Real life story
By Ummu Alesha
Suatu hari si bungsu berlari girang dan menunjukkan nilai ujiannya kepadaku, aku pun tersenyum merekah manakala rapor sudah berada ditangan dengan hasil yang memuaskan. Sering aku memotivasi adek untuk belajar lebih giat seperti kakak, dan pada akhirnya bungsu ku terus menerus menjadi peringkat pertama yang membawanya masuk kelas Akselerasi.
Bukan main senangnya hatiku, Mataku berkaca menahan haru, teringat betapa terkuras pikiran dan tenagaku menjalani tugas ini seorang diri. Maklumlah aku adalah single parent dengan dua orang anak yang masih remaja. Namaku Sury, Anak pertama ku Kaliya, sudah SMA berusia 16 tahun sedangkan si bungsu Deyna.., masih kelas dua SMP berusia 13 tahun. Alhamdulillah... Aku di karuniai anak-anak yang penurut dan tidak banyak menuntut. Mereka mengerti dengan ke adaan ibu nya, mereka anak-anak yang baik dan pintar. Namun semenjak aku memutuskan untuk berpisah dengan ayahnya anak-anak, ada yang sedikit berubah dengan keadaan mereka.
Seperti beberapa minggu belakangan ini. Adik selalu pulang dengan wajah yang muram. " Gimana sekolahnya..?. Cape..? " tanya ku.
" Hemm.." ia cuma berdehem sambil berlalu menuju kamar. Akhir-akhir ini setiap ditanya kabar sekolah dan teman-teman barunya pasti adek menghindar. Atau mungkin waktunya saja yang belum pas untuk menanyakan kabar sekolah, Pikiran ku mulai tergelitik, Entah perasaan ku saja atau ya... mungkin memang perasaan ku. Si bungsu yang pendiam semakin banyak diam... Aku berusaha menaklukkan pikiran negatif ku.
Aku terus berpikir positif, hingga pada suatu hari ku jumpai wajah tidak bersemangatnya berubah menjadi mimik marah. Kadang pulang sekolah tak segan ia melempar tas dan membanting pintu. Ku tanyakan pada si kakak apakah mereka bertengkar lagi, karna biasanya kedua anak ini lebih sering tidak akur, Kakak pun menggeleng tidak tahu.
Haduhh... Pusingku makin memuncak.. Ditengah-tengah persoalan rumah tangga dan anak. Pikiranku buntu padahal baru saja mulai bekerja, kertas bon ini masih berserakan di meja,belum juga ku catat. Hufff... ku tarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hati dan beralih fokus pada biaya sekolah juga perut anak-anak yang harus terisi. Ku kuatkan pundak ku untuk menopang semua beban ini, dari pada banyak mengeluh. Masa depan anak-anak ku masih panjang, sepanjang kebutuhan mereka demi mencapai cita-citanya. Biarlah kaki jadi kepala dan kepala menjadi kaki. Sebab ini adalah resiko yang harus ku jalani ketika aku memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai kepada ayah mereka.
Sekembalinya ke rumah ingin sekali rasanya aku mandi, untuk segera bersantai berkumpul dengan anak-anak. Namun baru saja sampai di depan pintu, si kakak segera menghampiriku.
“ Kenapa kak... ?” tanya ku lebih dulu.
“ Itu adek... aneh bu.., dari tadi gak keluar-keluar dari kamar...” jawabnya
“ Memang gak kamu bujuk, atau ajak ngobrol dia kak..?” tanya ku lagi lebih detai.
“ Udah bu..., tapi aku tanya aja ga di jawab.”
Aku jadi khawatir mendengar cerita kakak tadi. adek belum keluar sedari tadi dari kamar, tidak makan tidak pula mandi. Hingga malam berlalu.. Aku berusaha membujuknya, mengajaknya bicara tapi tidak berhasil juga.
Ke esokkan harinya pun adek tidak mau sekolah, kamarnya tidak dikunci namun ia hanya terus berbaring di kasur, dengan wajah yang sengaja disembunyikan. Aku berusaha menarik bantal yang menutup wajahnya. Mengecek suhu tubuhnya yang ternyata normal.
