Perpustakaan penuh dengan buku. Tapi tidak banyak murid yang datang hari ini. Semua sibuk mempersiapkan hadiah Valentine untuk seseorang yang mereka suka. Perpustakaan jadi kelihatan menyeramkan. Pojok perpustakaan tempat favorit untuk bergosip murid-murid pun jadi seperti sarang mahluk dimensi lain.
Hiiiiiii !! Bikin merinding.
Valentina namanya. Duduk sendiri di kursi yang dekat dengan penjaga perpustakaan. Hanya dia seorang di sana siang itu. Sengaja. Biar tidak seram.
Penjaga perpustakaan duduk terkatung-katung , melihat Valentina yang hanya seorang, membuatnya kurang awas. Pandangannya menuju pintu, tangannya menopang dagu. Entah siapa yang dia tunggu.
Tuk! Tuk! Semangkuk bakso panas diletakkan dimeja. Sebotol minuman dingin menemani bakso itu disebelahnya.
"Hei ini perpustakaan." Valentina mengingatkan pada murid itu.
"Ssttt." Meletakkan jari telunjuk dibibir sebagai isyarat untuk diam.Lalu duduk disebelah Valentina.
"Jangan ribut ini perpustakaan!" Penjaga perpustakaan mengingatkan Valentine.
Valentina cuma diam. Murid yang ada disampingnya pergi keluar. Meninggalkan makan dan minumannya.
Beberapa menit kemudian penjaga perpustakaan menggeliat merenggangkan otot-ototnya. Menggerak-gerakkan kepala kiri kanan depan belakang. Matanya melotot!
"Heiii nak bukankan kamu sudah tahu peraturan perpustakaan itu tidak boleh bawa makanan?"
"Bukan punyaku Pak." Dengan muka memelas menjawab.
"Kalau bukan punyamu lalu siapa lagi....?"
"Loh.. tadi kan ada anak cowok pak yang masuk, masa bapak nggak liat?"
"Ahhh ngarang apa kamu??!! Bawa makanan dan minumanmu itu keluar !"
"Bukan pu,"
"Cepat!!" Dengan cepat memotong pembicaraan lawan bicaranya.
Dengan merengut membawa mangkuk bakso serta botol minuman dingin yang ada di meja perpus.
"Punya siapa sih ini?" Melirik kiri kanan.
Kantin penuh di jam istirahat. Valentina membawa makanan dan minuman itu kesana berharap bisa bertemu pemiliknya disana.
"Ahhh... bikin repot saja.. " Muka Valentina makin kusut.
"Heii... mau dibawa kemana punyaku itu?"
Valentina menoleh. Seorang murid laki-laki datang mendekatinya membawa kotak kado yang cukup besar.
"Heiii jangan buat orang lain repot tau. Nih.. ambil..!"
"Tanganku cuma ada dua? Nggak bisa bawa 3 barang sekaligus. Tolong pegangkan kotak ini dulu. "
Mereka saling bertukar. Mulanya botol minuman pindah ke tangan anak laki-laki itu lalu memberikan kotak besar itu pada Valentina.
"Awas jatuh!"
"Ini.. apa sih.. eh..ringan..!"
Lalu kini mangkuk bakso pun berpindah dari tangan Valentina.
"Tunggu disini. Aku antar ini ke kelasku dulu." Mengangkat mangkuk bakso dan botol minuman setinggi sejengkal dari perutnya, menunjukkan yang dimaksud .
"Lalu kotak ini."
"Peganginlah!"
"Apa??!! Dengan mata melotot.
Anak laki-laki itu berjalan. Valentina mengikuti.
"Ngapain lu ??"
"Ya ngikutin elo lah bawain ini!"
"Elu mau ngikutin gue sampe kelas gitu?? Biar dilihat anak-anak ..gitu?? Bi-ar di ki-ra elu.. pa-car gue.. gi-tu mak-sud lu????" Dengan nada yang menyebalkan dan muka yang dijelek-jelekkan.
"Ihhh siapa juga yang mau jadi pacar lu!!"
"Makanya diam disitu tunggu dengan sabar ya...!" Dengan wajah malaikat dan senyum yang menawan.
