Pagi-pagi sekali sudah terdengar suara piano yang dimainkan oleh Alika dirumah megahnya itu. Alika selalu memainkan lagu ciptaannya sendiri diiringi dengan alunan musik piano yang selalu ia mainkan setiap harinya. Alika sangat mahir bermain piano sejak umurnya 7 tahun dan kemahirannya bermain piano ia pelajari sendiri tanpa pernah sedikitpun mengikuti kursus piano. Bahkan dirinya selalu menjuarai berbagai lomba bermain piano disekolahnya. Tapi saat ini Alika tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang ia sukai karena penyakit leukemia yang dideritanya setahun lalu yang mengharuskan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang berlebihan yang dapat membuat penyakitnya bisa kambuh kapanpun. Hal yang bisa dilakukan Alika agar penyakitnya tidak akan kambuh lagi ialah melakukan semua aktivitasnya dengan menggunakan kursi roda dan hal itu harus ia lakukan setiap harinya. Kini Alika hanya bisa memainkan piano dirumahnya saja dan juga dirinya tidak bisa lagi bersekolah seperti biasanya karena kondisinya saat ini. Alika merasa hanya kesunyian yang selalu menghampiri dirinya .karena kedua orang tuanya lebih mementingkan perkerjaan mereka masing-masing tanpa tau kondisi anak tunggalnya yang sekarang sakit-sakitan dan ntah kapan Tuhan akan menjemput dirinya . Alika tidak menginginkan kemewahan apapun yang diberikan oleh kedua orang tuanya yang ia harapkan adalah selalu bersama dirinya disisa-sisa umurnya yang tidak akan lama lagi bahkan dihari ulang tahunya yang ke17 tahun orang tuanya tidak datang untuk merayakan bersama dirinya keduanya hanya menyiapkan kue dan berbagai macam kado dan mengucapkan selamat ulang tahun melewati telepon, tanpa ada waktu untuk merayakan bersamanya dirumah. Alika merasa sangat kecewa atas perlakuan kedua orang tuanya yang tidak begitu memperhatikan anaknya itu yang dipikirkan mereka adalah menghasilkan banyak uang tanpa tau apa yang diinginkan anaknya. Dihari bahagia nya ini Alika bisa merayakannya bersama bibi Alimah pembantu yang telah lama berkerja dirumahnya yang sudah dianggap sebagai keluarga yang selalu ada untuknya dan mengerti apapun yang Alika inginkan tanpa sedikitpun mengeluh dan selalu dengan semangat membantunya melakukan aktivitas yang tak bisa ia lakukan seorang diri. Alika berharap bahwa orang tuanya itu bi Alimah , karena bi Alimah lah yang selalu mengerti dirinya ketimbang kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan perkerjaan tanpa ingat sedikitpun anak mereka yang malang itu. Bibi Alimah lah yang selalu menjaga dan merawat dirinya dengan tulus seperti dia menyayangi anaknya sendiri. Alika merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikannya bi Alimah di kehidupannya yang sekarang karena dengan kehadiran bi Alimah bisa mengurangi kesunyian yang ia alami saat ini.
Hari ini Alika sangat senang karena hari ini anak dari bibi Alimah akan datang.sekarang dirinya mendapatkan seorang teman karena anak bibi Alimah akan tinggal dirumahnya bersama bibi Alimah. Akhirnya doanya terkabulkan . Dirinya pernah berdoa kepada Tuhan agar diberikan satu orang teman yang bisa bermain bersamanya dirumah Megahnya itu dan doa tersebut terjawab semuanya dengan kehadiran anak dari bibi Alimah. Begitu senangnya , Alika selalu bertanya kepada bibi Alimah kapan anaknya tiba.
"Bi,kapan anak bibi datangnya?,Alika sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya " tanyanya
"Sabar non, mungkin sebentar lagi kita tunggu saja ya non"
"Semoga saja ya bi"
"Iya non, yang sabar ya"
"Tentu bi"
"Kalau begitu bibi ke dapur lagi ya non untuk menyiapkan sarapan untuk non Alika ."
"Iya bi"
"Permisi non"
Setelah kepergian bibi Alimah tak berapa lama terdengar suara bel rumahnya. Alika dengan semangat membuka pintu rumahnya untuk menyambut teman barunya hari ini.
"Bi, jangan keluar biar Alika saja yang membuka pintunya"
"Tapi non"
"Bibi lanjutkan saja perkerjaan bibi, Alika bisa kok bi."
"Baik non"
Alika membuka pintu rumahnya dan tersenyum kearah orang yang sedang berada Dihadapannya saat ini.
"Selamat pagi non, apakah ini benar rumahnya keluraga tuan Hermawan Hadi?."
