Dira tengah duduk di sebuah restoran mewah bersama keluarga kecilnya. Ayah, mama dan adiknya Rachel. Semuanya tampak bahagia termasuk Dira ia tidak henti tersenyum meski kadang terlihat canggung, adiknya juga sangat baik padanya Rachel bahkan merangkul Dira sesekali. Satu jam mereka habiskan dengan suasana hangat itu membuat semua mata iri melihat betapa bahagia keluarga ini. Bagaimana tidak, Anggi Asmoro salah satu konglomerat di Indonesia memiliki istri yang cantik dan 2 orang putri yang membanggakan. Hidupnya sudah sempurna.
Esoknya mereka menjadi headline di majalah bisnis 'pengusaha batu bara Anggi Asmoro tidak membeda - bedakan putri angkatnya'
Oh Tuhan headline nya jelas menceritakan pada dunia siapa Dira, dan memang acara makan malam kemarin sengaja di buat agar citra keluarga ini luar biasa di mata masyarakat sebab Anggi Asmoro berencana masuk ke pemerintahan, ia perlu membuat namanya dikenal baik.
Keluarga ini memang tidak buruk, hanya saja Dira tidak mendapatkan haknya sebagai anak, ia tidak merasakan kehangatan itu hidupnya harus di penuhi dengan senyum palsu ayahnya bilang itu adalah cara Dira membalas budi. Padahal siapa meminta mereka memungut Dira dari panti asuhan? Dira bahkan tidak tahu. Dira tidak di lukai secara fisik karna jelas itu mengundang perhatian orang, tapi di abaikan? Bukankah hati Dira tidak ada yang melihat.
Setiap hari Dira menyaksikan bagaimana keluarga itu menganggap Dira orang lain, tidak pernah ada pelukan seperti yang Rachel terima, tidak ada pertanyaan saat Dira pulang telat bukan karna mereka percaya Dira akan baik - baik saja tapi lebih kepada tidak peduli. Hanya saja kali ini Dira di butuhkan sebab ayahnya ingin fakta bahwa Dira hanyalah anak angkat menaikan citra yang sedang ia bangun. Tapi setidaknya di depan orang lain Dira bisa merasakan tatapan hangat ayahnya, juga pelukan dari mama dan Rachel.
Dira yang tidak pernah satu mobil dengan ayahnya dan Rachel kali ini bisa merasakannya ketika ayahnya mengantar mereka ke kampus
"Kalian harus terlihat sangat dekat, ayah tidak mau ada gosip buruk tentang keluarga kita!"
Begitu ucap ayahnya sebulan terakhir. Ia juga mulai rutin mengantar mereka ke kampus atau mengajak keluarga kecilnya makan bersama tidak lupa ia membayar wartawan untuk datang pada saat - saat seperti itu.
Rachel tidak menjawab ia sibuk dengan ponselnya, Dira pun begitu ia hanya menatap kosong ke luar mobil tapi saat tiba di kampus Rachel dan ayahnya berubah jadi orang lain, gadis manis itu menggandeng lengan Dira dan tersenyum lalu ayahnya juga mengusap rambut kedua putrinya. Waahhh siapapun akan tertipu bukan!.
Dira melakukan banyak usaha untuk pergi dari rumah itu, ia berfikir untuk bisa hidup sendiri dan bekerja tapi ayahnya jelas tidak akan memberi ijin lagi - lagi bukan karna peduli tapi nama baik keluarganya adalah segalanya. Sampai satu malam ayahnya memanggil Dira ke ruangan kantornya, Dira tidak pernah masuk ke sana ini kali pertama baginya.
"Ayah mau kau menikah dengan kolega ayah!"
Ayahnya langsung berucap tepat setelah Dira duduk di sofa, itu jelas bukan penawaran tapi perintah!
Dira tidak berucap sepatah kata pun sepanjang ayahnya bicara. Omong kosong ini jelas tidak bisa Dira bantah. Tapi kenapa harus Dira? Padahal ada Rachel yang jelas - jelas anak kandungnya, jika memang laki - laki itu adalah seseorang yg muda, tampan dan sukses ayahnya tentu lebih suka Rachel yang mendampinginya bukan?
Bagian ini Dira masih belum paham, tapi apa peduli Dira hidupnya sudah di tentukan kuliahnya pun sudah selesai setelah sidang skripsi kemarin.
