"Aku tidak ingin menyakitimu, meskipun kamu adalah makananku, karena aku sudah terlanjur sayang padamu.."
...
Namaku Araya, siswi kelas 8 SMP. Akhir-akhir ini, aku sangat kesepian, ditambah.. kondisi ku sedang agak tidak sehat.
Hari Sabtu sore, aku dirumah sendirian, ibuku sedang bekerja di rumah sakit, ayahku merantau ke luar negeri. Aku sangat gabut ketika itu.
Aku duduk di atas tempat tidur, sambil menatap tangan kiriku yang dibalut perban dengan noda merah yang menghiasinya.
"Kurasa sudah saatnya aku mengganti perban ini." ucapku setelah aku menatap perban di tangan kiriku. Aku pun berjalan ke arah meja di sudut ruangan untuk mengambil kotak P3K. Kemudian, aku membukanya.
"Perbannya hampir habis, aku harus membelinya." batinku.
Klunting! Suara notifikasi dari ponselku. Dan aku menemukan pesan dari ibuku.
"Araya, sudah saatnya kau mengganti perban mu, datanglah ke tempat kerja ibu kalau kau tidak bisa melakukannya ya." ibu mengirimiku pesan. Dan aku hanya membalas..
"Terimakasih ibu, aku bisa melakukannya. Aku tidak ingin merepotkan ibu."
....
Jam tujuh malam, aku berjalan sendirian pergi ke apotek untuk membeli perban. Dan, satu-satunya jalan yang bisa aku lewati untuk ke apotek hanya gang dekat pemakaman. Aku mencoba tenang saat melewati gang itu.
"Kenapa sepi sekali? Tidak biasanya, sekarang kan malam Minggu, dan juga besok Valentine kan?" ucapku dalam hati.
"Hey kau!" Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari belakangku. Aku menoleh ke belakang untuk mencari sumber suara itu. Dan hasilnya nihil, tidak ada siapapun disini.
Tek! Seseorang telah melakukan sesuatu padaku. Membuatku tidak bisa bergerak, tubuhku terasa mati rasa, dan perlahan kesadaran ku mulai menghilang.
Tapi, sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, aku merasakan ada yang menyentuh tangan kiriku yang di perban.
...
Di dunia lain...
"Tuan, saya sudah mendapatkan tiga sampel darah yang Anda inginkan." ucap seseorang dengan suara yang agak berat.
"Oh iya? Kerja bagus." seseorang memberi tanggapan.
"Anda boleh mencicipinya, untuk menemukan mana yang cocok dengan selera Anda." ucapnya sambil memperlihatkan tiga gelas berisi cairan merah, yang sudah diberi label 1, 2, dan 3.
Kemudian, orang yang menjadi lawan bicaranya pun meminum cairan merah itu. Pertama, dia meminum cairan yang berada pada gelas berlabel 1.
"Rasanya hambar."
"Anda bisa meminum yang lain, Tuan."
Kemudian, dia meminum darah pada gelas berlabel 2.
"Yang ini, rasanya aneh.."
"Anda bisa mencicipi yang terakhir. Kalau tidak cocok, saya bisa mencarikan nya lagi."
Terakhir, dia meminum segelas cairan pada gelas berlabel 3. Dan hasilnya..
"Yang ini enak, manis.."
"Baiklah, Tuan. Saya akan menemukan orang yang mempunyai darah seperti itu untuk ritual ulang tahun Anda."
...
"Araya, Araya.. bangun!" ucap seseorang sambil sedikit mengguncangkan tubuhku. Perlahan, aku pun membuka mataku.
"A.. Asahi.." ucapku pelan ketika melihat seseorang yang sedari tadi memangku aku. Dia Asahi, sahabatku sejak lama.
"Syukurlah, kau sudah sadar." ucapnya gembira.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Kau.. dilukai oleh seseorang. Lihatlah, lukamu terbuka." kata Asahi sambil menunjuk tangan kiriku yang sudah tidak di perban dan terus meneteskan darah.
"Ayo pulang, aku akan mengantarmu." ajak Asahi.
"Sebentar, aku akan membeli perban dulu di apotek." ucapku sambil berusaha berdiri.
"Aku temani ya." Asahi menawarkan.
"Terimakasih,"
...
Saat perjalanan pulang, kami berbincang-bincang.
"Asahi, bagaimana bisa kau menemukanku?" aku memulai pembicaraan.
"Eumm, itu.. aku baru saja pulang berkencan." ucapnya agak malu-malu.
