Namaku Stevani Aliste, seorang CEO muda yang sedang naik daun saat ini. Aku bukan hanya pengusaha muda tapi juga memiliki paras cantik, iQ yang cukup tinggi di kalangan remaja saat ini, bisa di bilang aku saat ini sangan beruntung. Sayangnya kekayaan yangku miliki hanyalah kesenangan belaka, karna apa ayah ku meninggal saat aku menginjak usia 16thn sedangkan ibu saat usia ku 17 thn di manna kala itu aku duduk di kelas Xll, aku hampir saja berhenti sekolah namun takdir sedang berpihak kepada ku aku di pertemukan dengan Nadia Wiraguna sahabat sekaligus partener kerja.
Di gadis yang ku temui saat aku di panggil keruangan kepsek, kala itu aku sedang menghadap pak gani untuk memintak kesempatan untuk menunda melunasi spp, tanpa sengaja aku mendengar percakapan buk ani dengan gadis beramput panjang yang sedikit di beri warna biru tua.
" Nadia kenapa kamu setiap hari membuat ibuk selalu pusing mengurus tingka nakalmu yang tiada habisnya " triak buk ani kepada perempuan yang berdiri di hadapanya
" ya kalau aku tidak membuat masalah Duniaku terasa hampa" jawab enteng gadis berambut panjang
" Nadia kamu... Keluar sekarang saya sudah makin pusing mendengar kamu tiada henti menjawab ucapan saya dan satu lagi bawa orang tua kamu menghadap saya besok" sekali lagi buk ani berbicara dengan nafas yang sudah naik turun.
" baik bos akan saya laksanakan, sekarang apa saya boleh bolos saya sudah tak tahan dengan kantuk yang sudah hinggap di mata saya yang cantik ini " jawab enteng gadis gadis berambut panjang yang tak lain adalah Nadia.
"Nadia keluar kamu sekarang juga" untuk kesekian kalinya buk ani berteriak kepada Nadia, al hasilnya Nadia hanya menanggapi dengan tersenyum sembari berjalan keluar. Sunggu aku sangat kagum kepadanya bagai manna bisa habis di bentak ia hanya menjawab dengan enteng sambil tersenyum diriku saja sudah panas dingin mendengar penuturan dari pak gani yang inggin memintak melunasi spp sekolah yang sudah menumpuk.
"Untuk makan saja saya sudah tak mampu pak apa lagi saya harus melunasi spp selama 6 bulan bisa gila aku pak" tuturku dalam batin.
" Vani maaf kan bapak, bapak tidak bisa menanggulangi kamu lagi bapak tau masalah keluarga yang menimpa kamu tapi kamu juga tau kan peraturan sekolah jika kamu tidak bisa membayar selama lebih dari 3bulan siswa kami skor selama siswa belum membayar uang sekolah" liri pak gani menghadapku
Sunggu aku tak sanggup jika aku harus berhenti sekolah tapi inilah nasib ku,
" baik pak saya juga berterima kasih kepada bapak atas kebaikan yang selama ini bapak berikan kepada saya tapi saya mohon pak beri saya sedikit materi pelajaran sembari saya mencari pekerjaan" ucapku sambil menahan tangis, pak gani tersenyum menatapku sambil berkata.
" baikla vani kamu bisa datang ke rumah saya saat kamu sudah pulang dari kerja " kata pak gani tersenyum kepada ku.
"baik pak sekali lagi terimah kasih bayak atas bantuan yang bapak berikan" ucapku menahan tangisan yang sudah tak bisa terbendung lagi.
"baikla kamu silakan kembali kekelas, kelas sudah mau di mulai" titah pak gani kepada ku, aku hanya dapat mengangguk kala pak gani berbicara untuk kembali kekelas.
Aku melewati koridor sambil menitikan air mata mengingat kala aku harus berhenti sekolah sejenak untuk mencari uang membayar uang spp yang sudah 6 bulan lamanya.
Bruakk
" au sakit "suara ku meringis kesakitan. namun aku masih bisa berdiri sedangkan orang yang menabrak ku terjatu cukup keras hingga membuatnya pingsan pikirku, sekilah aku melihat gadis yang pingsan di lantai membuatku teringat ternaya Nadia yang menabrakku, aku berteriak karna koridor saat itu sangat sepi dikarenakan murit sudah masuk kekelas masing-masing
"Tolong-tolong" teriak ku membuat seluru siwah yang mendengar mulai berdatangan membantuku.
" hiks..hiks..hiks.....tolong bawa Nadiya kerumah sakit " ucapku yang sudah cemas melihat hidung Nadia mengeluarkan dara dengan tubuh yang sangat pucat dan juga lemas, padahal belum 1jam aku melihat Nadia sehat-sehat saja bahkan sangat-sangat sehat.
Nadia sudah di bawa kerumah sakit aku pun juga ikut karna aku tak tega melihat Nadia pergi sendirian aku sangat cemas hingga aku terus menangis sambil memegang tangan Nadia.
