Saat usia enam belas tahun kebanyakan remaja puber akan menjalin kasih berbeda denganku yang lebih memilih untuk membangun tembok besar dari para lelaki.
Aku selalu mengingat petuah ayah yang selalu berkata tegas padaku disela sela pembicaraan keluarga.
"𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚙𝚊𝚌𝚊𝚛𝚊𝚗! 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚊𝚢𝚊𝚑 𝚝𝚊𝚔 𝚖𝚊𝚞 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚝𝚎𝚛𝚓𝚎𝚛𝚞𝚖𝚞𝚜 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚑𝚊𝚕 𝚑𝚊𝚕 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚝𝚒𝚏. 𝙰𝚢𝚊𝚑 𝚝𝚊𝚔 𝚖𝚎𝚕𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚎𝚗𝚊𝚕 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚎𝚖𝚊𝚗 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚐𝚞𝚖𝚒 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚊𝚢𝚊𝚑 𝚑𝚊𝚛𝚊𝚙 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚋𝚒𝚓𝚊𝚔 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚙𝚎𝚛𝚐𝚊𝚞𝚕𝚊𝚗 𝚊𝚙𝚊𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚊𝚜𝚞𝚔𝚒 𝚜𝚎𝚔𝚘𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚗𝚐𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚖𝚊 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚗𝚢𝚊𝚔 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑 𝚜𝚒𝚏𝚊𝚝 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚒𝚔𝚊𝚙 𝚔𝚊𝚖𝚞."
Mulai masuk sekolah menengah pertama aku selalu menjaga jarak dari kaum adam. Aku menuruti permintaan ayah karena aku juga pernah membaca artikel bahwa seorang harus menjaga pandangan nya dari mahram nya.
Walau masih belum menjaga pandanganku tapi setidaknya aku menjauh dari orang yang bukan mahram ku bukan nya aku merasa alim atau sok suci tapi aku hanya menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah.
Tapi prinsipku tak bertahan lama aku gagal dalam menjaga hati sehingga aku jatuh dalam lingkaran yang kubuat sendiri terjebak dalam hal yang rumit aku berkali-kali mencoba keluar namun itu membuat ku semakin tertarik oleh daya pikatnya aku tak tau lagi harus berbuat apa.
Aku tau ini tak mudah namun aku pasrah dalam keadaan ini dan aku MENCINTAINYA DALAM DIAM.
Setiap harinya aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar melihatnya walau dalam kurun yang singkat namun dadaku merasa berdebar tat kala mata kami bertubrukan tapi aku langsung memutuskan pandangan ku takut khilaf hehe.
Aku jatuh hati pada seniorku di SMP dia mempunyai wajah lancip dengan lesung pipit di pipi nya ia mempunyai mata sipit dengan bulu mata yang lentik.
Namun sayang dia sudah ada yang punya aku berusaha untuk menghilangkannya dari ingatan ku namun itu selalu gagal kala melihatnya tersenyum meski aku tau senyum itu bukan aku penyebabnya hati itu bukan aku penghuninya dan raga itu bukan aku pemiliknya.
Rasa itu semakin bertambah setiap harinya. Tanpa kusadari semua penghuni sekolah tau bahwa aku menyukai nya setiap aku berjalan pasti ada saja kakak kelas yang memandangku sinis, mencemooh, miris dan kasihan.
Aku selalu menunduk saat ada kakak kelas yang menatapku seperti itu aku selalu takut untuk mengangkat kepalaku di depan banyak orang.
Sampai dimana aku didatangi kakak kelas yang mengaku sebagai pacar orang yang kusukai berserta para antek-antek nya.
Ia menyeret ku kebelakang toilet laki-laki mereka menghakimi ku dengan cara memaki, menjambak, menampar dan memukul. Mereka meninggalkan ku sendiri setelah mereka mengancam ku.
Dalam hati aku menjerit. 'Apakah sesakit ini untuk mengagumi hambamu ya Allah?'
Sejak saat itu aku bertekad untuk melupakan kakak kelasku tapi cara ku salah dengan melampiaskan pada rokok dan mengorbankan perasaan lainnya.
Saat tidak ada orang dirumah aku akan bersembunyi untuk menikmati sepuntung kertas berisi tembakau menghisap perlahan lalu hembuskan ke udara berharap perasaan yang kupunya dapat memudar seperti kumpulan asap putih dari tembakau tersebut.
Entah mengapa aku selalu gagal dalam melupakan nya apalagi sesudah kejadian tersebut membuatku merasa bahwa takdir seolah mempermainkan ku. Bagaimana tidak?! jika dia selalu muncul dihadapanku secara tak sengaja lalu ia melemparkan senyumnya padaku.
