Angin kencang disertai hujan deras di pagi hari membuat sebagian orang merasa malas untuk bangkit dari tempat ternyamannya. Namun tidak bagi pemuda berumur 25 tahun, Ia memakai mantel hujan yang kebesaran di tubuhnya.
"Hati-hati Mas Arga," ucap wanita paruh baya yang keluar dari arah dapur.
"Iya mak," jawabnya dengan sopan.
Setelah berpamitan dengan wanita paruh baya yang disebutnya 'mak', pemuda yang diketahui namanya adalah Arga itu melenggang pergi menggunakan motor gedenya.
Arga hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke tempat tujuannya.
"Pagi Pak Arga." Sapaan sopan dari anak perempuan yang memakai seragam putih abu-abu.
"Iya," jawabannya dengan tersenyum kikuk. Ia adalah seorang guru, guru paling muda di sekolahnya.
Arga melepaskan mantel hujan yang kebesaran, Ia meletakkan mantel itu di atas motor kesayangannya.
Langkahan kaki yang panjang membuat dirinya sudah berada di dalam kantor.
Bel masuk sudah berdering, Arga bangkit dari duduknya dengan membawa tiga buah buku yang lumayan tebal. Ia keluar dari kantor menuju kelas yang paling dekat dengan kantor, Arga masuk dengan membenarkan kacamatanya.
Setelah menyelesaikan rutinitas pagi seperti biasanya, Arga membuka buku jurnal kehadiran, Ia mulai memanggil satu-persatu muridnya.
"Abigail Safana!"
"Hadir pak!"
"Bima Lesmana!"
"Ada Pak!"
"Praveena Niranjhana!"
"Saya Pak!" Arga mendongakkan kepalanya untuk melihat anak perempuan yang tadi menyapanya di parkiran.
"Buka bukunya kita mempelajari bab baru yaitu Perang Dunia II!" Arga memerintah muridnya, sebenarnya Ia agak canggung dengan kkelas 12 yang sekarang sedang diajarnya.
-----
Langit cerah membuat Arga pulang dengan santainya di jalanan. Sesampainya di depan halaman rumah, Ia memarkirkan motornya.
'Duk'
"Hmm ... apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kok sama kaya yang semalam," ucapnya setelah berjongkok mengambil kotakan karton yang diberi pita berwarna merah muda.
Dibukanya kotakan karton, terlihat tiga coklat berukuran sedang dan tiga coklat berukuran kecil serta sepucuk surat yang bertuliskan 'I love you'.
"Siapa yang ngirim yah?" Arga membuka pintu dengan memikirkan siapa orang yang sudah mengirimkan kotak coklat.
"Lumayan lah daripada beli," ucapnya memasuki dapur, meletakkan coklatnya ke dalam kulkas. Terlihat ada 10 coklat di dalam kulkas tersebut.
Arga meraih ponsel berwarna merah, Ia mencari musik dan menekan gambar segitiga pada layar yang menampilkan ruang musik.
Arga pergi untuk bersih-bersih, setelah itu Ia kembali ke meja makan untuk mengisi perutnya dengan masakan yang sudah dibuatkan oleh pembantu di rumah. Arga sendirian di rumahnya, karena pembantu yang dipanggilnya 'mak' itu sudah pulang setelah membersihkan rumah.
"Wah kesukaan aku ini." Arga mengunyah nasi dan perkedel kesukaannya.
Musik yang sedang mengalun tiba-tiba berhenti, Arga melihat ke layar ternyata ada panggilan.
"Mas?" Suara dari sebrang terdengar tidak bersemangat.
"Hmm iya kenapa?" jawabnya juga dengan lesu.
"Kangen."
"Hmm tadi kan udah ketemu."
"Ihh apasih kamu itu guru kalo di sekolah, nggak pengertian banget deh." Suara marahnya malah terdengar gemas menurut Arga.
"Iya sayang besok ke rumah, aku dapet coklat lagi nih."
"Lagi! Sebenarnya dari siapa sih?"
"Nggak tau juga."
"Udahan dulu, mau nyuci piring."
-----
Cuaca pagi yang cerah membuat Arga bersemangat untuk mengeluarkan motornya dari ruang tamu.
"Coklat lagi?" Sudah ketiga kali untuk Arga menemukan kotak berwarna coklat di depan rumahnya. Namun yang membedakan kali ini kotakan itu sedikit lebih besar daripada kotakan sebelumnya.
"Bunga mawar masih fresh banget, pasti baru dibeli." Arga melihat kearah kanan dan kiri jalanan, Ia bahkan tidak menemukan satu orangpun berjalan.