"Panggil Alika saja jangan sungkan, pasti kamu Alia kan anaknya bi Alimah "
"Iya non"
"Panggil Alika saja"
"Baik Alika "
"Silahkan masuk"
"Baik"
"Sini Alika bantu membawa barang-barangnya"
"Jangan non, ini berat saya bisa membawanya sendiri."
"Tidak apa-apa kok jangan sungkan begitu "
"Saya tidak ingin merepotkan non Alika "
"Panggil Alika saja"
"Maksud saya Alika "
"Tidak merepotkan sama sekali"
"Tapi barang-barang ini berat Alika "
"Beri yang ringan saja Alia "
"Apa tidak merepotkan "
"Tidak,sini Alika bawakan "
"Terimakasih ya non"
"Alika"
"Iya Alika, terimakasih. Alia tidak menyangka kalau anak pemilik rumah ini sangat baik sekali"
"Kamu bisa saja, yang lebih baik itu orang tua kamu yang selalu merawat saya dengan kasih sayangnya. Jadi saya juga harus memperlakukan orang-orang yang bersamanya denga baik juga. Jadi jangan sungkan ya Alia."
"Baik"
Setelah cukup lama berbincang akhirnya keduanya masuk kedalam rumah .
Meskipun pertemuan itu adalah pertemuan yang pertama untuk mereka berdua,tapi mereka terlihat begitu akrab dan telah kenal lama sebelumnya. Hari-hari Alika benar-benar merasa sangat bahagia sejak kedatangan Alia dirumahnya waktu itu . Kini keduanya menjadi sahabat . Alika sangat senang bisa berbagi kamar bersama Alia tak ada kesedihan lagi yang terlihat di wajah Alika yang ada hanyalah senyuman kebahagiaan yang terpancar dari dirinya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah keduanya berulang tahun ditanggal ya sama. Apakah ini semua yang sudah ditakdirkan Tuhan untuknya.
Pagi ini Alika dan Alia pergi ketaman yang tak jauh dari rumahnya untuk merayakan hari spesial meraka berdua. Alia punya kejutan spesial untuk Alika hari ini, sebuah kejutan dihari ulang tahun mereka ya ke 20 tahun. Tak berapa lama sampai lah keduanya ditaman itu. Alika sangat bahagia melihat kejutan yang sudah siapkan sahabatnya itu. Karena begitu bahagia Alika bangkit dari kursi rodanya. Hal itu membuat kondisinya seketika menjadi menurun karena terlalu banyak melakukan aktivitas yang berlebihan. Tiba-tiba dari hidung Alika mengeluarkan banyak darah dan wajahnya menjadi begitu pucat. Hal itu membuat Alia panik dan segera membawa Alika untuk pulang kerumahnya. Akhirnya mereka sampai dirumah . BI Alimah sangat panik saat melihat kondisi Alika yang tiba-tiba memburuk.
"Alia , non Alika kenapa?."
"Alia juga tidak tau bu tiba -tiba saja Alika sudah Seperti ini"
"Kita kerumah sakit sekarang non"
"Tidak usah bi , Alika baik-baik saja"
"Tapi bagaimana kalau kondisi non Alika Semakin parah , bibi khawatir non. Kita pergi kerumah sakit sekarang ya non"
"Jangan bi, nanti juga sembuh kok, jangan panik begitu Alika masih kuat kok "
"Tapi Alika ,apa yang dikatakan ibu benar sebaiknya kita kerumah sakit sekarang nanti kondisimu semakin memburuk"
"Aku baik-baik saja Alia, jangan panik Seperti itu dan menjadi sangat bersalah. Cukup kamu bersihkan saja darah ini."
"Tapi Alika "
"Jangan membantah lagi"
"Iya"
"Dan satu hal lagi"
"Apa itu Alika ?"
"Mainkan lagu ciptaan kita berdua dengan bermain piano"
"Tapi aku tidak begitu mahir seperti mu Alika "
"Mainkan saja Alia , aku ingin mendengarkan nya "
"Baiklah jika itu permintaanmu Alika"
Alia mengikuti permintaan Alika , alunan musik piano pun mulai terdengar dengan indahnya. Air mata Alia mengalir dipipi nya saat dirinya harus melihat sahabat nya duduk lemas dengan wajah pucat duduk dikursi rodanya. Setelah Alia selesai memainkan piano . Alia menghampiri Alika yang tertidur pulas dengan cantik sambil tersenyum. Alia menyentuh lengan Alika dan betapa terkejutnya saat ia meresakan sudah tidak ada denyut lagi dipergelangan tangan Alika. Alia berteriak dengan kerasnya untuk membangunkan Alika yang tak kunjung juga terbangun dari tidurnya. Air mata menetes dengan derasnya membanjiri pipinya sambil memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.
"Alikaaaaaaa"
Tak ada lagi Alika yang selalu memainkan piano untuknya setiap hari dan tak ada lagi Alika yang selalu mengajaknya menanti senja karena Alika telah tiada.
🍄tamat🍄