Jika suatu hari kau mengingat ku kembali..."
"...jangan salahkan aku"
Air mata Surya jatuh begitu saja tatkala ia teringat perkataan Bulan yang begitu menyesakkan dadanya. Ia terdiam tak bisa mebalas perkataan gadis manis itu.
Tangan Bulan meraih tangan Surya dan menautkan jari mereka. Bulan menghela nafas panjang, tak ada lagi isakan yang keluar dari mulutnya. Ia mencoba mengontrol diri menengkan badai yang ada pada benaknya.
"Aku ingin kembali dimana pada saat itu, Kau masih ada disamping ku. Dan menjadi tempat pertama untuk bersandar." Ucap gadis itu lirih. Surya mengerjabkan matanya, perlahan air mata yang sedari tadi ditahan tertimbun di kelopak matanya berjatuhan.
"Meski aku tahu itu tak akan pernah terjadi kembali." Bulan mengulurkan tangannya, mengusap pipi Surya menghapus air mata laki laki itu.
"Sekarang semakin aku melihat mu...aku semakin hancur...apakah kau tahu?Rasanya seperti kau dihadapkan pada kematian meski itu tak nyata..." Dengan perlahan ia memleuk Surya. Dagunya ia sandarkan pada bahu laki laki itu. Matanya tertutup menikmati tiap detik moment terakhir itu.
"Aku lelah"
Perlahan semua hal terasa begitu senyap dan lambat, semua hal yang pernah mereka lalui hingga Surya kecelakaan mengalir begitu jelas di kepala Bulan.
Gadis itu membuka matanya mengahapus kembali air matanya yang meluruh. Tanpa bisa ia hentikan.
"Semoga ini bukan terakhir kalinya"bisik gadis itu perlahan ia melepas pelukannya. Sedangkan Surya masih terpaku di tempatnya.
Bulan tersenyum, mengambil kertas note dalam tas kecilnya lalu memasukkan dalam saku seragam Surya.
Topi yang sedari tadi berada dikepalanya, kini berpindah di kepala Surya.
"Milik mu"
Tangannya terulur membenahi dasi laki laki itu yang terlihat berantakan. Sampai akhirnya ia beranjak meninggalkan Surya, yang masih mematung di sana, sembari melihat punggung gadis itu menjauh.
Perlahan tangan nya meraba saku seragamnya mengambil sesuatu yang Bulan tinggal kan untuk nya. Membuka peelahan dan membaca tulisan di sana.
Surya mengusap wajahnya kasar. Melepas topi yang Bulan berikan, lalu meremasnya kuat.
Ia menengadahkan kepalanya menatap langit yang mendung. Ia mengatur nafasnya dan mulai berjalan. Meninggalkan rooftop.
Note:
'Aku mencintaimu, tapi Tuhan dan
Semesta tak setuju.'
°°°
Hari ini malam begitu dingin dan kelam. Seorang gadis terlihat memandang jutaan bintang yang memperindah langit malam.
Jarinya mengetuk kaca besar dihadapannya berulang kali. Suara helaan nafas kembali terdengar dan terlihat mengapul seperti asap yang keluar dari teko. Leher gadis itu terlilit kain tebal yang melindunginya dari dinginnya malam.
Ia berdiri menghadap lapangan terbang Los Angeles International Airport. Baru sekitar lima belas menit lalu pesawat yang ditungganginya mendarat.
"Bulan.."
Panggilan sesorang itu membuat gadis itu menoleh ke asal suara. Ia tersenyum ketika mendapati kakak nya berdiri tak jauh dari nya.
"Kak Elang..." Gadis itu tersenym lebar meski tak beranjak dari tempatnya berdiri.
Kilasan masa lalu kembali melitas di kepanya. Ia menggelengkan kepalanya. Mengenyahkan segala hal buruk dari pikirannya.
Gadis itu menghirup nafas dalam dalam lalu membuangnya perlahan. Ia kembali tersenyum, menampilkan senyuman indah untuk sang kakak. Ia hanya ingin kakaknya tahu bahwa dirinya baik baik saja.
Namun bukan Elang namanya jika dia tak mengetahui bahwa adiknya menampilkan wajah palsu agar terlihat baik baik saja. Tangannya terbuka lebar siap menerima pelukan Bulan.
Bulan terkekeh pelan kemudian berlari kecil untuk menghampiri kakanya.
"Bulan rindu sama kak El..."gadis itu mendongak menatap sang kakak yang jauh tinggi dari nya. Menampilkan sosok dewasa dan menenangkan. Laki laki yang membawa rasa aman dan nyaman disaat bersamaan.
Elang tak membalas perkataan Bulan, ia menatap adiknya yang terlihat sangat berbeda dimana pada saat terakhir mereka bertemu.
Melekat.
Mata El memanas, tangannya terulur membelai rambut Bulan.
Bulan membatu sejenak,sebelum menatap kemabli kakaknya. Kemudian tersenyum. Tangan El mengepal kuat.
"Nangis an,"bisik El dengan suara lembutnya, membuat gadis itu terbuai. Tapi ego kembali menguasainya.
"Bulan baik baik aja."jawab Bulan. Tangannya melingkar erat dipunggung El. Kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kakak agar kakanya tak melihat ekspresi wajahnya.
Laki laki itu menggeleng,
"Nangis an,"
"Kak."
"Demi apapun itu, kakak nggak suka lihat kamu kayak gini."
Bulan bungkam.
Beberapa detik kemudian, tangis Bualn pecah. Beberpa hari ini terasa sangat sangat berat bagi gadis itu.
El mengerat kan pelukannya pada tubuh kecil Bulan, membiarkan dia melepaskan segala masalahnya sekejab.
"Kak.." ia berusaha menjelaskan segalanya namun semua kalimatnya terrelan isak tangis.
"Sssst..." Desis El, menyuruh sang adik yang ada di dekapannya melanjutkan tangis.
"Kakak tau..."
"Kakak tau segalanya."
"Kamu sudah berjuang."
°°°
~Surat Tak Bertuan~
Aku berharap waktu berhenti untuk sekejab.
Hanya untuk meresakan tanpa ada yang menghantui ku.
Aku membencimu tapi aku mencintaimu.
Bukankah orang orang bilang bahwa titik tertinggi dari mencintai adalah merelakan?itu yang sedang ku lakukan.
Kau tahu meski aku mencintai mu tapi rasa kecewa begitu mendominasi.
Namun tak mgebaikan fakta bahwa dirimu ada .
Dan tak akan pernah terlupakan.
°°°
Bulan terkekeh kecil saat kembali membaca surat itu. Ia kemudian melipat surat itu menjadi pesawat kertas.
Saat ini ia berdiri di jembatan Golden Gate, hamparan laut menyelimuti pandangannya.
Gadis itu tersenyum, mengangkat pesawat kertas lalu meniup ekornya. Dan kemudian di terbangkan.
Pesawat itu terbang mengikuti angin, dan perlahan mendarat di permukaan air. Kemudian mulai tenggelam bersama kegelapan.
"Surat ke-113, Selamat Ulang Tahun Surya."
Kita sudah lama saling mengenal
Membuat sebuah kenangan bersama
Menjadi sesorang yang pernah kau cintai
Atau suatu hal yang disebut bahagia.
Namun,
Dari awal aku datang hanya untuk mencintai, buakan untuk menetap.
Maka dari itu,
Meski bukan diriku.
Tetaplah pertahankan senyum mu.