Valentina melotot lalu bertingkah seolah olah hendak muntah. Uuueeekkk! Katanya.
"Heh.. ( tersenyum dengan menyungingkan bibir kanannya kearah atas menertawakan Valentina) makin jelek aja lu."
Valentina merengut. Pemilik kotak pergi kearah Timur.
Bell tanda masuk berbunyi. Pemilik kotak belum datang. Mau tak mau kotak itu dibawa ke kelas. Teman sebangkunya melirik heran. Mereka sedang perang dingin. Jadi teman sebangkunya diam saja sambil menarik bibirnya kekanan dan mengangkat alis kirinya. Seolah berkata, masa bodo emang gue pikirin.
*****
14 Februari 2021 . Hari ulang tahun Valentina datang. Tidak ada kado ulang tahun. Nenek satu-satunya keluarga yang tersisa. Nenek sudah pikun. Tidak ingat tanggal lahir cucunya. Beruntung Ibunya saat hidup sudah jadi pegawai negri jadi biaya sekolahnya ditanggung pemerintah. Dan biaya makan mereka ditanggung oleh sanak family dari Ayahnya, anak kandung Nenek, yang memberi uang pada Valentina karena merawat Nenek.
Tidak ada juga coklat Valentine untuknya, atau pun untuk orang lain. Valentina tidak menyiapkan coklat. Tidak perlu. Tidak tertarik pada siapapun juga. Jadi tidak perlu memberi apapun juga.
Teman sekelasnya bingung. Beberapa heran melihat Valentina bawa kotak berukuran 30×30 cm . Se-ti-ap ha-ri. Dan sudah lima hari sejak kotak itu ditangannya.
"Untuk apa? "Pikir teman-teman sekelasnya.
Meski bukan anak yang menarik perhatian tapi kotak besar yang dibawanya tentu saja mengundang perhatian. Warnanya norak lagi!
Merah terang dan mengkilat.
"Sepertinya cowok yang lu taksir juga nolak lu ya?"
Teman sebangkunya akhirnya buka suara. Padahal sudah seminggu mereka tidak saling tegur sapa. Valentina bingung harus bilang apa.
"Nih kado ultah buat lu."
"Bukannya itu coklat buat cowok yang lu taksir ya?"
"Dia udah jadian sama ketua kelasnya. Tadi . Di kantin. Disorakin temen sekelasnya lagi tuh. Saat si ketua kelas yang ganjen itu nembak dia dengan ngasi coklat. Gengsi dong gue . Malu dong ngasi coklat sama cowok yang udah jadian. "
"Trus ... lu nggak malu ngasi ke gue gitu?"
Teman sekelasnya merengut lalu mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya.
"Nih gue tambahin kadonya."
Valentina tersenyum. Menengadahkan kepalanya keatas lalu menghela napas menahan air matanya.
"Makasih ya say... ."
Sambil memeluk temannya yang sudah seminggu perang dingin dengannya. Siapa sangka temannya lebih dulu membuang egonya untuk menegur duluan. Kangen. Malu. Bahagia. Bercampur jadi satu.
"Udah kalau cowok yang lu taksir nggak mau nerima kotak coklat yang gede itu... mending kasi ke gue aja. Gue siap nampung."
"Hahahaha tapi itu bukan punya gue!!" Membungkuk menahan perutnya yang terguncang karena tawa.
"Hah ...serius..jadi lu dikasi...!"
"Dititipin..!"
"Apa lagi tuh... Lu jadi mak comblang gitu??!!"
"Apa..!! Mak Comblang hahaha mana mungkin lah.!"
Valentina menggebrak-gebrak meja karna tidak tahan melihat wajah temannya yang jadi jelek karena heran.
"Ini...Ini tuh ya...punya cowok... yang bikin gue sial..tau nggak." Berbicara sambil merapatkan giginya karena geram.
Tentu saja Valentina kerepotan menjaga kotak besar itu. Karena kotak itu dia tidak bisa tenang membaca buku di perpustakaan akibat harus berpatroli mencari pemilik kotak tersebut. Lalu menceritakan awal pertemuannya dengan pemilik kotak itu pada teman sebangkunya.
