Dokter adalah sebuah profesi yang dianggap paling mulia setelah guru. Guru bertugas menyelamatkan masa depan anak bangsa agar hidup lebih baik dengan segala kesuksesannya. Sementara dokter bertugas menyelamatkan siapa saja yang membutuhkan pertolongannya, menyelamatkan nyawa hingga kelahiran baru anak bangsa.
Fandi adalah seorang dokter yang sangat berdedikasi dalam pekerjaannya, tak jarang dia melewatkan waktu istirahatnya hanya untuk membantu seseorang yang sedang kesakitan, bahkan istrinya terus-terusan mengomel karena ia jarang sekali memiliki waktu bersama keluarganya.
Rumah sakit umum adalah tempat ia mencurahkan keringat dan waktunya demi menyelamatkan banyak orang. Rumah sakit umum itu jugalah tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah berbulan-bulan ia terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit yang biasanya digunakan pasien yang ia rawat.
Kini, ia telah tiada, ia telah meninggalkan dunia fana ini dan tengah menunggu hari akhir dengan damai di alam yang berbeda. Namun, dedikasinya yang besar dan kemukiaan hatinya yang tak terhingga membuatnya mampu menembus batas dimensi waktu dan ruang.
Bagi seorang dokter, ia selalu memperhatikan orang lain yang membutuhkan bantuannya meski ia sendiri harus mengorbannya banyak hal. Pun kini ia tetap berjuang demi menyelamatkan calon anak bangsa yang kelak mampu membawa bangsa ini menjadi lebih baik.
Sore itu, sepasang suami istri baru saja tiba ke kota untuk mempersiapkan kelahiran anak pertama mereka. Sebelum mereka berangkat ke rumah sakit umum, mereka mampir sejenak kedebuah toko peralatan bayi untuk membeli beberapa perlengkapan bagi calon anak pertama mereka.
Sang istri terlihat sangat bahagia melihat barang-barang yang baru saja mereka beli. Sambil mengelus-elus perutnya, ia berkata. "Pak, semoga anak kita selalu diberikan keberkahan, ya. Aku ingin anak kita kelak menjadi seseorang yang berguna."
Sang suami membalas perkataan istrinya itu dengan senyuman, lalu ia menundukkan badannya dan menempelkan telinga kirinya disisi perut sang istri. "Dengar Buk? Anak kita tertawa. Katanya dia senang sekali dibelikan banyak barang baru." Ujarnya sambil tersenyum senang. Lalu ia mengecup perut istrinya yang sudah membesar itu seraya berkata, "nak, Bapak do'akan kelak kamu jadi orang besar. Dan banggakan kedua orang tuamu, ya. Ayo cepatlah lahir, Bapak sama Ibukmu sudah nggak sabar mau bertemu kamu."
Sebelum esok pagi mereka berangkat ke rumah sakit, malam itu mereka menginap dirumah sanak mereka. Namun ternyata malam itu mereka masih harus bekerja sehingga mereka ditinggal berdua saja. Saat itulah sang istri merasakan pertanda bahwa ia akan segera melahirkan saat itu juga.
Bingung, sang suami langsung menyalakan sepeda motornya dan membawa istrinya pergi ke rumah sakit. Namun entah karena saking bingungnya atau terlalu panik,sang suami malah melewati jalan yang tidak seharusnya mereka lewati.
Beruntung saat itu sang suami melihat sebuah bangunan rumah sakit yang terlihat sangat terang dan cukup ramai. Tanpa pikir panjang ia langsung membelokkan stang motornya memasuki kawasan rumah sakit tersebut.
Mereka langsung disambut oleh petugas rumah sakit yang dingin dan terkesan acuh, namun mereka sangat sigap melayani mereka. Istrinya langsung didudukkan disebuah kursi roda lalu mendorongnya ke ruang bersalin.
Didepan ruang bersalin, ia melihat seorang dokter yang tersenyum hangat saat menyambut mereka. Ia langsung merasa lega, karena akhirnya ada satu orang yang terlihat begitu ramah. Ia langsung percaya bahwa dokter tersebut pasti bisa menyelamatkan istrinya dan anak pertama mereka.
Keheningan berlangsung cukup lama. Tak banyak orang atau petugas rumah sakit yang berlalu lalang disana, hanya ada beberapa petugas rumah sakit dikejauhan yang hanya terdiam sambil menundukkan kepala mereka.
"Aneh, padahal dari luar tadi kelihatan ramai sekali." Batinnya.
Setelah beberapa saat, suasana hening itu pun pecah oleh tangisan bayi yang cukup lantang. Air mata bahagia langsung mengaliri pipinya. Tak henti-hentinya ia mengucapkan rasa bersyukur.
