Selalu seperti ini, tak ada yang menarik sama sekali, tak ada ceria, atau pun kesedihan yang tampak di wajahnya, ia tak pernah sekali pun tertawa atau pun marah.
Datar begitulah ekspresi dari dirinya.
"berapa lama kamu di sini".
Tanya seorang peria pada-nya, dan lalu duduk di sebelahnya.
Tapi seperti biasa, tak ada jawab darinya, membisu mungkin itulah kata yang tepat menggambarkan diri-nya.
"hari mulai gelap, tidak kah kamu pulang?". Lagi-lagi tak ada sedikit kata pun yang keluar dari mulutnya.
"baik lah kalau begitu, bila aku mengganggu mu".
Peria itu pun pergi dari nya.
Lisa seperti itu lah nama-nya, selalu dalam keheningan tanpa banyak bicara, gelap memandang, dengan tongkat sebagai penunjuk arah kaki nya melangkah, pernah ia merasakan kilauan cahaya namun itu hanya sebentar saja.
"bisakah aku tak seperti ini".
Begitulah kata yang pernah ia ucapkan dahulu, namun kini ia hanya berserah diri saja, menjalani hidup walau tak bisa menikmatinya.
"apa kah kamu sekarang sedang melihat cahaya senja!?".
tanya ia Lisa kepada peria itu, lalu ia bangkit dari bangku panjang sembari melangkah ke arah berlawanan dari sang peria itu.
"aku ingin sekali melihat mentari senja, atau pun fajar".
Lalu ia berlalu begitu saja meninggalkan peria itu yang kebingungan akan perkataan-nya.
Gelap tanpa cahaya, pekat tanpa terang, begitu lah buta tanpa bisa melihat.
Hanya bisa meraba centi demi centi dengan tongkat.
Walau gelap ia masih mau berjalan, menyusuri setiap trotoar dibantu dengan tongkat.
Begitu lah ia.
Ia tak tahu bahwa hari telah berganti, ia tak tahu bahwa senja telah hilang berganti malam.
Hitam pekat menutupi matanya, pernah berpikir untuk apa ia hidup, jika ia tak bisa menikmati semuanya.
Namun mungkin tuhan mempunyai rencana nya sendiri.
Hanya bisa merasakan, dinginnya hembus'an angin, atau panasnya sinar matahari yang menyentuh kulit tubuhnya.
Merasa hanya itu lah yang ia bisa, mungkin kah ini suatu takdir darinya.
Berjalan melewati jalan yang biasa ia lalui, walau dengan cara menghitung setiap langkah kaki.
Agar tak sesat nantinya, di rumah ini, ya betul Rumah dengan dinding papan jauh dari keramaian, ia tinggal di sini dengan ditemani sang adik yang berumur 15 tahun, menghidupi dirinya dan tentu kakak nya, ia adiknya begitu tabah akan semua ini, walau kadang tangis menyertai dirinya ia tahan atau ia kecil kan suara tangisan agar kakaknya tak mengetahui.
Pasrah begitu lah ungkapan yang selalu ada dalam hati kecil adiknya.
Menghidupi sang kakak dengan keterbatasan, tak membuat ia berkecil hati menjalani hidup, bekerja sebagai pembantu orang, mencuci, mengepel, menjaga anak orang.
Semua ia lakukan.
Di umur yang begitu mudah ia sudah harus menjadi seorang yang berpikiran dewasa, tak ada kata bermain, bahkan ia harus putus sekolah agar bisa merawat sang kakak, sebenarnya ia adalah murid yang cukup pintar.
Namun karena keadaan seperti ini, tak ayal harus membuatnya menepikan semua mimpi nya.
Di rumah ini tak banyak cerita yang bisa diukir, hanya tawa dalam kemiskinan, hanya senyum dalam kepedihan dari adik nya, ia Liisa begitu tak bersahaja, ia merasa sangat tak berguna, namun semua membuatnya harus begini.
Waktu itu adalah musim hujan, di mana saat musim hujan sang penghuni rumah tersebut harus berjibaku dengan atap rumah yang bocor begitu banyak, adiknya sedari tadi sibuk meletakan beberapa wadah, menampung air yang terus bercucuran dari sela-sela atap yang bocor, ia hanya diam tanpa bisa melakukan apa pun, dengan berselimut kain, menahan hawa dingin yang masuk dari sela-sela dinding papan.
Malam berganti tanpa ia sadari, bahkan mungkin semua orang tak menyadari bahwa ia terlelap dalam mimpi.
Pagi datang, langit begitu indah untuk dipandang, terkecuali dirinya.
Apa yang bisa ia pandang?
Tak ada, wadah tempat penampung air begitu penuh dengan air yang begitu dingin, adiknya mengemasi semua itu, menyapu rumah memasak dan menaruh makanan di dekatnya.
"kak ini makanan-nya, aku pergi kerja dulu ya". Kata sang adik sebelum melangkah kan kaki mencari sesuap nasi untuk dirinya dan sang kakak yang sangat ia cintai.
Hidup berdua, membuat mereka mengerti satu sama lainya.
Dengan keterbatasan yang ada, dengan kehidupan digaris kemiskinan.
Hari ini ia seperti biasa berjalan ke tempat yang biasa ia singgahi dengan tongkat yang meraba-raba setiap sisi trotoar, dengan mulut yang menghitung setiap langkah kakinya. Sampai di tempat tujuan, dengan duduk di bangku panjang menghadap lautan, angin laut yang mengembuskan sekujur tubuhnya, dingin.
Sekali lagi dingin menyentuh kulit.
Lautan biru cahaya senja memantul dari balik air laut menambah indahnya lukisan tuhan, namun sayang ia tak bisa menikmati nya.
"hari ini begitu dingin!".
kata peria yang sama di waktu kemarin, sembari menyapa dan duduk di sampingnya.
"senja begitu indah, untuk dipandang."
Kata sang peria sembari menatap lekat mentari senja.
"cahaya nya begitu indah". sambungnya lagi, Namun Lisa tak menjawab, ia seperti biasanya selalu diam.
"jika kau ingin menikmati senja tanpa dilihat, kau bisa menunggu di sini, dan aku akan membantu mu untuk bisa menikmati senja". Lalu peria itu pergi.
Lagi-lagi malam datang tanpa bisa ia ke tahui.
Berganti dengan embun pagi di dedaunan, menyibak tabir, cahaya masuk ke dalam rumah tanpa ia sadari, hanya bisa ia rasakan, tanpa bisa ia menatap silau nya cahaya mentari pagi.
