"dear, ahmad Suratmu sudah aku baca, kamu bilang disana sudah memasuki musim panas, namun disini hujan masih turun menguyur kota dengan hawa dingin menusuk kulit, owh...! ya. aku mau bilang padamu mungkin bulan depan aku berencana kekota mu, sudah lama aku tak berkunjung kesana. jadi, jangan lupa untuk menjemput ku di halte bus ya".
Lalu ia masuki lagi surat itu didalam amplop berwarna putih, sudah lama semenjak hari itu ia tak pernah bertemu dengan-nya.
Bermain dipantai, berlari-larian dipasir putih pantai, duduk sembari melihat mentari senja yang mulai terbenam.
"dear, ahmad hari ini begitu panas disini saat aku menuliskan surat ini wajah ku penuh dengan keringat, owh... ya! apa kamu menunggu setiap tanggal berganti. Aku harap begitu mungkin wajah mu sedikit berubah".
Laut dengan ombak mengulung dan saling berkejar-kejaran. angin sepoi-sepoi menghantam tubuh, angin itu hangat, terasa hangat ditubuh.
dalam benak ahmad selalu menunggu hari berganti.
Berjalan dalam langkah yang begitu ringan, daun-daun berjatuhan, jatuh ketubuh ahmad lalu ia ambil sembari tersentum sunging dibibir.
"apakah kamu sudah lama menunggu?".
sapa dan tanya seorang gadis yang ia kenal "kamu?".
dengan tangan menunjuk kearah gadis itu, seketika dipeluknya tubuh gadis itu dengan erat.
"kamu tak pernah berubah".
kata ahmad dengan tetap memeluk erat gadis itu.
Jalan kota penuh dengan kendaraan berlalu lalang sembari membunyikan kelakson dengan suara bising memekak kan telinga.
Mereka berjalan menyusuri setiap jalanan.
Awal yang indah di musim yang indah, hari mulai gelap, malam mulai datang, langit hitam berlatar cahaya bitang.
Mereka duduk dibangku taman bermandikan cahaya lampu taman, yang cahaya-nya temaram.
"sudah lama sejak kepindahan mu. Aku tak pernah bertemu dengan mu".
ucap ahmad, namun kini ia telah bertemu dengan-nya yang ia rindukan sejak lama, menatap lekat wajah gadis itu, cantik sunguh cantik mungkin begitulah kata yang terbesit dalam pikiranya.
Teman masa kecil, bahkan cinta pertama dalam hidupnya.
"kamu sunguh cantik".
ucap kecilnya pada gadis itu tanpa ragu ia katakan perasaanya.
Gadis itu hanya tersenyum pada-nya, ia beranikan diri mendekati wajah gadis itu, begitu dekat, mendekat kan bibir nya kebibir gadis itu.
"cup".
kecupan hangat menambah cerita dimalam itu.
Sungguh kenangan yang indah yang pernah terukir dalam hidupnya, seperti sapuan kuas di sebuah kanvas begitu indah dilukiskan sampai-sampai tak bisa mulut berucap.
Liburan semester itu mereka manfaatkan untuk kebersamaan dalam sebuah keromantisan.
Bermandikan air laut yang asin, bermain pasir pantai, berlari sembari berkejar-kejaran, tertawa riang, bahagia nampak tergurat diwajah mereka.
Hujan melanda kota, guyuran'nya menghantam atap, bunyi bising dihasilkanya, hawa dingin menerpa kulit.
ia hangatkan tubuh gadis itu dengan jeketnya, sembari tangan memegangi tangan gadis itu.
Sunyi, begitu sunyi disana kendaraan jarang lewat apalagi pejalan kaki.
"aku berpikir hujan adalah suatu anugrah".
kata ahmad sembari menatap hujan.
tangan ditadahkan dicucuran hujan sembari mata terpejam merasakan dingi-nya air hujan.
Cukup lama hujan menguyur kota, kini jalanan mulai tergenang oleh air hujan yang terus menguyur.
"kamu kedinginan?".
kata ia cemas, mencemas kan keadaan gadis itu dengan tubuh yang mulai mengigil.
Ia tak tau apa yang harus ia lakukan, selain menunggu hujan redah.
Senja datang, hujan berhenti, digantikan hangatnya mentari senja menghangatkan tubuh.
Udara segar selepas hujan dihirupnya dalam-dalam, mereka berjalan ditengah keramaian sembari tangan bergandengan.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu liburan semester pun sudah usai.
Mereka kembali kepada sekolahnya masing-masing, dengan membawa kenangan indah bersama mereka.
Liburan itu begitu menyenangkan bagi ahmad, senyum nampak dari bibirnya, menyapa setiap teman kelasnya.
Mungkin teman kelasnya merasa keheranan melihat tingkahnya.
"dear, alfia aku sudah membaca surat mu, tentang liburan semester.
Aku juga menantikan liburan semester selanjutnya, apakah kau tau Bahwa aku sunggu mencintai mu? dan berharap bahwa waktu terhenti sejenak agar kita bisa menikmati kebersamaan".
Sepenggal surat singkat selalu mereka tulis, tak ada istimewa selain tulisan anak SMA yang cukup pendek tanpa kata penutup, tapi begitu bermakna bagi mereka.
Sepasang kekasih dengan cinta anak muda, tepisah jarak namun dengan cinta yang membara.
sungai mengalir berair jernih ikan tanpak terlihat berenang kesana kemari, riak air menghantam batuan sungai, daun jatuh kesungai berair jernih terbawa arus hingga ke hilir.
Berhenti, berputar sejenak, lalu tengelam didasar sungai.
"bila tak sekarang kapan lagi?".
"aku aku... tak bisa".
jawab gugup seorang gadis, namun jawabannya membuat teman-teman nya begitu kesal.
Lalu didorong tubuh gadis itu ke arah ahmad yang seketika membuat tubuh gadis itu terjatuh dilantai menimpa tubuh ahmad, sontak saja kejadian itu mengundang perhatian teman-teman sekelas.
"maaf".
hanya itu kata yang terucap, dengan kepala tertunduk kebawah menahan malu karena perbuatan teman-nya.
Ahmad hanya tersenyum sembari mengusap kepala gadis itu, lalu berlalu meninggalkan-nya tanpa sepatah kata pun.
"kapan?"
tanya teman-teman-nya yang begitu kesal pada nya yang tak mau mengungkap'kan perasaan'nya
"aku gugup".
jawab ia, yang seketika membuat tangan teman-nya memukuli kapala-nya.
Hani seorang gadis ayu berambut panjang terikat, wanita pendiam.
Yang diam-diam menyimpan rasa pada ahmad namun malu mengungkapkan-nya, ia gadis pintar banyak teman walau ia pendiam.
Jam sekolah usai, semua murid bergegas untuk pulang, begitu juga dengan ahmad.
Melangkahkan kaki melewati pintu gerbang, namun langkahnya terhenti tak kala ia mendengar seseorang memangil nama-nya dari arah belakang.
Lalu ia tolehkan kepala,
"hani, ada apa?".
tanya ia kepada hani yang rupanya sedari tadi mengikuti langkahnya.
"boleh kita berbicara sebentar" pinta hani kepada ahmad yang hanya dibalas angukkan.
"maaf aku tak bisa menerima mu". kata ahmad padanya sembari tangan melepaskan gengaman tangan hani.
"kenapa?". satu pertanyaan terlontar dari mulutnya dengan tangisan masih tertahan.
"ada orang yang telah kucintai".
"siapa?". sekali lagi pertanyaan ia lontarkan dari mulutnya, kini matanya mulai mengeluarkan air mata.
Menangis hanya itu yang bisa ia lakukan.
Cinta yang ia pendam selama ini kini sirnah bak selambar kertas yang terbakar oleh api cinta.
Hilang tanpa menyisakan abu.
Bunga cinta yang ia tanam kini mulai layu dihatinya.
Satu kalimat penolakan membuat bunga dihatinya menjadi layu.
Kini ia lebih pendiam dari biasanya tanpa senyum, sikap dingin tanpa banyak bicara, tanpa tawa, tanpa ceria diwajahnya.
Tak ada yang tau penyebab perubahan sikapnya, teman-teman-nya bertanya-tanya mengapa ia bersikap demikian, ia kini sering menyendiri membaca buku di perpustakaan, sunyi tanpa kebisingan, tak ada kumpul-kumpul lagi bersama teman, tak ada lagi tertawa bersama.
"kau tak harus begini bukan". ucap ahmad menyapa dirinya lalu duduk disebalahnya.
"jika aku yang salah mengapa mereka yang harus kau hindari?".
Ia hanya diam tanpa kata, hanya mentap buku cerita.
"aku tak tau, apakah kau bersikap sedemikian. Setiap kau merasa putus asa dari segalanya." Lalu ahmad berdiri dan melangkahkan kaki namun berhenti sejenak.
"jangan karena aku kau melupakan teman-taman mu". lalu ia pergi menjauhi gadis itu.
"dear ahmad apakah kau tau?
Hidup terus berjalan seperti jembantan yang panjang dimana kita semua harus melewati-nya, dalam perjalanan hidup, rintangan hadir menghalangi jalan hidup, tapi walau pun rintangan itu membuat kita luka tapi kita tetap berjalan walau pun harus tertatih-tatih sembari melangkah terus kedepan, sembari menjalani semua sisa kehidupan."
Musim berganti begitu saja tanpa pernah disadari, burung-burung berkicau saling bersau-sautan, menenangkan hati dalam rindangan nya pepohonan sembari membuka lembaran surat yang Hani kiramkan.
