Aku menangis dengan penuh penyesalan di samping makam seorang perempuan yang sangat aku sayangi. Perempuan berhati malaikat yang merelakan suaminya untuk menikah denganku, wanita itu tak lain adalah kakak kandungku.
Setiap mengingat ini hatiku terluka, tetapi akan aku ceritakan secara ringkas kisahku. Ini semua bermula ketika aku untuk pertama kalinya datang kerumah besar yang di huni oleh keluarga kecil mbak Ica, rumahnya sangat besar dan indah, ada kolam renang, taman dan hiasan lampu dari kristal yang berhasil mencuri perhatianku, ini sangat mempesona bagi gadis kampung sepertiku. Apa lagi ketika seorang pria jauh lebih tua dari diriku menghampiri kami, tak lupa senyum manis berhasil menghiasi lesung pipi milik ia. Entah apa yang merasuki hati ini, aku mulai tertarik dan mulai mencintainya.
Tubuh tinggi dengan kulit putih serta hidung mancung dan mata bulat coklat berhasil membiusku, dia sangat berbeda dari para lelaki yang berada di kampung tempat tinggalku, mereka sangat kucel. Meski ia sudah berumur tetap saja ketampanan pria itu tak lekang oleh waktu, bahkan dia lebih tampan dari cowok paling tampan di kampungku, yang sekarang cowok itu sudah menjadi pacarku di kampung.
"Dek, kenalin ini Mas Angga, suami mbak," ucap Mbak Ica memperkenalkan pria itu.
Mbak Ica memperkenalkan pria itu sebagai suaminya kepadaku dengan penuh kebanggan, ahhh sial!
"Angga," ucap Mas Angga menjabat tanganku dengan senyum tak kalah manis dari sebelumnya.
Astaga, senyumnya sangat manis, dia semakin tampan, Tuhan bantu aku menahan rasa ini. Aku merasa pria tampan yang tengah tersenyum bak rembulan sangat tak pantas dengan mbak Ica yang memiliki muka pas-pasan, mas Angga lebih pantas denganku yang sangat cantik, bahkan julukan kembang desa berhasil aku sandang.
"Riri," balasku menjabat tangannya sembari mengedipkan mata dengan manja.
Mas Angga mengerutkan dahi dan menarik tangannya dengan segera.
Tak terlihat sedikitpun ada rasa curiga atau pun cemburu akan sikapku yang tak pantas ini, bagus lah.
Tiba-tiba saja mas Angga menyuruh mbak Ica menyiapkan sarapan untuk kami. Aneh, mengapa ia seperti itu, apakah di rumah seperti ini tak ada seorang pun pembantu? Pertanyaan-pertanyaan yang tak penting berhasil berputar di kepala, ah sudah lah itu semua bukan urusanku, buang-buang waktu saja.
Seperginya mbak Ica, mas Angga membalas kedipan mataku. Aku sangat tidak mrnyangka jika ia akan seperti itu, ini semakin membuatku bersemangat untuk merampasnya dari tangan mbak Ica.
Mas Angga segera pergi menyusul mbak Ica ke dapur. Aku sangat senang hari ini, akhirnya Tuhan sangat baik kepadaku untuk pertama kalinya, setelah sekian lama Tuhan pilih kasih.
***
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, sekarang aku telah menjadi simpanan mak Angga. Setiap hari kami selalu melakukan hal-hal romantis, ya meski hanya di belakang mbak Ica. Hingga tibalah hari di mana keperawananku direbut, Tuhan aku ikhkaskan keperawananku demi dia yang aku cinta. Tak butuh waktu lama, sekarang aku tengah mengandung anaknya. Sejak mas Angga mengetahui kehamilanku, ia semakin menyayangiku dan bahkan ia sering menemaniku memeriksakan kandunganku kerumah sakit.
"Mas," ucapku mulai menangis.
"Iya sayang," sahut Mas Angga menatapku dan mau menghapus air mataku dengan lembut menggunakan tangan kekar miliknya.
"Aku takut jika mbak Ica tahu kalau aku mengandung anakmu," ucapku menapis tangan mas Angga dengan kasar.
"Kamu tenang aja ya, itu nggak akan pernah terjadi," sahut Mas Angga kembali menyentuh pipiku.
"Kalau itu terjadi gimana?" tanyaku menatapnya dengan mata memerah, membiarkan mas Angga menghapus air mata.
"Aku akan menikahimu," jawabnya dengan gampang.
"Benarkah?" tanyaku masih tak percaya akan semua yang ia ucapkan
"Iya sayangku," jawab Mas Angga mencium keningku dengan lembut.
"Terima kasih, Mas." Aku memeluk dan membenamkan wajahku di dada bidang mas Angga.
***
Saat kami sampai di rumah, mbak Ica melemparkan tas pakaianku keluar serta melempar uang kewajahku, ini penghinaan yang tak akan aku lupakan, aku benci mbak Ica. Awalnya mas Angga hanya diam. Namun, saat aku kembali menangis, mas Anggga merasa iba dan emarah-marahi mbak Ica habis-habisan dan menampar wajahnya, Hahaha ....
Yang aku pikirkan kenapa mbak Ica bersikap seperti itu padaku, apakah ia sudah mengetahui hubungan kami ...? Yah, ternyata sangat benar, ada orang yang mengirimkan foto di mana mas Angga mencium bibirku, kejadian itu sudah sangat lama kira-kira udah 1 tahun yang lalu.
