Valentine sebentar lagi, tapi bagiku yang tak pernah memiliki pasangan ini apalah artinya. Semua orang sepertinya sedang sibuk mempersiapkan hari itu dengan semangat.
Mereka menyebutnya dengan hari kasih sayang, bagiku, biasa saja. Mungkin iya. Tapi untuk mereka yang punya pacar, sedangkan untukku yang jomblo? Sama saja dengan tanggal 14 pada biadanya di bulan lain. Meski bulan ini jatuh di hari minggu pun, bagiku sangat biasa. Yang membedakan hanyalah lebih banyak orang yang akan memamerkan kemesraan mereka disetiap tempat yang ada. Sepertinya hari itu menjadi hari bebas bermesraan sedua.
"Cih! Apa bagusnya sih?"
Begitulah pikirku sebelum akhirnya aku bertemu dengan dia, pria tampan yang senyumannya sangat manis dan menggoda.
Sebelumnya aku tidak pernah tau ada anak setampan dia di kampusku. Setelah ku selidiki ternyata dia satu angkatan denganku dan dia sangat populer. Bodohnya aku yang tidak pernah memperhatikan itu.
Tapi satu hal yang membuatku kembali mengabaikan ketampanannya. Kudengar dia memiliki banyak mantan, dan parahnya, mantan-mantannya itu pasti keluar atau pindah ke kampus lain hanya gara-gara putus dengannya. Menyeramkan!
Keajaiban atau kesialan aku tidak tahu pasti, tapi dia mulai memperhatikanku, bahkan mengikutiku. Seperti stalker saja. Aku kan bukan artis ataupun idol. Kemanapun aku pergi, selalu saja ada dia, dan setiap kali kita bertemu mata dia pasti tersenyum sambil menundukkan kepalanya atau melambaikan tangannya padaku.
"Aneh, ini aneh! Jelas-jelas ini aneh!" Gerutuku sambil menatap cermin di toilet.
Aku menatap bayangan diriku didalam cermin, memperhatikan tiap inci tubuhku yang tergambar disana. Rambutku tidak halus, seperti kulit wajahku yang kasar karena beberapa jerawat dan komedo. mataku memang sedikit belo dan bulu mata yang lentik, tapi hidungku pesek dan pipiku sedikit cabi. Postur tubuhku pun tidak terlalu bagus. Tinggi badanku hanya 155cm dengan berat badan 50kg, tidak proporsional sekali.
Aku keluar dari toilet sambil terus berfikir, sampai tak sadar kalau anak itu sedang memperhatikanku dari kejauhan. Dan tanpa sadar pula kakiku melangkah mendekatinya yang sedang berdiri bersandar pada tiang koridor bersama temannya.
"Hati-hati!" Serunya.
Aku langsung tersadar saat mendengar suara lembutnya sambil menepuk bahuku.
"Astaga!" Pekikku.
Aku malu sekali, hampir saja aku jatuh dari sana dan dihadapannya pula. Tanpa mengucapkan 'maaf' ataupun 'terima kasih', aku langsung kabur begitu saja sambil berusaha menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
Hari yang sama sekali tak kunantikan itupun terjadi. Aku tak pernah berharap ada yang memberikanku dihari itu, karena memang tidak akan ada yang mau memberikannya.
Seperti hari minggu lainnya, aku hanya melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya. Membersihkan setiap sudut ruangan yang ada. Ada rasa puas tersendiri saat aku melihat semuanya bersih tanpa debu.
Tepat pukul 14.00wib, seorang kurir datang kerumah sambil memegang satu buket bunga mawar ditangannya.
"Atas nama siapa?" Tanyaku.
Memang biasanya selalu saja ada kurir yang menyasar atau sekedar menanyakan alamat kerumahku.
"Atas nama Febianti." Jawab kurir itu.
Oh, itu namaku. Aku oun menerima buket bunga itu dengan pertanyaan besar di kepalaku. "Dari siapa?"
Tidak ada nama pengirim, hanya ada nama dan alamatku. "Aneh, ini benar-benar aneh!"a Gumamku. Tunggu, kenapa rasanya dejavu ya?
Ada 14 tangkai mawar merah yang diikat rapi mengelilingi 8 tangkai mawar putih didalamnya. Setelah dipikir-pikir, itu tanggal ulang tahunku, 14 Agustus. Aku masih belum tau siapa pengirimnya dan sebankin bingung untuk apa dia mengirimiku buket bunga seperti ini.
Valentine! Aku rasa bukan karena itu kan?
