Bulan purnama bersinar terang di atas langit berwarna hitam pekat. Kegelapan membentang saat cahaya bulan itu terasa suram dengan warna kemerahan darah yang terlihat.
"Apakah ada yang melihat kemana Orion pergi?" Seorang wanita dengan gaun hitam semambai bertanya.
Suara wanita itu dingin dan datar. Wajah cantiknya tampak pucat dengan mata berwarna merah darah. Dia menatap kearah lautan pelayan di hadapannya dengan amarah.
"Nyonya, Tuan Muda Rion terlihat keluar dari Kastil di saat Matahari mulai terbenam!"
Tangan putih wanita itu terulur panjang dan menampar kepala pelayan yang menjawab pertanyaannya.
Dengan suara Gedebuk, kepala pelayan itu jatuh dan terputus dari tubuhnya. Darah mengalir dan menyembur dari leher tanpa kepala membuat lantai berwarna merah darah.
"Bersihkan lantai dan temukan Orion secepatnya! Pengorbanan Darah akan segera dimulai!" Perintahnya dengan acuh dan beranjak pergi.
Badan tanpa kepala itu tergerak kearah kepala miliknya pergi. Dengan uluran tangan, pelayan itu meraih kepala miliknya dan meletakkan kembali ditempatnya.
Dengan suara kretak, Kepala itu terpasang seolah tidak pernah lepas.
"Apa yang kalian lihat? Tidakkah Nyonya memintamu untuk pergi mencari Tuan Muda?" Suaranya bergema dengan kedinginan saat matanya mulai menghitam dan menatap semua pelayan yang tertegun bodoh.
Dalam sekejap ruangan itu menjadi sunyi saat hanya sosok pelayan itu yang berdiri teguh. Dia melambai kecil untuk membersihkan semua darahnya yang tercecer sebelum berlalu pergi.
Seorang pemuda berkulit pucat, mata hitam, dan bibir berwarna merah cerah menatap kearah sebuah rumah dengan gaya Eropa dalam jarak 300 Meter dari pandangannya.
Sosoknya tampan dengan kulit halus dan indah, dia tampak berusia sekitar 20 tahun. Namun, melihat kearah telinganya yang sedikit runcing sudah di pastikan dia bukan manusia dan usianya jelas lebih tua dari itu.
Dia berayun lembut dari pohon yang di tempatinya dan menghilang dalam sedetik kemudian. Sosoknya berkedip beberapa kali sebelum muncul kembali diatas loteng rumah yang dia awasi.
"Arena..." bisiknya lembut dan mengetuk jendela sebuah kamar.
Dengan gerak kecil jendela itu terbuka menampakkan sosok wanita cantik dengan mata berwarna Hijau Zambrud.
Arena tertegun sejenak sebelum menyadari Sosok pria tampan telah masuk kedalam kamarnya dan memeluk tubuhnya lembut.
"Orion, bukankah hari ini adalah hari pengorbanan darah? Apa yang kau lakukan disini?" Dia bertanya dengan sedikit khawatir.
"Aku sedikit gugup dan cemas. Entah kenapa tapi aku merasa ingin melihatmu..." Orion menjelaskan singkat dan mempererat pelukannya. Dia mencium tengkuk leher Arena dan menghirup sebanyak mungkin aroma mawar dari tubuhnya.
"Rion, kembalilah! Ibumu akan marah dan dia akan tahu hubungan kita" Arena memerah malu melihat tingkah Rion yang begitu intim.
"Ibu mungkin sudah tahu tentang hubungan kita, dia hanya berpura-pura tidak tahu..."
"Jika dia tahu, bukankah dia akan menentang kita? Ibumu sangat membenci Manusia bukan?" Arena bertanya cemas.
Orion mengguk kecil dan menjawab "Ibu sangat membenci Manusia. Dia berfikir Manusia hanyalah seonggok sampah yang lemah. Walaupun begitu sikapnya sangat arogan dan ingin menguasai Dunia. Tapi kurasa dia mengabaikan fakta bahwa aku memiliki kekasih seorang Manusia.."
"Kalau begitu kau tidak bisa membuatnya marah atau dia akan menentang kami nantinya. Cepatlah pergi Orion!!!" Desak Arena dengan penuh kecemasan.
Orion tersenyum manis menunjukkan gigi putihnya yang rapi sebelum menjawab "Berikan aku ciuman dan aku akan segera pergi?!"
"Kamu-!!!?"
Tidak menunggu jawaban, Orion menekan bibirnya untuk bersatu dengan bibir Arena. Sensasi manis dan lembut menyapu Orion, dia menekan semakin dalam kedalam bibir Arena dan bermain dengan lidahnya. Tangan miliknya mulai nakal dan turut bermain.
