Hari Valentine menjadi hari yang selalu di tunggu-tunggu kebanyakan pasangan muda maupun tua. Itupun tidak hanya untuk yang sudah punya pasangan saja melainkan juga untuk seseorang yang ingin mengungkapkan cintanya di hari spesial.
Tapi tidak dengan Siswa siswi di SMA Angkasa. Hari Valentine adalah hari yang ingin sekali mereka lewati dan bahkan kebanyakan dari siswa siswi tersebut tidak masuk sekolah pada setiap tanggal 14 Februari.
Setelah selesai jam pulang sekolah para siswa siswi masih berkupul di kelas bersama dengan gengnya masing-masing.
"Seminggu lagi tanggal 14 guys. Apa rencana kalian?" Miska.
"Sepertinya aku tidak masuk sekolah. Sebenarnya aku menolak untuk sekolah di sini setelah mendengar kabar tentang kejadian setiap tanggal 14. Hanya saja orang tuaku ingin sekali aku sekolah disini karena sekolahnya bagus." Diana.
"Sama. Bahkan aku bilang kalau sekolah ini menyeramkan. Namun mereka tetap saja memaksa" Iren.
"Padahal setiap tahunnya ada korban jiwa. Tapi tetap saja sekolahnya tidak pernah di selidiki dan orang tua siswa juga tidak ada yang percaya" Diana.
"Tapi kabarnya sebelum tanggal 14 ia sudah memberi hadiah" Miska
"Uuuh.. Aku jadi merinding" Iren memeluk badannya sendiri dan menggeliat karena merinding.
Tak.Tak... Tak.Tak
"Suara apa itu guys" Iren
"Paling juga penjaga sekolah. Biasalah mau ngecek siswa yang masih berkeliaran di gedung" Miska.
"Tapi suaranya sudah hilang dan kenapa suara bapak penjaganya tidak kedengaran seperti biasa" Iren
"Sudahlah jangan menakut-nakuti" Miska.
"Siapa yang menakut-nakuti" Ketus Iren Kesal.
"Pulang saja yuk. Perasaanku enggak enak nih cuma kita bertiga yang ada di kelas" Miska.
Tak.tak.. tak. tak.. suara langkah sepatu yang terdengar semakin jelas dan serentak mereka melihat ke arah pintu menunggu siapa yang datang. tak..tak..tak namun yang ditunggu tidak kunjung datang sedangkan suaranya semakin dekat dan langkanya semakin kencang.
"Aaaaaaak" Jerit mereka dan berlari keluar kelas.
sampai tubuh mereka terbentur kepinggir meja dan kursi.
Duuk.. Diana terjatuh "Tunggu.." Jeritnya yang mencoba berdiri.
Miska kembali untuk membantu Diana berdiri. "Cepat" dengan nafas yang terengah-engah tidak beraturan.
Mereka berlari di lorong sekolah yang sunyi lalu menuruni tangga sedangkan Iren sudah tidak terlihat lagi.
Keesokan harinya sekolah berjalan efektif seperti biasa. Miska dan Diana tidak ingin membahas kejadian yang dialami mereka semalam.
"Kalian melihat Iren?" Tanya Juno senior satu tingkat di atas mereka.
"Tidak Kak, sepertinga tidak datang. Kalau mau lebih jelas tanya Miska dan Diana saja kak."
"Mereka dimana?"
"Di kelas kak"
"Makasih ya" langsung pergi.
°°°
"Ganteng bangetkan" berbisik. "Ketua Osis dan Kapten basket lagi" Sambil berjalan.
"Iya. Gue sampai gemetaran loh. Lihat deh" menunjukkan tangannya.
"Gue dengar kak Juno masih single loh"
"Haa.. Serius." Tersenyum senang.
"Pasti lu ngarepkan" Sinis.
"Enggak Juga."
"Wajah lu udah menunjukkan! Pasti Valentine ini banyak banget yang kasih dia coklat dan bunga"
"Sulit. Banyak saingannya" Mereka berduapun saling tertawa.
°°°
"Miska" Panggil Juno. Namun Miska tidak menyaut.
Juno menyentuh pundak Miska "Miska"
"Haaa" Terkejut langsung melihat kebelakang.