Ku letakkan begitu saja diatas meja belajarku dan aku melanjutkan aktifitasku. Malam itu sekitar pukul sepuluh malam, aku mulai merasa ngantuk, dan aku tidak bisa tertidur karena seisi kamarku serasa dipenuhi bau mawar yang menyengat. Padahal hanya ada 22 tangkai saja, tapi rasanya seperti kamar ini dipenuhi dengan bunga mawar.
Tidak, jelas-jelas ini wangi mawar yang bercampur bau amis yang pekat!
Aku bergegas membuka mataku dan melirik buket mawar diatas mejaku.
Ini mimpi! Pasti ini mimpi! Aku melihat dari kelopak mawar merah itu mengekuarkan cairan merah yang kental dan segar menutupi setiap kelopak mawar putih yang ada.
"Hah hah hah!"
Aku langsung terbangun, untunglah, benar-benar hanya mimpi. Aku langsung meraih buket mawar itu dan membawanya keluar rumah lalu melemparkannya kedalam tempat sampah. Dan aku kembali kekamarku.
Saat itu aku tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerikku dari balik tiang listrik diseberang rumahku. Senyumnya melebar saat melihat aku kembali masuk kedalam rumahku.
Keesokan paginya aku bangun seperti biasa dan berangkat ke kampus. Tak sengaja aku melihat kearah tempat samoah didepan rumahku, anehnya buket mawar itu sudah tidak ada lagi.
"Apa sudah diambil tukan sampah ya?" Pikirku saat itu.
Aku tidak mau ambil pusing masalah itu, tapi kemudian...
"Hai Febi!" Sapa seseorang bersuara pria diarah belakangku.
Aku langsung menoleh, dan itu adalah pria itu lagi. Aneh, dia menyapaku kali ini.
"Mau masuk? Bareng yuk." Ajaknya.
"I-iya." Jawabku.
Kami pun berjalalan beriringan sampai didepan kelasku. "Kenapa dia mengikutiku sampai depan kelas?" Pikirku heran.
"Kalau begitu aku pergi ya, sampai ketemu lagi nanti." Ujarnya.
Dia pun pergi setelah meninggalkan senyum manisnya untukku. Astaga, jantungku hampir copot! Aku berjalan santai seperti bisa ke meja paling ujung, meja yang hanya diduduki olehku.
Semua orang sedang sibuk membicarakan hari valentine mereka, dan aku menyibukkan diriku dengan membaca buku.
Aku baru ingat hari sabtu kemarin aku meletakkan snack di laci mejaku, aku pun merogohnya.
"Aww!" Pekikku seketika.
Jariku berdarah, sepertinya karena mengenai benda tajam yang ada didalam. Ku intip isi laciku, ternyata ada beberapa tangkai mawar merah disana.
"Hah? Apa ini?" Pikirku terkejut.
Segera kukeluarkan bunga-bunga itu dari sana.
"Teman-teman, siapa yang meletakkan mawar dilaci mejaku?!" Tanyaku dengan lantang sambil mengangkat 5 tangkai mawar itu tinggi-tinggi. Dan semuanya menggeleng. Ini aneh bukan?
Saat aku ke toilet, entah bagaimana ada 5 tangkai lagi diatas wastafel. Bulu kudukku merinding saat melihat itu.
Jam istirahat aku ke kantin seperti biasa, tai anehnya saat pesananku datang bersamaan dengan 2 tangkai mawar, dan langsung ku buang begitu saja. Ini benar-benar menerorku! Dan yang aneh lagi, pria itu menemui ku lagi di kantin. Dengan alasan semua meja kosong, dia meminta duduk dimeja yang sama denganku.
"Apa maksud orang ini sebenarnya? Apa dia sedang berusaha mendekatiku? Tidak mungkin kan?" Batinku.
Hari ini kelas selesai lumayan lama. Tak terasa hari sudah gelap, bukannya takut hantu, tapi sebagai perempuan tentu ada rasa was-was kalau aku pulang sendirian. Apalagi aku juga harus melewati gang yang lumayan sepi.
"Baru selesai kelas?"
Lagi-lagi pria ini. Mau apa lagi dia kali ini?
"Iya." Jawabku seadanya.
"Rumah kamu dimana?" Tanyanya.
"Gang Kemuning." Jawabku.
"Lho, aku juga mau kesana kerumah kerabatku. Sudah janji mau main dari kemarin tapi nggak jadi terus. Bareng yuk." Ajaknya.
Ha? Yang benar saja?! Tapi, mau tak mau tak apalah, daripada aku pulang sendirian.
Perasaanku sangat tidak enak, apalagi saat melewati gang sepi yang ku takutkan itu. Hanya ada satu lampu jalan yang remang-remang, terkadang suka ada abanh-abang yang nongkrong disana, dan itu membuatku lebih takut daripada hantu.
