Hai, aku Bella. Suatu hari, lebih tepatnya saat aku berulang tahun ke 17, aku mengalami sesuatu yang sangat mengerikan yang tidak pernah bayangkan sebelumnya.
......
Ding dong! Ding dong! Ding dong!
Saat itu aku sedang rebahan sambil menonton acara televisi kesukaanku di kamar. Namun, tiba-tiba aku mendengar bel rumahku berbunyi. Terpaksa, aku harus meninggalkan kegiatanku itu untuk membuka pintu. Dan dengan malas, aku pun beranjak dari tempat tidur menuju pintu.
Akhirnya aku sampai di pintu masuk rumahku. Aku pun membukanya, namun tak terlihat siapa yang membunyikan bel itu. Kemudian aku menengok ke bawah dan menemukan sebuah kotak yang dihias sedemikian rupa. Aku sempat berpikir kenapa ada yang mengirimi kotak tersebut padahal ulang tahunku masih esok. Tak mau ambil pusing, aku pun membawa kotak tersebut ke kamar.
Sesampainya di kamar, aku pun membuka kotak hadiah tersebut. Betapa terkejutnya aku, mendapati isi kotak tersebut adalah sebuah minyak wangi. “Kenapa teman-teman bisa tahu kalau aku menyukai minyak wangi—apalagi yang bernuansa kuno,” pikirku saat itu karena menduga minyak wangi tersebut berasal dari teman-temanku. Aku pun segera mencoba minyak wangi tersebut.
Aromanya aneh! Aku tak bisa mendeskripsikannya karena aku tak pernah mencium aroma seperti ini. Aku kembali terkejut! Warna minyak wangi yang awalnya berwarna merah, berubah menjadi putih. Aku kembali mencobanya. Aromanya ... Aroma paling harum yang pernah kucium sepanjang hidupku. Menakjubkan sekali! Warna dan aroma minyak wangi ini bisa berubah, apalagi aromanya sangat harum.
“Hah! Di–di mana ini? ucapku terkejut. Pasalnya, aku sedang berada di tempat yang tidak ku kenali.
“Apa ini mimpi? Tapi, seingatku aku belum tidur. Lalu, kenapa aku bisa di sini?!” kepalaku berisi banyak pertanyaan yang meminta untuk segera di jawab.
“Halo?! Apa ada orang? Tolong!” aku berusaha meminta pertolongan. Tak lama kemudian muncul seorang pria berbaju sederhana membawa busur dan anak panah. Saat itu menduga ia seorang pemburu yang sedang berburu.
“Apakah Anda tahu di mana kita berada?” aku mencoba memulai pembicaraan. Pemburu tersebut tidak menjawabnya melainkan langsung pergi. Aku mengikutinya, karena aku tidak tahu di mana ini. Aku terus mengikuti pemburu itu, sampai ia berhenti. Tiba-tiba ia memanah ke arahku dengan panah dan busurnya. Beruntung aku bisa menghindar.
“Apa kau gila?! Jika panah itu mengenaiku, aku bisa mati!” tuntutku padanya. Pemburu tersebut tak menghiraukan nya, malah ia tersenyum. Astaga bodoh sekali aku. Mana ada orang yang berburu di malam hari. Lagi pula, dari tadi aku tak melihat seekor pun hewan di sini.
Keringat dingin mengucur deras dari pelipisku. Segera, aku berlari menjauh dari pemburu tersebut. Tentu, pemburu itu mengejar ku. Aku tak bisa lari dengan leluasa, karena aku tak menggunakan alas kaki. Dan ini hutan, salah langkah sedikit saja kakiku bisa terluka.
Ku tengok ke belakang, memastikan apakah pemburu itu masih ada atau tidak. Dan sialnya, jarakku dengan pemburu itu tipis. Sebentar lagi ia pasti bisa menangkap ku. Sekarang aku tak peduli kaki ku terluka atau tidak, yang penting nyawaku selamat.
Aku pun berlari lebih kencang—tak peduli bagaimana nasib kakiku nanti. Sesuai perkiraan, kakiku terkena pecahan kaca. Tapi untunglah, sekarang jarakku dengan pemburu itu lumayan jauh. Beruntung, aku menemukan sebuah gua. Aku memutuskan untuk beristirahat di sana.
Baru saja mengatur nafas, aku melihat pemburu itu sudah berada dekat denganku. Sekarang, bukan hanya nafasku yang tidak beraturan, detak jantungku ikut tidak beraturan. Pemburu itu menengok ke arah gua tempat ku beristirahat, seolah tahu aku ada di dalamnya. Tak mau ambil risiko, aku kembali berlari meninggalkan gua tersebut.
Setelah lama berlari menjauh dari gua itu, aku mendapati matahari telah terbit. Aku sedikit lega, karena setidaknya aku akan tahu jika telah keluar dari hutan ini. Dan ya, aku sekarang sudah dekat dengan luar hutan. Aku tak bisa lega begitu saja, karena sekarang pemburu itu berada tepat di belakangku sambil menghujani ku dengan panah. Aku menghindar, tapi ada satu panah yang berhasil tertancap pada lenganku.