"Kau.. berkencan malam-malam?"
"Hmm, Araya apa aku boleh bertanya?"
"Bertanya apa?"
"Apa kau masih belum punya kekasih?"
"Hahaha.. belum." jawabku sambil tertawa.
"Bagaimana kalau besok kau pergi mencari kekasih? Besok kan valentine."
"Tidak, terimakasih. Aku masih ingin sendiri."
...
Keesokan harinya, adalah hari Valentine. Aku tidak pergi kemana-mana dan tetap di rumah sendiri. Aku duduk di teras rumah untuk menghirup udara segar. Tak lama setelah itu, ada kabut yang muncul.
"Kenapa siang-siang ada kabut?" tanyaku dalam hati. Tapi lama-kelamaan, kabut nya menjadi semakin tebal dan membuatku tidak bisa melihat.
Aku berusaha masuk ke rumah, tapi, bukannya masuk ke dalam rumah, aku malah berada di ruangan yang belum pernah aku masuki.
"Hah? Dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini? Apa ini mimpi?" tanyaku setelah aku melihat apa yang kulihat. Aku mencoba untuk menyadarkan diri.
Plak! Aku menampar pipiku sendiri. Dan ternyata benar yang kulihat. Aku berada dalam ruangan tertutup dan pintunya terbuat dari besi yang disusun secara vertikal. Apalagi kalau bukan penjara? Bukan hanya itu, ruangan tersebut juga berbau darah.
Tep.. tep.. tep.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin mendekat. Kemudian, terlihat seorang laki-laki dari balik jeruji besi. Dia berjalan ke arahku dan menembus pintu besi itu.
"Si.. si.. siapa kamu?" tanyaku ketakutan.
"Jangan takut, saat ini, belum saatnya aku untuk melukaimu." ucapnya saat berdiri di depanku.
Orang itu berpostur tubuh tinggi, berkulit putih, bola matanya berwarna merah, dan rambutnya hitam. Dia menggunakan jubah berwarna hitam. Dia tersenyum padaku dan menampakkan gigi taring nya yang tidak terlalu besar, namun terlihat sangat tajam.
"Namaku Anggara, kau bisa memanggilku Angga. Aku adalah pangeran vampir di kerajaan ini."
"Pa.. pangeran vampir?" tanyaku sambil agak gemetaran.
"Ya, dan kau pasti Araya."
"Bagaimana anda bisa tau?"
"Tentu saja aku tau, dan.. kau tidak perlu bicara formal padaku, mengerti?" dia bertanya padaku. Aku membalas dengan anggukan kecil.
Tiga menit berlalu, dan Angga masih berada di sampingku.
"Itu kenapa?" tanyanya sambil menatap tangan kiriku.
"Tidak apa-apa." ucapku sambil menyembunyikan tangan kiriku di belakangku.
"Itu pasti sakit untuk seorang manusia. Tapi, jangan khawatir, rasa sakitnya tidak akan bertahan lama."
"Apa maksudmu?"
"Kau, adalah hadiah ulang tahunku yang ke enam belas. Jam sepuluh malam nanti, aku dan kau akan melakukan sesuatu." ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Sesuatu apa?" tanyaku ketakutan.
"Ritual. Dimulai jam sepuluh dan berakhir jam dua belas malam. Aku akan menghisap enam belas liter darahmu saat ulang tahunku. Apa kau tau, kenapa aku memilihmu?"
Aku menggeleng pelan, tanda kalau aku tidak tau.
"Karena darahmu sangat enak."
...
Jam delapan malam, Angga kembali mengunjungi ku. Dua jam sebelum ritualnya dilakukan, dan empat jam sebelum ritualnya berakhir. Aku tidak tau harus melakukan apa. Aku hanya gadis lemah yang tidak bisa apa-apa selain menyerah.
"Kenapa kau kesini?" aku tidak sengaja bertanya padanya.
"Terserah aku, istana ini milik keluargaku. Aku bebas melakukan apa saja disini. Kenapa wajahmu agar pucat? Kau sakit?" tanya Angga dengan nada agak khawatir.
"Tidak,"
"Tidak perlu berbohong. Aku bisa tau hanya dengan merasakan hembusan nafas mu. Kau dehidrasi, tunggu sebentar."
Wuush! Di ruangan itu hanya tinggal aku sendiri. Dia telah menghilang. Beberapa detik setelahnya, tiba-tiba dia telah berada tepat di depan ku. Aku terkejut dibuatnya.
