Aku merasa tidak nyaman, saat ku tolehkan wajahku ke belakang. Lelaki itu tersenyum miring padaku. Aku kembali menghadap ke depan, melanjutkan menyantap semangkuk sup ikan yang aku pesan.
Malam ini cuaca sangat dingin , aku pergi ke warung sebelah asramaku. Sekedar menuruti lidahku , yang rasanya ingin menikmati hidangan sup di warung ini, karena sangat cocok sekali, bila di nikmati dalam suasana dingin seperti malam ini.
Aku bekerja sebagai pegawai honorer di suatu instansi dekat dengan asrama.
Sup ku sudah habis, aku segera memanggil pelayan, untuk membayar tagihannya. Aku berdiri dan akan berjalan keluar dari warung ini. Kulitku merinding, seakan hawa dingin memelukku. Aku peluk diriku sendiri, untuk mencegah hawa dingin semakin membuatku lebih dingin.
Lagi lagi bulu kudukku berdiri, seakan seseorang meniupkan nafasnya ke leherku. Seketika tanganku terulur menyentuh tengkuk leherku. Aku kembali menoleh ke belakang, dan tidak ada siapapun di sana.
Aku bergegas masuk dan dengan tergesa gesa aku menutup pintu.
BRAAK
Daun jendela begitu saja terbuka, membuat aku terkejut setengah mati. Jantungku seketika berdegup kencang, di sertai dengan rasa was was.
" Siapa di sana?" ,teriakku sedikit keras. Hanya semilir angin yang menjawab sapaanku. Aku berjalan menutup jendela tersebut ,lalu menguncinya dengan benar.
***
Pagi hari, seperti biasa aku pergi bekerja. Aku berjalan kaki karena jaraknya hanya beberapa meter dari Asrama. Perasaanku merasa tidak nyaman ,seolah ada orang yang berjalan mengikutiku. Aku sengaja berhenti ,bermaksud menunggu sosok manusia itu muncul.
Lagi lagi aku kecewa, tak seorangpun muncul kemudian. Tapi tidak lama, Fania ,temanku berjalan cepat menyusulku.
" Aku panggil dari tadi kamu tidak dengar, Carol."
Aku kini merasa lega. Lalu kami berjalan bersama sama, menuju tempat kerja kami.
***
Sore hari, kami pulang bersama- sama lagi . Dan setelah ini, kami berjanji akan pergi membeli peralatan tulis yang sudah habis,untuk Instansi.
Sepulang dari toko peralatan tulis, aku melihat lelaki itu sedang duduk, sambil berbincang dengan 3 orang di hadapannya, di sebuah Restaurant di depan toko ini. Aku menghela nafasku, merasa lega.
Kemudian kami berjalan lagi ,hendak pulang. Handpone Fania berbunyi ,ketika kami baru setengah menempuh jarak pulang ke Asrama.
Fania lalu pamit, dan terpaksa kini aku berjalan sendiri. Kedua tanganku sibuk memegangi se kardus berukuran tanggung, yang berisi buku , kertas dan tinta.
Entah sejak kapan, tiba tiba saja ,lelaki itu kini muncul di hadapanku , membuat jantungku akan meloncat ke bawah.
" Hah...kamu!" , Aku memekik, terkejut, marah dan panik. Membuat kardus itu jatuh ke bawah.
Kedua tanganku seketika berada di depan dadaku, seolah mencegah jantungku agar tidak jadi jatuh ke bawah, karena berdegup sangat kencang, di iringi mulut dan mataku terbuka lebar.
Aku terperanga, saat lelaki itu berjongkok dan menunduk, membantuku memungut alat alat yang berserakan dan memasukkannya ke kardus.
Lelaki itu kemudian berdiri dan menyodorkan kardus itu kepadaku.
" Te..terima kasih" . Aku terbata bata, mengucapkan terima kasihku. Lalu menerima kardus itu dan segera memeganginya dengan erat.
Lelaki itu tidak berbicara, merespon ucapan terima kasihku, dia lagi lagi menampilkan senyum miringnya ,lagi.
Wajahnya memang tampan, tapi matanya tajam, seolah akan menusukku. Apalagi senyumnya, siapa yang mau berkenalan atau bahkan mau berteman dengan orang semacam itu. Kesannya buruk di mataku.
***
Tiga hari telah berlalu ,dan kejadian itu_pun sudah berlalu dalam ingatanku. Hari ini adalah hari dimana orang sibuk membeli coklat ataupun mawar untuk merayakan hari Valentine . Aku turut gembira , karena suasana menjadi meriah. Banyak tempat umum, menghadirkan hiasan dari kertas ataupun balon berbentuk hati, menghias tempat usahanya, termasuk juga tempat kerjaku.
Aku hanya merasakan suasananya tetapi tidak merasakan bahagianya hati di hari kasih sayang ini. Yah...aku masih belum mempunyai kekasih sampai usiaku sekarang ini.
Rupanya banyak juga pegawai yang ijin pagi ini, dan tugas menumpuk di meja kerjaku. Aku senang, karena itu artinya ,upahku akan di hitung lembur, sebab membantu tugas tugas harian kantor yang harus selesai hari ini. Walaupun pasti nanti aku akan pulang larut malam.
Seorang kurir mencariku, dan memberiku kiriman / paket, yang berisi sekotak coklat dan setangkai bunga mawar merah.
Aku merasa penasaran, siapa yang mengirim hadiah ini. Aku tersenyum ringan membuka kiriman / paket ini, menyangka itu adalah perbuatan temanku yang sengaja mengerjaiku agar aku senang.