Juno melihat Miska aneh "Siang-siang bolong jangan terbengong. Nanti kau tersambat sundel bolong. haha" Di sambut dengan tawa.
Namun Miska hanya tersenyum "Ada apa kak"
"Kau lihat Iren?"
Lagi-lagi Miska terdiam "Hei" Juno menyadarkan Miska "Haa.. Dia tidak masuk kak"
"Kemana dia?"
Melihat ke arah Diana yang tidak merespon "Tidak tau kak"
"Padahal hari ini kami ada rapat. Ya sudah makasih" Langsung keluar dari kelas.
Juno heran kenapa Iren tidak memberi kabar. Di telepon nomornya juga tidak aktif. Sedangkan tingkah kedua temannya juga aneh.
"Apa ada hubungannya dengan suara jeritan yang aku dengar semalam" Batinnya.
°°°
H-3 sebelum tanggal 14. Juno masuk kelas sedikit telat karena ada yang di urusnya di ruang osis.
Semua teman sekelasnya melihat ke arahanya dengan tatapan yang dingin dan menyeramkan. Tanpa sedikitpun bersuara.
"Kalian kenapa" Mengernyitkan dahinya.
"Di meja lu" Heri Menunjuk dengan dagunya. Setidaknya hanya Heri yang berani membuka suara.
Berjalan ke mejanya "Dari siapa nih" Tanyaknya mengambil coklat dan Kertas kecil yang juga terletak di samping coklat.
"Kenapa kau ambil" Jeritnya Heran.
"Memang kenapa? Ini untukku kan" Menjawab dengan santai.
"Kau tidak tau tentang wanita berambut panjang itu" Tanya Heri.
"Tanggal 14 maksudmu!"
Mengangguk dengan cepat "Kau target selanjutnya Jun"
Juno ingin membaca kertas itu. "Jangan" Teriak Heri mencegah Juno.
"Kita akan tau dari siapa kalau kertas ini di baca" Ketusnya menyingkirkan tangan Heri.
"Abaikan saja. Pasti isinya..."
"Perpustakaan tanggal 14⚘"
"Tuhkan. Kau tidak takut!"
"Seperti yang sudah ku duga" Berbicara dengan pelan.
"Maksud lu apa" Heri.
Melihat ke sekelilingnya yang masih terus menatapnya "Ikut aku" Melangkah keluar kelas.
"Mau kemana? Sebentar lagi guru masuk" Mengikuti Juno.
Juno dan Heri sudah ada di atap sekolah. Kenapa Juno memilih atap sekolah karena hanya di situ tempat yang guru tidak akan datangi.
"Kenapa! Apa yang ingin kau bicarakan" Heri sudah keringatan karena menaiki tangga dan ditambah lagi membayangkan apa yang akan terjadi dengan Juno.
"Kau tidak perlu setakut itu" Ketusnya.
"Gimana tidak takut bro. lu bentar lagi ma.." Pembicaraannya terhenti karena Juno langsung mengatup bibir Heri dengan tangannya.
"Jangan pikirkan yang aneh-aneh. Itu tidak akan terjadi"
"Senior kita sudah banyak yang kena. Bukan hanya yang meninggal tapi juga yang hilang.
"Aku tau dan saat ini Iren sudah hilang"
Membulatkan matanya "Itu kenapa dia tidak ikut rapat." Terbengong "...Sudah 3 Hari" Jeritnya.
Juno mengangguk "Aku akan mencegah ini terjadi lagi"
"Bagaimana kalau kita tanya orang tuanya"
"Sudah. Bahkan orang tuanya juga menghilang"
"Tunggu Jun. Kenapa selalu murid perempuan yang mengilang dan murid laki-laki yang menerima hadiah yang ujung-ujungnya meninggal."
