JJJDDDAAARRR!!!!!!
Suara petir menghantam yang memekakkan telinga. Disaat bersamaan seluruh listrik di kota Y padam.
"Hiks... Hiks... Kakak.... Kau ada dimana?". Rintih seorang gadis yang memeluk kedua kakinya dikamar gelap sendirian.
Tak tak tak tak..... Suara langkah kaki terdengar dari lantai bawah, suara langkah kaki itu terdengar berat dan terburu-buru. Saat mendengar suara langkah kaki tersebut gadis itu spontan menoleh ke arah pintu kamarnya, dan suara langkah kaki itu tiba-tiba hilang.
Seluruh tubuh gadis itu bergetar, karna takut ia merasa berat untuk berdiri, bahkan gadis itu takut untuk memejamkan matanya.
Gadis itu terus menatap ke arah pintu nya tapi tak ada suara apapun kecuali badai petir diluar. Karna merasa tidak ada apapun diluar kamarnya gadis itu kembali memeluk kedua kakinya dan menundukkan kepalanya sambil menangis ketakutan. Saat gadis itu hampir terlelap tidur, suara langkah kaki itu kembali terdengar, tidak hanya itu suara langkah kaki itu sekarang terdengar lebih jelas seperti sedang berlari ke arah kamar gadis tersebut.
Gadis itu terkejut saat mendengar suara langkah kaki itu semakin dekat dengan kamar nya.
" Hiks.... Hiks... Hiks.... Kakak.... Kau dimana?, aku sangat takut.. Huhuhu.. ". Tangis gadis itu lantaran tak berdaya karna ia tak Bisa melihat apapun diruangan yang sangat gelap itu.
Suara langkah kaki itu berhenti tepat didepan kamar gadis tersebut, saat bersamaan seseorang membuka pintunya dengan cepat. Gadis itu membeku menatap kearah pintu kamarnya, seluruh tubuhnya bergetar karna takut, air mata nya mengalir tanpa henti, Ia melihat sosok seorang pria tinggi. Lalu pria itu masuk dengan perlahan menuju ke arah gadis yang sudah tidak bisa bergerak sedikitpun karna takut.
" Lily?.... Lily?.... Apakah kau baik baik saja?". Tanya pria itu sambil mendekat secara perlahan. Suara pria itu tidak terdengar jelas karna suara badai petir diluar.
"Tidak!!! Tidak!!!! Menjauhlah dariku, jangan sakiti aku, jangan mendekat! Huhuhuhu". Teriak gadis itu sambil menundukkan kepalanya, kedua tangannya menutupi telinga nya sambil menangis dengan keras.
CCTTAAKK!...... Tiba-tiba lampu kembali hidup. Gadis itu terdiam, ia memberanikan diri untuk melihat Siapakah pria yang masuk kedalam kamarnya. Saat ia mengangkat kepala nya sambil ketakutan ia kembali terdiam sambil menatap pria itu dan langsung menangis.
" KAKAK!!!!! ". teriak gadis itu. Ia bangkit dari kasur nya, berlari menuju kakak nya yang sedang berdiri didalam kamarnya.
" Lily?.... Lily apa kau baik baik saja?, kenapa tadi kau berteriak dan menyuruh ku untuk menjauh dari mu?". Tanya kakak nya bingung.
"Hiks... Hiks... Itu adalah salah diri mu sendiri, kenapa kau tidak bilang jika itu kau, hiks... Aku sangat takut, aku mengira itu bukan kau, suaramu tidak terdengar dengan jelas hiks... Dan aku tidak bisa melihat apapun karna gelap hiks.. Hiks.. ". Jawab gadis itu sambil menangis dan memeluk erat kakaknya.
" Maafkan aku, aku salah karna telah meninggalkan mu, aku melihatmu tidur lebih awal tanpa makan, jadi aku pikir mungkin kau ingin memakan sesuatu saat kau bangun, jadi aku pergi keluar untuk membeli sesuatu yang bisa kau makan. Aku tak mengira jika listrik akan padam". Jelas kakak nya sambil mengelus kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Lily!!! Cepat bangun dan turun untuk sarapan!!!" Teriak kakak nya dari lantai bawah.
Lyli Bolgia, seorang gadis 15 tahun, yang sangat pintar diseluruh mata pelajaran, Ia tidak pernah mengalami masa-masa di SMP karna ia loncat kelas langsung ke SMA berkat kepintaran yang ia miliki, tapi karna ia memiliki tubuh yang sangat lemah ia tidak melanjutkan sekolahnya selama 3 tahun, lagi pula ia sudah loncat 3 kelas sekaligus. keluarganya hanya tersisa satu dan satu-satunya keluarga yang paling berharga bagi dirinya yaitu Leon Bolgia seorang kakak yang lemah lembut kepada adiknya, Lily trauma pada gelap karna kejadian 5 tahun yang lalu terhadap orang tua nya.
