Julia Marion, mahasiswi Jakarta International Collage. Sejak kecil ia menggemari segala sesuatu yang berhubungan dengan cerita-cerita seram atau horor. Dia memang berbeda. Julia tidak seperti kebanyakan anak seusianya. Julia tidak bisa tidur sebelum menonton film atau membaca cerita seram.
Hobi Julia membuat orangtuanya awalnya cemas dan takut jika kesukaan Julia tersebut akan mengganggu perkembangan jiwanya. Orangtua Julia akhirnya bisa bernafas lega saat dokter Fabian, psikolog anak tempat orang tua Julia berkonsultasi mengatakan bahwa kegemaran Julia masih dalam taraf wajar, normal-normal saja.
Seiring berjalannya waktu, orangtua Julia tidak lagi mempermasalahkan hobi anaknya itu yang kini sudah berumur 19 tahun. Julia tumbuh menjadi gadis cantik yang pintar, lincah, dan punya banyak teman. Tentunya banyak penggemar juga. Seperti biasa, sebelum tidur Julia ingin menonton sebuah film atau membaca novel bergenre horor yang sangat disukainya.
Ketika ia meraih sebuah DVD ponselnya bergetar.
“Jonathan?" menatap nama siapa yang menelponnya hati Julia serasa berbunga bunga.
"Halo, Jonathan ada apa?" sahut Julia menahan girang.
"Hmmm... begini. Apa aku boleh pinjam novel horormu yang baru?"
"Oh tentu saja. Kamu mau yang mana?" tanya Julia sumringah menyebutkan satu-satu judul novel horor terbaru koleksinya, tentu saja dengan hati berdebar-debar. Suara Jonathan benar-benar nyaman ditelinganya.
"Nah yang itu saja, Air Mandi Mayat."
"Okay besok aku bawakan."
"Thanks ya Julia. Good night, sweet dream."
Tut tut
"Aaaa!" Julia berteriak histeris.
Orangtua Julia yang tertidur lelap langsung terbangun mendengar suara teriakan anak gadis mereka. Dengan muka bantal mereka berlarian kearah kamar Julia.
"Ada apa sayang?!" tanya Carlos, papa Julia, nafas pria itu terengah-engah. Disusul Fransiska, mama Julia.
"Kenapa, pa ma?" dengan wajah tanpa dosa Julia menatap kedua orangtuanya.
"Bukannya tadi kamu berteriak sayang?" mamanya angkat bicara.
"Ups! sorry papa mama aku teriaknya kekencengan ya? tadi Julia terlalu bahagia dapat telpon dari Jo. Hehehe." jawab Julia sambil nyengir kuda.
"Astaga Julia... Papa pikir kamu diculik wewe gombel." celetuk Carlos asal yang mendapat pelototan dari sang istri.
"Sembarangan kalau ngomong si papa!"
"Ya sudah sayang, papa mama balik ke kamar. Kamu habis nonton horor langsung tidur." Carlos dan Fransiska mencium kening Julia, anak sematang wayang mereka bergantian lalu kembali ke kamar.
“Bakalan susah tidur, nih.” serunya sambil menjatuhkan tubuh rampingnya ke kasur yang empuk. Tiba-tiba senyum dibibirnya mengembang.
Jonathan adalah salah satu dari sekian banyak sahabat Julia. Bukan karena Jonathan ganteng dan keren, laki-laki itu juga baik dan perhatian. Satu lagi yang membuat Julia menyukai Jonathan, mereka berdua memiliki kegemaran yang sama yaitu maniac horor.
Berkat hobi yang sama, Julia dan Jonathan menjadi akrab. Saking akrabnya anak-anak kampus menyangka mereka berdua berpacaran.
Terkadang terlintas dibenak Julia jika suatu hari nanti Jonathan dan dirinya menjadi sepasang kekasih. Namun sejauh ini Julia masih takut mengutaran perasaannya. Ia bimbang. Jika mereka menjadi sepasang kekasih apakah rasa nyamannya akan sama saat mereka menjadi sahabat.
Julia keluar kelas setelah mata kuliahnya selesai. Ia ingin mencari Jonathan dan memberikan novel yang laki-laki itu minta semalam.
Ketika ia melewati lorong. Sebuah tangan kekar menarik dan menyeret paksa gadis itu, mereka menuruni tangga melewati jalan setapak.
"Lepaskan aku! Tanganku sakit!" pekik Julia pada laki-laki yang berjalan didepannya.
Sesampainya di belakang kampus. Laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya.
"Ada apa lagi, Dave?" tanya Julia kesal
"Aku mencintaimu Julia. Aku sungguh menyayangimu. Kenapa kamu tidak bisa menerima perasaanku? Tolong jadilah pacarku." ucap Dave memelas.
"ya ampun Dave... Kamu nggak capek begini terus? Sudah berapa kali aku bilang sih sama kamu kalau aku nggak bisa nerima perasaanmu. Aku nggak bisa jadi pacarmu." Julia mendengus. Sebalnya sudah di ubun-ubun kepalanya.