"aku hanya ingin sekali lagi bertemu dengan mu walau waktu yang diberikan sebentar saja, rasa-nya tak cukup hanya sekali saja. Aku berharap waktu itu segera tiba" sambungan kata dalam surat yang ia kirimkan.
Daun melambai, kicauwan burung begitu merdu, rumput-rumput bergoyang, angin menghembuskan semua itu.
Ia sandarkan tubuh di dipohon.
Sembari berkata pada diri sendiri "kapan waktu itu tiba"
alangkah senang hati melihat wajah-nya tersenyum manis kepada ahmad.
Jalanan tampak ramai seperti biasanya, padat, sesak dengan hilir mudik pejalan kaki.
Ia berjalan tanpa henti walau kaki mulai letih, sesampainya di kost ia bergegas mengistirahatkan diri sebelum memulai aktifitas di pagi hari.
Namun mata tak mau terpejam, rasa kantuk tak mau datang, gelisah sembari memeluk guling.
dan pada akhirnya ia harus terduduk di teras.
"hah... rembulan begitu terang cahaya-nya" sembari menyeruput segelas teh, akibat rasa kantuk tak mau datang ia merenungkan diri dimalam gelap dengan cahaya rembulan.
"kapan tiba waktu itu" gumam pada diri sendiri dengan napas keluh dihembuskan-nya.
"kau tak tidur" sapa teman-nya yang kamarnya bersebelahan dengan kamarnya.
"rasa kantuk tak mau datang" jawab ia sembari mempersilahkan teman-nya duduk.
"apakah ada yang kau pikirkan ?" tanya teman-nya sembari duduk dikursi yang telah disiapkan
"kau pikir begitu?". Teman-nya menganguk lalu berkata padanya, "mungkin saja".
Tak banyak cerita yang mereka bicarakan pada malam itu melainkan hanya menatap langit malam sembari ditemani suara jangkrik.
Alam semesta begitu cepat mengembang jarak yang dibuat begitu nyata jauhnya, namun ia putus asa karena jarak yang tak seberapa dibandingkan jarak antara alam semesta.
Semua itu diatur sedemikian rupa, seperti bulan dan matahari yang selalu tanpak dalam waktu yang berbeda.
Atau bagai gugusan galaksi yang tak terhitung jumlahnya, tempat yang ia tinggali tak lah sebesar butiran debu.
Pagi itu ia berjalan menujuh sekolah melewati jalan dengan nuansa pantai di pingirnya, air laut begitu tenang dengan ombak yang tak terlalu tinggi, walau pun angin masih berhembus kencang menerpa tubuh kecil-nya.
"dear ahmad aku tersenyum saat kau berpuisi tentangku, kau sungguh pandai merayu walau rayuan itu membuat ku sedikit geli namun aku tak menyangkal itu sebagai suatu ketulusan dari hatimu."
"anak-anak sampai disini dulu, selanjutnaya kalian silahkan beristirahat" sebuah kalimat yang cukup bisa membuat anak-anak berhamburan dari kelas, namun ia tak seperti teman-nya. Yang pergi kekantin atau pun berkumpul-kumpul membicarakan sesuatu.
Disini lah tempat biasanya ia menghabiskan waktu istirahat, dengan sebekal kotak nasi, walau dengan kesederhanan.
Namun cukup bisa mengisi perut, sembari membaca balasan surat yang ia terima dari seorang gadis nan jauh disana.
"dear ahmad apakah kau tau?
Hidup terus berjalan seperti jembantan yang panjang dimana kita semua harus melewati-nya, dalam perjalanan hidup, rintangan hadir menghalangi jalan hidup, tapi walau pun rintangan itu membuat kita luka tapi kita tetap berjalan walau pun harus tertatih-tatih sembari melangkah terus kedepan, sembari menjalani semua sisa kehidupan."
Musim berganti begitu saja tanpa pernah disadari, burung-burung berkicau saling bersau-sautan, menenangkan hati dalam rindangan nya pepohonan sembari membuka lembaran surat yang Hani kiramkan.
"aku hanya ingin sekali lagi bertemu dengan mu walau waktu yang diberikan sebentar saja, rasa-nya tak cukup hanya sekali saja. Aku berharap waktu itu segera tiba" sambungan kata dalam surat yang ia kirimkan.
Daun melambai, kicauwan burung begitu merdu, rumput-rumput bergoyang, angin menghembuskan semua itu.
Ia sandarkan tubuh di dipohon.
Sembari berkata pada diri sendiri "kapan waktu itu tiba"
alangkah senang hati melihat wajah-nya tersenyum manis kepada ahmad.
Jalanan tampak ramai seperti biasanya, padat, sesak dengan hilir mudik pejalan kaki.
Ia berjalan tanpa henti walau kaki mulai letih, sesampainya di kost ia bergegas mengistirahatkan diri sebelum memulai aktifitas di pagi hari.
Namun mata tak mau terpejam, rasa kantuk tak mau datang, gelisah sembari memeluk guling.
dan pada akhirnya ia harus terduduk di teras.
"hah... rembulan begitu terang cahaya-nya" sembari menyeruput segelas teh, akibat rasa kantuk tak mau datang ia merenungkan diri dimalam gelap dengan cahaya rembulan.
"kapan tiba waktu itu" gumam pada diri sendiri dengan napas keluh dihembuskan-nya.
"kau tak tidur" sapa teman-nya yang kamarnya bersebelahan dengan kamarnya.
"rasa kantuk tak mau datang" jawab ia sembari mempersilahkan teman-nya duduk.
"apakah ada yang kau pikirkan ?" tanya teman-nya sembari duduk dikursi yang telah disiapkan
"kau pikir begitu?". Teman-nya menganguk lalu berkata padanya, "mungkin saja".
Tak banyak cerita yang mereka bicarakan pada malam itu melainkan hanya menatap langit malam sembari ditemani suara jangkrik.
Alam semesta begitu cepat mengembang jarak yang dibuat begitu nyata jauhnya, namun ia putus asa karena jarak yang tak seberapa dibandingkan jarak antara alam semesta.
Semua itu diatur sedemikian rupa, seperti bulan dan matahari yang selalu tanpak dalam waktu yang berbeda.
Atau bagai gugusan galaksi yang tak terhitung jumlahnya, tempat yang ia tinggali tak lah sebesar butiran debu.
Pagi itu ia berjalan menujuh sekolah melewati jalan dengan nuansa pantai di pingirnya, air laut begitu tenang dengan ombak yang tak terlalu tinggi, walau pun angin masih berhembus kencang menerpa tubuh kecil-nya.
"dear ahmad aku tersenyum saat kau berpuisi tentangku, kau sungguh pandai merayu walau rayuan itu membuat ku sedikit geli namun aku tak menyangkal itu sebagai suatu ketulusan dari hatimu."
"anak-anak sampai disini dulu, selanjutnaya kalian silahkan beristirahat" sebuah kalimat yang cukup bisa membuat anak-anak berhamburan dari kelas, namun ia tak seperti teman-nya. Yang pergi kekantin atau pun berkumpul-kumpul membicarakan sesuatu.
Disini lah tempat biasanya ia menghabiskan waktu istirahat, dengan sebekal kotak nasi, walau dengan kesederhanan.
Namun cukup bisa mengisi perut, sembari membaca balasan surat yang ia terima dari seorang gadis nan jauh disana.
"dear, ahmad. Apakah waktu disana berjalan begitu cepat? Kuharap begitu agar liburan semester segera datang, aku ingin kita menghabiskan waktu dengan pergi berdua ke ketempat-tempat yang bisa membuat kita bahagia bersama, walau... waktu itu masih lama, namun aku berharap waktu itu akan datang pada kita."
Rindangnya pohon dengan angin yang menghembuskan daun-daun-nya, terduduk beralaskan rerumputan hijau, ahmad sandarkan tubuh di batang pohon. Memejamkan mata sejenak sembari menunggu lonceng bell berbunyi.
"ting ting ting" tiga ketukan sudah membuatnya terbangun dari tidur sesaat, 10 menit sudah cukup baginya untuk mengistirahatkan otak sebelum pelajaran matematika dimulai.
Jam sekolah usai, semua murid bergegas pulang kerumahnya masing-masing, begitu juga ia, "bisakah kita berbicara sebentar", kata hani yang sedari tadi menuggunya sembari bersender dipintu kelas.
"tentu".
Cukup lama mereka berbicara, "jadi bisakah kau maafkan aku" dengan kepala terbungkuk memohon maaf kepada ahmad.
"apakah kau punya salah kepada ku, tentu tidak bukan?" ia terhenti sejanak sebelum melanjutkan bicara.
"tak usah kau pusingkan tentang hal itu, lagian masih ada waktu buat mu menemukan yang kau cari" ahmad pun berlalu meninggal kan nya.
dua pekan sudah berlalu namun surat yang ahmad kirimkan dua pekan yang lalu belum mendapat balasan darinya.
Rasa khawatir dalam diri-nya begitu menyesakan dada, ingin rasa-nya ia pergi menanya kan kabar tentangnya secara langsung, namun ia tak tau dimana tepatnya alamat tempat tingalnya. hanya nama kota yang ia tau, tapi tak tau alamat lengkapnya.
"ah...! BODOH"
sembari memukuli kepalanya sendiri.
