Cindy adalah seorang gadis yatim piatu. Ia dibesarkan oleh bibirnya yang jahat. Suka bersikap kasar dan memiliki pekerjaan menjajakan cinta pada lelaki hidung belang.
Bensy adalah nama bibinya. Bagi Bensy, Cindy adalah keponakan yang tak berguna. Selalu menyusahkannya saja. Sering Cindy tak diberi makan jika hari itu tak ada langganan yang datang.
Menahan rasa lapar karena lebih dua hari Bensy tak pulang, membiarkan cindy terlantar dan kelaparan.
Dalam rasa laparnya, Cindy berjalan menyusuri trotoar. Berharap matanya menemukan makanan sisa di tempat sampah.
Begitulah kehidupan Cindy setelah kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan. Hari naas itu terjadi tepat hari ulang tahunnya ke tujuh tahun. Cindy merayakannya di sebuah restoran dengan mengundang beberapa temannya.
Malam telah larut, udara sangat dingin sebab hujan tiada kunjung berhenti sejak pagi. Cindy dan orangtuanya pulang ke rumah dengan perasaan sangat senang. Pesta ulang tahun Cindy berjalan dengan lancar dan sempurna.
Di persimpangan lampu merah serta jalanan yang licin, mobil yang mereka tumpangi ditabrak oleh sebuah truk menerobos lampu merah. Hingga mobil Cindy terguling sekitar satu kilometer.
Kecelakaan itu menewaskan kedua orangtuanya. Sedangkan, sebuah mukjizat terjadi, Cindy tak cedera sama sekali.
Sepuluh tahun berlalu. Artinya sudah sepuluh tahun pula Cindy hidup dalam kemiskinan bersama bibinya itu.
Cindy sudah berubah menjadi gadis remaja yang menarik. Pakaiannya yang lusuh tak menutupi kecantikan alami miliknya.
Melihat Cindy yang beranjak remaja membuat seorang mucikari tak menyia nyiakan kesempatan. Ia menganggap Cindy akan menjadi tambang uangnya. Ia yakin Cindy akan membuatnya kaya raya jika dijual kepada mafia kelas kakap.
Mengetahui rencana Bibi dan mucikarinya . Cindy berusaha melarikan diri. Dalam pelariannya Ia bertemu dengan seorang pria tampan yang bekerja sebagai pelayan restoran. Pria itu bernama Raul.
Raul jatuh hati pada Cindy. Ia menyediakan tempat tinggal dan memberikan makanan yang selalu dibawa pulang dan di berikan pada Cindy.
"Ini sebungkus nasi dan ayam goreng. Aku membungkusnya di restoran untukmu. Jangan cemas aku tak mencurinya. Itu diberikan buat semua karyawan jika sudah selesai bekerja"
Cindy melahap makanan itu dengan cepat. Perutnya sudah melilit, saking belum ada satupun makanan sebagai pengganjal.
"Terimakasih, "kata Cindy menjilat jari tangannya satu persatu hingga tak ada lagi yang tersisa.
" Sekarang kamu tidur lah diatas kasur itu. Biarkan aku di bawah ini dengan beralaskan kardus tebal. Sengaja aku bawa dari restoran tempatku bekerja"
Cindy menuruti Raul. Ia merebahkan tubuhnya yang telah berjalan seharian. Cindy terlelap hingga esok hari. Dan terbangun saat bunyi air tercurah dari kamar mandi. Sepertinya Raul sedang mandi dan bersiap akan pergi kerja.
"Berbaring lah jika kamu masih merasa capek"
"Terimakasih, "kata Cindy menundukan kepala.
" Tak usah terus berterima kasih. Tapi ngomong - ngomong ada apa gerangan hingga kamu berjalan sejauh itu dan tak tahu arah tujuan"
"Aku kabur dari Bibi dan mucikarinya yang jahat. Mereka akan menjual tubuhku"
"Oh, benarkah? Sungguh biadab! Lebih baik kamu di sini. Tak usah keluar dari pintu ini"
"Kau tak akan menjualku? "
Cindy yang polos mencurigai semua orang. Bagaimana Ia mempercayai orang lain sedangkan bibinya sendiri tega berbuat jahat padanya.
