Cahayamu berpendar memenuhi ruang hatiku
Bayanganmu ada di setiap kaki berpijak
Mengikuti kemanapun kaki melangkah
Seakan tak puas dimata terjaga
Kau datang pula dlm mimpi
Apakah kau adalah aku yg berbeda ?
Menusuk relung jiwa
Dalam lara kesendirianku
Menikam sepi
Menghalau sunyi
Kehadiranmu membuat keterasingan ini begitu ramai.
*******
Ibram menekuk lututnya di salah satu sudut ruangan yang terkunci dengan terali besi, ruangan pengap berukuran 3x4m dihuni 4 orang itu semakin terasa sempit karena wajah-wajah yang terkurung disana tak ada yang tak bermasalah.
Tapi bukan masalah hukum yang membuat Ibram merasa tersudutkan, tapi kisah cintanya dengan seorang gadislah yang membuat dia terkurung di tempat ini.
" Cinta tak bermata, tapi dia tidak buta, aku menyukai Sarmila bukanlah suatu dosa kawan !" kata Ibram berbunga-bunga, dia tak peduli semua orang melarang dirinya yang hanya seorang pelayan mencintai anak majikannya.
Sarmila, anak seorang Jenderal sebuah kerajaan digdaya. Kecantikannya menjadi buah bibir para pangeran dan para putra pejabatnya. Tapi Sarmila memandang mereka semua hanyalah para pria pengecut yang bersembunyi di ketiak ayahnya.
Ibram seorang kusir kereta, sebulan terakhir dia menggantikan ayahnya yang sedang sakit. Wajahnya tampan, senyumnya menawan tak kalah para petinggi bangsawan, hanya nasiblah yang membawa dirinya berada di atas kereta memegang kendali kuda.
Suatu hari Ibram mengantarkan Sarmila dalam sebuah acara di luar kerajaan, di trngah perjalanan tiba-tiba terjadilah hujan badai, dua ekor kuda yang menarik kereta sangat ketakutan, jalannya tak terkendali, Ibram tak mampu menenangkan kuda-kudanya hingga mereka terguling dan terjatuh ke jurang.
" Aaaagh...tolooong !!" suara teriakan Sarmila diikuti suara berdebam di bawah jurang.
Setelah badai reda, tersisa hujan rintik membasahi tubuh Ibram yang mulai tersadar dari pingsannya. " Putri Sarmila !" dia ingat semuanya.
Dia bangkit mencari, " Putri ?!" Ibram mendapati Sarmila tergolek pingsan di atas rerumputan. Dia angkat gadis itu dan segera berlari mencari sebuah tempat yang terlindungi dari hujan. Dia terus berjalan meski kakinya begitu berat melangkah, dan akhirnya menemukan sebuah gubuk di pinggiran hutan.
Gubuk kecil itu cukup bersih.
"Permisi..permisi, ada orang disini ?!" tidak ada yang menjawab. Gubuk itu juga tidak terkunci . Karena ingin cepat membaringkan Sarmila, Ibram masuk begitu saja, lalu membaringkan tubuh Sarmila yang basah di sebuah dipan bambu. " Istirahatlah disini Putri !"
Beberapa saat Ibram menunggu, matanya menyapu sudut gubuk itu, dia melihat sesuatu yang sedikit aneh. Terdapat bunga tujuh rupa terendam di air, dan tungku dupa yang masih menyala, dia tengok keluar gubuk tak ada orang. Ibram mengambil selimut yang tergeletak di kursi sudut ruangan untuk Sarmila.
Saat Ibram berbalik, dia terkejut karena sudah ada wanita tua berada di samping Sarmila.
" Dia terluka parah " kata wanita tua itu.
" Tolong dia Nek !" Ibram memohon.
" Tenanglah anak muda !" kata nenek itu menahan Ibram yang ingin menyentuh tangannya.
Nenek itu membuatkan sebuah ramuan, kemudian dia borehkan diatas kening Sarmila, tak lama kemudian dia siuman. Matanya mengerjap memandang sekitar, dia tersenyum menatap Ibram " terima kasih" ucapnya lirih, tapi dia meringis kesakitan karena luka di beberapa bagian tubuhnya.
Rupanya saat Ibram berlari membawa dirinya, Sarmila sempat tersadar tapi kemudian kembali pingsan.
" Dia butuh istirahat agar kembali pulih, tinggallah disini sementara " Nenek itu memberi nasihat.
" Baiklah nek, sembuhkan dia !"
" Aku butuh beberapa daun untuk ramuan, carilah di hutan !" Nenek itu menunjukkan beberapa dedaunan yang harus diambil di hutan.
