Namanya Dimas Prasetyo. Aku mengetahui nama itu melalui ID Card yang menggantung di lehernya. Dia memiliki perawakan yang tak begitu jangkung. Sedikit mirip orang-orang Turki. Posturnya yang ramping, khusus dengan kacamata tebal. Saat itu aku sedang menunggu Dewi dan Sandra. Mereka adalah kawan lamaku yang sangat aku rindukan. Dimas tampak menikmati iringan live music yang dimainkan di cafe tersebut, wajahnya sesekali mengangguk, bibir komat-kamit mengikuti irama musik waktu itu.
Dimas diapit oleh dua kawannya yang tengah menemaninya menikmati secangkir kopi hangat di sana. Memantau bagaikan seorang detektif hebat. Mata menerawang tajam. Bukan selebritis tanah air, namun Dimas mirip dengan seorang laki-laki manis di masa laluku. Nama laki-laki itu Indra Prasetyo. Aku pun heran dan tak tahu, sejak kapan dia mengganti namanya? Bau aroma tubuhnya masih aku rasakan sampai saat ini Versace Man Eau Fraiche.
Flashback
Aku datang dengan tergesa-gesa. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Hari ini akan sangat terlambat memasuki ruang kelas.
Pilih bolos apa masuk? tanyaku pada diri sendiri di perlintasan jalan sambil tetap berjalan menuju kelas.
Aku pikir waktu itu, aku lebih baik masuk saja. Suasana kelas memang hening, semua temanku fokus mengerjakan soal pada Lembar Kerja Siswa. Hari ini tak ada guru karena tak terlihat di depan kelas. Aku masuk dengan santai tanpa rasa bersalah. Semua mata tertuju padaku.
Apa hari ini aku terlihat cantik?
Kemudian aku bercermin, aku selalu membawanya di dalam tasku. Kuperhatikan atas bawah kiri dan kanan wajahku pada cermin itu. Terlihat dari cermin guruku sedang memperhatikan aku bercermin.
Kau sudah merasa cantik? tanya Bu Lola. Guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang menurutku sangar. Matanya membelalak tajam. Bola mataku mondar mandir dan aku tertegun malu saat itu. Hukuman pantas untuk murid sepertiku yakni diusir dari kelas. Kali ini hukuman yang kujalani tak mau terbuang sia-sia. Belajar di alam lepas adalah salah satu kegemaranku. Aku memang mampu melukis namun mesti terpusat pada satu objek. Sendalu yang aku rasakan di taman itu menambah nilai estetika alam waktu itu. Tak satu pun pensil aku bawa saat itu.
Kamu butuh ini? menyodorkan pensilnya padaku.
Diriku dibuat kaget olehnya, bahkan aku tak tahu sejak kapan dia berada disini. Disumbatnya telinga dengan earphone yang dia miliki. Entah musik apa yang dia dengarkan, namun terlihat dinikmatinya.
Sejak kapan suka menggambar?
Sejak aku duduk di TK, menggambar sudah diajarkan oleh pengajarku.
Ini keahlianmu?
Tidak, hanya mengisi waktu luang dikala jenuh saja.
Aku hanya terfokus pada satu titik objek alam yang berada di depanku. Tak kulihat sedikit pun pemuda yang bertanya itu.
Kau begitu cantik jika sedang menggambar. Seketika aku pun menghentikan goyangan tanganku dan berbalik ke arahnya secara perlahan.
A-a-apaan, sih. Gugup dan tak mampu berkata apapun karena baru kusadar bahwa dia begitu tampan.
Tak lama dia pun pergi.
Hey, kamu siapa? ini pensilmu masih di tanganku. Tetap saja laki-laki itu berjalan membelakangiku dengan melambaikan tangannya.
Indra Prasetyo. Nama yang tertulis di pensilnya.
Sejak saat itu, aku ingin mengenalnya lebih jauh, walaupun sekedar tempat dia singgah. Si manis, julukan yang pantas untuknya adalah itu. Cintaku yang aku cari sampai saat ini.
Satu tegukan kopi hangat, kemudian Ia lepas perlahan cangkir tersebut. Dia menganggukkan kepalanya dengan senyuman ramah. Aku terus menatapnya, balasku gugup. Dimas sedang meeting kecil dengan seorang klien. keringatnya sudah hampir mengering. Diambilnya tissue dan mengusapkan ke wajahnya. Dimas melepaskan kacamata.
Tiba-tiba saja dia menjatuhkan lamunanku. Dia memang benar-benar Indra Prasetyo.
Apa mungkin dia? tanyaku resah campur senang. Mata mulai berkaca-kaca rasa ingin berada diantaranya dan hendak memeluknya erat, dan mengatakan Aku rindu, sungguh aku rindu, lama aku menantimu, kau kembali pasti Tuhan mentakdirkanmu untukku. Khayalku mulai berhamburan.
