"Lakukan semua sesuai rencana. Jangan sampai gagal. Aku ingin mereka menerima hadiah dariku." Ucap seseorang misterius yang sedang duduk di dalam sebuah ruang kerja dengan keadaan cahaya lampu yang temaram.
"Baik bos," laki-laki berbadan atletis tersebut kemudian keluar meninggalkan ruangan, dimana seseorang yang dipanggilnya bos sedang duduk membelakanginya.
"Semoga kalian suka hadiahku,"
~~
#11 Januari
3 remaja tampak berjalan diantara banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di dalam bandara. Seseorang pria diantara mereka bertiga tampak sedang menarik sebuah koper pink yang merupakan milik kekasihnya. Mereka bertiga pun berhenti bersama.
"Sayang, kapan kau akan kembali. Jangan berlama-lama di Inggris," Ucap laki-laki bernama Justine yang baru saja menarik koper pink milik sang kekasih.
"Maaf sayang, sepertinya kali ini aku akan pergi jauh lebih lama dari perkiraanku. Oma sedang sakit dan ia merindukanku. Mungkin akhir bulan Februari aku baru bisa kembali." Karen memasang raut wajah cemberut karena harus berpisah begitu lama dari kekasihnya.
"Karen, kau tak akan merayakan Valentine disini bersama kami?" Naomi segera menyahut ucapan sahabat baiknya yang terlihat begitu ingin sekali merayakan valentine bersama mereka.
"Ya, begitulah. Aku tak bisa merayakan valentine tahun ini bersama kalian, seperti tahun kemarin." Karen sedikit kecewa dengan keadaan yang mengharuskannya untuk segera terbang ke Inggris. Naomi yang merasa tak tahan melihat ekrpresi cemberut sahabatnya, ia segera memberikan pelukan hangat untuk memberinya semangat. Justine juga mengusap rambut Karen, sebagai bentuk penyemangat yang ia tunjukkan untuk menenangkan Karen, kekasihnya.
"Sayang, Naomi, aku akan segera berangkat. Kalian jaga diri baik-baik. Jemput aku di bandara saat aku kembali nanti, okee!" ucap Karen berusaha menghibur mereka semua.
"Pasti sayang, aku akan jemput kamu di bandara saat kepulanganmu nanti." Justine mengecup kening kekasihnya.
"Karen, jaga diri baik-baik ya. Sering-seringlah menghubungi kami," ucap Naomi seraya kembali memeluk tubuh sahabat yang akan meninggalkannya itu, Karen mengangguk pelan dalam pelukan Naomi. "Aku akan sangat merindukanmu Karen." Mereka berdua menitikkan air mata kesedihan.
"Bye semua, aku berangkat dulu. Sampai jumpa bulan depan." Karen melambaikan tangan seraya melangkah menjauh dari kekasih dan sahabatnya. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk dapat melihat mereka berdua yang telah turut mengantarnya ke Bandara.
Justine dan Naomi turut membalas lambaian tangan Karen. Mereka berdua tak meninggalkan Bandara sampai bayangan tubuh Karen benar-benar menghilang diantara banyaknya penumpang yang sedang berkerumun.
~~
Tok.. tok... tok...
"Siapa ?? Tunggu sebentar!" Naomi sedikit berteriak dari arah dapur. Ia segera bergegas dengan langkah cepat untuk membuka pintu.
Kriet....
"Siapa?" Naomi terkejut saat mendapati seorang lelaki berdiri di depan pintu rumahnya, dengan membawa sebuah buket mawar merah berukuran besar yang sengaja diletakkan di depan wajah untuk menutupi wajahnya dari Naomi.
"Hallo, Honey! Good Morning!" Laki-laki tersebut menyingkirkan buket yang sengaja ia gunakan untuk menutupi wajahnya, dan berhasil mengejutkan Naomi.
"Waaa, Justine!" Naomi tersenyum girang saat tahu bahwa Justine lah yang datang mengunjunginya. Ia segera memeluk tubuh pria itu, yang tak lain adalah kekasih sahabatnya, Karen. Justine membalas pelukan Naomi dengan mendaratkan kecupan manis di kening Naomi. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah Naomi.
"Sayang, apa kau sudah sarapan?" tanya Naomi yang sedari tadi tak henti menciumi aroma mawar segar dari buket yang dibawa oleh justine.
