Hari Valentine hampir tiba, teman-teman Reva sudah ramai kasak-kusuk membahasnya. Ada yang berharap cowok yang ditaksirnya akan menyatakan cintanya pada hari Valentine. Ada juga yang menerka-nerka berapa batang coklat yang akan didapatkannya di hari Valentine.
Tapi bagi Reva, hari Valentine terasa menyesakkan dan menyedihkan.
Dahulu, sebelum mengenal Jimmy, Reva tidak pernah peduli dengan momen hari Valentine.
Tapi ketika Jimmy hadir di kehidupan Reva... walau hanya sebentar... Reva jadi membenci hari Valentine.
Padahal hanya satu kali Valentine yang ia lalui bersama Jimmy, karena Jimmy telah meninggal karena kecelakaan tepat sehari sesudah merayakan Valentine bersama Reva.
Walau sudah dua tahun berlalu, sejak meninggalnya Jimmy, namun Reva masih belum bisa melupakan Jimmy. Sehingga ketika ada cowok yang menyatakan cintanya kepada Reva, ia akan menolaknya.
***
"Leo, maafkan aku, aku tidak bisa menerima perasaanmu padaku", kata Reva kepada Leo yang telah menyatakan perasaannya kepada Reva untuk kesekian kalinya.
"Tapi aku sungguh-sungguh menyukai kamu Reva", suara Leo terdengar memaksa.
"Cobalah menjalani hubungan denganku, walaupun kamu tidak mencintaiku, aku akan memperlakukan kamu dengan sangat baik sehingga kamu bisa jatuh cinta kepadaku", Leo berkata lagi kepada Reva, ia berharap bisa meyakinkan Reva.
"Maafkan aku...", Reva tetap menolak Leo.
"Leo, aku pamit pulang dulu ya?! Sudah sore nih", Reva berkata lagi, ketika melihat kampus telah sepi. Sudah tidak terlihat mahasiswa yang lalu lalang.
"Aku antar kamu pulang", kata Leo.
"Tidak usah, terimakasih", Reva berusaha menolak tawaran Leo dengan halus.
"Ayolah... rumah kita kan searah", Leo tetap memaksa.
"Aku sudah pesan ojol kok", kata Reva
"Baiklah, aku akan menemanimu menunggu ojol... Ayolah kita menunggunya di tempat parkir saja, biar Abang ojolnya tidak sulit mencarimu", kata Leo, kemudian ia berjalan mendahului Reva menuju tempat parkir. Reva berjalan mengekor dibelakang Leo.
"Disini saja menunggunya, dekat mobilku", Leo membuka pintu mobilnya, bahkan ia membuka pintu depan mobilnya, berharap Reva mau duduk didalam mobilnya.
"Aku nunggu ojolnya disini saja", kata Reva sambil menatap Leo yang kembali menghampirinya.
Tiba-tiba... bukk... Leo menghantam tengkuk Reva dengan pukulan keras, tubuh Reva terhuyung dan ia jatuh pingsan.
Leo membopong tubuh Reva dan ia memasukkan Reva kedalam mobilnya. Kemudian Leo melajukan mobilnya dengan kencang menuju sebuah perkebunan teh.
Tidak jauh dari perkebunan teh tersebut ada sebuah villa. Begitu sampai didepan villa, Leo mengeluarkan Reva dari dalam mobilnya, kemudian ia membopong tubuh Reva yang masih pingsan itu masuk kedalam villa.
Leo membaringkan tubuh Reva yang masih pingsan diatas tempat tidur, disalah satu kamar yang terdapat didalam villa itu. Kemudian Leo menyumpal mulut Reva dengan kain dan mengikat kedua tangannya.
Setelah itu, Leo keluar dari kamar dan mengunci pintunya.
***
"Aahhh...", Reva mulai tersadar, matanya sedikit terbuka. Ia merasakan sakit yang teramat sangat... ditengkuk dan belakang kepalanya.
"Dimana aku?" gumam Reva, ia hendak memegang mulutnya karena terasa ada sesuatu yang mengganjal, namun ketika akan mengangkat tangannya, ternyata kedua tangannya sudah diikat menjadi satu.
Dengan susah payah Reva mencoba bangun dari tempat tidur. Ia menarik kain yang menyumpal mulutnya.
"Tolong... tolong...", Reva berteriak sekuat tenaga.
Ceklek... tiba-tiba pintu kamar terbuka. Muncul sosok Leo dari balik pintu.
"Percuma kamu berteriak... tak akan ada yang mendengarnya... villa ini sangat terpencil", kata Leo sambil menyeringai.
"Kenapa kamu tega melakukan hal seperti ini padaku?" kata Reva sambil terisak, air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Karena kamu selalu menolak pernyataan cintaku. Kalau aku tidak bisa memiliki cintamu... maka orang lain pun tidak berhak mendapatkan cintamu. Aku akan terus menyekap kamu disini, sampai kamu mau menerima cintaku", kata Leo, ia berkata dengan kilatan amarah di bola matanya.
"Aku sudah mengatakannya padamu... aku tidak bisa menerima pernyataan cinta dari laki-laki manapun... Hatiku dan pikiranku masih terpaut pada Jimmy", kata Reva sambil terus terisak.
"Jimmy sudah mati! Kenapa kamu terus menjadikan Jimmy sebagai alasan?" Leo membentak Reva, nada suaranya bertambah tinggi.
Leo melangkah maju mendekati Reva. Sebaliknya, Reva melangkah mundur berusaha menjauhi Rio. Reva merasa takut melihat sorot mata Leo. Langkah Reva terhenti, punggungnya menabrak dinding kamar.