"hoohh gitu..."Mangut-manggut sambil menyunggingkan bibir kanannya dan pipi kanannya terangkat ke atas.
"ho-oh."
"Apa sih isinya?"
"Entah... (mengguncang-guncang kotak tersebut) tidak terdengar suara apa pun kan?"
"Iya ya... ( melihat ke Valentina) jangan-jangan kosong. Makanya pemiliknya tidak kecarian. "
"Hah... serius... gila... gue di kerjain dong kalo gitu."
"Nah bisa jadi...makanya tuh kotak ditinggal gitu aja sama lu. Udah... buka aja... kalau beneran kosong... buang...!"
"Bener bener ...setuju sama lu( membuka kotak tersebut) Hah... mampus... ada isinya ( menutup mulutnya lalu beradu pandang dengan teman sebangkunya) gimana nih..."
"Gaun merah sama sepatu merah... ( mengeluarkan isi kotak) hadiah apaan nih? Eh ada amplopnya."
Valentina mengambil isi kotak dari tangan temannya.
"Masukin....kalau rusak.. yang punya marah... ntar gawat ( mencoba menyusun isi kotak seperti semula) haduhhh seharusnya gue nggak ngikutin saran elu tadi."
"Iya deh... maaf gue yang salah."
"Hufffsss enggak enggak lu nggak salah .. ini salah tuh cowok... memang... dasar.. ughhh... nyebelin.... pengen.. pengen..nyumpahin gue... ih!!" Mengepalkan kedua tangannya, sambil pandangannya kearah luar pintu kelasnya.
"Hehhh itu dia..."
"Mana..?"
Tak menghiraukan temannya Valentina berlari keluar mengejar pemilik kotak tersebut lalu menarik tangannya dari belakang.
"Hehhh dasar lu... ! Lu pasti nyariin ini kan??!! Nih ambil... !!Kotaknya dah dibuka!! Maaf untuk jaga jaga...! Mau... tak mau... siapa tau.. isinya bom!! Tapi isinya masih utuh liat aja.!"
Valentina menunggu jawaban pemilik kotak. Tapi dia terlihat bingung.Teman sebangku Valentina kini berdiri tepat disamping Valentina. Ikut memandangi wajah pemilik kotak tersebut.
"Ini maksudnya apa ya?" Bertanya dengan kalem.
"Kan tadi sudah dijelasin. Nih kotak dibuka untuk membuktikan kalau isunya bukan bom." Valentina berbohong.
"Bukan itu maksudku. Kotak ini punya siapa?"
"Lu lupa... ini kotak yang elu beri.. ke gue... kan elu yang ninggalin makanan di perpus... kan elu yang ninggalin kotak ini ke gue..!"
Valentina kesal.
"Udah deh ... gue nggak mau tau ini bukan urusan gue lagi, kotaknya udah gue balikin! Ayo Klara kita masuk kelas."
Valentina dan Klara teman sebangkunya yang memberi hadiah tadi pun mengekor dibelakang.
*****
"Hahahaha... iya ya untung tidak ketahuan. !"
Valentina dan Klara cekikikan mengingat kejadian saat jam istirahat tadi. Tapi tawa mereka berhenti ketika melihat seorang anak laki-laki memegang kotak merah . Sepertinya sengaja menunggu Valentina dan Klara di ujung lorong kelas, tempat yang pasti dilewati jika pulang bagi murid yang kelasnya di bagian barat.
"Huhhh dia lagi dia lagi..." Valentina berbicara seolah untuk dirinya sendiri.
Valentina mengapit lengan Klara mempercepat langkah mereka saat mendekati anak laki-laki itu.
Tapi langkahnya berhenti saat anak laki-laki itu memanggil namanya.
"Valentina?!"
Valentina menghentikan langkahnya dan itu membuat langkah Klara pun terhenti. Valentina menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah suara yang menyebut namanya. Melepas lengan Klara. Lalu dengan angkuh berjalan mendekati anak laki-laki itu.
"Kalau lu marah karena gue buka tuh kotak gue minta maaf tapi cuma itu... nggak lebih." Berbicara dengan nada jutek.
"Bukan ... nih ambil.. ini bukan punyaku. nggak mungkin aku pakai gaun dan ( memperlihatkan sepatu) sepatu tinggi lancip begini kan?"
