Cinta Tak Pernah terlambat
Author: CHING KWEE
Yuan Carlos Subrata seorang Direktur Muda disebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan milik ayahnya.
Kantor milik ayahnya itu bertempat di salah satu gedung bertingkat di daerah Rasuna Said Jakarta.
Usianya sekarang sudah memasuki awal kepala tiga, namun dia masih belum mau mencari lagi calon pasangan hidup setelah dia sakit hati ditinggal menikah oleh tunangannya beberapa tahun yang lalu.
Waktu itu dia masih menjadi seorang staff di perusahaan ayahnya itu, memang pak Handi Subrata tidak ingin anaknya langsung mencapai posisi tertentu secara instan.
Selagi kuliah juga dia sudah magang di perusahaan ayahnya itu, dari menjadi pengantar dokumen, lalu menjadi bagian arsip, berpindah lagi menjadi bagian penginputan data sampai mulai belajar menjadi bagian pemasaran.
Setelah lulus kuliah sambil menyelesaikan ke tingkat gelar master, dia bekerja menjadi staff sampai ketika lulus gelar masternya dia diangkat menjadi manager.
Yuan orang yang ramah, rendah hati dan bersahaja. Saking baiknya kepada orang lain, sampai dia dimanfaatkan oleh tunangannya sendiri. Wanita yang dia cintai dari selagi masih kuliah, tega mengkhianati cintanya demi mendapatkan pria yang lebih kaya daripada dirinya.
Sialnya pria kaya itu adalah sahabat karibnya sendiri, maka saat itu semakin hancur hati Yuan ketika terbongkar kelicikan dan pengkhianatan mereka berdua.
Sampai saat ini dia sudah menginjak usia yang ke tiga puluh satu, masih juga dia belum membuka hati kepada wanita manapun.
Walau tak sedikit orang tua bahkan saudaranya yang berusaha menjodohkan dirinya.
Di dalam pikirannya semua wanita sama saja, memandang pria hanya dari sisi materi saja.
Sabtu malam ketika kebanyakan orang sedang bersama kekasihnya, seorang Yuan malam itu menghabiskan waktunya berbelanja kebutuhan bulanan untuk di apartemennya.
Dia memang sudah lama tinggal sendiri disebuah apartemen miliknya pribadi.
Yuan lumayan banyak berbelanja, karena besok adalah hari minggu biasanya dia mengundang teman-temannya untuk berlomba play station dan malamnya menonton moto GP bersama.
Dia mempunyai 3 orang sahabat, yaitu Rico, Dani dan Putu. Yang bernama Rico dan Dani keduanya sudah menikah.
Jadi jadwal mereka ke apartemen Yuan adalah hari minggu sore menjelang acara moto GP tayang di salah satu saluran televisi swasta.
Kalau Putu yang merupakan orang Bali asli, dia sahabat sekaligus asisten pribadinya. Akhir tahun ini dia akan segera menikah dengan kekasihnya yang juga wanita asal Bali.
Sehingga yang murni pria kesepian tinggal Yuan seorang saja, dan dia belum mau mengubah statusnya.
Sabtu malam seperti ini sudah dipastikan kalau Putu sudah ada di apartemennya Yuan.
Memang Yuan sudah memberikan akses untuk Putu bisa masuk ke sana. Dan nanti malam akan mereka habiskan berlomba play station atau game online lainnya.
Dia sedang membayar semua belanjaan di kasir supermarket yang letaknya tak jauh dari apartemennya.
Ketika dia sedang menjinjing belanjaannya di tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk dengan ponselnya.
Dia hendak menuju lift yang menghubungkan ke lantai tempatnya memarkirkan kendaraannya tadi.
Tiba-tiba ada beberapa anak kecil berlarian dan menyenggol lengannya yang penuh dengan kantung belanjaan.
Karena konsentrasinya sedang chat dengan Putu di ponselnya, maka dia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya menindih lengan kirinya.
Belanjaanya berhamburan dan lengan kirinya kesakitan, lemas tak bertenaga tak bisa digerakkan, rupanya sendi lengan kirinya bergeser.
Saat itu Hilda Wibowo melihatnya, dan dia segera menolong pria yang terjatuh dan terlihat kesakitan.
Yuan duduk di lantai dekat lift bersandar di tembok, sementara Hilda mengumpulkan belanjaan Yuan dan memasukkannya ke dalam kantung belanjaannya yang tadi berceceran.
"Pak, ini belanjaannya saya simpan di pinggir sini yah,"kata Hilda sambil menyimpan belanjaannya Yuan di sisi tubuhnya.
Yuan hanya mengangguk sambil meringis kesakitan, karena lengan kirinya betul-betul luar biasa sakit dan lemas.
"Pak maaf, apakah tangannya sakit karena terjatuh tadi?"tanya Hilda merasa kasihan kepada Yuan.
"Ya bu...,"jawab Yuan pendek saja.
"Maaf pak bolehkah saya memeriksanya?" tanya Hilda lagi.
Yuan hanya mengangguk saja, dia sedang menunggu Putu yang sedang meluncur dengan ojek online ke lokasi tempat dirinya berada.
Hilda memeriksa tangan Yuan, dia menekan-nekan halus di sekitar lengan itu, dan dia paham apa yang terjadi dengan pria ini.
Lalu Hilda berusaha mengalihkan perhatian Yuan,"Pak itu apa yah di sana".
Tangan Hilda menunjuk ke arah berlawanan dari tempat mereka duduk saat ini, ketika Yuan menengok ke arah yang ditunjukkan oleh Hilda, dan dengan cepat Hilda memegang bahu Yuan dan menarik lengan Yuan mengembalikan sendinya yang tadi bergeser.
"AAAWWW!!!!" Yuan menjerit kesakitan sekali.
Dia menatap ke arah Hilda dengan tatapan marah, tapi tiba-tiba dia merasakan lengannya sudah tidak sakit lagi dan bisa digerakkan.
Hilda tersenyum kepadanya, dan Yuan yang tadinya hendak marah menjadi reda amarahnya karena sekarang tanyanya bisa digerakkan lagi.
"Bu...waduh...terima kasih yah, saya kira ibu mau mengerjai saya tetapi malah menyembuhkan saya,"kata Yuan sambil berterima kasih kepada Hilda.
" Ya pak, sekarang masih tersisa bengkaknya saja, apakah bapak di rumah ada sejenis param kocok atau salep penghangat lainnya?"ujar Hilda kepadanya.
"Hmmm saya rasa tidak ada yah, karena saya tidak pernah seperti ini sebelumnya," sahut Yuan sambil mengingat-ingat kalau dia memang tak punya obat gosok apapun.
"Baiklah, ini saya oleskan obat gosok milik saya, maaf yah pak, nanti obat ini dibawa saja karena beberapa hari ini pasti akan masih bengkak,"kata Hilda sambil tangan halusnya mengoleskan obat gosok ke sekitar lengan Yuan lalu memberikan sisanya kepada Yuan.
"Ibu rupanya paham masalah sendi, apakah ibu tukang urut?"tanya Yuan dengan aneh melihat wanita yang tergolong muda tak jauh dari usianya.
Hilda hanya tersenyum saja, dan tidak menjawab apapun.
Tiba-tiba pintu lift terbuka dan keluarlah Putu yang langsung melihat sahabat sedang duduk di lantai.
"Bro...bagaimana kamu ... mana yang sakit...ayo kita ke rumah sakit,"kata Putu dengan panik melihat sahabatnya itu.
"Aku sudah sembuh bro, tadi tanganku terkilir dan sendi ini bergeser karena jatuh tersenggol. Untung saja ada ibu ini yang menolongku," kata Yuan kepada Putu.
"Ibu mana bro?"tanya Putu bingung karena disitu hanya ada mereka berdua.
"Wah...kemana wanita tadi, baru saja dia disini menolongku, wanita berbaju kuning baru saja,"kata Yuan menjelaskan kepada sahabatnya.
"Tidak ada siapapun bro, tadi saat aku keluar lift memang ada wanita. Tapi aku tak paham dia siapa,"ujar Putu menjelaskan kepada sahabat yang merangkap bossnya.
Putu membantu Yuan berdiri dan membawa belanjaannya. Sambil berjalan masuk lift, Yuan menceritakan bahwa dia tadi ditolong seorang wanita yang bisa mengobati tangannya.
Putu hanya bisa mendengarkan saja, karena dia tak tahu wanita mana yang dimaksud oleh Yuan.
Hilda Wibowo, seorang wanita pegawai administrasi di sebuah perusahaan supplier pemasok kabel ke Badan Usaha Milik Negara seperti perusahaan Listrik Negara dan Telekomunikasi.
Dia bekerja di gedung yang sama dengan kantornya Yuan, hanya dia di lantai 8 sedangkan kantor Yuan berada di lantai 22.
Kantor Yuan hampir mendekati puncak bangunan gedung itu.
Tapi selama hampir 10 tahun bekerja di gedung tersebut Hilda maupun Yuan belum pernah berjumpa.
Hilda usianya setahun lebih tua dari Yuan dan belum menikah juga, nasibnya sama seperti Yuan, dia ditinggal menikah oleh kekasihnya.
Mereka saat pacaran berhubungan jarak jauh, Hilda di Jakarta dan kekasihnya waktu itu di Surabaya.
Suatu masa tiba-tiba kekasihnya seakan hilang ditelan bumi, tak bisa dihubungi juga tak ada kabar sama sekali.
Tak lama terdengar lelaki itu sudah menikah dengan seorang wanita pengusaha kaya raya di kota Surabaya sana.
Antara sedih tapi bersyukur, selama mereka menjalin hubungan, Hilda tidak pernah disentuh oleh lelaki itu.
Ayahnya Hilda berprofesi sebagai tukang urut dan totok urat syaraf di kota Bekasi.
Selain ilmu dari leluhur juga beliau pernah belajar ke seorang tabib atau disebutnya Sinshe yang berasal dari negeri China.
Orang memanggil ayahnya Hilda adalah Babeh Urut, padahal namanya adalah Gatot Wibowo.
Hilda mempunyai seorang kakak laki-laki yang sudah berumah tangga dan mempunyai dua anak kecil satu lelaki dan satunya perempuan.
Mereka memanggil Hilda adalah Ontida, yang lelaki sudah kelas 2 SMP sementara si keponakan kecil mungil baru kelas 1 SD.
Herman Wibowo dan istrinya Lisa, tinggal bersebelahan dengan orang tuanya dan membuka usaha jasa laundry.
Kehidupan mereka sederhana, namun mereka bahagia walau tak berlebihan tapi cukup sandang dan pangan.
Kelebihan Hilda adalah bisa juga memijat dan mengurut urat-urat syaraf, orang-orang satu kost nya dan juga yang berada satu lantai di kantornya sudah banyak yang merasakan keajaiban tangan Hilda.
Siapa yang merasa pegal bisa minta tolong Hilda, bahkan Hilda juga tak segan mengiklankan dirinya di media sosialnya, kalau hari sabtu dan minggu dia membuka jasa pijat dan urut khusus wanita.
Selama dua hari ini Yuan dengan rajin setiap sehabis mandi mengoleskan minyak gosok dari Hilda ke tangannya.
Dan alhasil tangannya semakin membaik sudah tidak terlihat bengkak lagi.
Senin pagi Yuan datang agak lebih siang ke kantornya, karena pagi tadi mobilnya agak bermasalah.
Biasanya jam delapan kurang dia sudah berada di lantai 22 sambil mengamati staff satu persatu siapa saja yang suka datang terlambat.
Dia berjalan dengan agak tergesa-gesa ke lobby bawah gedung tersebut, ditangannya jam sudah menunjukkan jam delapan lewat.
Dia berjalan lurus menuju lift khusus Direksi, namun tiba-tiba pandangannya tertuju kepada wanita berpakaian casual, bersepatu sneaker dan menggendong mini back pack berwarna pastel.
Dia sedang menunggu lift untuk karyawan bersama dengan beberapa orang lainnya.
Melihatnya langsung Yuan berbelok ke arah lift karyawan untuk menegur wanita itu.
"Pak Yuan....Pak Yuan....!!!!"terdengar seseorang berteriak memanggil namanya sehingga dia harus menengok.
Seorang petugas keamanan berlari ke arahnya sambil berkata," Pak Yuan...maaf bapak dipersilahkan memakai lift di ujung sana, kalau yang itu untuk karyawan pak".
Yuan merasa kesal sekali, karena dia dipanggil petugas itu maka rombongan karyawan tadi sudah masuk ke dalam lift.
Sambil menatap kesal, Yuan berkata,"Lain kali kamu tidak perlu mengurusi saya mau pakai lift mana saja. Bagi saya semua lift sama saja".
Tapi dia melihat lift tadi seperti berhenti di lantai 5, tapi bagaimana caranya dia bisa tahu wanita tadi bekerja di lantai berapa ataukah wanita itu cuma sekedar tamu.
Yang pasti dia sekarang masuk ke lift Direksi dan langsung menuju ke lantai kantornya.
Sesampainya di ruangan kantornya dia sama sekali tidak bisa konsentrasi, pikirannya melayang ke wanita tadi.
Dia sungguh merasa penasaran dengan wanita yang telah menolongnya saat tangannya terkilir.
"Bro, ini berkas meeting kita dengan The Company Singapore, mereka akan membeli batu bara kita dengan pengiriman rutin per bulan sekitar 20 milyar. Siang ini kita meeting dengan kantor perwakilannya yang ada di Jakarta,"Putu menjelaskan berkas yang harus dipelajari oleh Yuan.
Yuan hanya membolak-balikan tumpukan berkas itu tanpa ada satupun yang dia baca. Lalu dia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya sambil menutup wajahnya.
Putu merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya, lalu dia bertanya,"Bro ada apakah dengan dirimu...dari tadi tampak resah sekali".
Yuan malah menaikan kedua tangannya ke atas kepalanya, dia merasa terganggu pikirannya oleh bayangan wanita itu.
"Putu...tampaknya meeting ini kamu saja yang hadir mewakili aku yah, aku ada perlu yang sangat mendesak sekali,"kata Yuan kepada Putu yang terlihat bingung melihat dirinya.
"Kamu ada urusan apa bro, biar aku bantu saja, sebenarnya ada apa ini?"tanya Putu kepada Yuan.
Yuan hanya menepuk bahu Putu lalu dia keluar dari kantornya.
Dan Yuan turun ke lantai 5, dia menyusuri semua kantor yang ada di lantai tersebut.
Tapi tak ada wanita yang dimaksud, sampai terjadi kehebohan di gedung itu kalau boss YCS sedang mencari seseorang.
YCS adalah nama julukan Yuan, karena sebenarnya dia tergolong orang yang agak berangasan tidak sabaran.
Semua orang mengira YCS sedang mencari orang yang membuat masalah dengannya.
Semua orang yang mengetahui sosok YCS, saling bergunjing menduga-duga kalau YCS sedang emosi dengan seseorang.
Lantai 5 nihil, lalu dia mulai naik ke lantai 6, dan mulailah orang-orang yang bekerja di lantai itu ribut bergunjing ada YCS mencari orang.
Karena sudah dua lantai yang di masuki YCS, maka hampir seluruh gedung sekarang ramai membicarakan kalau YCS sedang mencari seseorang yang bermasalah dengannya.
Berita itu sampai juga ke telinga pimpinannya tempat Hilda bekerja, kalau YCS sedang mengejar orang yang punya masalah dengannya.
Dia mencari orang itu ke setiap lantai, hati-hati siapa tahu salah satu karyawan di setiap kantor ada yang bermasalah dengan YCS.
"Wah....YCS lagi ngamuk nih, siapa yah yang cari gara-gara sama dia?"kata pak Jefri pimpinannya Hilda.
Hilda sebenarnya pernah mendengar kalau di lantai 22 ada boss muda yang disebut YCS, orang yang temperamental dan cepat emosian.
Tapi wujudnya seperti apa YCS itu, dia tidak pernah tahu.
"Boss tahu darimana pak YCS mencari orang bermasalah?"tanya Hilda dengan santai karena dia tak paham kalau sesungguhnya dia target pencarian itu.
"Ini di grup dan di status chat teman di lantai lain, mengatakan kalau YCS memasuki setiap kantor mencari orang yang bermasalah dengannya,"Jefri menjelaskan kepada Hilda.
"Orangnya reseh YCS itu, dulu pernah mobilku tak sengaja menabrak bagian belakang mobilnya. Tapi kan mobil dia beda, mobil mahal dan yang penyok malah mobilku. Tapi dia yang memaki-maki aku habis-habisan,"kata Jefri sambil mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Oh iya yang sampai masuk bengkel mobil boss, akhirnya boss naik motor ke kantor,"ujar Hilda yang sudah ingat kejadian itu tapi dia masih tidak tahu seperti apa sosok YCS.
"Iya bener, kalau saja orangnya baik dan tidak reseh pasti sudah aku jodohkan denganmu Hilda, karena aku kenal baik dengan kakak perempuannya,"kata Jefri sambil menatap ke arah Hilda.
"Aduh boss, mimpi apa saya dijodohkan dengan boss besar seperti YCS, beliau juga punya mata boss, masakan mau dengan perempuan seperti saya," jawab Hilda dengan santai sambil melirik pimpinannya itu sambil merasa geli dalam hatinya.
"Ya itu kalau si YCS itu orang yang tidak menyebalkan pasti aku kenalkan kalian, karena dia orang yang mengesalkan makanya tak mungkin aku mengenalkanmu kepadanya,"sahut Jefri mencoba menjelaskan kepada Hilda.
Lantas keduanya tertawa-tawa sambil menceritakan kisah YCS yang rumornya orang yang menyebalkan.
Dan akhirnya Yuan tiba juga di lantai 8, dia mulai memasuki kantor-kantor yang ada disitu. Ada yang menolaknya, ada yang menghalanginya tapi dia acuh saja terus menatap setiap karyawan kantor-kantor di sana satu per satu.
Ada lima kantor di lantai itu, tinggal satu lagi kantor milik Jefri. Sebuah kantor kecil yang berada di ujung koridor, dan konon katanya hanya ada 3 orang saja yang bekerja di sana, satu pimpinan, satu bagian administrasi dan satu orang entah bagian apa mungkin bagian pengantaran barang.
Dengan langkah malas dan mulai lelah, dia berjalan ke arah kantornya Jefri.
Tanpa mengetuk pintu, Yuan langsung saja masuk kedalam kantornya Jefri.
"BRRAAAKKK!!!"
Yuan membuka pintu Kantor Jefri dengan kasar, tentu saja yang ada di dalam kantor langsung menatap ke arah pintu.
Dan Yuan langsung matanya membelalak saat melihat ada wanita yang dicarinya ada di ruangan itu.
Lalu Yuan berjalan ke dalam sambil tangannya menunjuk ke arah Hilda.
"Kamu....ikut saya,"katanya dengan nafas tersengal-sengal sambil mendekati Hilda.
Tentu saja Jefri sebagai pimpinnya merasa dilangkahi karena tiba-tiba Yuan memerintah Hilda seenaknya saja.
" Yuan ada apa ini, ada masalah ada staff ku kepadamu ?"tanya Jefri dengan wajah tidak senang.
"Aku mau membawa staffmu sebentar Jef, mau kamu ijinkan atau tidak tapi aku tetap ingin membawanya,"kata Yuan kepada Jefri.
"Oke tapi apa kesalahan dia, aku harus tahu dong dia punya masalah apa denganmu?"tanya Jefri dengan nada mulai meninggi.
"Tidak ada masalah, aku hanya ada perlu saja dengan dia. Sorry yah Jef, aku tetap memaksa walau kamu melarangnya,"kata Yuan sambil menatap mata Jefri dalam-dalam.
"Hilda, sebenarnya ada masalah apa kamu dengan bapak ini. Coba jelaskan,"kata Jefri sekarang mulai menoleh Hilda yang sedari tadi tampak kebingungan.