Aku menggerakkan kedua jariku dengan lincah ke atas meja. Menengok kiri dan kanan. Berharap kawanku segera datang. Rinduku rasanya sudah menggunung, terlalu lama kami tak tertawa renyah bersama. Terakhir, ketika Dewi berpura-pura sebagai manusia astronot untuk memikat hati seorang pria. Kedua dari kawanku itu sekarang sudah berkeluarga yang tentunya harmonis. Jauh dari gosip dan isu sembarang. Hanya aku yang sudah berumur, namun belum juga menikah. Sudut mataku bergantian antara menunggu kawanku dan mengamati Dimas.
Tiga es cappucino. Pesanku pada pelayan yang mulai menyodorkan menu padaku
Apakah ada tambahan lain? tanya pelayan itu
Saya rasa itu sudah cukup, akan saya panggil jika kawanku sudah datang.
Rencana kami saat itu, hanya reuni kecil yang kami adakan sebagai kawan satu geng semasa kuliah lima tahun silam. Dewi sudah sukses menjadi seorang PNS muda. Dewi selalu terambisi oleh kisah hidupnya terdahulu yang amat malang, namun siapa sangka sekarang dia sudah memboyong Bapak dan Ibunya ke Tanah Suci. Sementara Sandra adalah seorang Auditor handal, hampir seluruh negara sudah dia kunjungi.
Air liurku meneguk lambat ketika dia membalas tatapanku.
“Kurasa, aku tak terlalu tua hari ini? dress merah yang aku pakai cukup excellent. Mengamati penampilanku sendiri.
Hai ..., Beb. Sapa Dewi padaku dari belakang disusul dengan Sandra. Kami pun berpelukan saling melepas rasa rindu.
Darimana aja sih kalian, ko lama? Aku sedikit menggerutu karena mereka telat hampir satu jam.
Iya, iya sorry, tadi kita beli baju dulu. Jelas Dewi padaku.
“Kalian mau pesan apa, aku bayarin. Lanjut Dewi ingin mentraktir Aku dan Sandra.
Wih, Ibu PNS udah banyak duit sekarang nih, gurauku padanya.
Sungguh tidak heran jika Dewi ingin mentraktir kami. Selain penghasilan menetap. Dia juga memiliki suami seorang pengusaha sukses. Tak seperti aku hanya seorang Freelance di salah satu perusahaan swasta di Bandung.
Setelah sempat aku teralihkan pembicaraan dengan kawanku. Dimas tidak lagi terlihat. Entah sejak kapan dia meninggalkan tempat ini, yang jelas aku kehilangan jejak. Mataku mulai mencari keberadaannya di seluruh penjuru kafe, namun tak terlihat sama sekali.
Heh, kamu lagi lihat apaan sih? tanya Sandra sambil menggoyangkan tanganku.
Bukan apa-apa. Jawabku gugup. Es cappucino untuk meredakan rasa gugupku.
Eh, ngomong-ngomong kapan kamu nikah, Ra? tanya Dewi padaku nyaris membuat aku tersedak.
Entah kenapa akhir-akhir ini akun instagram, facebook terutama whatsapp membanjiriku dengan pertanyaan itu. Banyak kawan-kawan lamaku yang sengaja chat untuk menanyakan hal itu dan agar segera memberi mereka undangan.
Aku masih menunggunya.
Sampai kapan kamu akan menunggunya?
Mungkin sampai usiaku tak ada lagi, atau sampai musim berganti musim atau mungkin sampai buah-buah segar membusuk.”
Kamu harus bangkit Ra, dunia ini luas tak sepantasnya kamu mencari orang di alam yang begitu megahnya hanya dengan modal nama saja. Dewi memang selalu menceramahi ku dari semenjak kuliah. Mungkin dia memang cocok menjadi ibu rumah tangga yang cerewet.
Tak banyak pintaku kepada Sang PenciptaNya. Aku hanya ingin mengetahui bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia aman-aman saja meski bukan denganku. Terdengar seperti omong kosong dan sedikit aneh bukan? Tetapi inilah cinta.
Suatu hari rasanya aku ingin mengingat masa-masa itu. Aku kunjungi taman itu. Warna dari kursinya masih sama dengan warna coklat tua. Pohonnya pun masih tetap pohon pinus, hanya saja sekarang terlihat ranggas. Aku sangat ingat ketika aku sedang melukis pemandangan di hamparan sana. Pelangi yang membentuk lengkungan, ditambah pegunungan dan pohon-pohon disekitarnya. Sampai saat ini lukisan itu masih aku simpan. Kukeluarkan buku sketsaku dan pensil itu. Memejamkan mata sejenak membuat aku mulai menggariskan pensil itu. Mukjizat Tuhan, untuk pertama kalinya aku mampu melukis tanpa objek.
