Tokoh : Lely, mama Lely, Mbak Sum, Mbak Juminten, pak Budi, Tyo, Arif, Laras, Ahmad.
____________________
____________________
Bruakk.....
Pagi itu saat aku hendak pergi ke sekolah, terdengar bunyi tabrakan tak jauh dari rumahku. Karena rumahku di pinggir jalan raya, maka kejadian tersebut bukan sesuatu yang aneh bagiku.
Mbak Sum yang bantuin mama di rumah langsung keluar ingin melihat kecelakaan tersebut.
Kulihat dari dalam rumah, tampak semua orang berlarian mendekati TKP. Karena buru buru berangkat ke sekolah, aku abaikan kecelakaan itu.
Sampai di sekolah, langsung saja ku hampiri Laras, sahabat yang sebangku denganku. Aku mau pinjam buku PR, mo nyontek ceritanya. Karena ada beberapa soal yang tidak bisa aku selesaikan di rumah.
Beberapa saat kemudian..
Tyo,si ketua kelas datang dengan nafas yang memburu. Teman teman lainnya yang melihatnya menjadi heran, begitu pula denganku.
"Kamu kenapa Yo.." tanya Arif merasa aneh dengan ketua kelas itu.
"Ngeri deh..sumpah! Kasihan banget sebenarnya!" jawab Tyo duduk di bangkunya dan meletakkan tasnya di atas meja.
"Memang ada apa? apanya yang ngeri?" tanya Arif lagi. Teman teman yang lain pada menyimak. Aku yang sudah selesai menyalin PR, akhirnya kepo juga.
"Tadi ada kecelakaan tragis di dekat rumah Lely. Kamu tau gak Lel? barusan kok!" Tyo pun memandang ke arahku. Aku hanya mengangkat bahuku.
"Tadi sebelum berangkat sekolah memang ada kecelakaan di depan rumah. Tapi aku gak liat karena buru buru ke sekolah! Lagipula kecelakaannya ada di sebelah Utara. Jadi aku tidak melewatinya" jawabku enteng, karena memang aku gak seberapa penasaran dengan kecelakaan yang sering terjadi di jalan depan rumahku.
"Ngeri banget tau gak? korban meninggal di tempat karena kepalanya pecah!" jelas Tyo.
"Kamu liat gak?" tanya Laras temanku yang PR nya aku contek.
"Ya liat lah! mayatnya masih di tengah jalan dan ditutupi koran. Tapi masih kelihatan, darahnya berceceran di mana mana. Ngeri pokoknya!"Tyo memegang tengkuk lehernya yang berkeringat itu.
🌸🌸🌸
Sepulang sekolah..
Aku lihat jalanan di depan rumahku agak sepi. Segera aku parkir sepedaku di samping teras rumah. Aku pun keluar halaman dan berdiri di trotoar jalan, melihat bekas kecelakaan tadi dari depan rumahku.
Ada gundukan pasir menyebar di aspal. Sepertinya darahnya memang berceceran seperti yang dibilang Tyo. Karena penasaran, aku langsung kembali ke rumah dan mencari Mbak Sum. Pasti Mbak Sum tau kejadiannya.
"Mbak Sum mana Ma?" tanyaku yang hanya melihat mama sendirian sedang menonton drama kesayangannya.
"Mama suruh mengantar adik kamu les nari. Ada apa? tumben baru datang langsung nyari Mbak Sum?" tanya mama pingin tau.
"Cuma penasaran saja sama berita kecelakaan tadi pagi di depan warung pak Budi. Di sekolahku semua pada heboh dengan cerita itu, aku yang rumahnya di sini malah gak tau apapun." ucapku. Kali aja mama tau beritanya.
"Memangnya ada kecelakaan tadi pagi? kok mama gak denger apa apa?" Mama tampak berpikir.
" Terang saja, kan mama dari subuh sudah di rumah Tante Maya!" jawabku mengingatkan mama. Mamaku ini orangnya mudah lupa, jadi gak heran lagi deh.
"Lha kamu sendiri kemana sampai gak tau ceritanya?" tanya mama lagi.
"Tadi pas tabrakan aku denger suaranya. Karena buru buru ke sekolah,jadi gak ngikutin beritanya! tapi Mbak Sum tadi itu langsung lari melihat kesana. Pasti Mbak Sum tau jelas cerita kecelakaan itu!" ucapku sembari menuju kamar hendak mengganti seragam sekolah.
Tak lama kemudian..
Saat aku sedang makan siang, kulihat dari jendela Mbak Sum sedang memarkirkan motor matic nya. Aku yang sudah tak sabar ingin tahu cerita kecelakaan tadi pagi, dengan cepat menyelesaikan acara makan ku.
"Mbak Sum sini bentar!" lambai ku pada Mbak Sum yang baru saja masuk rumah lewat pintu samping.
