Aku menatap kekosongan ini, hanya foto yang aku genggam menjadi kenangan terindah bersamanya, hanya satu yang tersisa dan tidak ada lagi.
Aku ingat detik-detik waktu aku tumbuh besar dan mengetahui dunia luar, hanya beliaulah yang menemaniku dan membangkitkanku untuk menatap ke depan, mendidikku dengan penuh ketegasan.
Meski aku segan padanya, tetapi tetap saja beliau bukan orang lain untukku. Beliau adalah ayahku. Seorang pemimpin yang selalu berusaha memanduku dan membawaku ke jalan yang benar.
Meski tidaklah mudah dilalui bersamanya, namun hubungan yang terikat antara kami tidak akan pernah bisa lepas dan aku tetap selalu mencoba membuatnya bangga.
Aku bukanlah gadis yang manja, aku hanyalah gadis biasa yang ingin meraih kebahagiaan. Meski hanya sebuah angan, tetapi aku juga bisa membuatnya sendiri tanpa harus mengorbankan kebahagiaan orang lain. Misalnya keluarga.
Walaupun aku bukan berasal dari keluarga berada, aku merasa bersyukur karena aku memiliki keluarga sederhana yang penuh kebahagian.
Namun, dari awal aku sudah memikirkannya. Cuaca tidak selamanya selalu cerah, ada kalanya awan mendung serta hujan datang dan membuat cuaca cerah sirna untuk sementara.
Aku ingat hari itu, menjelang pergantian hari Rabu tepat tanggal 22 Agustus 2019 pukul 24.00 WIB. Itu adalah waktu yang tidak pernah aku lupakan sampai sekarang, bahkan aku selalu mengenangnya dalam ingatanku. Tidak pernah aku lupakan dan tidak pernah berniat ingin aku lupakan, karena itu merupakan awal separuh hatiku hilang akibat kecerobohanku sendiri.
Tidak ada gunanya aku menyesal karena tidak mungkin waktu bisa kembali dan mengubah semuanya sesuai harapanku, kecuali Tuhanku berkehendak lain untukku.
Aku masih menatap foto itu, di sana tercetak gambar tampak seperti keluarga sederhana dan bahagia. Aku tersenyum masam mengingat salah satu tokoh di sana telah pergi meninggalkan aku dan lainnya, tidak pernah terpikirkan olehku beliau akan pergi secepat ini.
Aku pikir beliau akan tetap ada bersamaku hingga aku dewasa, padahal aku tahu itu hanya sekedar pemikiranku yang masih dini.
***
"Dira, ayo! Ini sudah siang", ayahku memanggil.
"Iya, ayah!", aku langsung keluar kamar dan menemui ayahku, aku lihat beliau sepertinya sudah menungguku cukup lama. Hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya tampak jenuh.
"Ayo!", aku hanya mengikutinya dari belakang, tubuhnya yang tinggi dan langkahnya yang besar membuatku sulit untuk menyetarakannya. Aku pikir mungkin saja ketika aku besar nanti, aku akan setinggi dan sebesar ayah.
Hari itu aku dan ayahku pergi ke pusat pembelanjaan, di sana kami membeli perlengkapan sekolah untukku. Kami pergi ke sana tanpa menggunakan kendaraan pribadi, melainkan kaki kami yang menjadi alat untuk sampai ke sana.
Aku sangat senang sekali bisa jalan-jalan di kota bersama ayah, bahkan beliau menggandeng tanganku agar aku tidak lepas dari perhatiannya, beliau juga yang membawaku ke tempat gang-gang kecil agar kami cepat sampai pada tempat yang dituju.
Ketika kami sampai di sana, aku sangat senang sekali, pandanganku disuguhi berbagai barang dan makanan yang dijualbelikan. Aku ingin membelinya satu, namun sayangnya itu bukanlah tujuan kami.
"Ayah, aku menyukai tas dan sepatu itu."
Pertambahan umurku, pergantian sekolahku, dan kehidupan baruku membuat bibirku tidak lepas terukir manis di wajahku. Apalagi tidak kalah senangnya saat aku masuk ke sekolah dan memakai seragam sekolah baru, tas baru, dan semuanya serba baru. Di sisi lain, aku lihat atribut sekolahku sudah dipasangkan, artinya ayahkulah yang sudah memasangkannya.