Di luar ruangan banyak karyawan kantor lain yang mengintip ingin tahu, ada apa YCS masuk ke ruangan kantor Jefri dan terlihat memaksa ingin membawa Hilda.
Hilda hanya diam tak berkutik, karena dia merasa tidak punya masalah apapun dengan siapapun.
"Lalu bagaimana ini, stafku tidak punya masalah denganmu, jadi untuk apa kamu membawanya?"tanya Jefri lagi kepada Yuan sambil merentangkan tangannya dan mengangkat bahunya.
Melihat kedua pria dihadapannya tampak bersitegang, maka Hilda mencoba untuk bertindak bijaksana.
"Pak Jefri, maaf saya mohon ijin biarkan saya mengikuti apa kehendak pak Yuan. Mungkin saya memang punya salah yang tidak saya ketahui,"ujar Hilda meminta ijin kepada atasannya.
Jefri menatap Hilda lalu melihat wajah Yuan, dia sebenarnya khawatir takut terjadi hal buruk kepada Hilda.
"Baiklah, tapi kembalikan stafku dengan baik-baik. Sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadanya, aku akan tuntut kamu dan perusahaan," kata Jefri sambil telunjuknya menekan bahu Yuan.
Yuan melihat Hilda sedang siap-siap untuk ikut dengannya, lalu tersenyum sambil menepuk bahu Jefri.
Lalu Yuan berjalan keluar kantor Jefri diikuti oleh Hilda dibelakangnya. Ketika pintu dibuka tampak banyak orang yang sedang mencoba mencuri dengar apa yang terjadi di dalam.
Yuan melangkah tenang menuju lift, sementara Hilda dibelakangnya mengekor dirinya.
Ramai sudah satu gedung gosip beredar kalau Hilda dipanggil YCS karena punya masalah dengannya.
Hilda mengikuti Yuan sampai ke parkiran mobilnya dan ikut masuk ke dalam mobilnya.
Dia disuruh duduk di kursi depan di samping pengemudi.
Sepanjang jalan Hilda diam saja tak tahu mau dibawa kemana oleh Yuan, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah restoran terkenal dan harga makanan disana pastinya juga sangat mahal.
Yuan disambut oleh pelayan di sana bahkan manager restoran pun sampai keluar ruangan menemuinya.
Lalu mereka berdua di carikan tempat ruangan ekslusif, hanya dua orang saja yaitu mereka berdua makan di sana.
Yuan memesan makanan yang paling istimewa dari restoran itu untuk dirinya dan juga Hilda.
"Mbak, anggap saja makan siang ini sebagai tanda terima kasih saya kepada anda,"kata Yuan sambil tersenyum kepada Hilda.
"Pak....eh...maaf pak, saya tidak tahu nama Bapak, selama ini semua orang menyebut bapak dengan sebutan YCS. Mohon maaf, saya mengucapkan terima kasih kepada bapak YCS,"kata Hilda dengan begitu polosnya.
Yuan menjadi tertawa mendengar Hilda mengatakan hal itu, lalu sambil menatap Hilda dia berkata,"Nama saya Yuan Carlos Subrata, tapi orang kebanyakan hanya menyingkat nama saya menjadi YCS".
Hilda mengangguk-anggukan kepalanya mulai mengerti panggilan nama itu.
"Kalau tidak salah bapak itu yang kemarin ini tangannya terkilir di depan supermarket besar itu yah," astaga Hilda ternyata dia baru sadar siapa Yuan itu.
Yuan menopangkan dagunya dengan sebelah tangannya di atas meja dan menatap Hilda dengan merasa lucu.
"Mbak baru sadar, tadi kan saya bilang bahwa makan siang ini adalah tanda terima kasih saya karena anda sudah menolong saya,"kata Yuan sambil menahan tawa karena geli melihat mimik wajah Hilda yang polos dan lugu.
"Maaf pak, saya tidak konsentrasi karena dari tadi saya terus berpikir saya saya punya salah apa kepada bapak, setelah melihat jelas muka bapak baru saya ingat," sahut Hilda sambil senyum-senyum malu.
"Mbak namanya siapa?"tanya Yuan ketika seorang pelayan perempuan datang membawa minuman untuk mereka berdua.
"Ehmm...nama siapa pak, nama saya atau nama mbak ini?" tanya Hilda kembali lagi begitu bodohnya sambil menunjuk pelayan perempuan itu.
"Ya ampun, tentu saja namamu, untuk apa saya tanya nama dia," Yuan mulai merasa pusing bicara dengan Hilda.
"Hehehe...nama saya Hilda, karyawan PT. Raja Teknik, bagian administrasi,"jawab Hilda santai sambil menyeruput minuman dihadapannya.
"Wow...enak sekali juice ini, ada rasa apel, nenas dan apalagi yah...hhhmmm...enak sekali pak,"kata Hilda sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada Yuan.
"Itu mix fruit, benar ada apel, nenas dan jeruk. Jadi rasanya sangat segar sekali,"ujar Yuan menjelaskan kepada Hilda.
"Hmm enak banget segar sekali, baru sekali ini saya minum juice seenak ini," memang Hilda sangat cuek sekali apa adanya.
Mungkin kebanyakan wanita kalau sampai dibawa makan oleh seorang YCS, sudah pasti akan menjaga image agar bisa membuat YCS terpesona kepadanya.
Tapi wanita yang ada dihadapannya sekarang sangat berbeda, dia tidak tampak ingin membuat YCS terpesona kepadanya.
Ketika makanan datang, dan menunya adalah steak ikan salmon, sungguh membuat hati Hilda sangat bahagia sekali.
"Pak terlihat lezat sekali, ya Tuhan terima kasih makan siangku hari ini sangat luar biasa,"ujar Hilda sambil terlihat air wajahnya senang sekali.
Sebelum makan dia memanjatkan doa dengan cara nasrani, dan disitu Yuan paham kalau mereka satu keyakinan.
Setelah berdoa, dia lalu memotong ikan salmon tadi dan memasukan ke dalam mulutnya.
Ikan itu masih cukup panas, lalu sambil mulutnya meniup-niup, sambil berkata,"Huf...huf...hmmm...enak banget ikannya,".
Dan cara makan Hilda juga cuek saja tidak sok manis, dia memotong ikan dan menyuapkan ke dalam mulut besar-besar.
Yuan melihat Hilda jadi lucu sekali, sepanjang makan Hilda juga bercerita kalau dia tidak pernah membeli steak sendiri.
Kalau makan steak paling diajak oleh atasannya, dan belum pernah diajak ke tempat semewah ini paling steak biasa saja.
Di rumah kalau memasak ikan paling mahal ikan bandeng atau gurame, seringnya ikan mujair nila karena lebih murah.
"Boss Yuan pasti belum pernah makan ikan asin yah, itu makanan paling enak apalagi ditambah sambal dan lalaban".
Sungguh Yuan jadi merasa tertarik dengan Hilda, yah entah mungkin bukan cinta tapi lucu dan menyenangkan berbicara dengan Hilda.
Dia wanita yang apa adanya, dan semua yang dibicarakan dan dia lakukan keluar begitu saja tanpa skenario buatan.
Ketika makanan sudah habis, maka Yuan meminta pelayan untuk membawakan tagihannya.
"Boss YCS, hihihi...tidak lupa bawa dompet kan....masalahnya
uang saya cuma selembar lagi dua puluh ribuan di dalam dompet, buat nanti sore mengisi bensin motor,"Hilda berkata sambil cekikikan dan sontak membuat Yuan tertawa geli.
Ampun Tuhan, baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang cuek dan suka melucu.
Ketika di dalam mobil, Hilda kembali berkata yang membuat Yuan tertawa lagi.
"Boss YCS, kan kita akan kembali ke kantor, lalu semua orang menduga saya akan dimarahi atau dipukuli oleh boss".
"Tapi kan malahan saya diajak makan, nanti saya jawab apa yah sama mereka. Masakan seorang boss seperti bapak sampai mencari orang seperti saya disetiap lantai hanya untuk diajak makan. Pasti nanti orang-orang akan merasa aneh,"kata Hilda sambil menatap wajah Yuan yang sedang menyetir mobil mewahnya.
Yuan menutup mulutnya dengan satu tangannya, sungguh wanita ini dari tadi membuat dia ingin tertawa saja.
"Yah sudah katakan saja apa adanya, kalau kamu diajak makan olehku,"sahut Yuan sambil meliriknya.
Hilda merenung sebentar, dan dia memang sedang berpikir apakah harus mengatakan apa adanya atau bagaimana, karena dia merasa malu kalau sampai ada orang tahu dia diajak makan oleh boss seperti Yuan.
Tadi sewaktu pergi perasaannya jauh lebih bisa cuek saja, ketika pulang ke kantor lagi pasti akan menjadi bahan pertanyaan banyak orang.
Setibanya di parkiran mobil, Hilda semakin resah hatinya.
Lalu Ketika Yuan turun dari mobil dan dia juga harus turun, semakin ciut hatinya.
"Pak Boss YCS, terima kasih yah. Silahkan duluan saja, saya mau ke toilet di parkiran sini,"kata Hilda sambil membungkukkan badannya tanda terima kasih kepada Yuan.
"Mungkin toilet disitu kotor, mengapa tidak diatas saja?"tanya Yuan sambil merasa heran dengan tingkah Hilda.
"Tak apa, silahkan saja pak boss duluan, saya ke toilet dulu yah," kata Hilda sambil berlari-lari kecil ke toilet.
Tapi malah membuat Yuan menjadi penasaran dan dia menunggunya sambil bersandar di depan mobilnya.
Hilda di dalam toilet mengirim chat kepada Jefri atasannya.
H : Boss, aku di toilet parkiran di lantai bawah. Sini dong jemput aku.
J : Kamu diapakan oleh si Yuan, biar aku hajar dia.
H : Tidak boss, tidak diapa-apakan, cuma diajak makan saja. Nanti aku cerita di atas, tapi sekarang tolong boss jemput aku.
J : Ya sudah aku turun.
Lalu Jefri turun dengan lift ke lantai parkir, dan ketika dia keluar lift bertemu dengan Yuan yang masih bersandar di mobilnya.
Jefri lalu menelepon Hilda, dan tak lama dia muncul dari toilet.
Melihat itu Yuan jadi merasa aneh, lalu menghampirinya.
"Mengapa kamu sampai harus dijemput atasanmu, bukankah harusnya aku yang mengantar kamu ke kantormu lagi?"tanya Yuan kepada Hilda.
Lalu Hilda dengan senyum terpaksa dia menjawab,"Pak Boss YCS, maaf saya takut kalau ke atas bersama pak Boss. Nanti banyak orang bertanya, jadi saya bersama pam Jefri saja yah. Terima kasih atas traktirannya".
Seketika Jefri maupun Yuan, menepuk keningnya sendiri mendengar jawaban polos Hilda.
Lalu Yuan menyalami Jefri dan menepuk bahunya lagi, kemudian dia berlalu menuju lift khusus Direksi.
Sesampainya di ruangan kantornya, Hilda menceritakan tentang apa yang telah terjadi antara Yuan dengan dirinya.
Dari mulai menolong Yuan di supermarket sampai tadi diajak makan siang yang enak.
Jefri menatap Hilda sambil senyum lalu berkata,"Apa mungkin dia naksir kamu loh".
Hilda yang mendengarnya lantas menjawab,"Boss, kalau aku lelaki dan sekaya dia mana mungkin memilih perempuan seperti aku. Duit banyak, ngapain cari yang seperti aku".
"Tapi dia mencarimu loh, sampai heboh seluruh lantai. Siapa tahu dia benar suka kepadamu,"kata Jefri menggodanya.
"Boss, hati-hati kalau bicara, nanti ada malaikat lewat lalu mencatatnya kan bahaya. Kasihan dia kalau punya istri sejelek aku".
Jefri hanya tersenyum, tapi dalam hatinya malah mendoakan siapa tahu karyawan terbaiknya ini bisa berjodoh dengan YCS.
Putu juga sedang mendengarkan cerita Yuan tentang seorang wanita bernama Hilda.
Wanita yang sudah menolongnya dan dia sampai mencarinya, lalu wanita itu begitu polosnya ketika diajak makan dan juga kalau diajak bicara.
"Bayangkan bro, setiap wanita yang aku ajak makan, pasti berusaha ingin menggoda aku bahkan sok menjaga image agar aku terpesona".
"Tapi wanita ini tidak sama sekali, bahkan cara makannya dan tingkahnya membuat aku merasa lucu dan geli sendiri," Yuan menceritakan tentang Hilda kepada Putu.
"Apa mungkin dia sudah menikah bro, jadi dia tidak tertarik lagi padamu,"sahut Putu mencoba memberikan analisanya.
"Tak mungkin bro, orang polos begitu kalau benar sudah menikah pasti akan menyebut kata suami atau anak. Tapi dia sama sekali tidak menyebutnya. Jadi aku yakin dia belum menikah,"balas Yuan memberikan analisanya juga.
"Oke, nanti aku coba cari tahu tentang wanita itu,"kata Putu sambil kemudian memberikan berkas hasil meeting nya dengan perusahaan Singapura tadi siang.
Keesokan siangnya, Putu terlihat memasuki lantai 8 gedung tempatnya bekerja sambil membawa paket nasi makanan Jepang ditangannya.
Dia mengetuk pintu kantor tempat Hilda bekerja, lalu ketika pintu dibuka tampak seorang wanita yang berpakaian sangat santai.
Wajahnya hanya dipoles bedak tipis dan lipstik tipis saja, dan ketika Putu mengenalkan dirinya sambil memberikan makanan dari Yuan. Wanita itu tampak gembira sekali dan mengucapkan terima kasih kepada Putu berkali-kali.
Hari berikutnya kembali Putu mencoba lagi mengirimkan makanan lain, wanita itu menerimanya tapi dengan tatapan yang mulai merasa aneh.
Besoknya lagi Putu mengirimkan makanan enak, dan Hilda mulai terlihat sangat sungkan sekali menerimanya.
Sampai di hari jumat siang, di hari terakhir bekerja di minggu itu, Putu kembali mengirimkan makanan berupa pepes ikan gurame yang masih hangat dengan aroma yang menggoda selera.
Hilda terlihat bingung menerimanya dan lalu dia berkata," Pak Putu, maafkan saya, tolong sampaikan kepada pak Yuan. Minggu depan jangan mengirimkan lagi makanan seperti ini pak. Saya malu, karena saya kemarin ini hanya sekali menolong beliau dan itupun tak sengaja".
Putu menganggukan kepalanya, lalu dia pamit kepada Hilda.
Setibanya di kantornya, dia menceritakan kepada Yuan tentang Hilda dan menurutnya memang wanita yang bernama Hilda itu wanita baik-baik bukan wanita yang suka memanfaatkan keadaan.
"Aku pikir kalau kamu mau menjadikan dia istri, tentu pilihan yang tepat. Karena wanita ini berbeda dengan wanita lain yang pernah mencoba menarik perhatianmu".
Yuan bersandar di kursinya sambil memejamkan matanya, lalu dia berkata,"Kalau ke arah istri sih masih jauh bro, masih banyak hal yang perlu aku pertimbangkan".
Hilda masih berkutat mengunggah data kedalam portal salah satu perusahaan BUMN yang sedang membuka tender untuk pengadaan mesin-mesin elektronik.
Karena harus berlomba dengan banyak perusahaan sejenis, maka Hilda terus berusaha mengunggah data agar semua proposal dari perusahaannya bisa diterima.
Jaman sekarang tender dari BUMN semuanya online, sehingga tidak ada lagi main uang dibawah tangan agar bisa memenangkan suatu pekerjaan.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan pekerjaan Hilda baru saja selesai.
Lalu dia mematikan lampu kantornya, dan segera keluar sambil mengunci kantornya.
Atasannya sejak siang tidak ada ditempat, beliau sedang mengurus pengiriman barang keluar negeri.
Hilda turun melalui lift ke lobby gedung, lalu berjalan ke depan halaman gedung untuk menunggu angkutan umum yang akan membawanya ke terminal.
Rencananya malam ini dia ingin pulang ke rumah orang tuanya, besok sabtu libur dan kebetulan hari ini baru gajian, jadi dia ingin memberikan sebagian pendapatannya untuk ibunya
Angkutan umum yang ditunggu tak juga datang, malahan dari sisi kanannya berdiri ada mobil mewah berhenti dan membuka kaca jendelanya.
"Hilda...kamu mau kemana?"tanya seseorang dari dalam mobil mewah itu.
Lantas Hilda menurunkan kepalanya untuk menengok siapa yang telah memanggilnya dari dalam mobil, dan ternyata Yuan.
"Masuklah sini, biar aku antarkan kamu," kata Yuan lagi menyuruhnya masuk.
Hilda merasa ragu-ragu, tapi karena mobil Yuan tampaknya menghalangi mobil lain dibelakangnya, maka Hilda segera naik ke dalam mobil Yuan.
"Kamu baru pulang juga, sekarang tujuannya kemana biar aku antarkan kamu,"kata Yuan di dalam mobil.
"Saya mau ke stasiun pak, mau mengejar kereta listrik terakhir yang tujuan ke Bekasi," sahut Hilda sambil merasa tak enak hati kepada Yuan.
"Baiklah aku antarkan kamu kesana yah,"kata Yuan dengan santai saja.
Lalu tanpa Hilda sadari, Yuan malah berputar memasuki jalan tol dan melaju menuju kota Bekasi.
Lama-lama Hilda merasa aneh, karena jalan menuju stasiun bukan seperti yang mereka lalui sekarang.
"Pak YCS, mungkin bapak salah jalan, ini sepertinya bukan arah jalan ke stasiun,"kata Hilda sambil memandang ke arah jalan.
"Memang bukan, ini jalan tol bu, kita sedang menuju ke kota Bekasi," ujar Yuan sambil senyum memandang Hilda sekilas.
"Ya ampun pak YCS, padahal tadi ke stasiun saja, mengapa jadi harus ke Bekasi. Maafkan saya malah jadi merepotkan bapak," Hilda merasa sangat tidak enak hatinya.
"Sama sekali tidak repot, aku hanya menyetir dan mengantarkan ke rumahmu. Sekarang sebutkan nanti keluar dari Bekasi Barat atau Timur jalan ke rumahmu".
"Hmmm...di Bekasi Barat pak, atau begini saja nanti saat sudah keluar tol, saya turun saja di sana. Gampang banyak angkutan umum yang menuju rumah saya,"Hilda mencoba memberikan solusi.
"Hahaha....aneh...sepertinya aku tidak boleh mengantarkan ke rumahmu, mengapa sih. Apakah ada suami menanti?"tanya Yuan mencoba ingin tahu apakah Hilda sudah menikah.
"Oh...saya belum menikah pak, masih tinggal di rumah orang tua,"jawab Hilda apa adanya.
"Kalau begitu tidak masalah dong kalau saya mengantarkan sampai ke rumah, lagipula ini sudah cukup malam,"sahut Yuan lagi merasa agak lega wanita ini belum menikah.
"Ya tidak apa-apa sih, cuma mobil sebesar ini pasti tidak bisa masuk ke daerah rumah saya. Selain itu, saya juga merasa tidak enak hati, mungkin istri dan keluarga bapak sedang menanti di rumah,"Hilda mencoba terus berusaha agar jangan sampai membuat Yuan kerepotan mengantarkan dirinya.
"Oh begitu....hmmm....itu soal istri, kamu lagi memancing aku atau memang mengejek aku?"Yuan senyum-senyum ke arah Hilda.
"Maksudnya memancing apa dan mengejek apa pak, saya tak paham?"tanya Hilda polos.
"Masa kamu tak pernah dengar nama YCS belum menikah?"tanya Yuan lagi sambil berusaha ingin tahu seberapa banyak pengetahuan Hilda tentang dirinya.
"Hmmm, saya sering mendengar nama YCS tapi saya tidak tahu orangnya, dan jujur baru tahu kemarin saat saya diajak makan," jawab Hilda lagi dengan sejujurnya.