Wajahnya sudah berada di depan wajahku. Dia sedikit menunduk untuk menyesuaikan tinggi badannya denganku.
"Ini, minumlah." ucap Angga sambil menyerahkan sebuah botol padaku. Dengan ragu-ragu, aku pun menerima pemberiannya.
"Te.. terimakasih," aku membuka tutup botol itu, terlihat isi dari botol itu adalah cairan berwarna merah. Melihat itu, aku langsung menutupnya kembali.
"Kenapa?" tanyanya padaku.
"Aku.. aku tidak meminum darah.."
"Hah.. maaf, aku lupa kalau manusia meminum air, bukan darah.." kata Angga terdengar menyesal.
"Selamat ulang tahun, dan.. selamat hari raya Valentine." ucapku untuk menyenangkannya.
"Terimakasih, tapi hari raya Valentine? Apa itu?"
"Aku tidak tau kalau para vampir tidak merayakan hari Valentine. Tapi, apa kau sungguh ingin tau?"
Mendengar aku mengatakan hal itu, dia mengangguk antusias.
"Sebenarnya aku tidak tau banyak, sebab aku belum punya pasangan. Yang aku tau hanyalah, saat hari Valentine, semua pasangan akan mengutarakan perasaannya mereka. Ada yang menyebut juga, hari Valentine adalah hari kasih sayang."
...
Jam sepuluh malam, kurasa malam ini adalah akhir dari hidupku. Aku sudah dibawa ke ruangan utama istana kerajaan vampir. Di sana, ada Angga, dan seseorang yang duduk di singgasana yang lumayan mewah.
Deg.. deg.. deg.. jantungku berdetak tidak beraturan. Aku sangat takut..
"Baiklah, silahkan mulai." ucap sang raja.
Angga menatapku dengan tatapan biasa, kemudian dia menatap ayahnya.
"Ayah.." ucap Angga.
"Kenapa?" tanya ayahnya.
"Aku.. ingin menjadi manusia."
Semua orang di ruangan itu terkejut dengan perkataan Angga, termasuk aku juga.
"Tidak! Kau tidak boleh menjadi manusia! Lakukan sekarang!" ucap sang raja dengan suara keras.
Dengan berat hati, Angga berbalik menatapku, kemudian memegang kedua pundak ku, dan mendekatkan wajahnya. Kini, wajahnya sudah berada di samping wajahku.
Aku memejamkan mataku dan bersiap untuk merasakan rasa sakit yang luar biasa. Namun, bukannya Angga menggigitku, dia malah menarik tanganku dan pergi dari tempat itu.
"Pengawal, kejar mereka! Dasar penghianat!"
...
Jam setengah sebelas malam, aku dan Angga sudah berlari selamat setengah jam. Sekarang, kami sudah berada di tengah hutan yang gelap.
Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar.
"Hah.. hah.. hah.. kenapa.. kau menolak perintah ayahmu?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku tidak ingin menyakitimu, meskipun kamu adalah makananku, karena aku sudah terlanjur sayang padamu." ucap Angga sambil tersenyum, aku membalas senyumannya.
"Terimakasih, tapi.. apakah tidak apa-apa?" tanyaku untuk memastikan. Dia pun mengangguk.
Kruwuk.. Perutku berbunyi, tanda kalau aku kelaparan. Dia hanya tertawa kecil saat melihatku. Kemudian, dia merogoh saku yang berada dalam jubahnya.
"Ini," ucap Angga sambil memberikan sebungkus coklat padaku.
"Itu.. bukan dari darah kan?"
"Bukan, ini asli."
"Terimakasih." ucapku berterimakasih. Tak butuh waktu lama, aku langsung menghabiskan coklat pemberiannya. Rasanya sangat enak. Kemudian..
"Araya.." panggilnya.
"Iya?" jawabku sambil menatapnya. Kemudian, dia memegang batang pohon yang menjadi sandaran ku. Wajahnya semakin mendekati wajahku. Aku tau maksudnya. Saat jaraknya tinggal lima sentimeter..
"Angga, awaas!" teriakku.
Bruk! Jleb!
Aku langsung mendorongnya, dan seketika, sebuah anak panah menancap di pundak kananku. Untung saja tidak sampai tembus.
"Araya!" teriak Angga panik.
"Ugh!" aku berusaha untuk mencabut paksa anak panah yang tertancap di pundak kananku. Darah mulai membasahi jaket merah ku.
"Araya, kau masih sanggup?"
Aku hanya mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum, untuk menenangkannya.