"Entahlah! Mungkin saja karena murid laki-laki itu punya niat jahat"
Melihat ke Juno "Berarti lu"
"Aku juga tidak tau kenapa bisa mendapatkan coklat ini"
"Sudah pasti karena kau punya pikiran kotor. jangan bilang kau ingin melakukan sesuatu ke Iren"
Tok "jangan asal bicara! Oya. Kau bisa hubungi kontak teman-temannya wanita yang pertama kali menghilang dari sekolah"
"Kalaupun bisa. Aku tidak mau"
"Cari saja nomor kontaknya. Biar aku yang menghubungi mereka. 2 hari ini kita harus bisa menuntaskan semuanya"
°°°
Selama dua hari Juno mengubungi alumni SMA Angkasa. Banyak dari mereka yang tidak mau menjawab pertanyaan Juno alasannya karena tidak terlalu mengenal wanita yang menghilang itu. Tapi ia yakin itu karena beberapa dari mereka merahasiakan sesuatu.
Sampai kepada satu alumni wanita yang ditemui Juno dan Heri.
"Kalian ingin mengungkapkan perasaan di tanggal 14 nanti" tanya wanita yang bernama Sisi.
"Tidak" Jawab Juno dengan tegas.
"Kalau aku tidak biasa menyatakan cinta. Biasanya para wanita itu yang mengejarku" tertawa senang.
Mimik wajah Sisi berubah jadi dingin. "Kau yang mendapatkan coklat itu?"
"Bukan. Tapi Juno" menunjuk Juno.
"Kalian mempermainkanku" Ketusnya.
"Tidak. Saya serius dan kalau Heri ia memang orang yang suka bercanda kak"
"Maaf" Menunduk sopan.
"Jadi siapa wanita yang mengejarmu" Tanya Sisi.
Saling melihat lalu menggeleng "Tidak tau"
"Memangnya kenapa kak?" Heri
"Cari tau. Kalau bukan kau kemungkinan dia yang akan mati"
"Haaa.. bagaimana caranya sedangakan semua murid wanita suka dengannya" Ketus Heri.
"Sebenarnya apa yang terjadi"
"Aku tidak tau persisnya. Tapi hari itu ada yang menaruh coklat di atas meja Chika dan ia sangat senang menerimanya. Ia bilang ke aku (sehabis pulang sekolah aku akan berjumpa dengannya).
Aku tidak tau siapa orang yang ia maksud. Keesokan harinya Chika tidak masuk lagi bahkan orangtuanya sampai saat ini mencari keberadaan anaknya"
"Kakak tidak memberikan saksi"
"Sudah. Namun kepala sekolah malah memberhentikanku. Mereka menuduh aku mengarang cerita untuk menjatuhkan nama baik sekolah dan akhirnya kasus di tutup"
Malam itu Juno terus memikirkan bagaimana caranya agar peristiwa setiap tahun ini tidak terulang lagi. Lalu ia melihat daftar siswi yang kira-kira ingin menyatakan cinta.
"Bukan hanya Iren yang menghilang" Ketusnya. Setelah nengingat ada beberapa siswi yang tidak mendatanginya seperti biasa.
Mengetik "Ayo kita ke sekolah" Pesan Juno.
"Malam-malam begini!" Balas Heri.
"Aku tunggu di depan gerbang sekolah" Pesannya.
"Dia sadar enggak sih ini sudah jam 12 malam. Apa karena ajal mau menjemput" berbicara dengan nada sedih.
"Terserah lu dah. Gue enggak ikut" Membalas pesan Juno.
Juno sudah membaca pesan Heri namun pesan tetap tidak mengurungkan niatnya untuk mencari tau sendiri. Dilihatnya sua orang datang dari kegelapan.
"Aku yakin kau memang udah sakit jiwa" ketus Heri yanga baru datang. "Bisa-bisanya kau datang setelah membaca pesanku"
"Kau sendiri kenapa disini" Ketus Juno.
"Karna aku tau kau keras kepala."
"Tapi kenapa kau ajak kak sisi"
"Lebih rame lebih baik."
"Aku juga sudah lama ingin kesini untuk mencari tau kebenarannya."
"Ayo kita masuk" Ajak Heri yang sudah membuka gerbang sekolah. Kebetulan penjaga sekolah sedang tidak di pos.
Mereka memasuki gedung sekolah dengan mengendap-ngendap karena takut ketahuan penjaga. Heri dan Sisi ke lantai 2. sedangkan Juno ke perpustakaan yang ada di gedung yang berbeda.
