Namanya Olivia Nadhira Parveen. Gadis berusia 17 tahun yang kini tinggal disebuah desa kecil. Olive, begitu sapaan akrabnya. Olive memiliki paras yang sangat cantik dengan bulu mata yang lentik, alis yang tebal, hidung mancung, bibir tipis dan berwarna pink alamai, serta sorot mata yang memancarkan keteduhan bagi siapa saja yang menatapnya.
Namun sayang, ia memiliki satu kekurangan yang membuatnya tidak dapat melihat betapa indahnya dunia ini. Ya, Olive menderita buta warna sejak kecil.
Achromatopsia adalah gejala yang sangat langka. Dari 100% populasi dunia, hanya 0.00003% saja yang menderita buta warna ini. Dan Olive adalah salah satunya. Penderita buta warna yang biasanya disebabkan oleh faktor genetik orang tua. Seseorang yang memiliki kelainan ini biasanya disebut Monokromasi, karena penderitanya hanya bisa melihat dunia persis seperti melihat televisi hitam putih. Sel kerucut matanya hanya bisa mengakap warna hitam, putih dan abu-abu saja.
Olive hanya melihat dunia sebagai sesuatu yang datar tanpa warna. Namun Olive harus menjalani kehidupannya dengan riang, meski penampakan dunia akan selalu membuatnya bingung, lalu terasa kembali datar.
Disekolahnya, Olive adalah tergolong anak yang sangat sulit bersosialisasi dengan anak lainnya. Ia merasa insecure dan malu untuk berbicara kepada yang lainnya, karena Olive tidak mau kekurangannya diketahui oleh orang lain.
Suatu hari guru seni budaya disekolahnya, memberikan tugas kepada semua murid untuk menggambar bebas dan harus diwarnai menggunakan pensil warna. Saat itu Olive memilih untuk menggambar pelangi dengan warna hitam putih.
Sampai seorang teman sekelasnya datang dan menghampiri Olive yang sedang menggambar.
"Kamu gambar apa Liv?" tanya anak tersebut yang diketahui bernama Lintang.
"Aku sedang menggambar pelangi." jawabnya dengan masih fokus pada gambarnya.
"Kok gak ada warnanya sih? Mana ada pelangi warna hitam dan putih." cibir Lintang.
"Aku memang sengaja tidak mewarnainya karena aku lebih suka warna hitam dan putih." jawab Olive berbohong karena ia tak mau teman-temannya tahu akan kekurangannya itu.
Lintang yang tak percaya dengan jawaban Olive pun akhirnya bertanya dengan menunjuk salah satu pensil warna yang berwarna merah. "Olive, coha tebak ini warna apa? Kata Bimbim ini warna kuning.."
"Bimbim benar kok, itu memang warna kuning." jawab Olive yakin
Seketika tawa para murid pun pecah. Banyak diantaranya yang mengejak Olive.
"HAHAHAHAHAHAHA...Olive buta warna..." ejek teman-temannya.
Semua murid menertawakannya. Olive yang hatinya hancur dan malu karena hinaan teman-temannya hanya bisa menangis tersedu-sedu. Dan sejak saat itu Olive memilih untuh home schooling.
Sungguh, jika Olive mengingat kejadian itu, hatinya sangat sakit dan perih bagaikan ditusuk dengan belati. Olive memang menjalani hidupnya seperti orang normal pada umum nya. Namun jika mengingat kejadian yang dulu, rasanya Olive sungguh tidak sanggup untuk menjalani hidup ini.
"Tuhan...kenapa harus aku yang tidak bisa melihat indahnya dunia dengan penuh warna." Gumam Olive, kini dirinya sedang berada duduk diatas ayunan yang dibuatkan ayahnya dahulu.
"Aku suka dengan alam. Aku dapat melihat indahnya alam, tapi tidak dengan warna aslinya...Aku menyesal...aku menyesal hidupku tanpa warna.." Olive tak dapat menahan air matanya lagi. Ia sangat terpuruk, bahkan disaat-saat titik terendah dalam hidupnya, orang-orang hanya dapat menghinanya tanpa tahu perasaannya.
"Kamu jangan sedih liv." kata seseorang dibelakang Olive.
Olive pun menoleh pada sumber suara tersebut. Dan langsung menghapus jejak air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. "Eh Naufal, sejak kapan kamu ada disini?"
Naufal Aydin, sahabat Olive dari kecil hingga sekarang. Dari kecil Naufal selalu menemani Olive, bahkan disaat semua orang mengolok-olok dirinya, Naufal lah orang pertama yang ada disamping nya untuk memberikan semangat. Naufal selalu ada disaat Olive membutuhkannya, sungguh Olive sangat beruntung bisa memilki sahabat seperti Naufal.
Naufal sudah mengenal sosok Olive luar dalam. Keadaan monokromasi gadis itu, justru membuat Naufak semakin getol memberikan hal baru. Warna baru. Bukan tentang rupa, tapi rasa. Ketika Olive mulai tersenyum, lantas merasa bahagia, bukankan itu warna kehidupan sesungguhnya?
"Sejak kamu mengeluh pada Tuhan." jawab Naufal yang sudah duduk disebelah ayunan Olive.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis, apa ada masalah? Ada yang mengganggumu lagi?" tanya Naufal bertubi-tubi
"Tidak ada kok...aku hanya sedang meratapi hidupku saja." jawab Olive sambil menampilkan senyuman palsunya.
"Kenapa kamu harus bersedih? Seharusnya kamu bersyukur karena masih dikelilingi oleh orang-orang yang sayang sama kamu.."