Iyah... ini dia, ini dia Indra yang aku cari. Ucapku pada lukisan yang baru saja aku buat.
Segera aku peluk lukisan itu dan akan aku simpan rapat. Kini Dewi dan Sandra tak bisa mencapku sebagai pengkhayal bermodalkan nama saja. Sekarang aku memiliki lukisan yang benar-benar mirip dengannya.
Aku duduk di salah satu halte menunggu bus berikutnya tiba. Aku menemukan sebuah selebaran. Di Sana dituliskan bahwa akan ada pameran lukisan yang sangat besar. Semua pelukis akan datang dari penjuru dunia. Tentu aku sebagai pengagum mereka merasa tertarik dan tak mau melewatkannya. Sayangnya Dewi dan Sandra tak bisa ikut denganku karena mereka sibuk dengan pekerjaannya.
Blakk.
Aku mengunci rapat pintu kamarku. Aku sudah tak sabar menanti dua hari yang akan datang. Aku mulai menyukai hobi itu ketika kuas ini dibelikan Ayah sebagai hadiah ulang tahunku ketika aku berumur sembilan tahun.
Jika kamu kesal, maka lukislah kekesalanmu itu, jika kamu bahagia hendaklah bertindak serupa. Pesan Ayah padaku semasa dia masih bersama kami.
Dua hari telah berlalu. Aku tengah bersiap untuk pergi ke pameran itu. Tentu hari ini aku harus berpenampilan menarik, harapku bisa berfoto bersama pelukis-pelukis hebat. Celana kulot dipadu dengan baju polkadot yang aku kenakan cukup elegan dan tidak terlalu norak. Ketebalan lipstik bibirku hanya mencapai dua sentimeter begitu pun dengan bedaknya, sepatu high heels warna hitam tentu cocok menambah penampilanku hari ini.
Sudah cantik. Menggerakkan badan ke kanan dan kiri ke arah cermin.
Gedung tersebut sudah mulai dipadati oleh penikmat dan pencinta seni sepertiku. Aku lihat tak hanya berasal dari pulau Jawa namun dari pulau Dewata seperti para turis pun ikut menghadirinya.
Mula-mula menyentuh lukisan pertama. Terlihat seperti seorang nenek-nenek tua yang sedang berdiri di depan rumah. Keadaannya hampir gelap. Aku tak tahu apa maksud dari lukisan itu, namun terlihat seperti seorang ibu sedang menantikan seseorang yang sedang Ia amat rindukan.
Dilanjut dengan lukisan kedua. Seperti angin lepas diantara pohon-pohon dan pegunungan. Namun aku yakini, setiap lukisan disini memiliki nilai dan pelajaran tersendiri. Entah itu tentang kehidupan atau kekaguman kepada semesta.
Ada yang terlihat berbeda dari lukisan yang aku lihat selanjutnya. Seperti tak asing bagiku dan aku seperti mengenalnya.
Namun siapa? tanyaku heran pada diri sendiri.
Bandu biru seperti kepunyaanku. Rambut terurai panjang seperti rambutku dan seragam putih birunya dan yang paling aku kenali adalah sepatu hitamku persis seperti kepunyaanku.
Anda menyukai lukisan ini? tanya seseorang di belakangku. Wajahku dibuat kaget olehnya. Dia adalah Dimas Prasetyo yang aku lihat di cafe tempo hari.
Ka-ka-kamu?
Iyah ini aku, Dimas Prasetyo yang kamu lihat tempo hari.
Kamu masih mengenaliku? bertanya heran.
Tentu aku sangat mengenalimu.
Aku pun seketika merasa heran, darimana dia mengenalku.
Bahkan aku tahu namamu, Vira Adinda. Lanjut dirinya yang masih membuat aku membungkam heran.
Aku adalah putra kedua dari Pak Prasetyo, dia adalah Bapakku, dan Abangku Indra Prasetyo. Terangnya padaku yang sedang keheranan. Seketika aku pun kaget mendengar nama itu.
Indra Prasetyo adalah kakakmu?
“Iya, semasa dia masih hidup, dia melukis ini dan aku pun bertanya siapa gadis di lukisan itu, akhirnya dia menceritakan yang sesungguhnya padaku.
Dia melukis mu tanpa kamu tahu bahwa dia adalah salah satu pelukis hebat menurutku, aku sengaja ikut pameran ini agar kamu datang.
Seketika air mataku terjatuh dan tak bisa aku tahan lagi. Hati terasa disambar petir.
Maksudmu, dia sudah tiada?
Iya, maafkan aku, Ra, kanker yang sudah lama bersarang di tubuhnya tak bisa membuat dia hidup lebih lama, namun Abangku berpesan padaku jika menemuimu maka salam cinta yang amat sangat besar darinya.
Hari itu adalah hari pembuktian dari Tuhan, bahwa dia sudah tak ada dan orang itu tentu bukan dia.