Rasanya aku ingin berteriak di depan mukanya sambil berkata. "MENJAUHLAH DARIKU BANGKE!!" namun itu semua tinggal angan karena setiap aku bertemu dengannya rasanya mulutku kelu tak dapat bicara bahkan untuk senyum tipis pun sulit.
Aku sampai terheran-heran dengan diriku ingin ku menjauh namun semakin menjauh semakin dalam perasaan ingin memiliki.
Dan aku hanya bisa mencintainya dalam diam aku selalu berkata pada teman temanku bahwa aku sudah berhasil melupakan nya dan aku mempunyai niatan untuk mengungkapkan perasaan ku padanya lalu menjelaskan padanya bahwa aku berhasil melupakan nya.
Tapi itu tinggal harapan saja karena sampai ia lulus aku tak pernah mengatakan apa-apa padanya aku bersyukur karena bisa melupakan nya tapi dalam hatiku selalu berharap bahwa perasaanku dapat terbalaskan meskipun itu serasa mustahil bagiku karena ia tak pernah memiliki perasaan yang sama denganku.
Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun kian berganti saat ini aku sedang duduk dibangku kelas delapan aku mempunyai geng tanpa nama yang beranggotakan empat orang perempuan yakni Viola mustika Putri aku sudah akrab dengannya saat kelas tujuh.
Lalu Maulidah Rifani ia pemain volly ia juga pernah mengikuti futsal sama denganku namun dia lebih lama berbeda denganku yang masuk tiga kali pertemuan lalu keluar karena tak betah.
Dan yang terakhir Safa Anindita aku kenal dengan mereka karena satu kelas aku kenal dengan anin sendiri karena ia teman Fani.
Kami mulai akrab satu sama lain tapi saat di kelas aku lebih akrab dengan anin karena sifatnya yang keibuan berbeda dengan vio dan fani yang terkesan tomboy dan sengklek.
Dan namaku sendiri ialah Cicilya Salsabilla Fatichah biasanya dipanggil sisil aku anaknya manja suka nempel kayak cicak sampai sampai nama julukan ku cicak terbang aku tersenyum kecut kala mendengar julukan itu terlontar dari beberapa mulut.
Sedikit demi sedikit aku bisa melupakan nya dengan cara menyukai kaum adam lainnya yang berada di sekolah ini bahkan aku sampai lupa dengan prinsipku yakni menjaga pandangan ku haiss dasar labil.
"He sil Koen gak ngeroso a nek nabil kaet mau ndontok i koen?" tanya anin menggunakan bahasa Jawa. *Hei sil kamu tidak merasa kah bahwa nabil sedari tadi melihat i mu?*
Kutolehkan tatapanku kearah nabil benar dia sedang menatapku tapi tak lama dia langsung membuang mukanya membuatku terkekeh karena mungkin anin mengira bahwa nabil melihatku terus tapi saat ku lihat dia mengalihkan pandangannya jelas itu hal lucu bagiku dengan menganggap ucapan anin sebagai tuduhan tak mendasar.
Mungkin saja ia melihat kearah belakangku kan bisa saja.
Minggu minggu ini sikap nabil terasa berbeda dengan minggu minggu kemarin ia justru terlihat seperti pengintit yang selalu ada dimana aku berada.
Sampai dimana aku mendengar percakapannya dengan afan teman sebangkunya. "Koen ngerti gak rasane aku seng berjuang dee seng disayang yo iku koyok aku seng sayang ndik sisil tapi dee malah sayang karo khilmi." ujarnya dengan bahasa jawa, khilmi ialah nama kakak kelas yang kusukai. *Kamu tau tidak rasanya saya yang berjuang dia yang disayang ya itu seperti saya yang sayang ke sisil tapi dia malah sayang sama khilmi*
Aku benar-benar shock mendengar penjelasan dari teman madrasah ku yah aku nabil afan adalah teman dari kelas satu madrasah kami juga satu kelas dulunya.
Sampai saat itu aku mulai menjauh darinya karena aku tak mau makan teman sendiri.
Anin pernah bercerita bahwa ia menyukai nabil pada saat kami kelas tujuh. Saat itu kubulatkan tekad ku dengan mendekatkan anin dan nabil tapi bukannya dekat anin malah berpindah hati ke kakak kelas sedangkan nabil tambah menjadi jadi dalam menunjukan perasaan nya.