Esoknya, Dira sudah duduk di sebuah restoran dengan arsitektur chinnese yang kental, terdapat 12 patung shio disana dengan langit - langit yang tinggi dan lambu gantung mewah, salah satu restoran paling mahal di daerah menteng setiap orang bahkan harus reservasi sebulan sebelumnya dan tidak boleh membawa kamera ke dalam. Tapi ayahnya bisa membuat Dira duduk disana dalam satu hari atau mungkin ini ulah calon suaminya?
5 menit kemudian Dira terpesona seorang laki - laki berusia 33 tahunan duduk di depannya tanpa basa basi memegang buku menu dan memesan tanpa bertanya apa mau Dira. Arogan. Cukup hanya sampai disana Dira berjanji pada dirinya tidak akan terpesona lagi.
"Andira?"
Suaranya terdengar berat namun penuh kharisma, ada aura aneh dalam nada bicaranya membuat siapapun terpesona. Lagi. Ah bodohnya Dira ia hanya melongok menatap laki - laki tampan itu, ia cukup matang jelas karna usianya tapi lelaki itu terlihat luar biasa dengan tuxedo nya.
"Kita akan menikah 2 bulan lagi, saya rasa waktunya cukup untuk semua persiapan karna kita akan mengadakan 2 kali pesta. Kamu tidak perlu repot karna asisten pribadi saya yang akan urus kamu hanya harus hadir pada hari pernikahan kita"
Oh Tuhan laki - laki itu bicara apa Dira tidak sedang mendengarkan karna berfokus pada apa yang ada di hadapannya. Fisik laki - laki itu sendiri.
"Ah maaf sebentar.. sebentar.. saya tidak tahu bahkan nama anda siapa. Kita akan menikah tapi saya tidak mengenal anda seperti apa begitupun sebaliknya"
"Kamu tidak tahu saya?"
Nada suaranya lagi - lagi. Di tambah senyum yang sedikit arogan tapi entahlah Dira menyukainya. Lelaki itu menaikan alisnya tampak heran.
"Ahh maaf saya tahu anda pasti seorang pebisnis sukses mengingat ayah saya menyebut anda koleganya, lebih dari itu saya tidak tahu"
Dira bingung karna ia bahkan tidak di beritahu siapa laki - laki ini oleh ayahnya.
"Angga Wijaya"
"Kamu bisa mencari informasi apapun tentang saya dari internet"
Lelaki ini sangat dingin, Dira bodoh jika berharap dapat pembicaraan lebih darinya lagi pula pernikahan ini hanya karna keinginan ayahnya dan lelaki itu.
"Boleh saya bertanya? Kenapa anda memilih saya dan bukan Rachel padahal semua tahu saya hanya.. hanya anak angkat"
Dira memberanikan diri bertanya setelah semua makanan di hidangkan. Namun lelaki itu hanya menatap Dira sekilas lalu mempersilahkan Dira makan dengan gerakan tangannya
Ia memesan banyak jenis dimsum dan hargow juga roast duck dan fried rice seafood yang anehnya semua adalah makanan favorit Dira. Bagaimana ia bisa tahu?
Satu jam mereka habiskan tanpa bicara lagi, Dira juga menikmati semua menu yang jelas menjadi favoritnya setiap kali pergi ke chinnese resto. Anehnya Dira seperti melihat lelaki itu menatapnya diam - diam. Tapi tidak mungkin kan fikir Dira.
Lelaki itu mengantar Dira dengan mobilnya sampai ke rumah lagi - lagi tidak ada pembicaraan berarti, sepanjang perjalanan yang memakan waktu 15 menit gadis itu terus menatap keluar jendela tanpa tahu lelaki di sampingnya mencuri pandang pada Dira.
"Oh. Kamu bilang kita tidak saling mengenal, tapi saya tahu kamu"
Hanya itu kata - kata terakhir yang di ucapkan Angga sebelum pergi meninggalkan Dira yang kebingungan di depan pintu rumahnya
Waktu menunjukan pukul 11 malam Dira tidak bisa tidur ia terus berfikir kapan pernah bertemu lelaki itu lalu tangannya iseng saja membuka ponsel dan mengetik nama Angga Wijaya di laman pencarian, semua informasi yang sudah Dira duga lelaki sukses, mapan, lajang dengan citra yang luar biasa baik
Tapi Dira tiba -tiba terkejut disana jelas tertulis Angga Wijaya berasal dari panti asuhan yang sama dengannya. Ya Tuhan, Dira bahkan tidak ingat sama sekali jelas saja karna gadis itu di bawa keluarga ini saat usia 6 tahun dia tidak mengingat memori apapun saat masa kecilnya, itu sudah lama sekali. Meskipun begitu, Dira rutin mendatangi panti walau sebulan sekali sekedar mengunjungi bu Aminah dan yang lain, sekedar membawa pakaian bekas layak pakai yang ia kumpulkan dari teman - temannya atau makanan yang ia masak sendiri. Tapi Bu Aminah tidak pernah bercerita soal Angga atau mungkin Dira yang tidak ingat.