"Belum, aku lapar sayang. Apa kau mau memasak untukku?" tanya justine dengan nada sedikit manja.
"Tentu! akan akan membuat nasi goreng, lalu kita sarapan bersama!" jawab Naomi dengan penuh semangat.
Mereka berdua pun, asik memasak berdua di dapur. Bahkan Justine kerap mengganggu Naomi yang sedang fokus memasak, dan laki-laki playboy itu juga tak segan bertingkah manja pada selingkuhannya. Mereka benar-benar memiliki hubungan khusus dibelakang Karen.
~~
Setiap hari Justine dan Naomi selalu menghabiskan waktu bersama. Tak jarang juga ia menginap di rumah Naomi. Sejak kepergian Karen 2 minggu lalu, hubungan kedua muda-mudi yang berselingkuh ini semakin intens. Bahkan mereka tak canggung menunjukkannya di depan umum, tentu saja setelah mereka merasa aman dari orang-orang yang mengenalinya.
"Sayang, seandainya ada bintang jatuh saat ini. Apa yang kau inginkan ?" tanya Justine yang sedang merebahkan dirinya di pangkuan Naomi. Mereka tampak bersantai di hamparan rumput belakang rumah Naomi yang tentu sangat aman sebagai tempat bermesraan. Terlebih lagi, rendahnya intensitas cahaya lampu, membuat mereka lebih merasakan suasana romantis saat menatap langit malam yang bertabur jutaan bintang serta bulan purnama yang bersinar terang.
"Emm, Aku ingin saat valentine nanti aku bisa merayakannya denganmu di tempat yang romantis," ucap Naomi seraya menatap mata Justine.
Justine membulatkan matanya saat pandangannya berhasil menangkap sebuah bintang jatuh di langit, ia segera meminta Naomi untuk mengucapkan permohonannya, "Naomi, ada bintang jatuh! Segera ucapkan permohonanmu!"
Tanpa banyak bertanya, Naomi memejamkan matanya dan mulai membuat permohonan. Ia kembali mengulang kalimat yang baru saja diucapkan sebagai doa permohonannya.
Melihat Naomi yang begitu serius saat membuat permohonan, Justine tak bisa menahan jari-jemarinya untuk membelai pipi mulus Naomi. Gadis itu begitu terkejut, ia segera membuka mata sesaat setelah menyelesaikan permohonannya.
Mereka berdua tersenyun dan saling menatap tanpa sepatah katapun. Suasana malam yang begitu indah mampu membuat keduanya lupa bahwa mereka tak seharusnya mengkhianati Karen.
~~
Pagi-pagi sekali, Justine telah memarkirkan mobilnya di depan rumah Naomi. Ia keluar turun dari dalam mobil dan seperti biasa, sebuah buket bunga dibawanya sebagai hadian untuk sang kekasih gelap. Saat akan menginjak lantai, Justin tak sengaja menginjam Koran dibawahnya. Ia mengambil koran terrsebut, dan tiba-tiba sebuah selebaran jatuh dari dalam koran yang masih terlipat rapi.
"Apa ini?" Justin segera berjongkong dan mengambil selebaran tersebut. Ia kemudian membacanya dengan nada suara yang pelan, "Rayakan Hari Valentine dengan liburan romantis bersama pasangan di pulau Andreas dengan biaya 0%. Pasangan yang terpilih akan berkesempatan berlayar di atas kapal pribadi yang dilengkapi dengan fasilitas setara hotel bintang 5. Pendaftaran dimulai dari tanggal 1-10 Februari." Justine berhenti sejenak dan melihat kalender di layar ponselnya, "Hari ini 10 februari, jadi ini adalah hari terakhir. Aku harus segera memberi tahu Naomi."
Krieet...
Baru saja ia akan mengetuk pintu, tapi Naomi datang lebih awal membuka pintu rumahnya bahkan sebelum Justine mengetuk.
"Morning, sayang. Masuk yuk!" Naomi segera menarik tangan kanan Justis yang masih menggenggam selebaran yang membuat ekspresinya terlihat bahagia dan kegirangan.
"Sayang lihat, permohonanmu malam itu akan segera terwujud," ujar justin kegirangan seraya menyodorkan selebaran yang ditemukannya.