"I love you Arganuary Daniswara. Aku pengagummu dari lama, Aku harap Kamu mengenali Aku secepatnya." Arga membaca sepucuk surat yang ada dalam kotakan coklat.
"Dari Freissy Valentina," ucapnya yang melanjutkan membaca surat bergambar hati.
"Freissy Valentina siapa ya, Aku lupa apa aku nggak kenal ya?" Melihat jam yang sudah siang, Arga meletakkan kotakan coklat di meja ruang tamu dengan asal.
"Hati-hati Mas Arga, nanti emak pulang awal ya mas, anak emak lagi sakit." Arga menganggukan kepalanya dan mengacungkan ibu jarinya.
-----
"Aku tadi dapet coklat lagi loh veen, nanti baca sendiri deh," ucap Arga pada kekasihnya.
"Langsung pulang ke rumah apa mau mampir kemana lagi?!" tanya Praveena keras agar terdengar oleh Arga.
"Langsung aja!" jawab Arga yang sedang mengendarai motornya.
Sampailah mereka di depan rumah Arga, Praveena turun dengan melepaskan helm yang ada di kepalanya dengan hati-hati.
"Susah ya?" tanya Arga dengan tersenyum manis.
"Iya gimana sih Pak?" Praveena tidak bisa melepaskan pengait helmnya.
"Sayang dong!"
"Iya iya sayangnya Aku, boleh dibantu nggak?"
"Ini helmnya emang susah sih," ucap Arga membuka pengait helm yang ada di kepala muridnya yang juga kekasihnya.
"Kamu cakep banget si kalo dilihat dari deket." Tangannya memegang pipi tirus nan kokoh Arga.
"Emang kalo dari jauh nggak gitu?"
"Nggak, apalagi kalo di sekolah sok nggak kenal gitu."
Arga tertawa mendengar dumelan Praveena, setelah membuka helm warna biru dari kepala gadis SMA itu, Ia mencium kening gadisnya dengan sayang.
"Sayang banget ya sama Aku," ucap Praveena dengan tersenyum.
"Hmm banget."
-----
"Freissy Valentina? Kamu nggak kenal?" tanya Praveena setelah membaca surat bergambar hati dengan memakan coklat kesukaan Arga.
"Nggak ada tuh."
"Permisi Mas Arga!" Tiba-tiba Emak masuk dari pintu depan yang langsung melihat Arga dan Praveena di ruang tamu.
"Eh ada siapa ini?" tanya Emak saat melihat Praveena.
"Eh mak, saya Praveena mak," ucap Praveena dengan sopan.
"Ada apa mak?"
"Dompet emak ketinggalan mas."
Jam sudah menunjukkan pukul 17:00 saatnya untuk Arga mengantarkan pulang Praveena.
'Duk'
"Mas!" Praveena keluar dengan tidak sengaja menendang kotakan coklat.
Dua kotakan coklat berceceran di lantai depan, membuat mereka berdua bingung saling bertatapan.
"Mas ada darahnya!" Praveena membuang kotakan coklat setelah dipungutnya barusan. Ada sapu tangan berwarna putih yang dilumuri cairan merah kental.
"Sebenarnya dari siapa sih!" Arga menyisir rambutnya dengan tangan. Ia memunguti coklat yang kembali tersebar ke lantai, memasukkan ke dalam kotakan dengan asal.
"Veen ambilin kantong plastik di dapur!"
Praveena langsung beranjak dari tempatnya berdiri, mengambil kantong plastik di dapur. Tidak selang lama Ia keluar dengan membawa bungkusan kantong plastik.
"Kamu nggak papa?" tanya Arga pada kekasihnya yang phobia dengan darah.
"Nggak papa kok cuma agak mual."
Kedua kotakan coklat itu di bungkus dengan kantong plastik dan dibuang ke dalam tempat sampah di depan rumah.
-----
Malam hari tanggal 13 Februari, murid-murid Arga berkumpul di rumahnya untuk mengerjakan tugas. Praveena yang sudah ada di rumah Arga dari sore mendapati kotakan yang isinya bukan coklat lagi, namun satu pasang pakaian dengan noda darah yang sudah mengering.
Praveena terdiam memikirkan siapa sebenarnya yang mengirimkan barang-barang tidak berguna.
"Veen ... Veen ... Sayang!!" Arga keceplosan di depan teman-teman Praveena.
"Hah mas!"
"Pak Arga sayang Venna? Pacar?" tanya murid yang terlihat modis.
"Kenapa sih Veen?" Arga tidak menanggapi pertanyaan dari Sindi muridnya, Ia lebih khawatir dengan kekasihnya.