Tidak hanya pintar, Lily Bolgia juga sangat cantik dan imut dengan rambut panjang berwarna perak, mata biru bercahaya seperti air laut, dan tubuh ideal yang sangat diimpikan oleh gadis gadis pada umumnya. Lily memiliki sifat seperti anak kecil yang manja dan imut terutama pada kakaknya.
Leon Bolgia, seorang pria 17 tahun, yang sangat pandai dalam semua hal, Leon sangat pintar dalam hal berbisnis, tawar-menawar, seni beladiri, dan juga ia adalah pria yang licik. Leon tak mudah untuk ditipu. Tidak hanya pintar ia juga adalah pria yang sangat tampan, rambut nya berwarna perak seperti Lily, mata berwarna abu-abu bercahaya, dan tubuh nya tinggi. Leon memiliki sifat hati-hati dalam bertindak, tegas. Walaupun ia bersikap tenang dan lemah lembut, ia juga sangatlah mudah untuk marah dan saat ia marah itu akan sangat menakutkan.
"Lily, apa kau ingat hari ini kita akan pergi kemana?". Tanya Leon sambil memasak makanan.
" Hhmmm?.... Pergi? Kita akan pergi kemana?". Tanya Lily bingung, ia duduk di meja makan sambil mengayunkan kaki nya.
"Eehh... Apa kau sudah lupa, bahwa hari ini kita sepakat untuk pindah ke perumahan yang ada di gunung Mao?". Tanya Leon.
" Wahhhh!!!!! Kakak! Ini terlihat sangat enak, apakah aku boleh langsung memakannya?". Ucap Lily dengan riang melihat sangat banyak makanan yang disiapkan kakak nya diatas meja.
"Tentu saja! Makanlah sampai puas, setelah itu pergi bereskan pakaianmu, kita akan pindah hari ini juga". Jawab Leon sambil tersenyum.
10 tahun yang lalu, sebelum mereka pindah ke kota Y. Mereka adalah penduduk desa yang tinggal di gunung Mao. Desa itu disebut sebagai desa Kanamura. Selama di kota Y, rumah yang mereka tempati adalah kontrakan. Tapi setelah kehilangan kedua orang tua. Leon tak sanggup mencari uang yang cukup sambil bersekolah, karna itulah mereka akan pindah ke Desa Kanamura. Di desa mereka masih memiliki rumah sendiri dan didesa itu juga memiliki fasilitas sekolah yang cukup baik.
" Lily!.... Apakah kau sudah siap?!". Tanya Leon dari lantai bawah.
"Aku sudah siap kakak!!, aku akan turun sebentar lagi!". Jawab Lily dari kamarnya yang sedang merapikan barang-barang nya.
" Apakah kau perlu bantuan?!". Tanya Leon
"Tidak! Aku tidak ingin menyusahkan kakak!, aku bisa mengatasi nya sendiri!". Tolak Lily
Satu jam berlalu.......
" Kakak, aku sudah siap". Ucap Lily
"Kau.... Apa yang kau bawa?, bukankah kau bilang aku harus menunggu sebentar, tapi ini sudah 1 jam berlalu, kereta nya sebentar lagi akan berangkat". Ucap Leon pasrah terhadap sifat adik nya yang ceroboh
" Hhmm... Maafkan aku kakak,". Ucap Lily dengan sedih.
"Eh!.... Sudah lah tidak apa-apa, lagi pula kita masih memiliki cukup waktu untuk datang tepat waktu ke kereta". Hibur Leon
Walaupun Leon sudah menghibur nya, tapi Lily tetap merasa bersalah kepada kakaknya itu, dan tetap cemberut.
" Hais... Sudahlah, jangan cemberut lagi, aku tidak marah, ayo tersenyum! Jika kau tidak senyum maka kita tidak akan pergi! ". Ucap Leon berusaha untuk menghibur.
" Hhmm... Baiklah kakak!". Jawab Lily bahagia.
setelah sampai di Desa Kanamura....
"Wahhh!!! Kakak, apakah kita akan naik ke atas!?" Tanya Lily terkejut melihat jalan mendaki yang sangat tinggi.
"Iya.. " Jawab Leon sambil melihat handphone nya.
"Aku tidak akan sanggup!, ini terlalu tinggi! Kaki ku bisa patah! Apakah tidak ada jalan lain?!" Keluh Lily sambil berteriak.