Naomi membaca selebaran tersebut dengan seksama, dan ekspresinya tak jauh beda dengan ekspresi Justine saat pertama kali membacanya, "What??? Justine, ini bukan mimpi?" Naomi bertanya untuk memastikan. Dengan tatapannya yang manja Justine menggelengkan kepalanya tanda bahwa apa yang dibaca Naomi adalah kenyataan yang akan segera mewujudkan permohonannya. Naomi segera mengubah ekspresi harap-harap cemasnya menjadi ekspresi bahagia dan rasa girang yang teramat sangat. Ia merentangkan kedua tangannya, dan disambut oleh justine. Mereka berdua berpelukan dengan sangat-sangat bahagia.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua kini sibuk dengan mendaftarkan diri melalui email dan mengirimnya ke link nyang tertera dalam kertas selebaran tersebut. Mereka tak ingin melewatkan moment langka tersebut, apalagi Pulau Andreas adalah pulau indah yang hanya bisa dikunjungi oleh kalangan super elit. Bahkan orang kaya biasa pun belum tentu bisa berlibur ke pulau tersebut dikarenakan biaya yang sangat fantastis untuk perharinya.
~~
Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh Justine dan Naomi, karena pihak penyelenggara akan mengumunkan 1 pasangan yang dipilih secara random untuk dapat berlibur gratis di Pulau Andreas. Mereka berdua beberapa kali mengganti posisi mulai dari duduk bahkan hingga merebahkan tubuh di sofa rumah Naomi karena telah menunggu hampir lebih dua jam.
Drrt... Drrt...
Layar ponsel Justine menyala. Mereka terperanjat dan Justine segera membuka pasword handphonenya. Ia membuka Pesan dari nomor tak dikenal dan segera membacanya, "Selamat!! Anda terpilih sebagai pasangan beruntung yang bisa berlibur di pulau Andreas. Untuk menyetujui perjalanan ini, silahkan lakukan pengisian data selanjutnya sebagai bukti ketersediaan dari pihak yang terpilih."
"Aaaaaa..... Justin, permohonanku akhirnya terkabul. kita akan pergi liburan bersama saat Valentine nanti." Naomi segera memeluk erat tubuh justine.
"Tentu saja sayang. Kalau begitu aku akan mengisi persyaratan selanjutnya," ucap justin seraya langsung mengetik di layar ponselnya.
"Tunggu dulu!" Naomi tiba-tiba teringat sesuatu, ucapannya berhasil membuat Justine berhenti mengetik. "Bagaimana kalau misalnya pada saat kita liburan, tiba-tiba Karen kembali? Aku belum siap justin jika dia mengetahui semua ini sekarang. Coba kau hubungi dia, dan tanyakan kapan dia akan kembali dari Inggris," lanjut Naomi khawatir
"Baiklah." Laki-laki itu segera melakukan permintaan Naomi untuk menelpon Karen.
Tut....Tut...Tut...
"Halo sayang, ada apa ?" Karen menjawab dari seberang telepon.
"Halo sayangku, apa kabarmu?" tanya Justine seraya mengaktifkan mode speaker supaya Naomi juga bisa mendengar pembicaranya dengan Karen.
"Ya, aku baik-baik saja. Ada apa? Apa kau merindukanku Justine. Hehehe?" ujar Karen sambil terkekeh menggoda kekasih yang telah berselingkuh dengan sahabatnya, tanpa sepengetahuannya.
"Tentu aku sangat merindukanmu Karen sayang. Jadi kapan kau akan kembali ?" tanya justine yang berusaha mencari tau kapan Karen akan pulang.
"Aku juga merindukanmu Justine, tapi maaf aku tak bisa kembali dalam waktu dekat. Oma sedang dirawat, dan aku ingin menemaninya," Ucap Karen dengan nada lirih dari seberang telpon. "Aku akan mengirim foto ku dan Oma sekarang, supaya kau yakin bahwa Oma sedang sakit." Karen mencari cara supaya Justine tak berpikir bahwa ia tak mempedulikannya.
Ting...
Nada pesan di Hp Justine berbunyi. ia segera membuka pesan dan ternyata memang benar, Karen sedang menemani sang Oma yang sedang sakit, seperti dalam foto yang dikirimnya. senyum puas tergambar jelas pada raut wajah mereka berdua. Naomi kegirangan, namun dia tetap menahan agar tak bersuara.
