...
Panji : Ya ampun, Nin. Aku seneng banget. Jadi pengen meluk kamu.
Nindy : Dasar kamu tuh.
Panji adalah cowok yang sangat misterius, tertutup, dan dingin. Tapi ia lumayan tampan. Begitulah kira-kira penilaian Nindy tentang kekasihnya itu. Namanya juga sudah kepalang bucin, gadis itu nggak peduli. Panji termasuk cowok yang baik. Maka dari itu Nindy terima-terima saja ketka Panji menembaknya. Dan Panji adalah pacar pertama Nindy.
Beberapa minggu yang lalu, sebenarnya Nindy dan Panji sudah berpacaran. Tapi, belum ada genap satu minggu mereka pacaran, sikap Panji mulai aneh. Nindy tidak mau pusing mengurusi, jadinya gadis itu memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Meski telah putus Nindy dan Panji tetep berhubungan di sosia media. Dan karena itu juga lama kelamaan Nindy merasa nyaman lagi dekat dengan Panji. Dan karena itulah hari ini ia mengajak Panji balikan lagi. Nindy berharap bisa menyayangi Panji sepenuh hatinya.
“Lisa, Risa, aku duluan. Perut aku mules banget nih. Kalian lanjut aja makannya. Aku mau ke toilet udah nggak tahan.” ucap Nindy pada dua kawan kembarnya itu.
“Yah.. Kok ninggalin kita sih? Bakso lu masih utuh itu. Mubazir tahu!” protes Lisa dengan nada kesal.
“Maaf Lis, nggak tahu nih tiba-tiba nggak bisa diajak kompromi nih perut gue.”
“Yee dasar! Ya udah sono ke toilet dari pada keluar disini.” kata Risa
Lisa menggeser mangkok bakso milik Nindy. Risa melotot minta bagian.
Nindy beranjak dari kantin tapi ia tidak menuju ke kelasnya melainkan ke lantai 3, ia ketemuan dengan Panji di depan papan mading hingga jam istirahar berakhir.
KRIIIIING!
Jam terakhir adalah Kimia. Mata pelajaran yang paling Nindy tak sukai. Padahal dia sendiri anak IPA. Hidrokarbon, termokimia, laju reaksi, dan keseimbangan kimia membuatnya pusing. Apalagi
Bu Clara, guru Kimia. Guru yang terkenal dengan pengajaran yang mendetail. Beliau selalu menjelaskan materi demi materi nonstop tanpa jeda iklan. Kayak promo premium aplikasi musik. Hal itu terkadang membuat anak-anak kelas frustasi. Beruntunglah cuaca hari itu agak mendung. Jadi kelas tidak terasa pana. Terutama kuping Nindy.
Malam itu Nindy sedang asik berguling ria di atas kasur empuknya.
"Bentar lagi, aku bakal ulang tahun. Kira-kira Panji bakal kasih surprise apa ya?" gumam Nindy. Kemudian gadis itu membuka aplikasi messenger dan mulai mengetik pesan.
Nindy : Malam Panji ku sayang.
Panji : Malam juga Nindy ku sayang.
Nindy : Sayangku lagi apa?
Panji : Lagi duduk-duduk aja nih. Kamu kok belum tidur? Ini udah malam loh.
Nindy : Lagi belum ngantuk aja. Oh iya sayang. Aku mau nanya.
Panji : Nanya apa sayang?
Nindy : Sayang inget kan ulang tahu aku?
Panji : Inget dong sayang. Masa iya aku lupa.
Nindy : Sayang mau kasih hadiah apa?
Panji : Kalau aku ngasih tahu. Ya nggak surprise dong namanya.
Nindy : Benaran juga ya. Hehehe. Jadi nggak sabar deh sayang nunggu suprise kamu.
Panji : Sayang tunggu aja ya, sayang pasti SURPRISE banget!
Nindy : Hmm, iya deh sayang.
Inilah satu keanehan Panji. Dijaman sekarang cowok itu tidak punya whastapp. Setiap chat hanya melalui messenger.
Hari ini adalah hari ulang tahun Nindy. Tapi, sayangnya hari ulang tahunnya bertepatan dengan hari libur sekolah. Jadi gadis itu tidak bisa bertemu temen-temen sekelasnya. Kesedihan terobati saat ia mendapati banyak ucapan di akun sosial medianya. Saat ia mengecek profil facbooknya. Panji mengirimkannya pesan ucapan selamat ulang tahun yang romantis 3 jam yang lalu. Gadis itu senyum-senyum sendiri membacanya. Tapi anehnya akun faceboo cowok itu juga aktif 3 jam yang lalu. Dan dari tadi Nindy sama sekali tidak bisa menghubungi cowoknya itu.
