๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ข๐ฅ๐๐ก ๐๐ค๐ฎ ๐ฌ๐๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐ค๐๐ฎ ๐ซ๐๐ฅ๐ ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐๐ฎ๐๐๐ค๐ค๐ฎ. ๐๐๐ฆ๐๐ง๐ฎ๐ก๐ข ๐ฌ๐๐ ๐๐ฅ๐ ๐ค๐๐ข๐ง๐ ๐ข๐ง๐๐ง๐ค๐ฎ, ๐๐๐ง ๐ฆ๐๐ง๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ญ๐ข ๐ฌ๐๐ ๐๐ฅ๐ ๐ฉ๐๐ซ๐ข๐ง๐ญ๐๐ก๐ค๐ฎ. ๐๐ข๐ค๐ ๐๐ค๐ฎ ๐ค๐ ๐ง๐๐ซ๐๐ค๐, ๐ค๐๐ฎ ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ก๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐ฉ๐๐ฅ๐ข๐ง๐๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ฎ.
-๐๐๐ฅ๐ฅ๐- โค๏ธ
๐๐๐ฅ๐๐ฆ๐ ๐๐ค๐ฎ ๐ฆ๐๐ฌ๐ข๐ก ๐๐๐ซ๐ง๐๐ฉ๐๐ฌ, ๐๐ค๐ฎ ๐๐ค๐๐ง ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐ซ๐ข๐ค๐๐ง ๐๐ฉ๐๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ฎ ๐ฆ๐ข๐ง๐ญ๐, ๐๐๐ง ๐๐ค๐๐ง ๐ฆ๐๐ฅ๐๐ค๐ฌ๐๐ง๐๐ค๐๐ง ๐๐ฉ๐๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ฎ ๐ฉ๐๐ซ๐ข๐ง๐ญ๐๐ก๐ค๐๐ง. ๐๐๐ซ๐ ๐ข ๐๐๐ง ๐ฆ๐๐ฅ๐จ๐ฆ๐ฉ๐๐ญ ๐ค๐ ๐ฅ๐ฎ๐๐๐ง๐ ๐ง๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐๐ค๐ฎ ๐๐ค๐๐ง ๐ฆ๐๐ง๐ ๐ข๐ค๐ฎ๐ญ๐ข๐ฆ๐ฎ.
-๐๐๐ฐ๐๐ซ๐-โค๏ธ
Jangan lupa dukung dengan Like dan komentarnya readers yah ๐ thanks
***
Bella meringkuk dalam sudut toilet, dia telah menghabiskan waktunya untuk meraung dan terisak-isak dalam kamar mandi. Tetapi, kesedihannya belum lenyap seketika. Kala, nama Edward hadir begitu saja dalam benaknya. Sepasang mata gadis itu membola gelap dan kejam seketika. Seakan dia teringat akan sosok pelindung bagi dirinya, yang rela melakukan segalanya untuknya.
Bella meraih ponselnya. Telunjuknya bergetar menekan satu nama dalam daftar kontak. Tidak lama panggilan tersambung.
"๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ข๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐ฆ, ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ...," sambut pria di seberang sana. Sosoknya terlihat berkacamata dengan kemeja kotak-kotak yang berdiri di toko bunga dengan satu batang coklat di tangannya, dan satu tangkai mawar di tangannya.
"Hmm." Bella mengatur napas.
"๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ช ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ฐ๐ฌ๐ญ๐ข๐ต, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ณ ๐ค๐ฐ๐ฌ๐ญ๐ข๐ต ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ข๐ด ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข๐ข๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ช ๐ด๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ช ๐ฎ๐ข๐ธ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ณ๐ช, ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ช ๐ฎ๐ข๐ธ๐ข๐ณ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฃ๐ถ๐ต ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ถ๐ณ๐ช, ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ."
Bella mengatur napasnya, menetralkan suara tenggorokannya, dan menarik napas lebih banyak ke dalam paru-parunya, sebelum akhirnya dia menuturkan apa yang dia inginkan.
"Aku tidak membutuhkan cokelat dan mawar lagi untuk membuktikan betapa banyaknya cinta dan perhatianmu kepadaku."
Hening. Pria itu melepas kacamatanya,dan sepasang mata hitamnya terlihat tajam dan kapan saja meludah api neraka.
"๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด?"
"I-iya!"
"๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ?"
Bella menghela napas. Isak dalam tenggorokannya, dia telan dan jatuhkan ke dalam dasar perutnya, "Aku ingin kau menghabisi mereka."
"๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข?"
"Mereka adalah sepasang orang bodoh yang mengejekku. Habisi mereka pada malam ini. Barulah aku akan membukakan pintu rumahku untukmu."
"๐ -๐บ๐ข ... ๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ช ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข."
Kemudian, Bella mengakhiri panggilan dan mengirimkan informasi kepada Edward, kekasih gelapnya yang terlihat polos dan berwajah lugu. Namun,di balik semua penampilannya, dia hanyalah budak cinta dengan hati iblis.
***
Edward meremas tangkai mawar di dalam tangannya. Meremas hingga membuat telapak tangannya berdarah dan berlubang-lubang karena setiap durinya menancap tertanam dalam daging telapak tangannya.
"Aku akan memberi kematian bagi setiap orang yang menyakiti orang yang aku cintai."
Gelap. Sepasang mata terlihat gelap, dan di ikuti warna muka yang terlihat murka dan kehilangan wajah polos dan lugunya.
Kacamata berbingkai jatuh begitu saja ke tanah. Di susul sebatang cokelat dan setangkai mawar yang jatuh ke tanah pula. Edward pergi dengan membawa tangannya yang terluka dan berdarah-darah dan menuju rumah pohon miliknya, persembunyian kekuatannya di sana.
Edward memanjat dan melompat masuk ke dalam rumah pohon yang terlihat berdebu dan reyot. Dia pun harus melangkah dengan hati-hati, agar keseimbangan rumah pohon itu terjaga, dan pijakan kakinya tidak menghancurkan lantai papan kayu tersebut.
Edward berjalan menuju batang pohon yang melingkar dan menjulang bak pilar penyangga rumah pohon. Terlihat lubang besar dalam batang pohon yang menjadi sarang burung. Dia membuang sarang burung tersebut ke tanah. Perlahan tangan ringkihnya masuk ke dalam lubang pohon. Merogoh dan mencari sesuatu.
"Kyaaa!" jerit Edward kala dia merasakan runcingnya gigi yang menancap kuat pada daging tangannya. Hanya untuk pertama kali dia berteriak, selanjutnya Edward menahan setiap rasa sakit dan tercabik. Dia telah merelakan tangannya, menjadi mangsa sang penunggu pohon tua yang mampu memberikannya kekuatan.
"Minumlah darahku, dan jadikanlah tanganku menjadi santapanmu."
Mata Edward membulat kejang, kala terdengar bunyi ๐๐ญ๐ฆ๐ฌ! bunyi tulang setiap jemari miliknya di patahkan dan di remuk dalam mulut bergigi tajam yang mencabik mengunyah dengan cepat, dan terlihat sangat rakus, ๐๐ณ๐ฆ๐ด๐ด๐ฉ ... ๐ฌ๐ณ๐ฆ๐ด๐ฉ!
Edward meringis, sepasang bola matanya seakan telah melompat dari perumahannya, mulutnya terbuka lebar seakan mencari udara akan setiap rasa sakit yang membuat dirinya sesak dan ingin menangis.
๐๐ญ๐ฆ๐ฌ! "Kyaaaa!" jerit Edward tak tertahan lagi akan gigitan yang telah memutuskan pergelangan tangannya. Dia segera menarik tangannya, dan hanya tersisa pergelangan tangan dengan darah yang terus mengalir. Dia elah kehilangan setiap jemari beserta punggung tangannya.
"Kau telah kehilangan tangan milikmu," tegur sosok hitam bertaring rumcing dari dalam pohon.
Edward menganggukkan kepala.
"Apa kau menyesal?"
Edward menggelengkan kepala. Tanpa sadar tangan kirinya meraba kepala kirinya. Dia telah kehilangan daun telinganya, semenjak pertama kali dia memohon bantuan sosok penguasa udara kegelapan ini.
"Pertama kali kau kehilangan daun telingamu. Hari ini kau kehilangan tanganmu. Jika kau meminta lagi. Maka aku akan memakan jantungmu!"
Edward membisu sesaat, "Aku selalu menyetujui syaratmu. Jantungku pun ku berikan untuk Bella."
Sosok hitam itu berhembus keluar dari lubang pohon dan menampakkan wujudnya yang sama persis dengan Edward. Mereka tampak seperti saudara kembar, "Kau terlalu mencintai gadis itu."
Edward melengkungkan senyumnya, teringat akan sosok gadis yang telah menduduki posisi ratu di hatinya. "Bagiku cinta bagaikan mengirimkan kematian. Tanpa dia, aku ikut berhenti bernapas."