"Masa bodo... emang gue pikirin."
"Ini punyamu."
"Heh... bercanda kamu!" Valentina berkacak pinggang.
"Nih... ada foto-fotomu di dalam. ( memberikan amplop tebal ) ini tadi ada di dalam, kamu nggak liat?"Berbicara dengan lembut.
"Omong kosong apa lagi ini ( mengambil amplop) hah!!! lu penguntit ya...? Kapan kamu ngambil foto gue diam diam ? Hah... jawab?!" Sambil mengangkat beberapa foto sejajar dengan pipinya.
Satu persatu foto itu dilihat dan semuanya di ambil di perpustakaan .
"Jangan salah paham dulu, biar aku jelas kan. Tapi bagaimana ya cara menjelaskannya?"
"Halahhh bilang aja , lu suka kan sama sahabat gue yang cantik ini ?" Klara yang dari tadi hanya jadi penonton ikut masuk dalam adegan itu.
"Apaan sih. !" Valentina memandang Klara tidak senang.
"Sungguh bukan Aku yang ngambil foto itu. Aku rasa yang mengambilnya adalah Kakakku. Kakakku suka ke perpus. Mungkin saat itu diam-diam dia ngambil fotomu."
"Jangan ngarang kamu ya, nggak lucu tau."
"Beneran kok."
Anak cowok dengan tinggi badan yang sama dengan pemilik kotak pun ikut bicara.
"Siapa lu ikut campur!" Klara bertanya sebelum Valentina bertanya.
Valentina hanya melongo dan melirik Klara. Klara balas melirik.
"Ehh iya siapa lu? "Tanya Valentina mengulang pertanyaan Klara sambil meletakkan tangannya dibahu Klara.
"Aku sahabat Ervan ! Namaku.. Jo-"
"Jojon?" Potong Klara.
" Ffftttt !!"
Jawaban Klara membuat Valentina hampir tertawa tapi ditahan. Karena teringat sosok pelawak bernama Jojon.
"Jonathan!" Jawabnya memperkenalkan diri dengan ketus.
"Oh Jonathan! Bilang kek dari tadi !" Sahut Klara tak kalah ketus.
"Lah... kan elu yang motong pembicaraan gue..."
"Habis lu lambat amat ngomongnya."
"Hahhhh udah udah... kok jadi kalian yang bertengkar ?" Pemilik kotak melerai Jonathan dan Klara.
"Iya nih. Urusan kami belum kelar juga. " Sambung Valentina.
Jonathan dan Klara bengong melihat kekompakan Valentina dan pemilik kotak.
"Cie... cie udah jadian aja nih."
"Iya nih... kalian kok nggak bilang-bilang.?"
Jonathan dan Klara kompak bersahut-sahutan.
Valentina dan Pemilik kotak bertukar pandang lalu tersentak tersadar.
"Eh..!! Urusan kita belum kelas ... jelasin dulu foto ini....!!"
"Iya... kan sudah ... itu foto diambil sama kakak kembarku ( mengeluarkan dompet dari saku celana dan mengambil sebuah foto) Ini kakakku yang berkemeja biru. Ini gue yang pakai kemeja merah. Sekarang percaya."
"Mana kakak lu?"
"Dirumah sakit. Sedang koma."
Seketika Valentina menutup mulutnya.
"Iya benar sudah seminggu Dia belum sadarkan diri. Ya kan Lex? " Jonathan memandang sahabatnya yang bernama Alex.
"Iya kalau tidak percaya ikutlah kerumah sakit dengan kami." Alex menawarkan diri.
"Tidak jauh kok rumah sakitnya. Aku juga perlu membersihkan nama baikku."
"Kalau dia koma sudah seminggu,lalu siapa yang memberikan kotak ini padaku 5 hari yang lalu?"
"Kalau itu aku juga nggak tau. Tapi kalau kamu masih nggak percaya kalau kakakku koma, ayo kita kerumah sakit sekarang.
Valentina dan Klara saling pandang. Klara lalu mengangguk.
"Ayo kita lihat saja."