Mungkin rasa nya sakit saat cinta bertepuk sebelah tangan namun aku juga tak mau menjadi teman yang menusuk dari belakang meskipun dibibirnya terucap. "Aku seneng arek lio kok!" Aku tau itu hanya kata penenang saja. *Saya suka anak lain kok!*
Namun tetap saja dalam tatapan orang-orang aku yang dianggap sebagai teman yang menusuk temannya sendiri.
Aku mengabaikan perasaan Nabil karena takut perasaan temanku kecewa pada ku.
Sampai dimana aku mengalihkan diri untuk melupakan kak khilmi dengan cara menge-prank seseorang dengan WhatsApp aku sering kali menyamar menjadi lelaki tampan kadang menjadi perempuan cantik.
Aku pernah menjerat beberapa orang disekitar ku sampai mereka dibuat penasaran oleh wajah asli dari profil yang kupajang aku selalu terhibur dengan melakukan hal itu sampai dimana aku terkena karma.
Karena aku terlalu nyaman oleh nya dengan sebatas hubungan semu aku tau ini gila namun apa mau dikata jika cinta telah memilih dia aku hanya bisa pasrah.
Semakin hari semakin dibuat melayang aku oleh nya lebih tepatnya untuk identitas lain ku bukan asli ku.
Aku sempat menyalahkan takdirku yang terlahir sebagai perempuan karena mereka makhluk yang lemah sekali kuat tapi hanya covernya saja dalamnya seperti kaca tipis jika ditekan terlalu berat akan menjadikannya serpihan kaca yang dapat melukai.
Kebanyakan kan gitu contohnya saja kamu jatuh hati pada cowok a sedangkan si cowok a juga jatuh hati padamu lalu kalian menjalin kasih selama beberapa hari atau bulan atau bahkan tahun nah si a mulai bosan denganmu tapi masih memilih bertahan tapi bermain dengan yang lain di belakang. Saat kamu tahu kamu pasti hancur kecewa dan marah beberapa wanita jika marah karena hati kecewa amukan nya lebih dahsyat dibandingkan aungan singa betina yang mempertahankan hak waris wkwk.
Rasa ini semakin dalam walau aku tau perasaan nya bukan untuk identitas asliku melainkan identitas ku yang palsu haiss.
Pernah aku bernyanyi saat panggilan suara berlangsung dengannya...
𝚂𝚒𝚖𝚙𝚊𝚗 𝚖𝚊𝚠𝚊𝚛 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚋𝚎𝚛𝚒
𝙼𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚠𝚊𝚗𝚐𝚒𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚒𝚕𝚑𝚊𝚖𝚒
𝚂𝚞𝚍𝚒𝚔𝚊𝚑 𝚍𝚒𝚛𝚒𝚖𝚞 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔
𝙺𝚎𝚗𝚊𝚕𝚒 𝚊𝚔𝚞 𝚍𝚞𝚕𝚞
𝚂𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚔𝚊𝚞 𝚕𝚞𝚍𝚊𝚑𝚒 𝚊𝚔𝚞
𝚂𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚔𝚊𝚞 𝚛𝚘𝚋𝚎𝚔 𝚑𝚊𝚝𝚒𝚔𝚞
𝙰𝚔𝚞 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚝𝚖𝚞 𝚓𝚊𝚝𝚞𝚑 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚔𝚎𝚙𝚊𝚍𝚊𝚔𝚞
𝙼𝚎𝚜𝚔𝚒 𝚔𝚊𝚞 𝚝𝚊𝚔 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚔𝚎𝚙𝚊𝚍𝚊𝚔𝚞
𝙱𝚎𝚛𝚒 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚠𝚊𝚔𝚝𝚞
𝙱𝚒𝚊𝚛 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚒𝚊𝚜𝚊
Kala itu aku sedang sendiri di indekos karena suatu masalah.
Aku menyanyikan lagu itu ditengah rintik hujan mengguyur desaku aku berhenti bernyanyi mana kala terdengar suara adzan berkumandang.
Ia juga sempat memberikan aku pesan yang berisi. "Jangan lupa ibadah, jangan lupa makan, jangan lupa tidur nyenyak dan jangan lupain aku!" tegas nya ditelfon saat itu sebelum kututup saluran nya.
Perasaan itu makin memuncak kala dia selalu menyempatkan diri untuk menghubungiku.
Yah itu memang hal yang sepele tapi bagiku yang merasakan kasmaran mengganggap itu adalah hal yang paling menyenangkan di dunia aku merasa menjadi orang yang bahagia apalagi ia menyukaiku dengan identitas asliku bukan identitas orang lain.
