Cerpen (perbaiki lagi)
'lihatlah dirimu sendiri, maka kau punya berbagai gagasan atau prinsip untuk menghubungkan mu ke ruangan yang pantas untukmu sendiri.'
Dia, yang sudah memenangkan keinginannya untuk melihat hasil jerih payahnya sendiri, sekarang berada di tempat yang akan mengubah pikirannya. Pikiran mengenai hal-hal yang seharusnya dia sadari dari dulu. Insnoly namanya.
Kamar kakeknya begitu kuno, tapi antik. Kayu mahoni sebagai bahan yang banyak terlihat ditempat itu. Dia baru saja mendapat warisan kakeknya yang dimana hanya mendapat kamar kakeknya. Aneh dia mendapatkan sesuatu yang tidak disukai banyak orang. Aromanya saja tidak sedap bagi sebagian orang, apalagi kamarnya.
Tapi tidak baginya. Baginya, itu adalah sebuah kemenangan mutlak.
"Jadi ini cermin kakek ya? Cukup mengesankan." Ujarnya sambil melihat dirinya di cermin. Senyumnya lebih jahat dari harimau yang menang dari singa.
"Insnoly." Suara yang memanggilnya seperti suara kakeknya. Myuroul akneskasia. Lantas Insnoly berbalik, namun yang dia lihat bukanlah kakek atau ruangan kakek. Tapi ruangan itu hitam pekat. Saat dia berbalik kembali ke cermin dia hanya melihat dirinya.
"Insnoly yang malang." Ucap kakeknya.
"Apakah ini yang disebut paranormal?" Tanyanya. Bukannya takut, dia hanya tersenyum tertarik dengan apa yang sedang dia alami.
"Bukan. Lebih tepatnya ada teguran untukmu," Jawab kakeknya. "Agar mencegahmu untuk membunuh lebih banyak orang." Insnoly berbalik lagi dan melihat kakeknya yang berada ditengah-tengah warna hitam pekat itu.
"Aku tidak percaya apa yang kakek katakan." Ujar Insnoly dengan nada sombong.
"Aku melakukan ini hanya untukmu. Aku ingin jujur padamu. Mohon dengarlah kakek sebentar saja--"
"Aku akan mendengarkan kakek. Maksudku, apa yang akan aku lakukan jikalau sudah seperti ini? Menatap langit-langit yang menghitam karena keberadaan kakek? Membosankan. Tapi mengapa hanya aku yang ditegur? Apa mereka juga?" Sela Insnoly.
"Aku sudah bilang ini demi dirimu." Ucap kakeknya dengan nada prihatin. Dari matanya terpancar rasa keyakinan untuk bisa mengubah cucunya yang ke tiga.
"Ya, ya. Lalu, katakan apa yang membuat kakek datang kesini. Ke cermin ini?" Insnoly melipat tangannya di dadanya.
"Kau adalah cucu kesayanganku."
"Itu saja? Setelah apa yang aku lakukan untuk kakek?"
"Aku akan bertanya terlebih dahulu. Apa kau yang membunuh ku?"
"Lalu? Hanya menjalankan tugasku untuk melakukan itu. Kau cukup tua dan merepotkan dirimu sendiri dengan perlakuan orang lain padamu. Biar aku yang menanggung kejadian berikutnya." Ucapnya dengan tenang.
"Apa kau akan membunuh lagi?"
"Itu tergantung apa orang lain akan mengusik lebih dalam lagi tentang diriku. Lagipula, kau dibunuh hanya karena penyakit. Dan penyakit itu akan menjadi sebagai alasan yang pas, bukan?" Dia mengatakan itu dengan enteng dan mengingat kejadian bagaimana dia membunuh kakeknya dengan racun.
"Alasan aku mati bukan karena dirimu."
"Tidak, itu karena diriku." Dia memperjelas nya.
"Aku akan tanya lagi. Apa kau membunuh hati ibumu?"
"Apa?"
"Aku bilang, apa kau membunuh hati ibumu?"
"Apa-apaan?! Setelah apa yang aku lakukan untuk kakek, kau menuduhku membunuhnya? Aku hanya membunuh musuh mu dan itu hanya sepuluh. Lagipula, itu tergambar sebagai kecelakaan dan kau menuduhku membunuhnya?!" Amarah Insnoly sedikit demi sedikit muncul.
"Hati ibumu sakit karena aku. Dan kau memperparahnya dengan diam saja tanpa peduli."