" Air..air" suara yang ku dengar dari mulut Nadia yang sangat lembut hingga hampir tak bisa ku dengar, aku langsung bergegas memberi Nadia air dari atas nakas yang berada di sambing Nadia
"Minum dulu Nad" ucapku sambil menyodorkan segelas air kepada Nadia
"Aku di manna" ucap Nadia sangat pelan berbeda dengan saat Nadia berbicara dengan buk ani tadi siang
"kita di rumah sakit Nad" balas ku kepada Nadia bembari duduk di sebelah ranjang Nadia
"kamu siapa" tanya Nadia untuk yang kedua kali
"Aku Stevani Alister, kelas Xll ipa 1" jawab ku lagi kepada Nadia
"kamu anak om sandy Alister" tanya Nadia sembari tersenyum dengan muka yang masih pucat
"Kamu tau ayah ku Nad" tanya ku dengan rasa penasaran, Nadia hanya menangguk pelan menerima jawaban dari ku
"Vani bisa ambilkan hp di dalam tas ku" titah Nadiya kepada ku aku mengangguk sambil memberikan hp kepada Nadia. Nampak dari gerak Nadia ia sedang mencari nomor untuk ia hubungi
"halo papa Nadia sekarang di rumah sakit bersama anak om sandy" ucap Nadia kepada papanya
"Kamu nggak papakan sayang papa dan mama akan menemui kamu, kamu di ruangan berapa" ucap seorang pria dari seberang telpon yang sudah sangat cemas, tanpaku sadari aku menitikan air mata kala teringat ayahku yang sangat cemas saat aku sedang sakit
"Ruang 23 pa" ucap singkat Nadia sambil tersenyum
"Ok papa dan mama akan segera kesana" ucap pria dari seberang telpon yang tak lain adalah ayah Nadia
"Kamu kenapa nangis van"ucap Nadia memangunkan ku dari lamunan
" Aku hanya teringat ayahku saja Nad " balasku sembari menyeka air mata yang membasahi pipiku
"Yang sabar ya van" ucap Nadia sembari mengelus punggung tanganku, aku hanya tersenyum melihat Nadia begitu perhatian kepada ku, takku sangka masih ada orang yang perhatian kepadaku kala aku mengingat aku hanya orang miskin yang tak pantas lagi untuk di sanjung maupun di perhatikan. Masih ingat jelas kata-kata orang-orang setelah menerima berita ayahku meninggal dan kebangkrut kami paman angkatku yang sangat kejam itu merampas harta ayah ia halal kan segala cara untuk merebut perusahhan ayah dan teman yang aku anggap keluarga pun mencaci maki diriku sungguh saat itu aku sangat terpuruk rasanya aku ingin bunuh diri saja namun aku teringat masih ada bunda yang harus aku jaga dan sayangi, ternyata bunda sama seperti diriku terpuruk bahkan hampir depresi mengingat suami serta ayah dari anaknya meninggal sangat cepat dan harta warisan yang mereka rintis dengan tetes keringat di ambil paksa oleh orang yang mereka anggap adik ipar. Sunggu aku berjanji kepada bunda aku akan merampas kembali apa yang sewajarnya milik ku, namun apaladaya untuk makan saja kami susah apalagi untuk mewujudkan angan-angan ku belum lagi bunda sejak ayah meninggal ia sering sakit-sakitan.
berbulan-bulan bunda menahan rasa sakit yang selalu menjalar di tubuhnya, bunda mengidap kanker otak stadium akhir untuk mengobati bunda berlu biaya yang cukup besar sedangkan kami yang saat ini manna mampu. kini bunda tak merasa sakitlagi bunda meninggal saat diriku butu teman untuk mengadu kelu kesa ku namun Tuhan berkendak lain bunda menyusul ayah di surga tinggalla diriku seorang diri meratapi nasib yang sial ini sampai aku menemukan sahabat yang mau membantu kala terjatuh dan mendukung saat aku sukses " Nadiya wiraguna " nama yang indah bukan ia lah sahabat karib ku.
Krakk
Suara pintu terbuka kini yang masuk bukan dokter melainkan lelaki paru baya dan istrinya tebak ku dalam hati " ini pasti keluarga nadia sebaiknya aku keluar " ucap ku dalam hati, aku sudah ingin berdiri meninggalkan Nadia namun tangan ku di cekal olehnya " jangan pergi tetap la disini ada yang ingin aku bicarakan " tutur Nadia sambil mencekal tangan ku, aku hanya menganggukan kepala mendengar penuturan Nadia
Kini pak anton papa Nadia yang berbicara kepadaku." kamu benar Stevani Alister anak dari Sandy Alister " tutur pak anton kepada ku, aku hanya mengangguk pelan mendengarkan penuturan dari pak anton
" kami akan membantu masalah mu nak dan satu lagi kami akan megadopsi kamu " ujar pak anton kepadaku aku hanya terbelekak mendengar penuturan dari pak anton
"Tapi pak kalian baru kenal saya hari ini bagai manna mungkin kalian bisa mengadopsi diriku yang tak tau asal usul nya ini " jawab ku kepada pak anton tapi sayangnya pak anton hanya menanggapi aku dengan senyuman
Kini aku hidup dengan tenang tanpa memikirkan uang sekolah atau mencari makan, om anton atau papa anton telah membantuku sampai hari ini hari aku di angkat menjadi CEO prusahaan peninggalan ayah, papa anton dan keluarganya telah membantu aku mendapatkan kembali hak-hak ku sunggu aku tak dapat berkata-kata lagi " terima kasih, mungkin tak cukup untuk ku ucapkan atas kebaikan kalian "