"Ayah, tolong pasangkan atribut sekolahku!"
Ayahku sangat ahli di bidang menjahit, karena itu beliau bekerja sebagai penjahit. Saat aku masuk sekolah, ayahkulah yang memasangkan atribut seragam sekolahku. Jika ada pakaianku yang cacat, beliau selalu meluangkan waktu untuk memperbaikinya. Selain itu, jika aku memintanya buatkan pakaian untukku karena aku sangat membutuhkannya, dengan telatennya beliau membuatkannya untukku.
"Ayah, aku mohon! Tolong buatkan aku pakaian muslim hitam putih buat hari jumat."
Ketika aku naik kelas, atau lebih tepatnya naik ke kelas VIII, aku mulai mengikuti sebuah pengajian. Awalnya aku berencana masuknya itu ketika aku keluar SD, namun berjalannya waktu dan tanpa terasa olehku, ayahku memasukkanku ke sana tepat pada hari pertama aku masuk sekolah. Setiap sore aku berangkat ke sana berdua bersama temanku, Aqila. Kami pun pulang pada malam hari, atau lebih tepatnya setelah adzan isya.
"Ayah, saat aku pulang ke rumah di malam hari, aku merasa takut!"
"Takut apa, Dira?"
"Kegelapan itu membuatku berhalusinasi."
Ayaku hanya menanggapinya, mungkin uacapanku hanya bualan seorang anak kecil. Akan tetapi, keesokan harinya dan tepat sebelum aku pulang ke rumah pada malam hari, aku lihat ayahku menungguku di tepi jalan dekat rumah.
"Ayah?!"
Ayahku mengucapkan terimakasih pada orang yang menjemputku, lalu beliau tersenyum hangat dan lebih hangat dari sinar mentari.
"Yuk! Kita pulang!", aku hanya menganggukkan kepalaku, aku tidak punya kata-kata yang cukup menyenangkan untuk dibicarakan dengannya. Aku hanya diam, namun aku juga merasa tenang karena semenjak hari itu, beliau selalu menungguku di tepi jalan dekat rumah agar aku sampai di rumah dengan aman tanpa rasa takut kesendirian dan kegelapan malam.
Keesokan harinya, aku membaca buku di kamar, pada saat yang sama ayahku pulang ke rumah dengan membawa sekantung keresek hitam. Hal yang pertama ayah lakukan adalah memanggilku untuk menemuinya, aku pun merasa penasaran.
"Dira, ke sini! Ada sesuatu untukmu!", kata ayahku, aku pun langsung menemuinya dengan penasaran.
"Ada apa, ayah?"
"Ini makanan pemberian bibi Fia, Dira mau?", aku merasa senang atas penawaran ayahku. Ketika beliau pulang ke rumah sambil membawa bingkisan makanan, akulah orang pertama yang dipanggil untuk ditawarinya. Jika aku tidak ada di rumah, ayahku selalu bilang pada anggota keluarga lainnya untuk menyisakan makanannya untukku meski aku tahu ayahku selalu mengambil bagiannya sedikit.
Waktu yang begitu cepat, tanpa terasa aku lulus SMP. Awalnya aku berniat masuk SMA, namun sayangnya ayahku memintaku masuk SMK. Di samping itu, ibuku tidak menyetujuinya dan memintaku masuk SMA terdekat agar beliau tidak mengkhawatirkan aku saat aku pergi dan pulang dari sekolah. Karena tekadku yang kuat, akhirnya ayahku mengizinkannya.
"Ayah, aku sungguh ingin masuk SMA!"
Namun, pada suatu hari, aku lihat ayahku tampak melamun di ruang tengah. Senyuman yang lebih indah dari mentari pun telah hilang dari bibirnya. Entah apa yang dipikirkannya, aku merasa segan untuk bertanya padanya. Hingga beberapa hari kemudian, aku lihat beliau mulai jatuh sakit dan terbaring lemah di atas kasurnya. Aku hanya menatapnya dengan sedih, tiada kata lain selain mendoakannya. Bahkan hatiku terasa segan untuk mengucapkan sesuatu atau permintaan maaf, ataupun kata-kata manis seperti semoga lekas sembuh. Rasanya kata-kata itu mendahak di tenggorokan dan sulit untuk dikeluarkan.
"Ayah...", aku hanya bergumam.