Ibram segera keluar gubuk dan mencocokkan dedaunan yang dia bawa ke semak-semak, dan tumbuhan hutan. Ibram cukup kesulitan, karena tumbuhan obat itu tergolong langka. Setelah hampir satu jam mencari, akhirnya lengkaplah daun yang dia butuhkan.
" Nek, ini daunnya !" Ibram menyerahkannya untuk dibuat ramuan, Sarmila tersenyum dalam pembaringan bambu, tubuhnya demam tinggi , wajahnya memerah tapi tak hilang pesona kecantikannya.
" Bagus anak muda, obat ini sangat bermanfaat untuk penyembuhan !" Nenek itu segera membawa dedaunan ke dapur kecil di belakang gubuk untuk di rebus. Ibram duduk di samping Sarmila, " terima kasih "
suaranya kembali terdengar lirih membuat hati Ibram seperti tersayat pedih. Tangan Sarmila meraba tangan Ibram dan menggenggamnya erat.
" Tak ada laki-laki di dunia ini seperti dirimu", darah Ibram terkesiap, perasaan hawatir karena tangan Sarmila sangat panas, tapi dia juga merasa ada sebuah perasaan menyala dalam dirinya yang entah apa tak dia mengerti, sebuah cinta dan kebahagiaan.
Tak lama kemudian nenek itu masuk membawa sebuah cangkir berisi ramuan.
" Dia mengigau nek !"
" Itu karena panasnya sangat tinggi, dudukkan tubuhnya untuk minum ramuan ini !".
Ibram memeluk tubuh Sarmila dan menyangga tubuhnya untuk meminum ramuan. " Huk...huk...pahit sekali !" tapi Sarmila tetap menghabiskan obatnya.
Kemudian Ibram kembali membaringkan tubuh Sarmila. Ibram bersandar di kursi bambu ,tubuh yang lelah membuatnya nyaman untuk terlelap.
" Bram..!!" Ibram tergagap, dia mendapati putri Sarmila sudah duduk dengan wajah lebih segar.
" Putri sudah sehat ?" Sarmila menjawab dengan anggukan dan senyuman.
" Kapan kita pulang ?, aku merasa sudah sangat sehat " kata Sarmila sambil mengembangkan kedua bibir tipisnya.
"Kita makan dulu" nenek tua itu membawa satu piring singkong rebus dan sayuran yang telah diolah. " Kalian adalah tamuku, mari makan !".
Ibram dan Sarmila melahap makanan, dan memang mereka sangat lapar." Kalian berjodoh, tapi ujianmu sangat besar !".
Ibram terkejut mendengar kata-kata nenek tua itu, dia senang tapi juga kebingungan mengapa nenek tua ini berkata demikian.
" Aku tahu kalian saling mencintai, perjuangan panjang menunggu kalian, pergilah !" Nenek itu meminta Ibram dan Sarmila pergi, mereka berdua keluar dan berjalan meninggalkan gubuk dengan penghuninya yang misterius.
Sambil berjalan Sarmila bertanya " Apakah benar kita saling mencintai seperti yang dikatakan nenek itu ?"
" Jika putri bertanya padaku tentang perasaan ini akan aku iya, aku sangat mencintaimu !" Jawab Ibram tegas.
Putri Sarmila berhenti sejenak dan menatap wajah Ibram " apakah kau ingin tahu perasaanku padamu ?".
" Tidak putri, aku sudah tahu jawabannya".
Mereka terus berjalan, tangan yang semula terombang ambing sendirian kini menjadi satu saling bergandengan. Hingga sampailah di jalan besar dan mereka menemukan tumpangan menuju istana.
Cinta antara dua insan yang kasmaran ini terdengar oleh sang jendral ayah Sarmila, Ibram diusir dari istana. Tapi Sarmila tetap mencari dan mendatanginya. Jendral sangat marah, dan menganggap Ibram telah merayu anaknya. Diam-diam di suatu malam, Dia memerintahkan Ibram dimasukkan ke penjara agar mereka tidak lagi saling berjumpa.
Sarmila mencari-cari keberadaan Ibram, Jendral membungkam seluruh penghuni istana, siapa yang membocorkan rahasia akan mendapatkan hukuman yang berat.
Waktu berlalu, Ibram tahu pasti Sarmila terus menunggunya. Dengan bantuan sipir, secara diam-diam Ibram menuliskan sebuah surat,
*Aku disini menunggumu
Setiap saat, setiap waktu.
Terali besi ini tak mampu memenjarakan cintaku padamu*
Dari aku Valentinmu.
Sarmila yang mengetahui Ibram dalam penjara, dengan segala cara dia membebaskannya, kemudian mereka lari meninggalkan istana untuk menikah dan hidup bersama saling mencinta. Cinta tak kenal kasta.