Date, 14 February 2021, pukul 18.05*
Sore hari yang menenangkan, angkasa yang sudah menjingga berpadu alunan suara binatang malam yang mulai menyapa.
Dengan langkah pelan, Erina berjalan menuju tempat sang kekasih menitip janji. Gaun biru sederhana, ia pakai berharap senyuman indah sebagai hadiah dari malaikat tanpa sayap nya itu.
Tak Tuk Tak Tuk
Sepatu putih yang melingkari pinggiran kaki indahnya, memberi suara tidak sabar. Bibir kecil itu tersenyum saat langkah kakinya terhenti di depan pintu kayu yang memisahkan jaraknya dengan sang kekasih.
Tidak sabar, hati Erina tidak sabar untuk segera menyentuh dirinya. Menyentuh kekasih, yang sudah sangat dirindukannya. Diletakkan keranjang kayu bulat yang ia jinjing ke lantai. Sebuah kunci dengan gantungan hati ia sematkan ke lobang pintu.
Klek!
Erina tersenyum bahagia saat melihat pintu sudah terbuka. Keranjang kayu yang berisikan bunga dan kue coklat ia jinjing kembali.
Tak
Suara langkahnya memasuki rumah sang kekasih.
Jantung nya mulai berdegup kencang. Nafasnya mulai tak beraturan.
"Sayang... aku datang menemui mu hari ini." Sapa Erina penuh cinta.
Tak Tak Tak Tak
Erina melangkah menuju dapur kecil nan elegan. Diletakkannya keranjang bulat itu di atas meja kecil tempatnya dan sang kekasih akan bersuakata. Tak pudar bibir itu mengukir senyum penuh cinta.
Seikat mawar hitam ia pajang dalam gelas kaca yang berair.
"Sayang... ku bawakan bunga kesukaanmu." Ucap Erina dengan lembut.
Tak hanya itu, bukan hanya sebatas bunga yang bisa ia berikan sebagai bukti cintanya. Sebuah kue coklat kecil, ia letakkan di meja. Kembali ia sematkan senyum di wajahnya. Dua piring kecil berhias ukiran klasik nan indah. Tangannya bergerak anggun memotong kue coklat itu menjadi dua. Satu untukmu dan satu untukku, batin Erina penuh harap.
Tidak lengkap jika segelas teh hangat tak menemani kue coklat yang manis. Asap mengempul dari teh panas yang baru diseduh ke dalam cangkir.
"Sayang... kau tidak suka terlalu maniskan." Ucap Erina penuh perhatian.
Erina mulai menyalakan sumbu lilin dengan pematik. Satu persatu lilin-lilin yang ia letakkan di setiap penjuru rumah, mulai menampakkan cahaya redup nan tenang. Tak lupa ia letakkan tiga lilin di atas meja yang telah ia siapkan.
Semua telah siap, bunga, kue, lilin, telah selesai ia letakkan. Erina tersenyum puas melihat meja kecil yang telah ia hiasi dengan cintanya. Kini, hanya perlu memanggil sang kekasih untuk menemani malam yang penuh cinta dan kerinduan.
Tak Tuk Tak Tuk
Erina berjalan menuju tempat sang kekasih berada. Sebuah kamar yang dipenuhi mawar hitam dan lampu kuning yang remang. Harum mawar membuat Erina menutup mata menikmatinya. Kembali jantungnya berdegup kencang. Tak sabar hatinya untuk segera melihat sang kekasih yang telah berada di depannya.
Dia duduk di sebuah kursi roda membelakangi Erina yang meneteskan airmata. Selangkah demi selangkah Erina berjalan mendekati sang kekasih yang tidak menyapanya.
"Sayang... aku sangat merindukanmu... bahkan... jantungku tak bisa berhenti berdetak cepat sekarang." Erina memegang kendali kursi roda itu.
Dengan pelan, ia balikkan arah kursi roda sang kekasih. Perlahan ia dorong kursi roda itu keluar dari kamar.
"Sayang... aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu hari ini." Ucap Erina dengan suara yang kelu.
Perlahan, Erina mendorong kursi roda itu menuju tempat yang telah ia siapkan. Senyuman kembali menghiasi wajah Erina.