"Semoga lekas sembuh", hatiku yang menyahut.
Waktu yang menelanku masuk hingga tanpa terasa aku pun masuk SMA. Wajah berseri-seri yang biasa aku pancarkan telah hilang, waktu dan keadaan telah mengubah semuanya. Aku tinggal hanya menatap seragam sekolahku tanpa atribut yang biasa aku kenakan, serta peralatan sekolah yang masih baru dibeli kemarin bersama saudaraku.
Biasanya bila menjelang hari raya atau saat aku akan masuk sekolah, ayahku dan akulah yang menyiapkannya dan menemaniku membeli semua kebutuhanku untuk sekolah. Namun sekarang, hal itu tidak terjadi. Keluargakulah yang menyiapkan semuanya pada waktu menjelang hari raya, walau persiapannya tidak selengkap ayahku. Bahkan pada saat membeli keperluan sekolahku, bukan ayahkulah yang menemaniku, melainkan kakak tertuaku.
Aku hanya menatap itu semua, sekilas pikiranku teringat ayah yang biasa membantuku mempersiapkan kebutuhan sekolahku. Bahkan beliau jugalah yang biasanya memasangkan atribut seragam sekolahku.
Bukan hanya itu saja. Sejak beliau jatuh sakit, aku mulai pulang sendiri dari pengajian pada malam hari. Meskipun aku takut dan merasa kesepian dalam kegelapan, tetapi aku tahu bahwa aku tidak sendiri dan aku berpikir bahwa kegelapan itu hanya sementara dan bentuk yang aku lihat hanyalah halusinasi.
"Bayangan dalam kegelapan itu... menakutkan."
Semenjak aku masuk SMA, waktuku tersita oleh tugas sekolah dan kegiatan lainnya. Aku hanya bisa menyempatkan waktu bersama keluarga pada saat menjelang petang hingga malam saja, bahkan aku pergi ke pengajian malam pun setiap menjelang libur akhir pekan.
Bukan hanya itu saja, sejak hari itu emosiku cukup sulit dikendalikan dan hatiku pun mulai dilingkupi dengan perasaan kesalahan dan kecemasan. Namun, aku sangat mampu menutupi semua itu dengan menyibukkan diriku sendiri agar aku tidak terhanyut dengan perasaan apapun.
Bagiku biarlah masalah apapun hilang sesaat dengan mengalihkan semua perhatiannku meski aku tahu ujungnya pikiranku akan kembali pada masalah yang sedang aku dihadapi.
"Apa aku terasa seperti orang yang sedang depresi? Kenapa semuanya memberatkan hatiku?"
Suatu hari aku sedang sendirian di ruang tengah, lalu ibuku datang menghampiriku.
"Dira, kamu sedang apa?"
"Tidak ada."
"Maukah kamu temani ibu pergi ke dokter?"
Aku langsung menatapnya heran. "A-ada apa, bu? Apa ayah baik-baik saja?"
"Tidak. Ibu mau pergi ke dokter untuk memintanya datang ke sini dan memeriksa keadaan ayahmu."
Aku hanya mengangguk dan menyetujuinya, lalu kami pergi ke rumah dokter yang dimaksud ibuku. Sesampai di sana, kami langsung menemuinya. Saat di sana, aku lihat ibuku dan dokter itu mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti bila aku bertanya maka akan dianggap aku tidak akan mengerti hanya karena bagi mereka aku ini masih anak kecil.
"Lebih baik nanti saja aku bertanya padanya."
Sepulang dari sana, tampak jelas raut wajah ibuku terlihat sayu dan sekilas ada raut kesalnya. Aku pun menatapnya penasaran, tanpa segan aku bertanya padanya.
"Ibu, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja dokter itu sulit diajak ke rumah untuk memeriksa keadaan ayah. Dia bahkan menyarankan ayahmu di bawa ke rumah sakit."
Aku terdiam, ucapan ibuku membuatku terkejut meski sejak ayah dirontgen aku sudah tahu penyakit yang diderita ayah. Tetapi, aku baru tahu bahwa penyakit yang diderita ayah itu bisa menyebabkan beliau masuk ke rumah sakit. Apa penyakitnya separah itu?
"Lalu, apakah ayah akan dibawa ke rumah sakit?"