"Ha ... Ha ... Ha ... cinta itu akan membunuhmu," peringat sosok hitam tersebut yang kemudian berhembus kembali menjadi sosok angin bewarna hitam dan berkabut. Lalu, perlahan merasuki raga Edward dan mereka menyatu dalam waktu sangat singkat.
Bagai kekuatan baru yang besar merasuki Edward, di ikuti dengan sifat kegelapan yang menyelimuti dirinya, menidurkan jiwa polosnya, dan membangunkan kebengisan dalam dirinya. Dengan percaya diri, Edward melompat turun dari rumah pohon. Tanah bergetar ketika pijakan itu datang dalam satu injakan.
"Aku akan membunuh di hari kasih sayang!" tekad Edward yang telah kehilangan kepolosannya. Dia terlihat mengerikan dengan salah satu tangannya yang telah buntung, dan hanya memiliki satu daun telinga. Apalagi, sepasang matanya terlihat gelap dengan warna retina yang telah berubah bewarna merah. Dia telah bersiap meludah api ke atas tanah, dan membakar setiap ilalang yang berada mengelilingi setiap kakinya yang terlihat jenjang dan kurus.
Di saat matahari telah tenggelam di barat, di saat itulah Edward memberikan kedipan matanya pada semesta. Lalu, raganya telah berpindah ke suatu Villa yang berada di pinggiran danau.
Sepasang mata Edward terlihat berkilat keji. Kaki jenjangnya melangkah ke sisi jendela. Dari luar dia bisa mengintip sepasang pria dan wanita, yang di maksud Bella. Mereka terlihat bersulang anggur merah , dan bertukar cokelat dalam mulutnya.
"Malam kasih sayang terakhir untuk kalian!" Edward tersenyum miring, dan ๐๐ญ๐ฆ๐ฑ! Lampu telah padam serentak, dan setiap jendela kembali mengatup dan menyatu dengan kusen, ๐๐ญ๐ข๐ฎ!
Beberapa detik kemudian, ๐๐ญ๐ฆ๐ฑ! Seluruh lampu kembali menyala berkedip-kedip, dan setiap daun pintu dan daun jendela terlihat bergetar kuat dan bergerak buka tutup berulang-ulang kali.
"Ada apa ini, Jack?" sang wanita dengan kimono pakaian tidurnya, bangkit berdiri lebih awal dan raut wajahnya terlihat gelisah karena rasa takutnya.
"Mungkin sedang badai, San." Jack ikut berdiri dan akan memeriksa apa yang terjadi di luar sana. Baru saja dia berjalan ke arah pintu utama, ๐๐ญ๐ฆ๐ฑ! Lampu kembali padam, dan terdengar teriakan kekasihnya.
"Kyaaaa!" San menjerit seketika dia merasakan batang lehernya di cengkram kuat. "Jack! To-toloong a-aku!"
Jack berbalik kembali ke ruang tamu, dan yang dia lihat kini, hanyalah tubuh San telah bergantung di bawah lampu kristal gantung dengan ujung kerah kimono yang terkait. Terlihat San diam bergantung dia tas. Rambutnya tergerai panjang menutupi seluruh wajahnya.
Bergindik. Jack bergindik ketakutan dan cemas menyelimuti dari punggung hingga hatinya, "San ... Apa kamu tidak apa-apa?"
San hanya membisu bergantungan di atas langit-langit. Jack berjalan mendekat, ingin memastikan apa yang terjadi dengan kekasihnya, San.
"San ...," panggil Jack kala raganya telah berada tepat di bawah kaki kekasihnya. Dari bawah, Jack bisa melihat wajah yang terlihat pucat yang terhalau oleh rambut hitam milik San.
Jack berhenti bernapas. Dia tidak yakin akan apa yang dia lihat dan apa yang telah terjadi dalam waktu yang singkat.
"Kau tidak mati kan?" tanya Jack ragu. Tangan Jack mulai gemetar. Namun, dia membulatkan tekadnya menyentuh pergelangan kaki kekasihnya. Dingin. Sangat dingin. Seperti telah menjadi mayat yang terbaring kaku, dan kehilangan suhu tubuhnya.
๐๐ฆ๐จ! Jack membolakan matanya. Seluruh raganya ikut kosong. Ketika, hatinya mulai menebak-nebak jantung San telah berhenti berdetak.
