Sejak pertama melihat mu, hari-hari ku begitu indah seperti mentari pagi yang menghangatkan ya..seperti itu yang ku rasakan dalam diam Arjuna Wira Atmaja mengingat sosok manis yang baru saja dilihatnya setelah libur semester satu di sekolah menengah atas yang cukup favorit di kotanya.
Gadis yang berbeda menurutnya dia terlihat pemalu dan hanya sedikit tersenyum itupun dengan menyembunyikan senyumnya yang manis menurut Arjuna, yang kebetulan melihatnya tersenyum saat guru menggodanya karena dia siswa baru disekolahnya dan dia siswa pindahan dari kota yang terbilang kota besar seperti kotanya.
Sepertinya dia keturunan darah biru sebab dari namanya saja sudah bisa menjelaskan siapa dirinya pantas saja dia terlihat menjaga prilakunya pikir Arjuna, tapi tidak salahkan bila dari pandangan pertama ini dirinya menyukainya arjuna memukul kepalanya sendiri karena malu sebab selama ini dirinya terbilang cowok yang dingin dan lebih memikirkan belajar.
Raden Roro Ayu Titi sari Diningrum itu nama yang panjang menurut Arjuna tapi dia lebih di kenal dengan nama Titi nama yang simpel sesimpel orangnya pikir Arjuna, tapi kecantikan yang dimilikinya tidak simpel dia sangat anggun dan sangat cewek banget menurut Arjuna yang hanya sekilas belum banyak yang dirinya tahu.
Teriakan suara bunda membangun kan Arjuna itu sudah biasa tapi kali ini, suara itu tidak terdengar sebab Arjuna sudah duduk manis di meja makan untuk sarapan pagi bersama kakak dan ayahnya yang terlihat bingung memandang Arjuna ya.g tidak seperti biasanya sudah siap untuk pergi sekolah.
"Angin apa..yang membuat jagoan..ayah bangun tanpa harus bunda teriak-teriak.." goda ayah dengan menepuk pundak Arjuna yang sudah menikmati susu hangat buatan bundanya.
"He..he..memang ga boleh ya bangun sendiri.." balas Arjuna dengan mengusap mulutnya karena bekas susu yang menempel di bibirnya.
"Siapa yang ga boleh..malah meringankan beban bunda.." seru mas Bimatara Wiguna Atmaja dengan serius, sebab dia tahu adiknya selalu susah bangun pagi.
"Betul apa yang mas mu bilang.." ayah menambahkan dengan menaruh gelas yang baru saja di nikmati isinya.
"Maaf..ya bun..suka merepotkan.." ucap Arjuna yang membuat bundanya hanya tersenyum dan mengangguk.
Sekolah yang masih sepi hanya beberapa siswa yang sudah datang itupun karena tugas piket dan yang belum mengerjakan tugas sekolah dengan mencari contekan pada temannya.
"Jun...tumben loe sudah nyampe.." seru Alex yang terlihat gelisah.
"Gue...nebeng abang gue..motor gue kempes.." balas Arjuna asal saja yang sebenarnya bukan itu alasannya.
"Jun..bagi gue..dong loe sudah mengerjakan tugas bu Irma..kan..gue malu sama gebetan gue jun..please.." rengek Alex yang membuat Arjuna mengeluarkan bukunya.
Dan tidak lama siswa yang lain berdatangan memenuhi kelas, begitupun dengan Titi yang masuk kelas dengan langkah seperti teratur tanpa terlihat dia buru-buru ataupun tergesah, sangat terlihat dia cewek banget menurut Arjuna.
Dan tidak lama bel masuk terdengar membuat siswa berhamburan masuk kedalam kelasnya masing-masing begitupun dengan guru yang akan mengajar sudah melangkah menuju tiap kelas yang ada jadwal mengajar bidang studi yang akan disampaikan pada siswanya.