"lisa ayah dan ibu pergi dulu, kau jaga adik mu ya".
Itu lah kata terakhir yang mereka ucapkan kepada lisa sebelum semuanya berubah menjadi tragedi, dengan tubuh terbujur kaku orang-orang mengantarkan kedua orang tuanya ke peristirahatan terakhir.
Tangis tak henti dari kedua nya, yang ditinggal pergi oleh orang tuanya, kakak dan adik itu hanya menangis tersedu-sedu dan seakan tak percaya akan semua yang terjadi.
Namun itu masih belum cukup untuk membuat keduanya merasa putus asa, lisa lambat laun matanya mulai tak berfungsi sebagai indra penglihatan, lambat laun matanya mulai kabur, terus kabur, dan akhirnya menjadi seperti ini, gelap dalam memandang dunia.
Meski derita tak berhenti menerpa, namun senyum tampak tergugah dari sang adik.
Jalan kehidupan penuh duri, ada kala menjerit karena tertusuk duri.
Namun kaki terus melangkah, ceceran darah berbentuk tapa kaki tercap di jalan kehidupan.
Buku kehidupan dari keduanya hanya menuliskan derita yang tak henti, namun mereka tabah menjalani semua ini.
heningnya suara di sekitarnya, gelap nya cahaya, menambah derita.
Kaca-kaca cermin seakan mengolok ia karena tak bisa menatap pantulan dirinya.
Namun ia seperti biasa tak tersenyum kan muka.
Tangan meraba-raba setiap sisi rumah entak ke mana ia melangkahkan kaki, entah ke mana ia melangkah.
Tak pernah menyalahkan waktu, tak pernah menyalahkan keadaan.
Hidup dalam kegelapan tanpa tahu arah melangkah, jalan kehidupan yang ia jalani begitu sukar namun, ia tahu masih ada yang lebih darinya.
Hembus'an angin menggelitik kulit, rasa dingin menusuk tulang namun mata tetap terpejam, embun pagi mulai mengering, cahaya fajar telah lama menyingsing.
Meraba setiap sisi dinding rumahnya, ia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan air yang dingin.
Siang datang, hari begitu panas, bayangan pohon kini tampak mengecil, langit berawan, ia hanya terbaring dikamar.
Daun-daun bergoyang ke sana-kemari karena hembus'an angin, mendung mulai datang, cuaca yang tadinya cerah kini berubah menjadi gelapnya mendung.
Angin kini mulai berembus kencang, atap rumah berbunyi seperti mau diterbangkan angin. Dingin, menusuk kulit, ia selimuti diri dengan.
"aku hanya ingin sekali lagi melihat cahaya". Kata ia dulu, tak ada pintanya selain itu kepada tuhan, ia tak meminta kekayaan, hanya itu saja pintanya.
Namun, sepertinya doanya itu belum tuhan kabulkan.
Ia kira hujan akan datang, namun sepertinya hujan mengurungkan niat untuk turun di daerahnya.
Langit kembali cerah, dengan jam menunjukkan pukul 3 sore, ia bergegas turun dari tempat tidur, dan mengambil tongkat yang tergeletak disampingi tempat tidur, kini ia tinggali rumah papan itu, berjalan ke tempat yang biasa ia singgahi, hanya sekedar menikmati senja tanpa bisa melihat silaunya cahaya senja.
Mentari senja yang begitu bulat dengan warna jingga terpancar darinya, tak bisa dinikmati keindahan nya oleh lisa, lambat laun hawa hangat mentari senja berganti menjadi dingin, lalu ia hendak beranjak pulang namun tertahan oleh suara sapa 'an seorang peria.
"kau ingin menikmati senja?".
Tanya peria yang sama di waktu itu.
Ia hanya diam, lalu duduk lagi dibangku panjang itu, dan di ikuti oleh peria itu.
Peria itu sedari berbicara padanya, namun ia seperti biasa tak bicara, mengabari indahnya mentari senja itu ke padanya, ia seakan menikmati apa yang peria itu katakan.
Ia seperti terbawa dalam suasana indahnya senja, eloknya lukisan yang tuhan berikan.
Lalu mereka berpisah, karena waktu senja akan berganti, kini ia mulai tersenyum walau ia tak menyadari.
"kak!" kata adiknya saat melihat ia tersenyum, mungkin adiknya keheranan melihat kakaknya yang tersenyum.
Lampu pelita, selalu menemani malam yang gelap di rumah itu, dengan abu hitam yang masuk ke hidung setiap pagi mereka selalu membersihkan tumpukan abu hitam di hidung mereka.
Jangan tanya mengapa tak ada listrik di rumah mereka.
Pagi lagi-lagi datang sinar pagi masuk dari sela-sela dinding papan, hangatnya mentari pagi membangunkan ia, dengan tertatih-tatih ia melangkah, membasuh muka, dalam pagi namun gelap dimatanya ia seperti biasa, mendengarkan adiknya yang sedari tadi sibuk di dapur menyiapkan sarapan.
Rumah itu begitu sunyi didalam-Nya, hanya ada suara tumbukan di lesung, didihnya minyak atau pun suara-suara peralatan memasak yang menyertai setiap gerakan yang dilakukan adiknya.
Pagi berganti siang, adiknya sudah lama berangkat bekerja.
Panas terik ia masih berbaring dikasur, menunggu senja datang dengan rasa, walau tak pasti.
Senja datang, ia bergegas pergi.
"apakah kau datang hanya ingin melihat senja?".
Kata peria itu yang sudah lama berada di tempat itu.
Ia hanya diam dan langsung duduk, seperti kemarin peria itu berbicara padanya mengabarkan sebuah senja hari ini dengan kata-kata yang terus ia ucap.
Bagai mana gumpalan awan menutupi mentari senja yang mulai tenggelam dalam lautan, dengan burung-burung terbang berlatar senja, langit mulai berwarna jingga kemerah-merahan, ter pantulkan cahayanya oleh lautan biru.
Sungguh tuhan menciptakan itu tanpa sia-sia.
Ia memahami apa yang peria itu kata kan padanya, ia begitu menikmati senja walau pun hanya dari kata-kata yang diucap kan peria itu.
Mata hari senja perlahan menghilang, ditelan lautan. Ia pulang ke rumah dengan sebuah kebahagiaan yang terpancar dari hatinya.
"cukup begini, tak ada yang lain".
Kata ia dalam hati, mungkin tuhan tak mengabulkan doanya, namun rahmat tuhan masih terus bersama nya.
