Matahari tampak bersinar terang dengan udara hangat menyelimuti. Langit biru membentang sejauh mata memandang membuat suasana pagi yang begitu damai terasa hangat.
"Aku dengar Milo akan melanjutkan di USA. Vena, apa kau tidak akan mengikutinya pergi?" Tanya seorang gadis cantik dengan usia 17 tahun.
Vena yang mendapatkan pertanyaan itu menatap kearah teman sebangkunya. Mata berwarna hazel miliknya tampak kosong sejenak sebelum kembali fokus dan menjawab.
"Kenapa aku harus mengikuti Milo? Aku bukan Ibu ataupun saudaranya! Aku akan melanjutkan di Universitas Bali bersama denganmu Riana".
Riana terkekeh pelan, dengan senyuman menggoda dia membalas "Bukankah kau menyukai Milo dan selalu membuntutinya selama 10 tahun ini?"
"Riana!-"
"Oh lihat pangeran Milo kita yang tampan datang kemari!" Riana memotong ucapan Vena dan membuat senyuman yang lebih menggoda.
"Vena, mari pulang bersama aku ingin memberikan sebuah kado untuk ulang tahun Eros. Bantu aku memilihnya!" Milo menyatakan urusannya sebelum beranjak pergi tanpa mendengarkan jawaban Vena.
"Pria ini, kenapa aku bisa menyukai b4jingan ini. Sangat menyebalkan-." Vena mengutuk keras pada sosok Milo yang telah terduduk di tempatnya dan fokus pada guru yang baru saja masuk kedalam kelas.
"Karena kalian telah melaksanakan ujian, pelajaran sudah tidak lagi terlalu penuh seperti dulu. Tapi walaupun begitu tolong tetap fokus pada ujian praktik kalian..." guru pria di depan menjelaskan banyak hal.
Vena tidak terlalu fokus dan malah melihat kearah Milo terduduk dengan sudut matanya.
Mereka telah mengenal sejak usia 7 tahun. Waktu itu Milo dan keluarganya pindah dan menjadi tetangga dengan keluarga Vena.
Sikap Vena yang begitu terus terang dan sedikit tomboy membuat mereka menjadi cepat akrab. Vena menyadari Milo sangat tampan dan luar biasa, tapi hanya itu saja, dia tidak tertarik padanya ataupun memiliki perasaan padanya.
Dan semua itu berubah saat Vena tanpa sengaja melihat Milo tengah berciuman dengan seorang gadis sewaktu kelas 2 smp. Hati Vena berdetak kencang seakan melompat keluar.
Dia gelisah dan merasa tidak nyaman. Selama waktu itu dia bahkan tidak bisa bersikap sewajarnya dengan Milo di sekitar.
Setelah beberapa saat Vena menyadari bahwa dia menyukai Milo. Dia menyukai sahabatnya itu, tapi dengan wajah tampan Milo dan juga semua hal luar biasa yang berkaitan dengan Milo. Vena menjadi berkecil hati dan tidak bisa mengutarakan perasaannya.
Dia juga takut, bahwa perasaannya ini akan menghancurkan persahabat yang telah mereka miliki selama ini.
"Vena, bagaimana menurutmu dengan baju ini? Apakah cocok untuk Eros?" Milo bertanya dengan menunjukkan sebuah baju berwarna krem yang unik.
Mendengar pertanyaan Milo, Vena tersadar dari lamunannya. Dia melihat sekitar dan teringat kembali bahwa sedang bersama dengan Milo tepat setelah kelas usai untuk membeli hadiah ulang tahun.
"Kurasa itu cocok untuk Eros! Aku akan membelikannya aksesoris pria sebagai hadiah." Vena menjawab
"Apakah sesuatu terjadi? Kau terlihat buruk." Milo bertanya cemas seraya mendekatkan wajahnya kearah Vena.
Terkejut bodoh dengan wajah tampan tepat di hadapannya, Vena menampar Milo secara refleks.
"Uuhh, kenapa kau menamparku?"
"Kau terlalu dekat!"
"Kenapa dengan itu? Ini tidak seperti aku akan mencium gadis jelek sepertimu!"
Dengan wajah memerah marah dan malu, Vena menginjak kaki Milo dan meninggalkannya sendiri.
"Humpt!!! Siapa juga yang ingin di cium oleh pria berwajah badut sepertimu!"
"Aduh, itu sakit! Oiii, jangan tinggalkan aku. Vena tunggu sebentar!" Milo merengek sedih dan tertatih mengikuti Vena.
Seolah waktu tidak memperdulikan 2 orang itu, waktu terus berjalan dengan kecepatan stabil dan meninggalkan semua jejak kenangan di belakangnya.
Pada waktu sore hari dengan Matahari yang kian menghilang, langit memiliki warna merah dengan kegelapan yang mulai menyebar.
"Selamat sore Bibi, apakah Vena ada?" Milo memasuki rumah Vena dengan tidak sopan dan menyapa ibunya.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut kearah Milo dan menunjuk kearah kamar Vena berada. "Kenapa kau tidak melihatnya sendiri. Dia ada di dalam kamarnya sejak tadi."
"Terimakasih Bibi, kalau begitu aku tidak akan sopan!"