" Adek.. Sakit..?" ku tanya, tapi tidak di jawab. Lalu ku tarik tangannya supaya badannya bangun untuk duduk. ku suapi makanan, sambil bertanya sesekali perihal ngambek nya. Tapi lagi-lagi tidak dijawab.
Akhirnya aku mulai mencari cara bagai mana membuat adek senang, hemm... Rasanya sudah lama sekali kita tidak pernah pergi ke mall, nonton bareng dan makan sekeluarga. ini pasti jadi hari yang menyenangkan... Dan selepas ini mungkin adek tidak ngambek lagi. Berbekal sisa tabungan ku juga hasil cashbon di kantor akhirnya aku mengajak anak-anak pergi. Gak apalah sekali-kali harus ku bela-bela cuti untuk menyenangkan hati anak-anak terutama adek, bisa jadi ngambeknya itu karna kurang refreshing.
" Adek mau makan apa ?" Tanya ku.
“Adek..?” Ku tanya lagi, tapi masih diam saja.
Sabar.. Sabar.. batin ku berucap. Rupanya sepanjang perjalanan kita memutari mall tetap saja gak merubah mood si bungsu. Tidak sepeti biasanya, sampai-sampai harus aku yang memilihkan baju nya, sepatu nya, sedangkan yang dibelikan barang hanya termenung tidak bersemangat. Ya Allah padahal aku sudah bersusah payah meminjam uang untuk hari ini, namun gagal... Aku gagal Membuat suasana hatinya berubah gembira. Paling tidak sedikit saja mau bicara.
***
Ku telpon ayahnya anak-anak untuk datang, mungkin saja bungsu ku rindu dengan ayahnya. Karna sejak kami berpisah, kedekatan mereka mulai merenggang bukan hanya karna tinggal di tempat berbeda tapi setiap bertemu seperti ada jarak yang membentang. mungkin diam nya adek sebetulnya karna rasa rindu yang terpendam yang sulit untuk di ungkapkan.
Dulu, adek itu paling dekat dengan ayahnya.., semenjak adek bayi aku sudah bekerja, dan ayahnya lebih banyak waktu dirumah membantu ku untuk urusan anak- anak.
Pantaslah adek itu lengket dengan ayahnya, tapi tak tau mengapa seiring hubungan ku yang tidak baik dengan Mas Banyu kedekatan mereka pun juga kian pupus. Mungkin karna ayahnya kini memiliki ke hidupan yang baru, jadi anak-anak mulai menarik diri, juga bersikap lebih mandiri, mereka tidak mau bergantung pada ayahnya lagi.
Kreak.... dub...
Akhirnya Mereka pulang..., dan seperti biasa adek langsung masuk ke kamar, masih dengan raut wajah yang datar.
" Gimana..?" bisik ku pada ayahnya anak-anak.
“..............” Ayahnya hanya menggelengkan kepala. “ kayak nya kamu harus konsultasi deh ke pakar kejiwaan..” ia menyuruh ku untuk berkonsultasi ke psikiater.
Percakapan ini malah membuat ku kesal, sepertinya tak ada gunanya aku memanggil Mas Banyu ke sini, malah menambah beban pikiran ku saja.
“ Ya sudahlah.. kalau kamu gak terima pendapat ku...” balasnya dengan santai.
Akhirnya pertemuan kami pun menjadi sia-sia. Mas Banyu pulang dan aku masih dalam kebingungan yang besar. Aku harus bercerita kepada siapa lagi untuk mendapat solusi, apa yang harus aku lakukan...? Tak tahukah.. Betapa susah membuat pohon besar yang tetap tegak berdiri, yang berusaha menguatkan akar-akarnya demi menopang ranting dan dedaunan yang rindang agar bisa melindungi setiap mahluk yang berteduh padanya, Tanpa mereka mengetahuinya... Betapa berusahanya aku.
Aku menyeka air mata yang mulai menggenang. seraya berucap pada batin ku
"Aku wanita yg kuat.. Aku kuat.. Harus kuat!"