"apa yang kakak bahagia kan?".
pertanyaan terlontar dari adiknya, saat melihat ia tersenyum-senyum kecil, ia tak menjawab, adiknya keheranan tanpa ada jawaban.
Pagi itu hujan deras mengguyur, atap rumah yang bocor meneteskan air hujan yang tertampung diwadah.
Ia sepertinya berharap-harap cemas agar hujan cepat berhenti.
Ia lisa, berselimutkan kain menahan dingin yang menusuk kulit nya.
Namun, sepertinya hujan kali ini begitu awet hingga menjelang malam, tak terasa pagi sudah datang hawa dingin perlahan menjadi hangat.
Suara jangkrik perlahan-lahan hilang tergantikan suara merdunya burung-burung, langit pagi ini cukup cerah namun, itu belum memastikan bahwa hujan tak kan datang.
Lisa sekarang wajahnya berseri, ia kini bersenandung entah apa yang disenandukan-nya.
Adik nya kini tak merasa keheranan baginya ini sebuah kebahagiaan karena melihat kakaknya yang begitu bahagia.
"cukup itu saja".
begitulah kata dalam hati adiknya.
Pagi berganti siang, hawa panas mulai terasa begitu menyengat dikulit, peluh keringat bercucuran di sekujur tubuh, namun ia tak terganggu akan hal itu.
Berbaring dikasur kusam, kepala beralas kan bantal sambil menunggu senja datang, dari
mana ia tahu senja akan datang?
Padahal ia tak dapat melihat?
Hanya ia lah yang mengetahui nya.
Senja datang, ia sudah lama berada di sini, menikmati senja tanpa bisa melihat nya. "kamu sudah lama di sini?".
tanya peria itu, ia hanya tersenyum mengangukan kepala.
Seperti biasa peria itu mengabari apa yang ia lihat kepada lisa, mengabari bagai mana eloknya senja.
Namun karena waktu yang terbatas mereka pun harus menyudahi semua nya, pulang ke rumah dengan senyum lebar.
Adiknya hanya ikut tersenyum menyaksikan kakaknya yang begitu tersenyum bahagia.
Angin berembus melewati celah dinding papan tak begitu ia rasakan dikulitnya.
Padahal begitu dingin.
Suara jangkrik tak begitu ia dengarkan, ia mengkhayal, bisa kembali melihat senja, walau pun sepertinya khayalannya sedikit tak terwujud.
Hari-hari di waktu senja, dihabiskan ia dan peria itu bersama, menikmati senja walau dalam gelap.
Namun ia tetap bahagia, ada kala mereka tak bisa bertemu untuk melihat senja, karena sebab, seperti hujan atau peria yang ia tunggu tak kunjung datang, namun itu tak begitu lama.
Karena keesokan harinya mungkin berubah.
Daun-daun kini mulai berjatuhan tertiup angin, semak kan jalanan yang ia lalui, tapi ia tak tau bahwa jalan yang ia biasa lalui begitu beda.
Ia masih terus berjalan, ada kala ia terjatuh karena tersandung atau pun menabrak orang lain.
Namun ia masih ingin melanjutkan perjalanan.
Cuaca hari ini cukup berangin, embusannya cukup kencang menerpa tubuh.
Laut berombak tinggi.
Deruan ombak terdengar ke telinga.
Hempas kan batu karang di tepi pantai.
Ia hari ini begitu berseri di wajahnya. Menikmati senja dengan kata-kata yang didengar.
Kaki melangkah pasti di jalan, dengan tongkat terpegang tangan, menyusuri jalan.
Ketukan demi ketukan tongkat kesisi trotoar, menghitung setiap langkah.
Hidup dalam gelap tanpa cahaya, hanya ada suara dan rasa yang menemani hidupnya.
Senandungkan lagu yang ia dengar memang tak begitu merdu, namun senandung itu pertanda bahwa ia begitu bahagia.
Kadang-kadang ia menjentikkan jari sebagai ekspresi darinya, selain raut wajah.
Pertama kali melihatnya mungkin orang tak menyangka ia buta, dengan mata masih terbuka dengan wajah berparas ayu, tak ada pikir tentang itu bagi sebagian orang.
Namun, tongkat lah yang menandakan itu.
Ia lisa.
Seperti sebuah gunung es, begitu dingin, tanpa banyak kata.
Baginya tak ada cahaya tak ada juga yang lainya.
Namun, biar sebegitu dingin-nya ia, ia tak lah begitu buruk hati.
"apa yang ingin kamu pinta pada tuhan, jika ia benar-benar mengabulkannya?".
tanya peria itu, ia hanya tersenyum ke arah depan tanpa bisa ia melihat indahnya senja.
"aku hanya ingin tuhan selalu memberi rahmatnya pada ku".
kata ia begitu tulus tersenyum.
Peria itu tertegun matanya berkaca-kaca ia tak menyangka permintaan si gadis itu, namun kini ia tersenyum lalu menoleh ke arah gadis itu.
"kau begitu putih".
sebuah kata ambigu ia katakan pada gadis itu.
Senja sendu berwarna jingga, mengantarkan sebuah cerita dalam waktu itu.
Hari pun kini beranjak gelap mereka berjalan pulang dengan tangan lisa ia tuntun lisa untuk melangkah, mereka berjalan pulang namun harus berpisah karena arah jalan pulang yang tak sama.
"bukankah esok hari minggu?".
kata ia bertanya pada adiknya, di tengah makan malam itu, ia bermaksud jika adiknya tak ada kegiatan yang ia lakukan, ia ingin sekali mengunjungi makam kedua orang tua nya.
"baik lah, kita memang sudah lama tak pernah ke sana". ucap adiknya tersenyum padanya, walau Ia tak bisa melihat senyum adiknya.
Pagi datang dari upuk timur, suara kokok-kan ayam terdengar nyaring hingga membangunkan-nya, padahal matahari masih baru setengah terbangun dari tidurnya.
Embun masih belum kering namun ia bangun dan berjalan ke arah dapur dengan memegangi setiap sisi dinding papan.
Mencuci muka sebelum mandi.
Lalu basah kan tubuh dengan air yang begitu dingin.
Pagi ini begitu cerah matahari yang awalnya malu-malu menampakkan cahayanya kini perlahan-lahan mulai menyinari dunia.
Embun mulai mengering, ayam-ayam mulai mencari makan, jangkir pun mulai tak bersuara.
"kakak! Apakah kau sudah be..."
belum sempat adiknya melanjutkan katanya, adiknya tertegun melihat kakak nya yang begitu cantik hari ini dengan pakaian begitu serasi putih bersih.
