Cinta membawa segudang luka di hati, membawa ku pada lembah keputus asaan, nadi ku kian terhimpit kala aku mengingat segala sesuatu tentang mu.
***
Aku berjalan sendirian menuju sebuah tepi danau, dimana aku akan melepas rindu dengan kekasih ku, yang selama berhari-hari tak ku temui.
Aku mengedarkan padangan ke sekitar, hamparan air danau nampak menghijau karna pantulan dari dedaunan yang mengelilingi tempat ini.
Hawa sejuk begitu terasa, karena ini masih cukup pagi, aku sengaja mengajak nya bertemu, pukul 9:30 aku ingin banyak menghabis kan hari dengan nya.
Aku menengadah menatap gumpalan awan-awan putih yang berpendar di angkasa mengusir rasa bosan yang mulai mendera.
Waktu terus berjalan, hingga hari mulai menggelap.
"Kamu benar-benar keterlaluan Dion, kamu membuat ku menunggu lama. Hiks... Aku memang bodoh seharusnya aku tidak datang, seharunya aku tidak perlu mendengar kata-kata mu lagi, apa yang kau ucapkan selalu saja kebohongan. Aku membenci mu Dion," lirih ku, isak tangis tak mampu lagi ku bendung. Sungguh aku kecewa dia mengingkari janji yang dia buat sendiri.
Mungkinkah saat ini dia tengah bersama wanita lain? Dan hanya menipu ku, membuat ku menunggu lama di tempat ini.
'Kau bodoh Lea, untuk apa kau masih menunggunya di tempat ini. Dia pasti mengulangi hal yang sama, kau mencintai seorang Play Boy, tentu saja cinta mu hanya akan berbuah luka,' batin ku bergumam.
Aku menyeka air mata dengan punggung tangan ku, napas ku kian tersendat, sungguh aku kecewa aku terluka, aku di hianati untuk ke sekian kali nya.
Aku sudah akan beranjak pulang, namun sebuah suara menghentikan langkah ku.
"Leana," panggilnya lirih. Itu dia, akhirnya dia datang menyebalkan.
Aku tidak menggubrisnya dan tetap melangkah karena kesal.
"Lea, kau tidak merindukan ku sayang," ucapnya.
Seketika aku berbalik seraya melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Cih, kau selalu seperti ini, aku yakin kau bersama wanita lain kan tadi. Hingga kau lupa pada ku, aku menunggu mu sejak setengah sepuluh pagi dan lihat sekarang, ini sudah pukul tujuh malam," geram ku.
"Sudah cukup Dion, aku tidak ingin terluka lagi oleh mu. Aku sudah terlalu banyak merasakan luka dari mu. Aku ingin kita putus...!"
"Lea aku tau aku salah, maaf sayang tapi jangan katakan putus hari ini. Aku ingin bersama mu malam ini dan aku janji pada mu mulai sekarang kau tidak akan mengeluh lagi tentang ku," ucapnya.
Aku menatap netra kembar itu, mencari celah ke bohongan di dalamnya. Namun, entah mengapa aku selalu luluh di buatnya, pandangan nya yang meneduhkan, membuat rasa kecewa ku lenyap seketika.
"Baiklah, aku memaafkan mu Dion. Tapi, jangan ulangi lagi sampai kapan pun," ucap ku ketus.
"Tentu sayang, kau tak akan lagi memiliki keluhan untuk ku," ucapnya tersenyum kaku.
"Kau tidak membawa apa pun? Coklat atau bunga?" ucap ku seraya menilik gestur tubuhnya, dia hanya datang tanpa membawa apapun, uh sungguh tidak romantis.
"Maaf sayang aku lupa," dia nampak merasa bersalah.
"Sudahlah, kau memang selalu seperti itu," ucap ku kesal.
"Mungikin aku memang tidak bisa memberi mu coklat atau bunga karena aku tidak bisa membawa nya," lirihnya, wajah nya terlihat sedih.
Dan lagi-lagi aku luluh, kemarahan ku menguap ke udara.