Arena mengeram marah dan malu, dia melotot kearah Orion yang cabul sebelum mendorongnya.
"Cepat pergi" perintahnya dengan pipi memerah.
Orion menggaruk rambutnya yang tidak gatal sebelum pergi dengan enggan. Dia selalu harus menahan dirinya, jika tidak Arena akan dalam bahaya. Merasa hari ini juga telah sampai pada batasnya Orion melambai padanya sebelum menghilang dalam kegelapan malam.
Dengan warna darah yang semakin mengental, Bulan itu tampak suram dan menakutkan. Dalam kastil yang gelap gulita, cahaya obor melambai tertiup angin dingin.
Suara rantai gemeretak terdengar sepanjang jalan seolah di seret dengan berat.
Wanita demi wanita dengan tubuh telanj4ng berjejer rapi. Kulitnya tampak pucat dengan tubuh m*ntok dan indah. Jumlah mereka adalah 13 orang wanita muda dengan paras menawan dan tubuh luar biasa.
"Kurasa pengorbanan kali ini terlihat sedikit suram, aku harap tidak ada hal buruk yang akan terjadi!"
Sosok pria dengan jubah hitam berbicara. Sebuah tanduk mencuat di tengah dahinya. Dia membawa beberapa potongan jari-jari balita di tangannya dan sesekali memasukkan kedalam mulutnya dengan lahap.
"Tidak ada yang salah dengan bagianku, tapi entah dengan yang lainnya. Kudengar Tuan Muda dari keluarga Penders akan memimpin jalannya Pengorbanan darah?"
"Itu benar, kalau tidak salah namanya Orion!" Pria dengan tanduk itu menjawab pria disisinya yang tidak memiliki mata di rongganya.
"Orion William Penders? Seorang pria dengan Ras setengan siluman dan Vampire?"
"Ada apa dengan itu?"
"Yang Mulia Demon Blood juga memiliki Darah Vampire, kurasa ini akan sedikit menarik..."
"Yang Mulia tidak akan pernah peduli pada kerikil yang memiliki hubungan jauh..."
"Hei kalian berhenti berbicara! Pengorbanan akan segera dimulai!" Sosok transparan seperti hantu mengingatkan kedua orang itu dan membuat mereka terdiam seketika.
Semua mata tampak Fokus menatap kearah Altar dalam pusat ruangan.
Orion berjalan dengan gagah, dia memakai jubah berwarna merah darah yang melambai ringan tertiup angin.
Dengan tangan pucat Orion melemparkan wadah penuh dengan darah pada meja di hadapannya.
Sebuah lilin kecil dan beberapa potongan kayu ukiran serta daging segar berjejer rapih di atas meja itu.
Seluruh 13 wanita yang akan di korbankan mengelilingi meja tersebut di iringi oleh seluruh makhluk yang hadir mulai mengelilingi altar dengan rapi.
Orion berdiri di depan memimpin jalannya upacara. Dia melambai kecil dan menghidupkan obor disekitarnya dengan kliauan yang lebih membara.
"Raja Iblis Darah, hambamu memberikan pengorbanan darah untuk kemuliaanmu, untuk keberadaanmu, dan untuk keindahanmu... datang dan terimalah, Darah perawan yang kami persembahkan untuk keagunganmu yang membimbing kami dalam kegelapan dan menguasai Dunia... Dimuliakanlah Nama dan keberadaanmu dalam jiwa dan ketakutan setiap makhluk hidup...!"
Para makhluk yang mengelilingi Altar mulai ikut menyenandungkan mantra terakhir.
"Dóxate to Ónoma kai tin ýparxí sas stin psychí kai fováste káthe zontanó on ...!"
"Dóxate to Ónoma kai tin ýparxí sas stin psychí kai fováste káthe zontanó on ...!"
"Dóxate to Ónoma kai tin ýparxí sas stin psychí kai fováste káthe zontanó on ...!"
Dengan berakhirnya mantra itu, tangan Orion menebas 13 wanita yang akan di korbankan.
Kepala demi kepala jatuh dengan mata terbuka lebar ketakutan. Darah berhamburan dan meluncur bebas seperti air terjun.
Tubuh para wanita itu mengering seolah semua darah di tubuh mereka telah terhisap bersih.
Dengan gemuruh dan Flash cahaya terang.
Sosok hitam terbentuk dari darah yang menggumpal.
Kyaaaaaaa!!!!!!!!
Suara teriakan nyaring bergema mengguncang bumi, seolah sesuatu terasa salah, tanah retak dan mulai runtuh.
Dengan geraman menggelegar, suara dingin dengan niat membunuh membekukan setiap makhluk di tempat itu.
