seperti baru kemarin aku berusaha bangkit dari keterpurukan karena kepergian ibu,, penyakit jantung yg ibu idap sudah menyiksa ibu hampir lebih 10 tahun, mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas aku harus merelakannya untuk pergi, setelah kepergian ibu, dunia ku seolah berputar tidak pada porosnya,
aku Almeera, aku anak ke 5 dari 6 bersuadara, jangan tanya betapa kompaknya kami 6 bersaudara, iyaa ibu dan bapak selalu mengajarkan kami tentang rasa saling menjaga dan melindungi, kami ber 6 masing masing sudah berkeluarga hanya menyisahkan adik laki laki ku, 4 saudara perempuan termasuk aku dan 2 laki-laki,
Awalnya rumah tangga ku dengan suamiku baik2 saja ya,,, walaupun sebenarnya juga bisa di bilang tidak seharmonis yang aq perlihatkan pada keluarga besar ku, bukan masalah ekonomi atau misi yang tidak sejalan melainkan karena campur tangan orang ketiga,
Hari-hari yang aku jalani terasa bertambah terjal ketika aku memutuskan untuk membantu suamiku dalam mencari nafkah, keputusan itu aku ambil bukan karena suamiku tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga kecil kita, tapi melainkan aku ingin mandiri, karena terkadang terlintas d benak ku kehidupan itu seperti roda yang berputar terkadang kita di bawah terkadang kita juga berada d atas,, aq hanya ingin memastikan baby Dhan buah cinta ku dan suami ku tidak kekurangan apa pun kelak,
yaaa terkadang perbuatan baik dan niat baik tidak sejalan dengan hasil yang baik juga,,, mungkin Allah juga sedang menguji ku seberapa taat aku sebagai hamba,,
setelah ku pikir kan semalaman pagi hari sebelum suamiku pergi bekerja aku mengobrol sebentar denganya untuk meninta izin.
" mas,, apa adek boleh membantu mas bekerja" sembari duduk d depannya
nampak gurat keraguan yg mendalam terukir d wajah suamiku.
" kenapa adek ingin bekerja?apa mas belum mampu mencukupi keperluan hidup kita dek? lagi pula baby Dhan sangat membutuhkan kamu dek,,, terlebih Dhan saat ini pada tahap usia yang rasa ingin tahu nya luar biasa dek, kalo adek bekerja kasihan Dhan " penjelasan panjang lebar suamiku memang ada benarnya,,, tapi kala itu aku tak putus asa untuk menjadi wanita yang mandiri.
" mas, aku bisa bekerja sembari mengasuh Dhan, aku bisa berjualan online mas,, aku akan coba ikut jadi reseller berbagai macam produk pakaian dan perlengkapan rumah tangga,,, boleh ya mas,,, insyaAllah Dhan masi tetap menjadi prioritas mas,,, toh juga bisa d kerjakan di rumah mas,,, boleh ya,,,?" aku masi berusaha merayu meski ku lihat suami ku masi berat mengatakan ' boleh ' untuk pinta ku kali ini.
" hmm... ya sudah, tapi tetap prioritaskan Dhan, bagaimana pun Dhan paling berhak atas setiap perhatian dan kasih sayang kamu dek " aku berhambur memeluk suami ku tak henti-hentinya ku ucapkan terima kasih karena sudah megizikan aku memulai usaha.
Usia Dhan sekarang menginjak 4 tahun ya memang usia dimana rasa ingin tahunya semakin tinggi, kami bertiga memang masi tinggal di rumah mertua meski tak seatap, tapi hanya terpisah oleh sebuah tembok, meski begitu terkadang aku merasa muak dengan kondisi seperti ini, tak jarang aq menghibah pada suamiku untuk kita bisa hidup mandiri jauh dari orang tua masing-masing agar sama-sama adil. tapi percuma suamiku seolah menutup telinganya untuk permintaan ku yang satu ini.
Suamiku memang terlahir dari keluarga yg bisa di katakan lebih dari berkecukupan, sebab itu kadang aku berpikir suamiku tidak bisa keluar dari zona amannya, kalian tau hal yang paling aku benci dari rumah tanggaku, campur tangan orang ketiga yang tak lain adalah ayah mertua ku yang selalu ikut campur setiap kali aku dan suamiku mas Agah menghadapi masalah, sikap dominan ayah mertua dan sikap patuh mas Agah seolah menjadi pisau tajam dalam rumah tangga kita.