Rasanya sangat sakit. Kakiku yang telah penuh dengan pecahan kaca maupun duri, ditambah lenganku yang terkena panah. Setelah berhasil melukaiku pemburu itu masih belum menghentikan serangannya—sungguh psikopat!
Karena sibuk melihat luar hutan yang sebentar lagi akan ku capai dan pemburu, aku tak menyadari di depanku ada sebuah batu yang cukup besar untuk membuatku tersandung. Dan ya, aku pun tersandung karena batu tersebut.
Luka yang timbul akibatnya lumayan parah hingga membuatku tak sanggup berdiri lagi. Ku lihat kembali pemburu itu, ia sudah dekat denganku dan sedang menampilkan senyum ala-ala psikopat.
Aku terbangun dengan nafas yang memburu dan keringat yang banyak. Ternyata semua itu hanyalah sebuah mimpi. Aku pun melirik ke jam, dan jarumnya menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh pagi. Segera, aku bangun dan mandi karena teringat janji dengan teman-temanku.
Saat ini sudah berada di sebuah taman bersama teman-teman sekelasku. Kami mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan untukku. Dan pesta itu baru saja berakhir. Sekarang hanya tersisa aku dan sahabat-sahabatku.
Aku pun teringat pada minyak wangi yang ku dapatkan kemarin. “Oh iya, siapa yang kasih aku minyak wangi kemarin? tanyaku karena tak ada surat atau semacamnya. Sahabat-sahabatku pun menampilkan wajah bingung. Satu persatu dari mereka menggelengkan kepala.
Kemudian salah satu dari mereka bertanya, “Emang kenapa?”. “Kemarin ada yang kasih aku minyak wangi tapi cuma di taruh di depan pintu. Mungkin sepupuku.” jelasku dan dibalas anggukan olehnya.
Setelah berjalan-jalan bersama dengan sahabat-sahabatku, aku pun sampai di rumah malam hari. Aku langsung mandi dan berganti pakaian kemudian merebahkan tubuhku di ranjang. Aku sangat kelelahan saat itu. Kemudian, perlahan mataku terpejam dan aku pun tertidur.
Aku kembali terbangun di tempat yang sama dengan kemarin. Setelah mengalami ini juga kemarin, aku pun bergegas lari ke luar hutan. Dan aku langsung di kejar oleh lima pemburu sekaligus. Karena mereka berlima, aku enggak mungkin bersembunyi karena aku bisa dengan mudah dditangkap.
Aku pun sampai di luar hutan lagi. Dan aku kembali di hujani panah. Tentu jumlah panah itu lebih banyak dari kemarin karena jumlah pemburu itu tidak sendirian.
Aku awalnya menganggap setelah mendapat banyak luka, aku akan kembali bangun dari mimpi buruk kali ini. Tapi dugaanku kali ini salah. Aku masih berada di sini walaupun sudah mendapat banyak luka di sekujur tubuhku bahkan pandanganku sudah buram. Tapi aku masih mencoba menguatkan diriku agar tidak pingsan. Dan usahaku itu membuahkan hasil.
Aku melihat ada sebuah pasukan yang lewat di jalan itu. Dengan tenaga terakhirku, aku berteriak sekencang-kencangnya “Tolong aku!”. Dan itu berhasil. Dengan samar, aku melihat seekor kuda bergerak ke arahku. Tugasku berlari lebih dekat dengan kuda itu.
Akhirnya aku sampai di dekat kuda itu. Penunggangnya menarikku duduk di atas kuda. Di sana, aku yang merasa telah aman kemudian memejamkan mataku. Aku sangat lelah, izinkan aku beristirahat.
Kemudian aku terbangun di sebuah ruangan yang mewah, dengan luka yang sudah di obati. Aku melihat seorang gadis di pintu kamar yang aku tempati. Aku pun memanggilnya “permisi, di mana aku berada saat ini?”. Apa yang aku ucapkan? Ini bukan bahasa Indonesia.
“Anda sedang berada di ruang tamu istana” jawabnya. Dia juga menggunakan bahasa yang aneh, tapi aku memahaminya. Tunggu, dia bilang istana? Ini istana?!
Belum sempat aku berpikir tentang “istana”, seseorang masuk ke kamar ini.
“A-Anda siapa?” tanyaku gagap karena wajahnya yang sangat tampan.
Sekilas ia menampilkan wajah terkejut, kemudian membuangnya dan menampilkan ekspresi biasa.
“Saya Ainsley, pangeran negeri ini. Boleh saya tahu siapa Anda dan berasal dari mana?” jawabnya dengan wajah ramah.
“Hormat saya kepada pangeran, nama saya Bella,” jawabku sambil sedikit membungkuk di tempat tidur. Aku melakukan nya sembarangan, karena aku belum pernah berhadapan dengan keluarga kerajaan.
