Perempuan itu masih terus menatap layar ponselnya, berharap layar itu akan menampilkan sebuah pesan atau panggilan masuk dari seseorang yang saat ini sedang ditunggunya.
Perempuan cantik itu Claudia, Claudia Yashinta. Ia masih setia duduk di salah satu bangku taman di pusat kota. Sesekali dia melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Helaan nafas kecewanya terasa saat dia kembali melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam lima sore dan itu berarti dia sudah menunggu hampir empat jam di taman itu.
Claudia menundukkan kepalanya lesu, tangannya menggenggam ponsel miliknya dengan cukup erat. Perasaan kecewa kini menghampirinya. Kekasihnya yang sejak tadi dia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya sampai sekarang.
“Apa mungkin dia lupa?” Claudia menghembuskan nafas gusarnya. Tak terasa air mata keluar dari pelupuk matanya. Ini bukan yang pertama kalinya kekasihnya itu terlambat datang di acara kencan mereka.
“Apa mungkin dia sudah tidak mencintaiku lagi?” ucapnya lirih. Pikiran negatif pun kini mulai terngiang diotaknya.
BRAAAS!!!
Gemericik air hujan turun tiba-tiba membasahi tubuh Claudia. Perempuan itu tetap menunduk dan tidak perduli terhadap orang-orang yang sibuk berlari mencari tempat untuk berteduh. Claudia semakin mengeratkan pegangannya pada ponsel berwarna hitam miliknya. Dia sudah tidak perduli kalau pun ponsel miliknya itu akan rusak karena terkena air hujan.
Air matanya semakin mengalir seiringan dengan air hujan yang juga turun dengan derasnya. Dia merasakan sesak didadanya. Hatinya sakit mengetahui kekasihnya itu belum datang juga. Jika ini yang pertama kalinya mungkin Claudia akan memaafkan kekasihnya itu tapi yang membuat Claudia benar-benar merasa marah dan sedih adalah karena ini sudah kesekian kalinya kekasihnya itu datang terlambat, bahkan Claudia pernah menunggu lebih lama dari pada sekarang.
“Claudy….,” Claudia mendongakan kepalanya saat sebuah suara yang sangat dihafalnya di luar kepala itu memanggilnya. Dilihatnya seorang pria dengan payung ditangannya kini berdiri dihadapannya. Pria itu menatap sendu Claudia lalu mendekati dan memayungi perempuan itu dengan payung yang dibawanya tadi.
“Maaf…" ucapnya yang membuat Claudia kembali mengalirkan air matanya. Claudia menatap mata pria dihadapannya dengan tatapan yang sulit dipahami.
“Kamu...” Claudia bangun dari duduknya dan mensejajarkan dirinya dengan pria itu.
“Kamu jahat, Bim! Kamu…. Kamu tahu sudah berapa lama aku menunggumu disini? Kalau kamu memang tidak ingin bertemu denganku seharusnya kamu bilang saja dari awal! Aku tidak perlu menunggu lama di sini seperti orang bego!” Claudia memuntahkan kekesalan hatinya, membuat Bima nama pria itu kini hanya bisa tertunduk. Pria itu merasa bersalah pada kekasihnya itu.
“Maaf…” hanya kata itu yang sanggup terlontar dari bibir Bima.
“Selalu! Selalu semudah itu kamu meminta maaf! Bim, kalau satu dua kali aku masih bisa memakluminya. Tapi ini bukan yang pertama kalinya kamu melakukan ini dan kamu hanya bisa mengucapkan kata maaf? Kamu tahu betapa sakitnya aku di perlakukan seperti ini olehmu?” Claudia mengusap wajahnya kasar suaranya bergetar.
“aku minta maaf sayang... Tadi saat aku mau berangkat ke sini tiba-tiba saja papa memintaku untuk memimpin rapat dengan relasi-relasinya dan aku...” Bima terdiam.
“Dan kamu tidak bisa menolak? Begitu kan? Kenapa kamu tidak menghubungiku dan memberiku kabar kalau kamu akan datang telat sehingga aku tidak harus menunggu kamu seorang diri di sini?”
“Maaf aku tidak sempat… Aku...”
“Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” pertanyaan dari Claudia sukses membuat Bima kini memandang lekat mata Claudia.
“Apa maksudmu, sayang? Demi Tuhan sayang... Aku masih mencintaimu..Aku tahu aku memang salah, aku telat datang dan membuatmu menunggu berjam-jam di sini tapi itu semua bukan berarti aku sudah tidak mencintaimu lagi, sayang.”
“Tapi aku berpikirnya seperti itu. Kamu berubah!” Claudia lalu beranjak pergi, tapi belum sempat dia melangkah lebih jauh sebuah tangan mencengkram lengannya.
“Kita bisa menyelesaikan ini dengan baik-baik kan?” Bima memandang Claudia.
“Tidak ada yang perlu diselesaikan lagi, Bim. Hubungan kita cukup sampai di sini saja...” Claudia menyentak tangan Bima dengan kasar sehingga cengkraman Bima di lengannya terlepas begitu saja.
“Claudia!! sayang!” teriak Bima saat dilihatnya kekasihnya itu berlari menjauhinya. Dibuangnya payung yang dia pegang tadi kesembarang arah dan dia pun kini berlari mengejar Claudia menuju jalan raya.
“Claudy! Tunggu!” Bima menahan pergelangan tangan Claudia saat dia akan menyebrang jalan.
“Lepas!" ucap Claudia dengan nada cukup tinggi.
“Aku tidak akan melepaskanmu. Demi Tuhan Claudia jangan kayak gini! Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik sayang... Kita pacaran sudah 4 tahun dan itu bukan waktu yang sebentar..."
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Jadi please biarkan aku pergi. Kisah kita sudah berakhir.” ucap Claudia lalu menyentak tangan Bima dengan kasar. Claudia melanjutkan langkahnya menyeberangi jalan tapi baru empat langkah dia berjalan, Claudia mendengar sebuah teriakan sangat kencang dan tiba-tiba saja…
BRAKK!!
Claudia merasakan ada yang mendorong tubuhnya dan dia jatuh tersungkur ke aspal seiringan dengan sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan penuh. Claudia mendongakan kepalanya dan berusaha untuk bangun dari posisinya tapi rasa sakit di tangan dan lututnya membuatnya sulit untuk menggerakan tubuhnya. Claudia menoleh kebelakang dan seketika kakinya melemas saat melihat beberapa orang yang membawa payung sedang mengerumuni seorang pria yang terkapar tak berdaya di aspal dengan darah yang mengalir dari tubuhnya. Lidah Claudia keluh dan tubuhnya seakan kaku menyaksikan pemandangan miris di hadapannya.
“Bima!! Bima!! Ti-tidaaak!! Claudua histerus ia berusaha untuk bangkit. Perempuan itu berjalan perlahan menuju kerumunan dan seketika dia langsung jatuh terduduk dihadapan tubuh Bima. “Bim… Bima sayang... please bangun...” Claudia mengguncang tubuh Bima yang terbujur kaku dan mata pria itu tertutup rapat. Claudia bisa melihat darah yang terus keluar dari pelipis Bima.
“Aku mohon bangun Bim…” air mata Claudia keluar tak terkendali, dia masih tetap mengguncang tubuh Bima, menyuruh pria itu untuk bangun dan berharap kejadian yang ada dihadapannya saat ini adalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir.
“Aku mohon jangan tinggalin aku Bim.. Bima bangun….. Bima!!! ”teriak Claudia dan setelah itu hanya kegelapan yang dapat dia rasakan.
Perempuan itu terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan titik-titik keringat terpancar jelas dari keningnya. Perempuan itu, Claudia mencoba untuk menetralisir perasaannya, kembali mengontrol nafasnya yang tak beraturan saat dia bangun dari tidurnya tadi. Tangannya terulur menyeka keringat dan air mata yang entah sejak kapan keluar di wajah cantiknya itu. Claudia terdiam sejenak lalu memejamkan matanya, berusaha untuk melupakan sebuah mimpi buruk yang masih sangat teringat jelas di memori otaknya itu. Perlahan dia kembali membuka matanya dan air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya.
