"Kalian harus jentel, mau tidak mau kalian tetap melanggar peraturan, dan harus siap menerima konsekuensinya."
Pernyataan itu keluar dari seorang pria bertubuh tinggi, dan cukup berisi yang sebagian rambutnya sudah beruban yang menandakan bahwa ia sudah tidak muda lagi, tapi ia masih sangat produktif diusianya yang sudah 30-an lebih.
Raut wajahnya yang tenang membuatku tidak bisa menebak akan pikirkannya. Ruangan putih bersih ini untuk sesaat hening tanpa ada yang berbicara, sampai-sampai aku bisa mendengar embusan napasku sendiri.
"Benarkan?" tanyanya untuk memperjelas situasi.
"Iya, Pak!" jawab kami serempak.
Ruangan yang masih cukup untuk menampung lima belas orang lebih ini, sekarang ada sepuluh orang yang sedang duduk saling berhadapan dengan Pria tadi sebagai Pemimpin. Dia merupakan salah satu Manajer di Perusahaan tempatku bekerja saat ini.
"Jadi apa saja yang menjadi keluhan kalian?" tanyanya kembali.
Sudah beberapa kali aku mendengar pertanyaan ini. Meskipun baru seminggu masuk kerja, tapi aku sudah tidak asing lagi dengannya. Mungkin saja temanku yang lain sudah bosan mendengar pertanyaan ini, pasalnya mereka sudah setahun penuh bekerja meskipun di dalam kondisi Pandemi.
Sejujurnya aku sudah hampir setahun di Rumahkan. Meski terdengar memalukan, tapi awalnya aku sangat gembira bisa mendapatkan libur panjang.
Eh ... tapi siapa sangka bahwa gaji pun tak bisa keluar dari pintu rumahnya, sehingga setiap awal Bulan ketika aku cek saldo di rekeningku tidak ada satu pun nominal yang masuk.
"Mengenai kenaikan gaji, Pak. Kenapa bisa begitu, tolong berikan penjelasannya!" ucap Supervisor di Divisiku.
Aku bersyukur bahwa Supervisor yang memimpin tim kami adalah orang yang bisa dipercaya, bertanggung jawab, dan sangat ramah. Dalam satu kata bisa dibilang dia orang yang baik hampir disegala bidang. Setidaknya dimataku ini.
Sekarang merupakan awal Bulan di tahun 2021. Permasalahan yang kami miliki berkaitan dengan kenaikan gaji karyawan. Yang entah karena alasan apa, kenaikan gaji tahun ini di bawah angka lima ratus ribuaan. Bahkan aku pun yang orang awam yang baru terjun ke dunia kerja, masih merasa bahwa angka-angka ini sangat tidak logis, mengingat identitas Perusahaan yang sudah berbentuk Perseroan Terbatas.
"Pertama-tama kalian harus mengetahui bahwa kita sedang dalam kondisi seperti ini. Bisa dikatakan bahwa sekarang Perusahaan sedang sakit, dan kita sebagai bagian dari satu perusahaan harus bisa berbagi rasa sakita yang sama. Dan ...." Begitulah jawabnya.
Berbagai alasan yang disertai fakta-fakta diungkapkan kepada kami semua. Mulai dari berkurangnya konsumen, tapi karyawan tetap bekerja yang mengakibatkan kerugian bagi Perusahaan. Pak Manajer berkata kita harus bersyukur masih dapat bekerja bahkan di pandemi saat ini, mengingat orang lain ada yang dipecat atupun di rumahkan.
Dan aku termasuk ke dalam golongan kedua. Aku tetunduk malu merasa bahwa dia mungkin mencoba mengingatkanku.
"Tapi Pak, kami meminta kejelasan kenapa bisa jumlahnya segitu, dan dari mana?" tanya kembali Supervisorku.
Dalam kasus tim kami, sebenarnya yang jadi masalah adalah tidak adanya kejelasan serta rincian dari mana kami berhak mendapatkan nominal tersebut. Tentu, semua itu terlepas dari angka kenaikan gaji yang menjadi masalah utama tadi.
Pak Manajer menjawab dengan sangat baik, yang pada akhirnya harus ku akui bahwa sepertinya sekarang kamilah yang terlihat salah, dan terpojok. Mungkin seperti inilah perasaan Tikus saat tertangkap Kucing. Ambil contoh saat Tikus berjalan ke arahmu yang mungkin dia hanya sekedar lewat, secara refleks manusia akan langsung mencoba membunuhnya ataupun memanggil Kucing untuk menangkap Tikus. Di mata Manusia Tikus selalu salah. Sebenarnya, Aku pun tidak terkecuali.
Begitu juga dengan situasi kami saat ini yang terlihat salah di mata Perusahaan dikarenakan mogok kerja Minggu lalu. Aku sadar bahwa itu salah, tapi kami sudah mencoba berbicara dengan HRD hanya saja masih tidak didengar sehingga mogok kerja adalah cara kami untuk mendapatkan perhatian. Sungguh lucu.
Hal ini bahkan lebih sulit daripada mendapat perhatian dari seorang gadis.
Pak Manajer bilang bahwa kami harus mengerti, dan jangan terlalu menuntut di situasi saat ini, bahwasanya ada miskomunikasi dari pihak HRD. Dia juga mulai membahas kesalahan-kesalah masa lalu yang dibuat oleh tim kami yang menyebabkan kepercayaan diri kami menurun.
Setelah beberapa kali sesi tanya jawab, aku mulai memberanikan diri untuk angkat bicara mengutarakan isi hati, "Maaf, kalau boleh! Masukan dari saya Pak, bagaimana kalau ke depannya ada sosialisasi atau pemberitahuan secara terperinci supaya tida ada lagi miskom ...."
Layaknya Cutter tajam yang memotong kertas tipis dengan tepat, dan mudah. Pak Manajer memotong ucapanku bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimat yang sudah ku susun dengan susah payah itu.
"Ya, memang tadi saya bilang ada miskomunikasi dipihak HRD sehingga terjadilah ...." katanya dengan lantang, dan percaya diri.
Memutar, dan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan fakta serta kebohongan yang mungkin menjadi satu. Begitulah apa yang aku rasakan setelah mendengarkan.
Melihat percakapan sampai saat ini, sepertinya dari awal dia tidak berusaha untuk mendengarkan semua tuntutan.
Ya ... dari pertama kali masuk ke Perusahaan ini juga aku sudah merasa dihianati. Seperti gaji yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan diawal-awal, perkataannya yang begitu manis sampai-sampai aku akan diabetes dibuatnya. Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali itu terjadi. Lebih baik menunggu di Jalan D.I Panjaitan yang sering macet panjang daripada harus menunggu hal-hal yang tidak pasti.
Bahkan kupikir orang Prancis yang terkenal bersikap bodo amat akan dibuat sakit hati olehnya, orang Jepang yang suka bekerja keras akan merasa malas setelah melihat nominal angka-angka itu, dan orang India yang tidak banyak omong juga akan menyuarakan keberatan jika diperlakukan tidak pasti seperti ini serta orang Rusia yang dikenal tak punya rasa takut pun akan merasa ragu untuk dapat mempercayainya lagi.
Aku mendengarkan sambil berusaha mencerna setiap perkataan yang ku dengar, berharap ada hasil baik terjadi. Mari kita tunggu, seperti kata Raden Ayu Kartini, "Habis gelap terbitlah terang."