"Hey! Tenanglah, tidak jauh dari sini terdapat tokoh sepeda, kita akan pergi menggunakan sepeda, kau tidak perlu mengeluh dan berteriak seperti itu?!" Ucap Leon sambil menghela napas.
"Syukurlah! Siapa suruh kau baru mengatakannya sekarang! Huh! Dasar bodoh!" Ucap Lily marah.
Lily berjalan didepan dengan diikuti Leon dibelakang. Sudah hampir 1 jam mereka berjalan tapi mereka belum melihat toko sepeda yang dikatakan Leon. Lily berjalan sangat pelan karna lelah, sedangkan Leon ia berjalan dengan santai sambil membawa 2 koper sekaligus.
"Kakak! Apakah kau tidak lelah?!" Tanya Lily yang jauh tinggal dibelakang.
"Tidak!... Apakah kau lelah?! Jika kau lelah bertahanlah sebentar lagi sampai di toko!" Jawab Leon sambil memainkan handphone nya.
"Arrrggghhh!! Aku sudah tidak tahan lagi! Kapan kita akan sampai?! Teriak Lily
Leon melihat kedepan memastikan apakah toko sepeda itu sudah terlihat. Dijalan itu sangat sepi hanya terdapat lapangan yang lumayan luas di kiri-kana jalan. Didepan Leon melihat sebuah toko.
" Lihat toko nya ada didepan! Bertahanlah sebentar lagi" Ucap Leon menyemangati Lily yang sudah hampir punah karna kelelahan.
Leon terus menatap handphone nya. Lily menatap Leon dengan bingung, apa yang dilihat Leon didalam handphone nya. Sejak tadi ia terus melihat handphone nya tanpa henti, seperti sedang melhat sesuatu yang aneh terjadi. Lily ingin bertanya tapi ia merasa Leon sangat serius dan memutuskan untuk bertanya nanti.
"Permisi?!... Apakah ada orang?" Teriak Leon didepan toko sepeda.
Lily duduk di lantai karna sudah tak tahan menahan rasa lelah nya. Ia masih penasaran apa yang dilihat Leon di handphone nya hingga hampir tak mengalihkan pandangannya dari handphone nya itu. Leon terus berteriak memastikan apa ada orang di toko tersebut dan Setelah beberapa saat pemilik toko pun keluar.
"Untuk apa kau berteriak begitu keras?!... Mengganggu tidur ku saja!..." Keluh kesal pemilik toko.
"Maafkan saya paman, saya kira tidak ada orang disini...saya ingin membeli 1 sepeda untuk dipakai keatas gunung" Ucap Leon merasa bersalah.
"Hmz.. Apakah kalian dari kota?" Tanya pemilik toko.
"Haaa.. Betul kami berdua dari kota Y" Jawab Leon tersenyum.
"Kalian pasti lelah bukan?, apa kalian ingin istirahat didalam sebentar, saya akan membuatkan minum untuk kalian?" Ajak pemilik toko.
Leon ingin menolak karna mengejar waktu, tapi ia melihat adiknya yang sangat kelelahan jadi ia menerima ajakan sang pemilik toko.
"Hm.. Baiklah, dan Terima kasih paman" Ucap Leon dengan sopan.
"Baiklah... Kalau begitu bawalah kekasih mu itu masuk kedalam,...sepertinya sebentar lagi ia akan mati kelelahan" Ucap pemilik toko meninggalkan meraka diluar.
"Eeehhhh!!!... Paman kau salah paham ia bukan kekasihku!!!" Teriak Leon malu.
Leon menggendong Lily masuk. Seperti biasa Leon terus melihat handphone nya. Lily sudah tidak tahan lagi dengan sikap kakak nya itu dan bertanya.
"Kakak!... Apakah kau memainkan permainan yang sangat seru hingga kau tidak memalingkan wajahmu dari handphone" Tanya Lily kesal.
"Eehhh......" Leon menoleh, dan menatap Lily dengan serius.
"Apakah kau tuli!, kenapa malah melihatku seperti itu?!" Teriak Lily marah sekaligus merona.
"Aahh..... Kenapa kau marah? Aku hanya menatap mu sebentar saja apakah tidak boleh..... Kau terlalu pelit" Jawab Leon kecewa.
"Bodoh!... Kakak bodohn bodoh bodoh!.... Sudah lah aku tidak ingin bicara padamu lagi!" Lagi lagi Lily berteriak sangat keras.
"Eehh... Kenapa ia malah tambah marah? Apakah aku salah menatap nya sebentar saja, tapi dia manis juga ketika marah" Batin Leon sambil melihat handphone nya kembali.