"Tidak. Ayahmu tidak menginginkan masuk ke rumah sakit. Katanya, jika kita membawanya ke rumah sakit, itu sama saja mengirimnya pada kematian."
Aku hanya menyimak ucapan ibuku, rasanya ucapan tersebut mampu membuat hatiku dan keluargaku cukup terpukul. Hal itu sama saja membuat kami merasa kebingungan untuk memberi pengobatan yang lengkap.
Apakah cukup hanya minta pengobatan pada dokter biasa?
Bukankah peralatan medis di rumah sakit lebih lengkap dan bagus untuk pengobatan? Bahkan mungkin saja perawatannya akan lebih tepat.
"Ibu, bawa saja ayah ke rumah sakit agar beliau mendapat perawatan dan pengobatan yang baik dan benar!"
Ibu menghela napasnya sejenak. "Tidak, Dira. Ibu akan menemui dokter berikutnya setelah mendapat persetujuan dari ayahmu."
Aku hanya diam, hatiku mulai diliputi rasa cemas dan takut. Aku ingin beliau baik-baik saja agar beliau bisa berkumpul bersama kami. Jika beliau jatuh sakit, bukan hanya beliau saja yang sakit, tetapi keluarga yang dekat dengannya pun tentu saja ikut merasakan sakitnya.
"Ya Alloh, semoga ayah baik-baik saja!"
Sesampainya kami di rumah, ibuku minta izin menemui dokter yang lain untuk memeriksa keadaan ayah. Setelah ayah mengizinkannya, kami pun pergi menemui dokter yang dimaksud ibuku.
Saat di sana, tampak jelas dari kejauhan raut wajah ibuku terlihat lega ketika berbicara dengan dokter itu. Setelah selesai bicara, beliau mengajakku pulang. Saat di perjalanan, aku dengar dari ibu, katanya dokter itu bisa datang ke rumah untuk memeriksa keadaan ayah, di samping itu aku pun melihat raut wajah ibuku tampak lega, karena itu pun aku merasa lega.
Pada siang hari itu, ayahku sudah diperiksa keadaannya oleh dokter. Aku dengar dari ibu, katanya ayahku baik-baik saja, hanya saja batinnya yang membuat tubuhnya menjadi sakit.
Suatu masalah yang dipikirkan ayah membuat beliau jatuh sakit, harusnya ayah tidak terlalu larut dalam masalah yang dipikirkannya agar keadaan beliau baik-baik saja. Di samping itu, hatiku mulai bertanya-tanya, apa yang sedang ayah pikirkan hingga beliau jatuh sakit?
Aku sangat segan bertanya masalah itu pada ayah, aku takut keadaannya semakin memburuk. Karena itu, aku hanya diam saja dan menatapnya dari kejauhan.
Pada setiap waktunya, aku curahkan setiap doa untuknya dalam sujudku. Hanya itu yang masih bisa aku lakukan, hanya menatapnya dalam diam dari kejauhan dan mengirimkannya doa. Sementara itu aku masih segan berkata-kata baik dan manis yang seharusnya aku katakan padanya.
"Maafkan aku, ayah."
Waktu sangat cepat berlalu, tanpa diduga ayahku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit setelah beliau mendapat bujukan dari saudara dan kerabatku. Aku ingat hari itu adalah hari selasa.
Saat aku akan berangkat ke sekolah, beliau masih ada di rumah. Namun, sebelum aku berangkat ke sekolah, ayahku memintaku untuk menemuinya di kamarnya. Aku langsung menemuinya karena aku merasa penasaran.
Ketika aku masuk ke kamarnya, tampaklah ayahku terbaring lemah dan tidak berdaya di atas kasurnya, daging dan ototnya yang biasa membuatnya terlihat kuat telah hilang dan hanya tinggal tersisa tulang serta sedikit daging yang masih bisa menopang tubuhnya.
Aku dengar dari ibuku, katanya ayah terserang penyakit jantung dan paru-paru yang disebabkan oleh ayahku yang dulunya perokok aktif. Sementara jantung, aku tidak tahu apa yang dipikirkan ayah hingga beliau mengalami hal seperti itu.
"Ya Alloh..."
Sementara aku hanya bisa diam dan menutup mulutku dengan tanganku, hatiku meringis menatapnya. Rasanya aku ingin menangis menatapnya, namun aku tidak mampu menangis di depannya.
"Ayah..."