Tiba-tiba dari balik tiang listrik muncul orang dengan pakaian serba hitam. Angin semilir menyebarkan wangi mawar dari tubuh orang misterius itu.
"Apa ini? Jangan-jangan komplotannya!" Batinku ketakutan.
Belum hilang rasa kagetku, karena orang itu, pria yang sedari bersamaku langsung menarikku dengan kuat kebelakangnya.
"Jangan sakiti dia!" Teriaknya.
Pria berjubah hitam itu tak mau memperdulikan kata-katanya, dia terus berusaha menyerangku dengan sebilah pisau yang digengamnya.
"Kubilang sudah hentikan!" Teriaknya lagi dengan lebih lantang kali ini. "Sudah berapa banyak korban yang meninggal karena ulahmu? Aku sudah lelah! Kali ini aku tidak akan membiarkannya kali ini!" Teriaknya lagi.
"Hah? Benar kan, mereka saling kenal." Batinku.
Aku tidak tau harus berbuat apa, aku ingin kabur, tapi pria itu memegang tanganku cukup erat.
"...menghalangiku." Guamam pria berjubah itu.
"Apa? Jangan menghalanginya? Tidak, aku tidak mau mati!" Teriakku dalam hati.
"Jangan menghalangiku!" Teriaknya tiba-tiba sambil mengayunkan pisaunya.
Kami berusaha menghindar, tapi masih mengenai tangan pria yang bersamaku.
w
"Jangan menghalangiku bertemu cintkau!" Teriak orang itu lagi sambil memukul wajah pria yang bersamaku.
Dia pun jatuh tersungkur. Dan kini tinggal aku dan orang aneh ini yang saling berhadapan.
"Kenapa membuangnya?" Gumamnya.
"Hah? Apa? Buang apa?" Pikirku.
"Kenapa kau membuang mawarku? Itu adalah tanda cinta kita, kenapa?" Teriaknya sambil mengayunkan pisaunya.
Orang gila, dia pasti gila. Aku langsung lari dan hanya berfikir menyelamatkan nyawaku tanpa menoleh lagi, aku harus cepat-cepat kabur.
-Jleb!-
Sebilah pisau taham menujuk punggungku. Tubuhku langsung oleng dan aku terjatuh.
"Sa~kit.." Rintihku.
"Aku juga sakit, sayang, sakit sekali." Jawab orang itu dengan suara bergetar.
"O-orang gila!" Umpatku.
"Apa?! Aku begitu mencintaimu dan memperhatikanmu, kau malah mengataiku gila? Aku kirim mawar merah yang indah untukmu, tapi kau malah membuangnya! Ku kembalikan lagi dengan jumlah yang lebih sedikit karena ku pikir kau tak suka jumlahnya yang sama dengan hari ulang tahunmu, tapi lagi-lagi kau membuangnya!"
-Jleb!-
Lagi-lagi dia menusukku dengan pisau itu.
"Aaaakkkhhh!" Teriakku dengan segala kekuatanku yang masih tersisa.
-Prak!-
"Mati kau!" Teriak seseorang yang sepertinya adalah suara pria yang bersamaku itu.
Aku mendengar suara benda pecah bersamaan dengan teriakan pria itu. aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu. Pandanganku terlalu kabur untuk melihatnya dengan jelas.
Aku merasakannya, saat pisau yang menancap di punggungku ditarik dengan perlahan. Sayup-sayup aku mendengar suara perkelahian. Ah, punggungku semakin basah dan lengket. Itu pasti darahku. Kepalaku pusing, rasanya semuanya berputar.
Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat lalu berhenti tepat disisiku. Samar-samar aku melihat dia duduk disisiku sambil menggenggam buket mawar putih.
"Kau tau? Aku membenci warna putih, tapi aku juga menyukainya. Maka dari itu aku membawakan mawar putih khusus untukmu. Kau juga pasti suka, kan?" Ujarnya sambil memilin-milin tiap kelopak mawar putih itu dengan tangannya yang penuh darah.
"Hahahaha. Hahahahahaaa!" Gelaknya sambil berlari berjingkat seperti bocah kecil.
Wangi mawar mulai menyeruak masuk kehidungku. Seikat mawar putih yang kini telah menjadi merah karena darahku. Amis darah yang bercampur wangi mawar menusuk tajam, sama persis seperti bau pekat yang ada dikamarku kemarin.
Ah, hidupku yang indah, belum cukup indah untuk ku nikmati. Banyak tempat yang ingin ku datangi,aku juga ingin punya pacar seperti yang lainnya, lalu menikah dan punya anak. Apakah harus berakhir sampai disini?