"Okelah sayang. Salam pada Oma ya. Semoga lekas sembuh biar pacarku yang cantik ini bisa cepat kembali. Bye sayang," ucap Justine berpura-pura prihatin denga keadaan Oma Karen. Tapi justru ia merasa sangat senang karena akhirnya bisa bebas berlibur dengan Naomi.
"Iya sayang, nanti aku akan sampaikan pada Oma. Bye," ucap Karen seraya menutup telpon.
Tut.....
Nada sambungan telpon terputus. Naomi yang sedari tadi berusaha menahan suaranya, akhirnya ia berteriak puas dan tertawa bahagia.
"Aaaaaaaaa...... Justine, akhirnya kita bisa liburan bersama," ucap Naomi sembari memeluk dan mengguncangkan tubuh Justine.
"Tenang sayang. Kesenangan kita, baru dimulai besok. Lalu kau bisa bisa berteriak dengan puas. Aku akan langsung saja mengisi data diri sebagai syarat terakhir." Justine langsung terlihat sibuk mengetik dilayar ponselnya. Begitupun senyum sumringah Naomi yang tak pernah pupus untuk menyambut hari esok.
~~
#14 Februari
Sebuah Limosin hitam terparkir di trotoar jalan depan rumah Naomi. Mobil tersebut merupakan salah satu fasilitas yang dikhususkan untuk menjemput mereka menuju dermaga. Justine dan Naomi tampak sumringah keluar dari dalam rumahnya.
Di samping mobil mewah tersebut tampak seorang lelaki muda ber-jas hitam dan menggunakan kacamata hitam, menungu mereka di sisi pintu mobil. Ia menggeser pintu mobil dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
Naomi dan Justin terkesima melihat bagian dalam mobil yang begitu mewah. Ini adalah kali pertama mereka menaiki sebuah Limo.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, mereka sampai pada sebuah dermaga. Sopir yang mengendarain Limosin tersebut keluar dengan tergesa-gesa dan segera membukakan pintu untuk mereka keluar.
"Thank you," Ucap Naomi yang berusaha menghargai perlakuan istimewa dari supir tersebut. Supir itu hanya mengangguk dan lanjut mengantarkan mereka berdua menuju kapal Azimut yang siap mengantar mereka ke Pulau Andreas.
"Selamat Tuan Justine dan Nona Naomi. Selanjutnya perjalanan kalian akan ditemani oleh Mr. Klye yang akan menahkodai Kapal Azimut ini untuk menuju pulau Andreas," ucap sopir tersebut.
"Selamat datang Mr. Justine, Mrs. Naomi. Saya adalah Klye yang bertugas mengantar kalian ke Pulau. Bisa kita mulai perjalanannya sekarang??" tanya Klye, seorang pria paruh baya yang tampak sangat senang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Tentu, tentu, Ayo kita berangkat Mr. Klye," jawab Naomi yang tak sabar ingin segera sampai.
Justin melangkah maju ke lantai kapal, dan ia mengulurkan tangannya untuk membantu naomi menaiki kapal itu. Mereka mengikuti Klye memasuki area dalam kapal azimut yang minimalis namun sangat mewah. Klye pamit undur diri dan menuju ruang nahkoda. Sementara Justine dan Naomi mereka menuju keluar ruang kapal untuk menikmati keindahan laut biru yang tampak tenang.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di pulau Andreas. Pulau impian setiap orang.
Mereka terkesima dan dalam sesaat merasa kagum karena keindahan pulau yang terawat dan sangat asri. Pasir putih berpadu dengan birunya air laut yang tenang. Bahkan airnya begitu jernih dan menyuguhkan pemandangan dasar laut yang indah dengan kehadiran bermacam-macam ikan kecil yang berwarna-warni. Pohon kelapa nampak berjajar indah bagaikan pagar yang membatasi antara laut dan daratan. Beberapa hunian yang berjarak lumayan jauh satu sama lain memiliki gaya minimalis modern dan tampak seperti terapung di atas air. Jembatan kayu panjang terbentang pada setiap jalur yang menuju pada hunian tersebut.
"Mari Mrs.Naomi dan Mr.Justin, saya bantu naik ke jembatan." Klye yang terlebih dahulu berdiri di jembatan, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Justine dan Naomi.
"Selamat datang di Pulau Andreas Tuan Justine dan Nona Naomi." kedua pelayan tersebut menyambut hangat Justine dan Naomi. Mereka juga disuguhkan dengan Air kelapa hijau segar yang baru saja dipetik.