Ayah tersenyum meski bibirnya tampak pucat pasi.
"Ada apa, ayah?", entah kenapa hatiku meringis dan merasa berat melihat keadaannya seperti itu.
"Dira, maafkan ayah", pada saat yang sama, hatiku merasa sakit dan ingin menangis. Namun, mataku masih kuat untuk menahan tangis itu di depannya karena aku bukanlah anak yang cengeng. Biarlah saat aku sendiri agar aku bisa mengeluarkan tangisku itu sepuasnya.
Harusnya aku yang minta maaf, ayah.
"Aku juga minta maaf, ayah", aku hanya menundukkan kepalaku, rasanya aku tidak berani menatap wajahnya.
"Dira, ayah lihat kamu mengacuhkan ayah", ayah terdiam sejenak. "Ayah mohon, kamu jangan seperti itu ya nak?! Jangan mengacuhkan ayah! Doakan ayah biar cepat sembuh."
Aku terdiam, beberapa saat aku menganggukkan kepalaku.
"Aku minta maaf, ayah...", aku ingin menangis, namun aku masih kuat untuk menahannya dengan menggigit bibir bawahku. Bibirku terasa kelu untuk mengucapkannya. "Ayah, aku harus pergi ke sekolah."
"Iya, nak. Hati-hati di jalan", aku langsung menyalami tangannya, lalu keluar dari kamarnya. Entah kenapa hatiku mulai diliputi rasa takut dan cemas, mataku pun diam-diam menangis tanpa orang menyadarinya. Aku selalu berharap beliau baik-baik saja, berkumpul bersamaku dan keluarga dengan bahagia.
Sekilas pikiranku tidak lepas dari perasaan kecemasan dan ketakutan, bahkan materi pelajaran pun rasanya bagaikan angin yang melewatiku begitu saja. Meskipun aku bisa mengikuti semua pelajaran, tetapi pikiranku sekilas kembali pada ayah. Hatiku terus berkata beliau baik-baik saja, beliau sangat kuat, beliau tidak apa-apa, beliau pasti sembuh. Jangan khawatir!
"Kenapa hatiku tetap saja merasa takut?"
Selesai jam pelajaran terakhir, aku langsung pulang ke rumah. Tetapi anehnya, rumah terasa sepi dan kosong seperti tidak ada penghuninya, hanya nenekku yang ada di rumah sedang duduk tertegun di atas kursi ruang tamu.
"Dira, akhirnya kamu pulang."
"Ada apa, nek?"
"Ayahmu dibawa ke rumah sakit."
Aku terdiam.
"Saudaramu yang membawanya, dia juga yang menggendong ayahmu dari rumah ke dalam mobil."
Aku masih terdiam, hatiku masih tetap diliputi rasa cemas dan takut.
Malam pun telah tiba, hanya ada kesunyian di dalam rumahku. Aku duduk sendirian di ruang tengah, mataku mulai menatap sekelilingku. Aku mulai teringat saat-saat aku dan ayahku menonton televisi berdua di ruang tengah, aku ingat ayahku dan keluargaku berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi dan memakan cemilan.
Bukan hanya itu saja, tanpa sengaja aku melihat makanan kesukaan ayah di meja dan kulkas, biasanya belum sehari ayah sudah menghabiskannya. Namun sekarang, makanan itu tidak ada yang memakannya, menyentuhnya pun tidak ada.
"Aku merasa sangat takut. Aku takut..."
Seperti biasa setelah perginya ayah ke rumah sakit, aku masih tetap pergi ke sekolah. Kesibukanku mengerjakan tugas sekolah membuatku tidak ada waktu luang untuk menengok ayah di rumah sakit, hingga aku bisa menengok ayah pun setelah ayah sudah beberapa hari di rumah sakit.
Tetapi, ketika aku pergi ke sana, aku lupa bahwa aku tidak tahu letak kamar yang ditempati ayah. Pada akhirnya saudaraku di rumah menelponku untuk pulang ke rumah, katanya biar saja nanti aku diantar olehnya untuk bertemu ayah. Oleh sebab itu, mau tidak mau aku harus pulang ke rumah dan menunda waktu untuk bertemu ayah.