Lagi dan lagi aku merasakan cinta yang begitu tak masuk akal bagaimana bisa aku jatuh hati hanya lewat aplikasi chatting jelas saja itu membuatku kecewa dengan diri ku sendiri sebegitu mudahnya kah aku jatuh hati??
Aku tak habis pikir bagaimana cara hatiku untuk memilihnya walau hanya lewat aplikasi chatting. Jelas saja aku merasa bodoh sebodoh nya diriku yang tak masuk akal apalagi menjalin kasih dengannya lewat WhatsApp sungguh sial!!
Waktu terus berlalu dan bodohnya aku masih saja tak mau membongkar identitas ku hanya karena nyaman.
Sampai dimana teman dekatku tempat curahan hatiku dikala gunda melanda menjalin kasih dengan korban prank-prank an ku hancur sudah padahal dia tau siapa yang kusukai tapi ia dengan tak berdosa nya menerima permintaan sialan itu.
Kecewa? Pasti, siapa sih yang gak kecewa kalo ada temen deket mu yang udah tau semua kisah hatimu lalu dengan gampangnya ia menerima permintaan dari orang yang kamu sukai.
Sepulang sekolah saat itu aku memilih langsung pulang karena biasanya aku akan ekstra karena hari itu bertepatan hari Sabtu.
Untung saja tak ada orang aku bisa menangis sepuas ku memaki menendang memukul dan korban yang tak bersalah itu boneka sama guling gaess aku merasa dihari itu aku adalah orang paling bodoh sedunia.
Karena saat aku cerita masalah ku padanya ternyata dia dengan orang yang ku suka sudah dekat namun masih dalam tahap teman tak lebih.
Aku juga kecewa dengan Vio dan Fani ternyata ia sudah tau namun tak pernah memberi tahu.
Aku mulai menjauh dari geng ku aku mendiamkan mereka selama satu bulan lebih ku jawab sekedarnya saja aku juga pindah bangku yah aku memang kekanakan orangnya aku juga egois aku pemarah aku orang yang gampang jatuh hati lalu kau mau apa aslinya aku juga tak menginginkan itu semua ada dalam diriku namun apalah aku.
Aku terpuruk dalam lingkaran yang pernah ku buat dengan alasan iseng tapi iseng ku melibatkan rasa dan kini aku yang terkena karma karena mempermainkan rasa HA HA HA MIRIS SEKALI!!!
Aku melampiaskan pada obat-obatan rokok dan menyakiti diri sendiri bobot tubuh ku menurun drastis beberapa kali aku keluar masuk rumah sakit karena maag ku sering kambuh pipi chubby ku kini penuh dengan jerawat kulit yang kusam wajah yang menyedihkan setiap keluar dari kamar mesti dengan mata sembab.
Aku terjerumus terlalu dalam keluarga tak ada yang mengetahui masalah ku karena aku termasuk anak yang dingin tapi saat mengenal cinta aku merasa bahagia seolah itu bukan diriku yang terkekang dalam kehidupan monoton.
Aku berusaha bangkit dan melupakan nya aku beralih dengan memainkan game membaca novel online memutar musik dikala suasana ku gunda gulana.
Dulunya saat aku terpuruk aku pernah bertanya dalam hati dengan air mata yang tiada henti kala mengingat semua gombalan receh nya perhatiannya.
'Tuhan, sebegitu tak pantasnya kah aku untuk merasakan jatuh hati diusia ku yang menginjak lima belas tahun ini... Aku tau bila aku ini masih dibawah umur namun aku juga ingin seperti mereka yang menjaga komitmen berhubungan dengan lawan jenis.'
Tapi aku segera tersadar dengan perkataan ayah yang tak memperbolehkan aku untuk berpacaran mungkin ini yang ditakutkan ayah aku menjadi tak terkendali karena patah hati.
DAN KINI AKU AKAN BERUSAHA UNTUK TAK MENJATUHKAN HATIKU PADA SIAPA PUN SEBELUM DADA KU BERDEBAR MENGALAHKAN SAAT SAAT AKU DIPANGGIL OLEH GURU BK UNTUK MENDATANGKAN ORANG TUA KU!!!
SEMANGAT SISIL..
(Ini kisah yang ku rangkum selama aku memasuki sekolah menengah pertama dan kini aku sudah sekolah menengah atas dengan lulus jalur Corona dimana aku hanya rebahan saja bisa lulus keren bukan hahaha)