"Memangnya kamu tidak ingin seperti wanita lain berusaha ingin tahu aku, dan mencoba mencari perhatianku?"pancing Yuan ingin tahu sejujur apa Hilda.
"Ya ampun pak, saya sih tahu diri dong. Saya sudah umur segini, masa sampai berniat mencari perhatian bapak. Malu sama umur pak, saya sudah menjelang tiga puluh dua tahun,"tutur Hilda dengan sebenarnya.
"Lantas mengapa sudah umur tiga puluh lebih, seorang wanita sepertimu belum juga menikah?"kembali Yuan yang menjadi semakin ingin tahu tentang Hilda.
"Yah jodoh sih bagaimana Tuhan pak, jalani saja hidup dengan santai, kalau sudah tiba saatnya Tuhan sudah memberi jodoh, maka dia akan hadir juga," enteng sekali Hilda menyampaikan pendapatnya.
Yuan terdiam dan dia setuju dengan pikiran Hilda, dan dia diam-diam merasa Hilda itu wanita yang unik.
Sedari tadi tidak ada indikasi dari Hilda yang berusaha menggoda atau mencari cara agar Yuan tertarik kepadanya.
Hilda lurus-lurus saja cara pandangnya terhadap Yuan.
"Tolong simpan nomor teleponmu di ponselku ini, lalu kamu juga simpan nomorku di ponselmu, cepat..!!!,"kata Yuan sambil memberikan ponselnya kepada Hilda, lalu dia menggoda Hilda agar melakukannya dengan cepat.
Dasar Hilda orang yang cepat panik, dia segera melakukan perintah Yuan sampai terlihat begitu sibuknya.
Yuan melihatnya sambil tertawa dalam hati, benar dia merasa lucu dan geli kalau melihat tingkah Hilda yang seperti itu.
Akhirnya mereka keluar tol Bekasi Barat, dan menuju ke perumahan tempat tinggal Hilda.
Benar apa kata Hilda, mobil besarnya tidak bisa masuk ke dalam komplek perumahan tersebut.
Mereka parkir di muka gapura perumahan, kemudian Yuan turun juga mengantarkan Hilda ke rumahnya.
"Pak Sapri, maaf titip mobil di depan itu yah," kata Hilda kepada penjaga malam di perumahannya.
"Siap neng Hilda, wah sudah ada yang mengantar nih sekarang, alhamdulillah neng,"ujar pak Sapri merasa ikut senang melihat Hilda diantar seorang pria.
Ternyata rumah orang tuanya Hilda tidak jauh dari muka gapura perumahan, paling hanya sekitar 10 rumah dari depan.
"Pak YCS, apakah akan masuk dulu ke rumah saya atau bagaimana?"tanya Hilda dengan lugu.
Yuan merasa lucu sekali dengan kelakuan Hilda, benar-benar dia tidak habis pikir wanita ini seakan mencoba menghindari kehadirannya.
"Kalau pada umumnya nona, seorang pria sudah jauh-jauh mengantarkan seorang wanita sampai ke rumahnya. Setidaknya di tawari mampir untuk minum atau apalah," Yuan kembali mencoba ingin tahu apakah Hilda akan menerimanya.
Hilda tersenyum sambil menelan ludah, dia merasa bingung, pasti orang tuanya akan mempertanyakan siapa pria yang dibawanya.
"Pak YCS, tapi maafkan saya, kalau orang tua saya bertanya siapa bapak, saya hanya akan menjawab kalau bapak teman kantor saya yah,"Hilda memohon kepada Yuan untuk tidak mengatakan dirinya sebenarnya.
"Oke siap nona, aku akan ikuti keinginan nona Hilda," kata Yuan sambil merasa geli dengan tingkah Hilda.
Sungguh ini merupakan pengalaman pertama Yuan, sebab selama ini setiap dia mengenal wanita. Pasti wanita itu akan berusaha menyampaikan kepada orang tuanya kalau Yuan seorang Direktur yang kaya raya. Dan hal seperti itu yang membuat Yuan akhirnya mundur mendekati wanita yang seperti itu.
Hilda memasuki halaman kecil rumahnya, disana ada papan bertuliskan "Gatot Wibowo-Ahli Pijat Urut".
Lalu Hilda mengetuk pintu rumahnya, dan tak lama dibuka oleh seorang ibu setengah baya.
"Hilda...kamu baru pulang, eh..dengan siapa ini?"ibu Gatot tampak berbinar senang melihat anak gadisnya diantar seorang pria.
"Ini teman kantor, Mamah, kenalkan namanya Yuan," sahut Hilda dengan sangat gugup.
"Selamat malam Tante, kenalkan nama saya Yuan, saya teman kantornya Hilda," kata Yuan sambil mengulurkan tangannya kepada ibunya Hilda.
"Oh iya, silahkan masuk nak Yuan, ayo silahkan duduk, maaf rumahnya kecil yah,"sambut ibu Gatot dengan gembira.
Lantas beliau segera mencari suaminya, memberitahukan kalau anak gadisnya datang bersama pria.
"Papah, sini...cepat...Hilda diantar pria, namanya Yuan, ayo cepat," ajak ibu Gatot kepada suaminya yang sedang menonton berita di televisi.
"Mana orangnya, siapa katanya pria itu?" tanya pak Gatot yang juga merasa senang mendengar Hilda diantar pria muda.
"Entahlah, siapa tahu saja benar ini jodoh buat Hilda yang ditunjukan oleh Tuhan,"kata istrinya sambil menuntun suaminya ke ruang tamu.
Melihat ayahnya Hilda datang, maka Yuan segera berdiri lalu mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya.
"Selamat malam Oom, saya Yuan temannya Hilda, maaf Oom malam-malam saya mengganggu,"kata Yuan kepada pak Gatot.
"Oh tidak nak, silahkan duduk, loh kok belum ada minuman. Hilda!!!!!....Mana minumnya untuk temanmu," seru pak Gatot kepada anak gadisnya.
Sementara Hilda berada di dalam kamarnya dan dia merasa bingung, tak tahu harus bagaimana dengan adanya Yuan di dalam rumahnya.
Mendengar namanya dipanggil ayahnya, maka dia segera keluar kamar dan langsung menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Yuan.
"Nak Yuan sudah makan malam?"tanya ibu Gatot dan terdengar sampai ke dapur.
Hilda berharap pria itu berkata sudah makan agar tidak berlama-lama dan segera pulang dari rumahnya.
"Hmm..sebenarnya belum sih tante, tadi langsung kemari dari kantor," jawab Yuan kepada ibu Gatot.
"Oh begitu, ya sudah makan saja disini yah, biar Hilda buatkan makanan sekalian,"ujar ibunya dengan gembira dan segera menemui Hilda yang ada di dapur.
"Hilda, temanmu merasa lapar, kalian belum makan, ayo buatkan makanan untuk temanmu. Mamah tadi tidak memasak, sudah kamu buatkan goreng untuknya," kata ibu Gatot dengan terlhat senang sekali.
"Sebentar Mamah, ini Hilda mau memberikan teh hangat untuk Yuan," kata Hilda sambil berjalan ke ruang tamu.
Yuan merasa senang melihat wajah Hilda yang tampak terlihat tidak nyaman dengan keberadaannya.
Sikap Hilda justru membuat dirinya semakin penasaran dengan diri Hilda.
Hilda menyajikan teh hangat untuk Yuan ke atas meja tamu, lalu ketika dia beranjak untuk menyimpan nampan ke dapur, ibu nya segera menyambar berkata, "Nak Yuan, nanti tunggu sebentar yah, biar Hilda masak dulu nasi goreng untuk kalian berdua makan yah".
"Wah saya jadi merepotkan yah Tante,"kata Yuan berbasa- basi.
Namun ibu Gatot menyanggah, bahwa ini hal biasa saja kalau ada tamu ke rumah mereka.
Sambil menanti Hilda memasak, pak Gatot mengajak Yuan mengobrol. Beliau bertanya Yuan tinggal dimana dan bekerja dimana.
Lantas Yuan menyebutkan alamat orang tuanya, dan menjawab kalau dia baru bekerja di kantornya Hilda.
"Sebelumnya nak Yuan bekerja dimana, sebelum bergabung dengan kantornya Hilda?" tanya pak Gatot ingin tahu.
Karena dia diminta Hilda untuk tidak mengatakan yang sebenarnya tentang dirinya, maka dia hanya menjawab membantu usaha ayahnya.
"Usaha kecil-kecilan Oom, dibidang batu- batuan," sahut Yuan hati-hati.
"Oh..seperti batu untuk bangunan yah nak," sahut pak Gatot mencoba menebak.
" Ya seperti itu lah pak,"jawab Yuan dengan tersenyum.
Dari arah dapur tercium wangi nasi goreng yang menggugah selera, dalam hatinya Yuan merasa senang mendengar Hilda pandai memasak.
Tak lama nasi goreng pun matang, dan Hilda mengajak Yuan ke ruang makan rumahnya yang kecil.
Yuan masuk ke ruang makannya, lalu duduk di salah satu kursi di sana.
Hilda menyajikan nasi gorengnya dan juga menyiapkan air minumnya untuk Yuan.
Lantas dia duduk berhadapan dengan Yuan, setelah berdoa makan kemudian Hilda mulai makan.
Yuan sebenarnya tidak terbiasa makan nasi malam hari, namun karena dihidangkan oleh Hilda maka diapun mencoba memakannya.
Dan ketika nasi goreng buatan Hilda masuk ke mulutnya, tenyata rasanya luar biasa enak.
Maka Yuan menghabiskan nasi goreng hasil masakan Hilda sampai tak tersisa satu butir nasi di atas piring nya.
Setelah selesai makan, Yuan kembali ke ruang tamu, sementara orang tua Hilda sedang di teras rumah. Keduanya terlihat berpura-pura sedang berbincang tentang tanaman, tapi dalam hati Yuan mereka seakan sedang memberikan kesempatan untuk Yuan dan Hilda saling mengobrol.
Tapi Hilda malah menutup dirinya, dia lebih banyak diam, hatinya merasa sangat resah dan malu.
Dalam hatinya berkata apa kata dunia kalau sampai orang lain tahu seorang Yuan bisa sampai berkunjung ke rumahnya.
Hilda merasa terbebani hidupnya, bayangkan betapa orang lain akan berkata yang buruk mengenai dirinya kalau sampai ada yang tahu dia dengan Yuan.
Lalu Hilda berbisik kepada Yuan,"Ssttt...Pak YCS apakah tidak akan pulang, ini sudah jam sepuluh malam. Nanti kemalaman di jalan saat kembali ke rumahmu".
Jelas Yuan kaget sekali, belum pernah ada wanita mengatakan itu kepadanya, malah banyak wanita yang kalau bisa ingin dirinya menginap saja menemani wanita itu.
"Jadi aku diusir ceritanya nih?"kata Yuan kepada Hilda sambil menggodanya.
"Bukan begitu, kasihan orang tuaķu, mereka tidak mungkin tidur larut malam. Rumahku kecil begini, pasti kalau kita mengobrol akan mengganggu mereka,"Hilda mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
"Baiklah, terima kasih nasi gorengnya enak sekali, besok aku kemari lagi yah. Siapa tahu aku diberi makanan yang lebih enak lagi,"kata Yuan terus mencoba menggoda Hilda.
"Aduh pak....janganlah...Rumahku jauh, tidak enak nanti merepotkan bapak lagi. Saya juga mengucapkan terima kasih sudah diantarkan pulang sejauh ini,"kata Hilda membungkukan badannya sebagai tanda terima kasih.
Yuan tak berkata apa-apa lagi kepada Hilda, dia lalu menuju teras rumah Hilda untuk pamit kepada kedua orang tuanya.
"Nak Yuan terima kasih yah, hati-hati di jalan, lain kali singgah lagi kemari,"kata ibu Gatot kepada Yuan.
"Tadi kemari naik mobil siapa, itukah yang terparkir di ujung jalan sana?"tanya Pak Gatot mencari tahu.
"Oh iya Oom, itu mobil boss, tadi diberi pinjam untuk mengantarkan Hilda. Besok pagi dikembalikan lagi ke kantor," Sahut Yuan sambil melirik Hilda yang dari tadi tampak diam saja.
Lalu Yuan bersalaman dengan kedua orang tua itu, dan melangkah keluar rumah mereka.
Saat langkah kakinya di depan pos jaga perumahan, pak Sapri menegurnya," Anak muda mobilmu mewah sekali yah, Hilda tampaknya punya kekasih kaya raya".
"Ini mobil boss pak, bukan punya saya tadi dipinjam untuk mengantarkan Hilda saja," sahut Yuan sambil tersenyum kepada Pak Sapri.
"Hmmm begitu yah, kalau begitu hati-hati dijalan nak, sudah malam begini. O, ya, kalau memang suka kepada Hilda, segeralah nikahi dia. Kasihan usianya sudah lebih dari cukup, padahal dia perempuan baik. Cuma dulu mungkin pernah trauma ditinggal menikah oleh kekasihnya," Pak Sapri suka ember mulutnya, untung Hilda tak mendengar kalau tahu pasti akan mengomel.
Yuan menganggukan kepalanya mulai paham tentang Hilda, lalu dia menengok kebelakang dan terlihat Hilda masih menatap dirinya di muka pintu rumahnya.
Setelah itu Yuan pamit kepada pak Sapri, sambil menyalakan mobilnya dia berkata dalam hati ,"Kalau tak suka kepadaku tak mungkin dia menunggu sampai aku masuk mobil".
Kemudian Yuan melaju menembus malam dijalan tol menuju pulang ke apartemennya.
Tiba di apartemen menjelang tengah malam, tanpa mandi dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur sambil terbayang wajah dan sikap Hilda.
Bohong kalau lelaki setelah putus cinta tidak pernah mencoba mencari wanita, dia juga sebenarnya pernah beberapa kali mencoba dekat dengan wanita.
Tapi ketika tahu siapa dirinya, kebanyakan wanita menjadi sok manja, memanfaatkan dirinya dan kekayaannya.
Menyombongkan dirinya kepada orang lain kalau dia kekasihnya Yuan, bahkan ada beberapa yang sengaja merendahkan martabatnya minta ditiduri oleh Yuan.
Untung Yuan masih takut Tuhan, dia tidak pernah tergoda kepada hal-hal seperti itu. Baginya cinta sejati bukan berawal dari bercinta berhubungan intim, tetapi dari rasa kasih dan cinta yang sesungguhnya.
Hilda bukan sungguh-sungguh tak tahu nama YCS, saat dia menanti lift dikantor setiap hari, pasti saja banyak perempuan muda yang membicarakan nama itu.
Memang Hilda sendiri tidak pernah tahu dengan jelas wajahnya, hanya nama itu sering dia dengar setiap harinya.
Tapi selama ini dia tidak peduli, dipikirnya tak mungkin dia bersaing dengan begitu banyak perempuan muda yang mencoba mencari perhatian seorang YCS.
Bahkan malam inipun sebelum dia tidur, dia memanjatkan doa berharap YCS tidak akan pernah datang lagi ke rumahnya dan juga dia tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.
Tapi rencana Tuhan bukanlah keinginan manusia, selalu ada hal indah yang sudah Tuhan sediakan bagi setiap umatnya.
Jangan tak percaya, seorang penjahat kejam sekalipun sudah ada rencana indah berupa kesempatannya untuk bertobat yang Tuhan sediakan. Hanya tinggal orangnya saja mau menerima atau tidak, karena Tuhan selalu membukakan jalan kebaikan bagi setiap umat di dunia.
Sabtu pagi Putu ditelepon oleh Yuan, padahal dia sedang bersiap untuk menjemput calon istri dan calon mertuanya di Bandara.
"Putu, setengah jam lagi aku jemput kamu yah, aku mau minta tolong sebentar,"kata Yuan tanpa bertanya lagi kalau Putu mungkin sedang sibuk atau tidaknya.
"Tapi bro....,"belum sempat Putu menjelaskan teleponnya sudah ditutup oleh Yuan.
Yah sebagai asisten mau apa, lebih baik ikuti saja dulu kemauan bossnya itu dari pada nanti diomeli.
Benar saja tak sampai setengah jam, Yuan sudah berada di lobby apartemennya Putu.
Lalu Putu segera bergegas turun menemui sahabat sekaligus bossnya itu.
"Ayo ikut aku sebentar,"kata Yuan sambil turun dan meminta Putu sekarang menyetir mobilnya sementara dia duduk di kursi sampingnya.
"Mau kemana boss?"tanya Putu sambil agak deg-deg an takut kalau sampai harus keluar kota.
"Ke rumah orang tuaku, aku mau ambil motor," jawab Yuan dengan santainya.
Sambil merasa heran, Putu tidak bertanya lagi dan langsung mengemudi ke arah Jakarta Utara ke suatu pemukiman elit di sana.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di suatu rumah berpagar tinggi, dan ketika pintu dibuka oleh penjaga rumah maka terlihatlah rumah mewah dan mewah milik orang tuanya Yuan.
Seorang pelayan menyambutnya ketika dia turun dari mobil, dan sebelum turun dia berkata kepada Putu ,"Kamu mau kemana hari ini silahkan saja bawa mobilku, nanti malam kalau mau menginap di apartemenku juga datang saja langsung yah, tapi nanti aku ada perlu dulu pasti pulang agak larut".
Lalu tanpa menjelaskan apa-apa lagi, dia menyuruh Putu meninggalkan rumah itu. Dan tentu saja Putu cukup gembira, setidaknya hari ini dia bisa membawa calon mertuanya jalan-jalan dengan mobil yang sangat nyaman.
"Mamih dan Papih ada dirumah tidak mbak?" tanya Yuan kepada pelayan itu.
"Ada tuan muda, keduanya sedang di halaman belakang bersama keluarga nona Yohana,"jawab pelayan itu dan Yuanpun segera masuk ke dalam rumah lamanya itu.
"Oom Yu...!!!!!!!" teriak seorang gadis kecil berusia sekitar 4 tahunan.
Gadis kecil itu adalah keponakannya, anak dari Yohana adik bungsunya.
Yuan segera memeluk gadis kecil itu dan menggendongnya menemui keluarganya yang sedang berkumpul di belakang.
"Anak cantik sudah lama disini sayang?" tanyanya kepada Mona keponakan kecilnya.
"Mona menginap disini semalam, bobo sama Oma dan Opa," katanya menjelaskan kepada pamannya.
"Nanti malam Mona boleh tidak bobo sama Oom Yu?"tanyanya sambil berharap kepada pamannya.
"Boleh saja, asal Mona jangan ngompol yah".
"Mona sudah tidak ngompol Oom, janji Mona tidak bohong".
Ucapannya yang polos membuat gemas dirinya dan dia mencium kening gadis kecil itu.
"Tumben boss jomblo kemari?"ujar adiknya sambil memeluk kakak lelaki satu-satunya.
"Hmmm....sembarangan saja kamu, mana suamimu?"tanya Yuan kepada adiknya.
"Peter sedang ke luar negeri ada urusan pekerjaan, jadi aku sama Mona menginap saja disini," jawab Yohana sambil mengoles selai ke atas rotinya.
"Kamu juga akan menginap di sini Yuan?" tanya Indah Subrata istri dari Handi Subrata yang merupakan ibu kandungnya.
"Sepertinya begitu Mamih, kita lihat saja nanti malam bagaimana?"sahut Yuan kepada ibunya.
"Kamu jarang sekali kemari Yuan, tinggal saja di apartemen sendirian, mending kalau sudah menikah. Ini sih kerjanya hanya main games saja ditemani Putu. Mau sampai kapan kamu seperti ini terus," pak Handi menegur anak lelakinya itu.
"Tenang saja Papih, nanti juga menikah kok kalau sudah waktu nya sih," jawab Yuan menanggapi omelan ayahnya dengan santai.
"Sebenarnya kamu sudah punya kekasih belum sih Yuan?"tanya ibu Indah berusaha menyelidiki anaknya.