Pukul 8 pagi, Dira sudah siap dengan banyak kresek makanan di tangannya ia berencana mengunjungi panti bekasnya tinggal dulu di daerah Bogor, jalanan pasti sudah mulai macet Dira harus cepat pergi. Sampai disana Bu Aminah terkejut karna Dira tidak memberi kabar sebelumnya tapi Dira lebih terkejut karna Angga ada disana tengah bermain sepak bola dengan anak - anak, ia mengenakan tshirt putih dan celana abu juga sepatu sneakers penampilan yang berbeda dari malam itu. Terlihat lebih mudah di dekati.
Angga tidak menyadari kedatangan gadis itu, Dira juga hanya berdiri mematung memandangi pesona lelaki itu.
"Kamu nggak inget dia nak? Kamu memanggilnya Engka dulu"
"Engka?"
"Iya, kamu sulit sekali menyebutnya Angga dan terbiasa Engka tapi sampai usiamu 6 tahun kamu tetap memanggilnya begitu"
Ucap Bu Aminah sambil tersenyum
Ahh sepertinya Dira ingat, lelaki itu dulu menggendong Dira kecil saat jatuh, menyuapinya saat sakit bahkan saat sehat. Kenapa dia bisa lupa sosok itu.
Saat Dira sibuk dengan lamunannya sambil berdiri mematung Angga menghampiri Dira
"Kamu disini?"
Tanya lelaki itu lebih dulu. Tunggu bukankah seharusnya Dira yang bertanya
"Maaf.. maaf"
Tiba - tiba Dira berbicara sendiri tanpa henti
"Hei"
Angga memegang bahu Dira lembut membuat gadis itu menatapnya
"Maaf, aku gak inget sama kamu"
Lelaki itu tersenyum, aneh. Padahal semalam ia sangat dingin pada Dira.
"Aku menunggu kamu ingat, aku senang itu tidak membutuhkan waktu lama seperti di film"
Ucapnya santai
Lalu pembicaraan antara mereka mengalir begitu saja, bagaimana Angga bisa sesukses sekarang yang berawal dari dia bermain saham sampai mempunyai banyak perkebunan kelapa sawit dan batu bara seperti ayahnya. Ia bahkan tidak pernah melupakan Dira, diam - diam ia selalu memastikan gadis itu baik - baik saja dan tidak terluka
"Maaf soal tadi malam, jujur aku gugup ketemu kamu lagi setelah berapa tahun aku mikirin gimana respon kamu, apa kamu mungkin inget aku.. banyak lah"
"Tapi aku enggak berani tatap wajah kamu. Kenapa ya?"
Ucapnya sambil tersenyum canggung
"Kamu mikirin aku?"
Dira seperti tidak percaya apa yang ia dengar
"Maaf aku datang terlambat, aku tahu bagaimana kamu tidak nyaman di keluarga itu, tapi aku fikir setidaknya mereka menjamin kamu akan baik - baik saja jadi aku bisa membiarkanmu disana"
"Kali ini aku datang buat kamu, keluarlah dari rumah itu"
Dira masih tidak paham maksud dari pembicaraan ini.
"Aku memberi banyak keuntungan pada ayahmu dengan syarat dia mau menjodohkan kamu denganku, aku menunggu asetku cukup supaya ia juga tidak meremehkan kamu nantinya"
Lalu ia diam sejenak memandangi wajah gadis itu, Angga sadar Dira sudah bukan Dira kecil lagi ia tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik Angga tidak berhenti mengamati Dira dari foto yang di kirim orang suruhannya, atau apa saja yang Dira lakukan dari pembantu yang ia pekerjakan di rumah keluarga Dira, itulah sebabnya Angga tahu apapun tentang Dira. Ia sudah jatuh cinta sejak lama.
"Marry me, Dira"
Dira masih mematung kali ini ada yang mengalir dari sudut matanya. Lelaki ini selalu menjadi penolong untuk Dira bahkan saat Dira kehabisan cara untuk pergi dari rumah itu, dia datang tanpa Dira duga.
Dira juga tidak bisa menolak pesona lelaki itu
Dira memeluknya, memeluk lelaki yang akan menjadi teman hidupnya...