Rasa khawati menjadi-jadi akibat surat darinya tak kunjung ia terima dalam satu bulan ini, rasa putus asa mulai muncul, sembari dipenuhi pikiran yang tak menentu.
"apakah ia tak peduli lagi, dengan semua ini", kalimat keputus asaan ia ucapkan tak kala ia tak pernah mendapat kabar dari nya.
Jalan yang mula'nya ringan kita seakan berat dalam membawa beban.
Alam semesta seakan berhenti mengembang,
Malam itu ia termenung dalam keputus asaan menanti setiap detik kabar darinya lewat sepucuk surat dengan tulisan indah yang ia goreskan di selembar kertas putih.
Hari berlalu begitu saja, ceria yang biasanya menyertai setiap langkahnya, kini hilang bersama sepucuk balasan yang tak kunjung datang.
Menunggu terus menunggu kabar darinya, melewati hari tanpa sebuah kecerian, ia senderkan diri dibawah rindangnya pepohonan, ia dongakan kepala keatas, melihat daun-daun mulai berjatuhan dan jatuh dimukanya, lalu ia ambilkan daun itu yang berwarna kuning.
Dalam waktu yang begitu lama, tak ada lagi kabar darinya, walau pun ia tak memalingkan semua itu, sembari tetap menunggu kabar darinya.
"dear, ahmad. Maaf bila membuat kamu khawtir, karena baru menyempatkan diri membalas surat mu. Sebenarnya aku tak ingin membuat kamu khawatir akan semua ini, namun aku mau bilang pada mu, bahwa Aku akhir-akhir ini mengalami sakit yang berkepanjangan, mungkin karena aku sering tidur larut malam, mungkin saja itu sebabnya aku sakit-sakitan.
Sepucuk surat yang telah lama ia nantikan akhirnya ia gengam ditangan, hampir saja ia menyerah dengan keadaan.
Namun setia masih kuat dalam dirinya.
"aku harap selama ini aku tak terlalu membuat mu khawatir.
Owh... iya! waktu liburan semester segera datang ayah dan ibu juga ingin ikut, mereka ingin bertemu dengan mu, katanya sudah lama tak bertemu dengan mu semenjak kepindahan keluaga kami kekota lain".
Harapan muncul dalam setiap kalimat, yang tertulis dalam bentuk surat, rasa bahagia menyertai setiap langkah.
Dunia dan alam semesta kembali mengembang menjahui sesama. Walau jarak begitu jauh namun miliaran juta tahun cahaya masih bisa dilihat melalui mata.
"aku ingin hidup seperti bintang nieotron, agar gaya gravitasi bisa mengikat ku pada-nya" seru semangat dari-nya, mungkin membuat orang yang mendengarnya tak mengeti apa maksud dari perkata-nya.
"kau selalu berbicara seolah kau ini ilmuan nasa", ucap teman-nya dengan guyonan.
Mereka tertawa begitu gembira sembari mengoda ahmad, mungkin perkataan-nya begitu lucu.
Namun ia ingin seperti bintang neotron walau pun kecil tapi gaya gravitasi-nya lebih besar dari matahari.
Yang bisa menarik benda mendekati-nya. "aku ingin seperti itu, agar aku bisa menariknya untuk selalu dekat dari ku" gumam dalam hati dengan semangat membara.
"dear, ahmad. saat aku menuliskan surat untuk mu aku selalu duduk di bawah pohon yang cukup rindang, aku terkejut saat membaca surat mu.
Kau bilang setiap kali kau membaca surat ku kau selalu duduk dibawah rindangnya pohon dengan ditemani merdu-nya suara burung. Mungkin lebih banyak lagi kesamaan yang kita buat namun.
Tak terlihat karena ruang yang begitu jauh".
Ombak bekejar-kejaran menujuh pasir pantai. Angin berhembus begitu menyegarkan anugrah yang ia berikan begitu nyata dalam tatapan mata.
"dalam hidupku, aku pernah terhenti oleh waktu dengan tubuh utuh, dengan nafas masih berhembus, dalam waktu itu disekelilingku berwarna putih.
huh... namun, Begitu hampa dalam sunyi, aku tau bahwa aku di alam lain, aku terus berjalan tanpa henti.
walau aku tak pernah ingin mengerakan kaki ku".
ahmad terhenti sejenak sebelum memulai ceritanya.
"aku mendengar isak tangis dari mereka, mereka berkata bangun ahmad kami menunggu mu setiap saat.
namun begitu aku ingin kembali, dinding penghalang menghalangi langkah kaki ku.
Setiap hari aku mendengar langkah kaki keputus asaan dari mereka, tangis selalu menyertai setiap kata demi kata yang mereka ucap, aku ingin bangun dari tidurku, namun selalu penghalang menghalangi setiap niat ku, ada suatu masa satu tangisan membuat ku tersentak bangun dalam tidur panjang, namun ketika aku bangun semua nya hilang bagai suatu bayangan."
ucapnya.
satu cerita cukup panjang dari-nya, tak terasa mata mulai mengeluarkan air mata, tak terbendung tangis pun terisak dari-nya, tak kala mengingat kembali masa itu.
"ibu, ayah aku harap kalian bahagia disana".
derai demi deraian air mata menetes melewati pipi, diseka-nya air mata itu agar tak keluar lagi, namun kesedihan masih menyelimuti dirinya.
"semua ini tak lah sepenuhnya salah, kamu tak harus larut dalam penyesalan" hibur ia kepada ahmad.
"aku tak menyesal, namun aku menangis karena aku begitu kesepian tanpa...
nasihat orang tua.
tanpa...
hiburan dari mereka saat aku terjatuh dijalan kehidupan".
Alam semesta tanpak diam namun sebenarnya ia terus mengembang, entah sampai kapan alam semesta berhenti mengembang.
cahaya bintang nampak terang di gelapa-nya malam, namun cahaya yang ia lihat sebenarnya sudah ribuan, jutaan atau pun meliaran tahun yang lalu, namun baru terlihat cahaya-nya setelah melewati waktu yang begitu jauh.
Gugusan bintang membentuk suatu rasi bintang, ada scorpio, pices, leo dan sebagainya.
Sungguh alam semesta begitu penuh keajaiban.
Semua begitu indah sampai ia terlelap dalam tidur dimalam gelap dengan berlatar bintang berbinar-binar.
"dear ahmad satu minggu cukup lama bagi ku menanti semua itu, bisakah kau mempercepat waktu, mungkin kedengarannya cukup konyol. Namun aku ingin selalu konyol di hadapan mu biar kamu bisa memarahi-ku, karena aku cukup senang bila kau marah pada ku, mungkin aku berpikir bahwa semua itu adalah sikap keromantisan dari mu".
Dunia selalu berputar pada porosnya menyebabkan siang dan malam, ia menunggu dengan melihat jam tangan sembari kaki tak henti melangkah kesana kemari, menunggu suatu datang sembari melihat ke ujung jalan, kepala seakan menjulur begitu panjang rasa tak sabar menghantui diri-nya.
"sudah lama menunggu?"
"tak begitu lama, dimana ayah dan ibu mu"
"mereka pergi kerumah paman edo"
Untuk kedua kali-nya dalam taun ini mereka bertemu dalam nuansa liburan semester.
"apakah kau naik kelas?"
"nilai mu bagus?" sambung alfia ditengah-tengah perjalanan.
ahmad hanya menganguk-anguk dengan begitu sombongnya, yang membuat alfia tertawa kecil oleh sikap sombongnya itu.
Mereka berjalan dikeramai,an dalam hiruk pikuk suara-suara, hentakan demi hentakan tapak kaki mengiringi setiap langkah mereka.
saling bergandengan tangan alfia senderkan kepala dibahu ahmad sunggu membuat iri setiap orang yang melihat mereka, rambut lurus terurai, wajah cantik, cantik alami tampa rias, cahaya lampu kendaraan seakan menerangi setiap perjalanan mereka.
"kau datang terlambat" ucap ahmad pada-nya.
"sesuatu terjadi?" tanya-nya kepada alfia.
"Cuma masalah sepele".
"kau lihat bintang itu?
Sungguh terang dari yang lai-nya" sambil menunjuk kearah satu bintang yang tanpak terang di gelapnya malam.
"ya, sangat terang".
Angin malam mulai dingin, terasa dingin dikulit.
Mereka beranjak kan diri untuk pulang, melangkahkan kaki menujuh jalan pulang, berjalan, terus berjalan.
"kalian sudah pulang? Masuk lah mereka menunggu didalam".
ucap paman edo pada mereka dan menyuruh mereka masuk kedalam.
Duduk ditemani secangkir teh hangat mereka berenam menyeruput teh itu dengan nikmat, sembari bercakap-cakap.
Untuk menghangatkan suasana yang mulai dingin.
"besok kami ingin pergi kemakam orang tua mu, bisakah kau antarkan kami?" ucap orang tua alfia sembari meminta tolong kepada-nya agar bisa mengantarkan mereka ke makam orang tuanya.
"tentu, ayah dan ibu akan pasti sangat senang". Kata ahmad sembari menyeruput segelas teh.
Ayah dan ibu alfia adalah teman baik mendiang orang tua ahmad, mereka berteman sudah lama sebelum ahmad dan alfia lahir, saat kematian kedua orang tua ahmad mereka sudah terlebih dahulu pindah kekota lain.
akibat dari semua itu mereka lambat mengetahui tentang kematian kedua-nya, mereka cukup terkejut mendengar kabar kematian kedua-nya.
mereka tak mengira bahwa kedua-nya begitu cepat menemui sang pencipta.