"Dibilang ada tapi tak ada, dibilang tak ada tapi ada juga sih, cuma belum yakin saja," jawab Yuan enteng sambil mengigit roti selainya.
"Yang bikin tidak yakin apanya sih Bang?" tanya sang adik kepada kakaknya.
"Entahlah, aku juga baru kenal dengan dia, jadi belum tahu juga dia bagaimana orangnya," sahut sang kakak sambil terus mengunyah.
"Jadi ada atau tidak sih, Papih tidak yakin sama kamu itu, beberapa kali dikenalkan kepada wanita pasti saja akhirnya membuat malu,"kata pak Handi terlihat kesal kepada anak lelakinya itu.
"Papih....yang harus malu itu perempuannya yah bukan keluarga kita, justru kalau waktu itu Yuan lanjutkan hubungan dengan para perempuan itu malah akan membuat aib buat keluarga kita," jawab Yuan enteng saja lagi.
Pak Handi menarik nafas kesal, lalu Ibu Indah mengusap-usap punggung suaminya meminta agar bersabar menghadapi Yuan.
Memang Yuan sifatnya sebenarnya sama dengan ayahnya, karakter keduanya sangat keras kepala dan sulit diatur.
Untung saja ibu Indah orang yang sangat sabar dalam menghadapi suaminya, sehingga pernikahan mereka bisa langgeng.
Yohana hanya tertawa-tawa saja melihat ayahnya dan sang kakak selalu saja ribut kalau bertemu.
"Bang, nanti akhir tahun Kakak Zelka akan pulang ke Indonesia loh bersama calon suaminya,"kata Yohana berusaha mencairkan pembicaraan yang tegang tadi.
"O ya, kapan rencana datangnya?"tanya Yuan dengan antusias.
"Dari awal Desember, mereka ingin menikah di Indonesia saja. Malah rencananya setelah menikah akan tinggal Malang. Mereka mendapat tawaran kerja jadi dosen di sana, kebetulan universitas butuh profesor ahli di bidang patologi seperti yang dikuasai oleh Mark," Ibu Indah menjelaskan kepada Yuan tentang rencana kakaknya kembali ke Indonesia.
"Seperti apa yah kondisi kakak Zelka sekarang yah Mamih... Yona kangen sekali," ujar Yohana yang memiliki panggilan Yona.
"Terakhir saat Mamih dan Papih ke Berlin sih dia sudah bisa duduk, cuma masih tetap harus menggunakan kursi roda. Tapi luar biasa sekali, Mark dan anaknya sangat sayang kepadanya. Mamih suka terharu kalau ingat mereka," Ibu Indah bercerita tentang kakaknya kedua anaknya itu.
"Semoga saja tidak ada aral melintang yah, Papih juga sudah kangen ingin berkumpul. Siapa tahu saja Yuan juga bisa membawa calon istrinya," kata pak Handi tapi masih juga sedikit menyindir Yuan.
Sementara yang disindir hanya senyum- senyum saja pura-pura tak mendengar.
Yoan melihat kakak lelakinya sedang berusaha menyalakan motor besarnya yang sudah lama tidak digunakan.
"Bang Yu, tumben banget mau naik motor lagi?" tanya Yohana merasa aneh.
Motor merek Jepang terkenal dengan tipe CBR 250 CC, keluaran sekitar tiga tahun lalu.
"Iya terakhir aku touring ke Lombok sekitar awal tahun ini, lalu lama tidak dipakai lagi. Sepertinya harus aku bawa ke bengkel terdekat," ujar Yuan dan motornya sudah bisa menyala sekarang dia memainkan gasnya.
Berisik sekali suara gas motor yang berkali- kali di gas oleh Yuan.
"Aduh Yu...berisik banget!!!!" teriak ibu Indah yang ikut keluar dari dalam rumahnya.
"Hahaha...mencoba gas nya Mamih, takutnya tidak bisa menyala," sahut Yuan sambil tertawa melihat ibu dan adiknya kebisingan.
" Tumben sekali kamu naik motor lagi, apa tidak takut jatuh lagi?"tanya ibunya.
"Mamih tuh yah, masa mendoakan anaknya jatuh lagi sih,"ujar Yuan sambil cemberut.
"Bukan begitu nak, Mamih hanya takut kamu mengebut lagi seperti dulu," ibu selalu merasa khawatir kepada anaknya.
"Tenang....sekarang sih untuk dibawa santai saja lah," Yuan sambil mengedipkan matanya kepada sang adik.
"Curiga buat membonceng cewek ini sih tampaknya," goda Yohana kepada kakaknya.
"Sssttt.....berisik....kepo saja kamu tuh".
Yohana tampak paham dan dia senyum- senyum sendiri merasa bahagia kalau kakaknya punya kekasih. Tapi sulit ditebak juga sih, kakaknya itu susah sekali kalau ditanya soal ke arah itu.
"Mamih...boleh tanya sesuatu tidak?"tanya Yuan tiba-tiba kepada ibunya.
Tentu ibunya menganggukan kepalanya, menanti pertanyaan anaknya.
"Tapi jangan marah yah...Mamih sama Papih itu usianya lebih tua Mamih berapa tahun sih?" tanya Yuan perlahan takut ibunya marah tersinggung.
Mendengar anaknya bertanya, maka beliau menjawab sambil merasa aneh," Hmm... masa marah sih...Mamih dan Papih itu lebih tua Mamih dua tahun, kalau dulu Mama Intan lebih muda dari Papih dua tahun".
Yuan tersenyum, lalu tanpa banyak bertanya lagi dia mencium pipi ibunya lalu pamit ijin ke bengkel motor.
Yohana dan ibunya saling bertatapan, mereka curiga kalau Yuan mungkin punya kekasih yang usianya lebih tua darinya.
Pak Handi dulu menikah dengan wanita bernama Intan, dan mempunyai seorang anak perempuan bernama Mazelka Subrata.
Ketika Zelka anak mereka berusia empat tahun, istrinya sakit keras dan tak bisa terobati lagi sampai akhirnya meninggal dunia.
Selama istrinya sakit, maka Zelka kecil diurusi oleh kakak perempuannya yang seorang janda tanpa anak.
Indah kakaknya ditinggal bercerai oleh suami nya karena dianggap tidak bisa memberikan keturunan setelah lebih dari lima tahun menikah.
Zelka kecil sangat dekat dengan kakak ibu nya itu, bahkan memanggilnya Mamih.
Jadi sewaktu kecil Zelka punya Mamah Intan dan juga Mamih Indah.
Ketika akhirnya Intan harus berpulang ke rumah Yang Kuasa, tentu saja Zelka kecil menjadi semakin lengket dengan Indah.
Setelah satu tahun menduda, dan atas kesepakatan keluarga besar, maka diputuskan Handi menikahi kakak iparnya itu demi Mazelka.
Dari awalnya hanya demi Mazelka, namun dirasakan oleh Handi kalau Indah adalah wanita yang bahkan jauh lebih sabar dan lebih menurut kepada suaminya.
Lambat laun akhirnya Handi juga menjadi jatuh cinta kepada Indah, dari yang awalnya tak pernah menyentuh istrinya, akhirnya dia menyatukan diri dengan istrinya.
Memang Tuhan selalu penuh keajaiban, dahulu dipernikahan pertamanya Indah tidak juga hamil, tetapi setelah bersama Handi malah dikaruniai dua orang anak yaitu Yuan dan Yohana.
Yuan melakukan cek servis untuk motornya di suatu bengkel khusus sesuai dengan merek motor besarnya itu.
Sambil menunggu pemeriksaan, dia iseng berjalan-jalan ke dekat bengkel tersebut, dan disana ada toko yang menjual berbagai jenis helm.
Dan dia memilih lalu membeli sebuah helm untuk wanita dan berwarna merah muda.
Saat pulang kembali ke rumah orang tuanya, sang adik yang masih menginap disana mengintip dari jendela kalau di motor kakaknya ada helm merah muda tergantung di sisi jok belakang.
Segera dia berlari dan berbisik-bisik kepada ibunya, dan lalu keduanya terlihat sangat senang berharap semoga apa yang mereka curigai benar-benar menjadi kenyataan.
Sekitar jam dua siang, terlihat Yuan memakai jaketnya, lengkap dengan sepatu boot nya yang biasa dia gunakan kalau bepergian dengan naik motor.
Dia pamit kepada Mamih dan Papihnya, katanya mau ke rumah teman di Bekasi.
Adiknya hanya senyum-senyum saja, pura- pura tidak paham padahal dia yakin sekali kalau kakaknya akan ke rumah seorang wanita.
Sabtu adalah hari istirahat bagi Hilda, dia setelah membantu ibunya memasak lalu dia bersenang-senang dengan kedua keponakannya.
Kebetulan habis gajian, maka dia membawa kedua keponakannya berjalan-jalan ke sebuah mall yang tidak jauh dari rumah mereka.
Untuk menuju kesana bisa dengan naik becak saja yang biasa mangkal di dekat perumahannya, sekitar lima belas menit naik becak lalu mereka tiba di pintu belakang mall.
Jadi biasanya begitu, mereka turun dari belakang mall dan berjalan kaki menyusuri ratusan motor pengunjung dan karyawan mall yang terparkir di sepanjang jalan halaman belakang mall tersebut.
Mereka makan siang di mall di sebuah rumah makan siap saji, memesan paket nasi dan ayam goreng tepung, termasuk makanan favorit kedua keponakannya.
Setelah makan, mereka bertiga menuju supermarket besar yang ada di lantai bawah mall tersebut. Berbelanja buah-buahan, keperluan rumah tangga, keperluan pribadi dan lain sebagainya.
Yang penting kedua keponakannya bahagia bisa berjalan-jalan bersama tantenya.
"Ontida, Joy ingin ini yaaahhh," kata Joya kepada tantenya sambil menunjukan sebatang coklat.
"Roy juga mau ini yah Ontida...!!!"kata Roy kakaknya Joya sambil memperlihatkan kedua bungkusan cemilan keripik kentang.
"Ya boleh, ayo mau apalagi?"kata Hilda kepada keduanya.
Baginya tidak masalah sebulan sekali mentraktir kedua keponakannya. Dan hal ini paling bisa dia lakukan kalau sudah dapat gajian bulanan.
Kedua keponakannya juga tidak pernah meminta barang mahal, paling juga cemilan atau permen coklat.
Setelah dirasa cukup belanjaannya, mereka juga pulang rumah dan kembali naik becak dari belakang mall tersebut.
Tiba di rumah, belanjaan mereka di bongkar dan ibunya selalu saja terharu karena setiap bulannya selalu saja Hilda yang mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Sabun cuci, pembersih lantai, kecap dan bumbu dapur lainnya, juga telur dan mie instan. Tak ketinggalan sabun mandi, pasta gigi, shampo dan kebutuhan lainnya.
Pak Gatot dan istrinya yang aslinya bernama Tina selalu tidak pernah kekurangan bahan makanan dan juga keperluan lainnya.
Setelah membersihkan diri, dia iseng mencoba masker wajah yang katanya bisa membuat wajahnya lebih cerah. Ketika kemasannya dibuka, dia ternyata serbuk itu berwarna hitam. Tapi tidak menyurutkan niat untuk mencobanya, lalu setelah mengikuti petunjuk pemakaian maka diapun mulai memoleskan ke wajahnya.
Melihat wajah tantenya hitam, membuat kedua keponakannya tertawa geli.
"Ini harus sampai kering di wajah Ontida nya loh," kata Joy sambil membaca petunjuk di kertas pembungkus tadi.
"Eeemm...eeemmm...,"jawab Hilda sambil mengangguk dan mengiyakan, hanya dia sudah mulai sulit bicara karena masker terasa kencang di bibirnya.
Hilda berbaring di tempat tidurnya sambil mendengarkan keponakan Joy sedang berceloteh menceritakan teman-temannya di sekolah.
Sementara Roy sedang berbaring di sofa ruang tamu rumah neneknya sambil menikmati cemilan keripik kentang yang tadi dibelinya.
Tak lama di depan rumah terdengar suara motor besar berhenti di muka rumah neneknya.
Roy mengintip dari balik tirai jendela, dan dia melihat seorang pria dewasa yang cukup gagah sedang turun dari motor besar itu sambil membuka helm nya.
Dia belum pernah melihat pria itu, tapi ketika melihat wajahnya terlihat ramah, maka dia membuka pintu untuk menyambutnya.
"Cari siapa Oom?"tanya Roy kepada pria itu.
"Halo...Hildanya ada dik?"tanya pria itu.
"Ontida yah...ada sih, tapi Oom ini siapa?" tanya Roy menyelidiki pria itu.
"Aku Yuan, temannya tante Hilda," jawab Yuan dengan senyum dan dia menebak kalau anak lelaki ini pasti keponakannya Hilda.
Lalu Roy mengintip sebentar ke dalam, dan timbul niat isengnya.
Lalu dia meminta Yuan mendekatkan telinga kepada dirinya, dan Roy membisikan sesuatu ke telinganya.
Yuan yang mendengarnya setuju, lalu dia dan Roy saling menempelkan kepalan tangan tanda kompak.
Mereka berdua berjalan pelan-pelan ke dalam rumah, Yuan juga menyimpan helm nya di sofa ruang tamu dengan perlahan.
Keduanya berjingkat mengintip ke dalam kamar Hilda, disana terlihat Joy sedang mengajari tantenya berdansa ala-ala girl band Korea yang sedang hits.
Hilda hanya memakai celana pendek dan juga kaus tanpa lengan. Tentunya lekuk tubuhnya terlihat oleh Yuan, dan sebagai lelaki dewasa tentu sangat menikmati pemandangan seperti itu.
Joy menggunakan aplikasi Tak Tok, dan sesuai perjanjian dengan tantenya kalau kegiatan mereka berdua ini hanya untuk koleksi pribadi mereka saja.
Wajahnya saat ini masih ditutupi masker wajah berwarna hitam, dan dia masih tidak sadar kalau di depan kamarnya ada seorang pria yang sedang memperhatikan sambil merekamnya dengan video dari ponselnya.
Ketika Hilda melakukan gerakan berputar sesuai instruksi sang keponakan, barulah dia melihat ada pria di depan kamarnya. Seketika dia melompat menutup pintu kamarnya.
Yuan dan Roy tertawa, lalu keduanya kembali saling menempelkan lengan dan kepalan tangan.
Joy keluar dari kamar tantenya, lalu menatap Yuan, dan segera Yuan berjongkok sambil mengulurkan tangan kepada gadis kecil itu.
"Halo...aku Yuan...kamu siapa namanya gadis cantik?".
Sambil malu-malu Joy menyambut uluran tangan Yuan dan menyebutkan namanya.
"Oom pacarnya Ontida?"tanyanya dengan polos setelah dia menyebutkan namanya.
Lalu Yuan menarik tubuh gadis kecil itu, dan dia berbisik ke telinga kecil itu.
"Ontida nya mau tidak yah jadi pacar Oom... habis Ontida nya malu-malu saja sama Oom".
"Hmmm....nanti yah Joy tanyakan, biar Joy bilangin biar tidak usah malu-malu yah".
Yuan tentu saja senang hatinya karena kedua keponakan Hilda tampak mendukungnya.
Hilda mengelupas masker wajahnya, karena jenis seperti itu apabila sudah kering bisa dikelupas.
Lalu dia membersihkan sisa masker dengan cairan pembersih wajah. Setelah itu dia mengoles wajahnya dengan krim wajah, lalu memberinya sedikit bedak.
Segera dia juga menukar pakaiannya dengan kaus polo dan celana panjang jeans.
Sebelum keluar kamar dia memoles tipis- tipis lipstik ke bibirnya.
Kalau tidak suka kepada Yuan, buat apa harus dandan rapih yah, bisa saja cuek dan lantas mengusir Yuan. Tapi tidak dia lakukan karena kalau mau jujur dia juga suka ada Yuan datang lagi.
Saat mau keluar kamar, keponakannya masuk dan berkata," Ontida, kata Oom Yuan tante harus mau jadi pacarnya, jangan suka malu-malu kalau suka".
"Aduh Joy...kamu suka sok tahu deh," sahut Hilda sambil membuka pintu kamar.
Yuan menatap Hilda yang baru saja keluar kamarnya, dan dia sangat terpesona.
Wajah Hilda sangat manis dan menarik, apalagi kalau dandan sederhana seperti ini.
Hanya sayang kalau sehari-hari dia jarang dandan, entah apa maksudnya.
Ketika dirasa kedua keponakannya pergi keluar, dia berkata kepada Yuan," Pak YCS mau apa kemari lagi sih....saya jadi tidak enak hati ".
"Aku dari kemarin selalu diusir terus, kenapa sih kamu benar-benar tidak suka aku datang lagi kesini?"tanya Yuan sambil menatap tajam ke arah Hilda.
Hilda tampak salah tingkah, lalu dia menjawab,"Bukan tidak suka sih....".
Belum selesai Hilda melanjutkan kata-kata, langsung Yuan menyelanya," Berarti suka dong kalau aku datang".
Hilda jadi terdiam tidak bisa meneruskan kalimatnya lagi, dia hanya menutup mata antara senang ada Yuan tapi juga dia takut dengan kehadiran Yuan.
Sesungguhnya dia takut kalau jatuh cinta kepada Yuan, maka dia berusaha untuk menyangkalnya terus.
"Ada tamu rupanya, sudah lama nak Yuan?" tanya ibunya Hilda yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Tante apa kabar, baru sebentar saja kok tante,"jawab Yuan kepadanya.
"Astaga Hilda, ada teman datang jauh-jauh bukannya disuguhi minuman. Ayo sana buatkan nak Yuan es jeruk, tadi Mamah membeli jeruk sekarang ada di dapur!".
Hilda segera beranjak menuruti perintah ibunya.
"Maaf nak Yuan, dia itu terkadang suka kayak anak kecil. Suka lupa menyuguhi tamu minuman," ujar ibu Tina terlihat kesal kepada anaknya.
"Tidak apa-apa kok tante, eh..kalau Oom sedang kemana ?"tanya Yuan karena tidak melihat ayahnya Hilda.
"Oh biasa kalau Oom sih kan suka memijat orang, tadi ada yang menjemput katanya keluarganya ada yang terkilir kakinya".
"Hmmm...ada tamu, kenalin saya Herman kakaknya Hilda, kamu temannya Hilda?"
tiba-tiba ada seorang pria masuk ke dalam rumah dan ternyata kakaknya Hilda.
Yuan lantas berdiri dan menyambut uluran tangan Herman," Siap Bang, saya Yuan teman Hilda".
"Di depan itu motor mu?"tanya Herman.
Sesuai keinginan Hilda, maka kembali Yuan berkelit lagi," Bukan bang punya kantor itu sih".
"Wah Jefri keren juga yah, syukur kalau maju usahanya. Istri saya dengan istri Jefri itu teman sekolah, mereka bersahabat makanya Hilda bisa kerja di kantornya," Herman cerita mengenai pimpinannya Hilda dikantornya.
Yuan menganggukan kepalanya saja, karena seluruh keluarga Hilda saat ini beranggapan kalau Yuan adalah karyawannya Jefri.
Hilda membawa minuman untuk Yuan, dan setelah minum, Yuan masih saja diajak ber bicara oleh Herman. Bahkan dia dibawa ke sebelah rumah ibunya, Herman mengajak Yuan melihat usaha laundrynya.
Yuan juga dikenalkan kepada Lisa istrinya Herman, dan mereka tampak asik saja berbincang, Herman menjelaskan soal bisnis laundrynya.
Namanya usaha mendekati adiknya, maka Yuan juga mau tak mau harus bersabar mendengar calon kakak iparnya itu bercerita.
Bukan hanya itu saja, rupanya keluarga Hilda memang menganut prinsip kekeluargaan, jadi ketika pak Gatot kembali juga yang banyak mengobrol dengan Yuan malahan Ayah dan kakaknya Hilda.
