14 Februari
Teruntuk Kekasihku...
Mungkin ini adalah surat terakhir yang bisa ku tulis untukmu.
Dan mungkin saat 'kau membacanya, aku sudah tak lagi ada disana.
Apakah menurutmu aku bodoh?
Ya ku akui aku memang bodoh.
Seandainya aku bisa bersabar sebentar lagi,
aku yakin kita pasti bisa bersama kembali.
Tapi kenyataan pahit yang harus ku hadapi setiap hari membuatku benar-benar tak sanggup lagi.
Kekasihku..
Ku harap kau memaafkan kebodohanku ini.
Aku benar-benar mencintaimu,
Aku benar-benar merindukanmu, tapi aku sungguh tak lagi mampu.
Penyesalan ini biarlah ku tanggung sendiri di ruang sepi yang kosong ini.
Aku yakin, saat membaca surat terakhirku ini, kau sudah menemukan kebahagiaan meski aku tak lagi bisa menggenggam tanganmu.
Ku mohon, maafkanlah aku.
•••••
Itu adalah isi dari surat terakhir yang ia tulis untukku. Aku mengingatnya dengan jelas kata perkata yang ia tulis diatas kertas bergaris itu. Surat yang membuatku semakin menyesali kebodohanku. Bagaimana bisa ia mengucapkan kata maaf kepadaku? Jelas-jelas semua ini adalah kesalahanku. Aku yang meninggalkan dia. Aku yang membiarkan dia mengalami semua penderitaannya selama ini.
Aku, aku yang memaksanya untuk tetap tinggal. Aku, aku yang memaksanya untuk tetap menungguku, hanya dengan alasan demi dia, demi kebaikannya, tapi justru akulah yang membuatnya menderita. Akulah yang membuatnya harus mengakhiri hidupnya dengan mengikat lehernya pada tali yang dia ikat di pintu kamarnya sendiri.
Akulah yang membunuhmu, tepat dihari itu, saat semua orang tengah sibuk merayakan hari kasih sayang, saat semua orang sibuk menunjukkan kasih sayang mereka kepada orang-orang yang mereka sayangi. Aku justru bersimbah air mata saat mendengar kabar duka kematianmu.
Bodohnya aku yang masih terlalu egois dan memikirkan gengsiku sendiri, padahal hari itu adalah keemoatan terakhirku bisa melihat wajahmu, tapi aku justru berpura-pura tak peduli, padahal aku tau, aku sangat merindukanmu.
Selama ini aku selalu menanyakan kabarmu melalui surat-suratku. Tapi tak satu pun yang kau balas. Saat itu ku fikir kau sudah melupakanku, kau sudah meninggalanku, kau tak menginginkanku, kau t'lah berpaling dariku. Tapi kenyataannya, akulah yang telah melakukan itu semua.
Hari ini, tepat 25 tahun berlalu, hari yang sama dengan hari kematianmu. Dan hari ini pula aku baru mengetahui kenyataannya bahwa kau selalu mencintaiku dan menungguku dengan sabar, meski hinaan, cacian, dan perlakuan kasar dari kedua orang tuamu terus kau terima. Kau menerima semua itu demi aku. Kau melawan kedua orang tuamu demi aku.
Ternyata, ada begitu banyak surat-suratmu yang tak pernah bisa kau kirimkan padaku. Begitu banyak cinta dan kerinduan yang kau curahkan didalam surat-suratmu, sebanyak itu pulalah penyesalanku saat ini.
Kau bodoh? Bukan! Akulah yang bodoh karena selama ini telah menutup hatiku untuk menyadari semua itu. Aku mohon, maafkan aku. Kini kau telah terbebas, kau telah damai disana. Biarkanlah aku bahagia disini sekarang sambil menyimpan penyesalan dan rasa bersalah ini sampai nanti kita bertemu lagi.
Lima tahun setelah kematianmu, aku bertemu dengan seorang gadis manis yang mirip denganmu. Matanya, senyum di bibirnya, bahkan kelembutan hatinya sangat mencerminkan dirimu. Ku nikahi gadis itu sambil berharap aku bisa menebus rasa bersalahku padamu.
