"Aku sadar ... aku enggak pantas sama kamu."
"Kamu ngomong apa? Aku sudah kasih---"
"Iya, kamu sudah kasih segalanya. Tempat nyaman. Aku enggak pantas dapat itu semua."
"Kalau bukan kamu terus siapa?"
"Siapa pun asal bukan aku. Bahkan aku saja enggak pantas ngomong begini. Aku enggak pantas untuk apa-apa."
"Kamu depresi."
"Ahahaha, mungkin. Aku pengin keluar, jalan-jalan."
"Ke mana?"
"Entah, memang aku tahu seluk beluk kota ini? Aku bukan orang sini. Paling nyasar. Biar saja ... hilang."
"Tidur!"
"Tapi aku enggak ngantuk."
"Kenapa tertawa? Tidur!"
Kami saling sahut-sahutan. Berbicara cepat seperti berusaha memotong ucapan satu sama lain. Kacau. Ditambah aku tidak stabil, rasanya dalam campur aduk. Awalnya berbicara sembari menangis, lalu tertawa. Menangis lagi. Sampai pada akhirnya, aku disuruh untuk istirahat.
Dia memelukku, erat di atas kasur dengan tatapan tajam. Aku ketakutan tetapi justru tertawa. Aku sadar, ada yang salah dengan diriku. Berkali-kali menolak, tapi dia tak henti memintaku memejamkan mata. Tidur. Tidur. Tidur.
Aku memejamkan mata, mencoba benar-benar untuk tidur meski kepala ini menolak. Berat seperti terjun ke ruang hampa. Bagaimana cara tidur dengan kondisi seperti ini? Lama waktu berlalu, akhirnya dia melepas peluk untuk pergi. Mungkin untuk bekerja karena PNS. Namun satu hal, mengunci pintu rumah dari luar. Aku tahu, karena belum sepenuhnya tidur.
Depresi, entah apa penyebabnya, hingga di usia ke dua puluh dua ini pun tetap tak tahu. Mungkin Eccedentesiast. Berakhir dengan perasaan tidak layak, tidak pantas, dan hasrat untuk mengakhiri. Kenapa bisa sampai seperti ini?
Aku sendiri tidak yakin tetapi sudah mengumpulkan beberapa kemungkinan: perceraian, perebutan hak asuh, broken home, kurangnya perhatian dan pengawasan, dianaktirikan, dikekang, dijauhkan, dibuang cita-citanya, diktator, tidak didengarkan, tidak diapresiasikan, pelecehan seksual, diasingkan, sendirian, kesepian, sendirian, sendirian, sendirian.
Perasaan itu kembali merasuk, mengacak-acak emosi sehingga menimbulkan distorsi nan menghanyutkan segala negatif tak terbendung. Keinginan orang-orang menjadikan aku sebagai manusia sempurna berakhir dengan aku yang pecah kemudian mengerang peluh dalam kesepian dan pedih tertahan. Hingga berakhir menutup amarah, memendam semua itu dalam diri. Untuk apa diutarakan? Siapa jua akan mendengar?
Bagaimana mungkin bisa tidur dengan kondisi seperti ini. Kepalaku sakit. Kacau balau bak otak mendidih dan iblis-iblis berteriak di kanan kiri. Wasiat, wasiat, wasiat. Tanpa pikir panjang aku bangkit dari kasur, memikirkan berbagai macam cara untuk menyudahi ini semua. Namun, semua itu terasa menyakitkan. Aku tidak mau mengakhiri dengan nyeri karena hidup sendiri sudah pedih. Ada satu cara dan itu harus keluar rumah---ah, buat mereka berhenti! Mereka ...!
Masa bodoh, aku tak tahan!
Membanting pintu, aku berlari ke kamar sebelah. Masih berantakan dengan kardus-kardus menumpuk. Kita baru saja pindah rumah. Tak mengindahkan, aku membongkar seluruh muatan. Perlu pulpen, aku memerlukan pena untuk menulis. Ketemu, ada satu kotak pulpen warna warni. Aku memilih warna merah.
Jantung berdebar. Kali ini seperti sesuatu memeluk punggung, sesak. Namun, tak ada siapa pun di sini. Hanya aku, sendiri dan akan selalu sendiri. Kali ini aku memerlukan kertas. Tidak menemukan secarik untuk menulis. Di buku nikah? Yang benar saja, itu penuh dengan foto. Koran? Tidak mungkin.
Kamar seperti kapal pecah atau bahkan pesawat jatuh lebih rapi dari pada ini. Bola mataku berputar cepat beberapa detik, tetapi itu berhasil membuatku makin panik ditambah beberapa bayang hitam yang kilas muncul di tiap sisi.