Sementara Hilda disuruh ibunya menyiapkan masakan untuk nanti malam makan bersama Yuan juga.
Malamnya Yuan diajak makan malam bersama dan tentu saja Yuan sangat menikmati kebersamaan dengan keluarga Hilda.
Jujur semua yang terjadi antara Yuan dan keluarga Hilda tak ada rekayasa, semua mengalir begitu saja. Jarang terjadi seorang pria yang terlihat mendekati Hilda bisa diterima baik oleh semua keluarganya.
Entah mengapa Yuan juga merasa seperti nge blend saja dengan mereka, kecuali dengan Hildanya sendiri yang masih terlihat menjaga jarak dengan Yuan.
"Da..kamu besok ke Jakarta lagi jam berapa, nanti aku jemput yah," kata Yuan ketika ada kesempatan berdua dengan Hilda.
"Pak YCS, sudah pak jangan merepotkan, saya sungguh malu dan tak enak hati pak, nanti apa kata orang, disangka saya telah memanfaatkan bapak,"kata Hilda kepada Yuan sambil terlihat memelas.
"Kamu bisa tidak panggil aku Yuan, atau kalau sudah mulai sayang sama aku panggil aku abang atau apa kek,"goda Yuan kepada Hilda yang selalu saja salah tingkah kalau didekatinya.
Hilda kembali diam saja, sungguh dia bingung entah harus bagaimana. Kalau misal dia mengikuti kata hati pasti saat ini sedang bahagia di dekat Yuan, tapi dia takut kalau semua itu hanya akan sia-sia belaka.
Mana mungkin seorang Yuan akan memilih dirinya menjadi kekasihnya.
Yuan melihat jam tangannya, dia juga ada janji dengan Mona kecil untuk menemani bobo malam ini.
Sambil pamit kepada orang tuanya Hilda, dia berkata kepada ibunya Hilda," Tante besok saya kemari lagi boleh yah, mau makan lagi disini sambil menjemput Hilda".
"Silahkan saja, ditunggu yah besok nak Yuan".
Hilda tak bisa apa-apa lagi, hanya berkata hati-hati dijalan kepada Yuan.
Kalau memang tak suka kepada Yuan, tentu tidak harus berdiri memandang Yuan sampai berbelok meninggalkan gapura perumahan tersebut.
Karena takut banyak pertanyaan dari orang tuanya, maka Hilda segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Sambil memeluk bantal, dia merasa bahagia sekali, tapi disisi lain dia juga takut kalau sampai jatuh cinta karena rasanya tak mampu kalau harus sakit hati lagi.
Yuan tiba di rumah orang tuanya, tenyata benar Mona sudah menunggunya, lalu setelah membersihkan diri dia menggendong keponakan kecilnya tidur bersamanya.
Esok paginya Hilda beribadah dengan keluarganya bersama ke suatu gereja di dekat rumah mereka.
Hilda mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikan oleh pendeta, kalau saja Hilda konsentrasi ada satu kalimat dari yang diucapkan oleh pak pendeta.
"Terkadang kita tidak sadar kalau rencana Tuhan sedang menghampiri kita, maka dari itu cobalah membuka hati dalam menerima rahmatNya".
Hilda sedang tak sadar kalau Tuhan sedang memberikan kesempatan bagi dia dan Yuan untuk bisa bersama.
Sementara di gerejanya Yuan juga sedang mendengarkan khotbah dari pendeta, yang isinya "Kalau memang yakin akan rahmat yang Tuhan tunjukkan, walau ada rintangan seberat apapun jangan kau ragu, karena Tuhan selalu menyertai orang yang percaya".
Semakin besar hati Yuan, dan dalam doanya dia memohon agar Tuhan memudahkan jalan bagi dirinya dan juga Hilda.
"Halo Putu kamu dimana?"tanya Yuan ketika dia menelepon asistennya.
"Boss, aku masih mengantar calon mertua berjalan-jalan,"sahut Putu dari seberang sana.
"Masih naik mobilku kan," kata Yuan lagi.
"Ya masih, bagaimana jadinya aku sedang jauh boss".
"Tak apa sih, aku mau pinjam mobilmu, sebentar aku akan ke apartemenmu. Kamu segera hubungi sekuriti, nanti aku ambil kunci mobilmu kesana".
Tanpa sempat menjelaskan apapun, Yuan sudah menutup telepon dan seperti biasa Putu segera menghubungi sekuriti yang ada di apartemennya untuk mengambil kunci mobil di kamarnya.
Yuan naik taksi online menuju apartemen Putu, dan tak makan waktu lama dia segera tiba disana. Dan untung kunci sudah ada di tangan sekuriti.
Hanya masalahnya sekarang adalah kondisi bahan bakarnya tinggal sedikit, beruntung kalau bisa tiba di stasiun pengisian bahan bakar.
Yuan mencoba menjalankan sambil mencari SPBU terdekat, karena sudah benar-benar habis bahan bakarnya. Maka mobil menjadi mogok, padahal ke arah SPBU masih sekitar satu kilometer lagi.
Untung ada beberapa mang becak yang bisa diminta bantuan mendorong mobil itu. Tiba di SPBU antrian panjang sekali, hampir satu jam lamanya dia berkutat masalah mobil mogok.
Sehabis diisi bahan bakar juga, mobil masih juga belum segera menyala karena aliran bahan bakar belum merata. Maka hampir dua jam sudah dia kesal dengan mobilnya Putu.
Untung tak lama mobil bisa menyala, dan dia segera melaju menuju kota Bekasi.
Hilda sudah bersiap-siap untuk ke Jakarta lagi karena besok dia harus kembali bekerja.
Yuan yang janjinya akan menjemputnya tapi tak juga datang, dia mulai kesal karena dia yakin Yuan pasti sedang bersama wanita lain.
Setidaknya status chat nya semalam menjadi bukti kalau Hilda bukanlah wanita yang jadi pilihan hatinya Yuan.
"Mah sudah yah, Hilda naik kereta saja, jam segini masih ada kok. Biar tidak kemalaman nanti tiba di Jakarta," kata Hilda kepada ibunya.
"Ah Mamah yakin kok, dia pasti akan datang menjemputmu," Ibunya membesarkan hati anaknya.
Dalam hatinya Hilda memberikan toleransi satu jam lagi, apabila dia memang tak datang maka tak usah di pikirkan lagi.
Ketika Hilda sedang membaca berita di media sosialnya, terdengar suara mobil parkir di muka rumahnya.
Hilda tidak tahu mobil siapa itu, karena dia belum pernah melihatnya. Ketika dia mengintip dari balik tirai, tampak seorang pria turun dari mobil itu dan tenyata benar Yuan datang menjemputnya.
Hilda segera membukakan pintu, dan terlihat pakaian Yuan begitu kotor penuh dengan noda oli.
Yuan juga meminta ijin ikut ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan badannya.
Hilda segera menyiapkan minuman segar dan juga menyiapkan handuk untuk Yuan.
"Terima kasih sayang, minumannya segar sekali".
Sayang..Hmmm...Hilda matanya membelalak saat mendengar kata itu.
"Aku duduk dulu disini yah, lelah sekali".
"Pak YCS sudah makan siang belum?" tanya Hilda kepada Yuan.
"Wow...tumben kamu perhatian sama aku... ya aku sudah makan tadi dirumah orang tua ku," jawab Yuan sambil senyum.
"Kok tadi bisa belepotan oli sih?"tanya Hilda lagi.
"Aku pakai mobil Putu, dan ternyata tadi agak bermasalah. Tapi sekarang sudah benar lagi," sahut Yuan sambil memutar-mutarkan lehernya, karena merasa sakit di bagian leher dan bahunya.
"Pak YCS, maaf sebenarnya saya tak pernah memijat pria, tapi maaf kelihatannya bapak kesakitan bahu dan lehernya. Apakah boleh saya urut sedikit saja,"kata Hilda merasa kasihan melihat Yuan kesakitan.
"Dengan senang hati aku mau, ayo tak apa pijat saja,"ujar Yuan mempersilakan Hilda memijat dirinya.
Hilda mengambil lotion dari dalam tasnya, lalu dia meminta Yuan membuka kancing atas kemejanya. Sambil memohon maaf dia mulai memijat pundak Yuan.
"Aduh enak sekali, aku ikhlas dipijat kamu setiap hari, bahkan seluruh tubuhku juga aku rela".
Hilda sebal mendengarnya dan dia menekan pundak Yuan cukup kencang sampai Yuan menjerit kesakitan.
"Oke ampun, aku tidak akan bicara begitu lagi".
"Ini ada urat yang bergeser, mungkin tadi mengangkat sesuatu atau melakukan sesuatu yang kasar?" tanya Hilda sambil mengurut urat yang bergeser tadi.
"Mungkin tadi mendorong mobil sambil satu tangan mengarahkan kemudi".
Hilda paham kalau itu penyebabnya, dan dia kembali memijat seluruh pundak dan lehernya Yuan.
"Ehem...Ehem....sedang apa kalian?"Pak Gatot tiba-tiba masuk ke ruangan makan dimana saat ini ada Hilda yang sedang memijat Yuan.
Hilda segera menarik kedua tangannya daei bahu Yuan, lalu berkata," Maaf Papah, barusan Yuan kesakitan rupanya salah urat karena tadi habis mendorong mobil ".
Pak Gatot menghampiri Yuan, dan Hilda menunjukkan bagian badan Yuan yang kesakitan.
"Ya sudah lanjutkan saja, tapi hati-hati saat memijat leher yah, jangan tergesa-gesa,"kata pak Gatot sambil berlalu.
Hilda melanjutkan memijat Yuan sampai rasa sakitnya mereda dan terasa lebih enteng.
Lalu Yuan berbisik kepada Hilda,"Sepertinya Papah dan Mamahmu setuju kalau kamu memijatku setiap malam, yuk...kita jadikan saja biar cepat aku dipijat kamu tiap malam".
Mendengar itu Hilda terlihat kesal lalu mencubit lengan atas Yuan, tapi yang dicubit malah jadi gemas dan memegang tangan Hilda.
"Kamu habis memijat lalu mencubit, kode yah sekarang sudah mau sama aku".
Hilda menyipitkan matanya sambil cemberut lalu melepaskan tangan Yuan dan segera beranjak ke ruang tamu.
Dalam hati Yuan senang sekali, kalau saja saat ini Hilda sudah menjadi istrinya pasti sudah habis dia terkam.
Mereka berpamitan kepada orang tuanya Hilda, dan Herman kakaknya Hilda mendekati Yuan sambil berbisik ," Titip adik gue yah, jangan sampai macam-macam sama dia".
Yuan menyalami kakaknya Hilda sambil memberi tanda hormat ala tentara.
Mungkin semua lelaki yang punya saudara perempuan pasti akan merasa khawatir kalau adiknya disakiti oleh seorang lelaki yang sedang mendekatinya.
Sepanjang jalan menuju tempat kost Hilda, mereka lebih banyak diam di jalan.
Yuan tidak bisa memaksa Hilda yang terlihat belum nyaman dengan dirinya, sementara Hilda juga merasa malu kepada Yuan.
Entah apa penyebabnya yang pasti dia selalu merasa malu dan tidak enak hati kalau berada disebelah Yuan.
Tempat kost Hilda terletak di satu gang yang tidak bisa dimasuki mobil, paling banter motor yang bisa masuk kesana.
Yuan turun mengantarnya, dan dia bertanya Hilda dikamar nomor berapa, setelah Hilda memberitahu lalu Yuan pamit pulang.
"Putu parah kamu, mobil tidak ada bahan bakarnya, sampai mogok tadi mobilmu,"Yuan mengomel saat masuk ke apartemennya dan melihat ketiga sahabatnya sudah kumpul.
"Dari mana saja bro, kata Putu sejak kemarin kamu sibuk terus sendirian?" kata Rico melihat sahabatnya dengan aneh.
"Gue curiga elu punya cewek, ayo ngaku bro," sela Dani sambil menatap wajah Yuan penuh curiga.
"Hmmm kalian sok tahu semua, sebentar aku mandi dulu, Putu pesan pizza, sebentar lagi moto GP akan dimulai," ujar Yuan sambil berjalan masuk ke kamar mandi.
Ketiga sahabatnya juga merasa curiga kalau Yuan sekarang punya kekasih yang benar dia cintai tapi masih rahasia.
Putu sebenarnya sudah menduga, tapi belum berani membuka rahasia sahabatnya.
Yuan ngomel-ngomel karena mobilnya sangat minim sekali bahan bakarnya, rupanya Putu orang yang malas mengantri di SPBU.
Sehingga dia menelepon Hilda membatalkan rencananya untuk menjemputnya pagi ini. Dan tentu saja Hilda tidak masalah, malah merasa senang setidaknya dia merasa aman pergi ke kantor.
Hilda tiba di kantornya dan dia pagi itu menyalakan komputer sambil mendengarkan lagu dari ponselnya.
Jefri pimpinannya tiba-tiba masuk,tapi Hilda biasa saja karena setiap hari juga demikian.
"Pagi Hilda, wooow....yang sedang hati nya sedang berbunga-bunga sih beda deh," sapa Jefri sambil menggoda Hilda.
"Pagi juga boss, apa maksudnya hati sedang berbunga-bunga ?"tanya Hilda tak paham.
"Hahaha...memangnya aku tak tahu kamu kemarin ada yang ngapelin....Hahaha,"Jefri tertawa melihat Hilda yang begitu terkejut.
"Bukan apel boss, cuma berkunjung saja ke rumah saya," Hilda mencoba membela diri.
"Kok boss bisa tahu sih?".
"Tahu dong, dinding bertelinga".
Hilda tak mau ambil pusing, yang pasti dia sudah bertekad akan terus berusaha menghindar dari Yuan.
Baginya Yuan cuma sekedar mimpi di siang bolong, dia akan mencoba menjaga hatinya agar tidak jatuh cinta kepada orang yang salah.
Selalu dalam pikirannya kalau lelaki segagah dan setampan Yuan yang juga kaya raya, tak akan mungkin memilih wanita seumuran dia yang jauh dari kata menarik.
Siang harinya Hilda sedang berpikir untuk makan siang apa, dia mencoba melihat dari aplikasi delivery food online.
Tapi dia belum menemukan makanan yang membuat dirinya berselera, semua hanya berkisar ayam pedas saja.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kantor, lalu Hilda segera membukanya.
"Selamat siang, apakah ibu Hilda ada?"tanya seorang pria dan temannya yang terlihat membawa perlengkapan makan.
"Ya saya Hilda, ada yang bisa saya bantu?" sahut Hilda dengan merasa aneh.
"Permisi bu, saya diminta untuk menyiapkan makan siang untuk ibu,"jawab orang itu, lalu keduanya menerobos masuk kedalam kantornya.
Di dalam ruangan itu memang ada sebuah meja kosong jarang dipergunakan, lalu kedua orang tadi membuka box makanan yang mereka bawa dan menyusun makanan di atas meja.
Masakan Thailand, ada sup tom yam dan beberapa olahan ikan juga ayam, semua terlihat sangat segar sekali.
Kemudian kedua orang tadi ijin pamit setelah menata makanan, tinggal Hilda yang merasa kebingungan.
Jefri yang mengintip dari dalam ruangannya terlihat memahami apa yang akan terjadi.
Benar saja tak lama pintu diketuk tapi sambil dibuka, dan muncul sosok YCS dari balik pintu.
"Halo Jefri, sorry yah aku menggangu kantor mu, aku ijin mau makan siang di sini, apakah mau ikut bergabung?"Yuan tiba-tiba datang meminta ijin makan siang di sana.
Hilda tentu saja semakin bengong, karena tidak ada pemberitahuan apapun dari Yuan sebelumnya.
"Aku mau pulang sebentar ke rumah, istriku sudah memasak masakan enak. Silahkan kalian makan berdua, hanya aku titip jangan sampai kamu membuat Hilda lecet yah,"kata Jefri sambil menaikan alisnya lalu menepuk bahu Yuan.
Dan Jefri segera keluar kantor, alasannya mau pulang dulu ke rumahnya.
Melihat Jefri keluar kantor, tentu Hilda semakin bingung saja, karena tentunya dia sekarang berdua saja dengan YCS.
"Pak, saya tidak memesan semua ini, lalu apa maksud semua ini ?" tanya Hilda kepada Yuan yang terlihat santai saja melihat Hilda panik.
"Sini tarik kursimu, kita makan berdua disini bersamaku,"ajak Yuan kepada Hilda, lalu dia menurut apa yang dikatakan oleh Yuan.
"Ini masakan Thailand, kamu pasti belum pernah mencobanya yah," kata Yuan kepada Hilda.
Tentu Hilda mengangguk karena memang dia belum pernah makan yang seperti itu.
Lalu Hilda mengikuti Yuan cara mengambil makanan itu, dan dia menikmati semua makanannya.
"Ini coba cuminya, enak sekali," kata Yuan sambil menyodorkan sendok berisi cumi lalu dia menyuapi Hilda.
Otomatis wajah Hilda semburat merah, karena dia belum pernah disuapi oleh lelaki lain selain ayahnya.
"Kamu senang tidak aku traktir seperti ini?"tanya Yuan kepada Hilda.
Hilda diam lalu menatap Yuan sambil berkata," Pak YCS, saya tidak tahu dengan cara apa harus berterima kasih kepada bapak, dari minggu lalu saya dimanjakan makan siang oleh pak Putu".
"Lalu saya diantar oleh bapak, juga kemarin dijemput, dan sekarang saya dibelikan makanan begini. Saya malah takut menjadi lancang, saya nanti merasa terlalu dimanjakan oleh bapak," ujar Hilda dengan merasa malu-malu.
"Cara berterima kasihnya mudah saja, tinggal kamu menjawab dengan jujur saja kok," kata Yuan kepada Hilda sambil menatap ke dalam matanya dan terasa menembus jantung.
"Menjawab apa pak?"tanya Hilda sambil masih tak paham.
"Jujur kamu suka tidak kalau bersamaku?" tanya Yuan dengan tegas.
"Tentu saya suka, tapi....,"Hilda belum selesai berkata segera dipotong lagi oleh Yuan.
"Cukup..itu jawaban yang mau aku dengar," kata Yuan sambil terus menatap Hilda dan mendekatinya.
Sekarang Yuan berada tepat di hadapan Hilda, dan tentu membuat jantung Hilda seakan copot karena dia tak tahu harus berbuat apa.
Yuan memegang kedua lengan atas Hilda, lalu dia menurunkan kepalanya dan mengecup bibir Hilda.
Hilda menutup matanya, seluruh tubuhnya gemetar, dia tidak berani membalas ciuman itu. Dan Yuan juga hanya mengecupnya saja lalu dia melepaskan lagi pegangan tangan di lengan Hilda, karena dia tahu saat ini gadis itu sangat ketakutan.
"Sampai nanti malam yah sayang," kata Yuan lalu dia segera berbalik, lalu keluar kantor meninggalkan Hilda yang masih gemetaran.
Sambil berjalan menuju kantornya, Yuan begitu bahagia, dia sekali ini merasa tidak akan salah pilih. Hilda memang berbeda dari semua wanita yang pernah dia kenal.
Hilda memakai helmnya, lalu dia menyalakan motor matic nya, yah selama ini dia pulang dan pergi dari tempat kost ke kantornya menggunakan kendaraan ini.
Yuan melihat Hilda meninggalkan kantor pada saat dia sedang di lobby gedung bersama dengan seorang pengusaha asing.
Rupanya mereka baru saja selesai mengurus kontrak kerja pengiriman batu bara ke sebuah perusahaan terkemuka di Singapura.
"Mbak Hilda, maaf sih mbak, mau minta tolong nih biasa kaki saya sakit,"kata teman sebelah kamar Hilda di tempat kostnya.
"Ayo kemari, aku pijat kesini," Hilda meminta agar gadis itu masuk saja ke dalam kamarnya.