"Kau mati?" Jack menggelengkan kepala. Tidak ingin percaya. Namun, kematian San terlihata nyata. Jack mengedarkan sepasang matanya secara acaka. Setiap matanya terlihat gelisah dan takut, dia terlihat mencari-cari sosok kasat mata yang telah membunuh San.
"Siapa kau? Jangan bunuh aku!" Jack meraih botol anggur di atas meja. Namun, ๐ฃ๐ณ๐ข๐ฌ! tiba-tiba saja tubuh San yang bergelantung jatuh menimpa tubuh Jack. Posisi tubuh San berada di atas tubuh Jack, dengan kepala wanita itu bersandar lunglai tepat di atas bahu pria tersebut.
Jack terbaring kaku sesaat. Dia mampu merasakan tubuh San telah berada di titik paling beku. Dia segera akan mengindahkan tubuh San. Namun, tiba-tiba saja tubuh San terasa sangat sulit di gerakkan, dan sangat berat.
Tiba-tiba saja kepala San terangkat mendongak kepadanya. Sepasang mata Jack ingin melompat. San tampak hidup lagi. Tatapan matanya kosong, bibir pucat pasi itu menyeringai, dan tak lama dia menunjukkan taringnya.
๐๐ญ๐ฆ๐ฃ! Jack terbelalak ketika sepasang taring San telah melubangi daging lehernya, dan wanita itu mencabik-cabik dengan sepasang taring seakan menemukan daging yang sangat empuk dalam mulutnya.
Jack berusaha mendorong. Namun, San telah berubah menjadi tubuh gagah yang memiliki kekuatan besar. Dia terus di tekan, dan setiap pergerakan nya di kunci. Lalu, ketika kepala San mendongak menunjukan taring dengan bibirnya yang terlihat berlepotan dengan kulit daging leher dan darah segar miliknya, membuat Jack mual, jijik, dan bersiap akan muntah segera.
"K-kau ib-iblis!" teriak Jack dan menabrakkan keningnya pada San. Lalu, mendorong dan menggulingkan tubuh wanita itu ke sisi kirinya. Jack segera berdiri dengan kekuatan tersisanya,dia berjalan terrgopoh-gopoh menuju pintu utama, dengan telapak tangan yang terus memegang batang leher, menutup luka tercabik dan berusaha menghentikan pendarahan miliknya.
Sementara itu, sosok Edward dalam kegelapan merangkak keluar dari tubuh San. Dia hanya tersenyum keji, kala mendapati mangsa terakhirnya telah mencapai garis pintu utama. Dia berjalan tanpa suara di belakang pria itu. Pria itu dengan gelisah memutar anak kunci pada pintu utama.
"A-aku harus ke-luar dari Vi-villa setan ini ...," tekad Jack, dan ๐๐ญ๐ฆ๐ฌ! pintu berhasil terbuka. Jack menarik daun pintu terbuka lebar. Jack bagai melihat badai terlihat di depan matanya. Angin berhembus keras dan menyusupkan hawa sangat dingin pada tekuknya . Setiap daun kering mengambang dan berputar-putar di udara. Pohon bergerak-gerak berliuk-liuk ke kiri dan ke kanan seperti bersiap-siap di patahkan oleh pemilik semesta.
Jack menghela napas. Napasnya terdengar hanya sisa satu-satu, darah dari daging lehernya terus merembes jatuh ke tanah melalu celah-celah setiap jemari panjang kurus tangan miliknya.
"Aku ti-tidak boleh mati," tekadnya gemetar menembus badai angin di depan matanya. Setiap debu melayang terbang dan mengitari dan menyerang wajahnya. "Ah .... mataku sakit," kerjap Jack meringkuk jatuh ke tanah. Dia terlihat mengucej-ngucek matanya, berusaha membersihkan debu kotoran yang menghalau pandangan.
"Jack!" sapa suara yang terdengar besar dan menggelegar. Jack terkesiap. Pandangannya sekejap menjadi jelas, dia terus menunduk dan mendapatkan ujung sepatu kets seorang pria yang berjalan mendekat padanya. Takut dan gemetar segera menyelimutinya.
"A-apakah aku pernah menyakitimu?" Jack mengangkat kepala. Dia melihat sosok bengis di depan matanya. Sepasang mata pria itu merah. Daun telinganya hanya satu. Salah satu tangannya buntung. Namun, tangan lainnya memiliki kuku panjang yang sangat runcing.
"Ki-kita tidak saling mengenal," gagap Jack. Dia merasa sangat asing dan tidak pernah menyinggung pria berhati iblis ini.
