Senja mulai menghapus jejaknya, sebentar lagi sang dewi malam menggantikan kedudukannya. Senja yang dingin di bulan Desember membuat setiap orang merapatkan jaket dan mengembangkan payung. Ya, musim hujan hadir di penghujung tahun.
Aira, gadis manis mungil berjilbab itu menyusuri jalanan penuh genangan air. Menghindari percikan air oleh pengendara, ia melompat ke sebuah kafe dan melipat payungnya. Sore ini ia ada janji dengan temannya.
Seseorang melambai kearahnya. Aira tersenyum dan melangkah ke arah Tania, temannya itu adalah seoranh gadis berambut hitam panjang bergelombang. Indah sekali. Ditambah dengan tubuh langsing tinggi semampai. Berbeda dengan dirinya yang mungil.
"Maaf terlambat" Adalah kata-kata pertama Aira
"Aku juga belum lama, mau pesan apa? " Tanya Tania.
"Coklat panas" Senyum Aira mengembang. Tania memesan cemilan dan minuman panas untuk mereka berdua. Tania dan Aira akan membahas pekerjaan baru untuk Aira. Aira akan membantu Tania mempromosikan produk kecantikan. Hasilnya lumayan untuk tambahan biaya kuliah.
"Silahkan! " Ucap pramusaji yang mengantarkan pesanan
"Haidar? " Ucap Aira saat tak sengaja melihat kearah pramusaji.
"Ai..? " Pramusaji yang memang adalah Haidar pun tak kalah kaget. Hingga waktu berlalu beberapa menit mereka terdiam mematung. Pertemuan yang mengagetkan.
"Maaf, saya permisi dulu" Tiba-tiba Haidar pamit dan berlalu.
"Kamu kenal dengan orang tadi? " Tanya Tania
"Dia temen aku, waktu SMP dulu. Sudah lama sekali" Jawab Aira mencoba melirik. Siapa tahu Haidar masih beredar di sekeliling, mengantar pesanan. Namun ternyata, ia tak lagi tampak.
"Oke juga orangnya, temen atau gebetan? " Tanya Tania, membuat Aira sedikit gelagapan. Jika dibilang gebetan, yah mungkin. Aira pernah merasakan seperti ada kupu-kupu terbang dan menari di perutnya membuatnya melayang, hatinya seakan terbang bila berdekatan dengan Haidar. Namun Aira sadar, ia tak mungkin jatuh cinta dengan Haidar. Haidar adalah sahabat terbaik yang pernah ada. Yang setia baik suka maupun duka. Haidar adalah teman paling dekat dan paling mengerti Aira. Meski tak semua orang beranggapan mereka sahabat. Mereka terlihat seperti pasangan serasi.
Aira tak berani mengusik hubungan yang telah terjalin begitu saja sejak mereka masuk di SMP favorit yang sama. Aira takut jika ia ketahuan jatuh cinta dengan Haidar akan merusak hubungan persahabatan mereka. Membuat mereka risih, menjaga tingkah. Tidak seasyik dan seheboh seperti layaknya sahabat. Atau terkadang mirip Tom and Jerry. Berantem tapi pasti baikan lagi.
Tak lama adzan magrib berkumandang. Aira meminta izin untuk ke mushola yang ada di cafe itu. Aira berjalan menuju tempat wudhu, namun siapa sangka Haidar juga menuju arah yang sama.
"Ai... Maaf, tadi tamu rame. Aku mau ngomong sesuatu. Nanti sesudah solat. Boleh? " Tanya Haidar menarik siku Aira, menghentikan langkah gadis itu.
"Hmmm oke, tapi setelah rampung dengan temanku yang tadi" Ucap Aira sambil tersenyum. Ada. Getar menggelenyar itu masih ada pada Haidar saat melihat senyum Aira.