"Apakah ada orang lain yang mengajarkan aku tentang rasa kepedulian?"
"Hanya aku." Kata kakeknya.
"Hanya kau. Tapi itu sebelum satu bulan kau meninggal dunia, bukan? Walau aku datang terpaksa olehmu ke rumah bergelimang harta!" Insnoly membenarkan.
"Apa kau tahu dimana ayahmu?"
"Sampai saat ini, aku bertanya-tanya, mengapa ayahku meninggal sebulan setelah ibuku tidak ada." Nada Insnoly seperti acuh tak acuh terhadap mereka.
"Tidak. Hari ini."
"Bersama kakek tentunya. Untuk apa basa-basi lagi?"
"Kau tidak menghasilkan apa-apa. Kau harusnya tahu itu. Ibumu menjadi pembuat onar dikalangan bangsawan. Dan tak sengaja menyinggung salah seorang yang bisa membela dirinya walau telah membunuh ribuan orang di sana." Kakeknya membenarkan hal itu.
"Ap-- aku sudah muak dengan keluarga ini! Aku harusnya tidak datang ketempat ini lagi. Aku sudah lari selama 16 tahun! Dan kau malah membawa ku, ketempat yang dimana kenangan-kenangan itu selalu berkutat dalam diriku!" Insnoly mulai menitikkan air mata. Kenangan terindah ada di tempat dimana dia dan ibunya hidup dengan penuh kebanggaan dan cinta. Tapi dia tidak diajarkan dengan baik oleh ibunya. Walau seorang ibu tak sempurna mengajarkan banyak hal pada Insnoly, tapi itu mengakibatkan kematian di masa yang akan datang.
"Ayahmu tertuduh karena bukti yang kuat dari si pelaku. Tapi ayahmu tidak menyerah begitu saja. Dia--"
"Cukup! Jangan ingatkan aku lagi pada kejadian itu!" Ketakutan akan bayangan-bayangan yang sudah mendarah daging dikepalanya. Dia merenduk untuk tidak mendengar suara-suara yang mengerikan. Jeritan, tabrakan dan klakson. Dia ada di sana. Didalam mobil dengan ayahnya.
"Dia membuat kejadian itu seolah-olah terjadi. Padahal itu hanya buatan agar kau tidak mencemaskan lagi keadaannya."
"Setelah itu dia melakukan ini semua padaku. Dibiarkan bahwa aku diolok-olok oleh semua orang! Keluarga dekat ataupun jauh, semuanya sama saja!" Rasa muak dan sedih tercampur dalam satu nada.
"Mengapa kau tidak datang padaku waktu itu?" Tanya sang kakek.
"Apa aku harus menangis selama satu jam disini...? Tidak ada yang dapat dipercaya! Bahkan kau! Aku tahu bahwa ada yang salah dengan cara ayahku tiada! Lalu dia membiarkan aku dilema sendirian! Semuanya pembohong! Pembohong! Pembohong!"
"Ayahmu masih hidup."
"Apa...?" Dia berhenti menangis. Insnoly mulai melihat kakeknya dengan rasa penuh ketidak percayaan.
"Ayahmu masih hidup." Katanya lagi.
"Mengapa Kakek tidak memberitahukan ini padaku? Mengapa?!" Ujar Insnoly dengan setengah berteriak dan sedikit gemetar dibibir nya akibat menangis tadi.
"Karena aku ingin kau tenang terlebih dahulu."
"Aku tidak akan pernah tenang. Aku akan membuktikan padamu seberapa tidak tenangnya diriku ini! Aku akan membakar semua yang ada di kamar ini! Aku akan membakar semua yang kakek berikan padaku!" Ancamannya pada kakek.
"Kau tidak bisa."
"Mengapa? Hah?! Apakah ada sesuatu yang bisa membayar apa yang telah kalian lakukan padaku? Apakah ada?! Tidak!" Dia berteriak lagi dan lagi. Air matanya masih mengalir.
"Aku tahu aku salah tidak memberitahumu dari awal. Tapi--"
"Apakah itu karena orang lain? Cucu kakek? Siapa? Jikalau aku tahu, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Pasti semua ini tidak terjadi!" Sela Insnoly.
"Aku minta maaf untuk kalian." Kata kakek dengan rasa penuh sesal.
"Apa ini karena mereka? Tidak mungkin bukan?" Tanyanya tidak percaya.