"Aku sudah menyiapkan semua untukmu sayang." Bisik Erina dengan suara yang lembut.
Erina berhenti mendorong, saat sang kekasih sudah berada di depan meja yang telah ia hias dengan penuh cinta.
"Lihatlah... Mawarnya sangat indah, kau pasti sangat menyukainya. Ku siapkan ini khusus untukmu." Ucap Erina dengan mata yang berbinar.
Erina berjalan menuju kursi yang terletak berhadapan dengan sang kekasih. Matanya menyipit saat dia tersenyum kearah orang yang ia cintai itu.
"Lihat... Aku sudah siapkan kue coklat untukmu. Aku yakin kau pasti sangat menyukainya." Tunjuk Erina ke arah kue coklat di depannya.
Potongan kecil kue itu di sendok, ia masukkan ke mulutnya. "Emmm... Ini sangat lembut. Rasanya juga sangat lezat. Padahal aku tidak suka rasa ini, tapi untukmu akan ku lakukan itu." Ucap Erina dengan senyuman.
Sepuluh menit berselang, lilin-lilin pun sudah mulai mengecil. Piring kecil Erina sudah kosong menyisakan lelehan coklat. Tak ada yang bersuara, Erina diam memandang mawar yang diam dalam gelas kaca.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku sangat merindukanmu sekarang. Aku ingin suaramu... membelai telingaku. Aku ingin tubuh hangatmu memeluk tubuhku. Apa yang harus ku lakukan, sayang?"
Erina mengambil sebatang lilin yang menyala di tangannya. Api itu, membakar satu persatu kelopak mawar hitam yang tak berduri.
"Kau selalu saja diam... melihatmu seperti itu, sangat membuatku bergairah. Ingin sekali ku bakar dirimu." Ucap Erina dengan lembut.
"Sayang... lihatlah mawar ini, dia tidak bisa bergerak. Dia tidak bisa menolak... dia hanya bisa diam melihat api ini... membakar dirinya." Ia tersenyum puas.
Perlahan, Erina memalingkan pandangannya kearah dia yang tak bersuara. Sebuah senyuman merekah di wajah Erina saat melihat kearahnya.
Jangan berkedip, lihatlah baik-baik. Dia yang di sana bukan lagi manusia. Kulitnya telah terkelupas, matanya telah hilang, dagingnya telah mengering. Dia tidak lagi hidup, dia hanyalah mayat yang telah diawetkan. Tulang dadanya sudah terlihat keluar, bahkan belatung enggan memakannya. Kekasihnya, hanyalah mayat.
"Sayang... kenapa kau tidak ingin bersama ku? Lihatlah apa yang terjadi padamu... jika saja kau menerimaku saat aku masih tersenyum... maka ini tidak akan terjadi padamu. Tapi kau bodoh, menganggap ku sebagai kemalangan mu." Tatap Erina dengan sayu.
Perlahan Erina bangun dari tempatnya. Ia berjalan kearah sang kekasih. Ia memegang kendali kursi Roda itu dan segera mendorongnya perlahan menuju kamar.
Ia letakkan sang kekasih ditempat semula. Ia berjalan kearah pintu. Menyuguhkan senyum di wajahnya dan berkata dengan lembut.
"Istirahatlah sayang... kita akan bertemu tahun depan... di tanggal yang sama. Aku mencintaimu, Adam."
Cklek!
Dengan rapat ia tutup kembali pintu kamar itu meninggalkan dia yang malang di dalamnya.
Erina segera meninggalkan rumah itu dan menguncinya kembali. Senyuman kembali ia sematkan di wajah cantiknya.
*****
Di sebuah dinding toko yang dilewati Erina tertulis di sana;
DICARI!
ORANG HILANG DENGAN CIRI-CIRI
NAMA: ADAM
UMUR: 25 TAHUN
GENDER: LAKI-LAKI
KULIT PUTIH, TUBUH TINGGI, RAMBUT HITAM SEBAHU, DENGAN KALUNG BATU PERMATA HITAM.
"Terimakasih atas hadiahnya, sayang." Ucap Erina memegang kalung di lehernya.
TAMAT
LIKE DAN KOMENNYA 😎🙏🙏📢
saya tunggu💋