"Tunggu aku di pojok kanan, kalau bosen disana ada rak buku. Baca aja dulu. Aku segera ke sana" Kata Haidar memberikan senyum tulus. Aaah Aira merasa meleleh, merasakan getaran yang sama seperti dulu. Saat mereka masih seragam putih biru. Aira mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
* * *
Aira sedang membolak balik sebuah buku tentang kerajinan tangan. Sebenarnya ia sedang tidak fokus. Pikirannya melayang mengingat pertemuannya dengan Haidar yang tiba-tiba, padahal ia lumayan sering ke kafe ini bersama Tania. Tak pernah ia bersua dengan Haidar.
"Hai... Maaf lama" Tiba-tiba Haidar datang mengagetkannya. Haidar telah mengganti bajunya dengan kemeja yang di gulung hingga siku, juga celana skinny jeans. Terlihat semakin tinggi dan tetap tampan.
"Nggak apa-apa, santai aja. Ni juga lagi seru" Jawab Aira menutup buku dan meletakkannya kembali ke rak.
"Apa kabar? " Tanya Aira
"Kabar kabur hehehe " Haidar terkekeh "kamu apa kabar? " Tanyanya lagi.
"Baik, kamu kerja disini? " Tanya Aira
"Ya, baru beberapa bulan belakangan. Aku dengar kamu kuliah, gimana kuliahmu? Seru nggak? " Tanyanya. Aira menceritakan semua kegiatannya. Entah kenapa setiap berbicara dengan Haidar membuatnya tak berhenti berbicara. Haidar adalah pendengar yang baik, pemberi nasehat dan selalu tersenyum dengan lawan bicaranya. Semakin membuat Aira terlena dan terus bercerita.
"Ai... " Tiba-tiba Haidar menatap Aira serius. Membuat Aira jengah dipandang selekat itu oleh Haidar. Tak bisa dipungkiri, ia masih belum bisa menghilangkan gelenyar kupu-kupu itu.
"Ya...?" Tanya Aira balik menggantung.
"Aku... Mau membuat pengakuan Ai" Jawabnya sambil memainkan jemari tangannya. Tanda ia gelisah.
"Pengakuan? Pengakuan apa? " Tanya Aira
"Tentang masa lalu kita. Kamu dan aku" Ucap Haidar.
"Maksudmu? " Aira masih bingung.
"Jujur Ai, aku sejak dulu. Sejak kita di duduk kan sebangku karena dihukum guru karena berantem terus. Sejak saat itu aku sudah merasakan yang lain. Ada debar disini" Ucap Haidar menunjuk dadanya. Aira sedikit kaget.
"Aku pernah suka kamu, ingin menjadikan kamu seseorang yang spesial di hati. Tapi aku takut Ai, aku takut kita berakhir dengan tidak baik-baik saja. Aku takut dengan rasa itu membuat kita malah jadi berjarak. Aku pikir setelah sekian tahun, aku bisa melupakanmu. Ternyata aku salah Ai, aku masih memikirkan kamu. Sebelum aku tahu jawaban kamu. Tapi.... "
"Haidar, please... Jangan diterusin. Aku ngerti. Maaf " Ucap Aira
"Maksudmu? Kamu? " Tanya Haidar tak mengerti.
"Aku tahu kok semua dari temen-temen yang lain. Ternyata aku juga merasakan hal yang sama dengan kamu" Ucap Aira
"Kamu? Juga ngerasain hal yang sama? Katakan Ai, untuk yang sekarang. Masih adakah rasa itu untukku sedikit saja? " Tanya Haidar. Ada bias cinta juga luka dimatanya.
"Maaf Haidar, itu saat dulu. Untuk sekarang aku tidak tahu. Aku nggak yakin dengan hatiku" Jawab Aira menunduk.
"Jujurlah Ai, aku butuh jawaban kamu. Apapun itu aku Terima"
"Tidakkah ini mendadak Haidar? Setelah sekian tahun kita tak bertemu lalu saling bertanya masalah hati? " Tanya Aira.