Tapi, setelah 20 tahun pernikahan kami pun, aku tetap tak bisa melupakanmu. Aku selalu melihat wajahmu yang sedang menangis di sudut ruangan sambil menguluran tangannya memohon pertolonganku.
Disetiap aku melewati pintu berventilasi, aku selalu melihat tubuh kurusmu tergantung lunglai dengan tli yang terikat di lehermu.
Kumohon, maafkan aku.
Aku salah, aku bersalah! Aku tau aku bersalah atas kemalanganmu. Tapi bukankah kau mengharapkan kebahagiaanku meski tak bersamamu? Lalu mengapa kau selalu menghantuiku? Mengapa kau selalu datang di mimpiku?! Apa kau tau, aku tak pernah bisa tidur dengan nyenyak semenjak kematianmu.
Rasanya aku bisa melihat wajah menangismu setiap aku menutup mataku. Rasanya aku bisa merasakan kau memeluk punggungku dari belakang saat aku mulai tertidur.
Aku lelah! Aku lelah dengan semua ini! Ku harap aku bisa menyusulmu agar kau puas! Agar kau tak perlu lagi menggangguku. Apa kau benar-benar bahagia jika aku mati dan menyusulmu?
Aku mohon, maafkanlah aku!
•••••
Itu lah isi dari tulisan terakhir yang ditulis suamiku didalam buku jurnalnya tepat pada tanggal 14 Februari, tanggal yang sama dengan hari ia mengakhiri nyawanya sendiri.
Cerita tentang mantan kekasihnya masih banyak lagi di lembar-lembar yang lainnya. Tapi bagiku, itu adalah tulisan terakhir yang benar-benar membuatku menyesali perbuatanku.
Aku memang tidak mengenal wanita itu, tapi aku tau, dia pastilah wanita yang hebat yang sangat pantas untuk dicintai. Namun aku justru merbutnya begitu saja.
Aku memang bertemu dengan suamiku jauh setelah kematian wanita itu, tapi tetap saja, aku merasa bersalah setiap kali aku membaca tulisan-tulisannya.
Aku selalu bersikap seolah aku tak tau tentang wanita itu, tapi sebenarnya aku tau. Dan malah, aku selalu berusaha melarang dia untuk pulang kekampung halamannya. Karena aku tau, jika dia kesana, dia pasti akan pergi ke makam wanita itu. Dan aku tetap merasa cemburu pada gundukan tanah yang pasti hanya berisi cacing sekarang.
Setiap membaca tulisan terakhir suamiku ini, aku selalu merasa hidupku telah berakhir. Hatiku tak lagi terisi, dan sesungguhnya tak pernah terisi. Hanya saja aku selalu berpura-pura bahwa ia (hati) dipenuhi oleh cintanya.
Aku harap mereka memafkanku
•••••
Itu adalah isi dari wawancaraku dengan seorang wanita pada tanggal 16 Februaru, dua hari setelah beliau ditinggal mati suaminya yang mengakhiri hidupnya dengan terjun kedalam jurang dari atas jembatan dengan ketinggian hampir mencapai 50m.
Setelah mempublikasikan kisah ini kedalam surat kabar harian tempat aku mengais rezeki, entah mengapa aku merasa aku memiliki sebuah rasa penyesalan karena telah mengekspos suatu kisah yang mungkin tak seharusnya ku bawa kepermukaan.
Aku telah hidup selama 25 tahun, dan aku masih belum memiliki pasangan. Aku bukanlah tipe orang yang mudah bergaul terlebih dengan lawan jenisku, aku juga bukan penulis yang terkenal, hanya saja sekali waktu berita yang kutulis menjadi headline atau topik oanas selama beberapa pekan.
Dan kisah mereka adalah salah satu kisah yang akhirnya membawaku menjadi terkenal. Aku ditarik kesebuah perusahaan percetakan besar didalam negeri. Siapa yang tidak mau?