"Mari kami antar ke hunian anda." Salah satu pelayan mengantarkan mereka berdua, dan pelayan yang satu lagi kembali ke ruangan khusus pelayan untuk meletakkan kelapa hijau yang diminum oleh mereka.
"Ini adalah hunian nomor 07, tempat yang sudah disediakan khusus untuk Tuan dan Nona. Semua fasilitas ruangan lengkap dan kalian bisa beristirahat untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal pesiar pribadi tepatnya setelah pukul 7 malam nanti." Pelayan tersebut menyerahkan kunci ruangan mereka, "Selamat menikmati liburan di pulau Andreas," lanjut pelayan tersebut kemudian meninggalkan mereka untuk beristirahat.
Justin membuka kunci pintu ruangan tersebut, dan mereka pun masuk ke dalam. Mereka berdua dibuat terkagum dengan interior ruangan yang sangat mengagumkan dan di dominasi warna putih dengan sentuhan warna gold. Bahkan lantai di ruang tengah terbuat dari kaca, sehingga mereka bisa melihat dasar laut yang dipenuhi karang dan ikan kecil berwarna-warni. Mereka berdua lanjut mengecek bagian kamar mandi yang juga dominan berwarna putih yang begitu elegan, dilengkapi dengan bathtub balck gold yang super mewah. Segala Peralatan mandi berrjejer rapi dengan beragam hiasan bonsai mini yang segaja diletakkan sebagai pemanis. Mereka keluar kemudian melanjutkan menuju ruang kamar. Kamar yang minimalis dan tak memiliki banyak benda disekitarnya, membuat kamar tersebut menjadi lebih luas dan nyaman. Jendela kamar dibiarkan terbuka begitu saja, sehingga Angin laut masuk dan menerbangkan tira-tirai putih yang menggantung.
Tinnnngg.... Tinnnggg...
Suara bel berhasil memecah keromantisan diantara mereka. Justine segera keluar dan membuka pintu. Naomi tetap berada di dalam kamar seraya berdiri di depan jendela menghadap ke arah pantai.
"Sayang, kita makan siang dulu yuk. Baru saja pelayan mengantarkannya pada kita," Ucap Justine yang kala itu memeluk Tubuh Naomi dari belakang.
Naomi segera berbalik dalam pelukan Justine, dan kini ia menghadapkan wajahnya ke wajah laki-laki itu, "Ayo sayang, aku juga sudah lapar," Ajak Naomi dengan nada manja.
Mereka menuju ruang tengah dan melahap makanan yang baru saja di antarkan. Setelah menyelesaikan makannya, mereka berdua keluar dan turun menuju bibir pantai untuk bermain air.
Justine dan Naomi puas bermain tanpa ada gangguan dari siapapun. Mereka benar-benar seperti pemilik pulau ini, hanya berdua tanpa siapapun.
~~
# 07.00 pm
Naomi mengenakan gaun malam berwarna hitam yang begitu indah. Begitupun Justine yang memakai setelan jas berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Naomi. Mereka berjalan menuju Kapal pesiar yang telah siap membawa mereka berkeliling lautan untuk menikmati malam Valentine yang romantis.
Di muka kapal, tampak beberapa orang pelayan dari laki-laki dan perempuan yang berjejer menunggu dan menyambut kedatangan mereka berdua. Justine dan Naomi pun dipersilahkan oleh sang Nahkoda kapal untuk segera menaiki kapal pesiar pribadi ini.
Salah satu pelayan mengantar mereka berkeliling ke seluruh penjuru kapal. Mereka terkesima, walaupun tak se-megah kapal Titanic, tapi kapal pesiar pribadi ini juga lumayan besar dan memiliki fasilitas setara hotel bintang lima.
Pelayan tersebut meninggalkan Justin dan Naomi untuk berdua. Mereka tak menyia-nyiakan waktu tersebut dan mulai mempergunakannya dengan maksimal.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pelayan pria yang menjemput mereka berdua untuk menuju meja penjamuan yang terletak di luar ruang kapal, sehingga mereka bisa menikmati hidangan seraya tetap bisa melihat suasana laut.
Beberapa pelayan datang membawa nampan-nampan besar dan menghidangkan berbagai macam seafood di meja mereka. Kemudian seorang laki-laki violinist muda datang dan memainkan biolanya dengan sentuhan irama yang romantis.