Adiknya tersenyum sambil menuntun kakak nya.
"wow... kak... kak sungguh cantik."
ucap adiknya yang memuji dirinya.
"Ayah, ibu! Apakah kalian mendengarkan ku berbicara dan bercerita kepada kalian". dengan mengelus lembut sisi papan nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya, yang terkubur berdampingan.
"Adik selalu menjaga ku, ia selalu tersenyum dalam kesedihan, namun untuk sekarang aku tak bisa lagi melihat senyumnya. Ka, kalian tahu. (Ia senderkan kepala-nya di papan nisan ibu-nya) aku, aku, aku selalu merindukan kalian".
Air matanya berurai Tak kala ia merindukan sosok kedua orang tuanya.
Adiknya hanya dia melihat kakak-Nya yang menangis sendu, meratapi semua yang telah terjadi, kemudian adiknya papah kakak-nya untuk berdiri.
"Bisakah aku bertemu kalian, ayah ibu?".
ucap ia dan mulai melangkah dengan adiknya yang memeganginya.
"Kakak...!" cegah adiknya saat ia mendengarkan ucapan sang kakak-Nya itu.
"jika kamu menyusul kedua-nya, aku bagai mana?".
"Ayah..."
panggilnya dari kejauhan, memanggil ayahnya dengan teriakan anak kecil, lalu ia melompat ke tubuh ayahnya untuk meminta digendong.
Ayahnya hanya tersenyum melihat putri kecilnya yang begitu manja pada dirinya sambil tangan yang satunya memegangi jaring ikan lalu ia taruh jaring ikan itu dipundak, kemudian diciumi anaknya yang masih kecil itu.
"Ayah, kamu baru saja dari laut, jadi jangan dicium dulu".
Cegah istrinya lalu ia ambil anaknya dari gendongan suami nya.
Bisakah itu terulang lagi?.
"Aku masih mengingat itu, semua kenangan tentang mereka. Ayah, dan ibuku".
Kata ia bercerita kepada peria itu.
Peria itu hanya tertegun, mendengarkan ceritanya, lalu peria itu menundukkan kepalanya, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"sungguh aku iri kepada mu" kata peria itu, lalu melihatinya.
"kamu terlalu baik hingga kebaikan mu dimanfaatkan oleh teman busuk mu itu".
"Apa kau mendengar perkataan ku?"
"AH...!!! Maaf aku tak mendengarkannya".
"Kamu tau Lisa, aku pernah juga berpikir seperti mu. Untuk apa menjalani hidup kalau semua akan hilang, semua kenangan itu hanyalah ilusi bagiku. Mereka pergi dengan jejak buruk di kehidupanku. Ada satu yang masih baik kepada ku, selalu menghawatirkan ku, namun ia juga harus pergi, namun kepergian-nya tak lah meninggalkan keburukan, namun sungguh membuatku memendam rasa penyesalan yang amat sangat perih dihati".
Mendengarkan apa yang dikatakan peria itu, ia lalu mengenang apa yang pernah terjadi dalam hidupnya, ditinggalkan orang yang ia sayangi, untuk selama-lamanya.
Membuat ia terpuruk seperti sekarang ini. Lalu tangannya bergerak ke arah dimana suara peria itu.
Seperti hendak menyentuh wajah peria itu, dan benar saja, ia sentuh wajah peria itu, lalu berkata.
"Kamu menyesali apa yang telah terjadi? Kamu sama sepeti ku. Namun... Dalam menyikapi ini kamu lebih baik dari ku". Kemudian ia berdiri
"Aku tak yakin. Namun... Aku tau ia disana tak lah suka kalau kamu bersedih terus. Mungkin ia akan memarahi mu jika ia masih ada di sini, begitu juga aku. Mungkin ibu dan ayah ku akan memarahi aku habis-habisan, sambil berkata, jangan menangis kamu jangan cengeng hanya karena itu".
lalu ia melangkah pergi dari peria itu
"Ayah ibu, kalian mungkin saja akan memarahiku?".
dan terlelap dalam tidur.
Lambat laun ia sudah memahami apa yang sebenarnya berubah dalam hidupnya, ya tak lain adalah keceriaan darinya.
Gadis kecil yang suka bermanja-manja kepada orang tuanya, periang, selalu tersenyum walau pun perut terasa sangat lapar.
Atau pun berteman dengan begitu banyak teman.
Sekarang itu lah yang hilang darinya.
Dimanakah keceriaan yang selalu menyertai dirinya?
Kaki melangkah dijalan yang biasa ia lalui, merasa ringan, dengan tongkat tetap mengetuk-getuk sisi trotoar, mulut tak berhenti menghitung setiap langkah kaki.
Kemudian sesaat sampai di tujuan ia langsung duduk di bangku panjang dengan ditemani seorang peria yang selalu mengabarkan senja setiap harinya kepada dirinya.
Apakah senja kali ini beda?
Atau masih sama saja?
Dinginnya hari selepas hujan, menyentuh kulit, terasa dingin.
Walau baju panjang, namun tak lah begitu berguna menahan udara dingin.
"Kamu tau, aku sungguh iri kepada mu, kamu bisa mengekspresikan diri sesuka hati mu, maksudku kamu bisa leluasa mengekspresikan-nya, namun sebaliknya aku tak lah bisa, jika kamu melihatnya, mungkin kamu beranggapan aku ini orang yang menyeramkan, Lisa".
"Sama aku juga iri padamu, kamu bisa melihat dunia dengan mata mu, namun aku tak bisa, jika aku selalu merasakan iri di hati ku, mungkin iri itu tak kan pernah hilang".
Ucap lisa kepada peria itu.
Daun-daun berjatuhan di sore itu, tertiup angin.
Senja begitu indah warna yang sama namun tak bosan untuk di lihat.
Berharap esok adalah hari yang baik.
Lampu pelita tak lah bisa menerangi seisi rumahnya, remang cahaya-Nya membuat ingin cepat tidur, sepi sunyi hanya da suara jangkrik berbunyi di telinga.
Pagi datang menyapa lagi, dunia tak lah berubah sama sekali, pohon-pohon dan tumbuhan lain bertumbuh begitu lambat.
Titik-titik embun kini mulai menguap, air yang dingin kembali menjadi hangat, nelayan sudah pulang dari menangkap ikan dilautkan.
Burung-burung berkicau sangat merdu, angin hangat berhembus menerpa tubuh nya, termenung entah apa yang ia termenungkan itu, sebab ia tak bisa melihat.
Tanah berpasir putih di depan rumahnya tak lah begitu subur untuk tanaman/tumbuhan.