"Kenapa kita tidak cari dari lantai 1 dulu?" Heri.
"Dulu kelas kami di lantai 2" Jawab Sisi singkat. Mereka memasuki setiap sudut kelas. namun tidak menemukan apapun.
Zreeet..Suara pintu yang di buka dan berlahan Juno pun masuk. Ia berjalan di antara lemari-lemari buku. Tuuuk.. melihat ke arah sumber suara. "Chika" panggil Juno.
"Ini sudah tanggal 14. Bukannya kau ingin berjumpa denganku?" Ucap Juno yang berjalan ke arah sumber suara.
Masih mencari sumber suara yang tadi ia dengar dan Ia menemukan buku yang terletak di lantai seperti buku itu baru terjatuh.
Truk.. trukk.. truk.. satu persatu buku terjatuh dan mengenai Juno.
"Aaaaaa..kk." Jerit Juno yang sudah terdorong ke dinding dengan seseorang yang saat ini mencengkam lehernya.
Cengkaman itu semakin kuat hingga membuat Juno sulit bernafas. "Aaekk.. apa yang kau inginkan" dengan suara yang tertahan Juno berusaha melepas cengkaman itu.
Sorot mata mereka sejenak saling bertemu.
"Aaaaaaa" Juno terlempar dengan tubuhnya yang terhantam ke lemari buku dengan sangat kuat.
Juno berusaha bangkit "Aaauhh" Pekiknya merasa kesakitan.
Seorang wanita yang berpakaian sekolah itu kembali mendekat dan ingin menarik leher Juno namun ditahannya tangan wanita itu.
Sekarang tangan kiri wanita itu mencekik lehernya lebih kuat dari sebelumnya hingga berdarah karena kuku tangan wanita yang panjang. Juno memberontak dan menendang perut wanita sampai terjatuh dan cengkraman di lehernya terlepas.
Wanita itu sangat marah "Eeerrrhh" Angin pun bertiup kencang sehingga membuat semua buku di perpustakaan itu terjatuh dan mengenai Juno.
"Chika hentikan" Jerit Juno.
Wanita itu mendorong Juno sampai lemari buku di belakangnya patah karena hantaman dari tubuh Juno. Tubuhnya terdorong sampai menghantam dinding dan Juno terduduk lemas.
Mengerang kesakitan "Aaarkh.. khak" mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
Wanita itu mendekat "Bukankah kau ke sini ingin bercinta denganku" Tersenyum sinis.
"Kau Chika kan" dengan suara yang melemah.
Kembali mencekik Juno "Jangan panggil namaku dengan mulut kotormu itu" Jerit Chika.
Chika melepaskan cengkraman tangannya. Ia pun duduk di pangkuan Juno lalu mendekatkan wajanya ke leher Juno lalu menciuminya. Juno membulatkan tangannya menahan diri agar tetap diam dan membiarkan apa pun yang di lakukan Chika padanya sampai Chika berhenti menciumi Juno.
Chika menjauhkan wajahnya lalu menatap Juno. tatapan mereka saling bertemu satu samalain.
"Kenapa kau diam saja" Ketus Chika dengan nada dingin.
"Di mana Iren"
Tertawa keras "Haha Kau lebih ingin bercinta dengannya"
Satu kata yang ada di hati Juno saat ini ketika melihat Chika "Cantik" dan Juno tidak ingin mengalihkan pandangannya dari wanita di depannya saat ini.
"Aku memberikan ia pilihan terbunuh di tempat ini atau pergi dari tempat ini"
"Apa itu yang kau alami"
Menggeleng "Tidak! Yang aku alami lebih menyenangkan." Tersenyum lalu senyum itu langsung hilang dari bibirnya "Setidaknya untuk orang seperti kalian" menjauhkan dirinya dari Juno dengan terbang secara mundur.
Angin kembali bertiup lebih kencang dari sebelumnya lalu tangan Chika di gerakkannya untuk mengontrol Juno yang terseret dan membenturkan ke arah yang di inginkannya.
"Haha apakah ini menyebangkan. Seperti yang kalian lakukan kepadaku" Jeritnya.