Namun siapa yang tau tentang kedatangnya, tak ada istilah tua, muda, sakit sehat.
Atau kaya, miskin.
Semua itu tak ada guna dimatanya.
"kalian sudah tenang disana, maaf kami baru sempat berkunjung disini, namun anak kami sudah terlebih dahulu mengunjungi kalian".
ucap orang tua alfia dengan mata sembab menahan tangis, mungkin karena malu dilihat oleh ahmad dan alfia, lalu mereka berdoa untuk kedua-nya.
"sungguh! Seperti baru kemarin aku bertemu dengan ayah dan ibumu, aku tak menyangka semua cepat berlalu" ucap ayah alfia lalu menepuk-nepuk pundak ahmad sembari menyemangati-nya.
"ayah dan ibu tak bisa berlama-lama karena ada suatu yang harus diurus, jadi."
Terhenti sejenak lalu ayah alfia mendekati ahmad lalu berbisik padanya
"jaga ia, aku sangat percaya pada mu jangan hancurkan kepercayaan kami".
Mereka pun pergi dengan mengendarai mobil pribadi, lambaian tangan dari kedua-nya mengiringi kepergian mereka, terus menjauh, dan terus menjauh hingga tak terlihat lagi silauan lampu mobil mereka.
Alfia pun diantarkan-nya untuk pulang kerumah paman edo, dijalan pulang tak banyak kata yang mereka ucapkan, selain memandangi langit penuh bintang, dan diterangi cahaya lampu jalan.
"da da" lambaian tangan menyertai langkah ahmad, alfia lambaikan tangan dari kejauhan sembari tersenyum lepas pada ahmad.
Hari yang melelahkan namun begitu menyenangkan mereka lewati dengan penuh kebahagian, lalu terlelap dalam bunga mimpi.
"kau bodoh, sungguh bodoh. Hentikan waktu agar kau tak merasa kan dunia yang kejam ini.
Bodoh bodoh bodoh...!"
"agk!!" seketika ahmad terperanjat dan terbangun dari tidurnya.
"ah... sudah lama aku tak memimpikan itu".
Pagi menyingsing, sinar menyilaukan mata.
Hangatkan tubuh dari kedingian, mentari pagi tersenyum pada setiap orang, membawa secercah harapan dalam aktifitas yang di lakukan.
Namun, ahmad sedari tadi sibuk merapikan diri, melihat diri, dari pantulan cermin.
menoleh ke sana kemari sapa tau ada yang ia lewatakan dari setiap centi di wajahnya.
"cukup tampan" ucap ia dengan memuji diri sendiri, ia sombongkan diri,menyisiri rambut agar kelihatan rapi.
Ya! hari ini ia akan melanjutkan kencan bersama sang pujahan hati bernama alfia gadis cantik dengan senyum penuh kemanisan di bibir mungil-nya.
Tempat hiburan dikota ini begitu banyak, sehingga memusingkan kepala dalam memilhnya.
"aku ingin ketaman hiburan, bolehkah." pinta alfia dengan wajah dibuat imut.
"ah... pose imut begini mana tahan aku" kata ahmad dalam hati.
"te... tentu!"
Tempat ini begitu ramai dengan orang-orang.
sedari tadi alfia mengajaknya kesana kemari mencoba beberapa wahana di dalam-nya.
sembari mengistirahatkan diri ahmad masih melihat alfia begitu bersemangat mencoba beberapa permainan yang disajikan disana.
Ahmad menatap alfia disetiap langkah, mungkin agar alfia tak diculik orang.
Sungguh pemikiran yang sangat tak masuk akal.
"bisakah kau diam sejenak?" pinta ahmad padan alfia.
lalu ia ajak alfia untuk duduk di bangku yang telah tersediakan.
"kau sungguh tak capek?".
alfia hanya mengelengkan kepala-nya
"huh... kau begitu bersemangat" keluh ahmad.
Lalu ia menyuruh alfia agar tetap disini sementara itu ahmad pergi sebentar, lalu kembali dengan dua con eskrim ditangannya, lalu ia berikan satu-nya kepada alfia.
Hari begitu panas sungguh tepat apabila memakan eskrim ditengah cuaca sepeti ini.
Tiba-tiba tangan ahmad menyentuh bibir alfia, lalu ia bersikan bibir alfia yang belepotan dengan tangan-nya, akibat perbuatan ahmad seketika wajah lafia menjadi memerah, jantung berdetak lebih cepat, Alfia terdunduk malu.
Tak terasa liburan semester pun usai, sekolah pun mulai dibuka kembali aktifitas belajar mengajar kini menjadi rutinitas para pelajar.
Memahami setiap apa yang diajarkan oleh guru, walau isi kepala seakan mau meledak.
Pulang dengan ke adaan lelah, namun semua itu harus dijalani agar masa depan selalu cerah menanti.
Kota ini tak lah sebegitu besar dari kota lain, kota pesisir dengan garis pantai memanjang, deruan ombak terdegar setiap saat, angin laut berhembus cukup kencang, dengan mentari senja terbenam dan seolah-olah tecebur dalam lautan biru.
Kota ini menyajikan semua keindahan, dan harus di nikmati setiap saat.
Disinilah ahmad tinggal, kota dengan sejuta cerita didalam-nya kota indah dipesisir pantai, dengan kapal nelayan yang tersandar di dermaga.
Menatap langit berwarna biru, awan putih berjalan begitu lambat, burung-burung berterbangan sesekali hingap di dahan pohon, daun kelapa melambai-lambai seperti manggil-manggil.
"bagaimana liburan mu?" tanya ia pada ahmad, ahmad tersenyum sumberingah dan menceritakan tentang liburan-nya dengan begitu semangatnya.
"kau begitu bahagia" sembari ia memeriksa dada ahmad, lalu menuliskan resep obat dan kemudian ia berikan resep obat itu pada ahmad.
"ini hanya mengurangi, tak menyembuhkan" tegasnya kepada ahmad.
Duduk dipasir pantai dengan beralaskan pasir pantai yang lembut.
Menatap senja yang kini perlahan tengelam dalam cakrawala, ia termenung entah apa yang ia renungi, ruang kosong dalam pikiran dengan mata menatap senja.
Hari berganti tanpa bisa dihentikan, jarum jam berputar terus berputar.
Sembari mengharap semua kebaikan disetiap langkah kaki, sandangkan tas berisi buku tulis dengan seragam begitu rapi, lalu ia tersenyum kepada orang-orang sembari sesekali menyapa walau tak kenal.
laut hari ini begitu tenang angin tak berhembus kencang, seruan demi seruan pejual kue keling, menjajakan dagangan biar habis terjual.
"dear ahmad, baru tiga hari kita tak bertemu, aku sudah merindukan dirimu, apakah kamu juga sepertiku?, kamu tau daun-daun disini jatuh begitu cepat, kepala ku selalu dijatuhi dedaunan sembari aku menulis sebuah surat untuk mu".
Hari ini awan mendung pertanda hujan akan turun, begitu gelap seperti malam, ia bergegas berlari namun ia kalah cepat dengan turun-nya hujan.
hujan turun begitu lebat menguyuri setiap tempat dikota ini, sungguh cuaca tak menentu dari panas kehujan.
Ia berteduh dibawah atap pertoko,an menunggu hujan redah, memeriksa tas berisi buku, kalau-kalau ada buku yang basah karna hujan.
Hujan berhenti dengan cepat ia berlari sembari merangkul tas di dada-nya, berlari terus berlari hingga sampai lah ia ditempat kost-nya.
Menyegarkan diri dengan mandi, mengisi perut dengan sebungkus mie, lalu tertidur seperti ular dalam kekenyangan karena perut sudah terisi.
"kau pikir dunia ini apa?
Apa kau tak ingin tinggal disini sembari menikamati semua dan bisa kau atur semau mu.
Coba bayangkan kau hanya perlu tertidur! Tertidur! Tertidur! Itu saja ahmad".
"tidak...!!!" terbangun dari tidur.
"aku tak mau.. ah ah ha..." ia begitu ketakutan wajah pucat pasih seperti tanpa darah, napas yang tak teratur, dengan mata terbelalak ia terbangun dalam mimpi yang amat menakutkan.
"AKU TAK MAU...!!!" teriaknya dengan tangan mengengam erat rambut.
"kau tampak tak bersemangat" kata teman-nya
"ya, tidurku terganggu".
"mimpi buruk?"
Dengan menganguk kepala-nya, lalu ia baringkan kepala-nya di meja sembari menunggu guru mata pelajaran datang.
Loceng berbunyi pertanda jam istirahat tiba, semua murid berhamburan keluar kelas mengistirahat kan sejenak pikiran.
Kesempatan ia ahmad manfaatkan untuk tidur sejenak, sembari menunggu jam pelajaran berikutnya.
lelapkan mata dalam tidur, serasa kantuk merajalela ia tertidur didalam kelas.
"ahmad, ahmad, ahmad." suara pelan memanggilnya, membangunkan ia dari tidur.
ia terbangun dari tidur dilihatnya semua teman sudah membuka buku catatan dengan guru sedang menulis dipapan tulis.
"terimakasih hani sudah membangunkan ku" kata ia pelan kepada hani.
"sama-sama". Lalu mereka belajar seperti biasa-nya, mencatat setiap tulisan dipapan tulis lalu mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan guru mata pelajaran.
"Dear ahmad, Waktu berlalu begitu cepat tanpa bisa dicegah.