Ku jalani rutinitas seperti biasanya, meski pikiranku melayang-layang. Tak terasa waktu begitu cepat berganti. Semula ku biarkan saja persoalan adek ini, berharap dia akan membaik sendiri. Suatu saat mungkin ada kalanya ia mulai bosan di kamar dan ingin pergi keluar. Masa sih dia bisa berlama-lama gak bicara. Selama ia masih mau makan, aku rasa ini bukan hal yang harus dikhawatirkan dan Masalah sekolahnya akan ku urus minggu depan.
***
Dua minggu sudah berlalu, tak ada perubahan yang signifikan malah cenderung menjadi semakin bermasalah. Aku mulai panik saat ku dapati adek termenung dengan tatapan kosong. Bukan lagi seperti bungsu ku yang dulu.. Bukan lagi seperti bungsuku yang penurut. Wajahnya menghadap TV, tapi seolah-olah seperti TV yang sedang menontonnya.
Akhirnya ku tinggalkan pekerjaan rumah hari itu, demi mencari tau apa yang sedang terjadi pada anak ku. Ku datangi wali kelasnya, untuk bercerita keadaan si bungsu yang gak mau pergi ke sekolah.
“ Kenapa ibu baru bercerita sama saya... ?, Saya hampir mau kasih SP loh untuk Deyna.“ kata bu guru Lidia, wali kelas adek.
“ Soalnya saya kerja bu..., ini saya baru bisa izin lagi. Saya mau tanya bu apakah Deyna punya masalah di kelas atau di sekolah ?.” Tanya ku kembali.
“ Sepertinya enggak ada bu, terakhir saya ketemu Deyna, dia baik-baik saja “
Aku jadi semakin bingung ada apa dengan anak ku, mengapa wali kelasnya bilang baik-baik saja. Ya Allah... tertutup sekali anak ku, bahkan dia gak pernah curhat sama teman dekatnya. Nadine memberi tahu ku nama tan sebangku Deyna. Aku langsung menuju kelas Akselerasi dan mencari Ajeng. Namun sayangnya saat itu Ajeng sakit, dan aku bertanya pada teman-temannya yang lain, Mereka mengesankan bungsuku adalah sosok tertutup yang sulit untuk ku cari tahu apa yang berada dipikirkan dan hatinya.
Sepertinya Aku mulai berputus asa...
***
Aku pulang dengan ke hampaan, aku tidak menemukan jawaban atas pertanyaan besar mengapa bungsu ku seperti itu. Aku bercerita pada teman kerjaku, ia memberikan ku kartu nama saudaranya yang bekerja sebagai dokter. Waktu itu aku merasa marah.. karna bagiku sama saja mereka menganggap anak ku terkena sakit jiwa. Namun sepertinya Cuma ini jalan satu-satunya...
Akhirnya, ku putuskan untuk mendatangi klinik tumbuh kembang anak dan remaja. Berkonsultasi pada seseoang yang tepat,pada seorang psikologi yang mungjin bisa membantu ku. tak pernah ku bayangkan sebelumnya akan menginjak tempat ini, seperti tak pernah ku duga perceraian ku akan berimbas separah ini.
Rasanya tulang-tulang ku remuk.. Dan otot-otot pun ingin terlepas darinya. Begitu lemas... ketika aku mengetahui anak ku di diagnosa terkena gejala depresi. Selama ini aku teralu lama meninggalkan nya seorang diri, aku sibuk berusaha menggantikan posisi ayah yang hilang dari kehidupan mereka. Namun aku melupakan mereka membutuhkan sosok seorang ibu sebagai teman untuk bercerita. Dan aku gagal menjadi keduanya...
Perasaan ku berkecamuk, rupanya akar dari pohon yang ku tanam tidak kuat menahan ter jangan angin yang datang, daunnya kini mulai berjatuhan.. Mengering.. Dan tersapu tiupan Angin... Sedangkan di bawah pohon itu ada bungsu ku sendirian, ia kehujanan.. Kedinginan... Sementara aku tidak menyadarinya karna sibuk mengokohkan pohon yang kutanam. Anak ku... Maafkan ibu yang suka membandingkan mu dengan anak yang lainnya, maafkan ibu yang menuntut mu untuk menjadi anak yang membuat semua orang bangga, maafkan ibu mu yang tidak bisa memberi kasih sayang sempurna...