Awalnya usaha online yang aku jalani berjalan baik-baik saja, bahkan melebihi ekspektasi yang aku harapkan, impian ku mempunyai rumah sendiri seolah sudah di depan mata, yaaaa sebenarnya itu tujuan awal kenapa aku ingin mandiri mencari uang sendiri.
Sampai suatu hari kata-kata tidak menyenangkan sering terlontar dari mulut ayah mertua tentang usaha online yang aku jalani, aku berusaha menutup telinga meski perkataan nya sering menghujam hati pikir ku terserah kau mau menghina atau apa yang pasti biar aku saja yang merasakan hujaman kebencian itu.
" seharian Ayah lihat kerjamu hanya berkutat dengan ponsel saja, Dhan menangis tak kau hiarukan" padahal saat ini Dhan dalam dekapan ku, aku sudah mencoba menenangkannya,
Dhan memang sedikit rewel hari ini karena memang sedang demam.
begitulah aku,, setiap ucapan tidak menyenangkan yang d lontarkan Ayah mertua tidak pernah aku tanggapi, aku memilih diam dan berdamai dengan hati ku sendiri,
"harusnya Agah tau bagaimana kau dalam menjaga Dhan" ,,,,, YaAllah semakin lama dadaku terasa sesak aku hanya bisa menagis, meratap sembari mendekap Dhan dalam gendongan ku.
"Dhan,,, sayang,,,, cup cup,,, diam ya nak,,, bunda tau Dhan sakit,,, nanti kalau Ayah sudah pulang kita ke dokter ya,,, sabar ya sayang,,," Dhan melihat ku penuh rasa ibah, dia seolah tahu kondisi yang sedang aku hadapi, Dhan mulai lebih tenang, dan berangsur tidur,
ada rasa kelegaan ketika ku lihat Ayah mertua pergi meninggalkan kami, terkadang aku berpikir kenapa setiap kali Dhan menangis Ayah selalu marah,,, bukan kah wajar ketika seorang balita menangis,,, kejadian ini sering aku alami semenjak kehadiran Dhan di pernikahan kita, tapi entahlah,,
aku juga bukan wanita pengaduh, semua luka yang aku alami hanya ku bagi pada Tuhan.
sampai suatu saat,,, ketika sinar matahari berganti dengan cahaya rembulan yang indah aku sedang memasak d dapur, menyiapkan makan malam untuk suami dan anak ku sembari menunggu mas Agah pulang dari bekerja, sedangkan Dhan sedang menonton kartun d televisi,,,
" Meera,,,!!!" astagfirullah,,, teriakan Ayah mengagetkan ku di dapur, seketika ku matikan kompor dan berlari keluar,
" ada apa ayah,,,?" terlihat raut wajah Ayah begitu kesal, dan tak ramah.
" assalamualaikum mbak Meera,,," kulihat ternyata mas Adam suami mbak Reni yang datang bertamu dengan tujuan mengabil orderan baju yang mbak Reni pesan kemarin,,,
"walaikumsalam salam mas Adam,,, oh mau ambil pesanan mbak Reni ya,,, tunggu sebentar ya,, aku ambil dulu" bergegas berlari agar semua kelar.
Setelah kepergian mas Adam, Ayah mertua terlihat berjalan mendekat.
"sebenarnya apa yang sedang kau jalani meera? hidup seperti apa? akhir-akhir ini kau sering menerima tamu" pertanyaan Ayah mertua begitu menyedihkan terdengar d telinga, bahkan terkesan aku seperti seorang menantu yang tertangkap basah sedang berselingkuh. Aku berusaha menata hati, mengendalikan emosi yang menyeruak di dada.
"Meera, sedang menjalankan usaha online Yah,, orang-orang yang sering datang ke rumah itu tak lain adalah pembeli Ayah,,, mas Agah juga sudah tau Yah,,, apa yang Meera jalani beberapa bulan ini."
" kau memang pandai berkila dan pintar sekali mengambil hati Agah, entah apa yang Agah lihat dari mu, setiap ucapanmu Agah begitu patuh, bahkan Agah tidak segan mengeluarkan semua uang tabungannya untuk pengobatan ibu mu" YaAllah,,, aku sudah sering mendengar kata-kata kasar Ayah tentang diri ku, tapi kali ini hati ku lebih terasa sakit,,, kumohon jangan membawah nama ibu jika Ayah memang membeci ku,, sebenarnya apa salah ku Tuhan,,.
Air mata ku sudah tidak dapat ku bendung lagi, sesak di dada sudah tak dapat aku kendalikan, semakin hari perkataan Ayah semakin menyakitkan.