Hanya ada tumbuhan khas pesisir yang tumbuh di dekat rumahnya.
"Bisakah senja cepat datangnya?".
gumam nya, lalu melangkah mendekati jendela dengan cara meraba-raba sisi dinding papan.
"Ayah. Gendong..." ucap ia waktu kecil dahulu, begitu senang bermanja dengan ayah nya, penuh ke imutan seperti anak kecil pada umumnya.
"Ayah, aku dapat nilai seratus".
Ucap ia sambil memperlihatkan nilai ulangan kepada ayahnya itu, ayah nya tersenyum bahagia, lalu mengusap-usap rambut anak kecilnya itu.
Sungguh itu adalah kenangan yang begitu berharga, andai itu bisa diulang.
"Aku hanya ingin Tuhan memberi rahmat kepada ku, agar aku bisa menjalani sisi hidup dengan penuh senyuman".
Ucap ia kepada peria itu, ia tak tahu bahwa peria itu menangis akan ucapan tulus darinya, hati peria itu menjadi tersentuh akan ucapan itu.
"Huh... Kamu tau bayak orang yang lebih baik dari mu, namun mereka tak pernah mensyukuri apa yang Tuhan berikan".
"Kadang mereka bilang hidup mereka lebih menderita dari orang lain, padahal jika sedikit saja mereka membuka mata hati mereka dan melihat di sekeliling mereka maka masih ada yang lebih menderita dari mereka".
Ucap peria itu dan menghapus sisa air matanya.
Senja kali ini terasa sangat indah dan bermakna, langit kini berwarna jingga laut biru pun kini berpadu dengan warna jingga mentari senja.
"senja kali ini cukup menarik, coba kamu dengar perkataan ku ini, langit berwarna jingga, karena warna dari mentari senja, begitu juga lautan ia memantulkan warna mentari senja, tuhan menciptakan ini semua tak lah sia-sia saja, karena ada makna di balik itu semua, sama dengan cobaan yang kamu hadapi saat ini lisa, mungkin ia ingin meninggikan derajat mu lewat cobaan ini". Ucap peria itu, lalu menuntun nya dalam perjalanan pulang.
daun-daun mulai berjatuhan di jalanan mereka pulang dengan tangan lisa di genggam oleh peria itu, mengantarkan ia untuk pulang ke rumahnya, dalam perjalanan pulang, ada terbesit rasa yang tak bisa diungkapkan.
Seperti memaknai sebuah senja hari ini. Malam datang, langit gelap, tanpa bintang karena awan menutupi langit malam.
Dingin, sunyi, adik nya telah lama tertidur di pangkuan-nya, dengan sedikit mendengkur mungkin itu dengkuran kelelahan dari adiknya.
"Ayah, ibu kalian tau hari ini aku cukup merasa bahagia".
ucapnya lalu menyenderkan tubuhnya di dinding rumahnya, tak lama sesudah itu ia tertidur melewati malam.
"Aku selalu saja merasa bahwa diri ku tak berguna, ingin rasanya aku mengakhiri ini semua, namun nyatanya niat ku tak lah kuat dari rasa cinta kepada adik ku, aku tak ingin meninggalkan nya sendiri di sini, maka dari itu aku terus menjalani ini semua tanpa ada senyuman, sampai ada satu pengacau yang selalu mengacaukan ku, namun ia begitu baik hatinya, ia selalu menemani ku, mengabari senja kepada ku.
Peria itu pun tertawa saat mendengarkan perkataan dari nya, ia tau siapa yang di ceritakan oleh lisa, yang tak lain adalah dirinya sendiri.
"Kamu pandai mengejek ku dengan permainan kata yang tak menusuk hati".
ucap peria itu dengan senyuman diwajahnya, namun lisa tak tau bahwa peria itu tersenyum akan ulah nya.
"Kamu tau lisa. Setiap manusia pasti mempunyai cobaan sendiri-sendiri, jika cobaan mu seperti ini, maksudku seperti sekarang ini maka yang lainya juga sama seperti mu, contohnya..."
ucap peria itu namun tak lagi melanjutkan perkataan darinya.
"Aku hanya ingin mempunyai teman yang benar-benar teman dalam artian sebenarnya". Ucap peria itu lagi kepadanya, melihat wajah lisa yang begitu polos akan dunia kejam ini.
"Aku selalu iri kepada mu, iri semua yang ada diri mu".
Kini ia menoleh kearah mentari senja menatap senja dan mengabari nya kepada lisa dengan kata yang ia ucapkan dari mulutnya.
"Jangan mengubah apa yang telah kamu tanam di dirimu lisa".
Nasehat nya lalu mengantar kan lisa untuk pulang karena malam akan segera datang.
Jalan hari ini nampak sama seperti kemarin, daun-daun berguguran mengiringi langkah kaki dari mereka, lisa dan peria itu mengobrol di tengah perjalanan mereka, mengobrol tentang daun-daun yang berguguran ini, senja perlahan-lahan hilang di gantikan malam.
"Terimakasih telah mengantarkan ku pulang". Ucap lisa berterimakasih pada peria itu.
Sayup-sayup suara-suara kini mulai terdengar di keheningan malam, peria itu berpamitan untuk pulang kepada nya.
"Kak! Itu siapa?". tanya adiknya dan membantunya untuk masuk ke rumah.
"Teman kakak". ucap ia lisa kepada adiknya, dan meminta adiknya untuk mengantarkan ia ke kamar mandi.
Bunyi hamburan air terdengar dari balik kamar mandi, ia mandi dengan air yang mulai dingin.
"Kak! kalau udah ganti pakaian kita makan bareng ya!". seru adiknya menyiapkan makanan dan menaruhnya di lantai beralaskan tikar.
Ya begini lah cara mereka makan, tak mempunyai meja makan.
Namun nikmat kebersamaan terasa sangat lah membahagiakan.
"Ayo habiskan makanan-Nya".
Ucap ibunya dulu menyuruhnya menghabiskan makanan dengan adiknya yang masih kecil dipangku oleh ibunya, sambil menyuapi adiknya, ibu nya juga harus bersabar akan tingkah ke kanak-kanakkan dari dirinya.
Sungguh itu adalah kenangan yang indah.
"Aku pikir bahwa kenangan tak akan bisa dihapuskan dari ingatan kita, semua yang ada dalam ingatan selalu terbawa dalam kehidupan, baik itu buruk atau pun ingatan yang baik. Namun terbawa akan kenangan yang telah lalu itu cukup membuat diri kita berhenti untuk melangkah dan terus melihat kebelakang".