" Tentu saja tidak. Tunggu aku di sini sampai pulang bekerja nanti"
Ditempat kerja Raul menceritakan keberadaan Cindy yang membutuhkan pertolongan.
Berita itu menjadi bahan gosip dikalangan teman-teman Raul.
Desas desus itu juga tersiar ke seantero negeri. Tak luput pula dari pendengaran Bensy dan mucikarinya.
Mereka membuat rencana untuk menyergap Cindy dari tempat persembunyian dengan bantuan seorang mafia besar.
Mereka membuat perjanjian atas tubuh Cindy.
"Anda tidak akan menyesal mendapatkan gadis itu, Tuan. Ia begitu molek dan ranum"
"Baiklah aku akan berikan satu koper berisi uang. Jika yang kau katakan itu benar. Untuk itu anak buahku akan membantumu membawa gadis itu dihadapan ku"
"Terimakasih, Tuan, "kata Bensy dan mucikarinya sambil bersujud kepada mafia bangkotan kaya raya tersebut.
Dengan mudahnya Cindy berhasil mereka sandera.
Mendengar kekasihnya diculik orang, Raul langsung berlari mengejar. Tak Ia pedulikan kakinya terluka dan tubuh yang telah letih. Keinginan untuk merebut Cindy dari tangan para jahanam itu lebih kuat dari apapun.
Sementara itu di sebuah mansion berbentuk hampir menyerupai istana. Terdiri dari beberapa bangunan kecil dan satu bangunan utama yang sangat megah.
Cindy duduk menghadap meja rias.ada pantulan wajahnya terlihat di cermin. Airmata Cindy tak kunjung berhenti membasahi kedua pipi.
Terdengar pintu berderit dan terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi besar dan gemuk serta berwajah menyeramkan masuk ke ruangan yang sama dengan Cindy.
"Hmmm ternyata benar kau memang sangat mempesona. Tubuhmu lembut dan gemulai , "ucap pria itu membelai pundak Cindy yang terbuka.
Pria itu menahan tubuh Cindy saat gadis itu berusaha mengelak.
Semakin Cindy meronta, pria itu semakin mencengkram tubuhnya. Tak hanya itu, dengan ganasnya pakaian Cindy dilecuti satu persatu.
Pria itu tertawa kegirangan saat melakukan aksinya.
Seperti anak kecil mendapatkan main baru.
Ketika Ia membawa tubuh mungil tak berdaya itu di atas ranjang dan bersiap untuk mengeranyangi. Tiba-tiba tubuh besar itu terhenti dan tak berkutik. Darah segar mengalir dari tubuh yang menindih Cindy.
Raul menepikan tubuh besar itu dari Cindy yang dari tadi menahan beban berat yang menghimpitnya.
"Ayo. Kita harus lekas pergi dari tempat ini, "kata Raul menarik tangan Cindy.
Namun terlambat, beberapa orang pengawal sudah mengepung setiap sudut ruangan. Salah seorang menghajar perut Raul hingga terjatuh. Setelah itu mereka meringkus Raul dan menggiringnya ke kantor polisi.
Raul dijatuhi hukuman pancung atas kesalahannya membunuh orang terpandang sampai mati dengan sebuah pisau belati.
Selama menunggu hukumannya dilaksanakan Raul menulis sebuah surat pada Cindy.
Wahai kekasih pujaan hatiku, jika di dunia ini kita tak dapat bersatu. Aku akan menunggumu di kehidupan abadi
Tertanda,
Raul yang mencintaimu
Cindy menangis dalam doanya agar Raul bisa beristirahat disana dalam damai. Mendengar Raul sudah meninggal karena hukuman pancung, Cindy merasa sangat terpukul. Kesehatannya semakin memburuk. Kenangan bersama Raul menyita hati dan fikirannya .
Sampai suatu pagi, tepat tanggal 14 februari, dihari valentine, Cindy menghembuskan nafas terakhir. Ia meninggal dengan mengukir senyum dibibirnya. Akhirnya Cindy bahagia dapat menyusul Raul kekehidupan yang abadi. Mereka telah bertemu di surga dan merajuk cinta kasih yang tertunda.
Selesai