***
Aku membuka pintu kamar si bungsu, melihatnya duduk bersandar di kasur.. Masih dengan tatapan yang hampa, seolah jiwanya tidak menyatu dengan raga. Ku pegang punggung tangannya dan menempelkan pada pipiku, namun dia sama sekali tidak menoleh ke arah ku. " adek.." ku panggil dengan lirih tapi sama sekali ia tidak menghiraukan ku.. Ku taruh kepalaku di pangkuannya,
" pukul ibu nak... "
"Jangan diam nak.."
Pinta ku, namun si bungsu masih juga bergeming
" ibu sudah gak kuat nak..marah saja nak.. "
pinta ku lagi sembari menarik tangannya untuk memukul-mukul pipi ku. Kini ku biarkan air mata ini mengalir begitu deras hingga nafasku terisak.. Aku lelah.. Sangat lelah menjadi kuat, aku menyerah dari tidak terlihat lemah.
Tangisku pecah di pangkuannya. Ini kali pertamanya aku berani menunjukkan wajah kesedihan pada anak ku.
Tes.. Tes... Ada tetesan air jatuh membasahi dahi ku. Bungsu ku ikut menangis. Aku bangkit untuk memeluknya erat.. Memeluk bayi ku yang sudah tumbuh besar, pelukan yang sudah lama terlupakan semenjak aku memutuskan untuk bekerja, meninggalkannya sedari kecil.., pulang hanya dengan rasa letih, dan mengabaikan ajakan nya untuk menemani bermain. Ya Allah... Aku terlalu banyak melewatkan waktu ku tanpa menemani mereka melewati masa-masa sulit, masa pencarian jati diri, masa di mana mereka sangat butuh bertanya akan banyak hal namun aku tidak ada..
Bungsu ku kian menangis, semakin keras...
Luapkan nak.. Perasaan mu... Ibu ada disini tidak akan pergi dan akan selalu mendengarkan mu..
"Ade.. "
"ade ga bisa bu.."
Dengan suara yg berat dan tersendat sendat akhirnya bungsuku berbicara.
" ade... Ga mau jadi pintar bu"
Suara lirih itu seketika membuat nafasku legaa, suara yang sangat ku rindukan, suara yang sanggup memecahkan semua kebingungan dan kegelisahan ku selama ini.
" Gak apa apa nak... Adek ga perlu jadi pintar nak... ,gak harus memaksakan apa yang adek gak suka. dimata ibu, adek tetap anak yang luar biasa.. " kata ku sambil memegang wajahnya. Menciumi kening dan pipinya.., mengelus rambutnya, seperti ketika ia bayi dulu.. bayi ku yang akan reda tangisnya.. Jika dipeluk ibu.
Hari ini kita menangis bersama, mengaislah jangan malu nak... hanya kita, hanya ada kamu.. Dan ibu... Saja.
Tak pernah terlintas dalam benak ku akan seperti ini, kesibukan membuatku lupa untuk memeluk anak ku setiap hari.. Aku lupa... Membangun kedekatan dengan mereka, sehingga mereka tidak segan untuk bercerita .
Apalah artinya aku bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan anak-anak ku, jika ternyata yang ku beli dengan uang tidak bisa membayar waktu kebersamaan yang telah hilang. Salah besar.. Maindsetku tentang bentuk kesejahteraan... Yang mereka butuhkah bukan setumpuk pakaian, mainan dan makanan melainkan hanya sebuah perhatian...
Selama ini aku berkata tidak apa-apa, sepanjang aku berpikir mereka sudah besar. Ya kelihatannya... Tapi mereka tetap anak-anak yang belum mengerti sepenuhnya. Mengerti mengapa kami harus berpisah. Dan aku terlalu memaksa... Mereka paham dengan situasiku sementara aku tidak memahami mereka.
