Valentine .... itulah namanya. Nama dari seorang gadis yang tidak memiliki rasa apapun. Dikenal dengan sifatnya yang dingin bagaikan Es yang berada di kutub Utara, super duper cuek, dan acuh tak acuh terhadap sesamanya, entah itu temannya maupun keluarganya sendiri. Entah mengapa sekarang hatinya begitu keras dan menganggap semua telah mati. Begitu juga dirinya sendiri. Memperlihatkan ke-Patah hati-annya dan kebenciannya terhadap seseorang. Ibu. Itulah satu kata yang membuatnya ngamuk dan menjadi-jadi tak terkendali.
"Huaaaaaaa ... aku kangen dirimu, Ibu ...",teriaknya, tak perduli dengan keadaan saat ini.
"Kamu kenapa ? Ada apa ?", Amira bertanya kepada Valentine.
"Aku ..... Aku kangen ibu, Mir ... tapi ..."
Amira yang mendengar itu langsung berinisiatif memeluk Valentine, karena ia tau rasanya bagaimana perasaan Valentine bisa se-histeris seperti itu.
"Tenang ... tenang, Val ... kamu akan baik-baik saja" Amira mencoba menenangkan Valentine.
"Bagaimana aku bisa tenang ? Aku ... aku yang ... arghhhhh...." Valentine kembali marah dan langsung berteriak. Valentine berlari ke dapur dan tidak memperdulikan Amira. Dia mengambil sebuah pisau yang ingin mengiris urat nadinya sendiri.
Amira yang melihat itu, spontan panik dan tak habis pikir kenapa Valentine ingin mengakhiri hidupnya.
"Valentine..." Cegah Amira. "Kamu sudah gila ? Apa yang kamu lakukan ? Kamu gak sayang sama semua orang yang sayang sama kamu ? Gak mikir itu ?" Amira tak tahan, amarahnya meluap. Agar Valentine lepas dan sadar akan apa yang ia lakukan.
"Tolong, Val... jangan seperti ini..." minta Amira.
Hanya ada mereka berdua dirumah tua itu. Yaitu dirumahnya Valentine yang telah terjadi insiden yang tidak diinginkan. Rumah yang terbilang besar, sepi, terkesan horor, dan gelap, meninggalkan semua kenangan manis, indah, dan buruk sekalipun tentang keluarganya itu. Hanya ada Amira yang selalu setia menemaninya sejak dia kecil.
"Kau tau aku kenapa seperti ini, Mir ?" ucapnya.
"Aku tau, Val..." jawab Amira dan ingin memberikan pengertiannya kepada Valentine, "Tolong, jangan seperti ini..."
"Kau tau aku seperti apa menikamnya ? Merajamnya ?" tanya kembali.
"Kamu masih mengingat kejadian itu ?" tanya Amira untuk mematikannya.
"Hahaha .... aku suka sekali saat aku bisa menikamnya seperti kehausan cairan yang kental dan amis itu ... Aku suka, Aku suka, Mir..."jelas Valentine.
Amira yang sedari tadi mendengarkan cerita Valentine, hanya membayangkan dan tubuhnya bergidik. Tetapi itulah Valentine. Seorang pendendam, pembenci keluarganya sendiri. Dia telah menghabisi ibu nya sendiri tanpa memikirkan dosa atau apapun itu.
1 tahun yang lalu, 14 Februari ....
Amira datang kerumah Valentine yang ingin mengajaknya pergi ke Gramedia untuk membeli sebuah buku MIPA untuk mempersiapkan ujian masuk disalahsatu universitas ternama di Indonesia. Tak sengaja melihat perdebatan yang dilakukan Valentine dan Sang Ibu.
"Ibu tau kan, kalau Valentine ingin sekali masuk universitas itu ? Kenapa Ibu tiba-tiba bilang seperti itu ? Menuduhku yang tidak-tidak. Apa Ibu tau, aku sudah bersusah payah memperjuangkan ini ?" bentak Valentine.
"Bukan... bukan seperti itu, Nak.. dengarkan Ibu dulu.."
"Dengarkan apa lagi ? Apa ibu mau menikah dan meninggalkanku sendirian dengan laki-laki itu ?" tanya Valentine sambil membanting semua barang yang ada didekatnya.
"Tidak seperti itu ... Kenapa kamu tidak ingin mendengarkan apa kata ibu dulu ?.." apa yang diucapkan Valentine itu benar dan Sang Ibu tidak ingin memperjelas dan memberitahukan apa maksud hati Sang Ibu.
"Sudah lah ... aku sudah muak dengan semua ini ! Terserah pada Ibu saja !"
"Kamu ini ya,.. membuat Ibu muak saja. Semua kata-katamu itu benar. Apa yang akan kamu lakukan kalau Ibu berbuat seperti itu ?" dengan nada yang menjengkelkan.
"Dasar p******. Tidak sayang sama Papa. Jahat sekali Ibu pada Papa" amarah Valentine meledak-ledak.
