Sesuatu yang gila dan aneh. Agnesia mulai mengikutiku. Bukan dengan wujudnya yang mengerikan penuh darah namun wujud cantik dan bersih. Dia sesekali tersenyum padaku. Memperlihatkan gigi putih bersih dengan bibir pucatnya.
Malam itu dia mendekatiku. Menyentuh pundakku dan mengajak berkomunikasi.
Dia mulai bercerita padaku.
Namanya Agnesia Arthania. Umurnya 17 tahun saat meninggal dan masih tercatat sebagai siswa SMA swasta di Jakarta. Namun dia tidak mau bercerita kenapa dia meninggal. Itu adalah rahasia yang mungkin suatu saat bakal terungkap.
Dari situlah kami akhirnya berteman. Memang sangat aneh jadinya, untuk pertama kalinya aku berteman dengan hantu.
Keesokan harinya saat aku bekerja, mendadak CEO muncul dan meminta rapat dengan klien dari Singapore. "Sial bagaimana ini." gumamku. Agnesia muncul dan tersenyum melihat kegusaranku. Aku belum siap rapat dengan pemegang saham dari luar negeri karena aku tidak memiliki bahan untuk disajikan dalam rapat.
"Gakpapa, semuanya akan baik-baik saja." bisik Agnesia padaku. Aku mengangguk.
Mulut Agnesia bergumam aneh, seperti membaca sesuatu namun aku tidak tahu. Mungkin dia sedang membaca mantra gaib yang aku tidak mengerti.
Mereka datang namun aneh. Mereka hanya memintaku menjadi tour guide selama di Indonesia dan aku sangat bersyukur. Sepertinya Agnesia memang membantuku.
Hal yang lebih aneh tiba-tiba terjadi. Ketika tuan Robert memintaku berjalan-jalan ke mall, sesosok astral mengikuti kami. Hawanya negatif dan wujudnya sangat menyeramkan. Tubuhnya panjang, hitam dan beraroma busuk. Apalagi suaranya yang suka bergumam tidak jelas yang membuatku merinding. Perkiraanku dia kiriman seseorang untuk mengganggu Mr.Robert. Aku berusaha menangkapnya dengan botol namun gagal. Dia jauh lebih kuat dariku. Memang aku sedang datang bulan sehingga lebih lemah dari biasanya. Aku mulai berpikir, memutar otak agar hantu ini tidak mengganggu.
Seseorang memegang pundakku. Dingin sekali. Aku memalingkan wajah dan ternyata itu Agnesia. Dia hanya melihat mataku dan langsung bergerak menyerang hantu itu.
Mereka saling mencengkeram satu sama lain. Aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Aku takut dan lebih memilih mengajak Mr. Robert mencari buah tangan untuk anaknya.
Kami menuju store baju anak. Tidak berapa lama kemudian, Agnesia muncul dan tersenyum. Sepertinya dia berhasil memusnahkan hantu itu.
Beberapa sosok astral yang mengerikan entah kenapa menghilang. Padahal di store baju anak sangat banyak hantunya. Ada bapak berbaju kemeja dengan tangan nyari putus dan leher tertancap pisau. Ada nenek berbaju kebaya dengan kaki yang diseret-seret saat berjalan. Ada juga sosok kakek dengan kepala berlumuran darah. Namun kali ini tidak ada satupun yang terlihat.
Hal-hal luar biasa yang tak pernah kuduga kembali terjadi. Gajiku naik, dapat mobil gratis dari bank tempatku menabung dan mendapatkan proyek besar di USA.
Seperti mimpi yang jadi nyata. Aku berpikir apa itu dari Agnesia? Tapi tidak mungkin. Semuanya karena takdir, pikirku.
Aku tertidur lelap dan bermimpi. Dalam mimpiku, semuanya terlihat. Masa lalu Agnesia. Masa-masa dimana dia sekolah, bersosialisasi, les piano dan ketika dia meninggal.