"Kenapa? Apa kekuranganku? Aku kaya, aku tampan, nilai akademik ku diatas rata-rata. Apa karena ada Jonathan?"
"Bukan begitu Dave. Aku memang nggak ada perasaan buat kamu. Tolong mengerti... Dan lagian kita berdua nggak terlalu dekat. Aku nggak terlalu mengenalmu. Please jangan memaksa. Okay?"
"Aaargggh!" Dave meraup wajahnya frustasi. Lagi-lagi penolakan demi penolakan ia dapatkan dari gadis yang ia kagumi. Julia menatap takut pada Dave. Julia memang pecinta horor tapi berpacaran dengan laki-laki freak itu lain ceritanya.
Desas desus kampus tentang Dave sampai ketelinganya. Awalnya Julia tak terlalu percaya dan menanggapi serius. Tapi melihat sendiri kegilaan Dave membuatnya bergidik ngeri. Ia pernah secara tidak sengaja memergoki Dave menusuk seekor kucing menggunakan sebuah pisau lipat. Dan laki-laki itu tersenyum. Julia yang mendengar jeritan kucing itu hanya bisa menangis dan membekap mulutnya.
"Aku harap ini terakhir kalinya kamu seperti ini Dave. Jika tidak jangan salahkan aku menjauhimu."
"Okay okay maafkan aku. Aku nggak akan melakukan ini lagi. Tapi tolong jangan menjauh."
"Baiklah. Aku pergi." Julia berbalik berjalan menuju kelas Jonathan.
Dave menatap punggung gadis itu dan tersenyum tipis.
Saat bertemu Jonathan. Julia menceritakan semua yang terjadi pada Jonathan. Sebelum-sebelumnya Julia memendam sendiri kegundahannya atas kelakuan Dave, karena dia punya Jonathan disisinya. Namun kali ini ia agak takut.
“Hey, jangan takut gitu dong!” bujuk Jonathan. Ia memeluk gadis itu. Laki-laki itu tersenyum. Senyum yang tidak bisa diartikan.
"Hai Julia." sapa Dave pagi itu.
"Ha-hai juga Dave." balas Julia tersenyum terpaksa
"Oh iya maafkan kelakuan ku yang dulu-dulu ya. Kamu pasti nggak nyaman. Hmm... Aku mau memulai dari awal lagi. Aku nggak akan lagi memaksakan perasaanku. Mari kita bersahabat." Dave mengulurkan tangannya.
"Bersahabat?" Julia terdiam sebentar. Ia menepis pikiran buruknya. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Akhirnya mereka berdua mulai dekat. Semakin lama mereka berdua makin akrab. Julia melihat Dave tidak seburuk yang dipikirkan. Dan Dave juga ternyata menyukai novel horor. Koleksi novel Dave malah lebih banyak dari miliknya. Semenjak itu Julia sering diteror kotak berisi mayat kucing membuat Julia ketakutan. Dia hampir depresi.
14 Februari 2021 Pukul 08.30
"Aaaaa!" Julia menjerit melihat isi kotak warna merah yang diletakkan seseorang diatas kap mobilnya. Seekor bangkai kucing tanpa kepala terongok didalamnya.
"Ada apa Julia?" tanya Dave yang berada didekat sana.
"Lepas!" Julia menepis tangan Dave. Teringat Dave pernah membunuh kucing, Ia merasa jijik pada laki-laki itu.
"Kenapa kamu melakukan ini?" Julia melangkah mundur. Melemparkan Dave selembar kertas. Dave memungut kertas itu dan membacanya.
Hadiah istimewa untuk gadis cantik... "D"
"Bu-bukan aku pelakunya Julia. Percayalah padaku!" Dave mendekati Julia.
"Aku pernah melihatmu membunuh kucing."
"A-apa? tapi aku tidak membunuhnya. Aku melepaskannya dari rasa sakit. Dia keracunan." terang Dave.
"Bohong! Pergi! Aku takut padamu!"
"Aku bersumpah bukan aku pelakunya!"
Dave melangkah pelan menghampiri Julia. Gadis itu bertambah histeris. Berat hati Dave pergi meninggalkan Julia. Perasaannya kesal. Di sudut lain seseorang tersenyum menyeringai.
14 Februari 2021 Pukul 12.15
"Julia! tolong dengar penjelasan ku. Bukan aku pelakunya."
Dave masih bersikeras mendekati Julia. Dia harus menjelaskan banyak hal. Ia tidak mau ada salah paham. Kini mereka saling berkejar-kejaran.
"Stop Dave jauhi aku! Jangan mendekat! Aku bisa melaporkanmu ke polisi !"
"Laporkan saja! Aku nggak takut! Aku punya rekaman CCTV! Aku bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah!"
"Jauh! Aku jijik sama kamu! Kamu monster!"
Julia berlari cepat menyeberang jalan, masuk ke dalam mobilnya. Dave mengejar berusaha menyusul.