"Mas kok perasaan Aku nggak enak ya?"
"Kenapa Na?" tanya Abigail teman Praveena yang juga ikut bingung dengan hubungan gurunya dan temannya.
"Pak Arga?" tanya Sindi lagi bingung, pasalnya saat di kelas Ia sangat dingin dengan siapapun.
Tiba-tiba lampu rumah Arga padam, membuat mereka menjerit kaget.
"Veen...." Arga mencari Praveena dengan bantuan senter di ponselnya. Ia memeluk erat Praveena yang dibalas juga dengan pelukan erat dari Praveena.
"Kalian gimana? okey?" tanya Arga pada murid-muridnya.
Abigail membuka gorden rumah Arga, Ia melihat cahaya lampu dari rumah paling ujung. Rumah yang ada penghuninya hanya rumah paling ujung.
"Pak lampunya nggak mati pak."
"Biar Aku cek ya pak." Bima si anak pemberani keluar dari rumah Arga.
"Pak pasti ada orang jail pak, kabelnya di potong pak."
"Apa ini ada hubungannya dengan kotak coklat yah?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
"Iya mas bisa jadi si."
"Kotak coklat apa pak?" tanya Abigail penasaran.
Arga dan Praveena menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah selesai bercerita tiba-tiba ada suara pecahan kaca.
'Crang duk crang duk'
Pecahan kaca jendela itu disebabkan oleh batu besar yang juga hampir mengenai Bima dan Praveena.
Semua keluar dari dalam rumah untuk melihat siapa pelakunya, namun mereka tidak menemukan siapapun. Sindi menemukan tiga kotakan yang berisi setumpuk bunga mawar dan darah ayam.
"Aaaaa!" jeritan Sindi memekakkan telinga mereka yang juga kaget melihat isian kotak itu.
"Mas mending kamu pindah rumah deg, tetangga juga jauh."
Rumah Arga berada di ujung gang, sampingnya adalah rumah kosong dan depannya juga kosong sudah satu tahun yang lalu, sedangkan rumah paling ujung adalah rumah pembantu Arga.
Terdengar suara ketawa dari dalam rumah tepatnya di bagian dapur. Mereka masuk untuk mencari sumber suara, dengan saling bergandengan tangan satu sama lain namun tidak dengan Arga. Ia memilih menggandeng tangan Praveena dengan sendiri.
Diusapnya pelan tangan gadisnya membuat jantung Praveena berdetak kencang.
"Hahahaha ... Arga!" Suara yang samar-samar dikenali oleh Arga membuat mereka semua merinding.
"Argaa...."
"Sebenarnya siapa kamu? Mau apa kamu?"
"Hahahaha ... Anakku mati karenamu!"
"Hah?!" Hampir berbarengan mereka kaget, Arga mengeratkan genggaman pada tangan Praveena.
"Freissy Valentina besok adalah hari ulang tahunnya tapi dia mati tadi pagi," ucapnya dengan menangis, Bima menyoroti lampu senter pada wajah perempuan yang sedang menangis.
"Emak?!"
"Emak?!" Arga kaget melihat siapa orang yang ada di depannya.
"Iya Aku! Anakku mencintai Kamu, tapi Kamu malah berdua-duaan dengan perempuan itu." Emak menunjukkan jarinya pada Praveena.
"Dia selalu menulis surat untukmu, tapi dia malu untuk mengirimnya. Sampai detik-detik terakhirnya dia masih menulis surat untukmu. Kankernya sudah menyebar keseluruh tubuhnya, dia sudah tidak kuat. Kemarin dia ingin bertemu dengan Kamu Arga tapi Kamu sedang mesra-mesraan dengan Praveena sialan itu!" ungkapnya.
"Harusnya Emak bilang saja sama Saya, pasti Saya menemui anakmu kok."
"Sudah terlambat, semuanya sudah terlambat. Sudah tidak ada valentine lagi di tahun-tahun yang akan datang."
"Berati selama valentine yang mengirim coklat dan mawar besar itu anakmu?" tanya Arga yang akhirnya tahu siapa pengirim coklat dan mawar dari tahun-tahun sebelumnya.
"Anakku yang malang." Emak menangis dengan mendudukkan dirinya di lantai yang dingin itu.
Praveena menyadari ketakutan Arga, Ia menggandeng erat tangan besar yang sedari tadi menggandengnya. Praveena menarik bahu kekar milik Arga agar sedikit bersandar pada tubuhnya.
"Setidaknya bagilah ketakutanmu padaku Mas," ucap Praveena dengan tersenyum di tempat gelap.
-TAMAT-
Terimakasih sudah membaca.