5 tahun setelah "kesuksesanku", sekarang aku sudah memiliki rumahku sendiri. Mobil pribadi dan bersyukurnya bisa mengantarkan kedua orang tuaku ke tanah suci mekkah, meskipun hanya melaksanakan umrah, tapi itu sudah menjadi suatu pencapaian besar dalam hidupku.
Hidup berkecukupan ternyata tak selalu menyenangkan, apalagi tak ada orang yang bisa ajak untuk berbagi susah dan senang. Ya, aku masih belum menikah, bukan tak mau, tapi tak bisa. Bagaimana munhkin aku bisa menikah lalu bahagia saat setiap malam aku melihat wajah-wajah "mereka" yang menangis lalu marah meminta pertanggung jawabanku.
Mereka menuntut kebahagiaan mereka. Mereka menjadikanku tempat berdebat diantara mereka. Mereka marah karena tak bisa bersatu.
Aku sungguh lelah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang bisa kulakukan untuk menyatukan mereka? Mereka tak memberitahukan jawabannya, mereka hanya marah dan mengamuk lalu menudingku sambil menatapku dengan tatapan yang menyeramkan.
Ku mohon, maafkanlah aku.
•••••
Itu adalah tulisan pada halaman terakhir sebuah buku terakhir yang ditulis oleh seorang penulis terkenal. Buku berjudul Surat Terakhir ini diterbitkan pada tanggal 14 Februari, ditanggal yang sama dengan ditemukannya tubuh sang penulis yang tergeletak tak bernyawa dikolong ranjangnya didalam kamar sebuah gedung rehabilitasi.
Dikabarkan penulis ini mengalami gangguan jiwa setelah ia mulai kecanduan narkoba. Di ruang konsuktasi ia selalu mengaku bahwa ada tiga orang yang selalu mendatanginya dan terus-terusan menyalahkan atas rasa sakit akibat malu yang mereka derita akibat perbuatannya.
Faktanya, buku ini telah ia selesaikan dua bulan sebelum akhirnya ia ditangkap oleh badan pemberantasan narkoba. Saat menyerahkan hasil tulisannya, ia memohon-mohon agar buku ini diterbitkan pada tanggal 14 Februari. Alasannya agar sesuai dengan isi dari buku tersebut.
Dan hari ini, tepat tanggal 14 February, adalah tanggak saat aku membaca tulisan tersebut untuk kedua kalinya setelah aku kembali dari sebuah desa untuk memenuhi permintaan mereka untuk mempertemukan mereka pada satu ruang agar mereka bisa mengobrol dengan santai guna menyelesaikan masalah yang selama ini mengikat mereka.
Bersama tulang-tulang mereka, aku mengikut sertakan surat, jurnal, majalah, dan buku berjudul "Surat Terakhir" itu. Dan juga satu surat baru yang kutulis sebagai permintaan maaf sekaligus sebuah permohonan agar mereka mau membebaskanku dari kutukan rasa penyesalan ini.
•••••
Cerita ini adalah cerita yang kutulis setelah mendengar sebuah cerita lama. Cerita itu menceritakan tentang penyesalan seorang pria yang ditinggal mati calon istrinya dengan cara meminum racun tikus dihari sebelum mereka seharusnya melangsungkan pernikahan.
Aku berfikir, sesungguhnya penyakit besar yang menggerogoti hidup kita adalah "penyesalan". Sebuah perasaan dimana kita terus berhenti dimasa lalu sambil terus mengutuki hidup kita sendiri yang sedang berjalan dimasa kini.
Sadarkah kalian bahwa sebenarnya kita sedang berhenti berkembang saat kita merasa menyesal akan seauatu? Jika iya, jangan jadikan penyesalan itu untuk mengutuki hidup kalian yangbyerasa sial, sebenarnya itu bukanlah kesialan, hanya sebuah sugesti yang terus meracuni kita dengan sebuah kata "seandainya".
Jangan terus bergantung pada kata (seandainya) tersebut. Jika kalian sudah merasa menyesal, maka segera perbaiki diri kalian agar dikemudian hari tak akan lagi ada kata penyesalan, yang ada hanyalah kemajuan.