“ Bima….” lirih Claudia
*****
Claudia masih setia berdiri dengan payung berwarna hitam yang menutupi dirinya dari hujan deras yang turun pagi itu. Mata teduhnya kini memandangi sebuah nama yang tertulis di depannya. Sebuah nama yang kembali mengingatkannya pada mimpi buruknya semalam dan sebuah kejadian menyedihkan satu tahun yang lalu.
Bimantara Setyadi
Lahir : Jakarta, 29 Desember 1994
Wafat : Jakarta, 12 Januari 2020
Perempuan itu terduduk di depan makam yang ada dihadapannya saat ini. Tangannya terjulur mengusap batu nisan di hadapannya. Ia tidak perduli jika jeans hitam yang dia kenakan akan kotor karena tanah yang dia duduki sedang basah karena hujan, dan dia juga tidak perduli dengan tubuhnya yang nantinya akan kedinginan karena hujan yang masih setia turun dengan derasnya.
Claudia menangis terisak sambil terus memegangi batu nisa seseorang yang amat sangat ia rindukan itu lalu dia meletakkan bunga lily putih di atas makam itu. Meletakkan bunga yang melambangkan sebuah cinta sejati namun di selimuti dengan rasa duka.
“Hai sayang... Apa kabar?” ucap Claudia dalam isakannya, ia menundukkan kepalanya sejenak dan air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya kini sudah tak kuat lagi dibendungnya.
"Tiga tahun berlalu, apakah kamu sudah bahagia di sana, sayang?” Sekuat tenaga dirinya menahan air matanya tapi kini air matanya justru mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Aku berharap kamu bahagia di sana, Bim…. hmmm sepertinya kamu masih sangat menyukai hujan ya? Sampai-sampai saat aku datang ke sini hujan ini belum reda juga..” Claudia tersenyum kecil. Senyum menyedihkan.
“Kamu tahu sekarang tanggal berapa? Sekarang tanggal 12 Januari... Ini hari spesial kita...Happy Anniversary yang ke 5 tahun…” Claudia terdiam sejenak..
“Terima kasih untuk hadiah anniversarynya tapi aku lebih bahagia lagi jika kamu sendiri yang memberikannya kepadaku, Bim” ucap Claudia lirih sambil melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Dan kini memori otaknya kembali teringat dengan sesuatu yang kembali membuatnya merasakan penyesalan dan rasa bersalah.
*****
Claudia masih duduk terpaku di ranjangnya. Dengan kedua lutut yang dia tekuk dan sebuah pigura poto yang sejak tadi dia dekap, Claudia sama sekali tidak ingin beranjak dari posisinya itu. Air matanya tak henti-hentinya mengalir saat dia kembali mengingat kejadian yang membuatnya merasa bersalah kembali berputar di memori otaknya.
Setelah pulang dari pemakamn Bima, Claudia lebih memilih untuk mengurung dirinya di kamar sambil mendekap pigura yang berisikan poto Bima.
“Nona.. Ada yang harus saya serahkan pada anda. Hadiah ini khusus dipersiapkan oleh Tuan Muda untuk anda."
Seorang pria paruh baya menyodorkan kotak merah berbentuk hati pada Claudia. Orang kepercayaan Bima itu sengaja menemui Claudia untuk memberikan benda yang belum sempat diberikan oleh majikannya kepada kekasihnya itu. Claudia menoleh ke arah pria berusia sekitar 40 tahunan itu. Dengan perlahan tangan Claudia terulur untuk mengambil kotak itu.
Claudia kembali terisak saat membuka kotak itu yang berisikan sebuah cincin putih bertatahkan berlian berwarna merah muda sangat cantik.
“Asal nona tahu, malam sebelum kejadian itu tuan muda sudah mempersiapkan kejutan untuk nona. Tuan bilang dia akan merayakan hari anniversarynya dengan nona dan tuan ingin memberikan kejutan yang sangat istimewa untuk nona. Malam itu tuan mengajak saya ke sebuah tempat yang akan menjadi tempat kejutan untuk nona, tidak perduli dengan kondisi tubuhnya yang lelah karena habis pulang kantor, tuan muda bersemangat sekali merancang sebuah tempat makan malam yang sangat cantik” ucap pria itu yang membuat Claudia lebih terisak dan semakin mendekap poto Bima dengan erat.