"Hmmm, ini kelamaan memakai high heels, pasti akan terasa pegal di sekitar betis sini," kata Hilda sambil memijat kaki gadis itu.
"Enak banget tangan Mbak Hilda itu, jangan pindah kost yah Mbak, nanti aku minta tolong siapa kalau pegal," kata gadis itu dengan manja kepada Hilda.
Keduanya tak sadar kalau ada seorang pria di depan kamar Hilda yang pintunya terbuka lebar.
"Ehem....Ehem...,"pria itu berdeham.
Hilda dan gadis yang sedang dipijatnya terkejut, lalu gadis itu sontak berkata," Mbak ada cowok ganteng di depan".
"Pak...maaf tunggu sebentar, "kata Hilda segera menutup pintu kamarnya dan bertukar pakaian.
Gadis yang tadi dipijat Hilda malah sedang menggoda Yuan di depan kamarnya.
"Mas ganteng sini dong, ngapain sama yang tua mending sama kita yang muda," kata gadis barusan.
Lalu Yuan memandang ke sekeliling tempat kost itu, memang itu tempat kost khusus wanita. Namun hampir semua kamar terlihat bebas sekali, banyak wanita- wanita di sana memasukan teman prianya ke dalam kamar.
Hilda keluar kamar menemui Yuan yang sedang berdiri di depan kamarnya.
"Aku boleh masuk kamarmu?"tanya Yuan kepada Hilda.
"Oh jangan pak, maaf saya tidak menerima tamu laki-laki," jawab Hilda kepada Yuan.
"Lalu kamar lain kok bisa memasukkan lelaki ke dalam kamarnya?"tanya Yuan lagi.
"Maaf pak, tapi itu bukan urusan saya, hanya saya punya prinsip sendiri kalau saya tidak menerima tamu lelaki," sahut Hilda berusaha menjelaskan kepada Yuan.
"Ya sudah kita jalan yuk, cepat tukar pakaian dan pakai jaket," kata Yuan tanpa basa basi.
Hilda segera masuk kamar berganti pakaian dan memakai jaket.
Di depan halaman kost rupanya Yuan memakai motor, lalu segera meminta Hilda naik ke jok belakang.
"Pak kursi belakangnya lebih tinggi dari pada bagian depan, bagaimana caranya saya duduk," Hilda memang belum pernah tahu cara dibonceng di belakang dengan kondisi jok belakang lebih tinggi.
"Kamu naik, lalu peluk pinggangku, cepat nanti keburu malam," ajak Yuan yang lalu diikuti Hilda.
Sebelum memeluk Yuan, dia memindahkan tas ranselnya kebagian depan sehingga menutupi antara dadanya dengan punggung Yuan.
Malam itu mereka berjalan-jalan ke Kota Tua, salah satu tempat yang cukup enak untuk yang sedang pacaran.
Yuan memarkirkan motornya di tempat khusus parkiran motor. Lalu dia berjalan sambil menggenggam tangan Hilda, dan dia mengajak gadis itu duduk dibangku taman menikmati malam sambil mencicipi kerak telor.
"Kamu sudah lama di tempat kost sana?" tanya Yuan kepada Hilda.
"Ya lumayan lama, sekitar tujuh tahunan, karena jarang ada yang murah dan pakai ac pula dan kamar mandi di dalam. Cuma disana aku menemukan, tapi yah itu kebanyakan disana yang menyewa adalah wanita pekerja malam atau yang bekerja di karaoke".
"Yang bekerja di kantoran paling hanya bisa dihitung jari saja kok," Hilda menjelaskan kepada Yuan.
"Mengapa kamu bisa betah di tempat itu sih?" tanya Yuan lagi terlihat sangat tidak suka.
"Tadi itu alasannya, karena murah terjangkau oleh kantungku," Hilda kembali menjelaskan.
"Hilda aku tak suka kamu ditempat itu, besok aku carikan kamu tempat yang lebih baik,"kata Yuan menunjukkan ketidaksukaan dengan tempat kost tadi.
Hilda tak bisa menjawab, karena dia mulai paham kalau Yuan sudah punya keinginan sulit sekali dibantah.
"Putu apakah rumahmu sudah beres?" tanya Yuan keesokan paginya sambil memasuki ruangannya Putu.
"Hampir beres boss, kalau aku menempati sendiri sih bisa, tapi kalau membawa istri belum bisa karena renovasi paling sebulan lagi selesai,"kata Putu menjelaskan kepada Yuan.
"Tapi kalau kamu tinggal sendiri sudah bisa kan?" tanya Yuan lagi butuh penegasan.
"Bisa saja boss, memang mengapa?"tanya Putu bingung.
Yuan tampak berpikir sebentar, lalu dia berkata lagi,"Begini saja, sekarang juga semua barang- barangmu angkut dari apartemenmu. Terserah mau kamu simpan dimana, soal tidurmu bisa di rumahmu atau di apartemenku seperti biasa. Kerjakan sekarang juga".
Putu tak bisa menolak, karena memang apartemen yang dia tempati adalah milik Yuan juga.
Lalu dia segera bergerak mengangkut semua barang-barangnya dan dipindahkan ke rumah yang akan segera dia tinggali.
Tapi rumah tersebut masih perlu direnovasi, sehingga dia belum bisa total menempati.
Tak apalah, dia bisa tidur di sofa yang ada di apartemen yang ditempati Yuan.
Lalu Yuan menelpon rumah ibunya, dia meminjam sopir dan juga dua orang pembantu wanita.
Orang-orang tadi diberikan alamat tempat kost Hilda, dan segera diminta membawa semua barang milik Hilda ke apartemen yang sebelumnya dipakai oleh Putu.
Dengan cermat dia meminta pegawai ibunya itu untuk membersihkan dulu semua ruangan di apartemen tersebut, baru barang-barang Hilda dimasukan dan di tata rapih.
Putu baru saja beres menyuruh orang untuk memindahkan semua barangnya, sudah ada pesan perintah baru lagi.
Dia disuruh membeli lemari es, televisi dan juga kompor gas lengkap untuk di simpan di apartemen yang sebelumnya dia tempati.
Semua orang melaksanakan perintahnya, dan dia memberi target pukul lima sore semua harus sudah beres.
Sore itu Hilda kebingungan lagi, sebab siang tadi sekuriti gedung meminjam kunci motornya dengan alasan dipindahkan, tapi sampai sekarang kunci tidak kembali dan motornya juga tidak ada.
Dia bergegas hendak melaporkan pencurian, tapi tiba-tiba bertemu dengan Yuan yang tanpa ba bi bu memintanya masuk ke dalam mobilnya.
"Cepat masuk ke mobilku!!!"kata Yuan sambil pura-pura memasang wajah sedang marah.
Hilda melihatnya menjadi panik, lalu dia segera masuk ke mobil Yuan. Padahal Hilda sedang kebingungan karena motor yang dia pakai setiap hari hilang.
"Pak YCS, maaf kita mau kemana, saya sedang bingung motor saya hilang," kata Hilda dengan sangat perlahan kepada Yuan.
Lalu Yuan jadi tambah iseng, dia kembali pura-pura memasang wajah seperti orang sedang kesal.
"Apa urusanku dengan motor mu yang hilang, sudah sekarang diam saja ikut aku, sekali lagi kamu bicara aku lempar kamu ke sungai di depan,"kata Yuan sambil menahan tawa, karena dia sekarang melihat mimik wajah Hilda yang ketakutan.
Sepanjang jalan Hilda diam saja, pikirannya galau karena motor hilang, sekarang tanpa tahu punya salah apa tiba-tiba dibentak oleh Yuan. Ingin menangis rasanya, tapi gengsi juga rasanya, masakan harus terlihat lemah di mata pria ini.
Dia hanya bersabar menunggu waktu yang tepat untuk membalas Yuan, karena dia kesal tiba-tiba dimarahi tanpa punya alasan kesalahan apapun.
Mobil terus melaju menuju sebuah gedung apartemen, lalu Hilda disuruh turun.
"Kamu lihat disana, itu motor siapa?" tanya Yuan sambil menunjuk ke arah deretan parkir sepeda motor.
Hilda kaget diantara deretan itu ada motor miliknya di sana.
Lalu Yuan menarik tangan Hilda dan membawa masuk ke lobby apartemen.
Yuan lalu berbicara dengan petugas disana, kemudian petugas tersebut memberikan sebuah kunci kepadanya.
Kembali Hilda ditarik tangannya oleh Yuan masuk kedalam lift menuju lantai 5, karena gedung apartemen itu tidak terlalu tinggi hanya sekitar 10 lantai saja.
Sesampainya di lantai 5 mereka menuju ke kamar no 501 di lantai itu.
"Ini kuncinya dan ini password untuk masuk ke kamar ini dan juga untuk naik dan turun lift," kata Yuan kepada Hilda, tentu saja seperti biasa Hilda terlihat bingung.
Tapi dia mencoba membuka pintu barusan sesuai petunjuk Yuan. Pintu terbuka dan tampaklah sebuah ruangan yang hampir mirip kamar kost, cuma lebih besar sedikit.
Ada dapur kecil di dekat pintu masuk, lalu di sebelahnya ada kamar mandi. Maju sedikit ada tempat tidur ukuran sedang dan sebuah lemari pakaian, di samping tempat tidur ada sofa da juga meja kecil.
Hilda lalu disuruh membuka pintu balkon, dan disana terlihat pemandangan jalan raya.
"Buka lemari pakaiannya, cepat!!" kata Yuan sambil duduk di sofa dengan tampang menyebalkan.
Hilda membukanya dan terkejut, semua pakaiannya dan perlengkapan lainnya ada di sana sudah tersusun rapih.
"Mulai malam ini kamu tinggal disini, jangan kembali lagi ke kost kemarin, aku tak suka kamu tinggal di sana," kata Yuan sambil tetap memasang wajah dingin.
Hilda bukannya senang malah duduk lemas di lantai, lalu dengan wajah memelas dia berkata," Pak YCS, saya harus bayar berapa untuk sewa apartemen ini tiap bulannya, kalau disana saya hanya membayar lima ratus ribu saja tiap bulannya".
" Gaji saya tidak akan cukup untuk membayar sewa apartemen walau yang ukurannya sekecil inipun," lanjut Hilda sambil terlihat memegang kepalanya yang berasa pusing.
"Yang mengatakan kamu harus bayar itu siapa?"tanya Yuan sambil berjalan ke arahnya.
Hilda menjadi semakin tak mengerti, dan jujur saat itu Yuan ingin tertawa mengakak melihat mimik wajah Hilda yang tampak seperti orang bodoh.
"Sudah kamu jangan memikirkan soal pembayaran sewa setiap bulan, itu urusanku. Sekarang kamu lebih baik mandi lalu buatkan aku makanan, karena aku lapar," Yuan berkata sambil duduk di atas tempat tidur dan memandang Hilda yang duduk dibawahnya seperti orang bodoh.
Hilda bangkit sambil agak menggerutu dalam hatinya lalu melihat ke dapur, dan ternyata dibalik pintu ada lemari es.
Pantasan tadi saat masuk tidak terlihat olehnya, lalu dia membukanya dan terlihat penuh daging, sayuran dan buah-buahan.
Karena dia mulai paham kalau Yuan tidak terlalu banyak makan nasi, maka dia berniat membuat mie goreng saja. Dan Yuan juga setuju saja ketika ditanyakan, lalu dia membuka pintu balkon dan juga menyalakan exhouse fan agar asap tidak berkutat di dalam ruangan.
Sekitar lima belas menit kemudian masakan buatannya sudah matang dan bau nya sangat menggoda selera.
Di atas kompor ternyata ada lemari dan disana lengkap ada alat untuk membuat juice, maka ambil waktu lama Hilda juga membuat juice apel untuk dua orang.
"Pak YCS, maafkan saya, kalau bisa mulai belajar berdoa sebelum dan sesudah makan. Tidak perlu panjang hanya ucapan syukur atas rejeki yang Tuhan berikan kepada kita," kata Hilda sambil menatap Yuan tapi dia berjaga-jaga takut Yuan marah.
"Maafkan aku, terima kasih kamu sudah mengingatkan, hal itu sering aku lupakan," kata Yuan dengan senyum kepada Hilda.
Lalu Yuan menyempatkan menunduk berdoa dalam hatinya.
Hilda menghela nafas lega mendengar ucapan Yuan dan dia senang sekali melihat Yuan mengikuti apa yang dia minta.
Lalu Yuan pamit setelah selesai makan, sambil berlalu di depan pintu dia berkata," Ingat yah, siapapun tidak boleh masuk ke ruangan ini kecuali kamu dan aku. Kalau ada keluarga datang, ijin dulu kepadaku. Dan satu yang paling penting, tidak boleh sama sekali ada lelaki lain masuk sini selain aku".
Hilda diam saja, dia akan menuruti apa kata Yuan, dan jelas soal lelaki tak mungkin pernah ada yang masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Yuan pulang, Hilda dengan gembira melompat bahagia.
Dia tak pernah menyangka bisa tinggal disebuah apartemen, jangankan menempati, hanya sekedar ingin tahu saja biaya sewa per bulannya juga dia tak berani. Karena pasti harga sewa selangit yang bisa membuat kantungnya jebol.
Keesokan paginya dia berangkat ke kantor dengan menggunakan motornya, hanya sekarang berbeda keluarnya. Kemarin ini dari tempat kost yang berada di gang kecil, sekarang dari halaman sebuah apartemen.
Dia tidak menceritakan kepada siapapun, bahkan kepada atasannya sekalipun. Tidak ingin banyak orang tahu, dia takut akan ada orang yang menilainya buruk.
Hilda juga tidak bercerita kepada keluarga kalau sekarang dia diberikan fasilitas apartemen oleh Yuan.
Suatu hari Yuan melihat kedalam lemari pakaian Hilda, waktu itu Hilda sedang mandi sehabis memasak. Dia memandang semua pakaiannya begitu sederhana dan sangat tidak modis.
Kemudian dia datang ke rumah adiknya, sesekali dia juga suka berkunjung kesana.
"Yona, aku ingin curhat nih, tapi kamu jangan sampaikan dulu kepada Papih atau Mamih. Tahu sendiri kalau mereka mendengar pasti akan ribut tentang hal ini," kata Yuan kepada adiknya.
"Aku tahu kok bang, pasti soal cewek yah..
hahahaha...Aku sudah lama menduga kalau abang Yu sudah punya kekasih tapi selalu diam-diam saja," kata Yohana langsung menebak apa yang akan dikatakan kakaknya.
Yuan membenarkan dan dia mulai bercerita dari awal pertemuan dengan seorang wanita bernama Hilda.
Walau Hilda sudah tiga puluh tahun lebih usianya tapi dia orang yang polos dan lugu, juga mudah panik dan terbawa perasaan.
Yohana tertawa mendengarkan apa yang disampaikan oleh kakaknya, dan dia jadi ingin bertemu dengan Hilda.
"Justru itu aku mau minta tolong kamu, temani dia berbelanja pakaian, kasihan sekali dia seperti menutup diri jadi cara berpakaianpun tidak mengikuti gaya kekinian," kata Yuan kepada sang adik.
"Mungkin setiap orang kan punya selera berpakaian sendiri bang, masa nanti aku jadi ikut mengatur dia. Nanti malah jadi tidak enak hati loh," kata Yohana mencoba memberi masukan kepada kakaknya.
"Bukan begitu Yona, maksudku biar memilih sesuai seleranya tapi setidaknya modelnya lebih kekinian agak lebih girly. Tidak perlu berlebihan juga, dan satu lagi ajari juga dia sedikit merias wajah seperti kamu. Biar dia terlihat lebih segar," kata Yuan meneruskan keinginannya.
"Bang sumpah deh...sepertinya abang cinta banget sama wanita ini, beda banget loh. Dan aku lihat abang juga sekarang lebih banyak sabar, sering berdoa dan ada beberpa hal yang aku lihat berubah. Ayo kapan aku harus menemaninya, bagaimana kalau hari sabtu ini. Setidaknya Peter juga libur, jadi ada yang menjaga Mona".
" Ayo nanti hari sabtu aku jemput kamu yah, nanti seharian kamu bersama dia,"sahut Yuan menyetujui usul adiknya.
"O..iya bang ada satu lagi, aku dan Mona juga minta jatah pakaian yah..hahahaha".
"Dasar kamu tuh yah...Oke tentu saja boleh".
Akhirnya hari sabtu menjelang siang Yuan dan Yona sedang menunggu Hilda di suatu mall.
Yuan sengaja meminta Hilda kemari dengan menggunakan taksi online.
Hilda tiba didepan mall dan dia turun dari taksi lalu mencari tempat yang disebutkan oleh Yuan.
Yuan dan Yona duduk di suatu cafe kecil di dekat pintu masuk mall tersebut. Mereka duduk berdua berdekatan, dan Yuan tampak merangkul bahu Yona.
Hilda menengok ke kanan dan kiri, sampai akhirnya matanya tertuju kepada Yuan dan Yona.
Dia merasa sangat terkejut melihat Yuan terlihat begitu mesra dengan seorang wanita.
Tiba-tiba hati ini terasa sakit menyelekit bagai di iris oleh sembilu.
Tapi dia tidak bisa berkata apa-apa, toh dia bukan siapa-siapanya Yuan.
Jadi walau terasa panas dan perih di dada, dia tetap mencoba melangkah mendekat walau kaki terasa sangat berat untuk diajak melangkah.
"Selamat siang pak Yuan, tadi bapak meminta saya kemari," kata Hilda berusaha menutupi bibirnya yang bergetar.
"Hmmm...Selamat siang, ayo Hilda silahkan duduk," kata Yuan sambil meminta Hilda duduk di depan mereka berdua.
Sebenarnya ingin sekali menangis, tapi Hilda terus berusaha keras menahan agar jangan sampai air mata tertumpah.
Seorang wanita muda yang cantik, dan dari tadi terlihat senyum-senyum terus seperti menahan tawa.
Hilda menebak sudah pasti dari tadi wanita itu mentertawakan dirinya yang buruk rupa.
Padahal dari tadi Yona ingin tertawa karena kakaknya begitu jahat mengerjai kekasihnya sendiri.
"Hilda....Dia cantik tidak?"tanya Yuan kepada Hilda sambil tetap merangkul Yohana.
Sambil berusaha menahan sedih, Hilda berkata ," Ya tentu saja cantik pak".
"Kalau aku cium pipinya boleh kan?"tanya Yuan lagi dengan menahan tawa melihat raut wajah Hilda.
"Hmmm...silahkan saja, itu hak bapak,"jawab Hilda sambil berusaha menahan air yang mulai menggenang.
CUP... Yuan mengecup pipi adiknya.
Hilda diam sambil senyum dipaksakan, melihat hal itu Yohana segera bangkit dan memeluk Hilda.
"Hahahah...mbak Hilda...Aku Yohana adiknya bang Yuan...hahahah...jahat kamu bang, usil selalu mengerjai orang saja...hahahah," Kata Yohana sambil memeluk Hilda yang tentunya sekarang sedang menangis di pelukannya.
"Hahahah...mbak Hilda....maaf yah mbak, aku Yohana tapi panggil saja Yona, aku adik bungsunya dia...hahahah...jahat memang dia suka jahil sama orang," kata Yohana lagi sambil terus memeluk Hilda yang masih menangis.
Lalu Hilda menegakkan wajahnya sambil masih berurai air mata sambil tersenyum malu.
"Mbak Hilda...maafkan aku yah...," Yohana masih merangkul pundak Hilda dan sekarang dia tersenyum kepada Yohana.
"Maafkan mbak juga yah, aku suka merasa terharu kalau melihat keakraban kakak adik," kata Hilda mencoba menutupi perasaannya.
"Aaahhh...bohong...hahahaha...cemburu kan sama aku...hahahaha....duh Mbak Hilda ku sayang, kamu lucu sekali mbak," kata Yohana kembali memeluk Hilda dengan akrabnya.