BRAAK!!
Tubuh Dave terpental jauh dan terkapar. Mobil yang menghantam Dave berhenti sejenak. Seseorang tertawa terbahak-bahak melihat Dave tak bergerak lagi.
"Kamu jangan sedih. Ini bukan salahmu." Hibur Jonathan.
Jonathan tersenyum smirk.
"Nih, kuharap ini bisa menghiburmu. Ini hadiah istimewaku untukmu di hari kasih sayang.”Jonathan menyodorkan sebuah buku berwarna hitam usang berbingkai emas.
“Apa ini Jo?”
“Novel terseram dari yang paling seram. Aku jamin kamu akan sangat menyukainya,” Jonathan tersenyum penuh makna.
Julia menatap heran buku novel di tangannya. Serius? Apanya yang seram covernya aja jadul!
“Jangan dinilai dari sampulnya.” kilah Jonathan seakan tahu isi pikiran Julia.
“Makasih ya... Nanti akan aku baca.” Julia tersenyum lebar.
14 Februari 2021 Pukul 19.15
Di kamarnya, Julia mulai membuka novel itu. Pada lembaran kosong. Dia balik lagi. Di lembar kedua terdapat tulisan judul "Terdampar" dan tulisan kecil di pojoknya "Daniel Jonathan".
"Nama Jo. Daniel Jonathan?"
Tiba-tiba gadis itu menghilang dari kamarnya.
“Hey, Aku ada dimana?”Julia ketakutan. Dia bingung, tak mengerti kenapa bisa berpindah ke tempat asing seperti ini tanpa menyadarinya. Julia berharap ini cuma halusinasinya saja. Tiba-tiba seorang wanita berpakaian kuno muncul di hadapannya. Wajahnya seputih kapas dan tatapan matanya sangat kosong.
“Aku ada di mana?” Julia memberanikan diri bertanya.
“Selamat datang di Pulau Kematian!” sahutnya mengejutkan Julia. Berpuluh-puluh sosok pucat dan menyeramkan mulai berdatangan, menyerukan kata-kata yang sama dengan wanita itu pada Julia.
“Mama!! Papa!! tolong akuuu!!!” jerit tangis Julia sebelum berpuluh-puluh pasang tangan yang beku dan dingin merengkuh tubuhnya.
14 Februari 2021 Pukul 19.15
Tawa seorang laki-laki memecah keheningan area pemakaman. Jonathan duduk disamping sebuah pusara.
+RIP. Camelia Jonathan+
Lahir : 10 Januari 2004
Wafat : 14 Februari 2020
Wajahnya berbinar-binar. Tangannya memegang selembar foto, ada Dave dan seorang gadis tersenyum disana.
"Happy Valentine Julia sayang... Rasakan apa yang adikku rasakan!"
Laki-laki itu baru saja memberikan novel horor keramat milik kakeknya pada Julia. Barang siapa yang membuka novel itu akan masuk ke dalam cerita itu dan tidak akan bisa kembali ke dunia nyata selamanya!
Jonathan ambruk diatas tanah makam Camelia. Darah segar mengucur deras dari sayatan menganga dilehernya.
*****
14 Februari 2020
"Turun Lia! jangan lakukan itu kakak mohon!"
"Tidak kakak! Aku hancur! Aku mencintainya kakak. Aku ingin memilikinya. Tapi dia tidak melirikku sedikitpun! Dia terus mengejar gadis itu! Hari ini dia memberikan gadis itu sekotak coklat, setangkai bunga mawar yang indah.. hiks juga benoka beruang yang lucu kakak... hiks... Dia berkali-kali menolak ku kakak... Apa kekurangan ku...?"
"Masih banyak laki-laki di dunia ini selain dia!"
"Tidak! Aku tidak mau yang lain! Aku mau dia!"
"Turun Lia... Hanya kamu yang kakak punya."
"Aku malu kakak. Dia membentak dan menolakku didepan banyak orang. Aku malu... hiks... Aku tak mau hidup lagi. Aaaa!" BRUK!!!
"Tidaaak!"
"Awas kalian! Tunggu pembalasanku! Dave dan Julia!"
*****
20 Maret 2021
"Kucing kamu kenapa?" Dave menemukan seekor kucing tergeletak kejang kejang. Dari mulutnya keluar buih bercampur darah. Sungguh tersiksa melihat keadaan kucing itu.
"Kamu pasti kesakitan? Maafkan aku akan membuatmu tidak menderia lagi." Laki-laki itu mengeluarkan pisau lipatnya dan menusuk tepat di perut si kucing. Laki-laki itu tersenyum karena penderitaan si kucing telah berakhir tapi airmatanya tak henti menetes karena rasa bersalah.
Seseorang laki-laki mengabadikan momen itu. Ia memasang ekspresi menakutkan. Ditangannya memegang botol racun sianida.
"Habis kamu, Dave!"
"Akan kubuat semua orang jijik padamu!"
Tamat
Happy Valentine guys😊😘
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