Dalam pikiranku aku selalu membayangkan mu, walau sesak didada karena selalu menahan rindu.
Aku tau bahwa kita masih bisa bertatap muka, walau aku tak tau apakah tuhan masih memberi kesempatan itu".
Lagi-lagi sebuah surat dari nya, gadis cantik benama alfia yang tinggal jauh disana, tak henti ia kirimkan surat kepada ahmad.
"kau adalah satu-satunya, ahmad". Kalimat itu selalu terrgiang dipikiran-nya.
Rasa putus asa melanda diri-nya tak kala mengingat lagi apa yang dokter itu ucapkan, tak ada harapan untuk sembuh.
Mungkin seperti itulah yang terpikirkan olehnya.
"kamu termenung? Merenungkan apa?" tiba-tiba hani mengagetkan-nya dan bertanya pada-nya.
"kami tau, alam semesta terus mengembang, bisakah ia behenti sejenak?.
"mungkin bisa namun, aku tak tau siapa yang bisa menghentikan-nya?, jawab hani dengan senyum dibibir nya.
"ya, aku tau jawabanya", ahmad pun balik tersenyum pada-nya.
Dalam hening pasti tetap ada suara walau, kita tak bisa mendengarkan-nya karena telinga kita mempunyai batasan-nya.
Dalam hampa masih ada isi walau isi itu tak lah sebesar butiran pasir.
Dalam gelap masih ada cahaya walau, titik cahaya itu begitu kecil, hingga mata tak bisa melihatnya.
Terhenti oleh waktu, namun jarum jam masih terus berjalan.
Hanya ia merasakanya, waktu berjalan namun ia terhenti oleh waktu, mematung.
Walau nafas masih berhembus, dengan tubuh tak berubah.
Pernah ia berpikir, apa semua ini hanya terjadi padanya?, mungkin saja.
Namun langit biru tak lah biru selamanya, begitulah ungkapnya.
Namun siapa?
Ia tak tau, bahkan tak kan pernah tau.
"dear, ahmad. Apakah kamu baik-baik saja disana, aku harap begitu, namun aku disini kurang merasa baik.
Tapi kau tak perlu khawatir ini tak kan lama kok.
Dalam surat ini aku mengucapkan terimakasih pada mu, hadiah yang kamu kirim kan sudah sampai ketanganku. Terimakasih karena kamu masih ingat tentang ulang tahunku".
Sepucuk surat, ia pegangi.
Terlihat begitu senangnya ia sesudah membaca surat itu.
Wajah-nya tak bisa bohong atas kebahagian yang ada dalam diri-nya. Namun rasa sedih juga menghantui diri-nya.
.
"bisakah aku tetap seperti ini?" ia bertanya pada diri sendiri dalam sebuah keputus asaan.
"jika kamu terus memimpikan itu.
Mungkin akan terjadi lagi kejadian itu ahmad", lalu ia menuliskan resep obat dan memberikan-nya pada ahmad.
"ingat..."
"ini mengurangi bukan menyembuhkan" sela ahmad.
"aku sudah tau" lalu pergi meninggalkan-nya
Kaca cermin memantulkan wajahnya yang nampak tak bahagia, ia hanya bisa pasrah namun tetap tersenyum walau kadang menyakitkan diri-nya sendiri.
Akhir-akhri ini pikiran-nya selalu dihantui oleh kecemasan berlebihan, hingga ia tak bisa melakukan apa yang sebenarnya harus ia lakukan.
Ceria? Dia masih ceria seperti biasa-nya, namun...
Bintang tak terlihat dimalam ini, tampaknya langit mendung.
Terasa hawa begitu dingin, rintik air hujan pun mulai turun, yang kemudian disusul derasa-nya guyuran hujan, ia tadahkan tangan di cucuran air hujan.
Dingin, terasa dingin di telapak tangan.
Andai air hujan bisa membersikan diri-nya. Mungkin ia tak kan seperti ini sekarang.
Pagi menyingsing, namun ia masih terbungkus oleh tebalnya selimut.
Maklum saja malam tadi hujan turun, jadi dingin masih terasa menusuk hingga ketulang-nya.
Namun tidurnya tak berlangsung lama tak kala alaram yang ia pasang berbunyi begitu nyaring.
"woah... ! aku masih ngantuk".
ia terbangun dari tidur dengan mata metap lekat kearah jam.
"Aaaaa....!" ia terkejut melihat jam yang menunjuk angka 6:45.
Mungkin nanti ia akan dihukum oleh satpam sekolah, Mungkin saja.
"capek?", kata teman-nya mengejek diri-nya.
"ah... aku ngatuk" lalu ia berlalu begitu saja meninggalkan teman-nya, ia duduk dibawah pohon yang rindang, menyandarkan tubuh, lalu perlahan-lahan mata-nya mulai tertutup.
Angin menghembuskan daun-daun, ia terlelap dibawah rindangnya pohon.
Sejuk, menyejukan diri.
Menunggu hari melelahkan ini berakhir.
Alam begitu indah, nampak indah untuk dipandang oleh mata, biru-nya lautan, hijau-nya daun-daun, putihnya awan, ditambah warna jinga mentari senja.
Sebuah lukisan yang diciptakan oleh tuhan begitu indah dan penuh ke kaguman untuk siapa saja yang menikmati-nya.
"dear ahmad, desember telah tiba. Akhir tahun ini aku berharap kita bisa bertemu lagi, dalam meriahnya suara- suara terompet bersautan dan indahnya warna-warna cahaya kembang api .
aku berharap ditahun baru, aku bisa bergandengan tangan denganmu. Mudah-mudahan saja semua itu terwujud".
"ya tak lama lagi" sembari tangan-nya meletakan surat dari alfia di atas meja.
"hah... aku harap bisa melihat malam dengan bintang bertaburan dilangit hitam".
Dengan pikiran melayang-layang entah kemana.
"anak-anak kerjakan soal halaman 57, essy. Kalau sudah selesai kumpul dimeja ibu".
Semua murid kelas itu mengerjakan soal dengan serius, yang mula-nya kelas itu berisik kini diam hanya ada suara gesekan pulpen diatas kertas, berfokus pada apa yang ditanyakan di dalam soal itu, mereka jawab semampu mereka.
"hah... kepalaku hampir mau meledak!" ucap ahmad dengan sedikit mengoyangkan kepala-nya.
wajar saja, yang mereka pelajari adalah mata pelajaran fisika yang masih ada bau-bau perhitungan didalam-nya.
Jam menunjukan pukul 2:00 para siswa-siswi bersiap-siap untuk pulang, mengucapkan salam pada guru, berdoa sejenak lalu langkahkan kaki menujuh rumah masing-masing, hari ini lelah mendera sekujur tubuhnya.
"masak apa ya?" tanya ia sembari menyiapkan bahan-bahan masakan.
Ia memasak tumis kangkung hanya ini saja tak mewah namun bisa mengisi perut yang mulai berontak karena lapar.
"kau tak tidur ahmad?". Tanya teman sekostan nya.
"masih belum ngantuk" lalu teman-nya itu pun duduk dan menemani-nya melihat malam dengan ditemani teh hangat, mereka mengobrol santai sesekali tertawa kecil karena ada yang lucu.
"jika hidup mu telah ditentukan, masa hidup mu kamu gunakan untuk apa?" tanya ahmad menjurus dengan kata yang ambigu.
"akan aku gunakan sebaiknya itu saja sih" jawab teman-nya dengan senyum diwajah.
"betul."
Pagi datang lagi menyapa setiap orang, memberikan secercah harapan bagi semua orang.
Agar menjalani hidup dengan senyuman.
Ia datang tanpa terhenti menyapa setiap orang walau pun kadang sapaan-nya tak ditangapi dengan senyuman, fajar begitulah kata lain dari matahari pagi.
Laut biru, dengan ombak mengulung, mengulung setiap waktu.
Angin terus berhembus tampa henti.
Hari ini langit cukup cerah secerah harapan yang dibawa ahmad.
Berlari-lari kecil, sambil menyandang tas, ia lihat jam ditangan.
Senyum kan orang-orang dengan sesekali menyapa walau tak kenal.
"selamat pagi teman-teman" sapa ia kepada teman sekelasnya, lalu menaruh kan tas di tempat duduknya, mengobrol sebentar sebelum pelajaran hari ini dimulai.
Hari itu, guru mata pelajaran semuanya hadir. Memberikan pengajaran pada mereka.
Hari itu, tugas-tugas begitu banyak diberikan. Hari itu, ia berharap cepat berlalu.
Jam terus berputar walau lambat namun pasti.
Siang itu tak ada yang spesial selain mencatat tugas yang diberikan guru di lembaran buku tulis.
Waktu berlalu, jam berganti.
Matahari mulai turun.
Namun langit tetap biru, lonceng berbunyi pertanda sekolah hari ini berakhir.
Mengakhiri hari yang melelahkan.
"coba kamu pulang kerumah, mungkin jawaban yang kamu inginkan ada disana".
"aku pergi dari rumah itu karena aku ingin agar sakit yang aku alami tak bertambah parah". ucap ahmad lalu ia berlalu dengan secarik kertas resep obat.
Ditengah pintu ia berhenti dan berkata pada dokter itu.
"jika yang kau pikirkan adalah itu, aku tak kan melakukan apa yang kau saran sarankan".
Sebenarnya apa yang ia pikirkan, mungkinkah ini ada hubungan-nya?.