Hilda juga merasa aneh melihat Yohana bisa langsung merasa akrab dengan dirinya.
"Kamu lihat sendiri kan Yona, dia selalu merasa gengsi sama aku, padahal dia cinta sama aku, kalau tidak cinta ngapain nangis, " ujar Yuan kepada adiknya sambil wajahnya menunjuk ke arah Hilda.
" Ya salah abang juga sih, kenapa tidak segera melamar yah mbak....kalau cinta harusnya segera melamar lalu menikah, benar tidak mbak....," Yohana membela Hilda di depan kakaknya.
"Aku tidak akan melamarnya sampai aku mendengar dari bibirnya kalau dia mencintai aku, selama belum terucap aku tidak akan melamarnya," kata Yuan dengan sok tegas.
"Weewww...enak saja yah mbak...Sudah jangan didengar, nanti Mamih dan Papih yang akan melamar mbak Hilda," kata Yohana lagi sambil kembali memeluk Hilda.
Sementara Hilda hanya senyum saja, karena jujur dia belum berani berkata kalau dia juga cinta kepada Yuan. Bukan gengsi tapi takut, entah apa yang harus ditakutkan tapi rasa itu selalu menghantui.
Yohana kemudian mengajak Hilda membeli pakaian dengan masih seleranya, yaitu sporty tapi lebih sedikit girly dan kekinian.
Sambil memilih pakaian Yohana iseng bertanya," Mbak Hilda, memang tidak suka sama abangku?".
Hilda dengan wajah memerah menjawab," Suka sih, abangmu orang yang baik walau sulit ditebak maunya apa".
"Hahaha... abang maunya mbak mengaku kalau suka sama dia," seru Yohana sambil tertawa menggoda.
"Sebenarnya bukan aku gengsi tidak mau mengakui kalau aku suka kepadanya, hanya aku malu. Masa pria setampan abangmu mau memilih aku menjadi pasangannya," kata Hilda dengan wajah penuh keraguan.
"Tapi abangku tampan kan..hahahaha, Mbak dia itu orangnya susah suka sama wanita. Namun kalau sudah cinta dia setia loh, mantan kekasihnya dulu yang pergi meninggalkan dia".
"Bukan abang Yuan yang mengkhianati, tapi kekasihnya yang main belakang dengan pria lain," Yohana menceritakan kisah sang kakak.
Hilda terkejut mendengar kisah asmara Yuan jaman dahulu yang berakhir tragis.
"Sejak itu abang Yuan susah dekat lagi dengan wanita, baru sekarang ini dia bisa dekat lagi dengan mbak Hilda loh," Yohana memberitahu kalau Hilda wanita yang bisa membuat kakaknya jatuh cinta lagi.
Hilda terdiam, dia sebenarnya merasa bahagia mendengar penuturan Yohana. Tapi entah dia masih punya rasa minder.
"Tapi aku hanya wanita miskin biasa Yona, tidak seperti keluarga kalian yang berada. Rasanya aku tidak pantas menjadi kekasih Yuan, aku juga lebih tua usianya dari abangmu," kata Hilda terlihat wajahnya sendu .
"Idih mbak Hilda, jangan berkata begitu. Cinta tidak pandang usia, tidak pandang harta. Dan bukan salah Yuan dia lahir dari keluarga berada, juga bukan salah mbak Hilda berada diposisi sekarang dengan usia yang terpaut lebih tua".
"Mamih ku juga lebih tua dua tahun dari Papihku, tapi mereka sangat harmonis dan selalu mesra sampai sekarang. Jangankan itu ada presiden di negara lain juga yang istrinya bahkan mantan guru sekolahnya".
"Jangan berpikiran begitu yah mbak, walau bagaimana juga mbak harus yakin kalau Tuhan selalu punya rencana dalam hidup kita," Yohana malah menasehati Hilda dengan panjang lebar agar tersadar bahwa selama ini Hilda salah berpikir.
"Iya aku akan mencoba membalas perasaan abangmu, walau aku malu setengah mati... hahahaha...lucu yah aku malah mencurahkan isi hati kepada adiknya," ujar Hilda sambil berkaca-kaca.
"Mbak Hilda percaya sama aku, jangan sebut dia pak lagi, ayo mulai panggil abangku dengan sebutan apa yang mbak rasa itu enak didengar. Coba buat kedekatan dengan dia, bukankah abang hampir tiap hari bersama mbak," kata Yohana sambil mengacungkan telunjuk ke arah Hilda.
"Kok tahu, aku jadi malu...Hahaha...iya abang meminta aku tinggal di apartemen dekat kantor dan dia tiap sore pasti makan atau nonton televisi. Bahkan kalau ada perlu lagi ketemu klien pasti ikut mandi ditempatku".
"Ya sudah tinggal nanti aku bilang Mamih dan Papih, mau apalagi kalian itu. Sudah pada tua masih saja sok imut....hahahaha".
Pantas Hilda dan Yohana tertawa berdua menertawakan kebodohan Hilda selama ini.
Menjelang siang mereka selesai berbelanja, banyak sekali yang Yona belikan. Pakaian, tas, sepatu, kosmetik dan keperluan wanita lainya.
Yohana dijemput oleh suami dan anaknya, mereka juga berkenalan dengan Hilda. Disitu Hilda merasa kaget, karena Peter terlihat sudah sangat berumur dibandingkan Yohana.
"Dia dulu dosenku mbak...hahahah...lulus kuliah aku langsung menikah dengannya. Usia kami terpaut 12 tahun, dia sekarang guru besar di kampus kami dulu,"bisik Yohana kepada Hilda sambil cekikikan.
Hilda mulai sedikit demi sedikit yakin kalau jodoh memang tak bisa diprediksi, berbeda usia dan berbeda dalam segalanya sudah diatur oleh sang Pencipta.
Karena Hilda sudah mulai membuka diri dan hatinya, maka Yuan berencana akan segera mengenalkan dia kepada orang tuanya.
Sejak hari itu Yuan dan Hilda bertambah mesra, bahkan mereka sudah berani berduaan dimuka umum. Bahkan Hilda sekarang sudah berani menunjukkan kalau dia adalah kekasih Yuan di gedung kantor sekalipun.
Adalah seorang wanita bernama Gabriela, biasa dia dipanggil Gabby, dia ini sangat berambisi untuk bisa menjadi istrinya Yuan.
Bahkan seperti diceritakan di awal, Yuan tidak suka dengan wanita yang seakan merendahkan diri demi bisa merebut hati Yuan.
Wanita itu adalah Gabby, bahkan dia pernah sampai melucuti semua pakaiannya dihadapan Yuan dengan harapan Yuan akan tergoda dengan dirinya.
Namun untung saja Yuan bukan tipe lelaki seperti itu, saat itu bahkan dia segera meninggalkan Gabby yang berharap lebih kepadanya dalam keadaan tanpa busana sendirian.
"Kurang ajar....mengapa Yuan lebih memilih wanita bodoh itu. Sudahlah tua dan juga miskin, dia cuma pegawai rendahan. Beda jauh dengan aku yang seorang manager. Awas kamu Hilda...rasakan saja, aku akan membuatmu hancur," kata Gabby saat tahu hubungan Yuan dengan Hilda.
Kantor Gabby berada di lantai 18, dia adalah seorang manager di perusahaan property, dan kariernya sangat gemilang. Tapi dia ingin bisa menikah dengan Yuan, agar dia bisa menjadi lebih kaya raya dan hidup bergelimang harta.
Saat itu Hilda sedang mengantri makanan di kantin gedung yang berada di lantai dua gedung tempat kerjanya. Area itu merupakan area khusus untuk pedagang makanan yang sudah bekerjasama dengan pihak pengelola gedung.
Yuan hari itu sedang rapat dengan klien di suatu kantor lain tapi masih didaerah Jakarta. Dia sedang bernegosiasi untuk kerjasama membuka pertambangan nikel di Indonesia Timur.
Biasanya Hilda selalu makan siang bersama Yuan setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Namun hari ini dia makan sendirian saja.
Hilda memang tidak punya teman kantor, setiap hari hanya bertemu pak Jefri atau kadang Beno, tapi orang yang bernama Beno jarang ke kantor. Dia lebih banyak bertugas di pelabuhan, entah mengirim barang atau menanti barang pesanan dari luar negeri.
Nasi soto ayam dibubuhi sambal bawang, membuat harum masakan itu sangat menggugah selera. Hilda sedang mengaduk soto ayamnya dan bersiap untuk makan.
Baru saja dia akan menyuap makanannya kedalam mulut, tiba- tiba ada seorang wanita datang dan menggebrak mejanya.
"HEI!!!!...DASAR PELAKOR....PEREMPUAN MACAM APA KAMU HAH... MEREBUT KEKASIH ORANG DAN SEKARANG MENJADI PEREMPUAN SIMPANAN....TAK TAHU MALU!!..." Gabby berteriak-teriak dihadapan umum memarahi Hilda seperti itu.
Hilda kaget dan dia terperangah karena tiba- tiba ada yang melabraknya seperti itu, dan dia tak tahu harus bagaimana karena selama ini dia yakin kalau Yuan belum punya kekasih.
Berarti benar dia dibohongi oleh Yuan, dan sekarang dia kecewa sekali.
"Mbak, maaf lebih baik bicara baik- baik di tempat lain. Jangan memarahi saya seperti ini yah," Hilda mencoba mengajak Gabby bicara baik-baik.
"APA !!!! DASAR TAK TAHU MALU, WANITA SIMPANAN....TUKANG MENGURAS HARTA LELAKI...TINGGAL DI APARTEMEN MEWAH MEMBUANG- BUANG UANG KEKASIHKU".
Melihat ada keributan tak sedikit orang merekam mereka dan mengunggah ke media sosial.
Video beredar dengan judul "Kekasih Yuan Subrata melabrak pelakor, wanita simpanan Yuan Subrata".
Hilda tak merasa seperti itu, tapi kalau harus berteriak memaki orang seperti yang telah dilakukan wanita tadi kepadanya jelas dia tak bisa begitu.
Berita seperti begitu langsung viral ke semua media massa dan media sosial. Nama Yuan Subrata menjadi terkait viral karena ternyata memilki wanita simpanan.
"Pak Yuan, maaf sepertinya kita tidak bisa lanjut perjanjian kontrak ini. Kami tidak bisa bekerjasama dengan orang yang suka main wanita ," kata Direktur perusahaan nikel kepada Yuan.
Tentu saja Yuan kaget karena dia datang ke kantor perusahan nikel itu untuk menanda tangani kontrak kerja dengan mereka.
"Maaf pak Direktur, saya tidak paham apa maksudnya. Bukankah kita sudah sepakat untuk bekerja sama dalam pembukaan tambang di Indonesia Timur?"tanya Yuan sambil merasa aneh dan tak percaya.
"Maaf pak Yuan, kalau lelaki sudah tidak setia kepada pasangan, maka nanti akan main uang. Kami tidak mau nanti ke depan ada masalah keuangan diantara kita seperti korupsi atau sejenisnya. Jadi mohon maaf kontrak kita batalkan".
Yuan berjalan lemas keluar kantor tadi, dia tak habis pikir mengapa kontrak yang sudah dibicarakan begitu detail tiba-tiba harus batal.
Dia mencoba menelepon Putu tapi nada sambungnya sibuk terus, Yuan kesal sekali sampai dia memukul-mukul setir kemudi mobilnya.
"Putu ayo antarkan kami kepada wanita itu, aku tidak sudi anakku diperalat oleh wanita murahan," kata Ibu Indah kepada Putu melalui telepon genggamnya.
"Hilda, kamu harus keluar dari apartemen itu. Maaf aku tak tahu kalau Yuan sebusuk itu kelakuannya. Aku tak mau staf ku dihina seperti itu," kata Jefri sambil menahan emosi.
"Boss, coba lihat media sosialmu, pasti ada jawaban mengapa kontrak kerjasama kita ditolak," ujar Putu ketika sudah dihubungi oleh Yuan.
Yuan naik lift menuju lantai 18 di gedung tempatnya bekerja, dia melihat ada sekelompok wanita yang sedang tertawa-tawa.
Untung mereka tak tahu kedatangan Yuan, dan bak seorang detektif saja, Yuan segera berjongkok didekat sebuah pot bunga besar dan merekam pembicaraan wanita-wanita itu.
"Hahahah.....Aku menang....hahaha...Yuan telah menolak aku, maka tidak akan ada satu wanita lain juga yang bisa memiliki dia," Gabby tengah berkoar-koar didepan teman satu kantornya.
"Sebentar lagi Yuan akan mengemis kepadaku, meminta aku meralat ucapanku kepada kekasihnya. Sorry yah...tidak akan aku cabut ucapanku. Dia harus menikahi aku, hartanya harus bisa aku kuasai".
Teman kantornya bertepuk tangan menyoraki Gabby yang tengah berkoar berapi-api.
Setelah dirasa cukup apa yang dia dengar dan dia rekam, lalu Yuan berdiam sebentar sambil berpikir.
Lalu setelah ketemu ide yang jitu, dia balik ke depan lift seakan-akan dia baru tiba.
Gabby melihat Yuan datang, dia segera pasang aksi karena sudah berpikir bahwa Yuan akan memintanya meralat ucapannya kepada Hilda.
Lalu Yuan menatap kepada semua orang di ruangan itu sambil berkata," Gabby terima kasih yah....".
"Hmm..terima kasih untuk apa Yuan sayang, pasti kamu ingin kembali memiliki aku kan sayang...," kata Gabby sambil memasang senyum seakan dia menang.
"Nah justru itu aku sangat berterima kasih kepadamu, karena kamu telah merendahkan dirimu sendiri dengan mengaku sebagai kekasih ku. Padahal aku sama sekali tidak pernah mengakui kamu itu kekasih ku,"sahut Yuan dengan santai sambil tersenyum manis.
Orang kantor Gabby tak ada yang berani merekam kejadian itu, karena semua berada di bawah ancamannya. Dia akan memecat siapapun yang berani merekam kejadian pembicaraan antara Yuan dan dirinya.
"Oh tapi aku tidak akan meralat atau sampai mencabut ucapanku kepada wanita bodoh itu. Dia tidak cantik, perawan tua dan hanya pegawai rendahan. Beda dengan aku yang secantik ini," kata Gabby sambil bergaya sensual dihadapan Yuan.
"Benar kamu cantik, siapa yang bilang kamu tidak cantik. Tapi maaf yah... Aku tidak suka sama kamu. Jadi sekali lagi terima kasih kamu sudah bersedia merendahkan diri dan martabat sendiri. Sementara aku akan tetap memilih kekasih ku yang sebenarnya. Terima kasih....Selamat siang".
Lalu Yuan berbalik meninggalkan kantor Gabby, sambil diam-diam mengambil ponselnya yang dia sangkutkan di atas dahan pohon yang ada di pot depan pintu masuk kantor Gabby.
Gabby kesal sekali atas ucapan Yuan, semua karyawan kantornya tertunduk tapi mereka diam-diam menahan tawa menertawakan atasannya itu.
Lalu Yuan kembali ke kantornya, lalu dia mengumpulkan semua karyawannya.
"Tolong kalian semua dengarkan, saya sekarang mempunyai kekasih bernama Hilda Wibowo. Dan wanita itu bekerja di lantai 8 di gedung ini. Kalau sampai diantara kalian ada yang berani macam-macam kepadanya. Saya akan memecat kalian sampai kalian tidak bisa bekerja dimanapun lagi,"kata Yuan sambil memandang satu per satu karyawan di kantornya.
"Saya tidak akan menuduh siapa yang sudah menyebarkan berita bohong kepada Gabby. Sampai tadi Gabby berkata yang buruk kepada kekasih saya, bahkan berdampak kepada kontrak kerja kita dengan perusahaan nikel di tolak".
"Untuk itu saya tunggu sampai lima belas menit, aku tahu salah satu dari kalian ada yang menyampaikan berita tidak benar kepada Gabby. Lebih baik masuk sendiri ke ruangan saya, daripada saya bergerak sendiri," Yuan berkata sambil menatap dingin ke arah semua karyawannya satu per satu.
Adalah staff bagian pembukuan, dia diminta oleh atasannya membayarkan tagihan fasilitas apartemen yang ditempati oleh Hilda.
Seperti tagihan listrik, air dan juga gas bulanan, dia melihat data pemakai bukan lagi atas nama I Gede Putu Arjuna, tapi atas nama Hilda Wibowo.
Lalu staf itu juga tahu kalau Yuan dan wanita yang bernama Hilda Wibowo itu memang pasangan kekasih, namun dia selama ini telah diberi sejumlah uang oleh Gabby untuk memata-matai Yuan.
Sambil menangis dia akhirnya masuk ke dalam ruangan Yuan, dan dia mengakui segala perbuatannya. Adapun selama ini uang dari Gabby dia pakai untuk pengobatan ibunya yang sakit.
"Saya memaafkan perbuatanmu tapi tetap kamu mendapat sanksi yaitu Surat Peringatan tingkat Tiga. Kamu paham kan!".
"Sekali saja kamu berbuat kesalahan apapun maka kamu dipecat. Sanksi saya berlakukan selama enam bulan, dan kalau selama sanksi berlaku tapi kamu kabur atau menghindar maka sanksi hukum lain berlaku," Yuan dengan tegas mengatakan itu sambil kepala bagian kepegawaian menjadi saksi atas perbuatan staf tadi.
Akhirnya staf itu memohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kebodohannya.
Yuan baru saja menyandarkan badannya ke kursi setelah masalah ini sedikit beres.
Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi dan terlihat nama Putu.
"Bro...oom Handi Subrata di depan lobby apartemen Hilda, cepat kemari karena Hilda ada di atas".
Tanpa menunggu aba-aba lagi dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Yuan segera menyambar kunci lalu turun ke parkiran dan segera melajukan ke mobilnya menuju ke apartemen yang ditempati oleh Hilda.
Jefri sedang menunggu Hilda di lobby apartemen saat melihat sosok Handi Subrata turun dari sebuah mobil mewah di depan lobby tersebut dengan didampingi dua orang penjaga keamanan pribadi.
Melihat sosok Handi Subrata, penjaga keamanan apartemen paham karena gedung ini memang milik beliau.
Segera mereka menunjukkan lantai tempat Hilda tinggal, dan dengan langkah cepat mereka bergegas ke sana.
Jefri segera naik tangga darurat menyusul ke apartemen Hilda, dia yakin pasti pak Handi Subrata akan melakukan tindakan sesuatu kepada Hilda.
Saat itu Hilda sedang membereskan semua pakaiannya, dia sakit hati dianggap sebagai wanita simpanan Yuan. Dan selagi melipat dan merapihkan pakaian ke dalam koper, lalu terbersit di benaknya kalau selama ini mungkin memang dia hanya dijadikan wanita simpanan saja oleh Yuan.
Serasa menjadi sampah tak berharga dirinya, padahal selama ini bukan dia yang minta tinggal di apartemen sini, bahkan dia tak pernah sekalipun meminta apa-apa kepada Yuan.
Sambil berurai air mata, dia memasukan semua pakaian dan barang-barangnya. Tapi semua pakaian yang telah dibelikan oleh Yuan dan Yona dia tinggalkan di dalam lemari.
Ketika dia sedang membereskan semua barangnya, tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar. Tampak masuk seorang pria tua berusia setengah baya dan dua orang disampingnya seperti penjaga keamanan pribadi.
Pria tua itu menatap Hilda dengan cukup heran, karena biasanya wanita simpanan tidak berdandan sesederhana itu.
"Nona, apakah benar kamu bernama Hilda?!" tanya pria dengan nada yang ketus.
Hilda yang sedari tadi terkejut, dia menjawab dengan tergagap ," Iiiiyyaaaa....Saya Hilda pak, maaffff...baappaakkk ssssiiaaapaa?".
"Hmmm, saya Handi Subrata, saya ayahnya Yuan Carlos Subrata,"jawab Handi Subrata dengan datar dan dingin.