"Iya mbak ada yang bisa saya bantu?" jawab Mbak Sum gugup. Mungkin takut karena setiap aku panggil pasti mendapat kritikan tajam dariku. Makanya Mbak Sum selalu menjauh jika tidak ku panggil.
"Apa yang terjadi dengan kecelakaan tadi pagi? kenapa semua orang pada heboh?" tanyaku ingin tau.
"Oh itu! Jadi begini Mbak..buk.." Mbak Sum mulai menceritakan kecelakaan yang terjadi tadi pagi.
Seperti yang diceritakan Tyo tadi di sekolah.
"Dan Ibu tau tidak, siapa yang menjadi korbannya?" ucap Mbak Sum lagi.
"Memangnya siapa Mbak?"aku pun semakin penasaran.
"Penjual jamu gendong,Mbak Juminten!" jawab Mbak Sum.
"Apa? Juminten tukang jamu langganan saya?" mama pun terkejut. Aku lebih terkejut lagi karena teriakan mama.
Cerita dari mbak Sum membuatku bergidik ngeri. Apalagi ternyata korban adalah tukang jamu langganan kami. Dua hari sekali Mbak Juminten mampir ke rumah menawarkan jamunya. Dan harusnya hari ini Mbak Juminten datang menjual jamu gendongnya.
🌸🌸🌸
Malam harinya...
Waktu masih menunjukkan pukul 23.15 WIB. Aku merasakan sesuatu yang aneh malam ini. Karena gak bisa tidur, aku pun berdiri hendak keluar kamar.
"Tok tok tok.."
Terdengar ada yang mengetuk jendela kamarku, padahal aku hendak membuka pintu kamar. Tanpa ada curiga, aku diam sejenak mendengarkan ketukan itu.
Sunyi..
Suara itu sudah menghilang. Aku pun bergegas mencari mama di kamarnya. Entah kenapa tiba-tiba saja aku jadi ketakutan.
"Mama.." ucapku terbata bata karena masih deg degan.
"Ada apa Lely?" tanya mama membukakan pintu kamarnya.
"Malam ini Lely tidur sama mama boleh ya?" aku pun memohon pada mama agar malam ini diijinkan untuk tidur bersama beliau. Mama tampak terkejut dibuatnya.
"Tumben kamu ketakutan? memangnya apa yang terjadi padamu?" tanya mama lagi.
"Tok tok tok..."
Aku terperanjat kaget mendengar suara orang mengetuk pintu. Begitu juga dengan mamaku. Kami langsung menoleh ke arah pintu, kemudian saling pandang.
"Siapa Lel?" Mama pun mulai ketakutan.
"Gak tau ma..tadi juga mengetuk jendela kamar Lely." aku dan mama pun saling berpelukan saking takutnya.
" Hayo pada ngapain?"Mbak Sum menepuk bahuku dari belakang. Sontak saja aku langsung teriak.
"Aaarrrrgggghhh..." teriak ku. Mama pun ikut menjerit. Mbak Sum yang membuat kaget pun ikut ikutan menjerit.
"Dasar latah! udah bikin kaget, malah ikutan teriak!" bentakku.
" Maaf, memangnya ada apa?" tanya Mbak Sum seakan tak mengerti.
"Itu ada yang mengetuk pintu, coba kamu lihat!" perintah mama pada Mbak Sum. Mbak Sum hanya diam dalam berdiri.
"Tok tok tok.."
Lagi lagi suara orang mengetuk pintu. Kali ini bunyinya sangat keras dan berulang ulang. Dengan gaya sok berani, Mbak Sum memimpin berjalan duluan menuju pintu depan. Aku dan mama mengekor di belakang.
Papa ku kerja di luar kota, pulangnya satu Minggu sekali. Namun saat ini bukan akhir pekan, jadi tidak mungkin papaku pulang.
"Siapa?" tanya Mbak Sum sebelum membukakan pintu.
Tak ada sahutan dari luar, kami bertiga pun terdiam. Dari luar terdengar seperti langkah seseorang menyeret sandalnya.
"Tok tok tok..." suara ketukan pintu itu lagi.
"Siapa?" sekali lagi Mbak Sum bertanya. Kali ini Mbak Sum sudah siap dengan sapu di tangannya. Untuk berjaga jaga, aku dan mama mengambil tongkat dan menggenggamnya erat.
"Siapa di luar?" tanya Mbak Sum sekali lagi.
"Mbak Sum? Bu Lisa? hari ini jadwal saya berkunjung ke sini! jamunya buk?" suara nyaring dari luar itu, kami mengenalnya.
"Mbak Jum?" tanya Mbak Sum memastikan.
"Iya mbak Sum, ini jamunya sudah saya racik kan!" Mbak Sum yang tadinya sok berani akhirnya tumbang. Mbak Sum pingsan dan terjatuh di lantai.
"Mbak Sum!" aku dan mama langsung panik. Aku mengambil ponselku di kamar dan menghubungi Ahmad tetanggaku.