Semua pasti ada hubungannya.
"dear ahmad. aku punya kabar gembira untuk mu.
Ayah dan ibu mengizinkan ku untuk berlibur ke kota mu selama liburan tahun baru, walau hanya 3 hari saja yang mereka berikan. Namun aku sangat senang.
Jadi, jangan lupa menjemput aku ya".
Lagi-lagi sepucuk surat dari-nya, membuat ahmad melupakan sejenak kesedihan yang ia alami.
Mengantikan dengan kebahagian, pikir melayang membayangkan ia dan alfia bergandengan tangan, bermain ditaman hiburan, menaiki bianglala.
Memakan eskrim dan masih banyang yang ia bayangkan.
Hujan terus menguyur kota dalam beberapa hari ini, langit mendung.
Dengan suhu yang makin dingin terasa oleh kulit, waktu menunjukan pukul 2:30.
Ia menunggu disini duduk dibangku, memakai jeket tebal berwarna hitam, payung yang tersender di sampingnya.
Rasa cemas menghantui sembari tetap menunggu.
"sudah lama?" tanya alfia dengan senyum dibibir manisnya.
"1 jam lebih" lalu ahmad ajak alfia dengan mengengam tangan alfia.
Sunggu iri melihatnya, berjalan berdua, dengan tangan saling mengengam.
Dengan payung yang melindungi dari tetes demi tetesan hujan.
Mereka tertawa entah apa yang mereka tertawakan.
"kamu ingin menaiki bianglala itu?" tanya ahmad pada alfia.
Dan dibalas dengan angukan dari alfia, ya ahmad sudah tau apa yang alfia pikirkan.
Mereka pun menaiki bianglala itu, perlahan namun pasti bianglala itu berputar.
"alfia! Apakah kamu tau aku sungguh mencintai mu".
"aku tau itu ahmad, kau sangat mencintai ku". Jawab alfia dengan tangan-nya mengengam tangan ahmad.
"kau tau, sebentar malam pergantian tahun baru. Apa yang kau harapkan ditahun berikutnya?" pertanyaan terlontar dari mulut ahmad, alfia hanya tersenyum manis padanya.
Dan berkata, hanya ingin terus bersama ahmad.
Ahmad tersipu malu, muka-nya memerah.
Alfia hanya tersenyum sambil mengejek ahmad.
Namun kini semua itu hening, lalu tak lama mereka pun turun.
"apakah kita akan melihat kembang api?" ahmad bertanya pada alfia.
"tentu". jawab alfia
menunggu terus menunggu detik-detik pergantian tahun, mereka duduk dibangku taman, Sembari menunggu jam pergantian tahun dimalam itu.
Waktu pergentian tahun pun dimulai setiap orang disana bersorak, sembari menghitung mundur.
"3"
"2"
"1"
Dan diiringi suara terompet yang begitu nyaring ditelingga.
Lalu ditambah lagi dengan suara kembang api meluncur deras ke angkasa.
Penuh warna.
Langit malam yang gelap kini menjadi berwarna.
"indah nya...", dengan menatap kembang api, alfia begitu menikmati setiap warna yang dihasilkan kembang api itu.
"ya, indah", ahmad mengengam tangan alfia, dan menatap wajah alfia, nampak raut bahagia terpancar dari wajah alfia.
"namun, sangat disayangkan. Kembang api hanya bisa dinikmati sesaat saja". Kata ahmad padanya.
"namun kebahagian yang saat ini kita rasakan... aku tak kan melupakan nya". Kata ia menoleh ke arah alfia yang sedang menatap kembang api.
Bisakah seperti ini sebentar, mungkin begitulah pikir ahmad.
Dalam diri-nya ia merasa sedih dan kecewa. Akan kah bisa, lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri.
Mereka malam itu, menghabiskan malam dengan mencoba segala yang ada disana.
Puas?
Tentu saja, senyum pun nampak terlihat dari kedua-nya.
"mari pulang" ajak ahmad pada alfia, hujan memang sudah berhenti.
Walau rasa dingin masih terasa, ditambah dengan hawa dingin malam, seolah-olah ingin membekukan kedua-nya.
Bintang kini mulai nampak dilangit malam, mengantikan awan mendung.
Mereka bergandengan tangan, sembari berjalan pulang.
Dengan ditemani lampu jalan, sayup-sayup suara menambah cerita dimalam itu.
"3 hari?" tanya ahmad pada alfia.
"Hem...!"
"besok mau kemana?" tanya ia lagi.
"ke pantai?" dengan menatap ahmad.
"tentu".
Sesudah mengantar alfia pulang kerumah paman-nya, ahmad pun segera pulang dan berniat untuk secepatnya mengistirahatkan diri, dalam indahnya mimpi.
Namun sebelum niatnya terlaksana, ia sempatkan diri merenung dalam malam yang gelap di temani secangkir teh hangat, menghangat kan tubuh.
Memandangi langit penuh bintang, yang seakan diam di disana.
Memikirkan kemungkinan yang terjadi pada diri-nya.
jam menujukan pukul 2 pagi, ahmad pun segera tidur.
Hari ini adalah tanggal satu januari.
Tanggal merah, dimana orang-orang berlibur ketempat wisata walau pun hanya sehari saja, kini terlihat pantai penuh sesak akan orang-orang, baik wisatawan dari luar, atau pun dari daerah-nya sendiri.
"yakin?" tanya ahmad pada alfia.
Sesaat melihat begitu banyaknya orang-orang, biasa-nya tak lah seramai ini.
Ya ia tahu akan hal ini, karena ia selalu melihat pantai ini saat ia pergi atau pulang dari sekolah.
Pantai ini memang begitu indah, apa lagi saat menjelang sore, orang-orang akan berburu matahari senja, dikala senja datang.
Bermandikan air laut yang asin, berjemur dibawah terik matahari.
Mereka semua sangat menikmati liburan ini, namun ahmad sepertinya terganggu akan hal ini, ia tak begitu menyukai keramaian, walau pun ia sering ketaman hiburan, yang juga selalu ramai saat akhir pekan ataupun hari libur.
3 hari mereka habiskan hanya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata.
Walau pun singkat, namun bahagia tergores dalam ingatan mereka.
Sebenarnya waktu yang diberikan untuk lburan hanya lah satu hari saja, namun ahmad 2 hari selanjutnya membolos dari sekolah, hanya untuk menemani alfia berlibur.
3 hari sangat lah berarti bagi kedua-nya, menunggu malam pergantian tahun, menghitung mundur waktu.
Sembari ditemani meriahnya suasana dimalam pergantian tahun, cukup membuat sebuah kenangan yang tak terlupakan.
Awal tahun, dimana sebuah harapan dimulai.
Mengejar sebuah harapan walau kadang tak pasti, tahun baru, awal yang baru.
Dibulan januari ini semua masih tetap sama, tak ada yang begitu beda.
Ia nampak seperti biasa-nya.
Bersekolah menimba ilmu seperti kebanyakan anak seusia nya, mengirim surat pada gadis yang ia cintai, atau pun sekadar membaca balasan surat dibawah rindangnya pohon.
Tak ada yang sepesial.
Hari-hari berganti dengan cepat, setiap satu pekan ahmad dan alfia selalu mengirimkan surat, mencerita kan apa yang ingin diceritakan selama satu pekan penuh yang mereka jalani, atau hanya memberi kabar. Dalam surat selalu ada cerita cinta dari mereka.
Tak ada kata jenuh dari mereka walau jarak memisah kan kedua-nya.
Ada kala pikiran menerka-nerka, apa yang ia lakukan di sana, mungkin begitulah terkaan dari kedua-nya.
Dalam surat itu, ada sebuah cerita cinta dari kedua-nya.
Jarak memisahkan mereka, namun terhubung oleh selembar surat, walau kadang bertemu namun tak banyak pertemuan yang bisa mereka lakukan, hanya menunggu masa liburan panjang baru mereka bertemu.
Melepas rindu yang selama ini mereka tahan.
Laut hari itu bewarna biru terang, jernih sungguh jernih.
Bahkan ikan pun dapat terlihat dari permukaan, pantulan sinar matahari ke etalase pertoko-an menyilaukan mata.
Hari itu langit cerah dan tentu-nya sangat panas.
Jalan-jalan terlihat lengang tak seperti biasanya, tampak di sekolahnya tepatnya di kelasnya semua murid nampak begitu kepanasan.
Sembari mengipasi tubuh dengan buku tulis, agar tubuh bisa mendingin.
Hari itu, sungguh membosankan tak banyak yang bisa dilakukan selain.
Belajar, mengerjakan tugas dari guru.
"dear ahmad, kamu tau.
saat aku menuliskan surat ini, hati ku sangat senang.
Kau tau kenapa, karena aku memenangkan perlombaan, sungguh itu bagai mimpi bagiku, apakah kau juga ikut bahagia".
"aku turut bahagia" gumam ahmad, lau memejamkan mata-nya dan tertidur di bawah pohon.
Sembari menunggu lonceng berbunyi.
Sebenarnya surat ini sudah lama sampai ketangan-nya, namun mungkin beberapa hari ini ia begitu subuk akan urusan lain
Jadi hari ini ia baru bisa menyempatkan membaca surat dari alfia
"TENDANG...!" teriak anak laki-laki.
ya hari ini, tepatnya pagi hari kelasnya ada jam pelajaran penjasorkes.