Awalnya aku ingin membuka kotak yang berisi coklat, dan memakannya . Tapi aku urungkan, sengaja menundanya, menikmati manisnya coklat di hari Valentine ini, sebelum aku tahu siapa orang yang mengirimnya.
Siapa tahu ,paket ini untuk temanku, dan hanya di titipkan saja kepadaku. Aku tidak mau ,nanti perutku sakit , karena memakan yang bukan hak ku. Aku kemudian meletakkan coklat itu ke dalam laci kerjaku ,dan jika ada orang yang menanyakannya, aku bisa memberikannya .
***
Pukul 9 malam , aku baru selesai bekerja. Aku kemudian membereskan meja kerjaku ,mengambil tas ku dan keluar dari ruanganku.
Aku masih berada di lingkungan tempat kerjaku, ketika angin kencang tiba tiba menghantam badanku, dan membawa diriku terbang ke atas dan berputar putar.
Aku merasa sangat terkejut dan seketika menjerit ketakutan.
" Aaaaaa....aaaaa...aaaaa..." , hingga suaraku serak, dan aku tidak bisa lagi melanjutkan jeritanku meminta bantuan. Suasana tiba tiba gelap, karena tiba tiba saja ,lampu lampu yang menerangi Instansi itu mati, di sertai lampu jalanan pun juga mati.
Badanku terjatuh, dan aku tersungkur di tanah. Segerombolan orang berjubah hitam, datang dan mengerumuniku.
Aku ketakutan, dan jantungku berdegup kencang. Suaraku hilang, jadi aku hanya bisa membelalakkan mataku, dan mulutku terbuka lebar.
Lelaki itu muncul tiba tiba, lalu mengucapkan kata perintah ,dan langsung membuatku beringsut mundur , ingin melarikan diri ,
" Bunuh dia!"
***
" Si..si..siapa kau, kenapa kau ingin membunuhku?" tanyaku sambil ketakutan.
Lelaki itu maju menghampiriku, lalu mencengkeram rahangku. Tatapannya tajam melihatku.
" Kamu sudah lupa denganku?, bukankah kita pernah bertemu malam itu.?"
" A..aku...tidak tahu...", jawabku terbata bata.
Lelaki itu nampak kecewa mendengar jawabanku, lalu dia segera melepaskan cengkramannya dengan kasar. Lelaki itu kemudian berbalik membelakangiku, dan menautkan kedua tangannya ke belakang punggungnya, dia kemudian berbalik lagi ke hadapanku, lalu mengayunkan kakinya mengitariku, sambil berkata,
" Kau benar - benar sudah lupa,..heh...sayang sekali...tapi tidak mengapa..karena sebentar lagi kau tidak akan lupa dengan hari hari kita bersama."
" A...apa maksud kamu..." Balasku bertanya, karena semakin tidak mengerti dengan ucapannya.
Lelaki itu kemudian berhenti, lalu mendekatiku, dan memajukan wajahnya dekat sekali dengan wajahku.
" Perhatikan baik baik diriku,...dan kamu akan segera mengingatnya."
Aku tidak berkedip memperhatikannya, dan ingatanku bekerja keras membuka memori ingatan.
Cukup lama...hingga akhirnya aku menemukan dia ada dalam hidupku sebelumnya.
" Ka...kamu...kamu adalah James, kekasihku yang dulu..." Jawabku kemudian.
Lelaki yang adalah James itu tertawa puas, ..seolah bebannya sudah terangkat.
" Kamu benar...aku adalah James kekasihmu yang dulu,...tapi sayang sekali ..yang dulu sudah tidak bisa lagi kembali , dan sekarang..kamu juga akan sama sepertiku...." Balas James dengan tertawa miring.
Tangannya kemudian di angkat dan menengadah, sesuatu muncul di tangannya. James kemudian menggenggam benda itu ,dan itu adalah pisau.
" Mau apa kamu....", seketika aku tersentak dan berusaha menghindarinya.
" Lihatlah wajahku baik baik...", Sahut james. Aku menurut dan mulai memfokuskan mataku memperhatikannya.
Berlahan wajahnya berubah rusak dan hancur...
Mulut dan mataku membuka lebar, aku berusaha berdiri, dan akan melarikan diri.
" Aku di bunuh dengan keji, oleh sekelompok penjahat, dan mereka menyiram wajahku dengan air keras, ketika aku akan melamarmu."
" Dan aku berjanji ,aku akan bersamamu dalam kehidupan apapun, karena aku sangat mencintaimu", Perkataan James yang membuat aku ingin segera kabur darinya.
Tanganku dengan cepat tertangkap oleh James , dan orang orang berjubah hitam tadi, segera menangkap badanku, lalu memerangkapku.
" Hentikan..hentikan..." , teriakku meronta , panik dan ketakutan.
James mengarahkan pisau itu ke diriku, lalu menghunusku...
Dalam keadaan meregang nyawa, James menangkapku dan lalu mencium mulutku. Sesuatu di masukan dalam mulutku dari mulutnya.
" Dengan cara ini,..kita akan tetap bersama selamanya.
***
Arwahku terbangun dari jasadku, dan Arwah James segera memelukku...
" Aku sangat mencintaimu Carol...maukah kau terus bersamaku...."
Aku tersenyum mendengar pengakuan James. Memang selama ini ,aku tidak bisa melupakan James. Mungkin ini adalah cinta sejati...dan aku menemukan cinta sejatiku di hari kasih sayang ini.
***
tamat..