Alhamdulillah ternyata Ahmad belum tidur.
"Ada apa Lel?" terdengar suara Ahmad di telepon.
"Tolong ke rumahku sekarang, Kami ketakutan!" jawabku gelisah dan ketakutan.
" Memangnya ada apa?" tanya Ahmad lagi yang masih kudengar. Karena kupikir kata-kata ku sudah cukup jelas, jadi aku tidak menjawab pertanyaan Ahmad dan spontan mematikan sambungan teleponnya.
"Maaf mbak Jum, hari ini kami tidak minum jamu dulu. Lain kali saja ya?" teriak mamaku, namun tak ada jawaban dari luar. Aku dan mama pun saling berpelukan dan merapat ke dinding. Menunggu siapa pun yang mungkin mau menolong.
"Jamunya sudah saya racik Bu, silakan diminum!" Aku dan mama jadi tegang. Suara Mbak Jum seakan dekat sekali dengan kami.
Begitu aku menatap ke depan saat sebelumnya saling berpelukan dengan mama sambil memejamkan mata, kini aku bisa melihat dengan jelas Mbak Juminten menyodorkan gelas berisi jamu tepat di depan mataku. Dengan kebaya khas yang selalu dipakainya, aku bisa melihat dengan jelas wajah Mbak Jum yang sudah berantakan.
"Aarrrgggghhh.." aku pun tak ingat lagi. Semua seakan gelap. Entah apa yang terjadi selanjutnya aku tidak tau.
🌸🌸🌸
Keesokan paginya..
Aku merasa sudah sadar, namun tubuhku tak bisa digerakkan. Tubuhku seakan ada yang menindihnya, bahkan lidahku pun kelu. Ku coba sekuat tenaga untuk menggerakkan tubuhku namun tetap tak bisa. Ingin aku teriak memanggil mamaku yang kulihat berdiri di samping pintu. Sepertinya sedang mengobrol dengan seseorang di luar sana.
Ku pandangi sekeliling, ternyata aku sudah di rumah sakit. Mama akhirnya melihatku dan menghampiri.
"Kamu sudah sadar Lel? apa yang kamu rasakan?" tanya mama, namun aku tidak menjawabnya karena memang tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Aku hanya memainkan bola mataku memberi isyarat pada mama, namun sepertinya mama tidak paham. Kini mama pun menangis.
Setelah diperiksa dokter, aku dinyatakan terkena stok ringan. Alhasil, aku bolos sekolah sampai dinyatakan sehat kembali.
Kulihat papa masuk ke dalam kamar bersama beberapa tetangga, termasuk Ahmad juga. Papa terpaksa cuti kerja untuk mengurusku yang harus tinggal di rumah sakit.
"Apa kabar Lel?" sapa Ahmad. Dan aku hanya bisa diam memandangnya.
Ternyata tidak hanya aku saja yang masuk rumah sakit saat itu. Ada beberapa tetanggaku yang juga mendapat perawatan di rumah sakit. Tidak sampai di situ, ada tiga orang meninggal dunia hanya dalam semalam. Umumnya orang tua yang mungkin Syok karena melihat penampakan Mbak Juminten yang sudah tiada di pagi harinya.
Menurut cerita mamaku, hantu Mbak Juminten mengganggu setiap penghuni rumah yang ada tak jauh dari lokasi kecelakaan. Apalagi semua kenal dengan mbak Juminten dan menjadi pelanggan setia jamu gendongnya.
Kini semua telah berlalu, tiap malam dilakukan ronda bergilir di RW kami. Namun Alhamdulillah, hantu Mbak Juminten sudah tidak muncul lagi. Mungkin malam itu Mbak Juminten pamitan pada semua pelanggan tetap nya. Ada ada saja. Semoga Mbak Juminten mendapatkan tempat terindah di sisi sang Pencipta. Aamiin..
Satu bulan berlalu, Alhamdulillah kondisi tubuhku sudah mulai membaik. Aku dan beberapa orang lainnya mengikuti terapi fisik dan psikologis dari rumah sakit, agar cepat kembali normal. Satu bulan sudah aku ijin sekolah. Tentu saja ketinggalan banyak pelajaran,namun aku bersyukur karena tidak ada ujian disaat aku tidak sekolah.
Satu bulan berikutnya,aku sudah dinyatakan sembuh total oleh dokter. Aku sudah bisa diajak ngobrol dan masuk sekolah lagi. Aku sudah rindu dengan suasana sekolah dan semua teman temanku yang selalu kocak.
"Apa yang kamu rasakan saat hantu Mbak Juminten berdiri di depanmu!" tanya Tyo.
"Tyo..." teriak semua teman-teman ku di sana.
END
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya teman- teman🙏🙏
Ini cerpen perdanaku.
Like, vote dan komentarnya sangat dibutuhkan Author untuk lebih semangat lagi dalam menulis.
TERIMAKASIH 🙏🙏