Senyuman canggung muncul di sudut bibir Milo, dia selalu merasa sedikit tidak nyaman dengan sikap Ibu Vena yang terlalu longgar dan membiarkan pria sepertinya masuk kedalam kamar wanita. Walaupun mereka mengenal sejak kecil Milo masih merasa tidak nyaman.
"Oh, Milo..." Ibu Vena menghentikan langkah kaki Milo. Menatap kearah pria itu yang kebingungan dia melanjutkan perkataannya "Aku dengar kau akan berangkat ke Amerika besok? Kenapa kalian tidak berbicara dan membuat semuanya jelas?"
Mengerti isyarat yang coba di ungkapkan Ibu Vena, Milo merasa sedikit malu. Namun, dia sedkit mengangguk dengan enggan. "Aku akan memikirkannya Bibi. Terimakasih!"
"Para anak Muda sekarang terlalu pengecut kurasa!" Ibu Vena menggelengkan kepalanya pelan setelah melihat sosok Milo yang menghilang.
Milo melangkah ringan dan pelan, dia membuka pintu kamar Vena yang tidak terkunci seolah itu adalah hal yang biasa.
Setelah pintu itu terbuka, mata hitam indahnya menangkap sosok Vena yang tengah tertidur lelap diatas tempat tidur.
Milo mendecakkan lidahnya pelan atas kelaukan Vena, hari masih sore dan matahari belum benar-benar tenggelam. Tapi gadis bodoh ini tertidur begitu lelap layaknya b4bi.
Melihat Vena yang tertidur, Milo berbicara kasar "Vena apa kau tidur? Aku membawakanmu Ice Cream Coklat. Jika kau tidur aku akan memakannya sendiri."
Tidak mendapatkan respon, Milo mendesah sebelum mendekat kearahnya. Dia merasa gadis ini benar-benar tidak dapat di tolong.
"Aku akan menciummu jika kau tidak bangun!"
Tetap hening tanpa ada suara selain hembusan nafas yang ringan, Milo menyadari gadis itu benar-benar sekarat dialam mimpi.
Dengan ceroboh jemari tangan Milo yang besar mengusap pipi Vena secara lembut. Dia mendekatkan kepalanya dan memberikan ciuman ringan di bibir merah ceri Vena yang tertidur.
Merasa tidak puas, Milo terus memberikan ciuman demi ciuman. Tapi gadis itu bahkan tetap tidak sadarkan diri.
Dengan helaan nafas Milo berbisik pelan seraya menatap wajah tidur Vena "Aku Mencintaimu, selalu mencintaimu sejak kami pertama bertemu saat berusia 7 tahun. Aku menyukaimu sejak saat itu dan perasaan itu terus tumbuh menjadi lebih kuat. Tapi aku tahu kau tidak menyukai, itu membuatku sedih dan terluka. Aku tidak yakin sejak kapan itu di mulai, tapi tatapanmu mulai berubah saat melihatku. Dan aku sadar bahwa mungkin kau menyadari perasaanku atau apapun itu yang membuatmu menjadi menyukaiku, atau mungkin aku salah?!.."
Melihat wajah Vena yang begitu lembut dan tertidur lelap Milo melanjutkan perkataannya, "Jika aku bisa, aku tidak ingin pergi ke USA. Aku ingin tetap disini, disisimu. Aku takut jika aku pergi, seseorang akan mengambilmu dariku. Tapi, aku benar-benar harus pergi! Jika aku memintamu untuk menungguku, menunggu aku kembali dan tidak membiarkan siapapun memilikimu! Apa kau akan mendengarkanku?"
Dengan keheningan yang tetap menyelimuti, Milo mengela nafas panjang. Dia mendekat kearah Vena dan memberikan beberapa Ciuman lembut sebelum berkata dengan tegas. "Aku akan pergi, tapi aku akan kembali. Dan saat aku kembali, aku akan memastikan bahwa kau akan menjadi milikku! Tidak peduli apa yang terjadi dimasa depan, aku akan merebutmu dan memilikimu!"
Setelah selesai dengan ucapannya, Milo sekali lagi memberikan ciuman pada Vena. Dan beranjak untuk pergi "Tunggu aku Vena!"
Sosok Milo hilang di balik pintu kamar Vena.
Gadis yang tertidur lelap itu, perlahan membuka matanya.
Vena mencengkram bibirnya erat dengan kedua tangannya. Dia terbangun dan terduduk diatas tempat tidur dengan wajah kosong.
Jantung Vena berdetak kencang, tubuhnya gemetar dengan ekspresi tidak percaya dan kebahagiaan.
"B4jing4n tercela yang mencium gadis tidur sepertimu tidak akan memiliki pasangan hidup!" Vena mengutuk keras dengan jemari tangan yang terus meraba bibirnya.
"Karena kau tercela dan tidak mungkin memiliki pasangan hidup, maka aku tidak punya pilihan selain menjadi pasanganmu!" Dengan senyuman yang sedikit konyol, Vena bergumam sendiri.
Mata hazel miliknya berembun dan memerah perlahan sebelum setetes air mata kristal jatuh dari kelopak matanya yang menutup.
Vena terisak lirih dan bergumam pelan "Milo, aku akan menunggumu! Jadi, cepatlah kembali.."
-SELESAI🏃♂️🏃♂️🏃♂️