"Tolong kumpulkan tugas kemarin..di meja paling depan tiap barisan.." ucap bu Irma terdengar jelas di telinga siswa.
"Bagi yang tidak mengerjakan keluar dari kelas saya.." perintah bu Irma yang membuat siswa sangat takut pada pelajarannya.
Arjuna bingung buku miliknya tidak ada dalam tasnya dan bertanya pada Alex tapi apa yang di dapat Alex hanya bilang sudah di kembalikan padanya, Arjuna suportif dia maju kedepan dan berniat untuk keluar kelas tapi suara khas bu Irma membuatnya mati gaya didepan teman satu kelasnya.
"Juna..kenapa dengan kamu.." seru bu Irma sebab beliau tahu siapa Arjuna yang pandai tidak mungkin tidak mengerjakan tugas ini bukan kebiasaannya pikir bu Irma.
"Ketinggalan bu.." ucap Arjuna singkat yang sebenarnya dia marah pada Alex yang menurutnya tidak bertanggungjawab.
"Ya..sudah kamu boleh keluar dari kelas.." ucap bu Irma tanpa pengecualian pad Arjuna.
"Siapa..lagi yang tidak mengerjakan tugas.." teriak bu Irma yang membuat Titi merasa bersalah sebab dia juga tidak tahu tugas apa sebab dia baru beberapa hari masuk ke sekolah baru ini.
"Kenapa..kamu..?" tanya bu Irma pada Titi yang berdiri dari bangku miliknya.
"Saya..tidak tahu..bu tugas yang mana..sebab.." belum juga Titi menjelaskan bu Irma sudah menyuruhnya keluar kelas.
"Kamu..silakan keluar dari kelas.." seru bu Irma yang membuat Titi sedih dan meninggalkan kelas.
Titi bingung mau kemana sebab dia belum mengenal lingkungan sekolah yang baru saja di masuki, tapi apa salahnya dia berjalan menelusuri tiap sudut sekolah dan mungkin ini waktu yang tepat pikirnya dengan berjalan seorang diri menelusuri lorong tiap kelas.
Di lapangan terlihat siswa yang berolahraga karena mata pelajaran kelasnya dan sebagian siswa bermain basket walaupun ada juga yang hanya melihat-lihat saja.
"Auw..." teriak Titi dengan pelan dan mengusap lengannya yang sakit terlihat memerah.
"Maaf..kenapa kamu di luar..?" seru Arjuna yang sebenarnya malu bertanya pada Titi.
"Aku..ga tahu tugas apa..sebab aku baru mengikuti pelajaran ini.." Titi berusaha menjelaskan pada Arjuna yang terlihat malu.
"Kenapa kamu ga berusaha menjelaskan pada bu Irma.." seru Arjuna pada Titi yang masih mengusap tangannya yang sepertinya sakit.
"Sudah tapi..tetap aku di suruh keluar.." ujar Titi dengan menahan sakit tangannya.
"Terus..kamu mau kemana..?" tanya Arjuna 0ada Titi yang terlihat diam dan bingung.
"Ga..tahu.." jawab Titi dengan polosnya membuat Arjuna gemas di buatnya sebab Titi bukan anak abg tapi sepolos itu muka yang dia tampak kan pada Arjuna.
"Ga..tahu..kamu itu ih..ya sudah ikut saya ke perpustakaan saja.." ajak Arjuna yang menarik tangan Titi yang tanpa ada penolakan dari pemiliknya.
Dari sini keduanya jadi dekat dan benih-benih rasa tumbuh di hati Arjuna Wira Atmaja, tapi tidak dengan Titi yang sangat tahu aturan keluarganya, dan prioritasnya saat ini hanya studi tidak lebih.
Hari-hari dilalui oleh seorang Arjuna begitu indah dan selalu saja bersemangat karena ada hal yang sangat menarik pikir Arjuna bila melihat Titi yang pemalu tapi istimewa untuk seorang Arjuna yang belum berani untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam dadanya sebab Arjuna tahu siapa Titi.