"Membenci tidak perlu saling mengenal."
"...."
"Tetapi kau mengenal Bella. Kau menyakiti hati wanita-ku!"
Jack mengerjapkan, satu nama yang di sebutkan terdengar familiar di telinganya, dan dia segara merangkak mundur menjauhi setiap langkah kaki pria itu yang terlihat berburu dalam setiap napasnya.
"A-aku min-minta maaf. A-ku hanya ber-ca-canda mengatainya. A-aku tidak bermaksud menyakiti hatinya."
Edward tersenyum miring. Matanya menyipit mendapatkan kebohongan pria kurus yang tersudut untuk menyerah.
"Itulah kesalahanmu. Bercanda untuk menyakiti hatinya. Kau inginkan bagaimana cara kematianmu? kematian singkat atau kematian yang perlahan ?"
Jack menggelengkan kepala.
"Pilih salah satu. Atau aku akan memilih menyiksamu lebih lama, dengan menyisakan napasmu agar terus meringis dan menangis minta tolong."
Jack berhenti bernapas. Dia telah tersudut dan hanya mengerjapkan sepasang matanya yang telah berair, "Le-lepaskan a-aku!"
Edward menggelengkan kepala, "Kau hanya boleh menjawab Singkat atau perlahan?"
Jack menelan isak dan ludahnya. Seakan tidak ada pilihan, dia menjawab dengan air mata yang berurai jatuh ke tanah, "Singkat!"
Edward tersenyum simpul. Satu kukunya mengacung dan langsung menusuk jantung Jack, dan mengobrak-ngabrik daging pria itu, melubanginya.
Jack terlihat kejang saat dia merasakan betapa runcing kuku pria itu menusuk dagingnya dan mencuri jantungnya, dan sepasang matanya membola kala jantung tersebut di tarik keluar dari rumahnya. ๐๐ญ๐ข๐ด๐ด! Jack kehilangan napasnya. Matanya terlihat kosong perlahan dan kehilangan kehidupannya.
Edward menarik jantung tersebut dan memakannya dengan rakus dan cepat. Setelah dia menghabiskan santapan jantung dengan darah segar tersebut. Dia melempar tubuh Jack ke danau.
"Semoga tenang di alam sana," salam Edward melambaikan tangan pada raga Jack yang larut perlahan dan tenggelam ke dasar danau.
Edward menyeka setiap bercak merah yang tertinggal di mulutnya, dan meludahkan ampas daging jantung yang terselip pada setiap giginya.
"Keluarlah dari ragaku. Aku ingin berkencan pada hari Valentine."
๐๐ธ๐ฐ๐ด๐ฉ! sosok hitam dengan postur terlihat tinggi besar mencapai langit keluar perlahan dari raga Edward. Sosok itu terkekeh, dan berkomentar tajam memperingati Edward, "Sekali lagi kau meminta bantuanku. Maka jantungmu lah yang akan menjadi makananku!"
Edward hanya membelotkan lidah dalam mulutnya. Dia melihat salah satu tangannya yang buntung. Tidak ada kesedihan dan rasa sakit di sana, hanya kepuasaan yang telah terbayar di sana.
"Untuk cinta ... Nyawapun akan ku berikan!"
"Cinta itu membuatmu jatuh bodoh, ha ... ha ... ha...." kekeh Sosok hitam itu lalu berhembus ke udara dan hilang dalam hitungan detik.
Angin kencang mulai mereda. Bagai badai yang telah berlalu, hanya semilir angin yang bertiup-tiup menerbangkan setiap helai rambut Edward.
Edward tersenyum melihat permukaan air danau terlihat tenang setelah menguburkan satu raga ke dasar danau. Tidak sabar akan berita yang menyenangkan ini, dia segera merogoh ponselnya dan menekan nama Bella pada kontaknya.
Tidak lama panggilan tersambung. Edward menjadi kaku sesaat, terdengar suara Bella menangis di seberang sana.
"Ada apa lagi?"
"๐๐ฅ๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ...," ujar Bella lirih dan terisak di ujung kalimatnya.
Edward mendongakan sepasang matanya mengadahkan ke langit, "Aku akan melakukannya untukmu!"
"๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ท๐ข๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐ฆ. ๐๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข."
"I-iya!" jawab Edward dengan satu tangan kirinya yang buntung meraba jantungnya.
****
Tamat
Hari Valentine temanya Bucin ๐. Senengnya dapat yang bucin ... nangis dikit, di belain โค๏ธ