Yang terjadi kemudian aku menemukan memo kecil ketika dulu terasingkan. Membuka-buka acak untuk mencari lembar kosong, ada banyak gambar di dalamnya. Hal yang membuatku makin panas ... gambar itu lucu, imut; seolah mengejek.
Akhirnya aku mencoba membuka lembar pertama, judul besar dengan banyak hiasan di sana. Pelangi, awan, kepala kucing, bintang kelap kelip. Naif sekali. Namun, seperti menggelitik dalam hati.
'Bukalah', aku penasaran dengan apa saja yang kutulis dulu.
Berisi tujuan harian, target tiap minggu, pengingat, dan beberapa nasihat. Cobalah bersabar dalam berbagai hal. 'Dengan kesabaran, Tuhan akan mengangkat derajatmu di surga. Bersabarlah dalam mencari ilmu. Bersabarlah dalam menghadapi cobaan. Jangan pernah memikirkan hal negatif yang kamu dapat dari cobaan, tapi lihatlah sisi positifnya. Jika kamu kehilangan, jangan lihat apa yang hilang, lihat apa yang masih ada. Sabar adalah hal yang sangat sulit, tapi mulia.'
Bersabar? Sampai kapan?
'Ingin menyerah? Menyerah saja! Tetapi apa setelah menyerah ... akan lebih baik?'
Terus hidup dengan penuh tanggung jawab dan konsekuensi padahal diriku tak mampu. Aku lemah, kosong, sangat lelah terdorong ke sana sini.
'Mungkin, perjalanan hidup memang seperti ini. Tidak bisa kita saling membandingkan. Namun, akuilah keberadaanmu bahwa kamu mampu. Kamu bisa.'
Dunia tempat kita tinggal adalah tempat yang melelahkan. Meletihkan. Tidak berterima kasih. Tak ada henti untuk terus mencoba, bahkan tidak ada imbalan. Aku lelah ... terus hidup. Lelah akan ketidak pastian. Lelah dengan abu-abu. Lelah menjadi manusia.
'Sebab, itu adalah proses. Nikmati perjalanannya.'
Apa kegunaan dari terus berjalan? Aku tak menemukannya. Aku selalu mencoba, berusaha untuk kembali melangkah. Namun ....
'Coba hidup untuk sesuatu yang menurutmu berharga. Tata niat, prioritas, kemauan. Orang bisa sukses dengan tidak menyerah. Jika ingin menyerah, tunggu dulu, impian masih menunggu di depan.'
Impian? Kenapa aku harus mengejar impian jika menyusahkan orang lain? Bahkan aku sendiri belum melihat apa kegunaan diri ini. Menyusahkan. Tidak bisa memenuhi keinginan mereka atau terus bertahan dengan penuh konsekuensi. Seharusnya mereka bisa mendapatkan yang lebih baik dari pada aku di sisi.
'Kita ini manusia dan manusia itu makhluk sosial. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, bukan menyusahkan. Coba tanya orang di sekitarmu, mereka pasti memerlukan kamu di sana.'
Seketika dalam kepala berputar kejadian ketika aku menulis kata tersebut. Sendirian---tidak, memang aku di tempat asing, tetapi di sana aku berbaur dengan orang lain. Mereka ada yang peduli. Ketika aku terlalu stres hingga timbul penyakit aneh tak bisa disembuhkan, mereka ada untuk memberi dukungan.
Menorrhagia, pendarahan terus menerus selama tiga tahun. Penyebabnya adalah kanker rahim. Nyatanya, ketika diperiksa rahimku bersih; sehat; subur; tak ada masalah. Lalu dokter mengambil kesimpulan lain, stres sehingga hormon menjadi tidak stabil. Bayangkan bagaimana rasanya ketika dalam sehari kamu mengeluarkan darah sebanyak satu liter lebih dan itu berlangsung selama tiga tahun. Penyakit ... membunuhku perlahan.
Transfusi darah, terapi, obat, adalah makanan sehari-hari. Anehnya aku tidak putus asa. Di saat itu aku tidak menyerah dan itu terbukti dari masih hidup hingga sekarang. Apa yang membuatku bisa seperti itu? Apa hal yang menjadikan aku tegar? Di saat begitu terjepit dan harapan hidup sedikit ... aku tidak menyerah.
Terus membuka lembar, sampai pada kisah hidup orang yang mencuri karena kelaparan, tetapi dia urungkan. Ternyata, rumah yang akan dicuri ... adalah istrinya kelak. 'Ini menunjukkan jika kita bersabar dalam menghadapi cobaan, Tuhan akan membalasnya bahkan memberi lebihan yang tak di sangka-sangka.'