Mereka berdua sungguh menikmati hari yang sangat menguntungkan ini.
"Sayang, ternyata aku tidak sia-sia membuat permohonan," ucap Naomi senang.
"Iya sayang. Aku juga sangat bahagia hari ini," ucap Justin seraya menggenggam tangan Naomi yang berada di atas meja.
Mereka melanjutkan menyantap hidangan. Belum selesai mereka menyantapnya, para pelayan kembali keluar dengan membawa beberapa nampan berisi ice cream dan coklat yang berbentuk bunga mawar. Mereka menghidangkannya di hadapan justin dan Naomi.
"Wow, lihat sayang. Coklat ini indah sekali, aku jadi tidak tega memakannya," ucap naomi manja.
"Tuan, Nona, ini adalah hidangan spesial karena kalian adalah peserta terpilih tahun ini dalam acara tahunan Valentine yang diadakan oleh pulau Andreas. Selamat menikmati." Pelayan tersebut membungkuk dan undur diri.
Violinist tetap memainkan biolanya namun dengan nuansa lagu yang sedikit penuh emosi.
Justin dan Naomi saling menyuapi satu sama lain, hingga akhirnya...
Bruk....
Tubuh Naomi jatuh membentur lantai kapal, membuat Justin terperanjat dan menghampiri Naomi yang tersungkur.
Justine meminta tolong pada violinist tersebut, namun ia tetap fokus memainkan biolanya, bahkan nada-nada yang dimainkannya menjadi lebih emosional.
"Naomi, kau kenapa? Naomi..... Aaah, kepalaku pusing." Tak lama kemudian tubuh Justine juga ambruk tepat disebelah Naomi.
Justine membuka kedua matanya ia melihat jauh di hadapannya, seluruh tubuh Naomi terlilit tali dan belum sadarkan diri. Sesaat ia pun menyadari bahwa sekujur tubuhnya juga terlilit tali.
"Naomi... Naomi..." Justine berusaha menggerakkan kaki Naomi dengan kakinya, "Naomi Bangun, Naomi," akhirnya usaha Justine tidak sia-sia. Ia berhasil membangunkan Naomi.
"Justine, kenapa kita diikat?" tanya Naomi panik, Justine hanya menggeleng tidak tahu.
"Hallo guys, puas berlibur disini ?" Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Karen...," ucap Naomi dan Justine hampir bersamaan.
"Ya, ini aku. Kenapa? kalian kaget? Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa secepat itu terbang dari Inggris ke Pulau ini. Kalian ingin tahu jawabannya? Karena aku tak pernah pergi ke Inggris. Hahaha...," ucap Karen sembari tertawa jahat.
"Karen, kenapa kau membohongi kami?" tanya Justine dengan nada marah.
Karen berjalan mendekat dan berjongkok diantata mereka, "Tentu saja untuk menangkap para pengkhianat seperti kalian ini," tegas Karen sembari menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Aku telah mengetahui perselingkuhan kalian sejak lama. Jadi akulah yang merencanakan semua ini dari awal, hahaha... Aku memasang alat penyadap suara dan CCTV di rumah kalian. Begitu aku mendengar keinginanmu Naomi, aku membuat rencana yang sama seperti keinginanmu, supaya semua terlihat alami. Bukankah aku adalah sahabat yang baik, Naomi?" Karen menyeringai dengan tatapan yang menakutkan ke arah Naomi yang tiba-tiba menangis karena ketakutan. "Akulah yang menyiapkan link palsu untuk menarik kalian kesini. Sehingga aku bisa dengan mudah menghabisi kalian berdua," lanjut Karen dengan nada geram.
"Karen, pasti para pelayan di pulau itu akan curiga jika kami tak kembali malam ini. Jadi tolong lepaskan tali-tali ini," pinta Justine dengan nada setengah berteriak dan terus memberontak berusaha melonggarkan lilitan tali yang memenuhi sekujur tubuhnya.
"Siapa katamu? para pelayan? hahah. Kau ingat namaku? aki Karen Ludwick dan kau tau siapa pemilik pulau ini? John Eddy Ludwick, ayahku. Otomatis aku juga merupakan pemilik pulau ini. Pulau pribadi keluarga Ludwick. Jadi semua yang sudah kalian temui adalah orang-orangku. Sekarang aku bebas melakukan apapun di pulauku sendiri," ucap Karen seraya mengeluarkan sebilah pisau lipat.