Rupanya bungsuku mengalami hal yang sulit diluar sana yang tidak pernah ku tau sebegitu rumit untuk ia hadapi dimasa peralihan menjadi remaja, masa yang dilaluinya dengan kebingungan untuk bertanya pada siapa, masa yang dilewatinya dengan kekecewaan dan kesedihan yang tak kunjung reda, masa perpisahan dengan ayahnya diiringi masa adaptasi disekolah. Nilai nilainya menurun bukan karna sulit bersaing dengan teman sekelasnya namun karna derama perpisahan itu membekas di benak, membuat hancur perasaan untuk menerima kenyataan yang ada.
Kejujurannya membuat ku semakin sedih.. Ketika kelas akselerasi bukanlah suatu hal yang membahagiakan bagi nya.. Namun beralih menyebalkan ketika beberapa teman sekelasnya membully, ku tahu anak ku bukan anak yg selemah itu tanpa ada perlawanan, namun semakin melawan semakin ditindas bahkan dengan fisik. Bungsuku enggan untuk berterus terang, ia memikirkan akan perasaan ibunya, rasa kekecewaan ku jika mengetahuinya. selama ini putriku berusaha membuatku tersenyum di tengah tengah hati yg terluka. Bungsuku... berusaha membuatku bangga, dengan memilih bertahan, menyembunyikan masalah berat untuk dipikul anak seusianya.
***
Pagi ini aku segera bertemu walikelas adek untuk mengurus kepindahannya ke kelas biasa. Gurunya kaget mendengar ceritaku perihal sistem peloncoan murid SMP di kelasnya, ia gak menyangka.. setelah ku kumpulkan bukti, yang nyatanya ada juga teman sekelas adek, mengalami hal serupa. Gurunya meminta maaf dan menyayangkan hal ini terjadi, ia berusaha membujuk anak ku untuk tetap bertahan dalam kelas akselerasi.
" Nanti selesai ibu panggil orang tuanya lalu anaknya di beri sangsi , pasti deh.. mereka jera. Sayang kan klo harus pindah kelas. Banyak murid murid yang ingin masuk kelas ini dan hebatnya...kamu murid yang terpilih, Terus kalo pindah nanti kamu ketemu teman yang pergaulannya kurang bagus loh.. Mereka gak sepandai teman-teman yang ada disini. Coba dipikir-pikir lagi.." anak ku diam saja mungkin ia bingung untuk menjawab apa, bahasa tubuhnya memperlihatkan kekhawatiran. Langsung saja kuambil alih percakapan
" insyaAllah bu anak saya bisa menjaga diri dalam pergaulan, yang penting dia nyaman dan senang itu lebih utama dari pada memaksakan diri "
Si bungsu menatapku penuh makna, dengan segenap hati ku sambut dengan memegang tangannya erat. sambil tersenyum kepadanya.
Jangan takut nak... Ada ibu..
Izinkan ibu menebus semua kesalahan...
Teringat selama ini aku menyuruhnya terus belajar, membanding bandingkannya dengan kakak, aku yang merasa tak puas akan nilainya yang biasa saja, aku tak pernah memujinya.. Bahkan dengan hobi melukis yang disukainya aku tidak pernah bersungguh sungguh mendukungnya. Selama ini aku.. merasa sudah menjadi ibu yang luar biasa, namun ternyata aku tak lebih dari seorang diktator bagi mereka. Kini.. Kubuka hati.. Bahwa Mereka bukan mesin, mereka tidak harus pintar dan hebat.., tapi harus jujur pada dirinya sendiri, harus menjadi dirinya... tanpa paksaan dari orang lain.
Hujan rintik di siang hari yang cerah, kami berlari kecil menuju pohon besar di seberang gerbang sekolah. Berteduh sambil bercerita, melepas rindu atas waktu yang terlewat sudah. Mungkin aku bukan ibu yang sempurna, aku ibu yang payah.. Tapi dalam proses ini aku belajar untuk menerima kelalaianku, menurunkan ego demi anak anakku, memperbaiki kekuranganku meski tetap ada cela. Mungkin rantingku tak selalu kuat menopang suburnya dedaunan , namun ketika ku lihat ada mereka berada di sana, izinkan aku tetap seperti Pohon teduh yang membuat mereka nyaman, terlindungi dari terik dan hujan, yang selalu menjadi tempat kembali di saat lelah berjalan.
Tamat