“Sebenarnya hari itu tuan sudah akan berangkat untuk menemui nona di taman kota tapi papanya memaksanya untuk memimpin sebuah rapat penting. Tuan muda sangat menghormati papanya, akhirnya dia mau untuk memimpin rapat itu. Setelah selesai tuan muda langsung mengajak saya untuk menemui nona di taman bahkan tuan muda sampai menyetir mobil dengan kecepatan penuh katanya dia tidak ingin membuat kekasihnya menunggu terlalu lama jadi dia memilih untuk menyetir mobilnya sendiri. Saya yang saat itu melihat tuan hanya bisa tersenyum ikut merasakan perasaan bahagia yang saat itu dirasakannya. Berulang kali dia bilang kalau dia sudah tidak sabar untuk memberikan kejutannya itu untuk nona, tapi ternyata suatu kendala menghampirinya saat itu. Kita terjebak macet yang sangat parah dan akhirnya membuat tuan muda datang terlambat.” pria yang sudah menjadi orang kepercayaan Bima selama 10 tahun itu memandang Claudia yang sudah beruraikan air mata.
“Hari itu tuan muda akan…..akan melamar nona...” Claudia menundukkan kepalanya dan semakin terisak.
“Maafkan aku…”
*****
“Aku bodoh kan? Seharusnya waktu itu aku tidak perlu marah-marah padamu dan harusnya saat itu aku tidak meminta putus... Andaikan aku bisa lebih bisa sabar dan menahan emosi tentu kamu... kamu tidak akan di sini... Kita... Kita pasti... Sudah menikah... Iya kan sayang?"
"Dan kamu juga bodoh... Kenala kamu menolongku? Kenapa kamu tidak membiarkan saja mobil itu menabrakku... Jadi… Jadi bukan kamu yang pergi...” air mata yang barusan diusapnya kini mengalir lagi membasahi pipinya.
“Aku… Aku merindukan kamu sayang… Aku… Rindu saat kamu memelukku, aku rindu saat kamu menghiburku disaat aku sedih, aku rindu saat kamu membelai rambutku, aku rindu senyumanmu, aku….aku...” suara Claudia tercekat, dia merasakan sakit yang teramat dalam saat dia mengungkapkan semua perasaan rindunya.
“Aku merindukan semua yang ada pada dirimu, Bim..." Claudia mengeratkan pegangannya pada payung yang masih melindunginya dari hujan yang belum juga reda.
“Aku mencintaimu Bim… Dan semoga kita bisa dipertemukan kembali di kehidupan yang akan datang suatu saat nanti...” perlahan tangan perempuan itu terulur untuk mengusap batu nisan dihadapannya. Claudia memejamkan matanya, mulai memanjatkan sebaris doa untuk orang yang sangat dicintainya itu.
Tak lama mata indah itu terbuka perlahan, Claudia mengusap sisa-sisa air mata diwajahnya dan sebuah senyum indah terlukis diwajahnya.
“Aku pulang dulu ya... Lain kali aku akan mengunjungi kamu lagi… Bye...” ucap Claudia lalu dia beranjak dari duduknya. Perlahan Claudia mulai melangkah pergi menjauhi makam itu, tapi dilangkahnya yang kelima Claudia berhenti dan menoleh kebelakang, memandang makam Bima.
“I Love You...” Claudia meneteskan air mata lalu kembali melanjutkan jalannya yang membawanya menjauh dari makam itu.
Kecelakaan parah terjadi. Sebuah mobil sedan berwarna putih ringsek di sudut jalan setelah di hantam truck semen. Sopir truck melarikan diri. Orang-orang sekitar sana memecahkan kaca mobil itu berupaya mengeluarkan pengemudi yang terhimpit badan mobil. Evakuasi selama tiga puluh menit itu akhirnya mampu mengeluarkan si pengemudi. Namun sayang, perempuan cantik yang mengenakan cincin berlian berwarna merah muda itu sudah tak bernyawa.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