"Siapa yang mengumpulkan wanita kotor ini untukku?" Demon Blood bertanya marah dengan sosoknya diudara yang pudar seperti kabut merah.
"Ke-keluarga Penders Yang Mulia..."
"Penders!!!" Demon Blood mengaum keras dan menghantam kearah Orion berada.
Orion tidak dapat mengelak dan memerima pukulan telak, meremukkan seluruh tubuhnya. Dia terlempar jauh keudara dan tergeletak tak berdaya di tanah.
Melihat kemarah Yang Mulia Demon Blood semua Mahkluk yang berada di sana terlihat ketakutan dan ngeri.
Tidak berhenti disana, Demon Blood mengulurkan tangannya yang terbentuk dari darah untuk menarik jiwa Orion.
"Katakan pada Orlena untuk datang dan membawa Darah Perawan Suci yang berhubungan dengan putranya jika dia ingin putranya selamat.!!!"
Orlena ibu Orion yang kini tengah menunggu di luar altar memiliki wajahnya pucat dengan darah yang mengalir dari bibirnya. Dia menggertakkan giginya menahan rasa sakit akibat hilangnya koneksi dengan Orion.
Wanita itu baru menyadari apa yang terjadi setelah Yang Mulia lenyap dengan Jiwa putranya, hanya menyisakan Tubuh Orion yang hampir hancur tergeletak di tanah tanpa kehidupan.
Orlena menangis sedih dan membantai seluruh pelayannya. Beraninya pelayan itu menjamah tubuh para Wanita perawan yang akan di berikan pada Yang Mulia.
Dengan kegilaan di matanya seluruh pelayan di rumahnya musnah, bahkan tidak menyisakan daging utuh.
Sebuah sobekan hancur seperti debu dan hanya jejak darah yang menggenang di seluruh lantai kastil menandai adanya pembantaian.
"Aku akan mengorbankanmu untuk Orion, sampah sepertimu seharusnya merasa bangga bisa menyelamatkan mahkluk derajat tinggi seperti kami!" Orlena menatap kearah Arena dengan mata semerah darah.
Selesai dengan kegilaannya, dia langsung meluncur kerumah Arena dan menculik gadis itu tanpa peduli perasaannya.
Menyeret tubuh Arena yang lemah ketakutan dan bingung, dia melemparkannya kearah altar pengorbanan dimana tubuh Orion terbaring kaku.
"Orion..." Arena terkejut bodoh. Dia merangkak kearah Orion dan menatap tubuhnya yang kaku.
Air mata mengalir dipipi putihnya, jantung gadis itu berdenyut kesakitan. Dengan suara serak dia mengalihkan pandangannya pada Orlena yang berwajah rumit untuk bertanya "Apa yang terjadi pada Orion?"
"Pengorbanan Darah gagal karena beberapa hama, aku sudah membersihkan mereka, hanya saja Yang Mulia meminta nyawamu untuk menyelamatkan Orion dan meredakan amarahnya"
"Begitukah?" Arena mengangguk sedih dan mengerti.
Dengan lembut dia membelai pipi pucat Orion dan berbisik pelan "Orion aku mencintaimu, tidak peduli rintangan apa yang mungkin ada di masa depan aku akan selalu mencintaimu. Aku tidak bisa membiarkanmu mati seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu, walaupun aku tahu kau juga tidak bisa hidup tanpaku. Selama nyawaku bisa membuatmu tetap hidup, Aku harus menyelamatkanmu. Jadi, kumohon hiduplah dengan baik walaupun tanpa diriku! Jangan pernah berfikir untuk menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang membuat keputusan dan mengorbankan diriku.."
Arena mendaratkan ciuman lembut dibibir Orion, dia berdiri dengan tegar dan menatap kearah Orlena tanpa rasa takut "Mulailah, korbankan diriku untuk mengembalikan hidup Orion...! Dan aku mohon, pastikan untuk menjaganya agar tetap hidup!"
Orlena mengangguk rapuh, tatapan matanya tampak goyah saat menatap gadis manusia di hadapannya. Dia akan mengingat gadis itu dan memastikan Orion untuk tetap hidup.
Dengan Nyawa Arena dan darah Perawan miliknya, Orion yang telah sekarat mulai mendapatkan kembali kehidupan miliknya.
Kehidupan yang dia pertukarkan dengan gadis yang dia cintai, gadis yang paling berarti dalam hidupnya.
Dan dengan kejadian itu pula, Orion mulai menutup hatinya untuk siapapun. Dia mulai mengejar kekuatan untuk membalas dendam pada Demon Blood dan menghentikan Pengorbanan Darah Perawan yang terjadi setiap 10 Tahun sekali.
-SELESAI🏃♂️🏃♂️🏃♂️