Hari sudah menjelang sore, di hari spesialnya ini, ia sedih hanya mendapatkan ucapan manis dari temen-temennya. Padahal, ia berharap akan ada kado kecil dan kue tart mini untuk ia tiup lilinnya.
Nindy duduk di teras samping rumahnya, sambil menikmati angin sore dan mendengarkan lagu sendu. Setiap lirik yang terdengar membuat Nindy menerawang jauh."Ke mana Panji?"
Beberapa menit kemudian, Nindy mendengar suara motor di depan rumahnya. Gadis itu berlari kecil menuju ke sana untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata sebuah boneka teddy besar berwarna pink dengan hati di tengahnya bertuliskan I love You. Dan kue tart coklat dengan lilin berangka 17 di atasnya. Nindy sangat bahagia, wajahnya berseri-seri tapi ia kesulitan melihat siapa orang di balik boneka itu. Boneka teddy yang besar menutupi kepala hingga perutnya.
“Sayang.. Apa itu kamu?” tanya Nindy
Cowok itu menampakkan mukanya perlahan. Betapa terkejutnya Nindy. Melihat Panji berlumuran darah di hampir sebagian kepalanya, dimukanya yang putih pucat terdapat banyak luka yang membusuk dan berulat.
“Panjiiii!!!” jerit histeris Nindy
“Nindy!!! Bangun!!! Kenapa kamu tidur di jam saya? Coba kamu jelaskan ulang materi tadi!” bentak Bu Clara yang membuat Nindy langsung terlonjak kaget. Antara sadar dan tidak sadar, gadis itu hanya bisa diam. Keringat dingin membasahi keningnya.
“Sekarang kamu keluar dari kelas. Jangan ikuti jam saya hari ini!” bentak Bu Clara lagi pada Nindy. Dengan terpaksa Nindy berjalan keluar sambil menundukkan kepalanya. Ia lantas duduk di bangku teras kelasnya.
“Panji?” gadis itu terisak pelan. Ia mengusap dahi dan lehernya yang basah karena keringat dingin.
Sampai di rumah dan sampai malam, Nindy masih seperti orang linglung. Ia duduk di tepi ranjang dan merinding jika mengingat mimpinya tadi siang. Ponsel Nindy berdering.
"Lisa?" Nindy mengangkat panggilan dari Lisa.
“Halo Nin, lu baik-baik aja kan? lu tadi siang ngapain sih ngigo nggak jelas gitu?"
“Gue… juga nggak tahu, Lis.”
“Eh jelek nggak biasanya lu tidur sampai segitunya. Mimpi apaan lu?” tanya Lisa heran.
"Mungkin gue bisa tanya sama Lisa tentang Panji." batin Nindy
“Hemm..., Lis. lu tahu Panji kan? Aku pacaran sama dia. Dan tadi siang itu, gue mimpi serem banget soal dia.”
“Haa? Panji? Panji siapa? Emang di kelas kita ada yang namanya Panji ya?”
"Itu loh Panji Leksmana. Masa nggak tahu?"
"Ben-bentar... lu coba tanya Risa deh dia kan anaknya pecicilan pasti kenal anak seantero sekolah." Lisa memanggil saudara kembarnya itu.
"Iya kenapa Nin?" tanya Risa mengambil alih obrolan.
"Ris, lu tahu kan Panji Leksmana? Itu loh yang sering berdiri di lantai 3 dekat mading itu...” Hening... Risa terdiam... Tak ada jawaban keluar dari bibir Risa.
“Ris? lu dengerin gue kan? halo?”
“Eh anu hemm... Nin... Hemm... Lu nggak tahu ya?"
"Tahu apa Ris? lu ngomong yang jelas dong ah." ketus Nindy tak sabaran.
"Setahu gue, Yang namanya Panji Leksmana itu kakak kelas kita dulu. Dia...” Risa kembali terdiam
“Maksudnya apa Ris? Sumpah gue nggak paham. Panji Leksmana itu dia kenapa?”
“Dia itu kakak kelas kita, Nin. Dia sudah meninggal. Dia jatuh dari lantai 3 dekat mading itu.”
DEG!
"Jadi selama ini yang aku lihat di sekolah, yang balas chatku... dan aku berpacaran dengan…"
Nindy terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Nindy! Haloo? Haloo Nin? lu masih di situ?" tanya Lisa
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