Semua murid kelas itu melakukan olahraga pagi, anak perempuan memainkan permainan bola voli
sedangkan anak laki-laki tentu-nya tak jauh dari kata sepak bola, tendang sana, tendang sini.
Yang penting menendang bola, begitu lah mereka bermain.
Peluh keringat mengucur deras, namun nampaknya mereka belum lelah.
"GOAL...!".
teriak mereka, saat menjebloskan bola ke gawang lawan, dengan selebrasi ala kadarnya, merka peragakan dengan sombongnya ke lawan mereka.
Jam olahraga usai semua-nya beristirahat, merengangkan otot-otot tubuh.
Atau mengisi cairan yang terbuang saat berolahraga tadi, dengan sebotol air.
Terlihat ahmad bercakap-cakap dengan salah satu teman-nya, seperti biasa ia tak terlalu banyak bicara namun banyak orang menyukai diri-nya.
Malam datang.
Langit masih saja penuh bintang, mungkin alam semesta sekarang sangat jauh, bintang berkelap-kelip di langit malam.
Malam ini, ahmad bersenandung, dengan tangan memegang sepatula.
Ia mengoreng ikan, mungkin karena lapar, atau perutnya tak puas dan selalu ingin makan.
Mengistirahatkan diri di kasur berselimut kan kain.
"apa yang kau lihat didunia ini, tak ada bukan?. Lebih baik kau ulurkan tangan mu, aku akan mengajak mu ketempat dimana semua bisa kau atur".
Lagi-lagi ia terperanjat
terbangun memimpikan hal yang sama beberapa kali
rasa takut menghantui diri-nya
tak kala terbangun dipagi hari,
apa sebenarnya arti dari mimpi-nya itu?
Tak bisakah mimpi buruk itu hilang
ia ingin sekali saat memejamkan mata memimpikan hal yang indah bukan hal yang buruk dimimpi-nya.
"aku tak tau" kata dokter itu pada-nya, sembari memeriksa dirinya.
"namun sepertinya ini berdampak pada tubuh mu".
Hanya itu, tak ada kalimat lain yang keluar dari mulut dokter itu, secarik kertas resep obat di berikan ke pada ahmad.
"coba kau cari tau, dengan pulang kerumah. Siapa tau jawaban nya ada disana".
"untuk apa pulang? dan lagian sudah ada orang yang mengurusi rumah itu".
Dengan membanting pintu dengan kerasnya ia beranjak pergi dari ruangan itu.
Lagi-lagi cuaca tak menentu, hari ini hujan menguyur disore hari, ahmad berteduh disini, di depan toko sambil menunggu hujan renda.
Ia lupa membawa payung karena ia tak mengira hari ini bakal turun hujan, jam sudah menunjukan 4:50.
Langit begitu gelap, kini kendaraan menyalakan lampu-lampu depan.
Karena melihat hujan yang tak kunjung reda, ia beranikan diri berlari ditengah guyuran hujan.
Pakaian-nya kini basa semua, dengan meneteng pelastik obat ia berlari dijalanan yang penuh dengan genangan air, terciprat air dari kendaraan yang berlalu menambah basah pakaian-nya, rasa kesal ada namun tertahan.
Ingin bertiak pada mobil itu namun, mungkin orang di dalam mobil itu tak kan dapat mendengar teriakan nya.
"hah... akhinya sampai juga". Kata ia diselah mengatur napasnya, dan segera masuk, lalu membersikan tubuh.
Malam datang langit masih seperti itu, penuh bintang berkerlap-kelip di langit malam, bulan purnama begitu terang, mungkinkah malam itu alam semesta berhenti berkembang, itu terlihat mustahil, lampu-lampu rumah-rumah penduduk perlahan mulai dimatikan oleh pemiliknya masing-masing, pertanda hari sudah larut malam.
Ia tentu nya beranjak tidur mengistirahatkan diri walau rasa was-was menghantui dirinya, mungkin ia berpikir apakah mimpi itu akan datang lagi, atau siapakah gadis yang ada dalam mimpi-nya, entah lah.
Semua penuh misteri.
Seperti biasa ia setiap jam istirahat pertama atau kedua ia pasti menyempatkan diri, duduk dibawah pohon sembari membaca surat dari sang kekasih, tersenyum, hati begitu berbunga-bunga walau pun kadang kalimat yang ada dalam surat itu tak terlalu panjang, atau pun hanya memberi kabar.
Namun cukup membuatnya begitu bersemangat menjalani hari yang melelahkan.
Dua pekan berlalu dengan dua kali surat datang kepada-nya.
Membaca, dan membalas surat dari alfia, ia ahmad selalu saja tak bosan akan hal itu.
Langit silih berganti warna selama itu, biru menjadi hitam dan sebaliknya.
Bertabur bintang, atau pun dengan awan yang berjalan lambat.
Kaca-kaca jendela rumah-rumah memantulkan cahaya matahari, yang menyilaukan mata.
Ia ahmad selalu menjalani rutinitasnya sebagai pelajar menuntut ilmu agar kelak jalan kehidupan penuh dengan cahaya yang terang.
Alam semesta pun tak berhenti mengembang, mungkin ledakan supernova terjadi namun belum dapat dilihat dalam waktu dekat.
Mungkin saja setelah seribu tahun kematian-nya, mungkin saja.
Galaksi bertaburan, planet-planet yang selalu mengitari bintang induknya, bumi tak berhenti berotasi atau pun berevolusi.
Orang-orang selalu berjalan silih berganti waktu, dengan baju kerja.
Kendaraan selalu saja membunyikan klason yang memekakan telinga.
Adakah ini semua bisa berhenti sejenak.? Begitu tenang?
Mungkin itu mustahil ada-nya.
Ahmad, bangun kan pagi menyiapkan diri, berangkat sekolah.
Pulang dalam keadaan sore mulai datang, mentari seakan ingin beristirahat di peraduan-nya.
Seolah melambaikan tangan-nya, dan memberi isyarat bahwa esok ia akan datang lagi.
Bergelut dengan keadaan di sekolah dengan begitu banyak jenis kepala manusia.
Dengan pikiran berbeda-beda, kadang ia ikut andil dalam permasalahan teman-nya.
Meleraikan teman-nya yang beradu pukulan.
Namun ada kala ia diam kan semua itu, mungkin ia sudah muak, bosan, dengan tingkah teman-nya.
Yang begitu keras kepala dan tak mau mengalah.
"kesehatan mu mulai menurun, aku khawatir dengan semua ini, harusnya kami tak begitu cemas memikirkan semua ini". Kata dokter itu memberi saran pada-nya. "
"mimpi itu selalu datang pada ku" kata ia menundukan kepala, dengan wajah yang tak begitu senang, merasa cemas, akan kondisi tubuhnya.
Ia berjalan dengan pikiran entah kemana, memikirkan semua itu.
Jalan begitu berat bagi-nya, mungkinkah sebabnya adalah waktu itu.
Ke esokan hari nya, semua kembali seperti biasa-nya, dengan ia sebagai pelajar.
Menuntut ilmu, dengan bersekolah, mengistirahatkan tubuh dirindang nya pepohonan, dengan pikiran melayang entah kemana, melihat langit tak bertiang, melihat awan yang begitu putih.
Lalu kembali lagi kekelas nya, namun langkah terhenti tak kala ia melihat ada yang mencurigakan dari gerak-gerik teman kelasnya.
"apa yang kamu lakukan?" tanya amhad.
melihat ahmad yang sudah berada dibelakang nya teman-nya itu pun terkejut, salah tingkah dan hendak berlari namun, dengan cepat ia mengengam tangan teman-nya itu,
"uang siapa itu?". Kata ahmad lalu di ambilnya uang itu.
"itu... itu uang ku" jawab temannya dengan gugup.
" terus apa yang ingin kamu lakukan dengan uang ini?",
kini teman-nya terdiam tak bisa menjawab pertanya'an dari-nya.
"huh... apakah kamu sudah menyerah?".
"Kemana kamu yang dulu yang suka bekerja keras untuk mencapai semua itu?".
lalu ahmad mengembalikan uang milik teman-nya itu, dan melanjutkan perkataan-nya
"kamu ingin seperti orang dewasa, yang suka bermain licik, dan memfitnah orang, untuk mendapatkan apa yang mereka mau?". Tanya ia lalu mendekati teman-nya dan berbisik ditelinga teman-nya.
"apakah kami ingin menghancurkan semua kerja keras yang selama ini kamu bangun, dengan suatu tindakan kotor?".
Lalu ia ahmad duduk di bangku nya dan mulai merebahkan kepala-nya di atas meja.
Teman-nya hanya diam, sambil berpikir.
Lalu tak lama air mata-nya mengalir deras, "kau benar aku hanya terlalu cemas memikirkan semua ini". Kata teman-nya disela tengisan.
Ahmad hanya tersenyum sembari menutup kedua mata-nya.
Sebuah kerja keras tak lah sia-sia, hanya saja kita terlalu Cemas memikirkan orang yang kita angap saingan sebagi tolak ukur dari hasil kerja keras yang kita ingin capai.
Dalam hidup kadang ada rasa tak puas akan satu hal saja, dan ingin lebih dari itu, begitu lah hidup.
Laut hari ini tak begitu berombak, ahmad sedari tadi duduk dipembatas antara laut dan pingiran jalan.
melihat ke arah hamparan laut dengan angin menghembuskan tubuh, ia termenung memikirkan sesuatu.
"apakah bila ia tau, ia akan menjahui ku?" tanya ahmad menerka-nerka.