"Aku telah meminta Meriseb untuk tidak lembut dan rendah diri."
"Dia cucu tersayangmu, bukan? Dan untuk apa warisan tahap kedua?" Tanyanya lagi.
"Warisan itu adalah nasehat. Walau lebih ke wasiat yang sebenarnya adalah mereka menerima semua yang sudah terdaftar di dalam tulisanku. Dan aku sudah bilang dari awal. Kau adalah cucu kesayanganku."
"Kau meminta mereka untuk apa? Menyulitkan mereka semua?"
"Aku minta Meriseb untuk tidak merendah agar Mobelos tidak sombong atau lebih rendah."
"Nadroult punya segalanya. Kakek ingin dia menderita karena kebangkrutan?" Ucap Insnoly dengan mengurutkan dahinya.
"Bakat terpendamnya ada pada bisnis." Kata kakeknya. Tapi Insnoly menatapnya dengan tidak percaya.
"Kau menyuruh Leones diam saja melihat segala sesuatu dengan menganggapnya sepele, kau ingin dia menjadi pengangguran?" Insnoly melipat tangannya di dada. Dia bertanya pada kakeknya dengan memiringkan kepalanya.
"Aku melakukan itu agar dia tidak keras hatinya."
"Shelen bukan orang yang bertanggung jawab. Kau memberikan satu-satunya rumah yang menurutmu berharga jatuh padanya?"
"Dia hanya perlu sendirian dan belajar menjaga tanggung jawab yang besar."
"Dan mengapa aku harus bertemu dirimu lagi?!" Insnoly berdiri lagi.
"Agar kau bisa menemui ayahmu. Jadi jangan bakar ruangan ini. Kau tidak akan mendapatkan petunjuk dimana ayahmu berada nantinya."
"Mengapa, kek? Mengapa aku harus pergi menemuinya lagi, setelah meninggalkan ku sendirian di rumah ini?" Ucapnya dengan pasrah.
"Kau tidak ingin bertemu dengannya?" Tawar kakeknya.
"Aku...! Walau aku ingin, apa gunanya untukku?" Dia berusaha mengelak.
Suasana hening sejenak.
"Kau hanya takut menerima kenyataan." Jelas kakeknya.
"Aku--"
"Kau bukanlah cucu yang bisa menenangkan dirinya sendiri." Insnoly ingin membela namun, terhalang oleh ucapan kakeknya.
"Aku--"
"Kau tidak pernah bisa tenang." Dia memotongnya lagi.
"Ya, aku--"
"Itulah sebabnya mengapa aku melakukan ini. Ruangan ini adalah hatimu sendiri. Hitam pekat. Penuh kebencian, ketakutan, jiwa seseorang yang telah lama hilang, ketidak pedulian dan rasa khawatir. Sekarang, katakan padaku. Apa kau bisa tenang mendengar apa yang aku katakan tadi?" Tanya kakeknya. Dengan sangat tenang dia menjelaskan padanya semua yang sudah dibiarkan Insnoly.
"Aku... Aku tahu seharusnya aku tidak melakukan ini dan itu. Aku hanya perlu mendengarkan kakek. Walau aku tenang atau tidaknya, aku akan tetap belajar. Tapi jikalau benar ayahku masih hidup..." Dia menunjukkan kepalanya dengan rasa penyesalan.
"Lihatlah ke cermin." Kata kakeknya. Lalu Insnoly berbalik lagi kearah cermin. Dilihatnya bunga mulai sedikit demi sedikit mekar. Rasa ketenangan yang pertama kali dia lihat. Tak pernah dia melihat sesuatu yang mengejutkan selain semua ini.
"Kek, aku bisa melihat--" saat Insnoly berbalik arah pada kakeknya, kakeknya sudah tidak ada lagi. Dan semua ruangan hitam itu digantikan dengan sama persis yang ada di cermin.
"Aku... Aku bersyukur memiliki kakek sepertimu." Ucapnya entah pada siapa. Mungkin pada siapapun yang mendengarnya saja.
So... Roda emosi berputar saat kau bicarakan semua masa lalu dan membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan bagaimana kau belajar dari masa lalu. Jika kau mengubah segalanya menjadi terbalik, maka kau hanya mendapatkan rasa kekecewaan yang mendalam.
Tapi apakah cara ini yang terbaik bagi Insnoly untuk berubah? Itu tergantung perjuangannya melawan arus balik dari masa lalu.