" Apa yang Ayah kata kan!!!?" entah sejak kapan mas Agah mendengar pembicaraan kami, bahkan kedatangan mas Agah aku sampai tidak menyadari,
" Kenapa? kau tidak terima aku berkata seperti itu pada Meera. Agah, sampai kapan kau akan menjadi bonek Meera. menjadi ATM berjalan untuk keluarganya, Ayah sudah bosan melihat mu tertindas, Meera hanya mencintai uang mu.!!!" Ayah terlihat begitu marah pada mas Agah,,, tangis ku pecah sembari merangkul Dhan yang berlari ke arahku saat mendengar suarah lantang Ayah penuh dengan emosi.
" cukup yah!!! Meera istri ku dia tidak seperti yang Ayah kata kan aku tahu siapa Meera." belum pernah aku melihat Mas Agah seberani itu pada Ayah sebelumnya.
" lihat dirimu Agah,,, bahkan sekarang kau berani menghardik Ayah hanya demi perempuan itu. baik lah jika kau memang saangat mencintai istrimu dan keluarganya yang benalu itu, pergi dari sini dan tinggal kan semua fasilitas yang sudah Ayah berikan padamu !!!!"
" Baik Ayah,,, aku akan membawah pergi istri dan anak ku, dan terimakasih atas semua fasilitas Ayah selama ini, asal ayah tahu, setiap kali ibu Meera melakukan pengobatan sejujurnya aku tidak pernah membantu, semua pengobatan ibu Meera d bayar dengan uang Meera sendiri, itu tabungan Meera kala ia masih gadis, saudara Meera pun saling membantu dalam pembayaran nya, "
Kami bergegas mengemas pakaian kami. terlihat jelas lelah dan kecewa tergurat di wajah mas Agah, YaAllah,,, entah aku harus bahagia atau terluka, dengan keadaan ku sekarang, aku memang pernah menghibah di sepertiga malam aku ingin keluar dari rumah ini. tapi kenapa harus dengan keadaan terhina seperti ini. dan aku sekarang atau apa alasan Ayah membenci ku,,
YaAllah,,, mudah kan hidup kami kedepannya, aku tahu ini akan sulit untuk mas Agah. sepanjang perjalanan ke rumah bapak hanya hening yang tercipta d antara aku dan mas Agah sedangkan Dhan malaikat kecil kami itu terlelap dalam gendongan ku. sampai d pelataran rumah bapak motor mas Agah berhenti, aku berusaha menahan tangis ku.
" Assalamualaikum pak,," aku berhambur memeluk bapak dan mencium tangan nya.
" walaikumsalam Meera,,, masyaAllah,,, tumben nak malam begini kamu berkunjung,, ada apa???" ada gurat kekhawatiran d wajah ayah.
" pak,,, apa boleh untuk beberapa hari ini kami menginap d sini pak?" mas Agah mengutarahkan maksud kedatangan kami yang tiba-tiba.
" tentu sajah Gah,,, ini juga rumah mu,, sepeninggal ibu mu rumah menjadi sepi, bapak akan merasa senang jika kalian mau menginap".
bapak mempersilahkan kami masuk dan beristirahat. sepanjang malam aku tidak bisa memejamkan mata, kata-kata Ayah tentang keluarga ku dan beranggap aku menjadikan mas Agah boneka terngiang dalam hatiku,
" kamu belum tidur dek,,?" suara mas Agah membuyarkan lamunanku.
" hmmm belum mas,,"
" maaf kan aku ya dek, sebagai suami aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk mu" masi dengan posisi berbaring d tempat tidur dan menatapa kosong ke langit-langit kamar.
" setidaknya aku legah mas, kejadian tadi menjawab semua pertanyaan ku selama ini, kenapa Ayah membenci ku." air mata ku sudah tak tertahan lagi.
" mas,, mulai sekarang ayo kita tata kembali rumah tangga kita tanpa campur tangan orang ketiga, aku mohon mas,,, berusahalah keluar dari bayang-bayang orang tuamu, aku akan mendampingi mu mas."
Di sepertiga malam ku luapan semua sedih dan kesakitan ku pada sang pencipta, meminta kesabaran dan kekuatan untuk menjalani kehidupan. boleh kah aku menghibah Tuhan, hilangkanlah segala fitna tentang almarhum ibu, sampaikan rasa rindu ku yang mendalam untuknya.
Tuhan, aku hanya lakon dalam sebuah cerita yang Engkau karang, hanya doa yang terbaik yang bisa ku lakukan atas setiap kejadian ini.