Senja di pantai itu sangat indah untuk dipandang, warana nya berpadu dengan biru nya langit dan lautan.
Berbicara pada nya membuat lisa tersenyum menjalani kehidupan didunia ini, berbagi cerita dalam sebuah kehidupan ini.
Laut hari ini tampak tenang, angin pun tak terlalu kencang berhembus.
Sinar mentari senja berwarna jingga penuh makna di dalam nya.
Hidup dengan keterbatasan tak selalu membuat ia tak tesenyum akan manisnya kehidupan dunia.
Pasir putih awan pun putih, seputih hati darinya Dari lisa. Secantik bunga tulip seindah lukisan, itu lah gambaran darinya.
Sungguh kecantikan yang selalu terpancar darinya.
Musim ini penuh dengan cerita di dalammnya november terasa mulai dingin, menusuk kulit hingga ketulang.
Jalanan kini mulai dipenuhi dedaunan, petugas selalu membersihkan daun-daun yang berjatuhan, ini bukan lah karena musim gugur sebab negara ini tak lah ada musim itu.
Tak, tak, tak.
Bunyi ia memukuli tongkatnya ke sisi trotoar. Menghitung setiap langkah kakinya.
1,2,3 dan seterusnya.
Memakai baju yang begitu tebal karena angin dingin kini beryembus di sekitar kota pesisir itu.
Setiap waktu di kala senja datang ia selalu menyempatkan diri untuk menikmati senja walau tanpa bisa melihat senja yang begitu indah dengan kedua matanya.
Menghembuskan nafas setiap kali ia termenung di bangku itu, menghirup udara lautan yang menyegarkan, sembari menunggu senja datang di pantai itu.
"Apakah kamu ingin melihat senja".
Ucap peria itu, dan dibalas angukan dari nya, kemudian peria itu ikut duduk menemaninya melihat senja di sore itu, lalu mengabari betapa indahnya senja itu.
Tak pernah bosan akan keindahan senja walau pun hanya dengan kata-kata yang di ucapkan peria itu kepadanya.
"Semua nampak sama namun, sebenarnya ini berbeda dari yang kemarin".
Ucap peria itu kepadanya.
Memaknai senja tak lah sama setiap waktunya, kadang senja itu penuh dengan makna didalam dirinya.
Lisa begitu lah ia selalu tak bosan akan keindahan senja, walau pun hanya dengan kata-kata.
"kamu tau lisa kamu itu cantik".
Ucap peria itu dengan begitu datar kepadanya, namun lain halnya dengan lisa ia menangapi perkataan peria itu dengan sedikit malu-malu mukanya memerah.
Namun ia...
Jika saja ini (matanya tak buta) mungkin ia yakin akan perasaan dalam dirinya.
Senja datang peria itu pun kini mengabari apa yang ia lihat kepada lisa, mendengarkan apa yang peria itu katakan pada dirinya dengan begitu seriusnya ia mendegarkannya.
"Kak...!" seru adiknya memanggil namanya beberapa kali, namun baru di tangapi oleh nya sesaat kemudian.
"apa yang kakak pikirkan?". Tanya adiknya, namun hanya dijawab dengan senyuman oleh diri-nya.
Semakin lisa merasakan kesenangan ini semakin ia takut akan sebuah kehilangan, ia takut waktu itu terulang lagi.
Kebahagian?
Kamu akan mengerti arti kebahagian saat kamu kehilangan-nya.
Semakin memikirkan itu semakin sakit rasanya akan kata perpisahan.
Membuat diri nyaman didekat-nya kadang kita melupakan arti dari ucapan perisahan di masa yang akan datang.
"Aku sayang ayah dan ibu".
Terlalu merasakan kebahagian kadang membuat lupa akan sebuah kesedihan yang akan merengut semua kebahagian itu dari diri kita.
"Aku dapat nilai 100 loh ayah".
Membuat terasa sangat menyakitkan jika terus memikirkan-nya.
"Aku pintarkan ibu?".
Terasa dihempas oleh ombak lautan yang ganas.
"Ibu! Aku boleh bantu ibu?".
Rasa penyesalan akan masa lalu terus menghantui setiap harinya.
"Ayah! Ayah. adalah ayah terbaik didunia".
Sangat sakit, sungguh sakit.
"Adik, kakak sayang adik".
Menutupi itu dalam kebisuan, tanpa banyak bicara, bersikap dingin, padalah hati sangat sakit atas semua itu.
"AYAHHH...!!! IBUUU...!!!".
Tak bisa dipungkiri ini semua adalah kenangan yang menyakitkan, ingin sekali ia melupakan-nya namun jika ia melupakan ini semua sama saja menghapus kenangan yang sangat berhagia bagi dirinya.
Langakah kaki tak beraturan, ia begitu terpuruk akan hal ini.
Bagai mana tidak, ditinggalkan oleh orang yang sangat ia kasihi tak halayal harus membuat dirinya terpuruk dan selalu mengenang masa lalu yang begitu sangat menyakitkan, namun saat ia melihat adiknya, diwaktu dulu (dimana ia masih bisa melihat) membuat dirinya melupakan kenangan itu lalu tersenyum penuh bahagia.
Senja penuh arti bagi-nya, dimana senja adalah pengakhir hari yang sangat melahkan bagi-nya, dan juga pertanda bahwa masih ada harapan untuk memulai hari esok yang lebih baik untuk dirinya.
"Jari-jariku terasa sangat tak nyaman".
Duduk dengan seorang peria yang tak ia kenal bahkan tak tau bagai mana rupa sang peria tersebut.
Namun ia cukup percaya bahwa peria itu baik. Menikmati senja dengan peria tersebut, Bercerita tentang hidup mereka masing-masing.
Ini seperti sebuah ikatan yang dalam antara mereka berdua, memaknai setiap kali senja datang.
"Aku diwaktu itu tak bisa mengepalkan tanganku".
Dalam gelap ia selalu bertukar cerita dengan peria itu, membicarakan masa lalu yang indah, penuh kenangan yang berarti bagi-nya, betapa manja-nya ia dengan kedua orang tua-nya.
"dan aku tak sanggup menopang tubuhku".
Ia lisa tak seperti dulu, selalu ceria penuh dengan tawa bahagia, si kecil manis dengan senyuman yang begitu manis juga, kini ia dingin bagai bongkahan es yang cukup besar menutupi diri-nya.
"Aku tak biasa lagi berucap satu kata pun".