"A-apa.. maumu?" tanya Reva yang sudah sangat ketakutan dengan sikap Leo.
"Kalau kamu tetap tidak mau menerima cintaku... aku akan mengirimmu pada Jimmy... supaya kamu bisa bersama dengan Jimmy", ancam Leo.
"Aku akan memberimu waktu beberapa hari untuk memikirkannya", kata Leo kemudian, ia pun keluar dari kamar itu dan mengunci pintunya kembali.
***
Reva duduk dipinggir tempat tidur, kedua tangannya masih terikat. Ia menangis sejadi- jadinya.
"Ayah... Ibu... huu huu..." Reva menangis sesenggukan diatas bantal, sampai akhirnya ia pun tertidur.
***
"Reva sayang... bangun", terdengar suara yang pernah sangat dikenalnya.
Reva mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu berusaha untuk duduk diatas tempat tidur. Ia memandang sosok yang telah membangunkannya.
"Jimmy... kaukah itu?", Reva kembali terisak.
Sosok itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum pada Reva. Sosok itu mirip sekali dengan Jimmy, tapi ia seperti tidak punya raga, ia hanya berupa bayangan tembus pandang.
"Jimmy... aku sangat merindukanmu", Reva menghampiri sosok itu dan memeluknya, tapi tidak ada raga yang tersentuh, ia seperti menembus bayangan.
"Jimmy... huuaa", Reva menangis kembali.
"Reva sayang... berhentilah menangis... kuatkanlah dirimu... aku akan membantumu melarikan diri dari tempat ini", kata sosok yang menyerupai Jimmy.
Reva menganggukkan kepalanya, ia mulai menarik nafas panjang-panjang, ia berusaha menghentikan tangisannya.
"Sekarang, kamu panggil si Leo, begitu ada kesempatan, kamu harus lari dari tempat ini, aku akan berusaha menahan si Leo agar tidak mengejarmu", kata sosok itu lagi.
Reva mengangguk kembali, ia menarik nafas panjang lagi.
"Leo... Leo", teriak Reva.
Terdengar suara kunci pada pintu kamar dibuka, lalu muncul Leo dari balik pintu.
"Ada apa kamu memanggilku? Sudahkah kamu berubah pikiran?" tanya Leo.
Tapi alangkah terkejutnya Leo, ketika ia membuka pintu kamar itu lebar-lebar, ia melihat sesosok bayangan seperti bayangan seorang lelaki berdiri tak jauh dari Reva.
"A-apa itu Reva?" tanya Leo dengan gemetar.
"Perkenalkan... ini Jimmy" jawab Reva.
"Apa?..." pertanyaan Leo terhenti karena sosok yang menyerupai Jimmy itu tiba-tiba memutari tubuh, mula-mula perlahan... lama-lama menjadi sangat cepat. Sehingga tubuh Leo seperti diselubungi oleh asap.
"Sekarang lari Reva... lari!" terdengar suara yang mirip dengan suara Jimmy.
Reva pun berlari sekencang-kencangnya. Ia berlari menuju pintu keluar dari villa tersebut. Ketika sampai, ternyata pintunya terkunci, untung saja anak kuncinya tergantung disitu, Reva hanya harus berusaha untuk memutar anak kunci itu agar pintunya dapat terbuka.
Syukurlah... pintu terbuka! Reva berlari kembali... sekencang yang ia bisa.
Ternyata saat itu sudah malam, entah jam berapa. Untung saja sedang terang bulan, sehingga ia bisa melihat jalan setapak di sekitar perkebunan teh yang sangat luas itu.
"Berlarilah kearah lampu yang terlihat di kejauhan itu... mintalah pertolongan disana!" terdengar suara di telinga Reva.
Reva berlari menuju cahaya lampu yang terlihat olehnya. Mungkin itu perkampungan penduduk... pikirnya. Karena lampu yang dilihatnya terlihat cukup banyak.
Beberapa kali kakinya terantuk batu, tak ia hiraukan meski terasa sakit. Baju yang dipakainya juga pasti sudah robek-robek karena tersangkut ranting pohon teh.
"Kuatkan dirimu... teruslah berlari kearah lampu itu", terdengar kembali suara di telinga Reva.
Seperti diberi kekuatan, Reva bersemangat kembali berlari... meski terseok-seok karena kedua tangannya masih terikat.
Benar saja, cahaya lampu yang ditujunya, berasal dari rumah-rumah penduduk.
"Tolong... tolong" Reva mulai berteriak-teriak.
Satu demi satu penghuni dari rumah-rumah itu mulai keluar.
"Ada apa Neng teriak-teriak?" tanya salah seorang warga disitu.
"Tolong saya pak... saya diculik... tolong telpon polisi dan juga orang tua saya", kata Reva sambil mengasongkan kedua tangannya yang masih terikat, ia meminta tolong agar dibukakan ikatannya.
***
Kira-kira selang 1 jam kemudian, polisi datang ke perkampungan itu. Mereka menanyakan kejadian penculikan itu kepada Reva.
Kemudian para polisi itu mencari lokasi villa yang diceritakan oleh Reva. Mereka menemukan villa tersebut dan menemukan Leo masih berada didalamnya.
Leo ditemukan masih hidup, ia terduduk dilantai bersandar pada dinding kamar. Polisi yang menyergapnya, tidak bisa menginterogasinya. Pandangan mata Leo seperti kosong. Leo hanya bergumam, "Hantu... hantu..."
-TAMAT-
*************************************************
Salut kepada teman-teman yang terbiasa menulis cerita horror 👍👍
Buatku, menulis cerita horror itu terasa sangat sulit. Tapi aku berusaha mencoba membuatnya dan selesai disaat menjelang dateline😅