Akhirnya mereka berempat kerumah sakit. Disana tampak seorang Ibu duduk di samping seorang pasien. Wajahnya mirip Alex.
"Ehhh siapa mereka Lex?"
"Teman Alex ma. Berkunjung."
"Oh.. eh ( memiringkan kepala ) bukannya itu kotak kakakmu Lex?"
"Oh.. maaf Tante... !"
Valentina menyerahkan kotak yang sejak kembali lagi ke tangannya masih dibawa-bawa sampai ke rumah sakit.
"Eh enggak... itu bukan untuk Tante. Untuk siapa ya.. katanya.. tante lupa...."
"Valentina?!" Jawab Alex.
"Ah... iya... Valentina... tapi... kok bisa sama kamu ya.. padahal tadi pagi kotak itu masih disini?"
Kaki Valentina lemas. Memandang Alex. Alex mengangkat bahunya.
"Ahhh tadi pagi Alex bawa kesekolah karena Valentina itu ... ya Dia ini..?"
"Oh...hoho.. Gitu..Ibu pikir hilang.. !" Ibu Alex menepuk angin.
"Maaf tante kalau begitu kami berdua permisi." Menunjukkan dirinya dan Klara.
"Loh... Alannya masih tidur."
"Iya tante nggak papa .. sampai kan salam saja. Kalau kami tadi datang. Permisi...!"
"Biar kuantar!" Tawar Alex.
"Nggak usah... kami bisa pulang sendiri.. ayo Klara."
*****
"Kepalaku sakit sekali nih... bingung gue...aduh..." Ucap Valentina setelah keluar dari gerbang rumah sakit.
"Udah... nggak usah dipikirin."
"Huhhh fotonya banyak banget...Ehhh ini foto yang hari itu... waktu Alan ngasih nih kotak. Ikat rambut ini baru pertama gue pakai dihari itu."
"Apa mungkin ya roh orang yang koma bisa keluar dari raganya ?"
Valentina memandang Klara tak percaya. Dia tidak percaya kalau dia bertemu hantu, roh atau semacamnya.
"Bisa jadi." Lanjut Klara meyakinkan.
"Sudahlah kita pulang saja. Itu angkutannya sudah datang ( menggerakkan tangan untuk menghentikan angkutan yang lewat) ayokkk !!"Klara menarik tangan Valentina.
Dengan malas Valentina melangkahkan Kakinya.
*****
"Alex Ibu ke apotik dulu ya. Jagain Alan!"
"Iya ma."
"Alex... sejak kapan datang?"
"Sejak tadi.."
"Ngapain ke mari? Ehh kotaknya udah di kasi belum ? Itu tugas sekolahku loh!!"
"Hadehhh udah tau... gara-gara kotak lu gue jadi telat ke sekolah gue sendiri!"
"Emang isinya apaan Lan?" Jonathan yang belum pulang ikut bicara sambil mengupas jeruk yang tersedia dimeja pasien.
"Biasalah anak cewek di kelas nggak mau capek ,gue sendiri yang kerjain tugas pratikum sampe asam lambung."
Alan dan Alex sangat mirip tapi mereka bersekolah disekolah yang berbeda.
"Tinggal tolak aja kan udah!" Kata Jonathan lagi.
"Mana mungkin, ada cewek yang ditaksir soalnya dikelompok Alan. Alan sebenarnya mau pamer.. huh..!" Kata Alex.
"Siapa namanya?"
"Valentina." Lagi lagi Alex menjawab Jonatan.
"Kok bisa ya cewek yang kalian suka namanya sama?" Kata Jonathan.
Alan memandang Alex.
"Gimana kotak lu udah sampai belum?"
"Udah dong...!" Kata Alex bangga sambil menarik kedua ujung kerahnya lalu melepasnya.
"Kok bisa!! ( terperanjat) bukannya kalian belum pernah ngomongan? Gimana caranya lu bisa tiba-tiba kasih itu kotak? Apa dia nggak curiga?"
"Santai... Bro... santai... ssttt itu rahasia....ya kan?!"
Alex mengedipkan sebelah matanya, pada Jonatan. Jonathan cuma senyum-senyum saja menikmati jeruk-jeruk yang sudah di kupasnya satu persatu.