Bersandar pada dinding dan tidak sadar aku sudah merosot ke lantai. Tanganku hati-hati membalik lembar demi lembar dengan masih memeluk lutut. Ingatan-ingatan itu mulai meluncur. Bagaimana aku yang begitu antusias mengejar cita-cita--bahkan menulis langkah apa yang harus aku lakukan--dengan seseorang untuk diajak susah bersama, saling menasihati, dan mengingatkan.
Seseorang ... menemani.
Sekarang aku kehilangan mereka---tidak benar! Ada, itu jelas adanya. Aku saja yang terlupakan oleh tekananku sendiri. Suami selalu memberikan hal yang bisa menyenangkan diriku, walau aku tak meminta; walau mengalami kritis uang; walau terjepit, dia selalu menyempatkan untuk diriku.
Aku saja yang lupa sebab setan-setan menggelayuti, memberikan rayuan maut mereka untuk berpaling. Rasa tertekan dan mencekam hingga lupa ... lupa akan kebaikan yang aku dapatkan; lupa seberapa keras orang-orang berusaha menahan diriku; lupa usahaku untuk terus bangkit; lupa akan dirinya yang susah jika aku tidak ada.
Yang aku perlukan adalah pengingat dan orang untuk bisa diajak bersandar.
'Jika kamu lupa, bacalah ini! Dunia memang kejam, menyakitkan. Itu mengapa bintang, bulan, dan matahari tidak ingin hidup seperti manusia. Dunia ini ingin membunuhmu, maka dari itu kita harus melawan! Dan menangislah, kapan pun kamu mau.'
Seketika aku merasakan basah pada pipi. Air mata ini mengalir tanpa permisi. Aku terus saja membuka lembar. Lalu ada tulisan tentang keinginan aku setelah melewati berbagai rintangan yang ada. Hasrat untuk terus menuntut ilmu. Cita-cita dan tujuan hidup ... agar tidak berhenti di tengah jalan.
"Menangis saja." Dengan mengigit tangan sendiri aku menoleh ke asal suara. Suamiku pulang, lebih awal. Kenapa? "Menangis saja, jangan ditahan."
"Enggak mau, tapi---"
Seketika dia memelukku. "Kebiasaan suka menahan diri. Apa yang membuat kamu begini?"
"Karena aku ...." Belum lengkap menyelesaikan kata, tangisku sudah pecah. "... Terbiasa sendiri."
Aku melihat ada anak kucing nyembul di belakangnya, mengingatkanku mengenai animal therapy.
Rasanya sesak, ketika dia mulai membelai rambutku.
Sakit hingga tercekat pun napas memburu.
Namun ... lega.
Aku menangis sejadi-jadinya. Pertama kali dalam seumur hidup, menangis sebegini kencang di depan orang lain.
"Karena tidak ada yang mau mendengarkan." Di rengkuhnya aku makin erat.
Seseorang untuk di ajak bersama, tempat bersandar ketika lelah. Maka tidak akan lagi merasa kesepian meski hanya ada satu orang di sampingmu.
Menulis ... memang bisa menjadi obat. Obat jiwa. Pengingat di saat keterpurukan.
Ketika waras, aku selalu memberikan nasihat. Itu akan berbuah manis untuk orang lain. Dan diriku.
Menangis lagi.
Lebih kencang.
Aku tercekik oleh napas sendiri.
Engap-engap.
Menangis dan berteriak.
Jantung berdebar.
Namun, renggang dalam dada.
Hanya perlu ... melepas, yang menusuk perlahan.
-------------------------------------------------------------------
Eccedentesiast adalah penyakit dari diri seseorang yang pintar dalam menyembunyikan kesedihannya dibalik senyuman mereka. Mereka yang tetap tersenyum, meskipun senyumannya palsu dan menyembunyikan banyak hal antara lain: depresi berat, traumatis, hingga luka yang sukar sembuh dalam hatinya tanpa menunjukkan kesedihan pada orang lain. Cenderung bisa menyelesaikan masalah orang lain tapi tidak dengan masalah sendiri. Biasa berujung tertekan ketika sendiri.
Menorrhagia adalah keluarnya darah menstruasi secara berlebihan atau dalam jumlah yang terlampau banyak. Selain terlalu banyak darah yang dikeluarkan atau masa perdarahan yang cukup lama, haid berlebihan juga bisa disertai gejala lainnya, yaitu rasa nyeri. Akibatnya, pasokan oksigen terhenti dan menyebabkan munculnya rasa sakit. Selain itu, beberapa gejala lainnya seperti tanda-tanda anemia, merasa lemas, atau napas pendek juga dapat dirasakan.