Petugas rumah sakit yang membantu persalinan istrinya satu persatu keluar, dan mereka masih sama, diam dan hanya menunduk tanpa menyapa atau memberi ucapan selamat. Lalu dokter yang tadi dilihatnya pun keluar, dia kembali tersenyum kepada sang suami yang terlihat sangat bahagia.
"Bagaimana keadaan anak dan istri saya dok?" Tanyanya dengan penuh semangat.
Namun dokter itu tak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya lalu pergi begitu saja.
Tak sabar ingin melihat keadaan kedua orang yang paking disayanginya itu, ia langsung masuk untuk melihat keadaan mereka. Saat itu istrinya tengah menyusui anak mereka yang terbungkus kain dengan rapi dan sudah bersih. Anak yang cantik dengan mata yang lentik seperti ibunya.
Karena pergi dengan tergesa-gesa, mereka tidak sempat membawa tas perlengkapan bayi yang sudah mereka sediakan, sang suami pun kembali kerumah untuk mengambil tas tersebut.
Sesampainya ditumah, entah bagaimana, ia langsung jatuh dan tertidur begitu saja diatas sofa, padahal hanya ingin duduk sebentar sambil merokok.
Keesokan paginya saat terbangun, ia langsung buru-buru kembali kerumah sakit tersebut. Namin alangkah kagetnya ia saat melihat kondisi bangunan rumah sakit yang sudah tak terawat lagi, bahkan banyak rumput liar yang tumbuh disela-dela lantainya.
"Bagaimana bisa ini terjadi dalam satu malam?" Tanyanya kebingungan
Setelah dua jam mencari keberadaan istri dan anaknya, akhirnya dia menemukan mereka berdua didalam sebuah ruangan bertuliskan "kamar mayat". Suara tangisan bayi terdengar jelas dari dalam ruangan itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung membuka pintu yang tak terkunci itu.
Diatas ranjang yang sudah reyot itu, ia melihat istrinya sedang ketakutan sampai bergetar seluruh tubuhnya sambil mendekap bayi yang baru saja ia lahirkan semalam. Keringatnya yang sebesar jagung mengucur dari sela pori-pori kulit sawo matangnya.
Bergegas ia menghampiri istri dan anaknya itu lalu memeluk mereka dengan erat. Dengan hati-hati ia menuntun istrinya itu keluar dari rumah sakit.
Sesampainya dirumah, saudara mereka terkejut bukan kepalang saat melihat mereka pulang dengan wajah yang pucat pasi. Mereka mengaku baru saja pulang dari rumah sakit umum untuk mencari kedua pasutri itu, tapi mereka tidak menemukannya.
Barulah kedua pasutri itu menceritakan kronogi cerita yang membuat mereka semakin terkejut. Akhirnya mereka menceritakan tentang rumah sakit yang telah terbengkalai selama puluhan tahun itu.
Satu tahun berlalu, kedua pasutri itu kembali kekota sambil menggendong putri cantik mereka. Mereka berjalan dengan langkah yang mantap memasuki area pekuburan umum, dihadapan tanah yang berbalut keramik biru tua itu, mereka bersimpuh mengucapkan rasa terima kasih mereka atas kebaikan sang pemilik tanah tersebut karena telah membantu mereka melahirkan putri pertama mereka dengan selamat.
Sang suami kembali teringat saat ia berada didalam rumah sakit terbengkalai dulu, saat dokter yang membantu persalinan istrinya keluar dengan senyum hangatnya. Sepintas lalu ia melihat kartu identitas rumah sakit yang tertempel disaku bajunya, disana tertera foto dan sebuah nama 'Fandi Kusuma'.
Didalam tanah ini, dokter Fandi Kusuma telah terbaring dalam damai selama 32 tahun. Ya, beliau meninggal 2 tahun sebelum rumah sakit tempat ia mendedikasikan pengetahuan dan kemampuannya ditutup karena suatu masalah pada masa itu.
Dari dimensi lain, dokter Fandi tersenyum puas saat melihat anak perempuan yang ia selamatan dengan mengorbankan banyak energinya telah tumbuh dengan baik dan menjadi anak cantik yang pintar.
Kita tidak pernah tau, apa yang ada dibalik dunia fana ini, yang pasti selain kita, para manusia dan segala makhluk yang terlihat oleh mata di alam semesta ini, masih banyak lagi makhluk lain yang tak kasat mata, yang terus mengawasi pergerakan kita, hidup berdampingan dengan kita. Kita percaya,manusia adalah makhluk paling sempurna dimuka bumi ini, namun terkadang, mereka bahkan memiliki hati yang lebih baik daripada manusia itu sendiri.