Namun kini bongkahan es itu perlahan mulai mencair karena kehangatan sang peria itu, bercerita kepada-nya (lisa) bagai mana memaknai hidup ini, walau ia dan lisa tak jauh berbeda dalam kehidupan yang mereka jalani.
***
Dikucilkan teman-temananya, membuat ia benci akan kata pertemanan.
Ia mengunci hatinya dan seakan tak ada rasa dalam diri-nya, selalu mengurung diri dalam kegelapan masa lalu.
Selalu saja ia menoleh ke belakang, melihat masa lalu yang begitu gelap.
"Kamu masih ada aku".
Namun itu hanya lah sebuah kalimat, yang tak bisa menghalangi takdir dari-nya.
Pergi meninggalkan diri-nya dalam rasa penyesalan ia selalu terbawa akan rasa penyesalan itu.
Kemana ia pergi pasti akan selalu ada rasa penyesalan mengikuti diri-nya.
"Aku tak bisa..."
Coba bangkit dari keterpurukan itu, namun semua tak semudah yang ia pikirkan.
Penyesalan tetap ada dalam diri manusia sampai kapan pun tak kan pernah hilang, namun untuk tak larut dalam rasa penyesalan adalah hal yang perlu dilakukan oleh nya, dan juga oleh lisa.
Semua ini tak begitu berarti bila tak ada pertemuan dari kedua-nya.
Duduk bersama di bangku panjang menghadap lautan lepas, melihat senja yang perlahan menghilang dalam lautan biru.
Melihat lukisan yang tuhan cipta kan adalah hal yang sangat membahagiakan bagi kedua-nya.
"Semakin aku menikamati ini aku semakin merasakan betapa menyedihkan-nya sebuah kalimat perpisahan, karena aku pernah merasakan itu".
Ucap peria itu kepada lisa.
"Sama aku juga pernah mengalami hal itu, namun untuk sekarang aku yakin perpisahan tak lah selamanya menyedihkan".
Kini lisa dan peria itu sedikit tersenyum dengan senja yang terbenam dalam lautan biru.
Menyuhadahi hari ini, dalam malam yang begitu gelap tanpa bintang yang bebinar dilangit malam.
Menyambut pagi dalam senyum yang begitu lebar.
Membawa secercah harapan dalam dirinya...
"Aku hanya bisa mengenang waktu itu, yang kini terus menjauh dari ku.
Harapan ingin bisa melihat masih ada dalam diriku, namun jika ia tak menghendaki-nya apa boleh buat, cukup tersenyum akan takdir yang ia berikan, jika aku harus terus dalam penyesalan bagai mana mungkin aku bisa melangkah kedepan dan menjalani ini dengan sebagai mana seharusnya ku lakukan".
Bagi-nya kini cukup hanya menjalani ini saja menjalani cobaan dengan penuh ketabahan, ingat! Hidup tak akan selalu sama setiap harinya.
Jentikan jari nan gemulai, senandungkan lagu, dengan peria itu mendengarkan senandung dari-nya, dari lisa.
Perlahan-lahan senja menghilang di balik lautan biru.
Semua tak ada beda dalam kegelapan itu, ia tesus berjalan menjalani kehidupan ini, selalu bercerita kepada peria itu. Daun-daun mulai bejatuhan terhembus angin kencang jatuh di atas kelapanya.
"andai saja..."
Mekmati seja dalam setiap kata begitu lah ia.
15 desember angin begitu kencang berhembus.
Lautan ini begitu berombak
penuh dengan suara deruan ombak tenangkan jiwa dalam hati yang merana.
Matahari mulai terbenam namun masih terasa begitu hangat.
"Aku selalu dalam hal yang sama, selalu merasa sepi dalam dunia ku".
"menyambut pagi tanpa senyuman, aku terus dalam hal itu".
"apa yang dikatakan itu benar, maksudku penyesalan tetap berada dalam kata akhir perbuatan".
"Walau aku terus menguatkan diri untuk tak larut dalam penyesalan".
"Namun ia terus ada dalam setiap tindakan ku".
Hujan mulai turun mereka berteduh di sebuah tempat yang begitu kecil.
Angin tak behenti berhembus, membuat disekeling menjadi dingin.
Mandangi hujan yang tak kunjung berhenti.
Berpikir akan apa yang terjadi.
"Huh...!".
hembusan napas ketelapak tangan lalu mengusap kedua telapak tangan.
Jalan begitu sepi luas memandang dunia namun ia tak begitu, hanya lah peria itu sendiri yang bisa memandangi ini.
Adakah ini tak begitu seperti ini, dalam suara tetesan air hujan, angin yang berhembus kencang, atau pun kesunyian ini.
"Mungkin hujan tak akan berhenti dalam waktu dekat, biskah kita pulang saja?".
"Tapi..."
Belum sempat ia meneruskan bicara, tiba-tiba tubuhnya digendong peria itu di punggung.
Melewati hujan yang begitu derasa peria itu mengendongi dirinya, menyusuri jalan yang pernah ia lewati bebarapa waktu belakangan ini.
"Kita sudah sampai, sebaiknya aku pulang dulu". Ucap peria itu, namun ia cegah dengan menarik pelan baju peria itu.
"bukankah lebih baik kamu memberisihkan diri dan menganti pakaian basah mu, mungkin aku masih punya pakaian punya ayahku untuk kamu kena kan".
Ucap nya lalu menyuruh peria itu untuk membersihkan diri.
Hujan masih tak mau berhenti, sembari menunggu hujan redah menyeruput teh adalah hal yang tepat untuk menghangatkan tubuh.
"Maaf aku tak bisa berbuat apa-apa", ucap lisa kepada peria itu.
"Tak apa, lagian dengan begini rasa nya teh buatan ku tak terasa enak".
Menunggu hujan berhenti, atap rumah yang bocor setiap hujan melanda jatuh ke wadah penampungan, titik suara menentramkan jiwa, ia dan peria itu bercerita dalam waktu itu.
Tiba pada saat itu adiknya baru saja pulang, dengan pakaian yang setengah basa.
"Eh... Ada tamu rupanya".
Ucap adiknya lalu melangkah pergi dari mereka berdua.
Hari berganti semua tetap sama, tak ada beda.
Eloknya alam mampu membuat kebahagian bagi siapa saja yang bersukur atas semua ciptaan-nya.
"Jangan berpikir semua tak berubah".
Mungkin kata itu seperti sebuah kata yang tak ada arti.
"Jangan katakan tidak, disetiap penyesalan".
Apa yang ada tak akan berpengaruh.
"Coba bangkit dari ini".