Sang Ibu mulai terpancing emosi, menghampiri Valentine yang sedang duduk memainkan Hp nya. Tak terpikirkan oleh Sang Ibu, bahwa dia memukul kepala Valentine. Sontak Valentine bangkit berdiri dan melawan Sang Ibu. Sang Ibu seperti kerasukan sesuatu yang tiba-tiba membuat Valentine ingin melakukannya.
"Dasar anak gak tau diri ! Mulut seperti setan !" cacian Sang Ibu tiada henti yang membuat Valentine menjadi-jadi.
Amira yang melihat itu, masih menyaksikan karena takut untuk melerainya. Ia takut terluka.
Sementara Papa Valentine berada diluar kota dan akan kembali besok lusa.
Valentine mencoba melepaskan semua yang telah mengunci dirinya. Entah Sang Ibu menguncinya degan sebuah kayu panjang dan memukul kepala Valentine berkali-kali. Valentine bukannya menghindar tetapi dia berusaha menginjak kaki dan menendang perut Sang Ibu.
Valentine mengambil sebuah pisau dapur yang telah dilihat dengan sorotan matanya.
Dengan membabi-buta Valentine langsung merajam Sang Ibu berkali-kali karena dendamnya.
Amira yang melihat itu langsung berlari keluar rumah dan memanggil tetangganya.
"Pak... tolong... tolong Valentine, Pak ..." Amira panik dan langsung berlari menuju rumah besar itu.
"Kenapa ? Ada apa ?" Pak Tono langsung berlari mengikuti Amira.
Valentine yang duduk menyaksikan itu semua dan melihat Sang Ibu tergeletak dengan semua cairan kental yang keluar dari tubuhnya itu, merasa lega dan dendam terbalaskan. "Hahahhaa ahahha ...huuuaaahahaha hiiks hiikss ..." Tawa menjadi tangisan yang sangat kencang.
Pak Tono melihat itu semua hanya bisa, " Astagfirullah, Valentine... ya Allah... istighfar, Nak..."
Amira tidak kalah kaget dan langsung memeluk temannya itu. Kenapa Valentine kenapa ? Temannya sedikit kecewa dengan sikap yang telah ditunjukkan oleh Valentine. Tetapi Sang Ibu lah yang seperti itu. Bukan sepenuhnya salah tetapi hanya dia yang tidak tau bagaimana sifat anaknya ini.
Semua warga disana panik dan ramai memenuhi depan rumah Valentine. Garis kuning pun dipasang mengitari TKP yang berada didalam rumahnya itu. Valentine yang masih berstatus sekolah dengan terpaksa dibawa ke tempat yang seharusnya dia pertanggung-jawabkan. Amira hanya menangis melihat itu semua.
Tragis ... sungguh tragis.
Karena Valentine masih dibawah umur, dia mendapatkan rehabilitasi selama 3 bulan. Saat Valentine ditempat itu, dia hanya terdiam dan pikirannya kosong. Amira sesekali menjenguk dirinya. Amira telah mengabari Papa Valentine.
Sontak Papa Valentine hanya bisa pasrah dan tak bisa berkata apa-apa.
1 tahun berlalu, pendidikan Valentine pun selesai dengan adanya ujian susulan dan memang kelakuannya tidak baik. Itu yang membuatnya susah melangkahkan kakinya untuk masa depannya.
Terlintas dipikirannya bahwa dia akan melakukan percobaan bunuh diri terhadap dirinya. Mental dan psikis nya terguncang.
"Ibu .. kenapa ibu pergi secepat itu ? Kau tau, aku menyayangimu dan aku tidak ingin kau meninggalkanku..." gumam Valentine sendirian.
Amira yang mendengar itupun langsung memeluk temannya itu.
"Mir ... aku ingin kau berada dirumah ini, Mir .. aku serahkan semuanya padamu .." ucap Valentine.
"Valentine, Papamu masih ada .. kenapa harus aku ?"
"Papa ? Papa sudah tidak ada. Dia tidak memperdulikan aku.." jelas Valentine.
Perut Amira berbunyi, memecahkan keheningan.
"Valen, aku pergi sebentar ya, aku mau beli makanan untuk kita berdua. Apa kamu keberatan untuk menunggu disini ?" tanya Amira yang merasa perutnya sudah lapar dari tadi.
"Tidak. Kau pergi saja beli makanan. Kau tau kan makanan kesukaanku ?" tanya Valentine.
"Baiklah. Tunggu ya.. jangan berbuat yang aneh-aneh.." pesan Amira.
Valentine hanya tersenyum dan tak mengiyakan apa yang dikatakan Amira padanya. Amira lantas pergi meninggalkan Valentine seorang diri di kamaenya dan didalam rumah sebesar itu.
Amira tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir dia melihat, memeluk temannya itu.
Surat dari Valentine
Selamat hari Valentine, Amira
Sahabatku yang tidak pernah ku lupakan
Maafkan aku....
Cinta hangat dari
Valentine
Selepasnya Amira kembali, betapa terkejutnya dengan sebuah pemandangan yang telah terulang seperti 1 tahun yang lalu ....