"Mas! Kenapa kamu selingkuh dariku?!" tanya Mbak Ica marah.
"Kamu nggak ngaca apa?!" balas Mas Angga.
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Mbak Ica.
"Kamu itu jelek, jarang dandan, jarang kesalon, udah tua juga dan yang paling aku nggak suka itu, KAMU MANDUL!" jawab Mas Angga tak kalah ganas.
Mbak Ica mematung dan kemudian tangisannya mulai pecah, jujur saja aku mulai iba melibat kakaku itu, tapi ... ini takdir yang harus ia jalani. Maafkan aku kakak tersayangku, hahaha ....
"Kamu tahu, Riri itu bisa kasih saya keturunan," ucap Mas Angga mengelus perutku.
"Mbak ... Maafin aku, hiks ...." ucapku meminta maaf sembari terus saja berpura-pura menangis.
"Ini bukan salah kamu Dek, ini salah mbak." Aku tak menyangka suaranya mulai melembut hanya dengan air mata palsuku.
"Mbak, jangan marah denganku, aku mohon."
"Nggak dek, ini salahku karena aku tidak bisa memberi keturunan untuk suamiku."
Yes! Akhirnya tipu dayaku berhasil, mbak Ica sudah masuk dalam perangkapku, akhirnya ia mulai luluh melihat air mataku. Aku sudah tahu ini akan berhasil, karena mbak Ica sangat menyayangiku dan aku adalah satu-satunya keluarga yang masih ia punya.
***
Keesokannya di pagi yang indah. Aku terbangun oleh ketukan pintu dari seseorang, dengan malas aku melangkah untuk membuka pintu. Betapa kagetnya diriku melihat mbak Ica tersenyum hambar.
"Maaf, mbak sudah mengganggu tidur kamu," ucapnya meminta maaf.
"Iya mbak, ada apa mbak pagi-pagi ke kamarku?"
"Sebagai seorang istri saya ingin kamu pergi, karena kamu adalah selingkuhan suamiku," ucapnya, aku melihat ada kesedihan di dalam mata mbak Ica.
"Baiklah aku akan pergi meninggalkan kalian tapi, apakah mbak tega memisahkan anak dari ayahnya?" tanyaku mengusap perutku yang belum membuncit.
"Mbak kecewa dengan kamu tetapi, walau bagaimanapun kamu adik mbak dan anak yang kamu kandung itu adalah keponakan mbak. Mbak tidak bisa melihat kalian menderita, mbak sangat sayang sama kalian."
"Apakah artinya aku masih boleh tinggal di sini?" tanyaku memastikan.
"Iya, kamu boleh tinggal di sini dan ...," ucap Mbak Ica menghela nafas dengan air mata yang semakin mengalir hebat.
"Apa Mbak?" tanyaku.
"Menjadi ISTRI KEDUA SUAMIKU," jawabnya sembari memberikan sebuah gaun putih kepadaku.
Tiba-tiba saja mas Angga datang dan mendengar ucapan mbak Ica.
Aku dan mas Angga sangat senang ketika mengetahui jika mbak Ica mau berbagi suami denganku. Kami berdua berpelukan dengan mesra, tanpa mempedulikan perasaan mbak Ica.
"Aku sudah menpersiapkan semua. Hari ini kalian boleh menikah," ucap mbak Ica dengan air mata yang menetes.
Aku tak menyangka ternyata hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku terlihat sangat cantik memakai gaun pengantin menjuntai ke bawah dengan bertaburan kristal dan permata serta kalung dan anting serta mahkota, membuat diriku semakin cantik bak seorang ratu, sedangkan mas Angga sangat tampan dengan stelan jas putih, membuatku tak sabar menjadi miliknya dan ia HANYA MILIKKU.
Dengan penuh bersemangat, mas Angga mengucapkan ijab qabul dan tak lama kemudian kata 'sah' terdengar sangat indah di kupingku, sungguh aku ini seperti mimpi bagiku. Dengan segera aku menengok ke arah mbak Ica, dan terlihat ia tersenyum hambar dengan air mata terus menetes deras, hahaha ....
'Mbak, maafin adikmu ini, karena aku akan merebutnya darimu,' batinku sembari tersenyum devil ke arah mbak Ica.
Mas Angga kembali mencium keningku untuk kesekian kalinya dan kali ini tepat di depan mbak Ica dan kubalas dengan kecupan manja hingga lipstik merah berbekas di keningnya. Mas Angga mencubit pipiku dengan manja hingga semua orang yang hadir menjadi saksi keromantisan kami berdua, termasuk mbak Ica.
"Wah-wah Mbak dan Mas benar-benar pasangan yang serasi," ucap Penghulu.
"Hehe doain ya Pak semoga kami menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," sahutku sesekali melirik ke arah mbak Ica.
"Semoga keluarga kalian dilimpahi kebahagiaan dan semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah," ucap Penghulu menadahkan tangannya dan terdengar kata 'amin' dari semua orang yang hadir.
Baru saja aku dan mas Angga resmi menikah, tiba-tiba saja mbak Ica tumbang dan meninggal di pangkuanku. Aku sangat tak menyaka hari pernikahanku adalah hari kematian mbak Ica.
"Maafkan aku mbak Ica semoga kamu tenang di alam sana."