Ia berpikir bila alfia mengetahui semua tentang nya akankah alfia masih mau bersama dengan-nya, atau sebaliknya.
Dengan kondisi tubuh mulai menurun ia hawatir akan semua ini.
Apakah waktu itu akan terulang lagi, tidur dalam kondisi itu dan begitu lama-nya.
Atau kah ia tak kan bisa bangun lagi, Dan tidur untuk selamanya, meninggal kan dunia tanpa bisa kembali lagi.
"hu..." keluh nafas yang ia hembuskan sesaat menyudahi pertanyaan demi pertanyaan dalam benak nya,.
"tak usah dipikirkan, cukup jalani saja" kata ia lalu bangkit dan menatap lurus kearah lautan bebas.
Kini ia sedikit tersenyum dengan tangan direngangakan.
"dear ahmad, waktu cukup cepat berlalu. Aku tak mengira selama itu kita tak pernah bertemu, bertatap muka, atau pun tertawa bersama, aku berharap ada sela waktu untuk kita bersama, aku selalu menunggu tanggal berganti, libur panjang menanti. Apakah kamu juga sama seperti ku?."
Malam terus datang, angin malam menyibak rambut, dingin malam begitu menusuk kehati, sepi tanpa ada yang bisa menemani termenung dalam malam yang penuh bintang.
Memandangi langit berwarna hitam.
Menghayal tentang yang disana, sang gadis yang ia cintai.
Sambil tersenyum kecil ia menghayalkan semua itu.
Namun kebahagian dalam hayalnya berubah menjadi kesedihan saat ia beralih pikiran memikirkan tentang dirinya, namun semua tergantung pada yang diatas.
Begitu lah pikirnya.
Terik mantahari menyengat tubuh, kulit tubuh seakan berteriak kepanasan.
Menanti jam pelajaran berikutnya dimulai ahmad berteduh dibawah pohon yang biasa, rindang, ssejuk menyejukan diri.
Burung-burung dengan suara kicauwan yang merdu di dengar, desiran angin mengelitik kulit.
Langit begitu cerah dengan cahaya matahari menyilaukan mata.
Lonceng berbunyi, pertanda jam pelajaran berikutnya dimulai.
Memperhatikan guru yang didepan yang sedang menerangi pelajaran, dengan rumitnya rumus-rumus matematika, murid seakan mengerti padahal tidak sama sekali. Mencatat dan mengerjakan latihan yang diberikan guru.
Atau pun Cuma mencontek pada teman yang diangap pintar.
Pulang-pulang sekolah otak letih, tubuh pun letih.
Menyegarkan tubuh dengan siraman air, atau pun merebahkan badan di kasur yang empuk, memasak mie atau pun membeli lauk masak dirumah makan, menyedu teh hangat, sambil menatap langit.
"ayah, ibu. Sudah lama aku tak kesini lagi, apakah kalian bahagia disana, aku harap begitu". Kata ahmad sambil menuang sebotol air ketanah kuburan ayah dan ibunya yang bersebelahan itu, lalu membaca doa dan sesekali bercerita tentang pengalaman hidupnya kepada keduanya yang sudah tenang tidur disana.
"aku tak tau, aku harus sedih atau gembira ayah, ibu". Dengan mengelus-elus sisi nisan yang bertuliskan nama orang tuanya, ia begitu sedih namun ia tahankan semua-nya.
"karena..." ahmad tak bisa melanjutkan katanya, ia menagis tersedu-sedu.
"karena mungkin aku juga akan cepat menyusul kalian". Ahmad menagis tersedu-sedu dalam keheningan disekitarnya.
"aku selalu mendoakan kalian, agar kelak kita bisa berkumpul bersama ditempat yang telah dijanjikan oleh tuhan pada kita."
"owh! ya apakah kakak pernah kesini juga, tapi aku yakin ia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sebagai dokter." Lalu ahmad berpamitan kepada kedua orang tua-nya yang terbaring disana.
"Kau tau, aku selalu berpikir semua ini kesalahan ku".
kata Ahmad sambil tertunduk.
"Aku pikir sebab kematian mereka adalah karna ku".
lalu ia berdiri dan mulai mendekati kakaknya.
"KAU TAK PERNAH JUJUR!, kau sembunyikan tentang penyakit mereka kepada ku, aku cukup yakin akan semua ini".
lalu ia pergi dari kakaknya yang sedang duduk itu.
"AH...! KENAPA SEMUA INI, HARUS AKU ALAMI!" Teriak ia di sebuah pantai yang sepi.
"Kenapa?, KENAPA?" Hanya teriak kan yang bisa ia lakukan kali ini.
Segelas teh hangat tak kan bisa menenangkan hati nya, terduduk lesu, di teras sambil memandang lurus ke depan, mata nanar seakan menahan amarah di dalam hati, lampu jalan berwarna kuning samar-samar menerangi setiap pejalan kaki.
Kenapa hidup nya harus seperti ini.
Cukup satu permasalahan saja, tak usah ditambah lagi yang lain.
Mungkin begitulah pikir nya.
"aku tak yakin Ahmad, namun siapa yang tahu tentang kesembuhan, melainkan ia saja".
Kata dokter itu, sambil memberi resep obat.
"Tak apa" kata ia sambil tersenyum pada dokter itu.
"apakah kakak mu sudah menemui mu?" Ahmad hanya mengangguk sambil keluar dari ruang dokter itu.
Jalan hidup begitu sukar sekarang, lautan berombak tinggi gulungan ombak itu siap menggulung siapa saja yang ada di depan nya, para nelayan tak berani melaut, pantai-pantai kini sepi dengan pengunjung, musim berganti setengah semester terlewati.
Ia dan alfia sudah bertemu sejak awal liburan semester.
Memandangi lagit malam, ia dan alfia berjalan menyusuri kota pesisir.
"Alfia! Ada yang ingin ku katakan pada mu". Ucap ahmad dengan nada rendah namun nampak serius terpancar dari guratan wajahnya.
Alfia menoleh ke arah-nya dengan mata tajam menatap ahmad, sedangkan ahmad kini tertunduk lesuh melihat kebawah.
Lalu ia arah kan pandangan-nya ke arah kaca bianglala.
Melihat dari atas betapa indah nya kota pesisir ini, dengan wajah sedih ia menoleh ke arah alfia, tangan alfia ia pegangi, lalu ia letakan di dada-nya, merasakan detak jantungnya.
"Kamu belum pernah bukan mendegar tentang penyakit ku, maksudnya tentang sakit yang kuderita?".
Ucap ahmad, lalu tangan kiri-nya menyentuh wajah alfia, dengan sedikit tersenyum, senyum penuh keterpaksaan.
"Kita sudah kelas tiga ya?".
"Sudah sekitar 4 tahun lebih kita menjalani hubungan ini".
"Aku tak pernah sekali pun bosan tentang mu, menulis surat untuk mu, dan membaca balasan surat darimu".
"Kamu tau apa yang aku suka dari mu?".
Alfia hanya diam mendegarkan nya berbicara, dengan sedikit ada rasa khawatir kepada ahmad, yang berbicara kepada-nya dengan raut muka sedih.
"Aku suka, saat kamu bepura-pura bodoh didepan ku, hanya karena ingin di perhatikan olehku.
Kalau makan suka belepotan, punya energi yang tak pernah habis, dulu aku suka saat kamu terjatuh di waktu kita masih kecil, aku suka dengan rambut hitam lurus mu ini. Aku..."
ahmad berhenti berbicara.
Lalu ia lepaskan tangan kiri-nya dari wajah alfia, dan tangan kanan nya masih tetap mengengam tangan alfia.
"Sebab aku tak seberuntung dirimu, tentang penyakitku.
Mungkin tak akan bisa disembuhkan, sepertinya aku tak akan lama lagi hidup di dunia ini maka."
Kemudian ia dekati wajahnya ketelinga alfia ia bisikan suatu kalimat ditelinga alfia.
"Maka aku berpesan semoga kamu dipertemukan dengan orang yang kamu sayangi di masa yang akan datang".
ucap nya.
Alfia mata-nya membelalak tubuh nya menjadi kaku, tiba-tiba ia peluk tubuh ahamad.
"apa yang kamu bicarakan, ini hanya bohongkan?"
Seakan ia tak percaya tentang apa yang ahmad ucapkan.
"Sebelum bianglala ini turun (berhenti berputar) aku ingin mengingat tentang kenangan ini semua dalam diriku".
"Mungkin hari ini, esok atau seterusnya, aku tak yakin akan bisa dapat seterusnya bersama mu, namun jika itu adalah akhir dari segala-nya, aku hanya ingin kamu mengingat tentang ku, karena manusia yang sudah mati masih dapat hidup dalam ingatan orang yang mereka sayangi".
Bianglala berputar, perlahan-lahan mulai turun.
Nampaknya ahmad sudah mengetahui tentang takdirnya, perlahan-lahan matanya mulai sayu-sayup menutup.
Nafas panjang ia hembuskan.
"Bruk..."
Tubuhnya jatuh ketubuh alfia, kini alfia tak lagi bisa merasakn nafas yang dihembuskan dari hidung ahmad.
"AHMAD...!" teriak alfia, kepada ahmad ia goyang-goyangkan tubuh ahmad agar ahmad bangun namum nampaknya itu sia-sia saja.
Sampai bianglala itu berhenti berputar.
Kini semua sudah berakhir dari kisah cinta mereka.
Kisah cinta anak muda dalam kisa makna cinta.