Malam harinya, aku bisa menengok keadaan ayah di rumah sakit berkat bantuan saudaraku yang bersedia mengantarkanku ke sana. Sesampainya di sana, Aku lihat keadaan ayahku cukup stabil, hanya saja beliau masih sulit memakan nasi, setiap hari hanya buburlah yang menjadi nutrisinya.
Aku masih ingat beberapa hari setelah aku menengok beliau, atau lebih tepatnya pada hari senin beliau dibawa pulang ke rumah atas kehendaknya. Sebenarnya dokter menyarankan beliau tetap dirawat di rumah sakit, tetapi beliau bersikukuh ingin pulang ke rumah.
Karena itu, dokter pun mengizinkannya, obat-obatan pun diberikan olehnya sebagai bekal untuk beliau di rumah. Namun, pulangnya ayah ke rumah, bukannya menjadi lebih baik, melainkan keadaannya semakin menurun.
"Ayah... cepat sembuh!"
Aku ingat tepat pada hari kamis di malam hari, keadaan ayahku semakin menurun. Aku dengar ibuku bilang bahwa ayahku merasa kesakitan di bagian tubuhnya, rasanya cukup sulit untuk menggerakkan bagian tubuhnya, bernapas pun terasa sesak.
Aku hanya diam menatap ayahku dari kejauhan dan hatiku tidak berhenti berdoa untuknya, namun hatiku masih tetap diliputi rasa cemas dan ketakutan. Tetapi hatiku terus berkata beliau baik-baik saja, beliau tidak apa-apa, beliau sangat kuat, beliau pasti sembuh, jangan khawatir! Beliau pasti baik-baik saja. Aku langsung memeluk tubuhku sendiri di balik selimut, tanpa terasa aku mulai terlelap dalam tangisku.
Malam hampir larut, tubuhku terasa ada yang mengguncangku. Aku tidak tahu orangnya, namun beberapa saat kemudian aku sadar bahwa orang yang mengguncang-guncang tubuhku adalah nenekku. Pada saat aku bangun dari tidurku, aku mendengar suara gaduh dari kamar ayahku yang terdengar sangat mengkhawatirkan.
"Alloh..! Alloh...! Alloh..."
"Dira, bangun! Lihatlah ayahmu!"
Aku langsung pergi ke kamar ayahku setelah nenekku berkata begitu, rasanya hatiku mulai kembali diliputi rasa cemas dan ketakutan. Kakiku melangkah masuk ke kamar ayah dengan lemahnya, tangan dan kepalaku mulai berkeringat dingin ketika aku sudah berada di sampingnya.
Semuanya tampak jelas ayahku terbaring lemah dan tidak berdaya di atas kasurnya, ibuku menangis sambil memegang kepala ayahku. Rasanya itu tampak nyata di mataku, bukan hanya sekedar mimpi belaka. Kedua tanganku mulai memegang pergelangan tangan ayah, aku merasakan denyut nadinya yang terasa sangat kencang dan besar.
Di samping itu, hatiku sudah ditutupi rasa cemas dan ketakutan, mataku pun sudah sulit menahan air mata lagi, hingga akhirnya tangisku pun telah pecah di hadapannya.
"Ayah...", bibirku terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu yang ingin aku ucapkan kepadanya.
Aku lihat ibuku keluar kamar sambil menangis, lalu beliau pergi ke kamar saudara-saudaraku. Awalnya aku akan ikut bersama ibu, tetapi niat itu aku urungkan.
Lebih baik aku berada di sini, di samping ayah, menemaninya sambil memegang tangannya dan merasakan denyut nadinya yang masih ada.
Hatiku terus berdoa untuknya dan meyakinkanku bahwa beliau pasti baik-baik saja, beliau sangat kuat dan beliau pasti sembuh, karena itu jangan khawatir, sesuatu yang buruk apapun tidak akan pernah terjadi padanya.
"Ayah...maafkan aku!", hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku, tangisku pun semakin deras dan hatiku sangat sedih melihat keadaannya.
Raut wajahnya semakin sendu dan sayu, kulitnya tidak semulus dulu, bibirnya pun sepucat putih susu, dan tubuhnya juga tidak sebugar dulu ketika beliau sehat. Aku mulai berpikir apakah harapanku itu hanyalah sebuah angan semata?
"Ayah...!", beberapa saat kemudian, ibuku masuk ke dalam kamar ayahku bersama nenek dan saudaraku. Kemudian beliau mengambil selimut milik ayahku, beliau berniat menutup seluruh tubuh ayahku dengan selimut itu.