“Nona Bella, bagaimana keadaan Anda?”
“Sudah membaik. Apakah Anda yang menyelamatkan saya?”
“iya, saya yang menyelamatkan Anda. Syukurlah keadaan Anda sudah membaik.”
“Terima kasih, saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Anda tidak menyelamatkan saya.”
Dia kemudian membalasnya dengan tersenyum ramah. Aku kemudian menceritakan apa yang terjadi dari memakai minyak wangi sampai ia menyelamatkanku. Dia terlihat terkejut saat aku mengatakan minyak wangi. Setelah aku selesai bercerita, ia kemudian menjelaskan tentang minyak wangi itu.
Minyak wangi yang aku pakai adalah minyak wangi kesialan keberuntungan. Sesuai namanya, seseorang yang memakai minyak tersebut akan menjadi sial dan beruntung—tergantung pemakaiannya.
Aku mendapatkan kesialan, yaitu dikejar oleh beberapa pemburu psikopat dan mendapatkan keberuntungan karena ada yang menyelamatkanku.
Karena minyak wangi itu berbahaya, ia di simpan dan di jaga ketat di ruang rahasia istana. Sampai suatu hari, pemburu-pemburu itu berhasil mencurinya.
Para pemburu itu, bukan pemburu biasa. Para pemburu itu berburu bukan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Namun, memenuhi nafsu psikopatnya. Mereka berburu untuk menyiksa hewan buruannya. Mereka sering menangkap hewan-hewan itu sampai hewan di hutan itu habis.
Hewan yang telah habis, dan mereka tidak bisa menyerang manusia di sini, mendorong mereka untuk mencuri minyak wangi itu. Mereka mencampur sesuatu di minyak tersebut, yang menjadikan orang yang memakainya hanya saat berwarna merah, akan terbangun di hutan yang mereka tinggali. Kemudian mereka mengirim minyak ini ke dimensi lain—dan minyak itu sampai ke tanganku.
“Luka Anda masih parah. Jika Anda berkenan, Anda boleh tinggal sementara di sini” tawar pangeran. Siapa yang tidak mau tinggal di istana? Lagi pula, di sini kan bukan bumi. Aku tak mengenal siapa pun.
“Saya bersedia, terima kasih”.
Seiring berjalannya waktu, benih cinta mulai tumbuh di antara kami. Kami pun memutuskan untuk menikah. Satu Minggu sebelum pernikahan ....
Saat ini aku sedang berjalan-jalan di lorong istana. Mataku menangkap suatu pemandangan yang aneh. Ainsley mengenakan tudung dan pergi diam-diam. Karena penasaran, aku pun mengikutinya. Setelah berjalan cukup lama, ia pun berhenti.
Ainsley berhenti di suatu lorong pasar. Seketika aku terkejut setelah melihat siapa yang ia temui. Pemburu yang mengejarku dululah yang sedang ia temui. Aku mencoba berpikir positif dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Setelah mendengarnya, aku pun bergegas lari kembali ke istana. Ternyata ialah yang menyuruh para pemburu itu untuk mengejar-ngejarku. Dan ia kemudian akan datang sebagai pahlawan untuk membantuku. Untuk apa? Ia memiliki ambisi untuk menguasai bumi.
Minyak wangi itu pun ialah yang mengirimnya. Setelah menyelamatkanku dan berlagak mencintai ku, kemudian ia akan menikahiku. Pernikahan itu hanyalah kedok untuk memanfaatkanku untuk mendapatkan informasi mengenai bumi.
Manusia di bumi memanglah sudah maju dan memiliki banyak teknologi. Tapi, aku rasa semua itu akan kalah dengan sihir yang dimiliki negeri ini. Buktinya mereka bisa mengirim minyak wangi itu ke bumi. Apakah manusia sudah bisa melakukannya? Aku rasa belum.
Setelah sampai di istana, aku segera pergi ke ruangan yang Ainsley larang untuk aku kunjungi. Aku rasa di sana ada sesuatu yang bisa membuatku kembali ke bumi. Dan dugaanku benar. Di ruangan itu penuh dengan minyak wangi yang sepertinya juga ajaib seperti yang aku punya.
Aku pun segera mencari minyak wangi yang bisa membawaku kembali ke bumi. Aku sesekali menengok kanan kiri untuk berjaga-jaga jika ia kembali. Aku akhirnya menemukannya, bersamaan dengan Ainsley kembali.
Aku pun segera menggunakan minyak wangi tersebut. Dan aku kembali terbangun di kamarku. Jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang. Aku pun segera mandi dan berganti baju kemudian mencari minyak wangi itu.
Setelah menemukannya, aku pun pergi membuangnya di tempat pembuangan sampah di kotaku. Setelah semua kejadian itu, aku menjadi trauma dengan minyak wangi. Tapi sampai sekarang aku sudah tak mengalami mimpi buruk itu.