Juno sudah sangat lemas karena tubuhnya yang menghantam dinding dan lemari berulang kali bahkan sudah banyak sayatan dan lebam di badannya
"Hentikan" Jerit Sisi.
Lari mendekati Juno yang sudah terduduk "Kau tidak apa Jun?" Tanya Heri. "Siapa yang melakukan ini" Heri heran dengan luka dan lebam yang ada di tubuh Juno sedangkan tidak ada siapapun di perpustakan itu.
Sedangkan Sisi masih melihat ke arah Chika yang juga melihatnya. Hanya Sisi dan Juno yang bisa melihat Chika. Berlahan sisi memdekat ke Chika yang belum memberi respon apapun padanya.
Juno melihat Sisi mendekat dan dia langsung memegang tangan Heri "Bawa Kak Sisi keluar dari sini. Cepat" Dengan nafas yang sudah.
"Jawab dulu siapa pelakunya"
"Kau tidak akan bisa melawannya. Jadi cepatlah pergi"
Chika tersenyum sinis lalu dengan cepat mendekat dan mencekik Sisi "Apa kabar!"
"Chika hentikan! dia Sisi temanmu" Jerit Juno.
Heri langsung melihat ke arah belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Sisi melayang dengan memegang lehernya sendiri.
"Diam. Kau tidak tau apa yang terjadi"
Air mata Sisi sudah mengalir di kedua pipinya "Aa..ku min..ta ma..aaf" Dengan suara yang tertahan.
"Sudah terlambat. Karna kau sudah melihatku kau juga harus mati bersama pria itu" Tersenyum melihat ke arah Juno.
"Saat kak Sisi terlepas. Cepat bawa dia pergi" Juno berusaha berdiri dan berjalan ke arah Chika dan Sisi.
"Ma..aaf" Hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut Sisi.
FlashBack
Sisi khawatir dan ia pun mengikuti Chika yang berlari di lorong sekolah yang sudah sunyi karena sudah lewat jam pulang sekolah.
Chika sudah ada di perpustakaan dengan senyum senang menunggu seseorang.
"Kau sudah menunggu lama" Ucap laki-laki itu.
"Tidak kak. baru kok" Tersenyum malu ke laki-laki di hadapannya itu.
"Aku menyukaimu. Bagaimana dengan kamu"
Tersenyum senang manatap laki-laki itu "Aku juga kak"
Prok.. prok..prok suara tepuk tangan "Uwaw.. Cantik sekali targetmu"
Chika heran melihat 4 orang seniornya yang datang namun dia hanya diam. Pikirannya berkata sepertinya ia lagi ketahuan pacaran.
"Kalau kau mencintaiku mau membuktikan sesuatu?"
"Membuktikan apa kak? Chika benar-benar cinta dengan kakak"
Sampai akhirnya ia kehilangan jejak Chika lalu Sisi mencari di setiap kelas bahkan ke ruangan guru dan terakhir ia membuka perpustakaan dan melihat 3 senior laki-laki dan 2 senior perempuan yang tertawa lalu ia melihat ke satu orang perempuan yang sudah tidak berbaju "Chika" tanpa sadar Sisi menjerit sehingga didengar para seniornya.
Para senior itu melihat ke arah Sisi yang sudah gemetar.
"Kau kenal dengannya" Berbicara dengan Chika yang sedang digerayangi para senior laki-laki secara bergantian.
"Urus dia. Atau kalian yang akan kami beri kasih sayang seperti adik cantik ini."
"Serpertinya dia juga cantik. Bawa saja ke sini"
Senior wanita itu menghampiri Sisi. "Apa kau ingin ikut bermain bersama dengan temanmu itu"
Sejenak Sisi melihat ke arah Chika yang menangis. "Tolong" ucap Chika tanpa mengeluarkan suara.
Sisi langsung mengalihkan pandangannya "Tidak. Aku tidak melihat apa pun" Langsung berlari keluar dari perpustakaan.
Beberapa dari senior wanita dan laki-laki itu mengejar Sisi keluar perpustakaan namun tidak terlihat Sisi kembali lagi untuk menolong Chika.