"Tapi rasanya dunia ini gak adil Fal, kenapa Tuhan ngasih cobaan seberat ini untuk aku?" tanya Olive
Sudut bibir Naufal terangkat sedikit demi sedikit membentuk senyuman. "Karena Tuhan sayang sama kamu Liv.."
"Tapi..."
"Sudahlah. Aku punya sesuatu untuk kamu. Aku yakin setelah ini kamu akan mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya." Ucapnya sambil memberikan secarik kertas pada Olive, sepertinya itu adalah sebuah alamat.
Jalan Patimura 10. No 5, Sekolah Luar biasa.
"Maksudnya apa?" tanya Olive
"Nanti juga kamu akan tahu. Kalau begitu aku pamit pulang dulu." pamit Naufal, setelah itu dirinya melenggang pergi meninggalkan Olive yang masih menatap secarik kertas yang berisikan alamat tersebut.
*****
Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Cahaya yang masuk menembus kaca jendela, mampu membuat Olive memicingkan mata. Terganggu, karena cahaya matahari pagi menyakiti retina matanya. Keadaannya yang photopobic menjadikannya sangat senstif terhadap cahaya yang menyilaukannya. Inilah yang membuat seorang Olive tak bisa menikmati keindahan warna.
Olive mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi jendela. Ia masih meringkuk didalam selimut yang menghangatkan nya. Namun seketika ia teringat sesuatu. Dia harus menemui alamat yang diberikan oleh Naufal. Ia harus tahu apa yang dimaksud oleh Naufal.
Kemudian Olive pun bergegas untuk mandi dsn bersiap-siap.
Sekitar 30 menit Olive telah rapi dengan pakainnya. Hari ini ia akan mencari alamat tersebut. Olive berpamitan pada sang ibu kemudian melenggang pergi menuju tempat tujuan.
Setelah sampai ditempat tujuan. Olive kembalu mencocokkan alamat yang diberikan oleh Naufal dengan plang yang ada disana.
"Apa yang dimaksud Naufal adalah tempat ini?"
Tak mau berlama-lama dalam kebingungan, Olive segera masuk kedalam sekolah tersebut.
Disana Olive banyak melihat anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hatinya sungguh teriris melihat anak-anak tersebut. Disana, mereka nampak sangat bahagia menjalani hidup, meskipun berkebutuhan khusus. Malu. Ya itulah yang dirasakan oleh Olive saat ini. Dirinya sangat malu pada anak-anak itu, Mereka dengan mudahnya menerima hidup ini dan menjalaninya dengan ikhlas. Sementara dirinya, ia selalu mengeluh dan terus menerus menyalahkan keadaan pada Tuhan.
"Mereka...."
Kini dirinya mengerti maksud dari Naufal. Sekejam apapun takdir kita. Bersyukur itu harus. Olive dan anak-anak ini tentunya punya impian. Dan impiannya saat ini adalah memberikan warna kepada kehidupan orang lain. Karena Naufal, ia mengerti arti hidup yang sesungguhnya.
Banyak anak diluar sana yang tidak seberuntung dirinya. Bahkan disaat ia menderita buta warna pun, masih banyak orang yang menyayangi nya. Naufal benar, seharusnya ia bersyukur karena masih dikelilingi oleh orang-orang yang sangat sayang padanya.
Perlahan Olive menghampiri anak-anak tersebut. Ia membawa sejumlah mainan yang telah dibelinya tadi sebelum ia berangkat ke sini. Namun sebelum itu, seseorang telah lebih dulu menepuk pundaknya.
Olive terkejut dan langsung menoleh. Ternyata orang tersebut adalah Naufal. Sejak kapan dirinya ada disini? Apa Naufal mengikutinya?
"Aku tau kamu bakal dateng kesini." ucap Naufal sembari tersenyum manis.
"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Olive penasaran.
"Aku memang sering kesini, Liv.." jawab Naufal
"Kenapa gak ngajak aku?"
Naufal tersenyum, tangannya terangkat untuk menepuk pundak Olive. "Biar kamu datang dengan sendirinya.."
"Yaudah yuk kita kesana." ajak Naufal sembari menggenggam tangan Olive.
Genggaman itu sangat begitu hangat untuk Olive. Genggaman yang selalu ia dapat disaat dirinya berada dalam titik terendah dalam hidupnya.
Sifat jenaka dan bijaksana Naufal membuat Olive perlahan mengerti. Gadis itu tak bisa menyangkal ketika kebersamaannya dengan Naufal, warna baru telah dibawa oleh pria baik itu kedalam dunia nya.
Naufal selalu menggambarkan pelangi untuknya. Meskipun Olive tidak dapat melihat warnanya. Namun baginya itu sangatlah indah.
Dan entah sejak kapan keindahan itu menghangat kan hatinya. Tak ingin perhatian Naufal terhadapnya memudar layaknya warna hitam, jadi abu lantas memutih. Bagaimana pun juga mereka sama-sama menginginkan genggaman itu. Selain bersama, dan Naufak akan bersedia menyingkirkan awan hitan untuk mencerahkan hari-hari Olive.
Hari ini dari Naufal, Olive banyak belajar tentang arti kehidupan yang sesungguhnya.
Olive selalu ingin mencoba menemukan warna. Warna pelangi, senja, bahkan warna daun dan rumput pun ia tak tahu. Ibaratnya sekalipun kita tak punya tangan, kenapa kita tidak mencoba untuk menjadi tangan untuk orang lain?
Begitulah dengan Olive. Jika ia tak dapat melihat warna, kenapa ia tak coba untuk memberikan warna untuk kehidupan orang lain? Setidaknya, kini hidupnya lebih berarti dan lebih bermanfaat.
-END-