"Sudahlah tidak papa," ucapku.
Dan kami pun duduk di bawah sinar bulan, menikmati kebersamaan kami, yang sementara ini. Bercengkarama dan mengucapakan kata-kata romantis, hingga tak terasa waktu tlah larut.
"Dion aku harus segera pulang ini sudah malam," ucap ku.
"Ayo aku antar," ucapnya seraya tersenyum, entah mengapa sejak tadi dia tidak menggengam tangan ku, biasanya jika kami sedang bedua dia tak pernah melepaskan tangan ku di genggaman nya. Tapi, aku terlalu malu untuk menggenggam tangan nya lebih dulu.
Kami pun berajalan berdampingan, suasana nampak sepi, rumah ku memang tidak terlalu jauh dari tempat ini, aku masih bisa berjalan kaki untuk sampai ke rumah ku. Di tengah perjalanan kami, aku melihat keramayan di ujung pandangan.
"Dion ada apa di sana, mari kita lihat," ajak ku. Dion hanya mengangguk sebagai jawaban.
Aku berjalan menghampiri kerumunan orang-orang itu.
"Permisi Pak. Ini ada apa aya?" tanya ku pada seorang Pria paruh baya yang ada di sana.
"Ada kecelakaan Neng, kaya nya dia korban tabrak lari, bahkan motornya hancur," ucap si Bapak.
"Orang mana Pak, orang kampung sini?" tanya ku lagi.
"Sepertinya bukan Neng, Bapak jarang melihatnya," aku mengangguk-anggukan kepala ku.
"Sepertinya dia akan menemui Pacarnya, lihat dia membawa coklat dan bunga," ucap salah seorang warga.
"Ia benar!" ucap semua orang. Aku yang merasa penasaran lantas menyeruak di antara kerumunan orang-orang itu.
Ceceran darah di mana-mana, serta serpihan bagian-bagian motor nampak berserakan di jalanan ini. Orang-orang tak berani menolong karena ini kasus Polisi.
Aku merasa mual kala aku melihat darah dan potongan tubuh yang terpisah. Namun, aku merasa mengenali tubuh ini.
Deg...Deg...
Pikiran apa ini bodoh. Dion berasama mu sejak tadi.
Seseorang tersenyum di hadapan ku, sejak kapan Dion ada di sana, bukannya tadi dia ada di belakang ku.
"Sudah ku bilang, kau tak akan lagi mengeluh tentang ku," ucapnya parau.
"DION....!" terakku aku langsung mengahampiri jasad Dion yang sudah hancur separuh, perasaan jijik dan mual ku hilang seketika di ganti dengan perasaan hancur dan terluka.
"Dion...Dion, tidak ini bukan kamu. Kamu ada di hadapan ku Dion dan kamu masih bicara dengan ku," ucapku pada Roh Dion.
"Itu benar aku Lea, aku datang ke sini sejak pagi. Namun, aku mengalami kecelakaan, dan tak ada yang menolongku, karena tempat ini sepi. Maaf Lea, itu coklat dan bunga yang kau inginkan. Ambilah!" ucapnya.
"TIDAK...AKU TIDAK INIGIN COKLAT DAN BUNGA, aku ingin dirimu Dion," aku berteriak seperti orang gila.
Semua orang nampak diam dan membiarkan diri ku meratapi kepergian ke kasih ku, mereka menatap iba pada ku, mungkin karena mereka tidak bisa melihat Roh Dion bersama ku, mereka pikir aku sudah gila, karena bicara sendiri.
"Maaf sayang, ini sudah takdir. Kita tidak bisa bersama lagi, namun satu hal yang harus kau tau. Aku tidak pernah menghianati mu, kau hanya salah paham pada ku. Aku mencintai mu Leana, Selamat hari Valentine, untuk kita," Dan di detik itu juga Roh Dion lenyap bak sebuah asap tertiup angin hilang tak berbekas.
Aku meraungkan tangis, dada ku terasa sesak. Sungguh aku tak mampu menanggung luka separah ini, bawa aku berasama mu Dion...