Tiap kali Arjuna memperhatikan Titi tanpa sepengetahuan Titi tentunya, senyum manis Titi yang selalu membuat Arjuna tidak bisa melukiskan dengan kata-kata dan hanya satu kartu andalan Arjuna yang sebenarnya ingin dia keluarkan tapi sepertinya belum waktunya.
"Sepertinya ada yang menarik..bun.." goda mas Bima pada Arjuna yang kebetulan nonton tv sendirian di ruang keluarga.
"Apaan sih..mas..?" balas bunda yang kebetulan menyiapkan makan malam.
"Ada yang lagi jatuh cinta..sepertinya.." mas Bima menambahkan lagi yang membuat ayah merapat.
"Kamu..mas..siapa..cantik ga..?" tanya ayah penasaran pada mas Bima.
"Ko aku sih..yah..terus mau di kamanakan itu putri.." seru mas Bima protes pada ayahnya yang hanya pura-pura menggoda.
"Oh..iya ayah lupa.." ucap ayah menggaruk kepalanya dan menaruh koran di meja.
"Jun..kenalin dong sama bunda.." pinta bunda menghampiri Arjuna yang kaget mendengar ucapan bundanya.
"Ih..bunda kata siapa kuna punya cewek..." ujar Kuna dengan muka malu.
"Udah..lah kamu ngaku aja kalau suka sama cewek.." protes mas Bima dengan nada menggoda.
"Sok..tahu kamu mas.." balas Arjuna dengan muka tersipu malu.
"Kamu..sehangat mentari pagi..itu apa artinya.." seru mas Bima yang membuat Arjuna menutup mulut mas Bima.
"Ih..lemes mulut mu mas..." seru Arjuna yang membuat bunda dan ayah tersenyum.
"Wajar..kali jun..kamu udah gede ko.." balas mas Bima yang duduk menjauh dari Arjuna yang malu.
"Tapi..ingat sekolah harus utama.." ucap ayah dengan santai tapi serius terdengar.
"Ga..ko yah.." ujar Arjuna yang tahu belum jauh mengenal Titi dan hanya rasa suka.
Waktu berjalan begitu cepat seakan tidak memberikan ijin pada Arjuna untuk diam di tempat, harus cepat memberikan kepastian soal rasa pada seseorang yang dikaguminya dari jauh tanpa berani mengungkapkan kepada seseorang tentang apa yang dirasakan dalam dadanya selama ini.
Kesempatan belum berpihak pada Arjuna sepertinya sebab saat ini mengucapkan apa yang dirasakan dalam dadanya,selalu saja teman-teman Titi berada bersamanya untuk kesempatan lain rasanya tidak mungkin Arjuna lakukan seperti berkunjung ke rumahnya sebab tidak tahu juga dimana rumah Titi.
Untuk bertanya banyak hal Arjuna tidak ada keberanian, sebab butuh nyali yang besar pikirnya apalagi dengan status darah bangsawan yang dimiliki Titi itu sudah membuat Arjuna mundur sebelum berperang.
Dan saat ada kesempatan Arjuna memberanikan diri dengan segenap keberaniannya yang dia miliki, Arjuna yang biasanya dingin saat ini benar dingin tapi dingin yang sebenarnya dengan keringat yang mengalir deras di balik baju seragam yang dia kenakan rapi.
"Hai...kamu..ya..kamu.." ucap Arjuna pada Titi yang terlihat bingung mendapati dirinya di panggil oleh Arjuna.
"Aku.." ucapnya dengan menunjuk dirinya.
"Ya..kamu..kamu.." seru Arjuna yang sepertinya dia ragu untuk memulai bicara.
"Ada apa ya.." ucapnya pelan tapi sopan.
"Mau..jadi orang istimewa ku.." ucap Arjuna to the poin yang membuat Titi malu.
"Maaf..apa aku salah dengar.." balas Titi yang membuat Arjuna makin grogi.