"Aku tahu. Hanya memastikan. Kamu tahu Ai, aku selalu menantikan momen ini. Momen dimana aku pantas dan layak menyatakan cinta untukmu" Ucap Haidar.
"Entahlah Dar, aku ragu" Ucap Aira menghempaskan punggungnya ke sofa.
"Apa yang kamu ragukan Ai? " Tanya Haidar.
"Aku ragu kalau diantara kita memang benar-benar ada cinta Dar. Pasti kamu paham maksudku" Kata Aira sedikit memicingkan matanya kearah Haidar.
"Aku nggak ngerti Ai, bisakah kamu jelasin seluruhnya? Sedikit alasan untuk menyangkal itu semua. Please kasih aku alasan" Pinta Haidar.
Aira menyodorkan HP nya. Disana terlihat jelas, sebuah undangan berwarna ungu. Undangan pertunangan Haidar yang terjadi 8 bulan yang lalu. Aira mendapatkannya dari salah satu teman SMP nya. Aira sengaja tidak mau ikut di grup dengan alasan kebanyakan grup membuat HP nya ngadat. Karena nggak ikut grup alumni, Aira dikirimi undangan privat tersebut melalui temannya.
Haidar kaget. Ini bukanlah keinginannya. Semua itu kehendak orangtuanya. Haidar masih mencintai Aira, itulah sebabnya ia belum mau menikah. Ia masih mencari Aira. Namun sayang sebelum bertemu Aira, orangtuanya sudah menjodohkan Haidar dengan anak dari teman ayahnya.
"Apa alasan ini kurang jelas Dar?" Tanya Aira. Haidar terdiam.
"Ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan Ai... "
"Nggak seperti yang aku bayangkan? Aku harus membayangkan apa Dar? Kamu menyatakan semua ke aku, sementara kamu nutupin hal ini? Kamu mau nyakitin dia Dar? Maaf aku nggak bisa " Ucap Aira
"Darimana kamu dapatin ini? Aku bisa jelasin semua Ai. Yang aku mau cuma kamu" Ungkap Haidar.
"Nggak penting dari siapa. Yang aku sayangkan, kenapa kamu tega mengkhianati pasanganmu sendiri? " Kata Aira.
"Aku nggak ada niat gitu Ai"
"Lalu apa ini namanya Dar? Sudahlah Dar, aku pikir semua rasa itu hanya bayangan masa lalu. Kita lupakan semua. Selamat atas pertunangan kamu, semoga bahagia dan lancar hingga hari pernikahan nanti. Tetaplah jadi sahabat untukku. Oke? " Aira tersenyum, menyembunyikan rasa sakit di hatinya.
"Maaf Ai... "
"Sudah malam, aku permisi dulu ya, ntar gerbang kosan di tutup. Nggak lucu aku tidur di emperan hehehe daaaah jelek" Kata Aira mencoba tersenyum. Aira berlalu dari kafe itu. Ia berjalan lurus, sementara air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Inikah rasanya bila cinta yang dipupuk bertahun-tahun tanpa terucap tapi malah berakhir begitu saja? Haidar sudah ada yang memiliki. Entah kenapa rasa sesak dan sakit di hati Aira. Bohong bila ia baik-baik saja. Bohong bila ia tak sedih. Bohong bila ia merasa terluka oleh cinta yang tak terucap. Hujan turun lagi. Mengaburkan air mata Aira yang menetes.
Haidar pun merasakan hal yang sama. Sakit. Ia masih berharap dengan Aira. Namun kenyataan Aira telah menolaknya mentah-mentah bahkan sebelum kata itu terucap. Ingin ia menyalahkan Tuhan yang mempermainkan hatinya hingga sesakit ini. Ia ingin menyalahkan ayahnya yang tak pernah mau tahu kepada siapa hatinya tertambat. Namun semua sudah terlambat. Haidar bergeming dengan cintanya yang tak terucap. Inikah akhir kisah cinta mereka?