...
Kami berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Hingga..
"Hei kalian! Berhenti!" teriak seseorang yang terdengar sudah tidak jauh. Sepertinya mereka adalah para pengawal kerajaan. Suaranya semakin mendekat dan terus mendekat, pada akhirnya, mereka telah menemukan kami.
"Jangan takut, Araya, kita tidak akan tertangkap." ucap Angga berusaha untuk menenangkan aku. Sementara, kami masih terus berusaha untuk berlari.
"Angga, berhenti!" ucapku sambil berusaha menarik tangan kanan Angga menggunakan tangan kiriku. Meskipun tangan kiriku sedang sakit, aku bisa mengatasinya.
"Whoa!" Angga menatap ke depan. Di depannya, adalah sungai besar yang di aliri lava.
"Kalau melompat tidak ada gunanya. Lebih baik, kau kembali dan melaksanakan perintah ayahmu."
"Kalau itu, tidak akan. Apakah kau tau, apa yang aku pikirkan?" tanya Angga sambil gantian menggenggam tanganku.
"Jangan bilang, kita akan mati bersama-"
"Itu benar!"
"Hah?" aku terkejut mendengar perkataannya. Kemudian, dia mendekapku dengan erat dan terjun ke sungai lava itu.
"Apa mereka sinting? Mereka benar-benar terjun ke sana!" ucap salah satu pengawal kerajaan.
(Araya POV end)
...
Araya dan Angga saat ini berada di sebuah ruangan gelap. Terdengar suara jangkrik dan terlihat cahaya bulan menerangi langit.
"Hah.. syukurlah masih sempat menggunakan teknik itu." ucap Angga setelah menghela nafasnya.
"Araya.. kau baik-baik?" tanya Angga pada Araya yang berada di atas tubuhnya. Namun, tidak ada respon. Araya telah tidak sadarkan diri atau mungkin tidak.
"Araya, berhentilah bermain-main."
Setelah sekian lama Araya tidak merespon, Angga memutuskan untuk melihat keadaannya. Dia memangku Araya, kemudian meletakkan telapak tangannya di leher Araya untuk memeriksa denyut nadinya.
"Ya ampun! Apa yang harus ku lakukan? kata Angga panik. Dia memikirkan berbagai cara supaya bisa menyelamatkan Araya.
Dia membaringkan Araya dengan perlahan. Kemudian, melepaskan jubahnya dan dia gunakan untuk menyelimuti Araya. Dan Angga sekarang menggunakan baju pendek dan celana panjang berwarna hitam polos.
"Araya, tunggu sebentar ya." kata Angga sebelum berlari meninggalkan Araya.
...
"Apa yang harus kulakukan pertama-tama?" ucap Angga sambil berusaha mencari benda yang mungkin bisa membantunya menyelamatkan Araya.
"Aku punya ide. Kuharap sekarang belum jam dua belas malam." ucap Angga ketika melihat pohon bunga mawar merah. Dia memetik sebatang dan membawanya ke tempat Araya tadi.
Setelah sampai, Angga langsung menyayat tangan kirinya menggunakan duri dari batang pohon bunga mawar tadi dengan keras, supaya tangannya berdarah. Dan benar saja, tangan kirinya benar-benar mengucurkan darah.
Dia meletakkan tangannya yang berdarah tadi di atas mulut Araya, dan berharap kalau Araya bisa pulih, meskipun nantinya dia bukan lagi seorang manusia.
Namun, hasilnya berbanding terbalik dengan perkiraannya. Keadaan Araya semakin kritis. Dan Araya menghembuskan nafas terakhirnya.
"Araya! Jangan pergi!" teriak Angga ketika menyadari kalau Araya sudah tidak ada. Angga menjadi lemas seketika.
Sekarang sudah jam dua belas malam lewat satu menit. Yang artinya, Angga sudah bukan lagi seorang vampir, dia sudah menjadi manusia. Sebab saat hari ulang tahunnya yang ke-16, dia tidak meminum darah manusia sebanyak enam belas liter.
Sekarang, Angga sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memetik bunga mawar merah yang ada di batang pohon mawar tadi. Sambil menahan tangisnya, dia memberikan bunga mawar merah itu pada Araya.
"Araya, ini hadiah dariku. Selamat hari raya Valentine. Kau adalah cinta pertama dan terakhirku."
~Tamat~
Selamat hari raya Valentine semua! Gimana cerpen buatan aku? Mohon dukungannya ya! Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya! See you..