"Ya..kamu mau jadi teman istimewa ku.." ucap Arjuna lagi yang kedua kalinya.
"Maaf..rasanya aku tidak pantas untuk seorang sepandai kamu.." seru Titi yang tertunduk malu.
"Bukannya aku yang tidak pantas untuk kamu yang seorang bangsawan.." balas Arjuna yang membuat Titi diam seakan dirinya diatas segalanya itu bukan maunya dan darah bangsawan susah untuk dia hilangkan.
"Tidak seperti jun..." balas Titi yang terlihat sedih dan tidak bisa berkata banyak lagi.
"Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan soal diterima atau ditolak bagi ku tidak masalah..." ucap Arjuna dengan berniat pergi tanpa menunggu jawaban dari Titi.
Sebenarnya Titi pun merasakan hal sama tau tidak ada keberanian untuk memberikan jawaban pada Arjuna saat ini.
Ada yang berbeda pada diri Titi menurut Arjuna, dia lebih suka diam tidak seperti awal dia mengenalnya apa pernyataan suka darinya yang membuatnya berubah pikir Arjuna pada dirinya.
"Lemes amat.." goda mas Bima pada Arjuna yang melempar tasnya di sofa dengan muka masam.
"Ih..berisik.." balas Arjuna pada mas Bima yang terlihat bingung.
Arjuna meninggalkan mas Bima dan menuju kamarnya yang kebetulan di lantai atas, setibanya di kamar dia membanting tasnya hingga isinya berhamburan dan di lihatnya ada yang amplop merah jambu yang menurutnya bukan miliknya, dengan rasa penasaran di bukanya amplop tersebut terdapat sepucuk surat dengan kertas yang warnanya senada dengan amplop.
Dear juna..
Sebelumnya aku minta maaf hanya lewat surat ini ku memberanikan diri untuk membalas pernyataan mu beberapa waktu yang lalu.
Bukan maksud hatiku untuk melukaimu tapi aku ingin kamu memilki ku bukan untuk saat ini saja tapi waktu yang lama, aku harap kamu mengerti maksudku, ku tunggu kamu meminta pada orang tuaku diwaktu yang tepat.
Yang selalu menunggu
Titi.
Arjuna berteriak senang ternyata sikap diamnya Titi bukan marah tapi memberikan sinyal bahwa dirinya tidak ingin diketahui orang lain tentang kedekatan dengan dirinya.
"Pasti aku akan datang meminta pada orang tua mu..diwaktu yang tepat..tunggu aku.." ucap Arjuna dalam kamarnya seorang diri.
Semua berjalan seperti biasanya hanya saja ada yang berbeda setelah sekian lama tidak berjumpa karena fokus pada masa depan dan kini tiba waktunya untuk menyatakan keinginan yang selama ini terpendam dalam hasrat hati.
"Kamu..ya..kamu.." ucap Arjuna seperti biasanya sapaan itu dia berikan pada Titi.
Titi yang sepertinya tahu betul siapa yang selalu menyapanya seperti itu, dia seseorang yang sangat di tunggunya beberapa tahun lamanya dengan penuh harap dan setia dengan kehadirannya untuk membawanya ke masa depan yang indah dalam ikatan halal.
"Aku.." sapa Titi dengan senyum malu seperti biasa tidak ada yang berubah dari dirinya.
"Ya..kamu..kamu.." seru Arjuna dengan tersenyum senang melihat orang yang selama ini di harapankan kehadirannya.
Pada akhirnya keduanya di satukan dalam ikatan suci tanpa memandang apapun, hanya satu iman dan keyakinan akan bersama mencapai ridho tuhan dalam kebersamaan dalam ikatan suci.
Seperti mentari pagi yang selalu di rindukan semua maklum begitupun senyum Titi yang selalu membuat Arjuna selalu ingin dapat melihatnya tanpa terhalang apapun yang sekarang jadi miliknya.