Matanya menatap seluruh ruangan kamar di apartemen tersebut, pikirannya melayang jauh membayangkan kalau anak lelakinya telah berbuat dosa dengan wanita ini di kamar ini.
"Apakah kamu mau kabur setelah menguras harta anakku?"tanya Handi Subrata ketika melihat Hilda membawa koper.
"Maaf pak, saya tidak mengerti apa yang bapak katakan barusan, saya tidak pernah menguras harta siapapun,"jawab Hilda mulai menangis.
"Untuk apa kamu menangis nona, jangan suka menutupi kesalahan dengan menangis. Percuma saja, aku tidak akan luluh hati dengan tangisanmu".
"Kamu telah melakukan hal yang sangat aib bagi keluargaku. Dan sekarang kamu mau kabur begitu saja, tidak bisa nona. Malah kamu akan kubawa ke kantor polisi karena telah memeras dan menguras harta anakku," terlihat air wajah Handi Subrata penuh dengan rasa benci saat menatap Hilda.
Jefri terengah-engah menaiki tangga dan akhirnya tiba juga di lantai apartemen Hilda. Namun dilihatnya pintu apartemen sudah terbuka pertanda Handi Subrata sudah ada didalamnya.
Denhan nafas terputus-putus dia mendekati pintu itu, lalu mencoba masuk ke dalamnya.
"Oom Handi, maaf ini saya Jefri temannya Mazelka. Maaf Oom...ini Hilda adalah staf di kantor saya, dia adalah karyawan saya. Dia bukan wanita simpanan seperti yang dikatakan orang Oom,"kata Jefri sambil tersengal-sengal mencoba memberikan penjelasan.
"Jefri....ya aku tahu siapa kau, mengapa kau membela karyawan yang sudah berbuat tidak baik. Aku tidak suka kalau kau membelanya," Handi Subrata mengernyitkan keningnya saat melihat Jefri.
"Maaf Oom, saya bukan membela tapi benar Hilda karyawan saya dan dia wanita yang baik- baik bukan wanita simpanan yang suka memanfaatkan pria kaya," Jefri mencoba memberi penjelasan kepada Handi Subrata.
"Lantas ini apa...???....apartemen lengkap dengan segala isinya, semua lengkap. Tak mungkin kalau bukan dia yang meminta kepada anakku...Ya kaaannn," Handi Subrata mengangkat bahu dan kedua tangannya.
Sulit memang, tidak mungkin Hilda membela diri kalau itu semua bukan atas keinginan dirinya tapi semua karena Yuan yang membeli dan Yuan juga yang memintanya tinggal disitu.
Hilda sekarang hanya bisa diam saja, percuma semakin dia bicara malah akan semakin salah dimata ayahnya Yuan.
Ibu Indah sedang mengomel kepada Yohana, beliau kesal sekali karena Yuan dan Yohana telah menutupi sesuatu dibelakangnya.
Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju apartemen Hilda.
"Kamu tidak bisa berpikir dewasa Yona, coba kalau sekarang Papih dan Yuan ribut besar bagaimana. Kalian juga bodoh sekali, kenapa
juga harus menutupi kalau Yuan mempunyai kekasih," Ibu Indah jengkel sekali dan Yohana yang ada disampingnya diam membisu
Sementara itu Yuan baru saja tiba di lobby apartemen, dia memarkirkan mobil sembarangan, lalu mematikan mesinnya. Lantas meloncat turun sambil melempar kunci mobil ke arah penjaga keamanan.
Untung lift menunjukkan lantai lobby, sehingga ketika tombol ditekan langsung membuka dan segera masuk menuju lantai 5 tempat Hilda tinggal.
Tiba di lantai lima terdengar suara ayahnya sedang marah-marah kepada seseorang.
Yuan segera berlari dan masuk ke dalam apartemen Hilda langsung memeluknya.
"Papih.. dia calon istriku, aku yang salah sudah menempatkan dia disini. Semua yang ada disini itu ideku, bukan atas permintaan Hilda," kata Yuan sambil memeluk Hilda agar terhindar dari amukan ayahnya.
"Ya Tuhan... Yuan...kau juga membela wanita penipu ini, tak sudi aku punya menantu dia. Wanita yang suka memanfaatkan lelaki dan juga dia menggodamu sampai tadi dia di pergoki oleh Gabby," kata Handi Subrata sambil menatap kesal kepada anaknya.
"Papih...!!! lebih percaya padaku anakmu atau percaya kepada Gabby, wanita jahat yang suka memfitnah orang!!!" Yuan juga membalas amarah ayahnya.
"Dasar kau anak tak tahu diri, membuat aib keluarga!!!" Handi naik pitam dan beranjak akan menampar Yuan anaknya.
Disaat bersamaan Ibu Indah tiba di depan pintu, dan ketika melihat suaminya akan menampar Yuan, segera berlari bermaksud melerai. Namun beliau tak memperhatikan ada keset, maka kakinya tersandung keset dan terjerembab jatuh.
Terkilirlah kaki kanannya, melihat istrinya jatuh sontak Handi membatalkan memukul Yuan dan segera menolong istrinya.
Ibu Indah merintih kesakitan saat diangkat dan dibawa ke tempat tidur di ruangan sana.
"Papih...sakit sekali kakiku, aduuuuuh....sakit sekali...!!!!" teriak ibu Indah membuat Handi suaminya sangat khawatir sekali.
Handi melihat pergelangan kaki istrinya melintir dan sekarang tampak bengkak membiru.
"Pak Subrata, maaf ijinkan saya untuk melihat kaki ibu Subrata, ijinkan saya menolong beliau," kata Hilda perlahan dan tampak khawatir dengan kondisi ibunya Yuan.
"Mau apa kamu, istri saya kesakitan. Mau kamu apakan?!"bentak Pak Handi Subrata sambil kesal kepada Hilda.
"Papih...sabar...Pih...mbak Hilda ahli dalam mengurut urat keseleo, dia bisa melakukan pengobatan seperti itu. Ijinkan dia menolong Mamih," Yohana mencoba meredakan amarah ayahnya dan dia memeluk ayahnya.
Dengan nafas yang masih memburu karena kesal, beliau mempersilahkan Hilda melihat kondisi istrinya.
Dengan perlahan Hilda memeriksa dulu kaki kanannya tersebut, setelah paham bagian urat yang melintir lalu dia mengambil minyak gosok dari tasnya dan mulai menelusuri urat kaki ibunya Yuan.
Melihat istrinya berangsur sembuh tidak kesakitan seperti tadi, membuat amarah Handi menurun.
"Ibu Subrata, kalau dirumah ada minyak gosok nanti malam bisa dioleskan ke kaki ibu. Tapi kalau tidak ada silahkan bawa saja minyak ini. Sekarang urat yang terkilir tadi sudah kembali ke semula hanya tinggal bengkaknya saja," ujar Hilda sambil duduk bersimpuh dan menunduk dibawah tempat tidur dihadapan Ibu Indah dan pak Handi.
"Kamu belajar dari mana bisa mengurut kaki keseleo?" tanya ibu Indah dengan ramah.
"Ayah saya yang mengajari, karena beliau berprofesi sebagai tukang urut panggilan," jawab Hilda sambil masih menunduk.
Ibu Indah memandang suaminya lalu meminta ijin dirinya bicara.
"Yuan kemari...Yohana kamu juga kemari, dan kamu nona silahkan berdiri di samping Yuan," kata Ibu Indah meminta kedua anaknya dan Hilda berdiri dihadapannya.
Lalu dia meminta penjaga keamanan pribadi suami nya untuk mengambil tiga buah kursi dari ruang makan.
Setelah ketiganya duduk dihadapan Ibu Indah, lalu beliau berkata ," Sekarang Yuan, coba kamu ceritakan dengan sejujurnya, apa yang sebenarnya telah terjadi dan apa yang kalian lakukan selama ini?".
Lantas Yuan menceritakan dari awal tentang hubungannya dengan Hilda, lalu Yohana juga ditanyakan apa yang diketahuinya tentang sang kakak.
Sambil mendengarkan kedua anaknya bercerita, Ibu Indah memeluk suaminya, selain merasakan sedikit rasa ngilu di kakinya juga meredam amarah suaminya.
"Kamu jujur dengan apa yang sudah kamu sampaikan ini kepada Papih dan Mamih?" tanya Ibu Indah kepada anaknya dengan tatapan menghujam ke mata anaknya.
Seorang ibu pasti paham, apakah anaknya berbohong atau berkata jujur. Dan sejauh ini beliau melihat ada kejujuran dimata kedua anaknya.
Lalu ibu Indah memandang ke arah Hilda yang masih menunduk, dan dia berkata," Nona coba sekarang kamu ceritakan semua kepada kami tapi jangan sambil menunduk. Kalau kamu tidak menyimpan kebohongan pasti kamu akan berani menatapku".
Hilda dikatakan demikian merasa ada angin segar yang setidaknya bisa memberikan kesempatan bagi dirinya untuk membela diri.
Dia menatap wajah ibu Indah dan pak Handi sambil mengatakan segalanya, dan dia tak lupa mengatakan bahwa sebenarnya dia selama ini merasa takut untuk mencintai Yuan karena pasti akan berbuntut demikian.
Ibu Indah menatap suaminya, lalu sekarang keduanya malah saling tersenyum setelah mendengarkan penuturan dari Hilda.
"Papih... Mamih...ini Yuan ada video, tolong dilihat dulu yah....apa yang sebenarnya terjadi,"kata Yuan sambil menghubungkan ponselnya dengan televisi pintar yang ada di kamar itu.
Lalu muncul tayangan saat Gabby merasa menang telah melabrak Hilda, juga cuplikan pembicaraan Yuan dengan Gabby.
Akhirnya pak Handi paham kalau sebenarnya semua ini hanya akal-akalan Gabby saja.
Sambil menghela nafas, pak Handi lalu memandang sekeliling kamar apartemen dan dia berkata kepada Yuan," Apakah kamu sudah melakukan hubungan terlarang dengan kekasihmu?".
"Astaga Papih, demi Tuhan aku tak pernah menyentuh dia. Aku berani bersaksi, aku tidak pernah melakukan hal itu," Yuan segera mengelak dan menyangkal pemikiran ayahnya .
"Papih tidak tahu, Mamih juga tidak tahu, untuk itu Papih minta kalian berdua nanti hari minggu ke gereja dan bersaksi dihadapan pendeta kalau kalian tidak pernah melanggar aturan Tuhan," Ayahnya menantang Yuan untuk bersaksi dihadapan pendeta akan hal itu.
Yuan mengangguk sambil berkata," Siap!".
Hilda sekarang merasa bingung lagi, rupanya masalah wanita simpanan tiba juga ke telinga keluarganya.
Herman kakaknya menelepon dia untuk segera ke Bekasi karena ibunya pingsan ketika mendengar kabar seperti itu.
"Yuan, cepat jangan membuat malu keluarga kita. Hampiri keluarga Hilda dan sampaikan semua kekeliruan ini. Jangan sampai anak gadis orang menjadi korban pembicaraan orang banyak. Kasihan sekali Hilda," Pak Handi sekarang yang malah membela Hilda.
Lalu Yuan dan Hilda segera menuju Bekasi, mereka juga harus mengklarifikasi semua pemberitaan yang tidak benar itu.
Herman sudah menanti dimuka rumah orang tuanya dengan memasang wajah marah.
Sementara Lisa istrinya sedang mengusap- siap punggung ibu mertuanya yang tengah berbaring sambil menangis.
Sakit hati keluarga itu mendengar Hilda disangkakan sebagai wanita simpanan.
Yuan duduk di ruang tamu berhadapan dengan Herman dan pak Gatot, keduanya terlihat sangat tidak ramah, tidak seperti biasanya.
Hilda berlari masuk kamar menemui ibunya, melihat kondisi kesehatan ibunya.
"Yuan...elu maksudnya apa...menghina kami seperti ini, jelaskan...elu sudah membuat ibu gue pingsan dan sakit," kata Herman sambil dia juga berteriak kepada Hilda.
"Hilda !!!....sini....duduk sini, ngomong sama gue, abang elu, kenapa elu mau dijadiin perempuan murahan sama si Yuan. Elu mau bikin orang tua kita mati jantungan. Kurang Aj*r !!!!!" Handi begitu marah dan jengkel kepada adiknya sampai beranjak mau menampar adik perempuannya itu.
Yuan segera berdiri dan melerai, lalu dia berkata," Sabar Bang...sabar Bang Herman, semua salah saya. Tapi tolong dengarkan dulu penjelasan kami...tolong, Hilda tidak bersalah".
Sambil menarik nafas dalam-dalam Herman duduk, lalu minta Yuan memberikan semua kejelasan atas kejadian ini.
Yuan menjelaskan semua kejadian dari awal, juga memperlihatkan video yang tadi dia rekam, dan rencananya video itu akan segera ditayangkan oleh Putu.
"Begini Yuan, sekarang keluarga gue ini pihak perempuan, adik gue perempuan. Kejadian kayak begini, elu enak bisa pergi seenak jidat. Duit elu ada, kekuasaan elu juga punya. Adik gue nanti jadi apa. Umur dia juga udah kaga muda lagi,"kata Herman masih merasa kesal dan kecewa dengan Yuan.
Pak Gatot hanya bisa diam saja, dia merasa sedih dan kecewa. Hatinya masih tidak bisa menerima anak gadisnya disebut wanita simpanan. Tapi karena sudah tua, sudah tak sanggup marah lagi karena khawatir tekanan darah tinggi dan jantungnya kumat.
"Oom Gatot, bang Herman, saya tidak akan lari. Saya janji, saya akan menikahi Hilda. Mohon waktu beberapa bulan lagi, di awal tahun depan saya akan menikahi Hilda, sekarang menunggu kakak saya datang dari luar negeri," Yuan menyatakan tanggung jawab untuk Hilda kepada keluarganya.
"Gue pegang kata-kata elu yah, sampai adik gue terlantar hidupnya gara-gara elu, jangan sebut gue Herman. Gue cari elu sampai ke lubang semut sekalipun," ancam Herman kepada Yuan, dan tentu saja Yuan sanggup menerima segala konsekuensinya.
Malam itu Hilda ikut kembali ke Jakarta, karena Yuan punya rencana untuk mereka esok harinya.
Jam operasional kantor sudah aktif sejak satu jam yang lalu, di dalam setiap kantor dan juga di setiap ruang tunggu yang ada di gedung itu tergantung sebuah televisi.
Tepat pukul sembilan pagi, semua televisi di gedung itu tersambung dengan sebuah pemutaran video yang disambungkan dari ruangan Teknologi Informasi.
Dalam tayangan itu terlihat Gabby sedang berteriak-teriak merasa menang karena telah membuat fitnah kepada Hilda.
Dia sedang menari-nari di atas meja kantor sambil menyebutkan betapa bodohnya Hilda, dan dia juga akan merebut dan menguasai harta Yuan Carlos Subrata.
Lalu muncul juga cuplikan bagaimana dia mencoba menggoda Yuan, tapi ditolak mentah-mentah oleh Yuan.
Tak lama muncul video lagi, Yuan sedang bersama Hilda.
"Saya Yuan Carlos Subrata, dengan ini saya menyampaikan bahwa Hilda Wibowo adalah benar calon istri saya. Wanita ini bukan juga wanita simpanan seperti yang dituduhkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab beberapa waktu yang lalu".
Semua orang di gedung tersebut melihatnya dan tayangan tersebut tentu saja menjadi heboh. Tapi semua mendukung keberanian Yuan yang telah memberitakan dirinya telah menjadi calon suami Hilda.
Tak hanya di gedung itu saja, yang namanya heboh alias viral langsung menyebar ke seluruh media sosial.
Direktur tempat Gabby bekerja langsung mengeluarkan surat pemberhentian hubungan kerja untuk Gabby.
Sementara Direktur perusahaan nikel, telah kembali memanggil Yuan untuk melanjutkan kerjasama dengan mereka.
Menjelang hari natal di tahun itu, keluarga Hilda sedang bersiap-siap akan menerima kedatangan rombongan tamu yang akan melamar Hilda.
Menurut konfirmasi yang diberikan oleh Yuan, hari ini mereka akan datang sambil membawa kakak perempuannya yang baru datang dari kota Berlin di negara Jerman.
Kakak perempuannya akan datang bersama suaminya yang asli orang Berlin.
Dalam bayangan Hilda, kakaknya Yuan pasti seorang wanita yang cantik dan ceria seperti Yohana.
Ketika waktu yang sudah ditentukan tiba, terlihat dari kejauhan ada sekitar delapan mobil datang menuju kediaman keluarga Hilda.
Karena perumahan Hilda memiliki jalan yang sempit, maka semua mobil tersebut parkir di jalanan depan.
Pihak keluarga Hilda meminta pak Sapri dan kawan-kawannya menjaga parkiran mobil keluarga Yuan.
Terlihat Pak Handi Subrata dan Ibu Indah Subrata memasuki gapura perumahan, diikuti oleh Yohana dan keluarganya.
Setelah itu beberapa orang tua dan juga beberapa pasangan suami istri, kemungkinan mereka adalah kerabat dari Yuan.
Hanya pria yang ditunggu tak juga kunjung datang, sampai akhirnya terlihat Yuan seperti sedang mendorong kursi roda. Dan di atas kursi roda itu ada seorang wanita yang punya wajah cantik mirip namun berbeda dengan Yuan dan Yohana.
Dibelakang mereka terlihat seorang pria asing bersama dengan seorang anak gadisnya.
Rupanya Yuan mendorong kakaknya, yaitu Mazelka Subrata. Hilda segera menyambut dan juga berkenalan dengannya.
"Halo Hilda, aku kakaknya Yuan, selamat datang di keluarga kami yah. Aku senang mengenalmu dan banyak mendengar tentang dirimu,"kata Zelka nama panggilannya Mazelka.
Lalu suaminya juga berkenalan dengan Hilda, namanya Mark Hofmann dan anaknya Alice Hofmann.
Di acara itu Hilda dan Yuan bertunangan dan juga menentukan tanggal pernikahan mereka.
"Mengapa harus lama-lama menunda tanggal pernikahan sampai tahun depan. Mengapa tidak di akhir tahun ini saja di tanggal tiga puluh satu Desember. Tentu itu tanggal yang unik untuk menikah," kata Mazelka saat adiknya selesai mengalungkan sebuah liontin ke leher Hilda.
Yuan tertarik dengan ide dari kakaknya, namun terlalu singkat untuk mempersiapkan semua keperluan pernikahan tersebut.
"Aku rasa tak harus di gedung, dirumah Papih dan Mamih saja, halaman rumah kita luas. Aku yakin bisa, apalagi ada aku dan Mark. Serahkan kepada kami, dijamin pernikahan kalian pasti tak akan terlupakan," Mazelka tersenyum kepada keluarganya, dan akhirnya diputuskan tanggal tersebut menjadi hari pernikahan Yuan dan Hilda.
Akhirnya di tanggal ketiga puluh satu ribu di bulan Desember, Yuan menanti kedatangan seorang wanita yang telah mengisi hatinya.
Yuan berdiri di depan altar yang didirikan di halaman belakang rumah keluargannya. Mark dan Zelka telah menyulap seluruh rumah orang tuanya dengan dekorasi pernikahan.
Tak lama Hilda berjalan bersama pak Gatot, dia mengenakan gaun putih dan ditutupi cadar tipis.
Sambil berjalan menuju altar diiringi lagu lama dari seorang penyanyi terkenal berjudul "From This Moment" yang pernah terkenal di tahun 1990 an dibawakan oleh Shania Twain.
Yuan dan Hilda berjanji sehidup semati, saling menerima kekurangan dan kelebihan juga tetap saling mengasihi dalam suka dan duka.
Hanya maut yang akan memisahkan, selamanya mereka akan tetap saling mencintai.
Dalam perjalanan pernikahannya mereka dikaruniai dua orang anak, dan mereka hidup bahagia sampai hari tua.
Tamat