Agnesia bersekolah di sekolah swasta elit 30 tahun lalu di Jakarta. Dia dilahirkan dari keluarga kaya. Ibu dan ayahnya adalah pemilik beberapa hotel di Indonesia, Singapore dan Jerman. Dia memiliki seorang kakak perempuan yang hanya terpaut usia 1 tahun darinya.
Mereka sangat mirip. Namun aneh, aku seperti kenal dengan kakaknya itu.
Saat dia berjalan kaki menyeberang jalan, sebuah truk besar yang sopirnya mabuk menabraknya. Agnesia terpental dan tubuhnya berlumuran darah. Dia meninggal setelah satu jam di ICU. Rohnya tidak tenang dan berkeliaran selama 30 tahun.
Airmataku menetes melihat segalanya. Tubuhku penuh keringat dan aku terbangun sambil menangis tersedu. Mendengarku menangis, Agnesia muncul dan menghapus airmataku.
"Jangan nangis Cha." ucapnya dengan lembut.
"Kamu lebih baik kembali jangan disini lagi. Kembalilah ke tempat semestinya kamu berada." ucapku sambil memandangnya.
Dia tersenyum
"Aku akan kembali setelah menepati janjiku." jawabnya dan dia pergi menembus kaca apartmenku. Aku hanya bisa memandangnya tanpa berbuat apapun.
Aku hanya melamun, berpikir keras bagaimana caranya membuat Agnesia kembali ke tempat semestinya namun aku tidak berhasil menemukan caranya.
Dua hari kemudian aku mendapat surat. Surat dari ayahku yang tinggal di USA. Ayahku orang Indonesia namun memilih tinggal di USA untuk berbisnis. Ibuku sudah meninggal. Beliau meninggal saat melahirkanku. Namun aku belum pernah melihat wajahnya karena ayah tidak pernah memberikan foto ibu padaku. Nenek dan kakekku juga sudah lama meninggal sehingga aku tidak tahu bagaimana wajah mereka.
Surat dari ayah adalah hadiah ulang tahunku. Dia hanya mengirimiku selembar foto dan sebuah surat. Foto dua orang perempuan yang cantik berseragam SMA. Entah kenapa mereka tidak asing. Dibelakang foto itu tertulis..
In Memoriam Agnesia (kanan) dan Arisa(Kiri).
Aku tersontak kaget. Itu Agnesia dan kakaknya. Aku membaca surat Ayah..
Dear Alsa, mungkin ini waktu yang tepat untukmu melihat wajah ibumu. Bukannya ayah melarangmu selama ini tapi ayah ingin kamu tegar dan kuat menerima kenyataan kalau kamu dibesarkan tanpa kasih sayang ibumu. Setiap kali ayah memperlihatkan foto ibumu sewaktu kamu bayi, kamu akan sakit dan menangis. Jadi itulah alasan ayah merahasiakan wajah ibumu selama ini.
Maafkan ayah..
Namun, inilah waktu yang tepat untuk kamu melihat betapa miripnya kamu dan ibumu. Arisa adalah ibumu. Agnesia adalah tantemu yang meninggal karena kecelakaan. Mereka sangat dekat.
Maafkan ayahmu ini..
With love, Ayah
Aku menangis membaca suratnya dan mendekap foto ibu.
Agnesia muncul dan tersenyum padaku. Tangan dinginnya membelai wajahku.
"Cha jaga dirimu baik-baik... Selama dua puluh tahun ini aku sudah menepati janjiku untuk menjagamu. Sekarang waktu ku sudah habis. Tugas ku sudah selesai. Aku harap kau baik-baik saja. Aku menyayangimu.." ucapnya sambil mencium keningku. Dia menghilang seperti cahaya menuju langit. Aku terdiam dan harus menerima kenyataan.
Selama ini dia yang selalu menjagaku. Selama ini dia yang selalu mengusir hantu jahat dan nakal disekitarku.
Aku memandang langit yang biru sambil menggenggam mutiara hitam milik Agnesia. Ini menjadi milikku sekarang. Setidaknya aku tahu, Agnesia adalah teman, sahabat dan bidadari tak bersayap yang dikirimkan Tuhan