Namun, ketika aku menyadarinya, kedua tanganku lansung menghentikannya. Aku menangis sambil menghentikannya, apa beliau sadar dengan perbuatannya?
"Tidak ibu! Apa yang ibu lakukan?", aku sangat takut, kedua tanganku berusaha mencari detakan denyut nadinya.
"Dira...sabar ya nak!", nenekku bukannya membantuku menghentikan ibu, justru beliau malah menenangkanku?
"Tidak...! Apa yang ibu lakukan? Ayah masih ada...."
"Sabar, nak!"
"Tidak! Hiks... hiks... ayah masih ada... masih ada...ayah masih ada...!", aku sungguh merasa sangat takut dan aku berusaha menghentikan ibuku yang sedang berusaha menutup seluruh tubuh ayahku dengan selimut itu.
"Tidak, ibu! Jangan ditutup! Ayah masih ada... jangan DITUTUP!!! Ayah masih adaaaaaa!!!", namun sayangnya tenagaku tidak sekuat ibuku, beliau mampu menghentikan pemberontakanku dan beliau bisa dengan mudahnya menutup seluruh tubuh ayahku dengan selimut sialan itu.
"Masih ada...!"
"Masih ada..."
"Ayah masih ada..."
"Jangan ditutup, ibu..."
"Ayah masih ada...", ibuku langsung memelukku setelah beliau seenaknya menutup seluruh tubuh ayahku dengan selimut itu, hatiku langsung diliputi rasa takut dan tangisku semakin deras saat ibuku memelukku.
Rasanya separuh hatiku terasa hancur, aku masih belum percaya dengan apa yang aku lihat di depanku. Namun, banyaknya orang datang ke rumahku dan mengelilingi ayahku sudah membuktikan semuanya.
Aku takut, ayah.
Jangan pergi, temanilah aku.
Meski sekarang aku lebih dekat dengan ibu, tetapi aku tetap tidak ingin ayah pergi dariku.
Masa kecilku terasa manis bersamamu.
Setelah kepergian ayahku, rasanya baru kemarin aku bersamanya. Ketika aku bicara, melakukan sesuatu, atau melakukan kebiasaan sesuatu, selalu saja teringat ayah yang selalu melakukan kebiasaan yang sama dengan yang biasa aku lihat.
Rasanya separuh hatiku terasa kosong. Jika ada orang yang bicara padaku, terkadang aku mudah tersinggung, bahkan bisa saja sampai membuatku mudah marah dan tidak bisa melupakannya, hingga akhirnya aku pun menangis dalam kesendirianku.
Bukan hanya itu saja, rumah yang biasa terisi suara ayah pun telah hilang, semuanya tertelan oleh kesunyian. Aku menatap itu semua dalam kesendirianku, rasanya cukup aneh tanpa beliau ada di sini.
Aku menatap sekelilingku, tanpa sengaja mataku melihat makanan kesukaan ayah di meja dan kulkas, biasanya belum sehari ayah sudah menghabiskannya. Namun sekarang, makanan itu tidak ada yang memakannya, atau pun menyentuhnya.
Setelah kepergian ayahku, aku merasakan perasaan menyesal. Hatiku selalu berkata bahwa seharusnya aku bisa meluangkan banyak waktu agar aku bisa memberinya perhatian.
Seharusnya aku tidak mengacuhkan ayahku saat beliau sedang sakit, harusnya aku mampu memberinya perhatian selagi ada walau sedikit. Namun, semuanya telah terlambat, kata-kata ataupun tindakan tidak ada gunanya untuknya, mungkin hanya doa yang bisa menyelamatkannya dan menyertainya.
***
Aku menatap kekosongan ini dengan menatap sebuah foto kecil yang tergambar dirinya bersama ayah dan keluarga kecilnya. Aku tersenyum getir, lalu kedua tanganku menyimpan kembali foto itu ke tempatnya.
Kenangan manis ini akan selalu disimpan agar terkenang selamanya, karena aku hanya memiliki satu foto kenangan bersamanya, hanya satu dan tidak ada lagi.
Jangan khwatir, ayah! Aku selalu berdoa semoga beliau baik-baik saja di sana, aku berharap beliau bahagia di sana, menatapku dari sana dengan penuh kasih sayang.