Keesokan harinya orang tua Chika datang menanyakan anaknya yang dari semalam belum pulang dari sekolah. Namun sekolah lepas tangan karena mereka menganggap Chika pergi sewaktu jam pulang sekolah dan itu sudah bukan tanggung jawab mereka lagi. Saat Sisi memberi kesaksianpun ia langsung di keluarkan dari sekolah.
Bukannya kepala sekolah tidak tau apa yang terjadi hanya saja ia menutupinya dari para guru dan komite sekolah. Hanya penjaga sekolah dan ia yang tau bahkan rekaman CCTV di hapus.
Flashback Off
"Kau sama buruknya dengan mereka" Mengeraskan cengkramannya.
"Aaaakhh" Suara Sisi kesakitan.
Juno menarik tangan Chika dan langsung memeluknya. Sisipun terjatuh dengan tubuh yang sudah lemah "Cepat bawa dia" Jerit Juno.
Heri langsung membopong Sisi "Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku bisa mengatasinya. Cepat pergi" Dengan jeritan yang tertahan.
"Aaaaaaaa...." Teriak Chika yang membuat Juno tercampak.
Heri sudah lari menuju pintu perpustakaan. Chika mengejarnya namun sebelum sempat manangkap Sisi. Heri sudah keluar dari Perpustakaan.
"Sisi di keluarkan dari sekolah setelah kau menghilang"
Sekarang Chika yang sangat marah sudah berdiri di depan Juno.
"Dia melaporkan semua kejadian yang dia tahu. Walupun ia tidak menceritakan semuanya denganku. Tapi sekarang akau tau apa yang terjadi denganmu" Air mata Juno sudah menetes.
"Tau apa kau. Hari ini saja kau datang kesini setelah menerima coklat dariku. Bukannya kau ingin bersenang-senang seperti laki-laki yang sebelumnya."
"Aku tidak tau siapa laki-laki bejat yang kau maksud. Tapi aku ingin kejadian yang kau alami bisa terbongkar sehingga orang tuamu tidak perlu mencarimu lagi"
"Orang tuaku"
Juno mengangguk "Kalau dulu aku terlahir dan duduk di kelas yang sama dengamu. Mungkin ini tidak akan terjadi"
"Apa kau bisa dipercaya?"
"Pilihanmu ada dua membunuhku atau membiarkanku mengungkapkan apa yang terjadi"
Chika menyetarakan wajahnya ke wajah Jeno dengan sangat dekat "Bukankah kau yang harusnya memilih"
Deg.. detak jantung Juno. Tapi itu buka rasa takut. "Bunuh aku" cetus Juno yang masih enggan mengalihkan pandangannya dari Chika.
Tersenyum "Kau Yakin..."
"Yakin. Tapi sebelum kau membunuhku. Aku ingin menulis surat ke orang tuaku dan orang tuamu dulu."
"Oke" Mengaitkan tangannya ke leher Juno dan membisikkan sesuatu di kuping Juno "Tapi syaratnya kita harus saling mengungkapkan rasa sayang"
"Aaaaarkkk"
•••
Keesokan harinya suasana sekolah seperti tidak terjadi apa pun. Perpustakaan sudah rapi seperti semula. Hari itu banyak murid yang tidak masuk seperti Miska, Diana. Begitu pula dengan Juno dam Heri yang tidak terlihat di sekolah.
Setelah sebulan berlalu setelah orang tua Juna datang ke sekolah. Mayat Chika di temukan terkubur di belakan perpustakaan lalu di lakukan tindak lanjut penyidikan. Di temukan bukti bahwa pembunuhnya adalah anak mantan kepala sekolah dan 4 orang lainnya. Sisi juga dimintai kesaksian oleh polisi.
Iren yang sempat menghilng kini sudah kembali. Sedangkan Juno masih pemulihan di rumah sakit.
"Kenapa kau jadi pendiam sekali bro" tanya Heri yang datang menjenguk Juno.
Namun Juno tidak menjawab pertanyaan temannya itu. "Mayat sisiwi itu sudah di temukan dan Pembunuhnya sudah di tangkap."
"Sepertinya aku jatuh cinta"
"Haaa.. sama siapa?"
"Chika"