"Karen, maafkan aku Karen, tolong maafkan kami. Aku..." ucapan Naomi terhenti kala Karen mendekatkan sebilah pisau yang memiliki ujung yang runcing tersebut tepat di pipi mulusnya.
"Apa? Kau akan mengatakan bahwa kau khilaf?" ucap Karen seraya menempelkan sisi mata pisau yang runcing itu dan menjalarkannya ke seluruh bagian wajah Naomi, "Oops, berdarah. Naomi, pipi mulusmu tergores, hahaha. Sekarang kau tak bisa merayu seseorang dengan wajah jelekmu itu." Karen menghempaskan Kepala sahabatnya hingga membentur lantai kapal.
"Karen, apa yang kau lakukan?" Justine berteriak geram melihat perlakuan Karen pada Naomi.
"Sssttt... sayang, sabar sebentar. Nanti aku juga akan mengobrol denganmu. Sekarang aku masih ingin berbincang dengan sahabatku tercinta." Karen menatap tajam ke arah Naomi yang ketakutan, "Naomi, aku akan memaafkanmu jika kau berhasil meminum racun ini," ucap Karen sembari mengeluarkan botol kecil dari balik saku jaketnya. Ia membuka penutup botol tersebut dan langsung memaksa masuk cairan itu ke dalam mulut Naomi.
"Emmm,, emm,, emm." Naomi berusaha merapatkan kedua bibirnya dan terus memberontak. Tapi racun itu berhasil masuk ke dalam mulutnya.
"Karen hentikan Karen. Kumohon hentikan!" tangis Justine pecah sesaat setelah melihat tubuh Naomi mengejang dan mengeluarkan banyak busa dari dalam mulutnya.
"Naomi, berterimakasihlah padaku karna di saat terakhirmu aku masih mengabulkan permohonanmu yang kekanak-kanakan itu, Hahaha. Jack Lempar mayat ini!" Karen menyuruh anak buahnya untuk melemparkan jasad Naomi ke laut. Lelaki bertubuh atletis tersebut langsung melempar jasad Naomi dari lantai paling atas kapal tempat mereka berada sekarang.
Byurrr !!!
"Naomi..." Justin berteriak hampir bersamaan dengan jatuhnya Naomi ke laut.
Karen mendekati Justine yang terbaring tak berdaya. Ia menendang tubuh laki-laki itu hingga terpental dan tertahan pembatas besi di ujung lantai atas kapal.
"Karen, Karen apa yang kau lakukan." Justine panik karena tubuhnya benar-berada berada di ujung lantai atas yang hanya bersandar pada pembatas besi.
Karen berjongkok dan mengangkat tubuh Justine hingga posisi duduk. Ia menyeringai ganas ke arah Justine, hingga membuat laki-laki itu bergetar takut menatapnya.
"Karen kumohon, lepaskan aku Karen. Aku minta maaf," Ucap justin memohon.
"Sayang, mengapa kau menangis, aku tak akan membunuhmu seperti aku membunuh Naomi tadi." Karen membantu Justine berdiri, karena sekujur tubuhnya yang masih terlilit tali membuatnya sulit bergerak.
2 anak buah Karen mendekati Justin dan memegangi tubunya yang masih terlilit.
"Tapi aku akan membiarkanmu jatuh hidup-hidup dan merasakan dinginnya lautan Justine. Aku ingin membalas rasa sakit hatiku padamu, pada kalian berdua." Karen mendekati tubuh Justin dan mengecup pipinya, Justine memberontak namun tak berdaya "Justin, selamat hari Valentine. Dan, nikmatilah Hadiah dariku!!" bisik Karen dengan suara lirih
"Karen, maafkan aku Karen. Karen..." Justine terus berusaha memohon.
"Jack, Nichole, lemparkan dia!" Karen berjalan menjauh dan tak mempedulikan permohonan dari Justine.
"Karen... Karen... kumohon......"
Byurrr !!!!
Justine terjatuh kedalam dinginnya lautan. Dengan kondisi sekujur tubuh yang terlilit tali, ia tak akan bisa berjuang untuk mempertahankan hidupnya lagi. Bahkan dia akan merasa lebih tersiksa dari pada Naomi.
"Bye-bye Justine, Naomi. Penghianat seperti kalian tidak pantas merayakan Valentine. Hahaha."
-TAMAT-