Ucapan begitu mudah dari pada tindakan.
"Jangan larut atas yang sudah terjadi".
Semua lagi-lagi tak ada yang berubah, sedikit pun!
"Aku bisa, namun..."
Bagai lampu yang kehipangan daya, begitu lah dirinya, dulu begitu bercahaya, menerangi setiap apa yang ada disekitarnya, kini lampu itu mulai redup makin redup.
"Dalam hal itu aku masih saja ingin berubah, namun aku tak begitu kuat untuk itu".
Langit biru, awan begitu putih, burung-burung terbang di atas sana.
Menukik lalu terbang lagi, dalam warna biru dan putih begitu indah untuk dipandang.
"Mencoba untuk bangkit, namun terjatuh lagi".
bisakah?
"Kamu..., Dan aku tak lah sama".
Tanggal 12, hari minggu.
Mereka bejanji untuk bertemu ditempat biasa, "Apakah aku telat?".
Ucap lisa dengan tongkat memukul sisi jalan.
Tiba-tiba tangan nya ada yang meraih begitu lembut menuntun dirinya berjalan menyusuri jalanan.
"Kamu tak telat kok".
Ucap peria itu tersenyum padanya, berjalan dengan langkah santai mereka menyusuri setiap jalan.
Berhenti di sebuah tempat yang tak dikenali, sebuah rumput terhampar begitu luas, duduk di bawah pohon besar, sejuk menyegarkan diri.
"Dulu aku pernah kesini bersama kedua teman ku diwaktu kecil".
Ucap peria itu membuka obrolan di waktu itu.
"Namun yang satunya sudah tiada dan yang satunya entah kemana".
Mengenang masa lalu, yang begitu indah disini, tiba-tiba daun jatuh di kepalanya, lalu ia ambil daun itu.
"Aku teringat saat itu".
Memengangi daun itu, dan melihat dengan membolak-balikan sisi daun yang dipegang nya itu.
"Saat itu mereka tersenyum bahagia kepada ku".
Selonjorkan kaki, sandarkan tubuh dipohon rindang itu, melirik keatas pohon, cahaya matahari menembus dibalik dedaunan lebat itu dan menyilaukan matanya, lalu tanganya menghalangi cahaya yang menyilaukan matanya itu.
"Mereka adalah teman terbaik ku".
Ucapnya lalu mengarahkan tatapanya ke lisa.
"Aku masih ingat apa yang diucapkan oleh salah satu dari mereka".
Sambungnya lalu tanganya diletakan diatas kepala lisa.
"Daun jatuh secepat angin itu sendiri".
Tiba-tiba saja lisa menoleh kearah suara peria itu, wajahnya sedikit terkejut lalu ia tundukan kepalanya, dan menagis entah apa yang ia tangisi itu.
"Maaf..."
Ucap ia lisa kepada peria itu.
"Tak perlu minta maaf, ini bukan salah mu".
"Jadi selama ini kamu adalah edo?".
Tanya lisa dengan keraguan dihatinya.
"ya. Kita selalu kesini sewaktu masih kecil, waktu itu umur kita masih 10 tahun wajar saja kamu tak mengingat nya lagi. Dan dia juga tak lagi bisa bersama".
Tertunduk lesu, lalu menatap hamparan rumput hijau begitu luas, sesekali melihat lisa yang tak pernah berubah dari wajah nya itu.
"Dia mengalami sakit kangker, saat kami masuk SMA ia sudah tak kuat lagi dengan sakit yang ia derita, dan akhirnya ia menyerah, dan sebelum itu ia berpesan untuk menemui mu, mulai nya aku tak tau dimana aku harus menemui mu, lalu tuhan masih mengizinkan ku untuk bertemu dengan mu".
Perlahan tangan lisa meraih wajah peria itu walau ia tak tau pasti dimana letaknya, namu. "Akhirnya aku bisa dengan tepat menyentuh wajahmu tanpa banyak mencoba".
Ucap lisa kini dengan senyum penuh ketulusan.
"Apakah kamu masih mengingat tentang orang yang kamu cintai, maksudku tentang cinta antara wanita dan laki dalam artian sesunguhnya?".
edo tertegun mulutnya sedikit menganga lalu kini ia mulai tersenyum, meraih tangan lisa, dia arahkan tangan lisa ke dadanya merasakan detak jantung dalan dirinya.
Meraksakan itu perlahan-lahan lisa tarik tanganya dari dada edo.
Seakan ada pikiran dalam dirinya, cukup lama ia diam tanpa berbuat apa-apa.
"Aku tak harus begini". Ucap dalam hatinya.
"jika benar, tolong hapuskan rasa ini".
Bentrokan dalam diri tak bisa dihindarkan.
"Tak mungkin, ini salah kan?".
"Tak usah terbenani dengan apa yang aku ceritakan itu".
Ucap edo menghapus kesunyian di waktu itu.
"Dia bukan lah cinta pertama atau orang yang aku cintai". Ucap nya lagi.
"Bukankah kamu sudah tau jawabnya? Di waktu kecil dulu siapa yang aku cintai?".
"kamu bohongkan?".
Sedikit ada rasa yang mengganjal dalam dirinya sebab itu ia menanyakan pertanyaan ini.
"Kayaknya cinta pertama sulit untuk dilupakan".
Balas peria itu dengan begitu terpana akan lisa.
"untuk apa aku mengejar mu hingga sampai sejauh ini bila aku tak benar-benar mencintai mu".
"Dan..."
Kini ucapan itu tak ia teruskan, memejamkan mata dalam setiap terpaan angin kewajahnya, merasakan angin mengelitik kulit wajah.
"Ini terserah pada mu, kamu mau berkata apa pun. Namun tentang perasaan ku aku jamin ini tak sedikit pun bohong".
Tegasnya kepada lisa, mengengam tangan lisa ia menantikan jawaban dari setiap kata yang keluar dari mulut lisa.
"Apakah ini tak begitu cepat?".
"maksudku cerita kita apakah sependek ini?".
Peria itu pun tertawa mendengarkan pertanyaan nya.
Lalu memeluk tubuhnya dengan erat, tak terasa lisa mengeluarkan air matanya, menagis terharu sekaligus bahagia, pejamkan mata dalam hangatnya pelukan itu.
"Bisakah begini sebentar?".
Ucap peria itu meminta lebih lama lagi dalam pelukan hangat itu.
"Kita tak kan berpisah lagi bukan?".
Tanya nya lagi, dan dibalas dengan pelukan kencang dari lisa.
"Mungkin". Jawab lisa dalam pelukan itu.
end...